SEHELAI PUISI DI JALAN INI

Taufiq Wr. Hidayat *

Suatu ketika, sebuah kendi di dalam dadamu meneteskan air. Tepat ketika dengan dahaga menyambut duka yang tiba. Tapi pada gerimis kecil dalam puisi ini, tiada henti yang dinanti.

Suatu ketika, lampu-lampu dalam mimpi kotamu dipadamkan. Tepat ketika matahari mengirimkan debu waktu. Ada selembar surat yang melayang tanpa alamat, tergeletak di tepi jalan itu. Entah berapa saat sudah, musim-musim menghuni abad, dan gemuruh selalu berderu terus berderu dalam dadamu. Continue reading “SEHELAI PUISI DI JALAN INI”

SIAPAKAH MEREKA?

Taufiq Wr. Hidayat

Kisah ini bagaikan fiksi. Jangan-jangan memang fiksi. Konon kisah yang mirip fiksi atau memang fiksi ini, terjadi pada masa Khalifah al-Makmun (813-833). Tersebutlah seorang teolog agung. Namun kehidupannya sangat sederhana. Bersahaja. Ia yang kelak menjadi rujukan banyak orang dan ahli-ahli ilmu agama sesudahnya. Dia disebut dengan nama Tuan Hambal. Kesederhanaan hidupnya, membuat siapa pun tak pernah menduga bahwa dirinya adalah seorang teolog. Orang banyak mengenal kemashurannya dari mulut ke mulut, atau hanya dari karyanya yang menjadi buah bibir para ahli ilmu-ilmu agama di zamannya. Continue reading “SIAPAKAH MEREKA?”

PARA PENIPU

Taufiq Wr. Hidayat *

Sebuah ruang. Ruang yang tak meniscayakan dinding. Ia boleh saja suatu wilayah terbuka atau tertutup. Tetapi di dalam ruang itu, terjadi peristiwa dalam satuan waktu dan sebentang jarak. Di situ, peristiwa dan tokoh-tokohnya—yang kalah maupun yang mengalahkan, “berputar-putar dalam lingkaran,” kata lagu “Kuda Lumping” (SWAMI II, 1991). Continue reading “PARA PENIPU”