GURAH: Novel Yang Tak Sempat Dikubur

(Novel ini, semula sebagian fragmennya dimuat bersambung di harian sore Surabaya Post dari Pebruari hingga Mei 2005 di bawah judul Tak Sempat Dikubur).

S. Jai
ahmad-sujai.blogspot.com

DAFTAR ISI
SINOPSIS
PROLOG
CATARAN DARI SEORANG YANG SAKIT JIWA (4)
SATU
OKTOBER 1983 (5)
DUA
SEPTEMBER 1984 (30)
TIGA
DUNIA YANG BERBATASAN TIPIS (66)
EMPAT
SESUDAH SEPULUH TAHUN KEMUDIAN (70)
LIMA
KISAH SEBUAH CIUMAN (100)
ENAM
MATAHARI SUBUH DI BULAN APRIL 1994 (121)
TUJUH
SIMPANG SOCIETET (141)
DELAPAN
INSPIRASI (161)
SEMBILAN
OMONG KOSONG (175)
SEPULUH
IDEOLOGI LELAKI (190)
SEBELAS
SCIENCE, FICTION (225)
EPILOG
FANTASI EROS DARI BALIK JERUJI (257)
SINOPSIS

SESUATU kekuatan telah sanggup menyalakan kembali api cinta Biru Langit pada kehidupan. Lelaki itu telah selamat dari amukan masa silam yang getir, juga deraan nasib hitam menghitam. Otaknya yang ideot, derita akibat terbunuhnya sang ayah oleh peristiwa penembakan misterius, lalu tak lama menyusul kematian ibunya, lambat laut sirna.
Dia mulai jatuh cinta pada kehidupan.
Lantas, kehidupan pula yang menyeretnya kepada pergulatan batin yang rumit ketika cinta yang lain merenggutnya?seorang wanita telanjur mencintainya dengan kasih sayang, uang dan nama besar?mnyebabkan Biru Langit berada pada persimpangan, pemberhentian, sekaligus telikungan jalan.
Wanita itu puteri seorang profesor bedah plastik yang keblinger pada ilmu politik. Disiplin ilmunya belakangan diketahui jadi penyebab keluarganya justru tak manusiawi. Cinta sama sekali mendapat arti yang lain?kekuasaan lelaki dan tanggungjawab yang amat terbatas terjemahannya.
Di situlah sebagai perempuan korban perkosaan, Sulistyorini, wanita itu mengalami kebimbangan. Di satu sisi ia ingin disentuh hatinya oleh laki-laki sebagaimana keadaannya, di sisi lain oleh sang ilmuwan dipandang sebagai wanita yang tanpa cela. Menurutnya, wanita tetaplah wanita, apapun keadaannya. Sementara sang ibunda karena mendapati persoalan yang demikian komplek menyebabkan dirinya mengakui kelemahannya. Ia cukupkan diri berada di bawah kekuasaan lelaki, kekayaan dan juga nama besar. Ia nyaris tanpa suara.
Peristiwa paling dahsyat terjadi pada novel berlatar pembredelan tiga media besar ini, saat perdebatan Biru Langit dengan sang profesor menyangkut masalah kepribadian serta tanggungjawab kepada seorang anak. Biru Langit yang diilhami sepucuk surat seorang kawannya, Pam tak juga mampu menyentuh lubuk terdalam sang profesor. Sang profesor dengan analisis keilmuannya yang mendarah daging juga tak sanggup menyentuh nurani puteri serta istrinya. Juga pada Biru Langit.
Pam adalah seorang atheis yang dihilangkan penguasa dan hanya melalui surat yang tertuju pada ibunyalah, Biru Langit mendapat inspirasi banyak hal. Bagaimana seorang atheis bisa mengungkapkan perasaannya pada ibunya demikian memikat, lebih dari ungkapan pujian pada Tuhannya.
Lantas bagaimana mereka semua hidup? Ya, mereka berjalan sendiri-sendiri. Hidup mereka, cinta mereka seperti berbicara sendiri-sendiri, memaknai apapun maknanya. Mereka hanya saling membersihkan diri saja (gurah) dan kalaupun terlibat dalam satu simpul, banyak hal yang justru menimbulkan tanya.
Ya, bagi mereka cinta adalah hidup itu sendiri, pahit getir, ambisi, gairah, ingatan, luka, muslihat, bahkan petaka. Namun di luar itu semua, ada cinta yang tak tahu menahu, tak peduli bahkan abai, atau mungkin menolak dimengerti dengan suntuk sekalipun harus diterjemahkan dengan puisi atau fiksi. []

PROLOG:
CATATAN SEORANG YANG SAKIT JIWA

BERBULAN-BULAN aku ingin pulang ke rumah?seperti ceritamu saat berkendara di jalan aspal dalam hitungan jam, dan tiba di pelataran rumah, diserbu anak istri, dihidangi jajan dan kopi, Bertahun-tahun aku kepingin jenak berumah, berdebat dengan istri dan anak yang pintar bukan cuma karena sekolah, ngaji?persis kisahmu yang mengutip buku-buku dan kitab suci.
Kamu bisa pulang karena memang punya rumah. Aku tidak.
Kukabarkan padamu aku masih di jalanan, terusir dari tempat kediaman yang sungguh bukan untukku. Dan aspal, batu serta tanah yang pernah kamu lalui terkadang kulewati juga. Hingga aku bisa beritakan pengalaman, perjalanan ini tentang bagaimana bau, aroma dan barangkali rasa di luar kepadamu. Mungkin juga ingatan kita semasa sama-sama?
Sebab itu aku angkat topi buatmu. Biarpun telah berumah namun hidung, kuping, mata, hati dan matahati kita sama-sama tidak buta atas begitu banyaknya perstiwa pembunuhan, korupsi yang terpelihara?kebusukan yang tercium, menusuk sampai nyerinya terasa di sunsum tulang, lebih busuk dari bangkai yang tak suntuk dikuburkan dengan bagian kaki, tangan kepala atau bahkan perutnya yang menyembul ke udara, sebelum dihirup juga oleh anak istrimu. Itupun lebih busuk dari bangkai yang memang belum dikuburkan. Terlebih karena begitu banyaknya hingga tak sempat lagi untuk menguburnya.
Sempit. Dan kubayangkan kini waktu sudah lagi tak ada yang punya.
Hanya orang sakit jiwalah yang bisa selamat, sebab dia akan mencuri waktu dan justru penyiksaan padanya, ia yakini sebagai pil pahit penyembuh sakitnya. Aku sejak muda tumbuh sebagai anak yang lahir kurang pintar jikapun tak berarti idiot. Kemiskinan menjadi biang dan belajar adalah suatu kebiasaan tersulit. Otaknya sulit terisi, tak ada memori. Sampai suatu ketika sebuah peristiwa merubah segalanya. Melihat orang tak bersalah tewas dibunuh. Tahu perempuan mati tidak kuat menahan penderitaan. Ingatan peristiwa itu membuatku tak mudah abai melupakan setiap peristiwa yang nyata-nyata hidup. Kegetiran hidup, lebih banyak dari usiaku sesungguhnya, dalam tidurpun kegetiran itu hadir pula di mimpi-mimpi.
Aku menjelma seorang yang sakit jiwa dan pendendam.
Bisakah engkau mencari jawab bila terseret jauh lebih tahu banyak perihal kebusukan lainnya di sini. Sayangnya, sama sekali tak ada yang bisa dikerjakan kecuali cuma membaui kebusukan-kebusukan yang terjadi di negeri ini. Bisakah mencari jawab apa hendak dilakukan? Bukankah penyakit jiwaku sanggup kian menghebat tanpa perlu membunuhku, di saat-saat puncak kegitiran lantaran kesulitan untuk hidup di usia yang betul-betul butuh rasa aman untuk itu? Faktanya, aku tetap kesulitan dalam hal pekerjaan, pendidikan dan rumah yang lapang tempat anak-anak kelak hidup yang betul-betul hidup di tengah keluarga. Lalu kubayangkan ada sisi jalan kecil yang lempang untuk kembali mengolah alam, menggarap tanah dan menanam pohon kehidupan. Bukankah alam adalah ibu terbaik manusia di bumi, yang melahirkan, menumbuhkan, mendewasakan dan mnghidupkannya? Namun betapa bayanganku itu begitu suram dan lebih gamblang menyaksikan pohon-pohon itu pun mati sebelum tumbuh dan tumbang.
Pesanku belikan anakmu layang-layang dan jangan beri sebilah pedang.[]

SATU
OKTOBER 1983

Satu

AYAHNYA ditembak mati orang tak dikenal pada bulan Oktober saat Biru Langit usia sepuluh tahun. Dan ibunya meninggal mendadak di kebun belakang rumahnya, beberapa minggu berikutnya. Kematian itu sungguh aneh di raut bocah kelas lima sekolah dasar itu, lantaran waktu itu baru kali pertama dia melihat mayat manusia seperti binatang. Terbungkus kain mirip terpal dan terlihat dari kejauhan seperti kuda. Sayang ia sudah tak meringkik lagi, seperti tatkala masih hidup.
Memang itu bukan tubuh rusak pertama yang dilihatnya. Tapi sejak Biru Langit, jatuh dari meja setinggi lebih dari satu meter dan tertelungkup di lantai separuh semen, separuhnya tanah, sehingga kepala bagian belakangnya tumbuh membesar, mayat ayahnya dan tentu saja kemudian jasad ibunya yang menyadarkan ada yang salah dengan bagian penting dari tubuhnya itu. Ada yang keliru dengan kehidupannya. Ada yang terhambat dengan perkembangan jiwa dan sudah barang tentu sel-sel dalam otaknya.
Semenjak itu, Biru Langit tumbuh sebagai anak yang kurang pintar jikapun tak berarti idiot. Kemiskinan orangtuanya, memperarah kondisi Biru Langit. Dia pun berkembang sebagai pribadi yang kurang pergaulan. Belajar adalah suatu kebiasaan yang sulit baginya di dunia ini. Otaknya sulit terisi, tak ada memori yang bisa diingatnya. Di sekolah Biru Langit harus diberi keyakinan dengan menyuntikkan semangat dengan cara umurnya ditambah satu tahun, agar kawan-kawan sekelasnya memaksa dirinya tahu paling berumur di kelasnya, sehingga wajar bila diantara empat atau lima puluh kawannya, dia terpilih jadi ketua kelas.
Tapi sebelum ayahnya mati, otaknya tetap seperti sama sekali tak berisi. Setiap tiba di sekolah mangga sebesar kepalan tangan seharga duapuluh lima rupiah lebih dulu menyumbat tempurung kepalanya ketimbang pelajaran berhitung, apalagi mengarang. Dan kali pertama yang dilakukan Biru Langit bila mendapat kesempatan maju di depan kelas dan kemudian dia terhambat untuk itu adalah menangis sejadi-jadinya. Menangis adalah respon paling cerdas dari Biru Langit. Karena dengan menangis, dia tahu orang pertama yang disibukkan adalah gurunya, kemudian kawan-kawan yang lebih dulu dicap sehat dan waras. Lantas ayah dan ibu yang jauh lebih siap melayani bakat mendendam Biru Langit dari pada seorang guru?yang dia ketahui kemudian lahir dari seorang priyayi kampung penuh kepura-puraan, ramah banyak senyum. Itulah sebab kepada Biru Langit, kebanyakan guru di sekolah itu lebih suka menunjukkan taring giginya dengan melempar penggosok, penggaris atau apa saja di dekatnya daripada senyumnya. Sebab itu pula betapa Biru Langit amat sulit untuk menghafal, pahlawan tanpa tanda jasa, dalam mata pelajaran kesenian.
Hanya itu ingatan yang masuk ke memori otak Biru Langit. Ada satu-dua peristiwa tapi alangkah baiknya, bila itu dihapus saja dari ingatan dia?judi kecil-kecilan, main rogoh kelamin perempuan. Kebiasaan ini, dia dapat akibat di depan halaman sekolah, seorang laki-laki dewasa menggelar judi rolling untuk anak-anak. Pemuda-pemuda kampung yang senang menggoda perempuan gila untuk membuka roknya, berakibat rasa ingin tahu Biru Langit pada setiap kelamin perempuan?padahal ketika kali pertama, dia saksikan isi rok perempuan gila itu, tak dia lihat apapun kecuali daging bengkak yang kering dan sedikit bernanah. Di saat seperti itu, biasanya Biru Langit dikemplang pelipisnya dengan salah seorang pemuda itu dan dikatai ?heh.heh..anak kecil kepingin tahu tempik juga.? Itu kali kedua Biru Langit dapat kosakata, tempik, setelah di sekolah dia baca, dari salah sebuah sajak Chairil Anwar, yang sudah barangtentu ia tak hafal. Segala perbuatannya ini, dialakukan jauh dari kesadaran. Seperti halnya ketika dia selalu menangis tatkala dimandikan ibunya, tapi bila ibu atau perempuan tetangga yang mandi, cepat-cepat Biru Langit mencari tempat untuk mengintip.
Siapa sangka, mengintip adalah pelajaran terhebat dari sekian bagian hidup Biru Langit di usia mudanya, ketika mungkin dibanding kawan-kawannya semasih duduk di bangku sekolah dasar. Di situ ada dorongan naluri untuk lebih tahu dan segala daya upaya dengan penuh kesadaran dia kemukakan, membujuk, argumen, sampai memberontak bila sesorang memergokinya sebelum kemudian melarang.
Biru Langit jadi tahu waktu.
Sebelum ayahnya mati seperti binatang, Biru Langit terbiasa melihat mayat manusia terbungkus karung di kerubuti orang seperti semut, waktu di pinggiran jalan persis depan Pak Lurah. Biru Langit tahu juga seonggok laki-laki mati dipinggir pasar, sebelum dikubur dimandikan terlebih dulu di kali dan pada saat itu Biru Langit dengan mata telanjang tahu mayat itu tanpa kelamin dan perempuan-perempuan yang tahu sebagaian menutup hidung dan mulut, sebagian yang lain menjerit-jerit yang lengkingan jeritnya mirip suara kucing atau anjing yang dikebiri. Biru Langit tahu juga mayat lain ditemukan didudukkan di parit seperti hendak menghisap rokok, dengan separuh kepala bagian belakangnya ternyata sudah lenyap hancur seperti daging semangka.
Biru Langit tahu karena sederet peristiwa itu terjadi di sebuah kampung kecil yang dihuni lebih banyak binatangnya ketimbang manusianya. Sampai dia sendiri ragu, seorang binatang atau seekor manusia atau sama sekali bukan keduanya. Mana yang benar dan siapa yang melakukan semua ini, binatangkah, manusiakah atau seonggok daging seperti halnya juga dengan dirinya. Biru Langit memegangi sekumpulan daging di tubuhnya, dan mecengkeram batok kepalanya yang benjol di bagian belakangnya.
Setiap pertanyaan ketika itu tak sebutir pun yang terjawab karena Biru Langit juga tak punya ingatan apa-apa.

Dua

SUATU sore di pertengahan bulan Oktober 1983, ayah Biru Langit dikuburkan tanpa sebuah upacara laiknya di sekolah pada saat pagi hari pendidikan atau kebangkitan nasional, lebih-lebih kesaktian Pancasila. Apalagi dengan iringan salto seperti matinya tentara, tidak sama sekali. Ayahnya yang buruh tani itu dibenamkan di perut bumi hanya seperti pada saat menimbuni sawahnya dengan pupuk kompos sisa binatang dan tahi orang. Sedikit diiringi potongan-potongan doa yang tak sempurna dari sisa segelintir orang di kampung itu. Sampai bongkahan tanah-tanah di kuburan itu tak bisa menelan batang tubuh ayah Biru Langit dengan ikhlas. Begitu banyak orang mati di situ yang berbaring jauh lebih banyak dari orang kampung apalagi pelayat jasad ayah Biru Langit.
Dibayangkanya ranting-ranting akasia tempat burung-burung gagak itu mangakak, jadi benalu yang mengisap serat-serat daging ayah Biru Langit yang kokoh, seperti serat-serat tanah liat sebelum dibakar menjadi batubata. Digambarkannya, ayahnya berbaring sendirian di gelapnya tanah kuburan itu, tanpa lampu, tanpa angin tanpa rokok, tanpa kopi, tanpa makanan. Sambutan dan doa akhir pemuka kampung sedikitpun tak masuk di telinga Biru Langit. Dia apalagi tak sepatah kata pun mengingat isi doa-doa itu?
Apa yang pernah ibunda diceritakan pada Biru Langit, tentang surat dari langit, perihal orang tua yang tak pernah merasa tua, soal perempuan hamil bayi yang tak juga lahir bayinya biarpun telah jauh lewat masa-masa untuk itu, dan sekian banyak cerita lain yang bagi Biru Langit aneh betul, bagi ibunya tidak. Ibunya tak pernah mengutarakan ini sungguh-sungguh, sekadar cerita, mimpi, dongeng atau kabar burung. Lebih gampangnya sebut sajalah, dongeng yang biasa diperdengarkannya kerapkali Biru Langit hendak tidur. Begini:
Dari arah barat seorang perempuan berjalan gontai. Kulit tubuhnya bersinar. Di punggungnya seperti menggendong rembulan. Sendirian perempuan itu berjalan. Tubuhnya dibebat pakaian lusuh namun masih terkesan dari bahan yang amat mahal.. Perempuan itu terus berjalan tanpa peduli kiri-kanan. Menyusul kemudian di belakangnya, berbaris arak-arakan penduduk kampung yang menyemut. Beberapa orang penduduk melirik tajam pada ibu. Sedikit diantaranya melempar salam.
?Kenapa ibu tidak berada di tengah arak-arakan penduduk kampung??
Biru Langit menyela kisah ibunya, tapi tak terjawab.
Perempuan penuh misteri itu menggendong seperangkat canting. Di biarkannya orang-orang membuntuti dirinya. Ada yang bermaksud membantu meringankan beban perempuan itu seperti membantu tuannya.. Aneh, tidak bisa, karena semua niat baik ditolaknya. Senyum perempuan dengan wajahnya senantiasa bersih seperti baru saja turun dari kereta berkuda dari sebuah negeri masa lalu yang diburu pangeran yang hendak meminangnya. Perempuan itu terus berjalan?
Biru Langit lupa berapa kali ibu cerita hal yang sama. Sebelum ditembak, ayahnya cerita hal serupa yang isinya sama. Tetangga pernah juga. sebagaimana yang melintasi umur ayah, cerita itu sebagai tanda dirinya hampir mua. Ibu juga nyaris menua, menyusul ayah. Wajar bila Biru Langit tak punya cukup keberanian meninggalkan jauh-jauh keduanya. Biru Langit terlampau lancang seringkali melintaskan jalan pikiran kematian ibu dan ayahnya. Terlebih pada ayahnya yang nyaris sering mendekam di sal rumah sakit. Saban kali berhadapan muka dengannya, Biru Langit berpikir: tidak berapa lama pasti dia berhadapan dengan malaikat maut. Lagi, sikap ayahnya yang miskin bicara, kiranya begitu pula perasaan Biru Langit bila menghadapi tubuh kaku mati ayahnya. Setan! Biru Langit jadi rindu betul ajal ayahnya?
Sebab itu ketika ayahnya mati ditembak dengan lubang peluru di jidatnya, Biru Langit tak pernah menangis. Sampai ketika jasad ayahnya dibenamkan di perut bumi, setetes pun airmata Biru Langit tak jatuh berkalang tanah. Biru Langit yang berdiri persis di kuburan ayahnya hanya melihat raut wajah orang kampung, tetangga, keluarga sanak saudara, kakak dan tentu saja ibundanya. Yang muncul di benaknya cuma keraguan kecil apakah diam-diam dirinya sudah terjangkit sakit jiwa. Biru Langit mencurigai tubuhya sendiri terserang neuritis?sesuatu yang sungguh bukan main-main selaku benih dendam.
Rasa itu bukan mustahil menimpa pada ibunya, bila bocah Biru Langit saja sudah ragu dirinya manusia atau bukan. Ibunya sedang di ambang senja dan menua. Setiap memasak di petang hari (ibu biasanya masak dua kali sehari, pagi dan petang), sambil omong panjang, ngurus anak-anak ayam, atau suara perkakas dapur yang sampai di kuping Biru Langit sepertinya dibantingnya keras-keras, lalu daun pintu yang dia tabrak seenaknya. Kacau! Usia senja ibu mustinya dilintasinya dengan enak, nyaman, duduk-duduk di samping pintu. Tak jauh di muka pintu ada burung-burung putih. Panjang umur. Persis kebiasaan nenek dulu sebelum meninggal saat ibu masih seumur Biru Langit di rumah itu juga, di depan pintu itu juga. Betapa menyenangkan hati Biru Langit melihat keseharian ibunya duduk-duduk besandar pintu jati gagah itu.
Keadaan sekarang sama sekali lain.
Pikiran lancang Biru Langit menelanjangi ibunya. Terhadap mimpi ibunya bertemu perempuan berwajah anggun, kadangkala di kepala Biru Langit sembunyi pikiran bahwa ibunya rindu jumpa Ratu Adil yang mengentaskan dari lumpur kemiskinan keluarganya. Atau ibunya rindu muda belia kembali. Ibunya sendiri tak pernah sudi disebut dirinya tua. Namun tetap saja Biru Langit melihat ibunya di dapur tak ubahnya tubuh ibu itu yang duduk di tungku panas. Hitam. Kerdil dan tentu saja, lucu. Acapkali diputuskannya hubungan ibunya ketika petang hari, ketika ia ngoceh dan bagai panci duduk di tungku. ?Sudahlah ibu, mengasolah.? Lantas ibunya tersinggung.
Begini. Sebenarnya, Biru Langit khawatir bila ibunya sungguh-sungguh rindu muda seperti mbakyu penjual jamu gendong. Berpenampilan kain lengkap wanita desa dengan rambut digelung tusuk konde berhias mawar, bibir berhias gincu merah, tipis, terkadang tebal membara. Ketika sadar zaman telah berubah bagaimana bila ibunya berganti penampilan degan mengenakan baju model kota, celana jins ketat? Bila ibunya seperti itu, lantas bagaimana dengan ayahnya? Tentu Biru Langit cepat-cepat memberi saran pada keduanya untuk datang ke paranormal.
Ya, Biru Langit ingat sekarang. Mereka punya seorang paranormal bekas priyayi pensiunan Kolonel Angkatan Laut yang pernah lama bertugas di Timor Timur. Kepadanya ayah Biru Lagit sering menolak untuk datang lantaran takut. Ibunya justru melakukan sebaliknya, meminta untuk senantiasa datang. ?Biar hidupmu adem-ayem-tentrem. Seperti tumbuhan hidup manusia harus diberi pagar supaya terang jalan, jernih pikiran dan ragamu tidak terganggu. Ragamu, raga manusia, banyak yang mengincar, karena itu mintalah sesuatu. Apa saja,? tutur ibunya. Kemudian dikisahkannya bagaimana ibunya saat subuh melempar sebentuk benda kecil terbungkus kertas koran dilipat-lipat dari bekas Kolonel itu ke tengah tegalan. Ibunya begitu bersemangat meyakinkan Biru Langit pensiunan Kolonel bekas priyayi itu telah dikenalnya dengan baik. Biru Langit jauh sebelum itu, telah percaya. Jadi, percuma! Banyak hal sebetulnya antara Biru Langit dan ibunya yang sia-sia. Biru Langit mengangguk. Ingatan di subuh itu masih segar. Ini dilakukannya maksud Biru Langit biar ibunya tak lagi melanjutkan kisahnya. Lagi-lagi Biru Langit mengalah. Lalu ibunya kembali melanjutkan ceritanya.
?Kalau tidak? Kita tidak nyaman di rumah, mengayomi tanah tegal sepetak.?
Ketika itu, ibunya tidak mempersoalkan luas tanah tegal untuknya saat pembagian hak waris tinggalan kakek-nenek dua tahun sebelumnya. Cuma ibunya tidak setuju cara kakaknya , paman Somad membagi tinggalan itu pada adik-adiknya, termasuk ibunya Biru Langit. Minta petunjuk Pak Modin Haji Lukman pun, dianggap salah. Masak, tegal dibagi lima bagian membujur. Paman Somad dapat dua bagian, sisanya ibu Biru Langit, dua adiknya masing-masing satu bagian. Itu namanya mulut besar. Perut besar. Tamak. Dengan berbagai upaya sekembali dari pensiunan Kolonel bekas priyayi, lewat pintu-pintu kantor desa, tangan-tangan kecamatan, mereka sama-sama dibuat malu, ibunya menegaskan maksudnya. Berhasil. Tanah tegal dibagi empat dan masing-masing mendapat satu bagian. Kabarnya, sebagian tanah telah dibeli Paman Somad ketika adik-adiknya belum lahir. Itu saja ditukar beberapa karung gabah. Edan. Dasar berperut besar. Lucunya setelah peristiwa itu, Paman Somad datang juga ke pensiunan Kolonel bekas priyayi. Tapi ibunya Biru Langit yakin seyakin-yakinnya mana yang benar dan yang salah, serakah dan tidak.
?Semua yang di kampung ini saudara,? ucapnya.
Senja. Usai beberapa lama menetap, perempuan dengan seperangkat canting ke arah timur pergi seolah hendak menjemput matahari esok pagi. Orang-orang kampung terpukau. Tiada tanya. Tiada yang tahu menuju kemana. Kasihan, ia bangun rumah dan berhari-hari ia lakukan pekerjaan membatik tapi semua itu ia tinggalkan. Begitulah terus perempuan itu berjalan. Tiba-tiba ia lenyap di kerumunan bambu di pojok ladang di arah timur. Semenjak itu sepanjang jalan dimana perempuan itu lewat, tanah-tanah jadi subur dan orang-orang kian rajin, giat dan akrab.
Biru Langit terkejut seperti dihantam benda keras. Ketika mendatangi pensiunan Kolonel bekas priyayi seperti disarankan ibunya, di salah satu bilik kecil miliknya yang menghadap kolam dengan ditumbuhi enceng gondok, Biru Langit sadar seperti hidup di tengah kampung yang penghuninya telah menjadi fosil-fosil, serasa hidup di zaman batu. Mundur ratusan tahun lamanya, kampung tempat sekarang dia tinggal, adalah kampung perlawanan?tempat priyayi-priyayi dari zaman sekarang yang dilarang masuk ke situ. Tidak ada camat. Tak ada Bupati. Tak ada perwira. Tak ada Menteri. Tak ada priyayi berdasi. Tak ada penggusuran. Tak ada pembangunan.
Kenapa dongeng pensiunan Kolonel bekas priyayi itu sama persis milik ibu Biru Langit? Biru Langit gelisah. Dipikirannya orang itu lebih tahu persoalan dia jauh sebelum Biru Langit tiba. Biru Langit heran cuma untuk meyakinkan semua tuduhan otaknya untuk ibunya sama sekali meleset. Justru pertanyaan-pertanyaan mengganggu kegelisahan Biru Langit untuk segera hendak pulang, menemui ibunya.
?Ibumu betul. Saya bisa omong-omong dengan perempuan yang dimaksud ibumu, setiap saat. Saya memang priyayi, pensiunan perwira. Tapi saya lahir dan besar di kampung ibumu. Saya tidak seperti priyayi lain yang dilarang masuk di kampungmu. Kapan saja saya bisa lihat perempuan cantik. Kapan saja saya bisa tahu orang-orang kampung baik yang telah tiada maupun yang masih hidup. Semuanya baik pada saya. Saya hormat, menghargai dan menjaga mereka. Juga kepadamu, ngger.?
Sekembalinya, Biru Langit dibekali bungkusan kertas kecil, bubuk garam, minyak wangi. Dimintanya bila setiba di rumah, agar Biru Langit membungkusnya dengan plastik kemudian kain.
?Bawalah kemana kamu pergi. Jangan simpan di saku celana. Tidak sopan,? begitu petuahnya.
Semua jadi tidak penting bagi Biru Langit. Biru Langit harus pulang. Otak, mata, jantung dan jiwanya sudah penuh dengan sosok ibunya. Dia melompat pagar sebelum membawa pikiran bahwa dirinya barangkali telah tiada dan hidup di alam purba, bertetangga dengan fosil-fosil.
?Ibu aku tidak peduli kau masih hidup atau sudah mati.? knangnya.

Tiga

BIRU LANGIT tak peduli kau masih hidup atau sudah mati?
Biru Langit masih berdiri persis di sisi lahat ayahnya hanya melihat raut wajah orang kampung, tetangga, keluarga sanak saudara, kakak dan tentu saja ibundanya. Agak lama dia pandangi wajah ibunya.
Setelah itu usai, semuanya pergi tanpa seorang pun yang tinggal. Udara sore mengalir ke setiap rimbunan pohon di tempat itu. Pohon-pohon akasia dan kembang di situ berbisik-bisik. Orang bilang, bila pada saat begini sehabis tujuh langkah sepeninggalan pelayat, si mayat dibangunkan dua malaikat dan disitu banyak sekali peristiwa terjadi. Jika seorangpun tinggal mendengarkan dialog-dialog sang malaikat itu , maka dia akan mendadak gila. Sehabis itu, Biru Langit tanpa tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Pergelangan tangannya, buru-buru ditarik oleh seseorang yang dia sendiri tak sempat memperhatikan, sebelah tangannya lagi dicengkeram kuat-kuat orang lain lagi, nyaris berbeda arah. Manusia ataukah malaikat ia juga tak peduli.
Gerombolan pelayat yang cepat berpencar, dengan langkah-langkah kaki yang menerbangan debu-debu, rumput ilalang tajam giliran menenggalamkan sosok tubuh bocah itu. Barangkali seusai tujuh langkah pula, lantas Biru Langit menoleh kembali ke belakang. Sungguh banyak peristiwa telah terjadi di balik debu dan ilalang tajam itu. Cerita, kesunyian, bisikan, teriakan, tarian merasuki ke dalam jiwa Biru Langit, serasa membangkitkan dia sebagai manusia setengah malaikat.
Ingatan Biru Langit terhadap mayat ayahnya yang mati dengan lubang peluru di kepalanya menjadikan bocah itu tak lagi gampang melupakan setiap inci peristiwa.
Angin yang mengguyur para pelawat itu desisnya tenggelam oleh suara-suara yang sepintas lalu mirip dengungan lebah. Di barisan belakang langkahnya agak berat dan suasana begitu kaku. Seorang perempuan berpakaian hitam dengan baju kuno menggelandang laju jalan Biru Langit. Itulah Surat, ibunya Biru Langit dan orangtua dari kelima saudara-saudaranya. Surat juga adalah ibu yang baru saja mengisi jiwa Biru Langit atas kemauan sendiri selama pembacaan doa dan sambutan, ketika jasad ayahnya dibenamkan dalam kubur. Kini digandengnya anaknya, Biru Langit dan dibiarkannya pikiran keduanya berjalan sendiri-sendiri.

