Semoga Pelangi Itu Selalu Berseri

:Sebuah Esai atas Buku Kumpulan Cerpen “Pelangi Sastra Malang dalam Cerpen”
Sidik Nugroho
tuanmalam.blogspot.com

“Dead Poets Society” — mungkin kita pernah menonton filmnya. Di sana ada seorang guru bahasa yang sangat bergairah dan dinamis mengajar: naik ke atas meja, penuh retorika, bahkan menggunakan pelajaran olahraga sebagai kegiatan pemantik semangat hidup. Sang guru — diperankan memikat oleh Robin Williams — disukai benar oleh murid-muridnya. Beberapa di antara mereka bahkan kemudian meniru-niru apa yang pernah dilakukan sang guru itu ketika ia masih muda: membentuk geng sastra! Continue reading “Semoga Pelangi Itu Selalu Berseri”

Catatan Pendakian: Menuju Ranu Kumbolo

Sidik Nugroho

Sebulan lebih yang lalu, Wawan Eko Yulianto (Wawan, penerjemah dan penulis lepas) mengajak saya mendaki menuju Ranu Kumbolo, sebuah danau di lereng gunung Semeru. Mendengar penjelasan Wawan tentang keindahan danau tersebut, serta-merta saya tertarik. Sudah lima tahun lebih saya tidak mendaki gunung dan ajakan ini membuat saya bersemangat. Saya pun mencari beberapa gambar danau tersebut di mesin pencari google. Continue reading “Catatan Pendakian: Menuju Ranu Kumbolo”

Segera Memulai, Lalu Menata

Sidik Nugroho *
ruangbaca.com

“Saya tidak pernah memutuskan untuk menjadi penulis. Pada awalnya saya tidak berharap mendapatkan nafkah dengan dibacanya karya saya. Saya menulis sebagai seorang anak yang gembira ketika memahami hidup lewat pikiran saya,” demikian Nadine Gordimer berujar ketika menerima anugerah Nobel Sastra.

Ia menulis sejak kecil, berusaha memetakan apa yang ia lihat, cium, dan rasakan dalam berbagai hal, hingga suatu ketika cerita pertamanya diterbitkan saat berusia 15 tahun. Continue reading “Segera Memulai, Lalu Menata”