Obsesi Yang Tertinggal di Toko Buku

Wahyudi Akmaliah Muhammad
http://www.kompasiana.com/wahyudiakmaliahmuhammad

Bagi saya, berkunjung ke toko buku bukan sekedar bertemu penjual kertas dengan isi tinta yang tertuang di dalamnya untuk melakukan transaksi ekonomi, melainkan ruang pertemuan yang mengumpulkan beragam keinginan dan obsesi; rasa penasaran terhadap wajah buku, kemauan mencecap ilmu di dalam buku, meraup pengalaman yang tercecer yang termaktub dalam berlembar-lembar buku, dan perjalanan obsesi “kegilaan” diri seiring dengan bertambahnya umur terhadap buku. Continue reading “Obsesi Yang Tertinggal di Toko Buku”

Imajinasi Kebangsaan HAMKA Dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van DerWijcK

Wahyudi Akmaliah Muhammad
http://indonesiaartnews.or.id/

I

SUNGGUH tidak mengenakkan menjadi bangsa yang setengah (baca: blasteran). Di negeri asal ia tak dikenal, di negeri tempat di mana ia tinggal tak diterima. Lebih menyedihkan, perihal dan lakunya yang sekiranya cukup berperan dalam kemajuan negeri, tidak pernah tercatat dalam lintasan sejarah. Continue reading “Imajinasi Kebangsaan HAMKA Dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van DerWijcK”

Blasteran di Mata Pribumi: dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck-nya HAMKA

Wahyudi Akmaliah Muhammad
http://sosbud.kompasiana.com/

I
Sungguh tidak mengenakkan menjadi bangsa yang setengah (baca: blasteran). Di negeri asal ia tak dikenal, di negeri tempat di mana ia tinggal tak diterima. Lebih menyedihkan, perihal dan lakunya yang sekiranya cukup berperan dalam kemajuan negeri, tidak pernah tercatat dalam lintasan sejarah. Begitulah kira-kira gambaran realitas yang terjadi terhadap orang-orang yang terlahir sebagai blasteran, sebuah percampuran darah melalui orangtua yang berbeda bangsa. Sebuah sejarah yang masih menyisakan pertanyaan, satu kisah yang kerap memerlukan eksplorasi lebih mendalam. Sehingga stereotip yang selama ini muncul, tidak hanya bisa diminimalisir, melainkan ?dipadamkan?. (Joostr Cote dan Loes Westerbeck: 2004) Continue reading “Blasteran di Mata Pribumi: dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck-nya HAMKA”

Menjadi ?Indonesia? lewat Sastra Melayu Tionghoa

Wahyudi Akmaliah Muhammad
http://lomba.kompasiana.com/

Dalam pelajaran bahasa Indonesia di bangku sekolah dahulu saya selalu diajarkan bahwa karya sastra yang termasuk dalam Balai Pustaka adalah genre sastra Indonesia modern, seperti Belenggu, Siti Nurbaya, dan Salah Asuhan. Di luar karya sastra yang tidak tercantum dalam Balai Pustaka bukan bagian sastra Indonesia modern. Dengan kata lain, buku-buku sastra yang lain tidak patut dipelajari, karena bukan bagian dari detak sejarah sastra di Indonesia. Doktrin inilah yang membeku hingga sekarang. Lalu, kategori apa yang digunakan Balai Pustaka untuk menentukan bahwa sebuah karya termasuk sastra Indonesia modern? Prosedur apa yang diterapkan untuk menelisik ke-modern-an itu? Continue reading “Menjadi ?Indonesia? lewat Sastra Melayu Tionghoa”