Empat

MEREKA orang-orang kampung petang itu langsung menginap di rumah Surat. Sebagai tanda belasungkawa, biarpun tanpa rumah Surat tanpa kamar. Lebih tepatnya, malam nanti malam pertama dari tujuh hari tujuh malam keluarga Surat berkabung. Sebab itu, warga yang kebanyakan tetangga dan kerabat dekat bersiap untuk tidak tidur selama melewati malam-malam itu. Seperti kebiasaan bila di kampung itu ada yang meninggal, sebagian orang kampung mengantongi ceki, remi atau papan catur untuk mengusir kantuk. Tuan rumah selamatan kecil-kecilan dan yang amat penting adalah menyiapkan rokok murahan dan kopi tubruk untuk mereka.
Kematian suaminya yang mendadak sudah merupakan pukulan berat bagi Surat. Sebab itu, ia sama sekali tak mengurusi segala kesibukan seperti itu. Justru waktunya banyak dihabiskan di dalam kamar. Bila penderitaannya itu dirasanya terlalu berat, ia pun menangis karena itu dianggap jalan keluarnya. Dengan menggengam kain-kain berukuran besar untuk mengusap airmatanya, Surat nampak memutar-mutar permukaan kain itu karena sepertinya tak cukup untuk menghapuskannya. Kedua matanya, lebih menyerupai bengkak daripada terlihat bekas tangis. Itu karena ujung-ujung kain yang terlalu tebal yang menyentuh matanya.
Biru Langit banyak tahu pemandangan itu semua tapi laiknya seorang bocah kecil, ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Matanya yang selalu berkata-kata. Sering muncul pula kesedihan di situ bukan karena di tinggal mati ayahnya, tapi karena menyaksikan betapa ibunya diliputi kesedihan sepanjang waktu. Bila ada kesempatan ia bertanya, kepada kakaknya ia ajukan apa yang mengganjal di hatinya. ?Mengapa ibu menangis terus di kamar sejak pulang dari kuburan dan belum juga diam, apa ingin ayah tahu ibu tidak siap ditinggal mati?? Sepertinya Biru Langit lebih banyak protes menyaksikan di sana-sini banyak kemuraman. Siapapun yang diajaknya bicara tak bisa memberi jawab lantaran ia juga punya pertanyaan serupa.
Malam makin dingin. Rumah tua dengan pintu dan jendela berukuran besar yang terbuka itu kian jadi arus deras arah angin dari penjuru sawah, ladang dan sungai. Kolam ikan yang sudah hijau berlumut akibat hampir sebulan airnya tak diganti, bau busuknya ikut merunyak ke tiap ruangan. Orang-orang tak acuh dan tetap memainkan kartu-kartu di tangannya. Mereka juga tak pedulikan nyamuk-nyamuk yang terbang mengancam, karena bisa diusirnya dengan asap rokok setiap kali habis disedot.
Bila malam bertambah malam, dapur-dapur dengan perkakasnya yang kotor sudah ditinggal perempuan-perempuan. Mereka duduk-duduk atau sekadar menangkupkan badannya di tikar pandan. Ayam-ayam dan kucing sudah terlebih dulu tiada kabar. Sesekali lonceng siskamling dipukul beberapa kali pengganti waktu. Kecipak ikan di kolam kotor kadang-kadang juga unjuk kebolehan, mempertontonkan keberadaannya yang masih terjaga.
Pada malam itu, Biru Langit badannya ditangkupkan ke lantai setengah ditekuk. Persis di pojok ruangan terjepit tembok di bawah saka dan blandar kayu jati, tanpa selimut tanpa sarung. Biru Langit belum juga tidur. Biru Langit belum juga sanggup memejamkan matanya, dan setiap seseorang membanting kartu-kartu permainannya ia memperkuat kedipan matanya. Bila mereka setengah berteriak, maka nafas Biru Langit bertambah berat dengan detak jantung yang menguat. Matanya tak terpejam, jiwanya pun tak juga padam. Sebaliknya justru Biru Langit sedang sibuk. Otaknya bekerja keras biarpun badannya lemas. Sepertinya di situ ada sesuatu yang berlari-lari, melompat-lompat, hidup, menyebar tanpa sepengetahuan Biru Langit. Ya, ada sesuatu yang bekerja di bagian penting dari tubuhnya. Biru Langit sepertinya serasa banyak mengigau.
Ketika tanpa sadar Biru Langit menjadi seorang yang cukup pintar dan sungguh sibuk luar dalam, malam itu, di tengah igauan itu, dia mendengar banyak sekali peristiwa.

Lima

?NASIB malang memang sedang terjadi pada ayah Biru Langit.?
Suara itu datang dari kelompok bermain catur. Setiap kelompok bermain ada saja yang dibicarakan. Terkadang antar kelompok bermain saling sahut pembicaraan.
?Kasihan,? yang diajak bicara menyahut asal kena.
?Siapa yang kamu kasihani??
?Ya, jelas yang mati.?
?Tidak. Saya pikir-pikir lebih malang lagi keluarga yang ditinggalkannya. Sama sekali saya tak melihat kesiapan di wajah keluarga yang ditinggalkan,? Orang memegang kartu remi menyahut.
?Ayah Biru Langit itu orang baik-baik.?
?Itu pertanda, siapapun orang macam kita bisa bernasib seperti itu. Kapan saja bisa jadi sasaran peluru laknat itu. Dalam kesempatan bagaimanapun, salah atau benar jadi tidak penting,? kata yang lainnya lagi.
?Ya, saya jadi sedikit mengerti.?
?Ini buktinya.?
?Dia orang baik-baik, tapi peluru itu tak pernah mau mengerti siapa korbannya.?
?Kamu cerita soal peluru atau ayahnya Biru Langit??
?Maksud saya, kok peluru itu nggak mau tahu mana kepala orang biasa, orang baik-baik, kepala maling, perampok..?
?Pembunuh..koruptor?begitu??
?Andaikata bisa begitu. Jadinya peluru itu lebih pintar dari kepala kamu sendiri bukan??
?Kepalaku? Kenapa bukan kepala desa atau kepala negara??
?Skaq!!! Modar kamu!?
Suasana pecah. Mendadak seorang pecatur mengagetkan semuanya. Bidak catur dengan sisa anak-anaknya dirobohkan. Suaranya berderak. Kembali permainan digelar.
Yang bermain kartu tetap asyik membanting-banting kartunya.
?Biadab sungguh itu yang nembak.?
?Lebih biadab lagi yang beri perintah.?
?Dua-duanya sama biadabnya.?
?Kalau tidak ada yang perintah??
?Salah tembak??
Orang-orang itu berhenti bicara karena merasa menemui jalan buntu. Buntu lantaran tak seorangpun berani menjamin kebenaran ceritanya, tak satupun berani memberi kepastian jawaban atas pertanyaannya. Memang tak jelas siapa yang beri perintah dan yang diperintah. Mereka cuma tahu siapa yang punya peluru.
?Ya, kenyataannya memang salah tembak. Mustahil orang sebaik ayah Biru Langit itu orang yang harus ditembak.?
?Tidak ada yang mustahil di negeri ini? Apalagi cuma orang mati.?
?Lalu apa??
?Ya. Lalu apa?? giliran saling banyak tanya.
?Giliran siapa sekarang??
?Kamu.?
Orang yang ditunjuk cepat membanting kartu. Dia membanting kartu delapan hati.
?Mampus aku? desah kawan disebelahnya.
?Apakah ayah Biru Langit punya musuh??
?Rasanya tidak.?
?Ini yang perlu ditanya pada istri atau anaknya.?
?Sudah saya tanya. Memang tidak punya.?
?Kalau begitu, jelas dia korban target setoran saja.?
?Apa maksud kamu??
?Ah, saya cuma ngomong saja.?
?Jangan curang kamu. Sudah melangkah nggak boleh pindah lagi.?
?Hh!! Jangan kalau ribut di luar.?
?Ini Kang. Sudah langkah kuda, masih mengancam dua benteng saya.?
Ketika hari menjelang dini hari, kesunyian malah kian terpecahkan. Dua orang bermain catur itu paling sibuk menghancurkan waktu. Sama-sama seorang kuli tebang tebu. Diam-diam keduanya bertaruh upah untuk beberapa hari pekerjaannya.
?Ngomong-ngomong kalian kok ngurus orang yang sudah mati? Kenapa nggak ngurus yang ditinggalkannya yang setengah mati ini, ha??
?Sstt..jangan kamu suruh saya menikahi ibunya Biru Langit.?
?Jaga bicara kamu! Ini tempat orang kesusahan,? seorang bertampang serius tapi tetap saja lucu.
?Ngurusi anak-istri saya sendiri saja susahnya setengah hidup.?
?Setengah hidup? Ini istilah baru.?
?Tidak di sini, tidak di sana memang tempat orang kesusahan, Kang.?
?Tapi kita lumayan bisa punya hati senang, setidaknya untuk malam ini. Jangan contoh orang itu.?
Bicara begitu dia menuding ke arah laki-laki bersandar di pintu. Laki-laki itu sejak sore tak banyak bicara. Dia lebih banyak menghabiskan belasan batang rokok dan dua tiga cangkir kopi ukuran besar.
?Apa yang kamu pikir, anak Bung.?
?Aku tak habis pikir bagaimana orang sebaik ayah Biru Langit ditembak orang misterius. Dia sembahyang dan hampir keseluruhan waktunya untuk kerja dan cari makan. Apa saja pekerjannya dia kerjakan, kuli bangunan, berkebun, buruh ke sawah, menukang, buat batu-bata. Itu semua masih hasilnya kurang untuk makan istri dan anak-anak. Kapan lagi waktu untuk cari lawan?? Laki-laki itu nampak sekali berusaha untuk membebani arti setiap katanya.
?Kamu belum jawab pertanyaan saya, Bung. Apa yang kamu pikirkan??
?Aku pengangguran. Aku lebih punya alasan untuk dibunuh. Mengapa Tuhan memilih menembak mati ayah Biru Langit ketimbang saya.?
Dia berkata seolah-olah sudah sepenuh hati?sesuatu yang justru dianggap lucu oleh orang-orang yang kurang tahu tentang misteri peluru, perintah pembunuhan, musuh apalagi alasan Tuhan.
?Bila kamu berdoa pada Tuhan, titip nasib kami semua. Kami tahu Bung yang menganggur lebih khusyuk daripada kami.?
Selebihnya, ada sesuatu yang tak tertahankan meledak dalam diri laki-laki itu. Barangkali karena tersinggung, mungkin juga karena haru. Atau karena ini baginya pengalaman pertama bercokol dengan orang-orang kasar, orang-orang banyak mengumbar bicara. Emosi itu dia sendiri yang tangkal, ia sendiri yang sabarkan dengan mencoba membujuknya. Kemudian agar isak tangis dan airmata itu tak juga tumpah, ia sedikit berpaling dan menguap. Cepat ia usap mukanya dengan ujung kain sarung dilipat di lehernya.
?Ceritakan bagaimana, ayah Biru Langit mati!?
?Kemarin sore dia masih belum selesaikan pekerjaannya membakar batu-bata, di ladang. Malam saat menunggu tungku tiga laki-laki misterius menggiringnya. Pagi sudah dalam karung goni??
Itu kalimat terakhir yang didengar Biru Langit.

Enam

WAKTU ayah Biru Langit masih hidup, Surat sekeluarga biarpun dengan enam orang anaknya bisa hidup cukup di tengah masyarakat yang biarlah orang kota katai gemah ripah loh jinawi.1) Tinggal di dekat dengan jalan-jalan besar yang sudah lebar, lampu-lampu sudah menyala berbinar-binar. Sungguh beruntung. Apalagi di pinggir jalan besar ada sebuah pabrik gula cukup megah peninggalan Balanda. Artinya, penduduk sekitar kampung bisa memanfaatkannya untuk menjadi buruh kerja. Bila menjelang buka giling ramainya bukan main. Orang berbondong-bondong menonton royalan2) menyongsong kerja besar pabrik. Menonton acara-acara pasar malam yang tersebar di emplasemen pabrik. Sebelum seminggu kemudian giling tebu yang biasanya enam atau tujuh bulan dalam setahun dimulai.
Tak mengherankan bila penduduk kampung yang bisa bergaul dengan pabrik cukup makmur. Murah sandang pangan karena memang mereka karyawan dan buruh pabrik. Perempuan-perempuan yang berjualan di pintu pabrik laku keras dagangannya. Termasuk sering kali ayah Biru Langit pun kerja di tempat ini. Bahkan boleh dikata keluarga ini sedikit lebih istimewa dari mereka para tetangga yang kurang bisa kerja sama dengan pabrik. Terlebih lagi, di antara saudara-saudara Biru Langit, Kang Pithut sedang menekuni budidaya ikan lele. Tak seorang pun selain kakak Biru Langit itu. Ketika ayahnya masih hidup Kang Pithut sempat berhasil gemilang dan cukup dikenal sampai pelosok kampung karena lelenya itu. Laiknya, orang usaha, Kang Pithut pun jatuh bangun.
Sama seperti Biru Langit dan saudara-saudaranya, Kang Pithut Lele dilahirkan di sebuah desa di lereng bukit Kelud. Ayahnya yang juga ayah Biru Langit, dulunya seorang pedagang gula kelapa. Sepanjang lereng gunung hingga ke kota, sudah biasa memakai rombong sepeda. Waktu itu sebelum akhirnya pindah ke selatan kota Kediri, saat Biru Langit belum satu tahun, ayah Biru Langit cukup kaya dibanding tetangga waktu itu. Sepeda adalah barang mahal ketika itu. Apalagi, tak cuma punya satu saja. Setelah lebih duapuluh tahun merantau, akhirnya ayah Biru Langit bekerja serabutan seperti sekarang sampai sebelum meninggal. Itu pilihannya setelah jatuh pailit dan boyongan, pindah tempat. Termasuk lima orang kakak. Jadi enam. Sedang Biru Langit nomor paling wahid.
Pithut bukan nama sebenarnya. Lebih tepatnya adalah nama panggilannya. Sebelum itu kakak tertua Biru Langit punya nama Supadi. Artinya, padi yang bagus. Itu pun bukan pula nama kecil dia. Ibu Surat penah bercerita semasa kecil Kang Pithut sering menangis, sering sakit. Waktu dibawa ke seorang paranormal hanya disuruh berganti nama saja. Dan ajaib sekali dengan tombo teko loro lunga,3) dan setelah diganti nama Supadi, tidak pesakitan lagi. Bahkan setelah tumbuh dewasa, lebih sregep, ulet dan ubet dari anggota keluarga yang lain. Persis tokoh pewayangan Bima. Manusia luar biasa, berkemauan baja, tegas tindakan dan kuat pendirian. Nama lahirnya dulu Sulimen. Kemudian sering kepleset Sulithut. Untuk lebih gampangnya orang memakai That.. Thit.. Thut. Sampai sekarang.
Suatu ketika pernah saat bersama royalan buka giling, bersama pula dengan puncak keberhasilan Kang Pithut membudidayakan ikan lele. Untuk menunjukkan kesuksesannya, lantas ayahnya syukuran dan mengundang dalang nanggap wayang purwa.4) Tentu saja dengan dana secukupnya. Kendati waktunya bertubrukan dengan royalan, namun wayang tidak akan berkurang kemeriahannya. Bukankah acara semacam begitu ada penontonnya sendiri, ada penggemarnya sendiri?
Di depan rumah, orang-orang menonton genjrang-genjrengnya 5) pagelaran. Di belakang, para tonggo teparo 6) tak habis-habisnya menyalami, memberi selamat pada kakak tertua Biru Langit itu. Lebih dari itu ada yang sampai berpelukan. Tidak pria tidak wanita. Ya Allah Gusti, pasti mereka mengetahui rencana Kang Pithut yang hendak membeli truk diesel itu. Mau membeli truk untuk usaha barunya, yakni usaha bongkar muat tebu ke penggilingan dan meninggalkan usaha yang lama. Menurut perhitungan yang sudah njlimet 7) , untungnya amat besar. Dihitung kembali, cukup besar pula biarpun truknya itu dibeli dengan kreditan. Dengan sejumlah uang muka hasil utangan dan angsuran harian.
Pokoknya kredit dan angsuran wajib yang sehari lima ribu rupiah itu dapat diatasi. Sudah dihitung pula bunganya. Dan bila dihitung dalam jangka waktu dua tahun saja truk itu sudah milik Kang Pithut sepenuhnya. Bisa dibayangkan jika giling nanti mampu memuat tujuh sampai sepuluh angkutan tebu sehari semalam, dan tiap angkutan ada jasa tiga ribu, sudah jelas ada duapuluh hingga tiga puluh ribu ada di tangan. Perhitungan yang cermat dari seorang Kang Pithut yang ulet.
?Waduh Ngger 8) , selamat yo putuku 9) .?
?Selamat, Nak Pithut.?
?Selamat, Le. Kamu itu lho sebenarnya cocok jadi pengusaha. Budhe musti ngomong ke Emakmu. Kamu ulet bakat jadi orang kaya.?
?Maturnuwun 10) , Budhe. Maturnuwun.?
Saking ramai dan gembiranya, sampai-sampai suara gamelan dan para pengrawit 11) di halaman rumah itu kalah. Terdengar sama-sama. Benar memang, kalau pun kedengaran, Biru Langit sudah tak bisa menikmati dan menangkap omongan dalang. Ribut dengan orang-orang tua yang menganggap Kang Pithut itu cucunya, keponakannya, anaknya. Kang Pithut pun akhirnya hanya tersenyum menunjukkan keramahannya. Kadang-kadang saja kalau ada yang berucap lebih panjang dan bernada menarik hati, dia hanya maturnuwun-maturnuwun saja.
Paklek Prawira ada juga. Tapi terlihat waktu itu duduk tenang sambil bas-bus menikmati rokok klobot 12) seperti cerobongnya sepoor pabrik. Ia enggan berdiri bersalaman karena berjubelnya orang. Baru mengisi kekosongan setelah cukup tenang. Ia ditarik oleh Bulek Yunani. Lantas tergopoh-gopoh oleh sarung yang nyrimpet 13) sana-sini.
?Thut.. Thut.. Ini Paklekmu mau kasih selamat.?
?Oh, inggih Bulek.?
?Kamu itu lho, Ngger, mau beli trek itu apa sudah ada yang nyopir. Sekarang ini banyak orang. Sopirnya musti hati-hati. Awas kalau nabrak kucing. Apalagi nabrak orang.?
?Ya, sambil menyewa sopir sambil belajar, Paklek. Nanti kalau sudah bisa, saya sendiri yang pegang.?
?Dasar kamu bocah ulet, ubet, bisa saja menjawab.? Paklek berucap demikian sembari menonjok ringan lengan Kang Pithut. Lalu secara tak sadar pun Kang Pithut memegangi lengannya, bersentuhan dengan kepalan tangan Paklek.
Memang Kang Pithut seorang yang ulet bekerja. Menapaki usaha budidayanya sedikit demi sedikit. Merangkak dari bawah lebih atas dan lebih atas lagi. Ini prinsip dia. Juga dari pengusaha lele sampai mampu membeli truk kemudian babat 14) baru lagi jadi pengangkut tebu, adalah salah satu tapak kakinya. Biru Langit sebagai adiknya turut bangga. Dia teringat bagaimana dulu Kang Pithut memulai membudidaya. Mula-mula sekitar enam tahun lalu Kang Pithut mulai dengan beternak ikan seperti ikan kaliko, ikan emas, mujair, gurami yang harganya tak seberapa. Sampai memperluas koen-koen 15) , kolam ikan berpuluh-puluh jumlahnya. Sampai pula pasaran ikan-ikan itu anjlog dan diganti dengan peternakan lele. Dari lele lokal hingga lele dumbo dicobanya. Dari hanya melakukan pembibitan sampai membesarkan bibit dicobanya pula. Dari hanya mengayun pompa air sampai pada membeli diesel air adalah tahap-tahap keberhasilannya. Padahal yang namanya usaha semacam itu kan untung-untungan. Bila berhasil lancar, sebulan sekali bisa ngunduh 16) tujuh atau delapan kuintal. Kalau harga perkilo dumbo seribu enamratus dan perkilo lokal duaribu limaratus rupiah, tinggal menghitung saja hasilnya. Sepertiga dari hasil penjualan disisihkan untuk pelet, makanannya. Ini hitungan di atas kertas, soal nasib ada yang lain, itu hitungan lain lagi. Itu jika nasib Kang Pithut lagi wajar saja. Kalau lagi jeblog 17) tak kalah hebat kerugiannya. Berkeranjang ikan harus terdampar. Ada saja datang setiap tahun. Penyakitlah, jamurlah, mbediding 18) lah yang membuat ikan-ikan pada klenger. 19) Kalau sudah demikian, mau apa lagi? Ya, yang klenger untuk para tetangga. Sedang yang mampus dibuang. Maka tidak mengherankan jika Kang Pithut mampu membeli sebuah truk bila dihitung keuntungannya tiap panen yang begitu besar. Meski tak berarti menganggap remeh kegigihan Kang Pithut.
Suatu ketika, saat goro-goro sang dalang sedang menuju akhir. Sebelum subuh pasti pertunjukan ini usai. Kemudian rumah kembali sepi. Dan pagi ini dilanjutkan dengan rencana menjemput truk yang mau datang. Tapi dilakukannya setelah menonton upacara penggilingan boneka di pabrik. Upacara yang dimaksudkan untuk menghindari korban kecelakaan kerja selama giling tebu berlangsung. Sekaligus menandai akhir dari segala royalan. Bagi Kang Pithut Lele, upacara itu sekaligus menunjukkan dirinya yang memiliki truk baru. Memulai bidang usaha baru. Masih ditambah metri 20) oleh ibu Surat. Masih ditambah lagi jenang sengkolo bubur putih bubur merah. Tujuannya agar diberi berkah dan selamat oleh Gusti Pangeran pada yang akan menjalankan truk. Waktu itu batang tbu di tegal-tegal sudah lebih dulu mulai ditebangnya. Semua jenis tebu yang telah tua, tidak peduli tebu ijo, tebu abang, tebu manggis atau campuran lebih dulu disikat habis yang randemennya 21) dihitung sesampai di pintupabrik. Baru kemudian tebu rakyat bertruk-truk diangkut ke emplasemen. Dibongkar, ditimbang dipindah ke lori-lori 22) untuk lantas dihancurkan. Sampai jadilah gula. Kang Pithut yang masih tetap dipanggil Pithut Lele mengawali usahanya dengan melepas truk dan sopinya. Roda truk disiramnya segar-segar dengan air kembang. Biru Langit melihat sendiri, oleh orang-orang, truk yang masih gagah itu diperiksa satu persatu onderdilnya, gerobaknya. Biru Langit tahu ini hanya basa-basi saja. Sebab diantara kami tak satu pun tahu banyak soal mesin. Lha wong mempunyai mesin cuma diesel air. Itu saja kalau rewel orang lain yang disuruh memperbaiki, kok uthak-athik mesinnya truk. Senang melihatnya. Ayah dan ibunya memberi salam selamat pada Kang Pithut dan sopir barunya.
?Hati-hati, pir. Ingat kamu, trek juraganmu itu baru lho.?
?Inggih, Pak, Buk,? jawab sopir itu.
Truk pun melaju siap ditimbuni tebu.
Kang Pithut tetap tinggal di rumah bersama adik-adik yang pada berkumpul. Tak ada pembicaraan lagi. Semua diam membiarkan pikiran masing-masing. Pikiran Biru Langit pun mengembara. Demikian pula Bapak, Emak dan Kang Pithut membiarkan pikiran masing-masing pergi jauh. Suasana sementara tenang. Tiada sadar bibir-bibir kami menyungging senyum. Diiringi desah nafas dalam-dalam.
?Biasanya, kendaraan angkut kan ada Pe-Te-nya, Le. Lha kamu tentukan Pe-Te-mu itu apa? Ini terserah kamu, Ngger.?
Kang Pithut yang mendapat pertanyaan Ayah tampak cengengas-cengenges seperti anak kecil saja.
?Sudah saya persiapkan sejak awal bahwa Pe-Te saya ini PT Seger Waras, Ayah, Ibu. Biar kita semua jadi seger dan waras.?
?Oh, ha..ha.. Bapak kira Pe-Te-nya nama pacarmu itu, Kholimah.?
Semua tertawa sembari mengangguk-anggukkan kepala. Lalu kembali diam. Hening.
Dua hari kemudian, masih membekas sekali kegembiraan keluarga itu. Keluarga banyak berdatangan, juga tetangga banyak pula yang menggandeng anak-anaknya. Setelah bersalaman merasa cukup, buru-buru anak-anak mereka disuruh bermain di luar. Barangkali takut minta mainan yang macam-macam. Seluruh keluarga nampaknya mulai cemas ktika dari sopir sedikitpun tak ada kabar. Mungkinkah truk itu rusak? Pikiran bergelanjut di benak masing-masing. Heran.
?Bapak pernah ngomong sama kamu, Thut. Membeli trek memang resiko besar, lain dengan memiliki diesel air. Belum lagi ngurus surat-suratnya.?
Kelihatannya kecemasan Kang Pithut tidak sebesar anggota keluarga yang lain. Hanya saja, ia sekian lamanya tercenung.
?Biarlah, Pak. Itu sudah biasa dalam usaha. Kita tunggu saja kabar dari sopir. Ada yang lebih penting dari itu. Kalau nanti usaha ini belum berhasil dan saya sudah kawin dengan Kholimah, saya akan beli trek lebih banyak.?
Kang Pithut mengharapkan benar adik-adik mengikuti jejaknya. Paling tidak ia ingin sosok Bima pada keluarga tak cuma satu. Terkesan dari pandangan matanya ketika berucap demikian.
Tak lama kemudian datang pula sopir.
?Bapak, Ibu, Mas Pithut, nuwunsewu, maaf. Saya terlambat datang.?
?Kenapa, pir? Sudah berapa kali angkut??
?Wah, antri di pabrik puanjaaaanggg sekali, Mas Pithut. Saya hanya bisa dua kali angkut sehari semalam. Bukan tujuh atau sepuluh. Lagian jasanya cuma duaribu limaratus rupiah tiap angkut. Kata mereka trek kita ini kecil dan isinya tak pernah penuh.?
Saat itu terus saja sopir nerocos. Kang Pithut kembali tercenung lebih dalam. Mana cukup uang sebesar itu untuk angsuran kredit. Belum lagi gaji sopir. Siapapun bakal tahu apa yang ada di benaknya. Biru Langit juga tahu jika tidak mampu membayar angsuran, truk itu akan ditarik kembali tanpa pengembalian uang muka. ?Tempat bongkar-timbang pabrik hanya satu, Mas Pithut. Sedang trek-nya berpuluh-puluh. Ya, terpaksa antri panjang.? Suara sopir itu kedengaran parau dan tertahan-tahan. ?Saya minta berhenti jadi sopir. Saya mau kawin saja.?
?Yang sabar ya. Le. Ini cobaan bagimu. Yang tawakal,? kata ibu Surat ketika melihat wajah Kang Pithut tampak murung.
?Saya mohon maaf, Pak, Buk, dan semua saja. Saya harus mengawini Kholimah segera,? ujar sopir lagi.
Jegler!!! Nampak raut muka Kang Pithut pucat pasi. Hatinya seperti diiris-iris. Tak bisa dibayangkan betapa hancur jiwanya. Padahal banyak yang tahu apa yang sudah dilakukan selama ini dimaksudkan bukanlah untuk dirinya sendiri. Mendadak Kang Pithut menginginkan suatu hal yang sudah dua puluh tahun lebih ia tinggalkan. Ia ingin menangis. Menangis juga jalan yang dianggap menyelesaikan masalah. Setidaknya untuk beberapa saat saja.
Setelah sekian lama waktu berjalan, Kang Pithut menikah. Bukan dengan perempuan Kholimah. Pada waktu itu sungguh keluarga besar, dan masih sebelum sepeninggalan ayah Biru Langit. Keluarga besar itu betul-betul terasa waktu pesta pernikahan Kang Pithut, putra tertua mereka. Mereka berkumpul dan bukan main riuhnya handaitaulan, anak-anak dari keluarga ibu Surat maupun suaminya. Masih teringat jelas peristiwa itu karena Biru Lagit sempat dibuat repot dengan meminjamkan dasi buat Kang Pithut, sejam sebelum akad nikah. Sampai sekarang dasi itu belum kembali dan pasti sudah lenyap karena peristiwanya berbulan-bulan yang silam. Kecuali itu, masih pula teringat baginya, rasanya semenjak itu semua sudah merasa dewasa di hadapan ayah-ibu. Tentu saja juga pada Biru Langit, suatu kebahagiaan tersendiri .

