Membunuh Tan Malaka

Heru Joni Putra *
harianhaluan.com 18 Nov 2012

Kapitalisme lanjut memperdagangkan banyak hal yang dulunya tidak dianggap sebagai komoditas ~ Fredric Jameson

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, tetapi un­tuk menghargai jasa seseorang kepada negara, tak harus dengan memberi gelar pah­lawan. Sebab saat sekarang, memberikan gelar pahlawan—seperti pahlawan nasional—kepada seseorang adalah sesu­atu yang bahaya dan semakin rentan akan politisasi. Continue reading “Membunuh Tan Malaka”

DARURAT PERANG JENDERAL SUDIRMAN

Zulhasril Nasir *
Kompas 26 Juli 2008.

Membaca artikel Sabam Siagian, Tentang Tan Malaka (Kompas, 12/7) yang menanggapi tulisan saya, Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional (Kompas, 7/07), ada hal-hal yang ingin dikesankan mantan Dubes RI untuk Australia itu.

Pertama, politik diplomasi Syahrir seolah tak bermasalah bagi TNI dan pejuang sehingga kombinasi politik diplomasi dan pertahanan disimpulkan telah melahirkan Indonesia merdeka. Continue reading “DARURAT PERANG JENDERAL SUDIRMAN”

TENTANG TAN MALAKA

Sabam Siagian
Kompas 12 Juli 2008.

Tulisan Prof Zulhasrul Nasir, ”Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional” (Kompas, 7/7/2008) merupakan sumbangan menarik untuk memperkaya pengetahuan kita dalam rangka ”100 Tahun Kebangkitan Nasional”.

Namun, ada dua catatan serius yang perlu dikemukakan guna menghindari kesalahpahaman. Pertama, kutipan berikut mencerminkan bias penulis dan juga kurang menguasai fakta. Tulisnya, ”Dia (Tan Malaka) dan pasukannya tetap berperang menghadapi agresi Belanda. Maka, sangat disayangkan TKR waktu itu kemudian membunuhnya di sebuah desa di Kediri (1949) dan menghilangkan jejaknya.” Continue reading “TENTANG TAN MALAKA”

Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis

Ignas Kleden *
http://majalah.tempointeraktif.com/

TAN Malaka meninggal pada usia 52 tahun. Setengah dari usia itu dilewatkannya di luar negeri: enam tahun belajar di Negeri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia. Pelarian politiknya dimulai di Amsterdam dan Rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok, sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan masa pelarian yang paling lama di Tiongkok. Continue reading “Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis”