Raksasa yang Rakus

Oscar Wilde
diterjemahkan Toto Sudarto Bachtiar
Pikiran Rakyat, 08 Jan 2002

SETIAP petang setelah pulang dari sekolah anak-anak itu pergi bermain di kebun Raksasa. Kebunnya indah dengan rumput yang lembut. Di sana-sini di atas rerumputan muncul bunga-bunga yang cantik bagaikan bintang-gemintang, dan di kebun itu juga tumbuh dua belas pohon persik yang pada musim semi merekah menjadi putik-putik yang ranum berwarna ungu dan kelabu kebiru-biruan dan pada musim gugur berbuah lebat. Continue reading “Raksasa yang Rakus”

Toto Sudarto Bachtiar (1929-2007)

Sapardi Djoko Damono *
Kompas, 21 Okt 2007

Selasa, 9 Oktober yang lalu, Toto Sudarto Bachtiar telah mendahului kita. Untuk dunia kesusastraan, ditinggalkannya sejumlah sajak yang pada tahun 1950-an sempat dikumpulkannya dalam Suara dan Etsa, dua kumpulan sajak yang merupakan penanda penting dalam perkembangan perpuisian kita. Tulisan ringkas ini adalah upaya untuk menempatkannya dalam peta kesusastraan kita. Sampai dengan tahun 1949, perpuisian kita boleh dibilang dikuasai oleh Chairil Anwar, tentu berkat pandangan HB Jassin yang sudah sejak zaman Jepang muncul sebagai seorang dokumentator dan pengamat sastra yang rajin. Continue reading “Toto Sudarto Bachtiar (1929-2007)”

Toto Sudarto Bachtiar

Terbaring Selamanya, Bukan Tidur Sayang?

Matdon
sinarharapan.co.id

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Larik sajak di atas berjudul “Pahlawan Tak Dikenal”, merupakan sajak terkenal yang ditulis sastrawan Toto Sudarto Bachtiar pada tahun 1955. Sajak itu menjadi penting bagi perkembangan sastra di Indonesia?khususnya pada tahun 1950-an. Sajak itu pun seperti tak mudah hilang dari ingatan kita ketika menjadi sajak wajib pada setiap perlombaan baca puisi tingkat sekolah. Continue reading “Toto Sudarto Bachtiar”