Sepasang Mata Anjing Biru

Gabriel Garcia Marquez
diterjemahkan Ramadhani
Suara Merdeka, 10 April 2011

DAN dia menatapku. Kukira dialah yang kali pertama menatapku, tapi kemudian ketika dia berbalik di belakang lampu masih kurasakan wajahnya yang licin dan berminyak di belakangku, di dekat bahuku. Lalu aku mengerti akulah yang pertama menatapnya. Kunyalakan rokok. Kuisap dalam-dalam sebelum aku berputar di kursi yang bertumpu hanya di satu kaki. Setelah itu aku melihatnya di sana, seolah dia berdiri di samping lampu, menatapku setiap malam. Continue reading “Sepasang Mata Anjing Biru”