LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (1)

Sunu Wasono *

Kalau boleh berterus terang, Lik Mukidi adalah orang pertama yang mempersoalkan kesukaan awak memosting cerita wayang di lapak awak ini. Dialah yang mempertanyakan kegunaan tulisan awak di dalam konteks kehidupan yang teramat “maju” ini. Tapi karena dasarnya suka, awak tetap saja menorehkan semacam catatan, entah berupa celoteh atau penulisan cerita dengan tambahan rempah-rempah sekadarnya, setelah mendengarkan pertunjukan wayang dalang favorit awak, Ki Narto Sabdo, di youtube. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (1)”

Membaca Pulau Tanpa Cinta Karya Jasni Matlani

Sunu Wasono *

Sebuah novel ditulis sastrawan untuk tujuan tertentu: mengekspresikan diri (penulis), menghibur pembaca, mempropagandakan (program, ideologi), mengkritik lembaga, mengkritik (tingkah laku) penguasa (yang korup, tamak, bengis, otoriter). Dengan tujuan apa pun, karya sastra pada dasarnya membutuhkan pembaca. Oleh karena itu, hampir tidak ada seorang sastrawan yang menulis hanya untuk diri-sendiri. Continue reading “Membaca Pulau Tanpa Cinta Karya Jasni Matlani”