WAFATNYA JOEN SOEGANDA

Taufiq Wr. Hidayat *

Bagi orang sepenting Joen Soeganda—yang kaya dan berkuasa, kepergiannya meninggalkan dunia fana ini disebut “wafat” atau “mangkat”. Dan bagi yang tidak sepenting Joen Soeganda, orang akan menyebut kematian seseorang dengan kata “tewas”, “mati”, “modar”, “beres”, “selesai”, “tamat”, atau “dead”. Kata-kata kasar seperti itu sangat tidak layak untuk menyebut kematian Joen Soeganda. Siapa yang berani berkata seperti itu? Joen Soeganda bukan orang sembarangan! Dia orang mulia, orang agung, baik, kaya raya, gemar memberi sembako sama orang-orang miskin. Bahkan kata “wafat” untuk menyebut kematiannya pun terasa kurang sopan. Continue reading “WAFATNYA JOEN SOEGANDA”

ONE JINGMI

Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan, tersebutlah seorang bernama One Jingmi. Di desa pinggiran kota, ia adalah anak orang Tionghoa. Orangtuanya bukan orang kaya. Cuma penjual jamu yang tidak sukses besar. Dulu di tahun 90-an, orangtua One Jingmi menjaga toko jamu sambil menjual kupon undian berhadiah yang diselenggarakan pemerintah. One Jingmi karib dipanggil Jing. Lantaran ia anak pertama, sang papa membubuhkan kata “satu” dengan Bhs. Inggris di depan nama Tionghoanya. Orang-orang memanggilnya Jingmi. Continue reading “ONE JINGMI”

WALI ULO

Taufiq Wr. Hidayat *

Seseorang yang bernama Kisemaur mengisahkan perihal orang yang disebut Wali Ulo. Bagi saya, kisah Kisemaur itu bukan cerita baru. Ia mengisahkan kembali kisah-kisah lama yang pernah didengarnya ketika menjadi santri dulu. Sekarang Kisemaur sudah tidak nyantri lagi. Umurnya hampir 50 tahun. Tapi gerahamnya kokoh, besar, dan giginya masih kuat menghaluskan jagung goreng. Continue reading “WALI ULO”