Tujuh

RUMAH besar keluarga Prawira dan Yunani yang tanpa anak betul-betul sunyi. Rumah besar itu begitu berpondasi tinggi, sudah barang tentu jikapun banjir datang, tak bakalan satu milipun air bisa menyentuh lantai rumah. Berbeda dengan rumah-rumah tetangga. Halamannya yang begitu luas terbuka menghadap sawah-sawah luas pasti tiupan angin bebas terbang dengan cuma menghantam cemara dan palm di kanan kiri pintu rumah.
Pada malam itu terjadi beberapa jam sebelum pernikahan Kang Pithut. Sebelum kedua penghuni rumah besar itu tidur berselimut kain wol tebal yang lebarnya nyaris seluas langit-langit kamarnya. Kamar agak temaram, tetapi ruang tamu tetap terang agar terkesan banyak dihuni orang. Dengan hanya mengenakan kaos oblong Prawira mencoba untuk berbagi kebahagiaan dengan istrinya, Yunani atas hari bahagia keponakannya. Istrinya masih berpakaian rapi dan memang belum berniat untuk tidur. Cara seperti itu sudah biasa dipakai Prawira untuk agar suasana tak selalu beku. Tetangga sering pakai ilmu otak-atik gathuk menyebut kebiasaan Prawira ini upaya untuk menghibur diri. Namun karena jadi kebiasaan maka kadang-kadang juga jadi suatu lelucon. Uniknya, ketika hal itu pernah ditanyakan orang kepadanya, Prawira mengatakan, ?Menghibur diri adalah satu-satunya pilihan agar di rumahnya yang sepi itu ada teriakan dan tawa, pekikan dan sorak-sorai atau celotehan.? Sesuatu yang masuk akal, karena di lain kesempatan kepada yang menanyakan masalah itu berikutnya, pilihan lain adalah cerita-cerita menyeramkan, menakutkan tentang kematian, hantu, pembunuhan, perampokan. ?Satu-satunya cerita yang tak perlu saling kami ceritakan adalah pengalaman harta rumah kami dirampok orang. Kami sama-sama diikat dan nyaris dibunuh dengan kelewang. Kami tak pernah saling cerita karena saking ketakutannya,? katanya suatu ketika.
?Sebentar. Bagaimana cerita truk itu selanjutnya, sih?? Yunani bicara ringan.
?Itu yang mau aku katakan. Dengan pernikahan ini, cerita perihal nasib truk itu berarti sudah bukan suatu yang menarik selain memang karena suatu nasib buruk, ? jawab Prawira.
?Biarpun bernasib buruk, bukan berarti tidak menarik, bukan?? istrinya masih mendesak.
?Bagi aku tidak, entah buat orang lain.?
?Apa bedanya??
?Bicara nasib buruk, menurut aku hanya ada dua kemungkinan untuk bisa diceritakan, yakni menumbuhkan rasa kasihan atau menyegarkan sebuah lelucon. Rasa kasihan itu pasti bukan hal yang menarik dan itu sudah dijawab sendiri oleh Kang Pithut dengan pernikahannya. Setidaknya, dia tak perlu terlampau hebat untuk dikasihani. Masih begitu banyak orang yang perlu dikasihani. Bukankah kasihan itu lebih soal nasib jiwa seseorang atau makluk di bumi ini? Sekalipun orang kaya, bukan musti tak perlu dikasihani. Sebaliknya, orang miskin tidak sedikit ternyata yang lebih mengagumkan,? silat lidah Prawira berputar-putar.
?Bicaramu, bukan seperti suamiku seminggu yang lalu.?
?Ini yang perlu aku ceritakan pada orang banyak.?
?Ada apa dengan kamu ini??
?Ya, sejak banyak orang mati tidak wajar, sejak banyak kebusukan yang ditutup-tutupi banyak yang terjadi padaku. Apa-apa ada dalam dadaku ini.?
?Juga setelah kamu kena skrening dicap orang komunis? Ini lelucon atau apa??
?Terserah. Yang jelas aku tidak butuh rasa kasihan.?
?Baik. Anggap saja ini lelucon. Kamu belum ceritakan soal lelucon tadi.?
?Lelucon itu karna ada orang yang harus ditertawakan bukan dikasihani,? ujar Prawira. ?Orang menganggap lucu sesuatu, lalu tertawa karena sesuatu itu diarendahkan martabatnya. Dan orang yang direndahkan itu hanya sesekali waktu saja terjadi, dia bisa membangkitkan dirinya di lain waktu. Ini suatu lelucon yang membuat kita tertawa, ? lanjutnya
?Masalahnya banyak orang tertawa juga ketika melihat suatu yang harusnya dikasihani.?
?Ini kesalahan besar, memprihatinkan dan justru orang-orang seperti itu yang harus dikasihani.?
?Aku kurang mengerti.?
?Begini. Pelawak yang berhasil adalah yang bisa merendahkan dirinya dengan lelucon. Itu namanya pelawak yang cerdas. Banyak pelawak yang tak mampu merendahkan dirinya, biarpun dengan penampilan fisik yang rendah martabatnya. Kasihan sekali orang seperti ini, sudah tak bisa melucu, buruk rupa, berantakan, dan persis bukan manusia.? papar laki-laki bersemangat itu.
?Anehnya, yang seperti itu masih juga ditertawakan orang.?
?Itulah maksudku. Tertawa orang yang begini ini yang aku kasihani.?
?Jadi menurut kamu tertawa itu ada ukurannya??
?Jelas. Tertawa yang menyehatkan, tertawa yang menyegarkan dan tertawa yang mencerahkan.?
?Coba berikan aku contoh.?
?Tekek kamu!?
Perempuan istri Prawira itu lalu tertawa keras.
?Kalau tawamu ini, kamu menghina aku.?
?Ada lagi??
?Maksudku biar orang tertawa itu sekarang hati-hati. Kalau sembarangan tertawa ia bisa dicap karena menghina, karena kasihan pada orang, karna emosi, karena memang lucu, atau karena memang sudah setengah gila.?
Lagi Yunani tertawa. Lebih keras. Suaminya cuma berhenti bicara sejenak.
?Ketawamu tidak lucu. Tapi kamu berbakat untuk banyak tertawa. Lalu kamu ajak setiap orang yang kamu jumpai itu tertawa. Bisa kamu bayangkan bila orang seluruh negeri ini tertawa karena terpikat oleh tawamu. Tanpa perlu tahu alasannya,? tegasnya.
?Sial. Aku bisa dianggap gila sungguh.?
?Tapi kalau berhasil, kamu pasti diperhitungkan jadi orang terwaras sedunia.?
?Omonganmu benar tapi kurang ajar.?
Giliran Prawira yang tertawa, kali ini betul-betul meledak sampai nafasnya tersengal-sengal.
?Lucu. Omonganmu itu baru lucu.?
?Hh! Orang gila juga bisa omong seperti ini.?
?Huah! Ini lebih lucu lagi. Jadi kamu menyebut dirimu setengah gila. Memang kenyataannya orang yang aneh-aneh itu sering dianggap gila dan orang gila malah dianggap lucu.?
?Ya, yang percaya omongan itu sebetulnya yang gila.?
Keduanya lantas betul-betul tertawa. Tidak ada yang melarang, tidak ada yang mengganggu dan berhenti dengan sendirinya ketika perutnya sudah terasa makin kaku. Justru tubuh keduanya pasang suami istri hampir berkepala lima itu lemah terkulai. Beralaskan selimut wol tebal selebar langit-langit kamar.
Keluarga Prawira dan Yunani memang tinggal dua orang. Kendati tak pernah punya anak, sebetulnya keluarga itu pernah punya anak angkat yang diadobsi dari salah seorang saudara Prawira. Yunani adalah saudara dari garis ayah Biru Langit. Perempuan ini tak memiliki keistimwaan apapun, kecuali agak pelit dan kebiasaannya gampang menangis. Lain halnya dengan Prawira. Dia laki-laki yang hebat dalam banyak hal. Hebat pengalaman dan petualangan hidupnya. Jiwanya sudah betul-betul matang dengan berbagai tempaan hidup. Sampai seperti sekarang. Hidupnya begitu banyak rasa asam garam dalam tubuhnya.
Prawira sungguh perkerja yang sibuk dan istrinya wanita yang seperti diceritakan itu. Sehingga wajar kemudian satu-satunya anak angkat keluarga itu lantas memilih keluar dari rumah setelah lebih duapuluh tahun di dalamnya. Waktu duapuluh tahun bukanlah waktu yang pendek. Wajar jika karena kesibukan masing-masing, semua baru dipertemukan kembali pada hari lebaran. Selain itu tidak lagi. Jadi lebaran itu hari yang amat istimewa. Tidak mungkin ditinggalkan. Bagi keluarga itu selain lebaran, hari teristimwa adalah upacara pernikahan. Awal mula perpisahan keluarga itu dengan anak angkatnya persis setelah hari pernikahan. Waktu menikahkan anak angkatnya, sering terucap impiannya seandainya punya anak banyak tentu betapa sering menggelar upacara pernikahan. Waktu itu suasana memang menyentuh melihat acara pernikahan anak satu-satunya, anak angkat lagi. Begitu menyentuhnya seperti menghadapi orang yang sudah sekian tahun lamanya baru sembuh dari sakit. Lagipula, airmata tangis dari Yunani malah mrmbuat sesuatu yang menyentuh jadi hal yang memilukan.
?Agak beda ya, pernikahan Pithut dengan anak kita, Pak?? Yunani mulai membuka kenangan lamanya.
?Sama. Pithut menikah itu resepsi pertama keluarga Yu Surat dan suaminya. Pernikahan anak kita juga resepsi kita yang pertama.?
?Beda!? Yunani brsikukuh.
?Maksudmu, beda karena Pithut anak orang miskin dan kita kaya??
?Tidak hanya itu. Pithut menikah sudah berumur dan memperoleh gadis yang amat muda. Tapi anak kita, menikah usia muda tapi dapat janda kaya.?
?Itu usul kamu bukan??
?Bukan karena itu saja. Sepanjang usia tua Pithut semua tahu dialah yang paling banyak menyusahkan orangtua. Terutama Yu Surat.?
?Tapi Pithut itu anak kandungnya. Anakmu itu bukan.?
Prawira seperti asal bicara. Hebatnya, istrinya tidak tersinggung.
?Jujur saya diam-diam saya kagum ada keponakanku itu., dialah yang punya keberanian tinggi untuk memilih hidup yang kukira sebetulnya punya resiko besar. Menikah dan tentu saja untuk punya anak kelak. Saya percaya omongan Yu Surat dulu keberanian Pithut sudah nampak pada masa dia masih anak-anak. Tumbuh dewasa dia pasti jadi pekerja keras. Sayang ibunya. Soal ini tentu hanya Yu Surat yang tahu bagaimanapun perlakuannya. Ayahnya sendiri tidak pernah menghadapi persoalan seperti yang dihadapi Yu Surat. Itu perbedaannya Yu Surat dengan suaminya. Orang itu orang yang terlampau dihormati. Tidak pernah Pithut membantah atau main bentak. Lain jika kepada ibunya. Ya kan, Pak? Pak??
Laki-laki suaminya itu sudah nyaris mendengkur.

Delapan

SEMENJAK pernikahan Kang Pithut, seolah semuanya menemukan jalan terang. Segala kenangan pahit serasa terhapus dalam sehari.
Biru Langit masih ingat, bagaimana perabotan ibunya hancur oleh kapak Kang Pithut. Bagaimana padi di sawah ludes dijual tengkulak tanpa sepengetahuan ibunya. Suatu ketika ibunya kepergok pernah nyaris menenggak racun serangga karena ulah Kang Pithut itu. Itu semua cerita lama yang lenyap oleh peluk dan cium orangtua pada Kang Pithut. Tiada yang tahu sungguh bagaimana perasaan orangtua itu dan Kang Pithut, karena memang tiada yang betul-betul tahu apa yang terjadi.
Masih jelas teringat di benak Biru Langit, beberapa bulan sebelum ayahnya mati, dan beberapa minggu setelah menikah dan semenjak kepergiannya ke Malaysia dia tidak pernah kembali. Hanya beberapa lembar surat dan wesel-wesel yang dia kirim buat mertuanya, tidak buat ibu. Alasannya, Kang Pithut memang tak sanggup untuk membuat surat kecuali ucapan-ucapan salam, kecuali oleh karena ibunya yang tak tahu baca tulis. Surat tahu betul itu mengapa bisa sampai terjadi seperti ini. Namun saat itu yang dipikirkan perempuan itu, satu kali saja kiriman uang tak pernah jatuh ke tangannya. Itu yang membuat Surat curiga. Lagipula sudah sekian bulan lamanya. Bila perempuan itu memuntahkan marah, siapa saja bakal kena, tidak kecil tidak pula dewasa. Biru Langit bisa bayangkan andaikata tak seorangpun?selain ayah yang di sebelahnya. Ayah akan menanggapinya dengan lelucon-lelucon, satu hal yang paling dibenci ibunya dan satu yang tak hilang dari kehidupan ayahnya. Rumah dengan sepasang orangtua itu jadi riuh membicarakan anak di rantau.
Waktu berlalu dan itu sudah berjalan sepanjang bulan sampai ayahnya mati di suatu hari. Belum juga lebaran. Pasti tahun ini lebaran tidak bakal ada yang istimewa?satu bagian hidup orang kampung yang tiada gantinya. Tak ada surat, wesel apalagi bila tak ada kartu ucapan. Jikapun orang seberang itu mengirim ucapan, barangtentu menambah kesedihan lantaran sang ayah tak sempat membaca sendiri selembar kertas itu. Betapa kecewa si anak bila kelak tiba di negeri sendiri begitu tahu sekian kartu ucapannya tak terbaca oleh ayahnya yang sudah jadi mayat karena ibunya yang buta aksara. Tiada yang tahu bagaimana perasaan sesungguhnya orangtua itu terhadap anak-anaknya. Barangkali hanya kenangan masa kecil anak-anaknya yang menghiasi hidupnya?terakhir dia cium pipi Kang Pithut sebelum pergi ke Malaysia untuk cari duit lebih lebar ketimbang berharap dari hasil lele di kampung. Didoakannya anaknya sampai Kang Pithut bisa membangun rumah, membeli sapi, dan membiarkan orangtua menggarap hasil sepetak sawah warisan, dan buruh tani di tegal orang.
Surat pernah menangis dan sepeningglan suamiya rasa-rasanya ia telah menangis paling panjang selama hidupnya Biru Langit berkali-kali memergoki ibunya itu menyembunyikan airmatanya. Bukan karena telah ditinggal mati suaminya saja, trtapi airmata Surat lebih banyak untuk meratapi anak hilangnya di negeri rantauan.. Menyaksikan itu semua Biru Langit makin iba pada ibunya, seperti juga setiap orang kampung kasihan pada Surat. Semenjak itu Biru Langit seperti dihidupkan lagi untuk mencintai ibunya dan mengutuk saudaranya itu. Orang bilang jarak antar kota tak mengubah rasa cinta, bagi Biru Langit tidak benar. Cinta ibunya tanpa kabar. Jika ibunya hendak menyiapkan kebutuhan dia sendiri pergi ke pasar. Tak perlu menunggu uluran tangan dan kiriman saudara, apalagi orang lain. Sampai betul-betul biasa di mata ibunya. Setidaknya ia tak pernah mengeluh di hadapan Biru Langit meskipun Biru Langit kerap kali menangkap kepedihan ibunya. Di saat bgitu, Biru Langit menghibur ibuya dengan kata-kata apa saja. Semisal rasa kasih sayang biarpun sedikit tetap ada pada Kang Pithut pada ibunya, biarpun dahulu bila Surat marah sering mengatai anaknya durhaka. Atau Biru Langit brjanji akan menunjukkan kasih itu sepenuh hatinya pada Surat. Biasanya, kemudian Surat mengatakan Biru Langit punya perhatian yang tak pernah dimiliki saudara-saudara lainnya. Mereka saling sibuk dengan urusannya sendiri dengan keluarga dan anak-anaknya sendiri. Sampai tak pernah menyempatkan diri untuk menjenguk ayah dan ibunya. Baru tahu rasa begitu ditinggal mati ayahnya. Semua berdatangan. Dengan berbagai alasan ibunya tak pernah kirim kabar, kesulitan angkutan atau memang tak sanggup menyisakan uang untuk pulang. Jauh lebih bisa diterima alasan Kang Pithut yang di Malaysia kerena jauh dan memang sedang cari uang. Suatu ketika karna suaminya yang juga kakak kandung Yunani itu sudah dikubur, Surat bermaksud membereskan semua tanggungan dengan sisa simpanan uang yang ada. Termasuk Surat brniat mengembalian dasi yang dipinjamkan oleh keluarga Prawira dan Yunani.
?Ini bukan Bagi Surat ini bukan sekadar masalah utang. Ada alasan saya memang harus cepat mengembalikan harta yang bukan hak keluarga saya, Mbak Yu,? Surat nampak hati-hati bercakap.
Sesungguhnya, baik Prawira maupun Yunani paham maksud Surat. Tak lain untuk membersihkan jiwanya sedikit-demi sedikit dari segala hal buruk perihal suami dan anaknya yang hilang. Satu lagi alasan, semampang Surat masih bisa mengerjakan. Namun sebagai orang biasa dan orang Jawa Yunani malah tersinggung. Dia menolak dan dirinya tak bermaksud agar Surat berbuat seperti itu. ?Saya sudah melupakan urusan dasi,? jawab Yunani singkat. Surat giliran diam dan nampaknya ganti ia yang tersinggung. Tapi tak bisa berkata-kata. Dia merasa sangat terganggu dengan pertemuan itu, nampak dari gelagat tubuhnya yang rikuh. Setelah berbasa-basi minta maaf, justru Surat ketika pulang masih dibekali buah kurma oleh Prawira, buah kesukaan siapa saja. Lalu sejumlah nasihat juga diberikan padanya.
Surat makin tak bisa berkata-kata dan lebih menyerupai pesakitan saja, kebiasaan setiap keluarga yang jatuh miskin.

Sembilan

?LEMBARAN daun kopi bisa diramu jadi minuman segar oleh ayahmu,? kenang Surat tentang suaminya. ?Caranya dicelup di air masak, diseduh persis teh, harum sekali jadinya.?
Surat berbicara pada Biru Langit dalam suasana yang sebenarnya kurang enak. Masih dalam kesedihan ibunya dan seharusnya Biru Langit banyak waktu untuk menghibur perempuan itu. Sebaliknya, malah Biru Langit diajak ibunya menyusuri ladang-ladang masa lalu ayahnya. Begitu perhatiannya, Biru Langit pada ibunya sebesar pula pada ayahnya. Sampai suatu ketika teman sekolah wanitanya yang mendatanginya dan mengajaknya bicara soal pelajaran ia acuhkan.
Biru Langit sungguh mengabaikan sekolah. Terbukti beberapa hari sepninggalan ayahnya, ia tak masuk kelas, tanpa surat tanpa keterangan. Ini kebiasaan buruknya, semenjak ia punya kebernian melakukan itu?seingatnya kali pertama punya kebiasaan buruk itu tatkala menonton pertandingan tinju antara Mohammad Ali lawan Larry Holmes di TV ketika masih kelas dua?lebih tiga tahun lalu dari waktu itu.
Perempuan kawan sekolahnya itu bernama Kuning, dia adik salah seorang bekas maling ayam yang sudah insyaf lalu menikah dan hidup lumayan senang dengan anak-anaknya. Inilah wanita pertama yang mengenalkan Biru Langit suka akan perempuan. Lantaran waktu itu, ia bermaksud pinjam buku pelajaran dan sempat mngatakan sesuatu kata pada Biru Langit. ?Tangan kamu halus sekali.? Ini kata pertama tentang keindahan yang tumbuh dalam tubuhnya. Soal buku pelajaran, Biru Langit tak pedulikan. Masa lalu ayahnya tentang daun kopi dan minuman segar, seperti diceritakan ibunya jauh lebih memikat hati Biru Langit. Bagi Biru Langit memang terlampau istimewa karena kepintaran ibunya mengisahkan kebiasaannya yang mengeja kemauan ayahnya. Membayangkan kemauan ayahnya bila pohon kopi itu tak berdaun lagi selembarpun., apalagi bila batang rantingnya sekalipun telah kering berkerak dan berulat.
?Ibu cuma ingin ceritakan betapa pekerjaan ayahmu terlalu berat. Wajar saja kemudian pilih berkutat dengan daun kopi. Kamu harus mengerti. Anak harus tahu cinta ayah pada pekerjaannya,? ujar Surat.
?Bukan tak peduli kalau Biru Langit cuma sekadar tahu. Sudah cukup membuat ayah senang, Ibu.? Jawab Biru Langit.
Lebih dari itu dikatakannya, sering Biru Langit menawar apa mau ayahnya. Disiraminya dengan air pohon-pohon kopi itu hampir tiap sore bila tak didahului ayahnya. Biru Langit tahu dengan begitu harapan ayahnya segar kembali. Sesegar akar-akar pohon kopi.
Diceritakannya bila waktu luang dan ketika melihat potongan rambut ayahnya yang sudah acak-acakan, Surat menawarkan jasa potong rambut. Biasanya tanpa menunggu jawaban, ibu itu langsung menyambar tawaranya sendiri dengan memerintah Biru Langit. ?Pinjamlah gunting, ambil pisau cukur.? Udara kering tanpa tawar-menawar kedua.
?Begitulah, sejak kali pertama ibu pangkas rambut ayah, perut ibu mual jika melihat rambut ayahmu tak rapi. Dua pekan sekali ibu bersihkan rambut ayah. Ibu lebih suka ayahmu punya bekas bibir gunting dan goresan pisau cukur,? berkata begitu Surat senyum tipis, seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
Biru Langit tidak tertawa. Sebaliknya, ia malah tegang.
?Ayahmu bersinar sepuluh tahun lebih muda, bila rambutnya ibu pangkas pendek-pendek nyaris setengah senti dari kulit kepalaku,? lanjut Surat tanpa bisa menyembunyikan kepiluan.
Sore itu panas. Di bawah pepohonan yang kering tak beraturan dan kotor, pelataran yang berserakan, Surat mengairi pohon kopi yang kulitnya sudah berkerak. Biru Langit yang tidak jauh dari pohon kopi itu, memphatikan tanah di sekelilingnya. Dia mencoba mencermati dan menemukan bekas-bekas rambut ayahnya yang telah mendua warna. Dan memang masih membekas, putih dan setengahnya lagi agak kecoklat-coklatan. Dibayangkannya dari petak garis-garis kulit kepala ayahnya, bagaimana ketika ibunya mengkalkulasi tahi lalat?kebiasaan ibunya yang mengukur mana yang terhebat. Lantas ibu itu mengisahkan bagaimana bila bibir guntingya meloncat, meliuk tak bisa tenang. Rambut suaminya berlubang-lubang karena tersaruk-saruk. Kubangan-kubangan tertimbun kubangan baru. Betapa kasih sang istri itu ditebar pada bibir gunting mengalir lewat gayuhan tangannya. Rasa sayang ayahnya berdiam dan menancap kokoh persis kemandirian pohon kopi. Cuma kepercayaan diri menjawab itu. Cuma saling mengamati irama keteguhan diri masing-masing.
?Biasanya, ibu akan peringatkan ayahmu tenang, karna mulut gunting bisa mencuil telinga. Ibu permainkan paras rambut ayah. Ayah permainkan akar rambut dongklak tebu,? tutur Surat.
?Memang ayah suka segala pekerjaan. Ayah selalu jungkir balik mencari kesibukan.,? pikir Biru Langit.
Tak semua makluk suka kerja keras, tapi bagi ayah Biru Langit kerja seperti musik merdu. Dia suka di keluangan waktu menguji temuan-temuannya yang aneh-aneh. Meracik sayur dari rumput atau kulit buah. Merakit pompa air dari batang bambu. Memasang roda karet atau kayu. Dan juga.menyeduh daun kopi.
Lagi-lagi dibayangkannya hamparan padang ilalang dengan rumah kecil di pemandangan kulit kepala ayah lantaran cerita ibunya. Halaman rumah itu menyembul panjang. Latar belakangnya belum disapu. Ilalangnya tinggi rendah dan naik-turun. Rumputnya seperti bulu-bulu permadani yang bopeng. Wajah bulan juga bopeng, berlembah. Raut muka ayah seperti kayu terbakar. Kulit tubuh ayah seperti wajah: hangus legam. Di saat itu masih menurut cerita ibunya, ayah surat tiba-tiba bertanya pada dirinya sendiri, ?Berapa ton batang tebu terbuang. Jadi arang. Terbakar habis di pintu tungku. ? Maksud suaminya ia melempar tanya pada batin sendiri. Aneh suaranya. Mengotak-atik khilaf sendiri. ?Ruas ini mengantongi banyak sekali air. Lebih banyak dari ruas-ruas lain. Satu batang tebu musnah limabelas sampai duapuluh senti.? Laki-laki itu menurut kisah ibu Biru Langit menuding. ?Sepuluh batang lebih satu gerombol. Hitung berapa gerombol satu gulutan tegal. Berapa gulut seperempat bahu.23) ? Dia mendelik. Dia perlu energi besar mengupas itu. Tak segampang menghancurkan gelas kaca. Tak semudah menguliti buah strawberry. Suaminya itu mencorat-coret diri di tanah. Dia mengoreksi kesalahan diri. Menemukan lubang jalan keluar sendiri.
Biru Langit seperti kura-kura dalam bubu. ?Ayah, cinta macam apa lagi kau wariskan anakmu,? pikirnya.
Masih tringat bagaimana ayahnya sibuk mencoret kekhilafan dari garis-garis otaknya. Bagaimana memperlebar total bobot tebu di emplasemen timbangan pabrik gula. Tntu dia tahu hasil panen tak semelimpah palawija. Ini bukan jalan keluar terbaik. Di situ ada pintu besi terkalung rantai. Eksperimen ayah Biru Langit yang asing memberkahi kuntungan tersendiri. Ayah yakin kputusan cemerlangnya. Setidaknya mencegat keluhan ptugas pabrik tbu, tanah sepetak saja bikin susah. ?Ya, Tebang sampai akar,? ayahnya montarkan kalimat kputusan yang sudah diduga Biru Langit. Mata laki-laki itu blingsatan. Pikirannya tak pernah istirahat. Goyang terus kepala dan tangan ayah. Gunting dan suri di tangan ibunya ikut ribut. Keras-keras didorongnya. Surat trus mnekan kulit kepala dengan suri dan bibir gunting. Potongan rambut suaminya itu mendadak seperti wajah bulan. Berlembah.
?Biarpun begitu wajah ayahmu tetap bersinar., segar dan terang benderang. Kesegaran itu, yang paling ibu suka. Ibu hargai kerja keras ayah. Kaki dibuat kepala. Kepala dibuat kaki. Angkat kepala di pagi hari, pulang petang hari. Kadang ditambah angkat tangan di malam hari, sehabis isya?. Kadang-kadang kekaguman ibu berubah jadi iba. Untuksiapa ayahmu banting tubuh? Ibu? Ayahmu sendiri? Tidak. Ayah tarik nafas keluar nafas untuk untuk keluarganya, kamu, ibu, kakakmu. Lain tidak. Sekarang tinggal kita yang tersisa, Nak. Bisakah ibu menggantikan ayahmu, seperti bagaimana dia hidup selama ini??
Surat tak kuasa menahan airmata yang mengalir degan sendirinya. Tubuhnya takluk oleh kesedihan. Kekuasaan untuk itu begitu hebat mengalahkan jiwa seorang ibu yang betapapun nasibnya terpuruk, dia tetap ibu, orang paling hebat di permukaan bumi ini.
?Mengasolah, Ibu,? pikir Biru Langit. ?Apakah engkau menunggu suatu kuasa yang pasti mampu menghentikanmu? Menghentikan hidupmu? Engkau makluk berhati. Manusia. Saya belajar kemanusiaan dari anda.24) Saya mencintai diri dari engkau. Maafkan kekurangajaran anakmu. Karna ayah tak pernah sanggup mencintai diri sendiri. Kepada anak-anak ia tebar jaring-jaring kasih.? Biru Langit dan juga ibunya, terus saja berbicara seperti ia dalam mimpi dan tak punya kuasa untuk menghentikannya. Betapa tipis jarak antara impian dan di dunia nyata.
Ketika ibunya menggores luka kecil di telinga suaminya, laki-laki itu malah bicara pada Biru Langit, bukan soal bagaimana lukanya. Ini terjadi beberapa hari sebelum ia mati.
?Engkau ada pekerjaan??
?Tidak ayah.?
?Engkau jagalah ibumu. Jangan sakiti ibumu. Jangan kau goresi luka. Jangan ada setitik darah. Siapa lagi kecuali kau. Cuma tanah sepetak. Genggamlah? jangan kau habiskan nantinya. Junjunglah tinggi-tinggi mbahmu perempuan. Ia susah payah, babat alas, jumpalitan untuk anak cucu. Engkau angkat makna tanah leluhur dan kehormatan. Sampai titik?? Kalimat itu meluncur cepat dari kecerahan langit. Menyibak deras silhuet, halimun. Sinar mata meredup, sejenak hanyut dalam halusinasi. Laki-laki itu mengantarkan perasaan Biru Langit, perasaan akan kehilangan. Beban sarat terjatuh di pundak anakknya. Tulang punggungnya hendak terlepas. Ini pertanda yang tolol. Otak Biru Langit yang sarat, terseret, tegang dan kemudian pasrah. ?Yang kawin, biarlah. Ia punya tali yang menjerat. Istri, anak, mertua. Begitu ia harus kawin dengan mertua, anak-anak, saudara.?25) Menyebut yang di pulau seberang lautan, nada ayah tegang tapi juga sedih. Kesedihan itu tergambar di wajah ayahnya seperti orang yang takut gila. Seperti orang yang takut setan-setan paranoid berkeliaran di mana-mana. Laki-laki itu butuh injeksi segar di sini. Tapi di pulau seberang, segumpal darah dagingnya tanpa kabar. Berbulan-bulan darah dagingnya itu tinggalkan keluarga tepat waktu saat keluarga betul-betul terjepit. ?Berdoalah selalu dalam lindungan yang Kuasa,? mata ayah sembab berkaca. Biru Langit tak sanggup menahan.
?Jangan bikin malu darah merah di tubuh keluarga,? Surat menimpali, makin nyalinya Biru Langit runtuh seketika.
Ayah Biru Langit menjejali gagasan yang memberati anaknya. Harusnya buat orang lain tumpah ruah pada Biru Langit. ?Jangan lupa,? ayah tidak kuasa memenggal emosi. Ayah tak peduli tanggapan siapa saja. ?Yang mewariskan si mati bukan harta belaka.? 26)
?Ayah..?
?Tapi juga utang.?
?Ongeschik..?27) Surat ikut tersinggung.
Bila petir melecut cambuk, tntu malaikat bertamu. Dirasakan laki-laki ayah Biru Langit itu keterlaluan. Dasar makluk dari belantara kalabendu. Anda mau mati? (Biru Langit makin kurang ajar). Dia mengeja firasat itu. Anak itu nyaris bersorak, berteriak. Setiap gerak-gerik ayahnya dia baca. Keaneha-keanehan, permintaan. Membuat Biru Langit lebih cinta.
?Pailit. Ayahmu akhirnya bangkrupt. Petani rugi besar. Buruh bertambah. Bobot tebu mati ,? perempuan itu masih asyik dengan kenangan-kenangannya.
Ide cemerlang ayah melesat. Sayangnya, itu muncul saat dirasainya waktu yang memanjang seperti rel kereta. Jadilah beban itu sempurna, jatuh semenjak saudara tertua Biru Langit hengkang ke Sabah, negeri tetangga. Segala materi yang mungkin terjual, dijualnya. Saudara saya pergi dengan uang itu. Tidak penting ia balik atau tidak.

