Sepasang Mata untuk Perempuan

Salman Rusydie Anwar
Pikiran Rakyat, 30 Juni 2007

Untuk malam yang kesekian kalinya, Indrian kembali mengeluarkan alat-alat lukisnya dari sebuah kardus bekas yang sudah lapuk. Ditatapnya kanvas yang terpancang di hadapannya. Lukisan yang tak selesai selama dua malam. Dan malam itu, ia berniat menyelesaikan lukisannya. Sebuah sketsa wajah perempuan yang acak. Lalu dia mendengus pelan. Continue reading “Sepasang Mata untuk Perempuan”

INTEGRASI KE-MADURA-AN DALAM PUISI DAN DIRI

Matroni Musèrang *

Dalam tulisan ini saya akan mencoba berkenalan dengan penyair Madura yang tidak menetap di tanah kelahirannya, namun rasa Maduranya masih kental dan manis. Di komunitas ‘Kutub’ Pondok Pesantren Hasyim Asy’arie Yogyakarta, saya berguru kepada tiga penyair Pulau Garam “Madura,” Mahwi Air Tawar, Salman Rusydie Anwar, dan Ahmad Muchlis Amrin, di samping juga kepada pengasuh K.H. Zainal Arifin Thaha (alm) dan Kuswaidi Syafi’ie, Evi Idawati, Raudal Tanjung Banua, Joni Ariadinata, tetapi tulisan ini hanya focus pada tiga penyair yang sama-sama memiliki ciri khas dalam menulis puisi. Continue reading “INTEGRASI KE-MADURA-AN DALAM PUISI DAN DIRI”

Sukat

Salman Rusydie Anwar
Kedaulatan Rakyat, 20 Nov 2011

Menurut orang-orang dan terutama perempuan-perempuan yang ada di kampungnya, Sukat hanyalah lelaki biasa. Wajahnya sungguh tidak menarik, karena selain agak hitam juga ada bekas luka di pipi kiri dan dagunya yang membuatnya semakin tidak sedap dilihat. Tak hanya itu, Sukat juga dikenal sebagai lelaki pengangguran yang lebih banyak menghabiskan waktu siangnya dengan tidur di pos ronda dan jika malam pergi keluyuran entah kemana. Continue reading “Sukat”

Dua Cermin dari Kematian Moncelli-Khadafi

Salman Rusydie Anwar

Sungguh miris hatiku mendengar kematian Khadafi dan Simoncelli, yang barangkali kematian keduanya tidak pernah disangka-sangka sebelumnya, baik oleh orang lain maupun oleh yang bersangkutan. Memang aku tidak kenal siapa Simoncelli dan Khadafi selain keduanya adalah dua manusia yang sering menjadi berita oleh profesi mereka sebagai pembalap dan presiden. Continue reading “Dua Cermin dari Kematian Moncelli-Khadafi”