Sajak di Kampung dan Kafe-kafe

Tulus Wijanarko, Olivia Kristina Sinaga, Syaiful Amin, Faidil Akbar
http://majalah.tempointeraktif.com/

SUATU hari pada tahun 2000. Di sebuah warung Internet di Depok, Gratiagusti Chananya Rompas duduk mencangkung di depan komputer. Tangannya memencet-mencet papan tombol, mengisi kolom-kolom pada tampil-an Yahoogroups. Anya, begitu ia biasa dipanggil, be-lum lama kenal Internet. Tetapi ia tahu, di ranah maya ini bisa terbentuk ruang diskusi. Ia memilih Bunga Matahari sebagai nama milis. Continue reading “Sajak di Kampung dan Kafe-kafe”

Menyibak Rahasia Mantra

Agus Hidayat, Syaiful Amin
http://majalah.tempointeraktif.com/

Begitu memasuki Bangsal Kencana Keraton Yogyakarta, sederet tulisan kaligrafis langsung menyergap mata. Bunyinya “Muhammad kang mengku Rasa”. Bentuk kaligrafi itu juga tak biasa. Ia dituliskan vertikal, tidak horizontal. Kalimat itu bukan sembarang kalimat. Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, tulisan itu merupakan rajah, mantra penolak bala. Continue reading “Menyibak Rahasia Mantra”

Dari Sakral Menjadi Banal

Hanibal W. Y. Wijayanta, Syaiful Amin
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEJARAH mencatat, tayub muncul pada zaman Kerajaan Kediri, abad ke-11 Masehi. Mulai berkembang di Jawa bagian timur dan tengah, tradisi ini tercatat dalam buku Kakawin Bharata Yudha karya Mpu Sedhah dan Mpu Panuluh pada 1079 Saka atau 1157 Masehi. Pada pupuh XIII bait ke-8 terdapat kisah para Pandawa yang sedang nayub. Prof Dr. R.M. Sutjipta Wirjosuparto (1968) menerjemahkan nayub sebagai “menari-nari dan bergembira dengan riuhnya”. Continue reading “Dari Sakral Menjadi Banal”