Sepuluh

RUMAH sepi. Kenyataan yang ditawarkan ayahnya tak seperti yang terinjak Biru Langt. Lebih berat. Lebih hitam. Lebih rumit dan pahit. Tidak habisnya Biru Langit bakar semangat hidup dirinya sendiri dan juga ibunya. Dia lecut gairah kelenjar hidupnya. Biru Langit hidup serasa dengan lari dan terus berlari dari laut satu ke ujung laut yang lain.28) Itu satu-satunya prasaan yang tersisa yang dimiliki. Bukankah itu pula yang diturunkah ayahnya pada Biru Langit? ?Oh, keagungan. Darah dan cinta sang ratu Wilhelmmina, mengalir. Oh, kemegahan. Atas nama Saijah dan Adinda, di sepanjang waktu saya, membuka daun jendela, mengatur timpuh duduk ibu di hari pagi, dan memberi air pohon kopi di secercah sore hari.? Ini pelajaran sekolah terbaik yang masih membekas di tubuh Biru Langit. Pelajaran paling tidak mengesankan baginya adalah ketika harus menghitung bulu-bulu burung garuda berkalung lambang negara sampai ia begitu percaya ada burung bergambar di dadanya bintang, pohon beringin, padi kapas dan sebagainya dengan bulu masing-masing berjumlah 17,8,45.
Pohon kopi itu sudah kian bersemi. Tentu ayah Biru Langit girang menikmati. Untuk kali pertama dalam rute sejarah, Biru Langit menulis pesan kepada yang terhormat saudaranya di seberang lautan. Dengan gaya bahasa yang terbaik dan termulus yang ia dapat dari bacaan terbagus di sekolahnya, Biru Langit menggarisbawahi warna merah dan tebal-tbal di bagian terpenting suratnya:

Kepada yang diseberang lautan,
Ayah telah pulang. Ayah pergi melucuti segala yang dimiliki dan yang membungkus tubuhnya. Pikirannya, keagungannya, cintanya dan sekian tugas serta keburukannya. Ayah seorang raja tapi juga manusia biasa. Ayah seorang tuan tapi juga jongos bagi dirinya. Semua saya terima tanpa syarat dengan lapang dada. Meskipun pada suatu saat di suatu waktu seperti ayah sekarang saya betul-betul mencintai diri sendiri.
Tidak cukup itu. Ayah juga mewariskan jaminan?yang harus saya bereskan?semua barang, rumah dan tanah sampai detik ini tak sanggup saya tuntaskan. Saya dan ibu hidup dari jaminan itu. Kelak di suatu waktu pada suatu saat seperti sekarang, saya sendiri akan jadi jaminan hidup. Segala menyebar saling menguasai. Saya dan semua yang membungkusnya dikuasai orang di luar saya. Seperti juga saya berhak pada segala yang dikenakan orang lain baik yang saya kenal maupun tidak.

Kepada yang diseberang lautan,
Cuma engkau makluk yang sanggup mencintai diri sendiri dengan sungguh-sungguh. Anak hilang yang tidak pernah menjenguk budi orangtua. Alamat dan batang hidungnya membusuk ditelan putaran matahari. Jasadnya pergi ke bulan. Saya angkat topi buat engkau.. Begitulah, segala yang diwariskan ayah saya. Juga aib. Sungguh saya mewarisi malu ini: Saudara anak hilang dan yang tenteram di negeri orang. Jaga diri baik-baik

Kediri, 10 Mei 1983

(BIRU LANGIT)

Surat itu ditulis dengan segenap perasaan mendalam. Begitu dalam hingga tak terpikirkan bilamana tak sampai di tangan atau terlebih lagi karena ada kabar yang terjatuh di lautan.

Sebelas

SUATU hari masih di bulan Oktober tahun 1983 warga kampung kembali dikejutkan oleh berita kematian. Kali ini menimpa seorang bandar 29) judi dan tukang adu jago, bernama Senen. Kematiannya juga misterius. Karena Senen bukan orang baik, akibat kematiannya warga akhirnya mengait-ngaitkan dengan kejadian supranatural. Bahkan beberapa orang yakin Senen mati bukan mati sembarangan.
Cerita itu berlangsung lama, sampai mayatnya sudah dikuburkan. Entah lelucon atau bukan, meskipun semua tahu ada kuburan baru tempat berbaring jisim 30) Senen. Sulit dipercaya, tak satupun tetangganya sempat melayat mendiang Senen. Kuburan baru itu muncul begitu saja dengan timbunan tanah yang terkesan dikerjakan tergesa-gesa. Nampaknya warga mulai tahu dan curiga begitu banyak cerita orang mati yang diculik, dicegat di tengah perjalanan dan tanpa ada kabar dimana rimba mayatnya.
?Begitu, ya kalau bandar itu mati?? kata seorang warga kampung.
?Benar Pak Genot, bukankah si Alim, botoh 31) jago yang dulu itu matinya juga mengerikan? Masih ingat? Satu jam sebelum mati mulutnya penuh busa. Terus klurak-kluruk 32) persis jago. Matinya seperti jago sedang njalu itu yang mengerikan,? sergah warga lainnya.
Nada-nada pergunjingan setiap penduduk menunjukkan kegembiraannya dan benar memang cerita orang mati satu ini jadi suatu lelucon. Sesekali saja mereka ketakutan dan akhirnya terbiasa warga dicekam ulah para penembak misterius yang melempar pindhang-pindhang 33) di pinggir jalan, di tebing kali atau di rumah keluarga korban. Yang lain sebarkan kabar pada anak-anaknya, ada pencari tumbal sedang mencari mata termasuk anak-anak sekolah. Katanya, mata itu lantas dibuat cendol. Kesemuanya membuat tumbuh suburnya cerita-cerita mistik dan mitos roh-roh halus.
Kegembiraan tergambar di setiap wajah warga desa. Bagaimanapun juga, Senen lelaki yang selalu tenang itu termasuk biadab. Bandar klothok 34) dan botoh jago itu rajin menebar penyakit. Setiap malam ia kelayapan ke rumah tetangga mengganggu istri orang. Dandanan selalu rapi, rambut klimis hanya untuk merogoh saku teman. Bermodal perawakan tegas dan gaya bicaranya seperti anak muda, ia mengisap darah sesamanya. Tetapi mengapa tubuhnya yang segar itu tiba-tiba modar. Namun ia juga manusia dan tetap manusia.
?Ya. Dia itu tetap manusia dan berperikemanusiaan yang harus dibela.?
?Dibela? Dibela apanya? Lha wong sudah jelas bejat. Lagian Pak Senen kan sudah mati.?
?Justru ini karena Senen sudah mati. Selama masih hidup sudah ada aparat yang mengawasi, kan??
?Iya kalau Senen sudah mati, jika tidak??
? Lha wong tak seorang pun melihat kematiannya. Mungkin bandar klothok itu tertangkap. Bayangkan jika tertangkap. Pasti dihukum mati tanpa secuil pun pertimbangan keringanan. Mungkin pula sudah di-petrus lantas dibuang pindhangnya di selokan desa lain.?
?Lho, bagaimana, sih? Bukankah dia sudah mati dan ada kuburannya??
Dari pembicaraan orang kampung tampak ada keganjilan atas kematian mantan kamitua desa itu. Memang mereka tidak tahu betul sampai Senen jadi mantan pamong?jabatan yang umumnya dipegang seumur hidup. Kamitua yang ini didapatnya gadungan asal tunjuk akibat kekosongan jabatan. Lalu keduanya sadar mengungkit itu semua sudah tidak penting. Lagipula orang kampung itu tidak bermaksud mengadili Senen. Sekarang bagaimana memberi kejelasan kematian bandar itu. Masalahnya, pamong atau bkas pamong tak sdikit yang jadi incaran orang lantaran banyak daftar orang mati yang konon konon akhir-akhir ini atas sepengetahuannya. Sebagian pamong juga diduga ikut menyusun daftar calon korban.
?Jangan-jangan lelaki itu dibunuh seseorang lantas disembunyikan. Siapa tahu yang terbaring di kuburan itu cuma gedebug pisang.?
?Lantas, a pa perlu memberi tahu polisi??
?Stop. Jangan dulu. Nanti keburu urusan duit. Kita menyakinkan penduduk bahwa bandar Senen belum mati. Bilang saja yang dikubur itu gedebug pisang. Dan hanya ada satu jalan membuktikan. Sekalian kita tahu sebab apa jika dalam kuburan itu benar jisim Senen. Kau tahu cara itu?? pemuda bernama Yondi balik bertanya pada Kampar, pemuda kampung itu.
?Membongkar kuburan itu? Jangan gila kau,. Karuan saja membongkar jisim Selasa kliwon. Tapi ini buat apa??
Kampar tercenung. Perlahan seluruh permukaan kulitnya mruntus oleh pori-porinya yang menutup. Bulu-bulu rambutnya berdiri. Tubuh dalamnya dingin. Ia mengkirik terbayang jisim Senen yang lembek mirip permen karet. Di bagian sana-sini, perut, muka dikerumuni ulat. Ditambah bau busuk menusuk. Rongga-rongan mata, muka, hidung, mulut penuh semut. Ada yang lupa terbayang, di benaknya. Bagaimana pertama kali ia membuka kafan dan melihat raut muka Pak Senen. Tersenyum mungkin Pak Senen, jika tidak menganga.
?Aku tidak sudi, Yon. Lebih baik kita pikirkan mengapa sampai Senen jadi korban petrus. Kanapa tidak diseret ke pangadilan untuk dihukum tembak??
?Lagak bicaramu kok yakin betul Senen itu dipetrus,? ujar Yondi. ?Jika benar di-petrus, jelas aparat keamanan main hakim sendiri. Tidak puas dengan kerja pengadilan ngolor-ngolor waktu, meringankan hukuman terhukum. Pokoknya aparat itu tidak puas,? tambahnya lagi.
?Lalu pamong desa sendiri bagaimana?? celetuk Kampar.
?Bagaimana apanya? Sampai kini masih tetap bungkam. Aku curiga. Bisa saja pamong itu berkomplot menyingkirkan Pak Senen. Tapi mustinya tidak dengan cara seperti itu.?
?Huss!! Hati-hati bicaramu, didengar orang.?
Suasana hening. Pasti ada yang tidak beres. Yondi sungguh tidak keberatan bandar Senen ditangkap, dikurung atau dipancung asal dengan prosedur yang benar. Ini soal kemanusiaan. Yondi melihat air kali yang teratur mengalir, puncak-puncak cemara yang bergoyang mengarah. Ini menyuarakan keserasian yang tak mau diusik ketenangannya.
?Mungkin kau benar, Kampar. Bandar itu dihabisi. Kau ingat bandar Kamat? Meski sepulang haji, tetap diciduk. Samin? Sudah jelas jadi pengusaha batako dan tidak mungkin rasanya mengulangi perbuatannya, disikat juga. Si Barot, selangkah lagi jadi juragan sapi tahu-tahu pindhangnya di tengah pasar tanpa kelamin. Sapari kepalanya hancur di pinggir sawah ditembus peluru tanpa jarak tanpa suara. Kesemua itu aku yakin atas petunjuk dan restu pamong di sini.?
?Bisa saja pembunuh itu beranggapan satu-satunya jalan bertaubat adalah di depan Tuhan,? kelihatannya Kampar membuat sepele persoalan ini. Nampak dari cara ia batuk-batuk saat menyebut nama Tuhan.
?Lho Yon!!? suara Kampar kembai serius sembari menunjuk ke arah pertigaan jalan. ?Itu kan Sunu,? lanjutnya.
?Pandangan dua pemuda itu terarah pada Sunu, lelaki kribo tanpa bapak. Ia cukup dikenal sebagai mitra Senen. Anak itu berkeliaran dengan sendirinya. Ia selalu luput dari incaran polisi karena masih hijau. Dibawa sekalipun berapa jam sesudahnya kembali selamat main tekpo 35) bersama teman lainnya. Ia tidak tahu banyak, namun lengketnya sama Senen itu yang membuat penasaran orang. Apa besar dia mau jadi botoh? Bila di sisi bandar Senen, Sunu hanya berteriak-teriak, ?ndol, nem, lu, apit!? Jika terlalu keras Senen harus membungkam mulut Sunu. Takut ketahuan polisi. Dengan polisi? Beberapa kali komplotannya kepergok. Setelah itu aman. Apalagi cuma satu-dua polisi. Pokok ada uang tutup mulut atau bagi hasil menyingkir sudah. Sekali pernah gerombolan sabung ayam digerebek dua truk petugas di tengah perkebunan tebuu yang kering. Tapi sepuluh menit sebelumnya Senen meninggalkan tempat, alasannya sederhana, kebelet kencing. Dan lolos. Yang lain kocar-kacir di tengah tebu berhasil diringkus petugas. Bahkan seorang diantaranya nyaris terbunuh oleh sebutir peluru. Astaga!
Yondi membawa Sunu ke pojok jalan, di bawah pohon trembesi untuk menghindari keramaian orang.
?Jadi Senen itu betul-betul mati??
?Benar, Kang. Saya sempat ngintip sama Kang Sarmin, Pak Senen dikubur tengah malam dengan ambulan. Orangnya serem-serem, Kang.?
Kemudian Sunu bercerita singkat bagaimana suatu malam di belakang sekolah dua orang petugas membekuk Senen. Dan juga membawa serta Sunu. Lainnya sengaja dibiarkan meloloskan diri. Sepanjang jalan, tak habisnya mereka menyeret, menendang, meninju dan menyiksa Senen. Beberapa bagian tubuhnya luka memar dan setiap jengkal luka itu bertambah. Kulitnya seperti lubang tanah becek tatkala hujan. Darah tak segan merembes. Polisi nampaknya lupa bahwa tenaganya masih terlalu muda dan cukup terlatih. Sementara Pak Senen dengan balungan tuanya tak bisa berbuat banyak. Bergerak pun sulit. Sunu tahu segalanya. Dua orang bersenjata lupa titik batas, hingga Senen tewas di tangannya. Malam itu juga tubuh Senen yang sudah tak bernyawa dibawa ke dokter.
?Sunu disuruh bungkam dan diancam, Kang,? kata Sunu memelas.
Pemuda itu tak menggubris.
?Kau ikut aku, Kampar, sekarang juga.?
?Kemana??
?Kantor polisi.?
Benar ternyata. Yondi dan Kampar melaporkan kejadian itu ke kantor polisi, ini peristiwa pembunuhan menurutnya. Dan pihak kepolisian merasa tidak tahu menahu tentang kasus itu sebab tak seorang pun warga melaporkannya. Dia brharap dngan laporan itu terbongkarlah kasus pembunuhan itu. Diduga pelakunya dua orang oknum polisi dengan melibatkan seorang dokter dan seorang sopir ambulannya. Dia juga brharap ada rencana pembongkaran jenazah bandar Senen untuk di-outopsi kembali sebagai barang bukti. Hanya dengan itu hati Yondi dan Kampar girang untuk tahu misteri pmbunuhan di kampungnya. Mereka mulai menduga-duga hukuman yang patut terhadap tiap oknum pembunuh.
?Hukuman mati setimpal dengan perbuatannya? Penjara seumur hidup? Duapuluh tahun? ?
?Bagaimana bila itu dilakukan petugas??
?Mungkin srtidak-tidaknya cuma dibebastugaskan.?
?Ya, seperti kita tidak tahu saja.?
?Kenyataannya orang seperti kita memang benar tidak tahu.?
Belakangan rencana pembongkaran jenazah batal dilaksanakan karena persoalan biaya. Waktu Yondi mengusut perihal itu, aparat meminta menganggap selesai kasus ini. Semua laporan telah diterima dan sudah diambil tindakan. Tinggal menyusun laporan hasilnya dan polisi meminta mempercayakan tugas-tugas itu kepadanya. Selesai.
?Belum. Belum selesai. Mustinya secepat mungkin pelaku itu diseret ke pengadilan. Aku sudah cek ke tempat kepolisian dan rumah sakit kecamatan. Tak seorangpun polisi atau dokter yang dicopot dari jabatannya. Sampai di sini letak ketidakberesannya. Edan!? Yondi mengumpat tajam.
?Lantas apa maumu?? Kampar kelihatan jengkel.
?Aku akan bongkar sendiri kuburan itu tanpa biaya.?
?Jangan ikut gila, Yon. Tak usah jadi pahlawan. Senen itu bandar, botoh. Apa kamu mau jadi pahlawannya botoh, ha??
Yondi matanya merah berkaca. Ada terselip sedikit rasa curiga pada Kampar yang mentang-mentang kakaknya seorang prajurtt polisi. Segera ia pergi. Sedang di benak Kampar tidak jelas benar apa yang baru saja keluar dari mulut Yondi itu serius atau sekadar main-main karena kejengkelannya. Kembali Kampar terbayang wajah jisim bandar Senen tatkala pertama kali ia buka kafannya, jika benar kemauan Yondi demikian. Belum sempat Yondi mengungkit lagi persoalan pembongkaran kuburan mendadak muncul kabar kematian Sunu. Anak itu tewas oleh benda keras yang meremukkan bagian belakang kepalanya. Onggokan mayatnya di dalam karung goni dan ditemukan tepat di halaman depan rumah lurah desa itu.
?Entahlah ini lelucon ataukah bukan apa-apa,? Pikir Biru Langit yang mendengar kabar itu semua.[]

DUA
SEPTEMBER 1984

Satu

BULAN Oktober dan Nopember 1983, adalah bulan paling menggetarkan.
Waktu itu koran terus memberitakan tewasnya seorang petinju bernama Joni Mangi yang diduga ditembak orang tak dikenal di Malang. Tak lain ia juga korban salah tangkap sebelum akhirnya juga dibunuh. Peter A Rohi salah seorang jurnalis dari koran Suara Indonesia, melukiskan bagaimana selama bulan-bulan itu memburu orang-orang salah sasaran peluru laknat. Berita demi berita terbaca di ruang-ruang kantor, meja-meja rumah tangga, tidak di kota saja tapi juga di pelosok-pelosok kampung.
Dia ingin mengetahui bahwa seorang bernama Dahayu yang sudah dipetrus masih dijaga empat aparat tentara.Tempatnya itu di desa Sumber Wulu, Lumajang Selatan. Dan juga atas berita Pak Kartidjo pemilik perkebunan kopi di kota itu yang mnghadap MPR karena perkebunannya dijadikan tempat pembuangan glangsingan mayat korban petrus. Naluri jurnalisnya menarik untuk cepat melakukan invetigasi. Sesampai di sana, di tempat kejadian, ia langsung dihadang oleh petugas, dinterogasi, dan akhirnya digiring ke koramil ditanyai sangkut paut dengan petrus. Lantas dihadapkan pada komandan Kodim. Dia berkelit ingin menginap bersama di rumah teman. Atas suruhan kodim lantas ia diperintahkan untuk pulang. Bukan dengan kata-kata tapi dengan todongan pistol di perut jurnalis itu. Dia pun dipulangkan paksa.
Satu hari kemudian wartawan dari koran itu dikirimi dua kepala orang tak dikenal dibungkus tas kresek di ruang kerja kantor koran itu. Suasana kantor jadi kacau. Keluarganya pun jadi galau. Anak-anak wartawan itu tak ada yang berani bersekolah. Tidak hanya satu dua koran, jurnalis itu dan kawan-kawan yang punya nyali serupa terus tak sampai hati membiarkan banyaknya kasus salah tangkap dan salah tembak. Lagipula, Jawa Timur menurut koran-koran itu, tempat dengan jumlah paling besar kasus salah sasaran. Koran-koran terus membritakan bagaimana melalui narasumber seorang sopirnya, sorang pengacara dari Kosgoro diculik dan setelah itu tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Koran-koran yang melansir begitu banyak korban yang dilempar di sungai dan jurang-jurang.
Meskipun sama sekali tak sorangpun dari keluarga korban yang menuntut, koran-koran berani menuding yang melakukan penembakan tak lain adalah pasukan elit Soeharto. Sebab itu, merekalah yang diminta bertanggungjawab terhadap tragedi itu bila ada keluarga korban yang menuntut. Tulisan jurnalis itu berharap masyarakat akan menuntut karena ia jelaskan hal itu adalah operasi intelejen terhadap mayoritas rakyat kecil yang menjadi sasaran terutama kaum bromocorah atau yang dianggap itu. Koran menyebut pula penculikan itu sebetulnya memiliki jaringan internasional sehingga mudah terangkat di pentas dunia. Seorang tua bekas tentara Belanda yang tertinggal di negeri ini bernama HJC Princen berani bicara blak-blakan. Dia bicara lantang tentang pentingnya perlindungan bagi warga negara. ?Kalau memang aparat di sini tidak bisa melindungi warganya, apa perlu didatangkan dari luar negeri,? katanya seperti dilansir koran itu.
Usaha Princen itu tidak pernah membuahkan hasil.
Dalam suatu laporannya, jurnalis itu menulis: ?Saya menangkap, operasi petrus itu benarnya hanya shock thrapy yang ditujukan terhadap penggoyang-penggoyang Soeharto. Di lain sisi, partai politik terbesar ketika itu ketakutan terhadap organisasinya untuk memenangkan dengan mutlak dalam pemilu. Sehingga mengambil jalan pintas dengan tangan intelejensi dan bekerja untuk kekuasaan bukan untuk rakyat. Yang jelas Soeharto selaku penguasa tertinggi menyalahgunakan kekuasaaannya untuk memenuhi ambisinya. Tahun 1983 sejak pertengahan April setelah Soeharto dipilih sebagai presiden terjadilah petrus besar-besaran itu di mana-mana, karena shock thrapy yang berhasil gemilang. Sebenarnya, awalnya ketakutan partai politik itu tadi. Waktu itu bagi aparat dimanfaatkan ketika ada konflik, semua orang bisa mengambil seenak perutnya. Contohnya di Malang, orang baik-baik dibunuh di halaman rumah. Kejadian petrus ini sendiri ditangani oleh pasukan elit yang berasal dari Timtim, sehingga kalau ngomong pelanggaran HAM Pidana, pancasila, hukum perang, menjadi biasa membunuh orang. Princen sendiri pada akhirnya tetap membela orang-orang yang dipetrus. Sampai sekarang usaha saya untuk ingin menyusun korespondensi identifikasi korban petrus belum berhasil. Satu orangpun tak ada yang mengirimkan data-datanya.?

Dua

BIRU langit membaca headline surat kabar berjudul ?Petrus Ditangani oleh Pasukan elit dari Timor Timur,? itu juga setelah disodori Prawira untuk juga dibacakan pada ibunya. Biarpun Surat setengah hati mendengarkan anaknya mengeja kata demi kata isi berita itu, nampak dari sorot matanya penuh harap bila bicara perihal nasib mendiang suaminya. Berkali-kali Surat membetulkan tempat duduknya. Ia lebih kelihatan gesit di banding hari-hari biasanya. Ini pertanda hari ini Surat jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bahkan lebih baik dari setelah beberapa minggu terakhir sepninggalan suaminya. Surat duduk dalam keteduhan beranda kendati banyak kaleng-kaleng bekas minyak tanah, botol-botol kosong dan beberapa alat pertanian di situ, kelambu kotor dan lusuh nyaris runtuh di rambutnya yang acak. Pakaian-pakaian bersawah ayahnya yang teronggok di dekatnya belum juga pindah tempat. Surat mencermati kata demi kata dan bila ada maksud yang belum ditangkap artinya, ia tanyakan pada anaknya yang memang pintar membaca itu.
?Terus apa maksud Prawira, anakku. Kalau isi koran itu ibu sudah mengerti.?
?Pak Lik Prawira bermaksud agar kita menuntut.?
?Pada siapa kita menuntut??
Biru Langit menunduk dan mencari-cari sumber berita menyebutkan soal pertanyaan ibunya itu.
?Menuntut pada yang harus bertanggungjawab.?
?Siapa yang tanggungjawab??
Lagi Biru Langit nampak mencari sesuatu di lembar koran itu. Entah sungguh-sungguh ataukah sekadar mencari kesibukan.
?Tentara. Pemerintah dan Presiden.?
Surat berhenti bicara dan malah dia yang ganti mencari-cari kesibukan. Ia melompat dari ambin yang ia duduki dan tanpa sadar kakinya menginjak onggokan pakaian kotor mendiang suaminya. Niat semula untuk bicara pada Biru Langit, ia tangguhkan. Dibungkukannya badannya lantas dibereskannya onggokan pakaian itu satu persatu. Dicarinya tempat yang tinggi kemudian disampirkannya barang itu di sebuah gala dari bambu. Kemudian dengan nada yang ringan dan tidak jelas Surat mengatakan sesuatu ungkapan yang persis dengan anaknya. Ya, kiranya ketakutan bercampur malu, lalu kekuatiran yang berlebihan berbaur dengan kemalasan lebih banyak mengerumuni hidup setiap keluarga korban, termasuk keluarga Surat.
Surat yang paling merasakan penderitaan itu. Sudah barangtentu Biru Langit, selaku anak-anak yang dtinggalkan korban juga mengalami kepedihan berikutnya. Suatu kejadian sepele bukti jiwa sakit ibunya pernah dirasai Biru Langit. Betapa ibunya itu sudah tidak bisa menghargai orang. Ketika Biru Langit tiba-tiba tersinggung sewaktu Surat melarangnya untuk dekat-dekat dengan Nariman, laki-laki pembuat patung barong di kampung. Padahal Biru Langit sudah menyakinkan ibunya, bahwa Nariman manusia juga. Bukan setan seperti yang sering digambarkannya. ?Saya menaruh hormat pada Pak Nariman,? begitu Biru Langit berkata. Biru Langit bersikeras mau belajar membuat patung pada laki-laki mengagumkan itu, siapa tahu kelak di kemudian hari dirinya benar menjadi seniman. Lagipula cuma Narimanlah satu-satunya seniman sejati di kampung ini, seniman yang tetap memilih hidupnya miskin.
?Kamu anak kecil tahu apa. Tubuh Nariman itu sudah penuh mantra dan setan. Coba kamu pikir, siapa orangtua yang anaknya boleh berteman dengan setan, ha!? bentak ibunya yang membuat Biru Langit pertama kali tersinggung, perasaan yang tak pernah muncul ketika ayahnya masih hidup.
?Ada apa ini ibu? Biru Langit bukan anak kecil lagi. Saya mau belajar membuat patung kok tidak boleh. Saya tidak punya niat jahat,? merasa benar Biru Langit bersikukuh, membujuk dan melawan pendapat ibunya.
?Tidak bisa. Titik.? Surat lebih ganas lagi.
Waktu Biru Langit pakansi melihat tari barong, ketika itu juga dia berniat meraba lebih dekat topeng berkapala naga itu. Dia tertarik dengan sorot mata topeng kayu itu. Ketika itu memang baru saja dimainkan oleh penari Nariman. Kemudian guru tari Biru Langit di sekolah menangkap rasa simpati Biru Langit. Lantas dia pun dikenalkan dengan Nariman hingga akrab. Sampai Biru Langit tahu betul Nariman sungguh penari mumpuni, sekaligus seniman topeng barong. Rombongan jaranan dia sudah berkeliling sepanjang kota, desa, kampung, unjuk kebolehan menari barong. ?Sungguh menakjubkan,? pikir Biru Langit saat itu, ?Sayang jika kelak tidak ada lagi manusia seperti nariman.? Tetapi ketika kemauan itu sampai di telinga ibunya, justru dia berang. Itu yang membuat Biru Langit hancur hatinya dan terbawa-bawa. Guru sekolah mengatakan, antara guru dan orangtua mestinya mendorong bakat, kemauan dan kemampuan anak didiknya. Dimana Biru Langit salah?
Diceritakannya kejadian itu pada Prawira, orang yang tanpa sadar menjadi pengganti ayah Biru Langit. Tanpa diceritakannya dengan mendalam, Prawira yang bijak dan berpengalaman itu segera tahu permasalahannya. ?Barong itu memang sering terbawa dalam mimpi ibumu,? ujar Prawira. ?Karena itu menakutkan. Barong yang diwujudkan dengan kepala ular raksasa simbol ancaman hidup.? lanjut Prawira. Keterangan Prawira sedikit menyenangkan hati Biru Langit. Bagai siraman air segar, sekaligus mencemaskan perihal keadaan jiwa ibunya. ?Dulu tari-tarian itu upacara religi. Karena itu benar jika dibumbui mantra-mantra yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural. Tetapi tidak musti berhubungan dengan setan, jin dan makluk halus lain. Sekali lagi ini cuma simbol, Biru Langit,? papar Prawira lebih gamblang. Ketika Prawira mendengar pengaduan Biru Langit yang sungguh-sungguh mau belajar pada penari Nariman, sebenarnya dia tersentuh sekali hatinya. Itu menandakan semangat hidup Biru Langit yang tinggi.
?Hati dan jiwa anak itu sebetulnya mengalir seperti sungai kecil di belakang rumah. Bening,? ucap Prawira untuk meluluhkan hati Surat.

