Sastra dan Spiritualitas (3)

Yudi Latif
http://www.kompas.com/r

Sastra-Spiritualitas Nusantara
Tradisi sastra-spiritualitas juga memantul di kepulauan Nusantara, antara lain dengan menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu telah mengalami banyak perkembangan sebelum ia digunakan sebagai alat bagi sastra metafisika dan filosofis Islam. Kedatangan para pelayar Arab dan kaum misionaris, terutama sejak penyebaran Islam di Nusantara, mulai mengenalkan huruf-huruf abjad Arab sebagai simbol-simbol tertulis bahasa Melayu (Al-Atas, 1969). Kontribusi kedua yang diberikan oleh para wali sufi dan kaum misionaris adalah pengenalan dan penyebaran ajaran dan sastra Islam, terutama dalam bidang tasauf (sufisme) dan kalam (teologi). Continue reading “Sastra dan Spiritualitas (3)”

Sastra dan Spiritualitas (4)

Yudi Latif*
http://www.kompas.com/

Ancaman Fanatisisme
Modus keagamaan yang menekankan dimensi spiritualitas-puitik, yang memberi tempat bagi pengucapan unconscious mind, sungguh selaras dengan pandangan dunia klasik alam nusantara. Dalam Islam Observed (1968), Clofford Geertz melukiskan gaya klasik Islam Indonesia sebagai iluminasionisme, dengan pandangan dunianya yang bersifat sinkretik, selaras dengan ethosnya yang bersifat adaptif, gradualistik, estetik dan toleran. Gaya seperti ini menurutnya bertahan setidaknya hingga awal abad 19. Continue reading “Sastra dan Spiritualitas (4)”