Mengesalkan, Nama Kita Ditulis Salah

Suhatri Ilyas
Suara Karya, 16 Mei 2009

KONON, nama presiden pertama kita mestinya ditulis Sukarno (ditulis dengan /u/), bukan Soekarno (ditulis dengan huruf /oe/). Soalnya, sang proklamator bangsa ini, ketika meresmikan ejaan baru menggantikan ejaan ciptaan Belanda, Ejaan van Opuysen, telah menyatakan sendiri penulisan nama dirinya mengikuti ejaan baru tersebut, yaitu /oe/, ditulis /u/ saja, sehingga Soekarno harusnya menjadi Sukarno. Continue reading “Mengesalkan, Nama Kita Ditulis Salah”

Baku atau Tak Baku, Terpulang kepada Anda?

Suhatri Ilyas
http://www.suarakarya-online.com/

Apa sesungguhnya perbedaan arti dan penggunaan kata rubuh dan roboh, kukuh dan kokoh, mulur dan molor, atau bahkan telur dan telor. Kata-kata yang dibedakan hanya dengan satu bunyi (fonem) /u/ dan /o/ ini dalam penggunaannya cukup membingungkan. Selain sering tertukarkan begitu saja (suatu saat mulur berarti molor, tapi pada situasi lain molor juga berarti mulur), ada juga pengertian lain berkaitan dengan penggunaannya dalam ragam tertentu. Continue reading “Baku atau Tak Baku, Terpulang kepada Anda?”

Bahasa dan Kita

Dicerai, Penulisan Kata Depan Di
Suhatri Ilyas
http://www.suarakarya-online.com/

Aneh bin ajaib, masih ada yang belum bisa membedakan antara di sebagai kata depan (preposisi) dan di sebagai imbuhan (prefik), terutama dalam penulisannya. Aneh bin ajaib, karena yang tidak bisa membedakan itu termasuk wartawan, orang yang menggunakan bahasa sebagai alat dalam melakukan pekerjaannya. Ini ibarat petani yang tidak mengenal cangkul. Continue reading “Bahasa dan Kita”