Tiga

MUSIM kemarau telah datang sekian lama memanjang.
Perihal pahit getirnya menjalani kehidupan keluarga bagi Surat seringkali memang tak perlu ditampilkan dengan sepenuh kejujuran. Sama seperti dilakukan orang-orang yang merasa dirinya buruh tani atau mereka yang pantas pula disebut para tuan tanah di kampung itu. Rumah berderet mirip sebuah kamp pengungsi atau daerah transmigran tidak juga pernah mendorong ibu Surat dan para buruh serta tuan tanah untuk lebih berbuat jujur. Rumah-rumah di kampung itu banyak yang hampir roboh dengan sudut kemiringan lebih dari duapuluh derajat. Kandang yang lain bahkan lebih dari angka kemiringan itu. Jelas ada kesenjangan ketika rumah sebelah kiri atau kanan mereka dihuni oleh tuan tanah. Akan tetapi kiranya pun para tuan tanah tidak juga terlalu berbangga. Bahwa atap-atap rumah, pot bunga, dinding, lantai, meja kursi dan bahkan lemari pakaian tak luput dari debu. Kekeringan dan angin membawa debu lantas sampai menempel di kain dalam lemari lalu kain yang sama melekat di tubuh-tubuh penduduk kampung. Nasib mereka sama. Sedikit yang menyempatkan diri memperlihatkan kelebihannya. Sedikit yang menonjolkan tingkat perbedaan, kesenjangan sosialnya. Surat dan yang lain pun menghendaki sesuatu yang sama yakni sejenis bertapa di kediaman masing-masing dengan berdiam diri mengurangi interaksi sesamanya. Bagi Surat rasanya di tmpat ini matahari terbit dari arah utara saja. Kemudian bergeser pelan membuntuti tanah sawah yang pecah-pecah, bopeng olehnya sendiri. Sementara tikus sawah berlarian di lorong-lorong tanah di sela-sela bopeng tanpa padi sebatang pun mencari perlindungan. Sebuah pemandangan yang luar biasa kering sepanjang kemarau. Ya, kemarau tahun ini memang cukup panjang sehingga sawah Surat yang tinggal seperempat bahu tak pula bisa dikerjakan. Seperti petani yang lain. Rupanya Surat lebih beruntung dari mrka, yang tak menggarap tanahnya yang luar biasa berbahu-bahu.
?Baiklah, aku katakan sejujurnya padamu, Bu Surat,? demikian sorang ptani pmilik tanah menutup pembicaraan dengan buruh taninya itu. ?Sepanjang tahun berapa kerugianku jika mau dihitung? Berapa luas sawahku yang hanya bisa kutanami padi dan panen dua kali setahun, setelah itu mangkrak? Lantas, berapa kerugianku jika mustinya tiap ganti musim bisa kutanami lombok, jagung, atau semangka? Belum lagi tikus-tikus sialan itu menyerang sebelum panen. Ah, tapi Bu Surat, aku tak pernah menghitung semua itu.?
?Orang-orang seperti kita ini memang malas mengolah tanah sepanjang musim kemarau. Sedang kita tak pernah menyadari kemalasan itu,? kata Surat.
?Anda tak jujur, Bu Surat,? orang itu sembari beranjak dari kursi dan menikmati rokok Siong berbau kemenyan jenis rokok harum yang jadi pilihan hampir semua lelaki dewasa di tanah tadah hujan itu. ?Wong Anda sendiri dengan enaknya tidur tanpa dosa, merasa cukup makan dan sudah beruntung panenan tak diserbu tikus.?
?Itu sudah lama terjadi, ktika suamiku masih hidup, Pak,? Jawab Bu Surat.
Pasti petani-petani kampung itu masih ingat betul tahun 1982 lalu ribuan tikus dan pagebluk yang menyerbu dan meludeskan padi hampir dipanen. Bahkan sempat menjarah rumah-rumah penduduk dan tak bisa dikendalikan. Orang-orang kampung, anak-anak sekolah, dikerahkan menghalau binatang itu. Menutup setiap lubang persembunyian dan membakarinya beramai-ramai, atau cuma melemparinya dengan batu. Namun mustahil hasilnya. Kembali tikus-tikus itu menggasak dengan liarnya tanpa dosa, meski di kulit tubuhnya terlihat putih-bersih tidak nampak menjijikkan. Suatu gambaran keadaan yang mencapai puncak dari selama sekian tahun menjalani pergantian musim yang selalu meresahkan. Situasi yang selalu sulit diatasi oleh karena kesenjangan terlalu tinggi antara luas tanah sawah dengan jumlah tenaga penduduk yang tersedia. Sehingga tidak mengherankan jika musim penggarap sawah tiba banyak didatangkan buruh-buruh tani dari luar kota kabupaten.
Berbondong-bondong mereka yang dari luar kota bersama-sama petani melakukan sebuah upacara ritual yang begitu dinantinya sepanjang kemarau: bercocok tanam. Dengan olobiskuntulbaris, menarik bajak mengairi sawah, meramu benih. Tidak ketinggalan pula petani pemilik sawah yang menurunkan para buruh menikmati upacara yang paling ritual bagi mereka, yakni menuai padi, bawon menurut tradisi mereka. Lalu apa yang terjadi ketika musim mereka kembali berganti kekeringan? Buruh-buruh tani balik lagi ke tmpat asal masing-masing. Lantas pemuda-pemuda kampung bertambah resah dan sebagian terseret bermigrasi ke kota, berkarya dan karyawan di kawasan-kawasan industri. Terlihat lebih praktis meninggalkan kampung sendiri yang lengang dan berdebu. ?Sebab itu aku berani bayar mahal pada kalian buruh-buruh tani yang mau kerja untukku,? ujar seorang petani yang lebih menyerupai tuan tanah ketimbang seorang petani itu.
?Dan persoalan kita, persoalanku sekarang bukan kapan mulai turun menggarap sawah, tapi bagaimana mencari buruh yang mau mengerjakan tanahku dengan bayaran murah. Hanya kamu yang sudi berkubang lumpur. Itupun karena kamu kubedakan dengan buruh tani yang lain,? kata Bu Surat sedikit berang. Mungkin juga tersinggung.
?Jangan begitu, Bu Surat.?
?Maksud saya begini, ? kata Surat sambil memperbaiki duduknya, hampir menyentuh kopinya sendiri. Ia bermaksud membujuk tuan tanah itu. ?Agar panenan kita tidak berhenti sepanjang tahun apakah ada niatan petani di sini menanam lombok atau tomat. Jika persoalannya memang kekurangan air, kita bisa menanam pipa-pipa air dan membeli satu diesel air. Untuk yang ini saya bisa hubungkan dengan teman dekat. Pasti bisa diusahakan. Saya kira tidak banyak memakan biaya. Apalagi tanaman yang ini kan agak bertahan hidup meski udara agak panas.?
Sengaja Surat menggunakan ?kita? untuk mmbicarakan dirinya yang tentunya membuat tuan tanah itu terhenyak. Sebuah kata yang baginya banyak menimbulkan sekian persepsi antara kawan dan lawan. Seolah terjadi persekongkolan. Kalaupun itu sebuah persekongkolan, sejak kapan seorang buruh tani atau petani kecil bersekongkol dengan tuan tanah? Untungnya, kecurigaan tuan tanah itu cepat dibuangnya sebab Surat pun bukan buruh yang betul-betul buruh. Jelek-jelek seperempat bahu ada menjadi miliknya. Dua kali setahun menghasilkan uang. Dan bisa hidup. Bila panen tak gagal.
?Ya, kemudian biar kamu bisa bekerja kembali padaku, begitu bukan? Apa kamu bisa mengolah tanahku yang sekarang setengah membatu hampir sepuluh bahu itu dengan sendiri atau tiga-empat orang saja? Aku tunggu kesanggupanmu. Jika ya, sekarang juga aku pasang pipa air yang kau maksudkan itu.?
Surat diam. Membaca sinar mata tuan tanah itu. Sepertinya Surat kembali tersinggung. Barangkali dikiranya hendak turut campur urusan orang lain atau bahkan memerasnya. Sebab dengan begitu berarti tuan tanah harus membayar upah mingguan seperti biasa padanya. Sesungguhnya semua itu tidak terjadi dan kemungkinan-kemungkinan itu tidak bakal terjadi pula. Bahwa Surat menghendaki berubah. Bahwa kemalasan di musim kering harus disikapi. Surat betul tidak jujur bahwa beberapa tahun kemalasan menghinggapinya, meninabobokannya dan baru kini ia sadari. Ini bukan kemalasan bagi seorang tuan tanah. Entah apa namanya. Namun kenapa tidak banyak belajar dari tikus-tikus sawah yang saban musim panen datang menyerbu entah dari mana. Mirip jenis penyakit kulit yang kian mewabah. Surat makin mengerti orang tidak akan mengira di balik rumah-rumah yang hampir roboh itu tersimpan ribuan uang. Atau di gudang-gudang, tobong, lumbung padi masih penuh berisi gabah yang artinya uang juga. Belum lagi sebagian besar gabah mereka yang masih di tangan para tengkulak. Kemudian para petani tidak pernah mempersoalkan berapa uang untuk benih, pupuk atau kebutuhan lain untuk musim yang mendatang. Tidak pernah terganggu oleh upeti yang mesti diserahkan ke kantor desa. Bisa jadi ini sudah berupa mitos. ?Dengan beginilah, Surat, Tuhan menyuruh kita untuk menikmati musim kemarau.? biasanya pula kalimat klise demikianlah yang di luar dugaan mengagetkan Surat. Ah, bukan persoalan kalau itu bagi para tuan tanah karena memang kemarau bukan persoalan. Dan untuk menjelaskannya petani atau tuan tanah seperti Paklek Kurmen selalu berucap begini: Yang wajar-wajar saja dan jangan banyak tingkah… Entah, yang ke berapa sudah lurah hendak mengaspal jalan yang sampai sekarang masih tetap berbatu dan berdebu. Lurah yang sama berturut-turut hendak pasang listrik sudah dua tahun lebih masih betul-betul berupa tiang. Maksudnya baik, agar tiap andong yang membawa penunmpang berjalan lancar. Tapi bagi stiap buruh tani atau petani kecil sudah barangtentu jawaban tadi mengejutkan, lantaran dirinya tak memiliki persiapan macam itu. Ketika ia sibuk menyiksa dirinya dengan membandingkan para petani kecil, begitu mencapai puncak rasa sakit itu, Surat sedikit terobati karena terbukti sudah berapa kali pun lurah kampung dicopot dan ganti yang baru, kiranya persoalan aspal dan tiang listrik sulit diterima. ?Dasar orang tidak jujur semua di kampung ini, ? pikir Surat. Namun demikian dalam hati Surat tetap membenarkan bagi penduduk yang dibutuhkan adalah ketenangan dan kepasrahan, bukan jalan lurus yang halus apalagi mulus. Sedangkan kondisi ini masih diinginkan sampai sekarang. Artinya, barangkali kehadiran lurah sedikit diacuhkan jikapun tidak diomongkan sesuatu yang tidak dibutuhkan. Yang diinginkan penduduk kampung tadah hujan adalah ketenangan dan diam. Diam seperti batu yang tertancap rapi di jalanan makadam dan terlindas roda andong atau gerobak. Batu yang pada akhirnya bisa tergenang air bila di musim penghujan.
?Tapi jangan kuatir, Bu Surat. Dua atau tiga hari lagi kita bisa segera turun ke sawah dan Anda bisa menggarap lagi tanahku dan tanah Anda sendiri. Anda lihat sendiri kemarin gerimis sudah rata. Angin sudah berubah kencang. Hawa bertambah panas. Cuaca yang mengantukkan mulai lenyap. Tunggu sajalah dengan sabar. Warna hitam di atas kita itu akan jatuh,? tuan tanah itu berkata seperti layaknya majikan pada buruhnya tetapi juga layaknya teman yang selalu memberi pilihan-pilihan.
Surat kelihatan berpikir sejenak, kemudian seolah ada senyum ramah. Surat menarik kursinya hendak mendekati meja. ?Begini, Pak ini sebetulnya tidak perlu saya omongkan. Sebab kurang baik jika persoalannya kita sadari sehingga ada kesan sesuatu yang tidak wajar telah terjadi.? Kembali Surat tersenyum tetapi kini di matanya nampak lebih serius. Lagi-lagi Surat mencoba membujuk tuan tanah itu ?Bukankah saya dengar Anda kepingin mencalonkan diri menjadi lurah di sini? Saya punya pikiran, barangkali dengan apa yang saya usulkan tadi bapak lebih dipercaya penduduk. Lantas, tentu bapak memilih gambar padi sebagai simbol karena itu pula yang lebih unggul jadi diwanti-wanti penduduk.?
Mendengar itu tuan tanah malah tertawa meledak. Hampir saja mukanya mencium bibir meja. Tak tahulah apa yang begitu membuatnya terpingkal-pingkal. Membuat Surat terus tercenung ketika tawa tuan tanah itu tak terputus juga. Surat hendak meninggalkan ruang. Sehingga sadar bahwa apa yang hendak dilakukan tidak banyak mengadakan perubahan. Tuan tanah itu memiliki kesadaran yang sama, kiranya. Tidak ada sesuatu yang berubah. Sebagai orang yang belajar bijak ia tidak akan berusaha kembali pada: bercocok tanam adalah sesuatu yang sakral, dengan pejalan-pejalan kaki, menuai padi dengan cara serba tradisional, tetapi akan terus dibaca dan dipelajari hal-hal yang menyebabkan situasinya seperti ini, mulai sekarang. Para petani pun tahu sebentar lagi musim hujan turun. Banjir selalu datang seperti tahun-tahun yang lalu. Tidak bisa tidak. Kemudian seperti jamur, tikus-tikus sawah yang bersih-bersih keluar sarang. Lantas, sebagian berkeliaran sampai ke halaman rumah-rumah. Surat makin percaya yang dibutuhkan orang kampung ketenangan dan kepasrahan, bukan jalan lurus yang halus apalagi mulus. Yang diinginkan penduduk kampung ketenangan dan diam. Diam seperti batu yang tertancap rapi di jalanan makadam dan terlindas roda andong atau gerobak. Batu yang pada akhirnya bisa tergenang air bila di musim penghujan.
Tanpa punya kinginan untuk menjadi batu, seluruh isi hati Surat serasa kian membatu saja. Menggelinding ke sana kemari tanpa arah. Hilang di telan bencana alam.

Empat

BETUL-BETUL Surat diseret arus kepahitan hidup tanpa ujung. Sungguh-sungguh tinggal segenggam batu saja tubuhnya. Kesulitan membuatnya bisa melakukan apa saja. Di mata Biru Langit petaka itu menghebat ketika ibunya menjual sewek satu-satunya. Biru Langit merasakan tiap malam seperti di neraka. Biru Langit belum pernah menjumpai neraka. Namun inilah ungkapan yang lebih tepat baginya. Sebab baru kali ini dia benar-benar merasa sebuah siksaan yang terlalu dalam. Hampir tiap malam dia tidak bisa tidur sama sekali. Apalagi bangunan rumah yang berdekatan dengan rel kereta, membuat klisikan tidurnya makin hebat, tatkala kereta melintas. Menggetarkan dan menggoyangkan dinding-dinding rumah. Seolah suara gemuruh lok dan gerbong-gerbong tu hendak membelah rumah tempat saya berbaring. Semua ini sungguh terasa belakangan ini. Sejak sewek itu tidak menemani Biru Langit lagi. Padahal dulu tidak demikian. Entahlah, seperti terbius ketika tidur berselimut sewek itu. Angler 36) rasanya. Sepanjang malam tak terusik sedikitpun kendati kuda besi seliweran. Benda yang dia maksud adalah jarit. 37) Tetapi terlalu istimewa jika disebut demikian. Istilah itu digunakan bila benda yang dimaksud masih baru, masih tampak gres. Atau setidaknya masih kelihatan bagus. Setelah beberapa bulan berlalu, emak menyebutnya dengan jarik. Barangkali ini memang salah pendengaran, hingga di kupingpun barang itu kedengaran lusuh.
Sejak usia kanak-kanak, ketika tidur, ibu Surat selalu menutupi tubuhnya dengan sewek itu. Kebiasaan ini lantas selanjutnya ttap dia pakai sampai sblum ayahnya meninggal. Biarpun ayahnya sendiri karna ksibukannya tidak begitu peduli dengan Biru Langit soal spl bgituan, barang itu ttap dikanakannya pada Biru Langit. Kalau pun peduli kiranya kepedulian itu tidak sampai pada hal-hal semacam demikian. Akhirnya, saya harus dipaksa memahami ayahnya soal ini, itu smata-mata karna ksibukan ayahnya dan sudah ditangani ibunya. Smula barang-barang olh Surat hanya diatur sana, di atur sini. Almari digeser kiri. Meja kursi diputar-putar. Dipan dipindah tempat. Trnyata sejak itu pula Surat mulai mngmpulkan satu persatu dan dijualnya ke tukang loak. Sebagian juga ke tetangga. Ada bupet, perkakas dapur, pakaian, perhiasan. Ia habiskan. Hanya dalam waktu kurang dari sminggu barang-barang perkakas rumah sudah sepi. Nampak suasana jadi lebih sederhana, menguasai arsitektur rumah yang menyerupai surau: serotong 38) kecil. Perabot dapur tinggal beberapa saja. Tika almari, bupet tidak lagi diperlukan. Yang ada tinggal ambin tua yang memang tak laku jika dijual dan pakaian sadanya. Ini yang membuat Biru Langit berpikir lebih panjang. Jangan-jangan wanita itu berusaha untuk putus asa. Begitulah, semua barang peninggalan mendiang suaminya telah habis dan hanya selembar sewek yang tersisa?benda yang digenggam erat Biru Langit agar tidak jatuh ke tangan ttangga atau tukang loak Saban malam saja, dipakainya untuk selimut tidur. Sebagaimana kebiasaan sjak dulu digunakannya. Pernah suatu kali digunakan untuk kenduri oleh ayahnya dan di bagian belakang-tengah terkena jenang abang.39) Sampai di rumah ia didiamkan Surat. Baru kemudian Biru Langit tahu. Bukan lantaran jenang abang-nya, tapi karena kurang pantas jika digunakan hal semacam ini. Kecurigaan Biru Langit kian besar saat ibunya mulai turun tangan bicara soal kain itu. Ia berusaha membujuk Biru Langit agar menyerahkan sewek itu padanya untuk disimpan. Katanya, ?Buat apa kain jelek itu kalau nanti bisa membuat ibu tringat mendiang ayahmu??
Mula-mula Biru Langit menggeleng namun akhirnya luluh juga.
Sebenarnya, bagi anak itu sewek bukan sekadar kain jelek, lusuh. Tapi ada keistimewaan baginya dan memang ia tidak pernah dapat menceritakan apa sebenarnya keistimewaan itu. Yang jelas itu sudah dirasainya milik dia sendiri pemberian Surat untuknya. Betapa Biru Langit benar-benar menghormati ibunya tiga kali saya menghormati bapak. Biru Langit lahir dari rahim Surat. Digendongnya dan hanya gendongan Surat yang membuat Biru Langit tenang ketika minta ditetek. Lantas, Surat pula yang rajin menunggui dia jika sedang sakit, sedang menangis. Kalau Biru Langit terlampau lama bermain, Surat juga merasa kebingungan. Akhirnya, berusaha mencarinya. Ketika diselimuti sewek oleh ibunya itu, perasaan Biru Langit sama seperti saat digendongannya. Biru Langit tidak tahu apakah ibunya memperlakukan sama terhadap kesemua saudara-saudaranya. Entah lelucon atau seriuskah waktu itu, sesuatu telah diucapkan Surat pada Biru Langit. ?Kelihatannya, ibu nanti tidak akan bisa meninggalkan apa-apa buatmu. kecuali sewek yang saban malam kamu pakai tidur itu. Dengan sewek itu ibu berharap sekali kamu tidak serakah dan tetap tinggal di rumah ini. Gunakan sewek ini sampai betul-betul tidak berguna bagimu dan jangan iri dan jangan pula mniru saudara-saudaramu yang telah berhasil mengarungi hidup.? Biru Langit masih ingat betul kata emak waktu itu pada saya. Ketika itu sebetulnya Biru Langit kurang enak juga dengan kalimat-kalimat ibunya. Seperti ucapan orang yang hendak pergi merantau begitu jauh. Atau seperti berucap kepada seseorang yang akan menguasai peninggalannya. ?Kalau kamu menggunakannya terus menerus dengan baik, sewek ini suatu saat akan paling berguna buatmu.? Masih membekas ujarnya Surat padanya kala itu. Lalu Biru Langit merasakan pula kebenaran ucapannya. Yaitu ketika ayahnya berselisih dengan seseorang dan perselisihan makin hebat. Seseorang itu lantas dengan bantuan dukun berbuat buruk terhadap Biru Langit. Biru Langit dibuatnya sakit. Sakit yang teramat aneh. Kulitnya dibuatnya hitam dan penuh jerawat. Batuk-batuk saja sepanjang hari. Terkadang pula batuk darah. Kemudian untuk menyembuhkannya, ayah minta bantuan pula pada seorang dukun. Sebuah syarat yang aneh, ayah diminta menyelimuti tubuh saya ketika tidur dengan sewek itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Paginya batuk darah Biru Langit semakin gencar dan di sela-sela gumpalan darah keluar sekeping beling.40) Setelah itu sembuh total. Sebab itulah Biru Langit cuma memiliki keyakinan yang mantap pada sewek itu sedang keyakinan itu sulit sekali diungkapkan. Karena itu pula anak itu betul-betul terpukul dengan perubahan sikap ibunya yang telah menghancurkan keyakinannya sendiri ketika hendak menyerahkan sewek itu pada tukang loak yang setahu dia seperti luak 41) itu. Seperti setiap hari melihat mangsa yang berkeliaran, ia bertambah garang. Apa saja dia makan.
Biru Langit memahami ibunya yang terguncang setelah kematian ayahnya. Apalagi ayahnya belum terlalu tua untuk ukuran orang mati pada umumnya. Tanggungjawab keluarga jadi tidak seimbang dan harus dipegang dan diambil alih ibunya. Belum lagi harus mengurus rumah tua itu. Membersihkannya dari sarang tikus dan laba-laba. Kemudian memasak dan alasan lain juga yang membuat perasaan bapak terbebani. Namun soal kain lusuh yang terjual itu, amat sulit dipahami Biru Langit. Dia juga jadi sulit mengambil sikap, sulit memahami dirinya sndiri. Biru Langit tidak bisa membayangkan, sepanjang malam bagaimana sulitnya tidur tanpa selimut sewek. Dia juga tidak bisa bayangkan bagaimana hidup ibunya sesudah ini. Kenapa anak itu tidak pernah mengerti pilihan ibunya yang menghancurkan keyakinan Biru Langit, anak kesayangannya? Apakah tidak prnah brpikir bila anaknya nanti sulit bisa tidur selamanya, bisa dngan gampang mmilih jalan hidup dngan mengikuti arah kereta yang saban hari melintas di samping rumah, pergi entah kemana? Biru Langit menunggu waktu, sambil menunggu kabar ibunya, benarkah ibunya melanjutkan niatnya menjual semua peninggalan mendiang ayahnya. Jika benar, sebentar lagi tentu rumah ini akan dijualnya sebab bangunan ini pun peninggalan ayahnya.

Lima

SURAT tak dijumpai di rumah.
Ketakutan Biru Langit terhadap ibunya, jangan-jangan ibunya kini tengah berputus asa kian menghebat. Terpaksa Biru Langit berjalan keluar dan tanpa tujuan. Semula ia menduga ibunya pergi ke pasar, atau sengaja sembunyi dari para penagih utang. Atau pergi ke kali belakang rumah untuk mencuci tikar pandan.
Disusulnya juga ke sana, namun tak dijumpainya ibunya itu. Tempat itu sepi tetapi lebih elok dari ladang ilalang depan rumah yang terik. Biru Langit berjalan lurus di pinggir parit. Di situ ada pematang yang di kanan kirinya ditumbuhi semak-semak dan agak jauh dari tempat itu ada rimbunan tumbuhan jarak dengan biji-biji yang kering.
Di situ biasanya Surat mengambil jalan pintas bila bepergian kemanapun maunya. Barangkali agar tak dijumpainya tetagga, atau mungkin karna memilih jalan yang rindang biarpun itu setapak. Atau memang tanpa tujuan apa-apa, sekalipun ia mengikuti dorongan nalurinya. Di jalanan itu hanya dua tiga orang saja yang berpapasan, mereka yang punya maksud serupa. Beberapa puluh meter dari jalanan itu, hanya sapi-sapi, kambing atau kerbau yang dicincang. Itupun amat jarang ditunggui sang penggembala. Perasaan Biru Langit bertambah tertekan. Kepalanya menunduk sejenak. Dicoba diterka-terkanya keberadaan ibunya?

