Andai Saut Situmorang Dipenjara

Muhammad Al-Fayyadl

Andai Saut Situmorang dipenjara, hanya karena ulah kecilnya mengatakan “bajingan!” dalam polemik buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, maka kita akan kehilangan seorang kritikus yang kreatif memainkan “politik performatif” dalam pergaulan sastra Indonesia kontemporer. “Politik performatif”, seperti dianalisis Judith Butler dalam Excitable Speech, adalah suatu politik yang mempermainkan bahasa untuk bereaksi atas perilaku orang lain, dan menjadikan bahasa suatu tindakan politik itu sendiri. Continue reading “Andai Saut Situmorang Dipenjara”

SAUT KECIL BICARA DENGAN MABOK DAN BIRAHI *

F. Rahardi *

Judul buku kumpulan puisi Saut Situmorang: saut kecil bicara dengan tuhan, ada baiknya kita ubah. Sebab dalam sajak dengan judul sama pada buku tersebut (hal 25), tidak akan kita temukan adanya indikasi “Saut Kecil yang bicara dengan Tuhan”. Baik secara tersurat maupun tersirat (kiasan). Bahkan, keseluruhan 52 sajak yang terkumpul dalam buku ini, tidak mengisyaratkan adanya pembicaraan yang intens antara Saut dengan Tuhan. Yang ada justru bertebarannya kata-kata mabok, alkohol, bir, anggur dan ungkapan-ungkapan kebirahian. Yakni, ungkapan yang berhubungan dengan seksualitas dan sensualitas (voyeurisme). Maka judul paling pas untuk buku ini adalah: Saut Kecil Bicara dengan Mabok dan Birahi. Continue reading “SAUT KECIL BICARA DENGAN MABOK DAN BIRAHI *”