Enam

DIAM-DIAM pagi ini Surat berkendara oplet menuju Kota. Surat punya rencana sesuatu. Dan itu disampaikannya pada paranormal pensiunan Kolonel bekas priyayi. Sendirian. Pembicaraan hanya empat mata tanpa seorang pun tahu isinya. Kecuali Tuhan.
Sementara sepanjang hari, Biru Langit tetap saja menerka-nerka?
?Satu-satunya kinginan saya sampai hanyalah untuk mati,? Surat kisahkan itu pada pensiunan Kolonel bekas priyayi.
?Itu yang membuatmu lain dari orang lain pada umumnya,? jawab Kolonel.
Sungguh masuk akal bila kematian bagi Surat kini bukan lagi pengalaman konkrit yang menyuramkan. Kepahitan hidup telah membuatnya seperti itu. Kematian dihadapinya dengan tegar. Bukankah setiap saat dia sudah sibuk dengan dirinya sendiri untuk mati. Segalanya. Jiwanya. Bagi Surat mati bukan soal sudah waktu saatnya atau belum. Bukankah dia sudah tidak memiliki nafsu lagi untuk hidup dan bergabung dengan dunia?
?Kenapa? Apakah karena anak-anakmu sudah mulai menghitung-hitung warisan? Ataukah kamu sendiri minta diri utuk cepat mati meninggalkan bumi. Meniggalkan semua sisa harta milikmu? Ataukah kamu berpikir anak-anakmu kasihan penderitaanmu lalu mereka menyuruhmu cepat untuk mati saja.? Kolonel itu membolak-balik isi hati dan pikiran Surat.
?Mungkin salah satu diantaranya. Selain itu, saya merasa memang sudah saatnya melepas hubungannya dengan mereka. Seperti suamiku dulu meninggalkan anak-anaknya pula.?
?Kamu adalah orang kedua yang datang kemari surat. Sebelum kamu, tuan tanah Toisah datang dengan masalah yang sama. Dia punya tanah sawah empat setngah bahu, kemudian lima ekor kerbau sapi dan sebuah rumah. Anak-anaknya merebutkan itu dan itu alasan dia ingin mati.?
?Saya tidak punya alasan untuk itu kalau aku mati harus dengan menunggu jadi tuan tanah, aku lebih susah lagi untuk mati. Kasihan Toisah, apakah anak-anak tidak tahu hal hidup yang satu itu tabu diungkapkan. Bicara warisan ketika pemiliknya masih ada bisa disebut durhaka, satu hal yang paling naif di dunia ini.?
?Tidak. Toisah berpikiran lain dan anak-anaknya juga berpikiran lain. Toisah menerimanya itu bukan hal tabu. Bukan pula durhaka. Diantara merekapun tidak pernah berbicara masalah hukum karma.? Kolonel itu nampaknya berupaya untuk mengalihkan pembicaraan dari Surat pada Toisah. Perihal beginian nampaknya ia cukup mahir. Pendidikan filsafat di univrsitas dan karir militer serta pengalaman perang di Timor Timur tak menyusahkannya untuk berbuat seperti itu. ?Tidak hanya itu. Dalam hidup Toisah dan anak-anaknya kerap kali dihiasi pertengkaran, antara Toisah dengan anak-anaknya maupun diantara anak-anak sendiri. Sepasar saja tak ada pergolakan semacam itu, kering rasanya hidup ini. Begitu jalan pikiran keluarga Toisah.? Lanjut Kolonel itu terus menggiring jalan pikiran Surat.
?Sama. Kesepian yang membuat saya ingin mati segera, Pak? tandas Surat.
Kolonel itu mendadak merasa kurang berhasil mempengaruhi jalan pikiran Surat untuk menghindarkan diri dari keinginannya untuk mati. Sebaliknya, terkesan ia justru melempangkan jalannya dengan menunjukkan kunci-kunci jawabannya persis mengisi teka-teki silang?hobi si Biru Langit untuk meluaskan cakrawala pengtahuannya. Bahkan Surat menceritakan bagaimana anaknya, Biru Langit memyelidiki kemauannya untuk mati itu. Ketika di suatu malam Biru Langit dia datang mengecek dirinya Surat tak berubah, tampak masih segar bugar. Matanya jelalatan. ?Kamu datang bermaksud melihat aku sudah mati atau belum, bukan?? begitu Surat mengecilkan nyali anaknya ketika itu. ?Mengapa ibu punya pikiran begitu?? Biru Langit berkelit. Surat tidak segera menjawab. Dia hanya menggeleng kepala beberapa kali . Belum sempat memenuhi pertanyaan Biru Langit, anaknya itu menambah lagi beberapa pertanyaan. ?Apakah ibu putus asa? Dan tidak betah melihat saban hari kita kurang makan? Lalu malu pada tetangga?? Surat hanya tertawa nggakak. Suaranya memekik. Memecahkan kesunyian malam. Mengalahkan suara angin yang mirip lebah bersarang di telinga. ?Kamu masih terlalu kecil untuk mengtahui semua ini,? giliran ibunya yang berkelilit.
?Jadi anakmu, Biru Langit sudah tahu kamu kepingin mati?? Kolonel itu mengesankan terkesima.
?Kukira. Biarpun kataku tadi Biru Langit memang terlampau kecil untuk mengetahui jalan pikiran ibunya. Kalaupun tahu tentu ia terkesan punya alasan lain. Karena saya sudah tualah, putus asalah, firasatlah. Sesungguhnya saya tidak ingin seperti itu. Lebih tidak ingin lagi bila Biru Langit tidak tahu apa-apa. Nggobloki kayak anak yang baru ayan. Kenyataannya, dia sudah cukup dewasa. Sangat dewasa semenjak tahu ayahnya mati dibunuh orang,? Surat sama sekali tak mengesankan cemas atau kuatir. Bahkan sesudah itu ia tak ingat lagi bagaimana raksi anaknya, Biru Lagit.
Sebihnya kolonel itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tidak percuma rupanya perempuan itu bicara dengan Biru Langit. Kiranya hebat benar anak itu telah tahu bagaimana ibunya muncul kbraniannya untuk mati, bagaimana Surat brkhndak menghadapi kematian dan akal sehatnya mengatakan tidak takut untuk mati. Lantas apa pendapat anak itu tentang akal sehat. Kolonel itu makin tahu bagaimana orang yang berpikir perlu mati saat ini. Kolonel itu juga berpikir betapa tersiksanya manusia yang tidak pula diberi mati. Kalaupun sekarang kelihatan gelisah hingga ada kesan takut, itu bukanlah sesungguhnya. Namun bayangan akan kematian sudah cukup membuatnya ketakutan. Diam-diam dalam jiwa kolonel itu telah berkecamuk tentang kematian. Justru menurut Kolonel itu, memikirkan kematiannya itu yang menakutkan. Dalam hati ia hanya bicara pada si anak Biru Langit. ?Kamu belum pernah merasa mendrita, sengsara atau nikmatnya hidup, Nak. Nanti-nanti jika kau berada di salah satu dari itu, kamu akan mengambil sikap. Sekarang kamu masih hidup saja dan mengalir, punya prinsip hidup. Dan kamu tidak mengtahui sungguh jiwa ibumu yang telah sengsara.?
?Lantas apa yang membuat kamu ingin mati? Benarkah karena sengsarakah? Atau itu ucapan naluri kamu yang sudah waktunya untuk mati?? Kolonel itu seperti menginterogasi calon korbannya.
Untuk pertanyaan yang ini Surat harus benar-benar menyiapkan jawaban yang mantap.
Waktu sudah menunjukkan tidak lagi pagi. Suasana kosong sejenak. Setelah dirasa cukup, diapun menjawab, ?Karena saya tidak mau dipenjara. Karena satu hal pokok yang ada pada hidup ini ingin bebas. Artinya jiwa ini ingin keluar dari kungkungan tubuh. Dan jiwa saya tidak mau tersekap. Tidak mau terkubur.?
Kolonel itu sedikit sekali memahami apa yang telah diucapkan Surat. Justru pikiran Kolonel mengatakan itu alasan belaka bagi seorang yang hendak mati dengan berbagai dalih. Atau barangkali Surat itu yang tidak sadar alias dalam kadaan mabuk? Selama ini yang ia tahu orang seolah selalu menghndari kematian. Seolah tidak rela benar jika dirinya mati. Jika sakit tubuh sebagai tanda karena jarang orang mati dengan sakit jiwa sebagai tanda, orang selalu sibuk untuk berobat ke dokter. Untuk mengtahui sebagian tubuh mana yang sudah tidak tahan menyangga hidup. Kemudian jika sang dokter sudah mundur dan angkat tangan, baru keluarganya pasrah. Dan benar juga akhirnya: si sakit trus mati. Hujan tangis yang mengiringi. Bukan hanya si mati saja yang tidak rela. Melainkan yang ditinggalpun tidak iklas dia mati. Demikianlah. Namun malam ini apa yang diketahui Kolonel benar-benar lain. Malam bergerak terus. Sementara bulan bergeser derajat demi derajat. Diantara angin dingin dan diantara ketidakmengertiannya, kolonel itu berusaha terus mengungkap misteri Surat, sesuatu yang sama sekali belum pernah dihadapi ketika jadi mahasiwa maupun waktu di dinas ketentaraaan.
?Sekian lamanya saya digencet ke pinggir. Saya pun menyendiri dan menemukan hidup dengan dirinya itu sendiri, bebas kemana harus berjalan dan bagaimana dia bergerak. Saya sendiri yang menentukan aliran arus hidup keluarga saya. Termasuk hal mati. Tapi sekarang saya mulai ragu, Pak. Karena itu saya datang kepada Bapak. Pagi ini saya harus menemukan keyakinan dan kepastian. Sebab hanya dengan keyakinan dan kepastian soal mati saya akan merasakan kebahagiaan. Bahagia hidup setelah mati di dunia ini,? Surat berkeluh kesah begitu mendalam dan sepenuh hati.
?Keraguan apalagi itu, Surat?? Kolonel itu sepertinya harus bicara begitu.
?Ada dua hal yang membentuk segala makluk yang hidup. Termasuk manusia. Yaitu jiwa dan tubuh. Lantas jika saya mati akan kemanakah jiwa saya? Apakah turut binasa bersama tubuh saya? Dan jiwa itu tidak hidup lagi ? Ataukah sebaliknya jiwa ini akan terus hidup kendati tubuh saya mati, bagaimana pun cara dan apapun jalannya saya nanti mati??
Cukup lama dialog Surat dan Kolonel itu terhenti. Kolonel itu tidak pula memberi tanggapan. Suasana diisi oleh suara-suara orang yang pulang dari pasar atau bunyi-bunyian pedagang keliling yang menjajakan barang daganganya. Baru kemudian Kolonel itu melihat bebrapa butir air mata yang bergulir dari pelupuk mata Surat. Disusul dua pasang isak tangis. Surat menangis. Kolonel itu menyaksikannya bahwa itu jiwa Surat yang menangis. Jiwanya yang minta dikasihani. Jiwanya yang berontak pada tubuh Surat. Sehingga beberapa bagian tubuhnya kalah. Kulitnya memerah tegang. Aliran darahnya cepat dan airmatanya jatuh bergulir. Melihat perempuan menangis, Kolonel itu ingat kejadian saat dinas di Timor Timor. Dia pun tak kuasa menahan airmatanya juga.
?Bapak mengkaisiani saya??
?Tidak. Saya hanya teringat sesuatu. Waktu itu, saya melihat satu konvoi mobil truk datang dari Viququ, penuh dengan orang yang miskin dan sengsara. Mereka akan dibuang ke pulau Atauro. Di dalam mobil-mobil truk itu, orang bisa melihat juga bahwa ada orang-orang tua yang sudah tidak mungkin lagi bekerja, anak-anak dan orang sakit?Waktu saya pergi k Baguia, saya melihat konvoi truk yang lain, melintas di depan Gereja Baucau. Konvoi ini datang dari Viququ dan membawa orang dari Uato-Lari, Ossu, Lacluta, dan juga orang dari Viququ, dari kawasan Baucau. Mobil-mobil itu pergi ke arah Laga, karena di Laga itulah orang akan ditempatkan dalam kapal-kapal boat seperti binatang dan dibuang?Ketika saya kembali dari Uato-Carabau, dan lewat dekat Laga, saya melihat lautan manusia di bawah pohon dan rumah-rumah reot, dijaga oleh hansip dan orang Indonesia lainnya, menunggu untuk dibuang,? 42) kenang Kolonel itu.
?Apa hubunganya dengan saya??
?Tidak ada. Saya hanya ingin ceritakan, punya masa lalu.?
?Saya datang kemari untuk minta petunjuk?
Kolonel itu sedikit paham tentang Surat, kesedihan dan kematian. Ia temenung. Diam-diam ia kagum pada perempuan itu. Meski aneh, Surat betul-betul bersahaja. Penderitaan dan kelakar, lelucon dengan keluarganya sama sekali tak ia pungikiri dari hidup. Tetapi dia tahu akal pikirannya tentang urusan tubuh dan jiwanya. Dan sekarang akal dia sedang menggerak-gerakkan jiwanya. Memikirkan nasib jiwanya.
Kolonel itu mendadak dikejutkan oleh pikiran Surat.
?Saya akan mengambil sikap dan sebenarnya sikap itu sudah keyakinan saya sejak awal. Saya akan mengakhiri hidup ini. Setelah terlalu lama menunggu tidak mati-mati pula.?
?Surat akan bunuh diri??
?Ya, hanya dengan bunuh diri jiwa saya akan tertolong dan tetap hidup. Sedang tubuh sudah tidak terpakai lagi. Dengan begitu saya akan bebas menentukan jalan hidup yang baru. Bebas memilih bentuk hidup yang baru. Lain dengan kematian yang biasanya. Tubuh tidak akan berfungsi sebab bersama-sama jiwanya yang juga telah mati. Tidak akan pernah ada hidup lagi. Selamanya,? semangat Surat terpancar juga di sorot matanya.
?Manusia tidak boleh membunuh dirinya. Sebab bunuh diri sama artinya dengan menentang kehendak untuk hidup,? justru Kolonel itu agak ragu dengan suaranya sendiri.
Surat diam lagi. Ia termenung sesaat. Betul juga kolonel, pikirnya. Manusia tidak boleh bunuh diri. Sebab manusia memang tidak berhak untuk membunuh dirinya sendiri. Manusia tidak berhak melenyapkan dirinya dari dunia ini. Manusia ada di dunia ini dengan sendirinya. Artinya, sudah beruntunglah ia sampai di dunia ini dalam bentuk manusia. Kemudian kenapa harus melenyapkan diri?
?Apa sebaiknya saya dibunuh saja? Pinjamkan pistol kolonel tinggal suruh orang untuk membunuhku.?
?Itu ide gila, Surat,? sergah kolonel. ?Apa bedanya dengan mati bunuh diri. Sama-sama mati. Sama saja dengan kematian yang dikehendaki oleh yang menaruh kita di dunia ini. Sama seperti kematian orang-orang karena perang, pembunuhan atau kecelakaan.?
?Beda.
?Dimana bedanya??
?Saya kemari tidak untuk silat lidah. Saya kemari hanya mohon restu. Permisi??

Tujuh

DI RUMAH, Biru Langit menutup buku Sejarah Mati Ketawa Cara Para Pemikir yang baru saja dibacanya. Pikiran Biru Langit terus jumpalitan kesana-kemari.
?Itukah jalan menuju kebebasan. Gila,? Biru Langit dengan geramnya, sambil mencari jalan keluar dari kamar. ?Hidup ini mulia. Mengapa bersedih begitu lama. Tidak. Tuhan tidak mengajarkan mati tertawa dengan cara begitu.?
Hari sudah menjelang petang. Dia juga jungkir balik dihadapkan putus asa ibunya yang sejak pagi pergi entah kemana.
?Kenapa kamu tetap santai-santai di situ? Cepat mandi dan ganti pakaian! Hari sudah menjelang malam,? mendadak, ia dikagetkan suara ibunya yang tak diduga-duga.
Sebetulnya Biru Langit ingin menjawab pertanyaan itu dengan balik bertanya. Dia juga ingin katakan akan senantiasa menjaga agar ibunya tidak mencoba melakukan bunuh diri. Tapi terus saja Surat menyerang dengan kata-kata yang entah apa artinya. ?Cepat pergi! Kamu sudah bukan apa-apaku lagi di sini. Kau bukan anakku. Kau adalah orang lain. Kau tidak berhak melarangku atau menyuruhku untuk mati.?
Biru Langit pun segera pergi. Mandi dengan air segar dan membasahi seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga pangkal kaki.

Delapan

KOTORAN bekas rumah laba-laba di kamar seperti lumut yang hidup tumbuh di dasar kolam. Pagi hari itu bersamaan dengan kokok ayam jantan, malas bangun biarpun kelaminnya serasa mendesak untuk menyemburkan air seni. Ia masih menghitung berapa tenaga harus dikeluarkan untuk membersihkan kotoran itu.
Di luar orang kampung sudah mulai beraktivitas.
Biru Langit masih pula sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia mulai menduga apa kalimat ibunya bila mengtahui dirinya telah bangun dari tidur. Barangkali ia akan bertanya, ?Jam berapa berangkat sekolah?? Lalu akan dijawabnya dengan, ?Saya malas ke sekolah.? Bila ibunya masih juga bersikukuh untuk membentak dengan kasar ucapannya itu, dirinya akan mengatakan, ?Sekolah tidak mengajari saya untuk menghadapi pahitnya kehidupan. Seperti ibu yang tak pernah makan sekolahan bisa juga hidup sampai tua.? Jika masih juga Surat tak mau menerima alasannya, Biru Langit akan pertegas, ?Sekolah tidak membuat keluarga kita jadi hidup lebih baik.? Itu memastikan Surat akan tersinggung berat.
Jalanan makin riuh dengan suara-suara lonceng kalung sapi, perempuan-perempuan pergi ke pasar. Yang paling keras terdengar adalah sandal-sandal yang berantukan dengan tumit kaki-kaki mereka. Biru Langit amat teraganggu itu semua. Cepat ia melompat dan membuka daun jendela. Begitu cepatnya, terasa salah satu ujung jarinya trtusuk suatu bnda tajam, sprti duri sisa ikan asin yang menepel di salah satu kayu bingkai jendela.
Di luar kamar tak terdengar sedikitpun desis suara Surat.
Seperti biasa Biru Langit menerjang ke belakang berdiri mengangkang di dekat kolam. Lalu menyemburkan isi badannya ke air kolam yang menghitam persis comberan. Yang tidak biasa adalah masih juga belum terdengar desah nafas, jejak atau bekas-bekas ibunya.
Sesuatu telah terjadi tatkala Biru Langit membalikkan badannya. Anak itu menjumpai Surat, ibunya, perempuan dengan seonggok penderitaan itu sudah tak bernyawa lagi. Apalagi dengan melihat caranya yang mengerikan. Surat telah menggantung diri.
Biru Langit tak terkejut. Sedikitpun dia juga tak takut.
Surat mati menggantung diri dengan stagen di lehernya. Lidahnya menjulur. Matanya putih terbuka. Dan sebagian hidupnya sudah penuh dirubung semut.
Waktu sekarang. Tak seorang pun tahu bagaimana Surat mengakhiri hidupnya. Tidak juga orang kampung. Biru Langit hanya takjub dengan cara ibunya mengakhiri hidupnya.
Biru Langit membolak-balik pikirannya.

Sembilan

BNIGNO Aquino tokoh Philipina yang sepulang dari pengasingannya ditembak tengkorak kepalanya, sejak September lalu masih diperbincangkan di radio-radio asing berbahasa Indonesia?yang siarannya bisa ditangkap di sini.
Halaman-halaman koran juga sudah pasti membritakannya.
Berita-berita yang tak disiarkan TV dalam negri ini, bahkan melukiskan bagaimana bebrapa sosok seperti Adnan Buyung, Yap Thian Hien kalang kabut mengumpulkan ahli hukum se Asia Tenggara tergerak oleh karena banyaknya laporan pembunuhan di luar hukum di sejumlah negara itu. Termasuk Indonesia. Korban yang disebut-sebut di berita-berita itu sudah mencapai 2000 jiwa.
Memang itu terjadi di belahan dunia lain, tapi bayang-bayang peristiwanya tercium juga di kampung dan Prawira orang yang tidak pernah melewatkan semua itu. Baginya, orang yang tahu sedikit soal politik, setiap hari seperti menyantap sarapan pagi.
Pada waktu inilah, hari pertama Biru Langit menjadi anak asuh keluarga itu. Gelombang-gelombang udara yang menyebarkan bau busuk kematian tercium juga oleh Biru Langit. Begitu amisnya sisa darah dan daging mentah yang tercium seperti tak pernah hilang dari ujung hidung anak itu. Dimana-mana. Serasa lubang hidung itu cuma untuk keperluan itu. Begitu biasanya, seperti menghirup udara dan menarik nafas dalam-dalam.
Demikianlah, cara Prawira yang sudah setengah tua menikmati sarapan paginya. Seperti Biru Langit yang menghirup udara. Sedari pagi keduanya hanya tampak di beranda dan duduk-duduk saja. Begitu akrabnya paman dan keponakannya itu sampai dibiarkannya pikirannya berjalan sendiri-sendiri. Penderitaan bagi Prawira telah akrab semenjak dia dicap komunis dan dikeluarkan dari tempat dia bekerja pasca peristiwa Gestok tahun 1965. Seperti halnya, Biru Langit telah akrab kepedihan yang diwariskan ayah dan kematian ibunya.
Di rumah itu semua sama-sama tahu. Demikian pula dengan Yunani, istri Prawira yang amat dibenci Biru Langit oleh sebab pelitnya setengah mati itu. entah mungkin lantaran ingin berbasa-basi Yunani bicara perihal rencana sekolah Biru Langit yang tahun depan harus bersiap-siap ke jenjang sekolah menengah di kecamatan Ngadiluwih. Dalam hati, Biru Langit hanya membatin bukankah satu tahun itu waktu yang cukup lama, bila sehari saja duduk di tempat tinggal barunya ini suatu siksaan baginya? Yunani memaksa Biru Langit dan suaminya untuk bicara sekolah-sekolah yang pernah dimasuki anak pungutnya yang pertama. Dia katakan, semua sekolah favorit, terbaik dan termahal. Istri Prawira juga bicara soal biaya dan jurusan-jurusan sekolah terbaik?barangkali juga ia bicara untuk Biru Langit kelak di kemudian hari.
Suaminya, kurang menanggapi omongan Yunani dan Biru Langit masih takut-setengah pasang aksi kurang suka dengan penampilan nyonya rumah yang di pelipis kanan kirinya ditempeli koyok dan irisan jeruk purut. Pagi itu sangat kaku. Suasana hanya diisi celotehan wanita itu yang di sana-sini diselai bunyi batuk. Betapa Biru Langit perasaannya, matanya, hidung dan kupingnya serasa diaduk-aduk. Kata orang bunyi houuek yang bukan batuk saja adalah sesuatu yang memuakkan. Tapi perempuan ini sungguh-sungguh batuk. Apalagi bercampur bau busuk petai, sisa kristalan kopi secangkir, lalap dedaunan gembrot, asap rokok. Tidak saja dari gaung suaranya yang memantul, sungguh tak terbayang bagaimana yang muak menjadi memualkan. Batuk yang menjadikan kerongkongan turut kering dan gatal, perut melilit-lilit kendati apa yang ada pada Biru Langit sekadar di telinga. Sekadar terganggu pendengarannya dari si tua penyebar batuk kering.
Malam hari. Batuk kering si tua Yunani memang tak tahu diri. Tidak peduli satu setengah jam melebihi tengah malam masih saja beraksi. Meraung-raung. Terkadang menyentak keras, memaksa riak keluar dari tenggorokan dan mulutnya. Lantas karna merasa tersedak, tersumbat, tertekan dia akan menambah keras smburan udara dari dalam. Dan lagi-lagi bunyi batuk itu meledak. Kemudian segumpal riak putih kekuning-kuningan terlempar dan beradu dengan lantai. Disusul dengus nafasnya yang tidak karu-karuan. ?Dasar si tua tidak tahu diri. Sudah tua peot masih saja menyimpan batuk,? Biru Langit gram. Tiga botol sirup obat batuk, dua kaleng pil pereda batuk tak disentuhnya. Tidak jauh dari itu pun ada dokter jaga puskesmas. Memang si tua itu tak pernah bergaul dengan obat, suntikan dan sejenisnya. Bayangkan bila Biru Langit datang dan diasuh di tempat sial ini cuma menikmati batuk, hal yang paling menjijikkan sepanjang hidupnya. Ini terpaksa karena kebaikan hati Prawira untuk tinggal bersamanya, bukan karna istrinya. ?Jika saja ayah ibu tidak meninggalkannya sendiri,? Biru Langit trus sibuk brpikir sndiri. ?Tntu malam ini tak harus berada di rumah yang menyimpan gumpalan riak ini.?
Betapa tersiksa dan Biru Langit tak perlu terus menerus melawan gejolak hati dan perasaannya. Sampai ia malas dan terhanyut arus dan menikmati suasana. Untunglah, saat malam bertambah malam. Suasana sekarang tenang. Kendati begitu, ia tetap yakin lima belas atau sepuluh menit lagi batuk itu akan kembali memaksa gerak rongga-rongga pernafasan perempuan tua itu bergetar. Bahkan semakin cepat dan tegang. Biru Langit tidak tahu benar apakah suaminya, Prawira yang kini terlelap tidur pernah peduli tehadap batuk istrinya itu. Toh, sampai sekarang sulit sekali didiamkan. Sampai keduanya juga saling diam. Biru Langit ingin tahu lebih jauh sebetulnya, tentang kehidupan pamannya yang baru malam ini ia lewati waktunya bersama-sama dalam satu atap rumah. Lalu, tentang perempuan istrinya itu yang bukan tidak mungkin tengah terjangkiti tubercolusis itu. Ah, tetapi bagaimana Biru Langit bisa tahu baru setengah malam ia berada di rumah ini. Dan sekarang satu setengah jam melebihi tengah malam. Tumbuh dalam diri Biru Langit keyakinan bila nanti hari pagi, perempuan itu belum juga terbangun bila tak digoyahkan kamar tidurnya.
Biru Langit nyaris menyesali ketidaktahuannya dengan pasti untuk apa ia berada si rumah ini, kecuali menikmati batuk. Lelaki itu masih dihimpit sisa-sisa kepedihan. Dibayangkannya kembali ketika pertama kali ia melihat perempuan istri pamannya itu, melihat kegarangan. Wajahnya dingin, kaku biarpun sesekali terkadang romantis, atau sentimentil?. Tidak ubahnya Biru Langit hanya melihat gambar hidup yang pnuh misteri. Tak ayal seringkali menghasilkan kekejaman, kengerian, keterasingan dirinya di tengah malam yang berkepanjangan. Serasa lebih panjang dari kepdihannya yang telah lalu. Setiap gerak-gerik perempuan itu mirip sebuah ilustrasi yang terkesan jinak. Artinya, Biru Langit bisa menikmati geraknya yang teatrikal dari garis-garis gambar yang bisa tertangkap mata. Mirip gerakan-gerakan tari. Selalu terarah dan tak pernah lepas kontrol. Andaikata sebuah ilustrasi pecut, bunyinya sekalipun bisa dinikmati. Sungguhkah begitu? Bukankah terkadang gerakan itu kasar, frontal, enerjik, penuh kejutan dan luapan-luapan emosi. Dan lagi penuh imajinasi yang memungkinkan lelaki tua itu melakukan segala hal yang paling mengerikan sekalipun. Suasana luar biasa dahsyat dan ilusionistik di tengah malam ini. Panas, pengap mencekam. Sesekali di kegelapan ruangan terdengar salak anjing. Melolong-lolong seolah Biru Langit merasa dirirnya jadi bayi merah terbuang di tanah lapang. Lantas bunyi deru kereta malam menggetarkan atap dan dinding rumah. Takut roda kereta akan terlepas dan gerbong-gerbong itu meluncur entah apa isinya membelah rumah di situ tempat terbaring Biru Langit. Begitu berlalu dan aman, genderang nyamuk berpuluh-puluh jumlahnya terngiang-ngiang. Bergulir-gulir di tubuhnya yang panas-dingin. Tak satupun sempat diusirnya. Biru Langit kuatir hanya akan menambah ketakutannya.
Benar ternyata lima belas menit kemudian bunyi batuk kembali menderu. Kali ini lebih hebat. Berkali-kali ada usaha prmpuan istri pamannya itu menahan penyaki akan tetapi sia-sia. Dari sini Biru Langit menangkap sebenarnya dia ketakutan dengan penyakitnya. Semakin tertahan gumpalan riak semakin deras meluncur naik ke rongga mulut. Bergumul kemudian meloncat. Sempat pula Biru Langit berpikir sejenak; ada gumpalan darah mungkin keluar dari moncong mulutnya. Biru Langit hampir berteriak. Buru-buru saja tenggorokannya tersumbat. Perutnya mual. Bibirnya terkatup. Ia sendiri merasa hampir memuntahkan sesuatu dari dalam lambungnya. Perut besarnya melilit-lilit. Ia pegangi dan dan tekan-tekan sendiri lehernya. Sementara Biru Langit mnyakinkan pamannya masih terlelap tidur. Biru Langit hampir saja beranjak menuju kamar dalam tempat sumber batuk. Lagi-lagi niatannya terpotong oleh sesuatu yang menjadikannya mengurus dirinya sendiri. Kembali ia berbaring. Biru Langit mendengar si tua menyeret-nyeret alas kakinya ke arah kamar mandi. Batuk itu terus saja menyerang di sela bunyi kecipak air membasuh mukanya tak seberapa jelas. Riak-riak terus terlempar ke lantai.
Suasana tenang kembali pada dua jam melebihi tengah malam. Bunyi panjang alas kaki menyeret-nyeret membuat Biru Langit terhenyak, takjub, terkejut tapi juga takut. seperti sempoyongan, barangkali si tua telah melampaui tahap kritis, pikir Biru Langit. Ini yang menakutkan. Sanggupkah si tua melampaui tahap kritis dengan sukses? Jika tidak, pasti si tua sebentar lagi tak bertahan hidup. Tiba-tiba Biru Langit melihat kembali perempuan Yunani itu dalam kegarangannya. Sekilas dalam kegelapan ia melihat perempuan itu menyeret alas kaki dengan pisau panjang di tangan. Biru Langit sempat menangkap kefanatisan. Namun ketakutannya muncul kembali saat si tua garang menuju padanya. ?Gila! Mungkin si tua hendak membunuhku,? pikir Biru Langit. Biru Langit bersiap diri melompat jika pisau itu benar hendak dihujamkan padanya. Ia berpura-pura diam dalam ketenangan. Sedangkan si tua tampak terombang-ambing emosi dan pikirannya di antara dua tubuh tergolek ringan. Setelah dirasa cukup dan meyakinkan, lantas si tua betul menghujamkan dua tikaman pisau panjang itu. bersamaan dengan desahan dari dalam yang teramat kuat.

Sepuluh

PAGI harinya, Biru Langit bangun sebagaimana hari-hari biasa. Tak terjadi apa-apa dan sebaliknya dia tampak sehat.
Prawira lebih dulu bangun dan di meja terhidang kopi hangat, menunggu koran sarapan pagi. Di lantai semut-semut banyak berkerumun mengitari dan menikmati sesuatu. Bukan tetesan darah tapi gumpalan riak-riak karena lantai memang belum disapu oleh nyonya rumah.
Dibayangkannya kembali oleh Biru Langit, dirinya tak hanya sehari saja tinggal bersama,. Berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun. Barangkali sampai tua. Mungkin juga tidak. Dia mencoba mengenali tempat-tempat, ruang-ruang di situ. Mana tempat yang kotor, lorong gelap dan juga batas-batas tembok tetangga.
Sesuatu yang baru telah ia rasakan di dadanya. Dia yang tak setidaknya hingga sekarang tak pernah putus asa, serasa mendapat suntikan darah segar, melihat tempat kotor seperti gudang, air comberan, bengkel?tak semua rumah orang kaya seperti surga. Kecemasan akan kemiskinan telah membuatnya berpendapat begitu. Kadang-kadang pendapat yang telah merasuki darah dagingnya itu, lantas diam-diam tumbuh menjadi ketakutannya pada setiap orang kaya. Terhadap bangunan rumah yang angkuh, seperti rumah pamannya ini pun ketakutan itu biasa muncul. Rumah yang persis di pojok sudut tekungan jalan, sehingga dari kedua arah bisa melihatnya bangunan itu, tertawa, senyum, angkuh atau berdiri dengan kesombongannya. Di depannya, terhampar rawa-rawa luas dengan burung-burung bangau istirahat di rerimbunan mencari makan, memperluas cakrawala pandang. Anak-anak di luar seperti di gelandangan saja. Di depan rawa-rawa kotor, mereka bermain kereta-keretaan di atas debu sisa residu dari pabrik.
Biru Langit bisa tinggal di keluarga itu karena kebaikan hati Prawira, pamannya.
Tidak tahulah, apakah ini suatu keuntungan atau bukan. Dia hanya berani tanyakan itu pada Prawira. Kenapa Prawira berbuat begitu baik terhadap keluarganya dan ternyata memang ini bukan yang pertama, kedua atau ketiga. ?Sejak bertahun-tahun lalu,? kata Prawira. Lantas yang diceritakannya bermula dari kisah seekor sapi milik Surat. ?Sudah puluhan tahun, semula ketika harta yang dihitung dari nilai jual seekor sapi milik ibumu dianggap raib, tiba-tiba muncul kembali. Dan tentunya dilihat dari nilai rupiah sekarang.? Biru Langit masih ingat bagaimana terjadi ketika itu. Sapi itu memang hampir terlupakan. Berapa harganya ketika kurang duapuluh tahun lalu tidaklah penting bagi ibu. Karena bagaimanapun itu mengharapkan sesuatu yang mustahil. Syukurlah ibu sendiri menyadarinya. Sapi itu betul-betul raib. Hanya suatu ketika saja bila perlu ibu menceritakan perihal sapi pada anak-anaknya. Bahwa ia pernah memelihara sapi. Kepada anak-anaknya pun jarang sekali ia ceritakan ssungguhnya. Takut kalau-kalau anaknya menganggap itu seperti mengharapkan bulan jatuh. Takut disebutnya mengenang harta milik masa lalu dan menyesali ketidakberdayaannya yang sekarang. Dan kejadiannya memang betul demikian. Sapi itu satu-satunya yang menujukkan ayah ibu Biru Langit dulu yang kelebihan. Bersama suaminya. Anak-anaknya, kata ibunya, hanya bisa tersinggung. Lantas darah tinggi suaminya kumat lagi. Hanya karena perihal sapi itu yang sepertinya tidak ikhlas lepas dari tangan Surat dan suaminya. Biru Langit dan saudara-saudara lainnya pun menangkap begitu, tapi bagaimana lagi sapi itu raib betul. Pemiliknya raib juga. Dari sini ikhlas atau tidak menjadi hal yang tidak penting. Itu mereka sadari hingga hampir duapuluh tahun.
?Sebenarnya ibumu tidak membiarkan sapinya dibawa orang yang pada akhirnya raib tanpa sepengetahuannya. Ayahmu juga tak diam jika akhirnya ia tahu sapinya dipinjam orang yang hendak raib,? kenang Prawira.
?Kata ibu sapinya saat itu tidaklah penting jika dibanding masa sekarang?betapapun sulitnya mengenang seekor sapi,? sela Biru Langit.
?Ibumu tidak akan tahu semua sebab-musababnya. Juga ayahmu. Hanya memaklumi hilangnya seekor sapi yang ketika itu hampir meninggalkan anak. Keduanya juga lupa siapa pertama kali meminjamkan sapi itu pada Ngali?lelaki yang masih punya hubungan darah dengan ibumu,? lanjut Prawira.
Memang dari sini terlihat Surat sendirilah sebagai cikal bakal sapi ini jadi urusan. Lalu seringkali terjadi saling tuduh persoalan sepele semacam begini dngan suaminya saat masih hidup. Andaikata si Ngali masih hidup, tntu ia sudah di ujung tanduk hidupnya. Surat tak pernah peduli hubungan darah Ngali dengannya. Laki-laki itu sudah mengantongi uang seekor sapi dan calon anaknya. Andaikata saat ini ia muncul, segera akan berurusan dengan polisi. Setidaknya pamong desa di sini. Biar mengumbar rasa malu, begitu kerapkali pikir Marsitun. Tapi semua itu tidaklah mungkin.
?Kukatakan pada ibumu, Apa di dunia ini yang tidak mungkin? Manusia mati memang tak bisa hidup lagi. Apalagi sapi. Tuhan berkehendak begitu. Tuhan juga berkehendak Ngali meninggalkan seorang anak. Sekarang sudah besar, perempuan, cantik, bersuami pegawai yang dandanannya selalu rapi. Sebagian tanahnya juga tinggalan bapaknya. Tetapi jangan lupa, yang ditinggalkan si mati bukan cuma harta kekayaannya, juga utangnya. Bahkan pula aib keluarga,? Prawiro mengenang ucapannya ketika kali pertama mengurus sapi Surat.
Prawiro berkata begitu pada Surat karena sungguh ia tahu. Sebagai saudara suaminya, Prawira tahu bagaimana transaksi sapi ketika itu. Hanya sebelum ini ia lupa sama sekali sebab memang tak punya urusan dengan itu. ?Sapi itu barang mahal kalau dianggap mahal. Murah jika dihitung murah. Dan ini bukan soal mahal atau murah. Di manapun tempatnya, di dunia maupun di akhirat yang namanya utang itu harus dibayar. Anak-cucu yang punya kewajiban untuk itu jika ditinggali utang. Ngali itu tinggalannya cukup. Kewajiban anaknya itu bukan tanggungannya sendiri. Jika ia lupa, yang tua-tua punya kewajiban mengingatkan,? tandas Prawira.
Kisah Prawira ini membuat Biru Langit sedikit tahu, pamannya seorang yang bersahaja.
?Aku pikir beruntunglah akhirnya paman mengingatkan,?
Waktu itu anak-anak Surat semakin bertambah tidak betah. Menjadi gampang tersinggung. Andaikata kelima anaknya mampu patungan membeli seekor sapi. Ah, kalau demikian jangan-jangan Surat sedang gila dengan sapi. Tapi semenjak lama rasa-rasanya ia tidak sedang membutuhkan sapi seekor pun dari anaknya. Surat tahu bagaimana hidup anak-anaknya. Yang merasa rendah diri, tersinggung, cepat marah. Surat tak pernah pula berkhayal hendak memiliki sapi lagi. Kendati udara bulan ini menyejukkan hidup setiap rojokoyo.
?Satu-satunya jalan, ibumu berharap ada orang yang membuka utang piutang ini. Atas dasar apa yang seringkali diutarakannya. Mudah-mudahan pintu itu menganga. Dan terbuka hatinya bagi keluarga Ngali. Surat mulai punya keyakinan untuk itu. Sebab setiap orang punya kewajiban untuk menjunjung tinggi nama baik keluarga. Apalagi Ngali laki-laki tanpa dosa yang semasa hidupnya taat dan di ujung kematiannya tubuhnya dirusak oleh segerombolan orang ktika ggr Gstok puluhan tahun lalu. Jasadnya dibuang entah kemana. Kasihan. Ibumu juga kasihan. Sama halnya dengan perasaan ayahmu. Anak-anak sprti kamu paling-paling kasihan sebatas tidak pernah tahu hidup bersama mendiang Ngali. Stiap malam ibumu hanya bergelut dengan rasa kasihan. Kalau tidak? Dimana ia harus menyimpan rasa kasihannya? Dimana dirinya tepat menempatkan perasaan itu menjelang malam ini. Makin dimakan waktu, rasa kasihan pada mendiang Ngali, makin membebani perjalanan kematiannya saudaranya itu dengan utang. Ataukah ibumu kasihan menagih utang karena dia perlu untuk itu? Sama saja baginya. Baginya utang tetap utang. Jika mau jujur saya kira suara hati ibumu yang akan keluar, ia butuh uang. Dengan begitu ia berharap dapat uang.?
Sudah keterlaluan Surat harus berucap demikian dalam hatinya: ?Setiap malam, mustinya terbukalah hati makluk-makluk Tuhan. Sedang dalam sebulan saja ada tigapuluh malam. Ya, Tuhan apakah Kau buat anak mendiang Ngali itu sungguh lupa? Aku memaklumi jika Kau lupakan ia. Seharusnya dialah yang berpikir tentang aku yang miskin ini. Bukan aku yang memikirkannya. Harusnya dialah yang tergerak hatinya membayar tinggalan utang. Bukan aku yang Kau paksa memintanya kembali. Sehingga aku berprasangka lain. Sampai setiap malam aku juga berpikir apa yang pertama kali dapat kulakukan esok paginya. Semuanya agar aku tak jatuh pada prasangka buruk-Mu. Demikian malam ini aku berpikir dan besok pagi kuserahkan segalanya pada-Mu. Kenapa tidak Kau buat Marsitun dan keluarganya lupa sekalian sehingga tidak sedemikian takut menghadapi kuasa-Mu.? Ini prnah trjadi di suatu malam yang kian kelam dengan jengkerik dan udara dingin. Pada waktu Prawira masih dalam mata hati Surat terlelap tidur di usia stngah tuanya. Sama halnya anak-anak mendiang Ngali. Dalam mata hati Surat ia memejamkan mata dengan selimut kehangatan. Demikian juga suaminya, kelima anaknya. Lalu Suratpun pun segera menyusul turut memejamkan mata. Tidur. Entahlah apa yang tengah terjadi semenjak malam memeluknya. Barangkali cuma mendiang Ngali yang tak juga jnak dalam tidur. Atau ia tengah bangun di antara tidur panjangnya? Tak satupun orang tahu.
?Kesokan harinya,? knang Prawira, ?Harapan ibumu segala persoalan menjadi terang. Ia merasa seolah hatinya mencair. Ibumu pasrah. Ia serahan segala sesuatunya padaku. Hebatnya dia percaya akan kebenaran di pihaknya. Tetapi, ia pun yakin semuanya benar dan keyakinan itu tidaklah akan sama-sama dipertahankan. Ada kebersamaan. Mencari kebenaran bersama, kesepakatan bersama karena ada yang harus dijaga. Yakni kekeluargaan. Tidak ada yang lebih tidak patut dari kerenggangan hubungan keluarga. Satru itu saru. Semua tahu itu. Lagipula ibmu sadar meski dirinya perlu sekali, uang bukan hal yang penting bagi anak-anak mendiang Ngali. Taruhlah sapi dan calon anaknya itu duaratus ribu. Ibumu pun tidak bisa berbuat banyak dengan sejumlah itu. Apakah lantas mampu mendudukan anak-anaknya jadi pegawai dngan jumlah uang itu? Kiranya tidak. Tiga-empat bulan tentu lenyaplah duaratus ribu. Uang mmang bukan hal penting. Hitung-hitung beramal baik sesama anggota keluarga sendiri. Ibumu terus berdoa satu hal hidup ini diindahkan. Ibumu tahu warisan seringkali jadi biang ketidakberesan. Dirinya tidak ingin begitu. Ia siap mengalah barang sedikit. Apa salahnya berbuat demikian. Sekali lagi demi menjaga nama baik hubungan keluarga. Kendati dengan dalih menjunjung tinggi leluhur keluarga, ibumu tidak melibatkan anak-anak dan ayahmu. Cukup dirinya sajalah. Karena itu ia sempat mengkuatirkan sumbangsih dari aku, Pakdmu. Tentu bisa jadi persoalan lain yang tidak kalah ruwetnya dari sekadar mencari kesepakatan nilai uang yang hendak diganti. Atau kesepakatan dalam bentuk apa nilai sebesar itu hendak diwujudkan. Hak waris itu urusan si mati dan yang ditinggalkan. Lain tidak. Ya, sumbangsihku tidak tanpa pamrih. Lantas apakah aku dikiranya berharap dapat kecipratan? Bukan berarti begitu. Ini mungkin karna ibumu ingin dituakan, karena telah melaksanakan sebagian kewajibannya. Untunglah dia lalu mafhum. Di sini ibumu merasa dirinya tidak jujur. Acapkali dalam situasi begini ia merasa seolah hatinya mencair. Pikirannya tidak. Di benaknya masih bergumpalan. Nyaris cuma tidur saja maunya.?
Prawira tunjukkan bagaimana dia sungguh-sungguh akan memenuhi janjinya.
?Saya panggil ibumu. Maksudku biar dia bicara langsung dengan anak mendiang Ngali. Ibumu menyusuri jalan belakang kebun. Kira-kira sepuluh menit jalan kaki. Pintu rumah itu agak menjorok ke dalam dari pagar. Surat berjanji tidak bakal menyiksa diri di rumah itu. Saya sendirian sudah ke tempat itu membicarakan hal yang sama. Jadi tentu bicara cepat soal sapi itu. Dan lekas ibumu bisa pulang. Saya prhatikan jari jemari ibumu ingin lekas terima uang ribuan. Dia sudah bosan seharian jualan daun pisang. Ia mau dagang yang lain. Sebelum ini, ibumu sudah mendengar bakal terima kurang lebih duaratus ribu rupiah. Bisa kamu banyangkan berapa hari dia harus tunggu jumlah itu bila dari ayahmu. Dia utarakan kabar itu biasa-biasa, harapannya dengan biasa-biasa, pasti jadi kenyataan. Tentu ibumu bakal ternganga dibuatnya. Oleh karena itu aku lebih banyak diam. Biarlah itu urusan yang berkepentingan. Yang penting ia sudah memberi jalan lempang. Entahlah, siapa tahu dalam hati Prawira merasa telah memperjuangkan setengah mati hak kakak dan keponakanku, meski dengan keringat yang tak deras mengucur. Sekaligus dalam hatiku berbicara. Berbicara dalam bahasa batin tentang alam setelah alam manusia. Tentang akhirat. Bahwa manusia mati bagaimanapun masih layak berhubungan dengan mereka yang masih hidup, sebagaimana di dunia boleh berjanji, saling menolong. Ya, begitulah kiranya.?
Selebihnya Biru Langit tahu siapa yang akan diceritakan Prawira, seperti pernah didengar dari ibunya. Yakni tentang istri Prawira, Yunani. Lantas Prawira ceritakan bagaimana anak mendiang Ngali bicara dengan Surat. Surat nampak tidak terlalu akrab. Memang jarang ia bertandang ke rumah itu. Apalagi tanpa urusan penting. Justru dengan Prawira terlihat baik sekali. Tentu bukan karena keduanya sudah saling ngobrol. Dan aneh sekali di mata hati Surat, anak perempuan mendiang Ngali ini tak terlalu cantik. Boleh dibilang sewot. Kalau ukuran kecantikan itu warna kulitnya yang putih, diakui memang. Perempuan itu terus bicara. Surat kurang peduli. ?Saya betul-betul minta maaf,? kata perempuan itu lembut. ?Pakde Prawira juga begitu. Kok tidak dari dulunya mengingatkan. Biar tak jadi masalah seperti ini,? katanya. Surat kelihatan malu. ?Kenapa berkata begitu? Mestinya kita sama-sama beruntung. Tuhan mengingatkan kita,? bgitu Prawira mnanggapi. Mendengar jawaban Prawira, hati Surat terasa diguyur air dingin. Sejuk. Surat menarik nafas dalam. Di pojok hatinya yang lain ada harapan besar. Dibuangnya pikiran bahwa ia sedang mengemis. Rasa malu disimpannya baik-baik. Surat keasyikan. Hampir saja telinganya tak sudi mendengarkan apapun kecuali perihal uang. Surat berprasangka, begitu pentingkah pilihan uang duaratus ribu? Kurang sedikit juga tidak apa? Lalu seberapa penting si suami bagi perempuan cantik hingga Surat harus bersusah payah duduk di tempat itu. Suruh saja Prawira bawa uang itu, bukankah sudah selesai? ?Saya sudah bicarakan dengan suami saya,? kata perempuan itu. ?Ia setuju. Utang harus dibayar. Tetapi suami saya mau menggantinya dengan sewa tanah empat tahun. Tanah belakang langgar itu. Katanya lagi daripada tidak sama sekali.?
Prawira gambarkan bagaimana raksi Surat mndngar itu. ?Daripada tidak sama sekali? Bgitu katanya. Ya, kenapa jauh berbeda dengan hitung-hitung beramal baik dengan keluarga sendiri? Tanah itu tidak bisa ditanami. Tanah itu penuh pasir dan batu kali. Tahun ini cuma duapuluh ribu dari hasil tebu. Lalu berapa untuk empat tahun? Ibumu pilih tidak sama sekali. Ibumu tak sudi menyiksa diri. Ibumu mau melompat saja dari kursi. Lekas keluar. Belum juga kesampaian maksudnya, mendadak ribuan kunang-kunang bersarang di rongga matanya. Perempuan itu masih memaksakan diri. Di luar ia hampir jatuh. Ada yang lain di pelupuk matanya. Ketika kutanya sehabis pingsan, apa kata ibumu??
?Apa, Pakde??
?Dia hanya melihat beberapa ekor sapi putih bersih.?
Tapi dalam hati Prawira curiga, jangan-jangan istrinyalah, Yunani yang mrmaksakan kehendaknya untuk itu.

Sebelas

DI MUKA rumah ada gudang dan toko milik Prawira yang dijaga laki-laki beberapa tahun lebih tua dari Biru Langit. Namanya, Bari. Entah siapa lengkapnya. Dia juga tinggal di situ. Sering juga dia harus menjaga gudang dan tokonya untuk Prawira dan istrinya.
Biru Langit masih mengenakan pakaian yang sejak pertama kali datang. Dengan pakaian dril kusam milik ayahnya, topi hitam yang hilang lakan beludrunya. Sepatu kumal pengganti sandal. Masih tersisa rasa canggung, sebagaimana kali pertama kaki menyetuh ubin bangunan yang persis museum tua, rasanya seperti anak-anak ayam berjingkrak di rumah majikan. Tentu saja tanpa dosa. Seperti pula kisah-kisah legenda rakyat laki-laki pribumi yang menawarkan jasa pada Tuan, Biru Langit datang dengan mengantongi kemauan untuk membantu kerja. Sama-sama rendah hati tanpa sedikitpun terlintas pikiran tentang rendah diri. Tentu ini khas anak muda. Orang tua boleh tidak suka. Beruntung sekali ketika penjaga gudang itu membawa pertanyaan perihal itu. ?Orang muda dulu kiranya punya prilaku seperti aku, baju yang kupakai baju ayahku.? Jika kalimat itu diteruskan tentu Biru Langit akan lebih kurang ajar. Misalnya begini: Paling kamu bekerja juga karena kebaikan bapak kamu!
Syukurlah, dipegangnya batok kepalanya, masih utuh. Cuma pikirannya yang tumbuh. Di hadapan pnjaga gudang itu, Biru Langit salaman gaya Jawa. Topi nyaris lupa dicabut. Untuk sementara pikirannya berpindah pada nasib sepatu di luar teras. Padahal gerimis. Lima menit lagi dia tahu apa yang diperbuat atas nasib sepatu kulit coklat tua bekas pengganti sandal itu. Tiba-tiba dari luar laki-laki panjaga gudang yang dari tadi terus memandanginya itu, terusik. ?Sepatu!? Biru Langit tentu tahu apa yang dibenak laki-laki itu selama terus memandangi dirinya. Kasihan. Sedangkan Biru Langit cemas. Mencemaskan baju, sepatu, topi. Lantas kembali aku dihadapannya, siap dinikmati lagi. Dia punya istri yang seagama. Dua-duanya masih punya orangtua. Tapi tidak pernah bermasalah. Justru yang menjadi masalah adalah bagaimana bisa dia itu bekerja di gudang milik Prawira, pamannya.
?Ya, bagaimana bisa?? tanya Biru Langit.
Laki-laki ini nampaknya keras kepala karena tidak segera menjawab pertanyaan Biru Langit. Ini terbukti ketika dia menginginkan Biru Langit mendengar awal mula pernikahannya.
?Kami menikah dengan upacara yang mewah tanpa kehadiran orangtua. Cukup beberapa orang saksi dan mengundang beberapa orang santri. Jika mau jujur sungguh tidak ada hal yang istimewa. Bahkan bagiku suatu lelucon. Sering aku ngakak dalam kesedihan. Lihat, Mak! Anakmu bergelimang dengan pesta. Sedang istriku yang sejak itu kupanggil dengan Seruling makin rajin menciumiku dari belakang. Dia berani, karena dua tahun jauh lebih tua. Sungguh, tidak ada yang istimewa hingga aku dianggap Dewa. Bagi istrku dunia ini begitu indah tanpa cacat. Padahal, sehari-harinya aku hanya mengoleksi barang-barang milik bapak dalam kopor. Terakhir, sepatu kulit yang dulu dipakai menghadiri upacara-upacara hari koarpri di kecamatan oleh ibu. Karena ibu bekas tukang sapu, kecuali di andang sepeda terselip sapu tidak ketinggalan topi. Melajulah sepeda Jawa buntut! Kring! Kring! Sepatu itu pula yang kuberikan pada istriku, dan aku katakan padanya, ini sudah kubeli bertahun-tahun lalu hanya untuk calon istriku kelak. Kamulah orangnya sekarang, begitu kataku.?
Selama ngobrol itu, laki-laki yang ternyata menarik simpati Biru Langit itu, menulisi dalam buku catatannya, barang-barang isi gudang dengan lincah. Nampak ia cukup berpengalaman dalam urusan pekerjaannya. Sebetulnya, laki-laki ini lebih berperawakan sebagai majikan daripada Yunani. Orangnya lucu, hatinya terbuka dan sepertinya ia punya pandangan setiap manusia di hadapan Tuhan itu sama. Tidak ada orang miskin-kaya, buruh-majikan, nyonya rumah dan tukang masak. Tiba-tiba dari arah tembok samping terdengar suara istri Prawira, entah apa yang dibicarakan perempuan itu. Bari asal bicara saja, ?Jangan Asem? Panggang Cumi-Cumi? Gule Kambing? Cap Jay? Sop Ayam? Aku nggak dengar!? Lantas dia tertawa. Biru Langit mendadak ikut tertawa. Itulah rasanya kali pertama anak itu tertawa sepanjang waktu dalam ingatannya. Suara dari tape recorder dengan kaset-kaset dangdut terbaru tiga hari tiga malam belum juga istirahat. Sekali-sekali lagu cinta penyanyi legendaris Elvis Presley Love Me Tender diputar-putar ulang sampai ringsek. Bari tidak pernah peduli dia dengarkan sendiri ataukah tidak, yang penting dia putar kaset-kaset itu.
Kisah aksi peluk cium tengkuk dan cuping telinga suami-istri berlanjut lagi.
?Justru makin lama aku makin tidak merasa apa-apa. Tangan Seruling yang hitam kekar bagiku terkesan kelembutan yang dipaksa. Sebagai putri seorang petani penggarap, ia terlampau kasar. Persis ibunya. Begitulah, sampai bulan madu pertama kami pun, aku masih disibukkan oleh pikiran-pikiran yang berbeda sekali dengan istriku. Dalam otakku, aku menginginkan sesuatu hal kekerasan. Dunia bagiku adalah sesuatu yang keras, kejam dan kasar. Sedang istriku memilih kelembutan. Kelembutan anak petani kaya yang tiap hari bergumul dengan lumpur dan berjemur di terik matahari. Aku tambah ngakak ingat petuah ibu mertua dulu jauh hari sebelum kami menikah: jodoh tidak harus sama! Kami bulan madu dengan sisa wesel oma Seruling lma puluh gulden dari negeri Belanda. Sehabis dipotong segala macam di Bank, kurang lebih tinggallah enampuluh ribu rupiah. Kami mengunjungi sebuah museum sejarah di Solo. Bukan pilihanku tapi pilihan Seruling. Kukira ini semua tahu. Aku tidak terbiasa menghadapi pilihan-pilihan. Alasannya dulu oma kerap pula pergi ke tempat ini. Katanya baru kali ini Seruling bisa menikmati keindahan museum ketika bersama aku. Aku cuma tersenyum. Aku sendiri tidak tahu apa-apa kecuali heran dan berdecak kagum. Saban kali ke tempat itu, oma Seruling pasti mencoba memukul gamelan ini. Aku tahu dari kata Seruling. Padahal seperangkat gamelan itu sudah berserakan dan penuh debu. Bule itu kurang ajar juga, pikirku. Sudah tahu di pinggir balkon ditulis ?dilarang memukul gamelan, masih juga nylandit. Aku belum pernah kenal oma Seruling. Kupikir tentu seperti ibu Seruling, pekerja keras dan asal tukang perintah. Seruling membawaku melihat jung, perahu cadik berkepala naga. Lampu-lampu gelap dan dupa sesaji membuatku bergidik. Lalu Seruling menggandengku mendekati cupu lonjong, lemari jam besar peninggalan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono. Habis itu aku lupa. Yang kuingat, aku selalu diperlukannya seperti sebuah boneka mainan. Di tempat umum, sering aku diciuminya di entah bagian mana saja, asal kena dan aku diletakkannya di tempat yang tinggi-tinggi. Nyaris seperti benda antik di museum yang ditaruh di kaca showcase. Seruling jarang sekali cerita perihal bapak-ibu. Barangkali ia takut dirinya kucurigai merendahkan aku. Tapi mungkin juga Seruling takut kepergok bahwa ia sebetulnya tidak sanggup hidup sendiri. Seruling hidup dan bisa berbuat apa saja lantaran bapak ibunya?seorang petani penggarap, pekerja keras.?
?Kamu belum jawab pertanyaanku, Bari.?
?Tunggu dulu,? jawabnya.
Sesudah mengatur letak satu karung gabah kering, kembali Bari bercerita.
?Di tempat itu pula, dulunya pertama kali ia bilang, ?Aku mencintaimu, Sayang. Itu sebabnya kamu kubawa kemari.?
?Lalu? Hanya itu saja?? bagian ini nampaknya menarik hati Biru Langit.
?Oh, tidak. Di situ lama kami berdiri di muka cupu lonjong. Bahkan seringkali mengganggu pengunjung lain. Lantas mereka mengalah. Lenyap begitu saja. Seorang bocah kecil menubruk lututku. Tenang, orangtuanya. Usai meminta maaf lantas amblas. Sudah itu, Suruling mengatakan keinginannya?Aku ingin kamu bekerja keras seperti bapak, membantu menggarap sawah, sampai umurku yang ke duapuluh enam, cuma engkau yang sudi jadi suamiku. Aku perawan tua, Sayang. Seruling makin erat menggenggam tanganku. Itu yang aku suka. Kalimat-kalimatnya selalu betul dan jujur kemudian selalu dibuntuti tawa cekikikan yang seolah menganggap itu semua main-main. Kupikir Seruling perempuan yang kupacari dengan tidak sengaja yang rendah hati pula dan menempatkan aku suaminya, sungguh-sungguh tiang besar. Hebat bukan??
Selama dipacari gadis Seruling itu, Bari juga katakan dia melupakanku sejenak perihal sepeda bapaknya yang sudah lama dipakainya untuk jualan tembakau keliling. Sesekali bapak mengenakan baju korpri, tapi habis pensiun tak jarang digunakannya untuk penutup kain tidur. Dunia apa ini sebetulnya! Terasa sekali makin penuh sesak basa-basi lama. ?Aku demikian benci mertuaku yang semenjak dulu memandang bajuku, serbet bekas. Tapi di hadapan putrinya musti kukatakan: Aku menaruh hormat pada ibu-bapak orangtua yang pintar mendidik anak hingga betul-betul jadi orang. Ini semata-mata untuk membalas kebanggaannya terhadap aku kemudian seperti sekarang kukawini putrinya dan memberlakukan aku bagai seorang Raja. Ini saja aku curi pendapatnya dari Seruling. Berulang kali dia berujar: Raja harus bekerja keras. Ketika kutanya dari mana Seruling mempelajari kata-kata itu, katanya dia belajar dari oma. Kata yang juga diajarkan oma pada ibu Seruling?perempuan bukan Jawa yang kubenci, kendatipun sebetulnya hatinya bersih. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa memperistri Seruling. Kupikir betul juga oma. Museum itu peninggalan orang-orang yang suka bekerja keras. Selain itu aku pikir juga betapa mbuletnya asal-usul raja itu.?
Di benak Biru Langit pada waktu Bari mengatakan, ?Orang yang bekerja keras buahnya kehormatan,? dia seperti kalimatnya sendiri dan sepertinya di bukan anak menantu seorang petani. Dugaan Biru Langit salah karena itu juga untaian kata dari perempuan Seruling yang lebih sebagai putri seorang sinyo Belanda. ?Tapi bayangkan jika seruling berujar begini: Jika setiap kali suamiku pulang kerja, dari ladang mengayun cangkul, aku akan memijitnya dengan sedikit balsem, kubuatkan suamiku wedang jahe biar tubuhnya hangat lalu aku akan tidur di dekatnya. Apa pendapat kamu?? justru Biru Langit kena sasaran. Dia harus jawab pertanyaan yang kurang dia mengerti betul itu.
?Sungguh, ini bukanlah sebuah negeri impian,? lanjutnya. ?Sering dalam suasana hening Seruling menanyakan pendapatku tentang cinta. Lalu aku jawab dengan sesuatu yan amat kabur. Sebetulnya aku bisa menjawabnya dengan sesuatu yang lebih gamblang. Misalnya, kerja. Tapi aku takut perempuanku tersinggung. Mertuaku sendiri kerap kudengar tanpa pertanyaan semacam itu kadang-kadang main tendang pintu, perabot-perabot dapur ringsek terbanting. Kalau istriku mendesak, kujawab dengan tawa cekikikan dan main-main. Kukatakan padanya bahwa cinta adalah bahasa-bahasa tubuh, ciuman, saling gosok, saling tindih dan saling ringsek. Bukankah bahasa-bahasa tubuh semacam itulah yang sesungguhnya memberatkan kami untuk saling berpisah? Begitu sederhana.
?Apakah aku masih lama menunggu pertanyaanku kamu jawab?? watak asli Biru Langit mulai muncul. Dia nampak tidak sabar.
?Begitulah. Tubuhku kian hari malah bertambah kurus. Lain sekali dengan tubuh dan perut Seruling. Semakin anakku mendekati lahir, tubuhku makin kurus kering. Ibu mertua dan bapak berharap betul anak Seruling laki-laki. Sama juga dengan istriku. Sedang aku tidak berharap apa-apa. Akhirnya anak kami lahir perempuan. Aneh, semenjak itu ibu mertua sedikit berubah lunak. Barangkali ia cukup mengerti sikapku saat aku diam ketika yang lain ribut berharap anakku lahir laki-laki. Entah mengapa sejak punya anak, aku terus teringat bocah kecil yang menubruk lututku di museum setahun lalu, lantas kupelototi ibunya. Aku tahu jika anakku lahir laki-laki, kelak besar bakal didaftar ke dinas tentara. Dua adik Seruling sudah lebih dulu. Cuma mau memburu kehormatan. Kini bayangkan jika aku sendirian di museum tua ini. Betapa tubuhku karatan dan penuh debu. Segala pikiran segera kubuang karena aku teringat hal lain jauh sebelumaku bulan madu di museum. Ini sering kuutarakan pada istriku?Seruling, aku ingin melahirkan anak-anakku lewat rahimmu. Akh, basa-basi apa lagi ini. Sungguh ini bukan sebuah negeri impian. Semenjak anakku lahir dan ibu mertua berubah, aku gampang sekali tersinggung.?
?Bari! Bari!? suara datang seperti dari dua arah.
?Kamu masih belum jawab?? Biru Langit mendesak.
Perempuan Yunani, asal sumber suara itu terus tak bergeming. Bari panik karena suara itu seperti lengking tangis bayi yang khas, yang mengingatkannya pada anaknya. Jantungya agaknya berdetak keras. Tepat saat itu kabel televisi dan tape recorder begitu saja dia cabut. Padahal jaringan televisi milik pemerintah tengah menayangkan nukilan film tentang dua budak pelarian Afrika yang diburu pasukan bayaran bersenjata dan menunggang kuda. Bayangan laki-laki itu sepertinya sedang berhadapan dengan dua sersan tentara berseragam. Bari kelimpungan. Dikupingnya, serasa ada sebuah pukulan tajam.
?Aku sendiri tidak tahu apakah Seruling masih istriku atau bukan??
?Lho, kamu merasa jadi suaminya apa, nggak?? Biru Langit berniat bantu pecahkan masalah.
?Kamu tahu, aku ini sesungguhnya cuma jongos Seruling, ibu dan bapaknya. Aku pesuruh!? Dia menunjukkan kegeraman.
?Pak! Ini bagaimana pesuruhmu ini, mau melawan. Dipanggil nggak nyahut-nyahut!? Yunani nyaris teriak dan membusungkan dada. Untung waktu itu, suaminya tak juga nongol. Jika tidak, tentu masalah tidak kalah ruwet dengan soal laki-laki macam begini. ?Mertuamu cari kamu karena kamu nggak ngurus surat cerai istrimu. Apa kamu nggak punya duit, ha??
Bari diam saja dan cuma memandangi Biru Langit.
?Kamu juga!? giliran Yunani melototi Biru Langit. ?Ngobrol dengan Bari. Jangan dicontoh itu anak. Dasar anak tak tahu diuntung! Istrinya juga. Harusnya bersyukur. Sudah perawan tua?!?
Entah setelah itu bicara apa. Dia baru berhenti sehabis Biru Langit sudah tak mendengar apa-apa. Lantas dia nylonong pergi. Pintu kamar Bari dibanting. Bruugg!! Rupanya sisa tumit sandal menyumbat lubang pintu. Bari membanting diri, menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Menimbulkan bunyi reot ranjang kayu. Barangkali ini disengaja. Seperti tidak tahu saja watak Bari. Banyak melucu.
?Kasihan, Raja yang malang,? pikir Biru Langit.
Raja yang pemberani memperistri putri Seruling, putri yang membuat ciut nyali setiap lelaki yang mau mendekati dia. Ngilu melihat kuku yang tajam mencengkeram nasib. Biru Langit terus membolak-balik pikirannya. Lucu memang dan sungguh ini bukanlah sebuah negeri impian.
?Kang Bari!? giliran suara Seruling yang di kuping Bari.
Tidak cuma di kuping laki-laki itu. Biru Langit mendengar pula. Ini fakta. Biru Langit mendengar suara istrinya. Terlihat istrinya menampakkan gigi-giginya yang utuh dan putih. Ketika melongok keluar jendela, bagi Bari semuanya tetap seperti dulu. Tidak berubah. Masih terdengar suara mertuanya?Suruh suamimu ke ladang. Laki-laki seperti perempuan saja.!
?Bagaimana apakah aku masih perlu jawab pertanyaanmu??
?Ya, aku sudah tahu semua?? jawab Biru Langit.
?Apa itu?? Bari memancing.
?Apakah aku perlu ceritakan kembali kisahmu itu??
Kemudian, dua-duanya tertawa meledak.

Duabelas

GUDANG dan toko depan rumah besarnya, itu pertanda keluarga Prawira telah gagah mengarungi bahtera. Gudang tempat menyimpan hasil bumi tanah tegal dan sawah tak pernah sepi dari isi. Toko yang menjual perkakas rumah, peralatan dapur, sembako dan keperluan lainnya lebih dari cukup untuk menggantikan pekerjaannya yang telah hilang bertahun-tahun lalu?dia sendiri menyebutnya ini musibah yang anehnya tak ia ketahui ujung pangkalnya. Sebab itu kepada siapa saja, Prawira selalu murah memberi nasehat agar berhati-hati dalam setiap kerja. Dan dia pun tak segan-segan mencontohkan dirinya. ?Musibah itu datang tak pernah diundang,? katanya. Musibah pula yang bagi Prawira tak pernah bisa dihapuskan dari garis-garis hidupnya.
?Waktu itu aku baru duapuluh nam tahun ktika masih bekerja sebagai juru tulis di pabrik gula Presil, Jengkol. Namun karena pekerjaanku tak di lapangan, orang tentu menyangka umurku baru sembilanbelas atau duapuluh tahun. Pada waktu geger Gestok, tak seorangpun karyawan yang berani pulang dan meninggalkan pabrik. Termasuk aku. Untuk makan pun, tak berani. Apalagi rumahku yang dulu dibatasi jalanan beraspal kecil yang orang tahu sebelah timur jalan sudah telanjur di cap desa BTI 43) terutama oleh orang-orang santri dan tentara,? tutur Prawira.
?Jadi memang benar Pakde orang PKI?? Biru Langit terperanjat karena apa yang dia tahu tentang PKI adalah setan yang membangkang perintah Tuhan.
?Aku memang tinggal di kampungnya orang PKI dan aku tidak tahu menahu PKI. Yang aku tahu bagaimana cara-cara mereka nyrobot tanah orang. Aku tahu sendiri itu di Jengkol,? Ujar Prawira.
?Bagaimana, Pakde??
?Kejam. Benar-benar cara komunis. Menguasai tanah-tanah perkebunan dan membunuh yang melawan. Tidak ada alasan bagiku untuk ikut-ikut dengan mereka.?
?Lantas? Dipaksa??
?Tidak. Justru aku jadi korban. Beberapa bulan berikutnya, pecahlah geger Gestok. Banyak orang yang mereka anggap komunis dibunuhi oleh alap-alap samber nyowo. Orang-orang bringas dengan ikat sarung di pinggang, ikat kepala dan sebilah pedang mengndarai truk meraung-raung dengan di pojok-pojok kampung, menangkapi ke rumah-rumah penduduk. Hampir sepertiga laki-laki di timur jalan itu hilang setelah beberapa kali truk itu berhenti di pojok jalan kampung. Mereka dikumpulkan di suatu tempat sebelum akhirnya setiap malam dihilangkan, dibunuhi seperti kambing.?
?Dimana Pakde saat terjadi itu??
?Pakde di dalam pabrik. Lima hari lima malam lamanya, tidak makan.?
?Bagaimana Pakde tahu??
?Budemu yang cerita. Karena Bude masih sempat pergi ke pasar sesudahnya. Pedagang pasar di situ katanya hilang 40 orang tanpa kabar.?
?Jadi Pakde sungguh-sungguh tidak tahu??
?Ya. Bahkan Budemu lah orang yang menyembunyikan adiknya di dalam gudang. Sampai pucat juga karna tak doyan makan. Itu terjadi sehari sesudah tentara menyerbu. Itu belum cukup karena orang-orang membawa pedang itu masih minta sumbangan perempuan-perempuan dua ceret kopi tiap malam, juga nasi bungkusan.?
?Pada saat Pakde nggak doyan makan??
?Ya. Begitulah kenyataannya. Setelah waktu berganti, bisa keluar dari pabrik dan setelah pimpinan pabrik pun diganti beberapa bulan kemudian, Pakde sudah dipulangkan karena pekerjaan sudah diisi orang. Begitulah aku akhirnya pindah ke sini dengan sedikit sisa pesangon. Bisa hidup setelah membeli sawah dan bisa hidup. Ada ratusan karyawan yang diperlakukan seperti aku. Untungnya, sebelum meninggalkan pabrik aku sempat memasukkan orang-orang yang masih saudara dekatku. Sekarang mereka masih bekerja dan bisa makan dari hasil pekerjaannya maupun uang pensiunannya,? kenang Prawira.
?Menjelang petang, beberapa orang pulang dari sawah dan makan di belakang rumah, siapa mereka Pakde??
?Buruh tani. Mereka sama seperti kita orang-orang yang terbuang. Mereka aku pekerjakan untuk menggarap sawah di sini.?
?Orang-orang terbuang? Apa sebabnya??
?Itu tidak penting untuk diperdebatkan. Tapi bila waktu mereka senggang bicaralah sendiri pada mereka. Asal tahu saja, orang-orang itu sulit untuk bicara, karna penderitaan telah mengajarkannya begitu?? tegas Prawira.
Waktu petang tiba. Bulan sabit menyisir rambut pohon-pohon. Matanya persis parang. Mengancam. Lolong anjing, kakak gagak. Antara gelap dan terang. Semenjak banyak cerita saudaranya saudaranya dibunuh, sungai licin yang mengalirkan air bening di hadapannya srasa kadang-kadang berubah menggiring darah. Bongkahan batu seperti potongan bangkai-bangkai busuk. Antara senja dan malam. Bulan bertengger dan trlihat airmatanya jatuh di tulang lipatan daun-daun. ?Di situlah di gubuk kecil berdinding kayu. Kutemukan saudara Abahku yang hilang, di sini. Ketika ada revolusi penyerobotan tanah. Jelas sudah! Kutemukan juga anjing galak, gagak,? tutur buruh tani yang mngaku brnama Katam itu.
Biru Langit juga mlihat bulan sabit di kebun karet mungkin sama dengan di kampung, di kebun tebu, kebun teh. Kali kecil yang mengalirkan air bening kejatuhan cahaya bulan persis genangan darah campur pasir, abu dan debu. Anjing-anjing terus menyalak. Burung-burung gagak tetap mengakak. Katam tersinggung ketika Biru Langit mengatai bulan sabit seperti itu. Sebagai orang yang sinting, usai menghardik Biru Langit, Katam lama terdiam. Barangkali dia kecewa. Menyesal? Tidak sampai hati? Dia cuma melihat kiri-kanan, ilalang, tanggul, batu-bata yang ditumbuhi kumis kucing kering. Remang-remang. Dia cuek Biru Langit ganti kecewa. Laki-laki itu kembali terdiam. Walaupun bicara seperti bicara sendiri atau entah bicara dengan siapa aku tidak tahu. Dhemit? Peri? Siluman? Persetan! Ya, setan
?Semula aku tak mau pulang. Begitu kutemukan kubur saudaraku yang hilang.?
Berhati dingin juga laki-laki itu. Tapi cengeng. Biru Langit terus membujuk dia untuk cerita tentang kuburan massal itu. Masih diseroboti lolong anjing. Biru Langit cerita pula hikmah saudara bagi hidup. Hidup menjelang di usia senja. Laki-laki itu sama sekali tidak respek. Istilah usia senja, tua, kesediahan, terkesan dibuat-buat. Dia tidak tersentuh. Laki-laki itu sudah kebal dengan urusan manusia, basa-basi, bahkan saudara. Barangkali kepala telah lama batu!
?Begtulah bapakku tidak hormat pada saudara. Sudah aku tunjukkan tempat kuburnya, masih juga tidak mau kirim doa.?
?Karena itu Anda tinggal di sana?? kalimat Biru Langit meluncur enteng tanpa arti.
?Ya. Dulu dia dikubur massal di kebun karet sebelah jembatan.? Katam mencari tempat untuk jadi sasaran.
Remang-remang Katam melirik ke arah bulan sabit sering dia kenal ketika terganggu daun-daun karet yang bergoyang. Biarpun tetap omong besar. Tapi bolehlah, cuma karena itu dia memilih tetap tinggal di kebun karet. Di benak Biru Langit sudah jadi kampung siluman. Bulan sabit amat lambat merayap. Malam seperti tidak bergeser. Cuma suara-suara amat banyak, rumit dan membingungkan. Tak bisa dihitung jumlahnya. Jauh lebih ngeri mendengar suara-suara daripada cerita atau melihat susuatu benda. Laki-laki itu terus memuji-muji aku, melambungkan aku mendekati bulan sabit.
?Suatu ktika mendadak rumah kayu tmpat saya tinggal serasa dilempari kelereng.?
?Siapa!!!?
?Ada tamu. Tetangga. Ya, orang-orang itu. Orang-orang yang kehilangan kaki, tangan, perutnya robek, kepalanya berdarah. Kerjanya meringis, menahan perih. Tak pernah dijenguk, tak pernah dikirimi doa keluarganya.?
?Terus??
?Anhnya, mereka semua baik-baik. Aku sering bertemu mereka, juga saudara kandung bapakku. Sekali waktu aku datang mengambarkan banjir segera datang di kampung ini. Sesuatu yang masuk akal sebetulnya, di kebun karet lereng Kelud itu, ada kali yang melintas di kampung ini. Ternyata benar. Tapi orang-orang sudah telanjur mencap aku bermulut besar,? begitu kata Katam.
?Bagaimana dengan kuburan massal itu??
?Tak seorang pun yang percaya. Cuma aku yang tetap kirim doa. Sampai aku pindah kemari justru aku dianggab orang gila.?
Diceritakannya, kali terakhir dia ke sana, hendak mengirim doa ke mendiang saudara ayahnya tempat itu sudah penuh sampah dan baunya entah sampai di hidungnya perlahan-lahan berubah amis darah. Doa dan kembang bercampur sampah terbang ke arah bulan sabit. Dari ujungnya terus-menerus meneteskan air mata. Jatuh di lipatan tulang punggung daun-daun di kebun karet, meresap lewat celah-celah di tubuh pohon karet.
?Aku pilih disebut otak karet, ketimbang dianggap orang gila.?
?Oh,ya??

Tigabelas

BERIKUT ini kisah buruh tani, Kang Cecep anak seorang algojo pembunuh massa, sesudah peristiwa Kanigoro 44) seperti dituturkan kepada Biru Langit:
?Siapa nama bapakmu?? Biru Langit terpancing
?Matkur,? Jawabnya. ?Waktu itu, bapakku cuma disuruh. Yang menyuruh santri-santri. Bila menjelang malam bapakku harus ikut patroli. Tahu patroli apa itu?? kenang Kang Cecep.
?Ya.?
?Patroli menculik orang-orang yang rumahnya sudah ditandai sebelumnya. Mereka dikumpulkan dan lalu dibunuh di suatu tempat tersmbunyi dan kuburnya tiada yang mengetahui sampai sekarang. Bapak pernah ceritakan itu, dia tak pernah peduli rumah siapa itu yang sudah diberi tanda. Tidak peduli orang itu orang komunis betul atau cuma ikut-ikutan latihan baris di jalanan desa. Di kelak kemudian hari dia tahu ternyata banyak yang korban salah bunuh. Kamu tahu apa yang terjadi dengan bapakku??
?Kenapa, Kang??
?Karena saudaranya sendiri juga diabunuh.?
?Lalu?
?Bebrapa bulan sesudah peristiwa itu, bapak linglung selama hidupnya. Linglung karena tak seorangpun kemudian berani bicara padanya, padahal dia sungguh ingin bicara apa adanya, bahwa Abah Matkur hanya orang suruhan,? ujar Kang Cecep mengenang kisah bapaknya.
Bulan Oktober hawa dingin dan langit redup. Kampung ini seperti diselimuti nasib buruk yang banyak membuat Kang Cecep merenung, mengenang masa paling berkesan dengan Abahnya yang telah mati suri. Sesuatu pekerjaan yang tak begitu sulit karena nyata-nyata hidup Abahnya hanya sepenggal saja sebelum ia linglung.
Ketika masih di usia yang amat muda, berbekal uang hasil jualan kerbau milik Abah Matkur, Kang Cecep terjebak di ?kamar gas? terdampar di pinggiran kota, lalu jualan bakwan, punya anak, punya istri dan punya rumah kecil yang diabangun sehabis kontrak sepetak kamar sempit bersebelahan kali kecil sarang sampah dan nyamuk. Jatuh bangun. Lumrah! Kemudian jatuh sungguhan. Pailit. Lantas pulang kampung, roboh di dengkul mertua. Bentrok. Lalu Kang Cecep menceraikan istrinya tanpa surat resmi. Sekujur tubuh anaknya yang telantar penuh koreng, dikerubuti lalat berkaki serabut, menyaruk dengan tarian yang fantastik Luar biasa. Kerbau itu tak akan pulang balik. Dulu Abahnya tidak ikhlas betul. Kerbau sengaja dibawa kabur dan dilelang.
?Aku pernah terdampar di pinggir kota nyamuk dan jualan bakwan. Ini dosa besar orang-orang pendahuluku, ibu-bapak tidak mendekte untuk saling tahu sejarah saudara sanak famili kami. Jika sungguh mendesak, menyesak, baru kami dipaksa tahu diri. Akibatnya, sering muncul dugaan-dugaan yang terkadang didorong pikiran-pikiran buruk cuma untuk melindungi diri dari hal yang lebih busuk. Persetan dengan itu,? kisahnya.
?Kulihat garis lengkung telapak tangan Kang Cecep hitam gelap,? Biru Langit memancing suatu pembicaraan.
?Aku cuma ingin ceritakan padamu. Aku tahu betul kamu buta tukang bakso.?
Kalimat Kang Cecep terpotong diserobot bunyi gelas-gelas beradu es batu, direbut suara iklan dari radio transistor bekas. Biru Langit dipersilakan minum. Selebihnya dia takut justru bakal menyinggung perasaannya. Biru Langit tahu laki-laki dengan garis hidup yang hitam legam cepat naik darah. Muntap. Dia laki-laki, dalam hal begini laki-lakilah yang cepat sekali tersinggung. Biru Langit juga tahu setiap pedagang harus punya daya tarik tersendiri untuk sanggup menyedot sorot mata-telinga calon pembeli. Di jalan banyak memberikan contoh pedagang asongan, penjual es krim, bakwan, krupuk, minyak srimpi, obat kuat, jamu pegalinu gendong, obat racun tikus. Waktuku demikian hebat tersedot untuk Kang Cecep. Siang, malam, pagi dan sore. Suatu ketika pernah diakatakan punya tenggorokan yang persis mesin pabrik?jika tak diberi oli, kering, serak, seret! Siang yang pengap Kang Cecep digiring untuk bicara soal ?keanehan? dia selama jualan bakwan. Kang Cecep tidak tersinggung. Justu lelaki itu mengoreksi kalimat-kalimat salah Biru Langit tentang apa yang dikatakan orang lain tntang dia. Hanya saja Kang Cecep tidak banyak bicara. Sepertinya ada sesuatu yang sengaja disembunyikannya. Untuk itu, Kang Cecep lebih berhati-hati. Dia tahu betul Biru Langit tengah memancing di air keruh. Siang yang pengap tidak berhasil membuat Kang Cecep berang. ?Berkah memang selalu berpihak pada Kang Cecep. Tapi tidak untuk seterusnya,? begitu katanya. Biru Langit pura-pura sungguh buta hal sebenarnya yang melindas remukkan Kang Cecep. Siang yang pengap masih tidak berhasil membuat Kang Cecep naik pitam. Biru Langit juga tidak terlampau dungu untuk tahu bahwa: ?Rombong selalu pulang kosong tanpa isi,? kata orang.
Bayang-bayang tetangga sering muncul berkelebat. Kabar burung mau tak mau mendesak otak Biru Langit tidak kalah garang di luar jangkauan kehendaknya. Kembali naluri pedagang merasuk. Dihitung dengan angka-angka. Di tempat hiburan, digambarkan Kang Cecep memasang harga seenak udel. Sehabis dikumpulkan dari berbagai dugaan, akhirnya Biru Langit punya simpulkan: Betul. Aku memang tidak berupaya menanyakan langsung perihal ini. Kang cecep ceita sendiri dan Biru Langit kian membumbung tinggi hati. Dugaannya selalu tepat. Laki-laki seperti Kang Cecep memang siap menjalani hidup apapun. Biru Langit melangit, merasa kenal betul dengan lelaki bekas tukang bakwan. Dengan gampang dia bisa menyimpulkan dari orang-orang yang dikenal, tetangga atau dari buku-buku. Dia leluasa mengotak-atik sendiri segala hal tentang Kang Cecep sampai jauh di luar batas. Sampai dia lupa telah dipertemukan dalam suasana yang amat terpaksa dan sama-sama membuat kami terpukul bingung: Sama-sama jadi orang terbuang dan kini di rumah keluarga Prawira.
?Aku kepalang basah kuyup nekad menduga dengan tingkat kekurangajaran yang memuncak: Jika daging bakwan Kang Cecep dicampur aduk daging anjing dan tikus? Bagaimana?? pikir Biru Langit.
Itu baru dugaan. Ingat bakwan, selalu yang ada di pikiran Biru Langit kedua binatang mengendus di tempat sampah busuk dan got-got pesing itu. Dia tidak suka bakwan. Kang Cecep menyita rasa kasihan Biru Langit. Seperti dia sendiri mengasihani Abah Matkur, bapaknya. Sebentar saja diatinggal, karpet alas kasur penuh tahi, air kencing diabetes millitus dan masuk angin. Disebut pakai kata asing, penyakit itu makin seperti hantu kematian. Aku miskin rasa kasih itu. Tapi untuk bisa terus hidup, anggap sajalah een rimpeltje in de oceaan, ini riak kecil di tengah keluasan samudra. Betapa sepele. Kerbau tidak akan kembali sendirian. Umur orang? Nasib orang? Tentu tidak. Kini menyiksa sungguh. Abah Matkur jatuh meluncur ke bawah. Miskin dan jompo. Melilit, menyesak di batang tubuh kerempeng. Abah Matkur dikirim ke T4, sanatorium tempat penampungan orang tua jompo dan telantar di rumah sakit Dr. Soetomo. Ditolak. Saat dikirim ke Yayasan Bakti Luhur, Malang ditampiknya pula. Alasannya, stroke telah menggerogot dan mematikan seperoh tubuh Abah Matkur. Cuma Kang Cecep yang sanggup ngurus Abah Matkur. Tidak kesepuluh anaknya yang lain. Tak ada bekas Kang Cecep membawa kabur kerbau.
?Abah Matkur jompo! Abah Matkur Jompo! Tidak tersimpan sisa kekuatan untuk meletupkan kembali kebengisan. Abah Matkur jompo tak sanggup melihat. Malas salaman pakai tangan, pakai kaki saja. Kepulanganku di rumah disambut dengan kaki. Tidur tidak sanggup membujur, bersijingkat, menggerakkan kaki dan tangan, pakai sandal lalu berjalan ke kamar mandi. Tidak! Terlukis seperti masa silam yang menangis,? kluh Kang Cecep.
Dicritakannya, bagaimana beban Abah Matkur jompo jatuh di pundak Kang Cecep. Tanpa kata-kata. Tanpa kalimat. Tanpa ocehan. Dia angkut saja tubuh ringkih Abah Matkur jika buang hajat, kencing manis. Segala kerja Kang Cecep ditinggalkan dari tukang kayu, tukang batu, tukang bor, tukang bubut, hingga bengkel mesin. Bukan kebetulan sebab memang bukan suatu kebetulan dari kesepuluh saudaranya cuma Kang Cecep yang sanggup meraup tubuh Abah Matkur. Abah Matkur meringkuk, lunglai di pundak Kang Cecep persis kain kumal bekas gombal. Tak ada benci, dendam. Cuma mata Abah Matkur sembab terpejam rapat. Sisa energi tersedot lewat ujung jari mencengkeram kuat di tubuh Kang Cecep. Tak satupun kata meloncat dari mulut Abah Matkur. Dengan kerongkongan yang tengah lupa bagaimana dulu kata-kata kasar meluncur deras bercampur bau busuk liur soal kerbau. Kerbau itu pergi nyasar ke surga ataukah neraka atau nyanggrok di tenggorokan, tidak ada keterangan untuk itu. Amblas.
Otak dan hidung Biru Langit terus penuh sesak bau daging anjing dan tikus campur bulu ketiak. Menyusul, mengejutkan: tetangga punya pikiran sama. Kang Cecep membetulkan. Sudah diduga sejak lama. Persis. Kang Cecep menerima apa adanya. Pasrah. Tidak berniat merubahnya menjelma impian-impian tentang tempat yang enak untuk mati. Kira-kira tempat mati mana yang lebih nyaman kecuali di tengah keluarga?
?Sering kubantu menyakinkan apakah betul Abah Matkur masih hidup. Kupegang bulu mata kiri kanan, denyut jantung di pergelangan. Jika pikiran burukku tentang mati Abah muncul, inggatan tikus yang mati di rombong bakwan, menyerbu,? Kang Cecep betul-betul tercenung.
Biru Langit hanyut oleh perasaan mendalam Kang Cecep. Begitu hebatnya dia ceritakan nasib buruk bapaknya. Dibayangkannya, Abah Matkur, kenapa tidak pilih mati di rumah besar istana kesebelas putra-putranya? Ilusiku jatuh di sorot mata Abah Matkur. Dunia apa-apaan ini! Sekian jumlah anaknya tak satupun sanggup menegakkan istana untuk abah Matkur.
?Tak apa,? sesuatu kekuatan telah membangunkan Kang Cecep.
?Memang sudah berlalu, Kang. Dewa nasib baik tak mau bertamu dan duduk. Yang penting, bertahun sepanjang Abah Matkur jompo, tidak ada dendam,? Biru Langit mncoba mndinginkan pikiran.
Bgitulah. Tuhan juga tidak marah pada Kang Cecep, laki-laki yang entah bagian mana dari struktur tubuhnya yang kecil dan mempengaruhi seluruh jiwanya tersusun dari enzim-enzim, serabut-serabut daging kerbau, anjing dan tikus.
Cerita selesai. Selebihnya banyak orang mencap omong kosong. Untunglah banyak orang tidak suka omong. Juga Kang Cecep. Sudah lama Abah Matkur, seperti sejumlah orang tua umumnya, terserang alzhaimer, pikun. Tak satupun orang atau peristiwa yang pernah terlintas dapat ditangkap dan diingatnya. Di kamar gelap bercampur sisa makanan basi , bau obat, Abah Matkur teriak, ngoceh dan ngomel pesis seng. Apa yang dapat diucapkan, disambar saja. Kian hari, Kang Cecep mulai meragukan diri. Sepertinya penyakit yang sama tengah mendarah daging merasuki batang tubuhnya. Begitulah di hari ini, dia dilupakan.45) Entah di bagian mana. Terutama yang berkaitan dengan kerbau, anjing dan tikus.

Empatbelas

?LIMA sampai sepuluh orang setiap harinya dipekerjakan Prawira untuk menggarap tanah sawahnya. Mereka pekerja keras yang jauh dari kehidupan sebenarnya, keluarga bahkan dirinya sendiri. Tapi mereka sungguh-sungguh bekerja. Tanpa pamrih. Tanpa merasa ditekan. Suka-suka dan suka rela,? tutur Prawira.
?Benar begitu, Pakde?? Biru Langit menyela.
?Buktinya, sekalipun mereka tak pernah protes soal makan, soal upah.?
?Hebat, ya??
?Sebetulnya memang hebat. Begitu banyaknya jalan hidup yang suram baginyalah yang membuatnya seorang yang hebat. Tangguh. Menjadi buruh di sini seperti itu jelas jalan bagus untuk keluarga Pakde, bagaimana menurutmu?? lanjut Prawira.
?Menurut saya, Pakde juga hebat. Mengumpulkan dan mempekerjakan orang-orang yang sesungguhnya sudah tidak patut disebut hidup. Tapi mereka betah.?
?Kamu tahu apa sebab??
?Tahu Pakde. Karna Pakde sudah membuka jalan dan menjadi panutan bagi orang-orang itu. Bukankah begitu?? giliran Biru Langit meminta sokongan.
?Aku ingin orang-orang seperti itu jadi manusia. Bukan menjadi setan yang menganggu manusia. Selama ini orang-orang seperti ini lebih dianggap setan daripada manusia.?
?Tidak pernah jadi setan, Pakde.?
?Juga tidak akan!? tandas Pakde.
?Pakde lihat, kamu cukup banyak omong. Ah, kamu ngerti aku tak cuma bicara soal orang-orang itu??
Biru Langit menggeleng ringan. Pandangannya kosong.
?Pakde juga bicarakan tentang kamu!?
Biru Langit mendongak heran, tapi tidak kaget. Dalam hatinya bicara, Prawira seorang yang keras, tangguh dan percaya diri. Dibayangkannya, bagaimana dia bisa meniupkan kembali ruh hidup orang-orang yang sebelumnya tak pernah punya arti itu. Menjadikan orang yang semula tak bisa bicara jadi lantang bersuara, yang semula banyak omong jadi tukang memicingkan jidat kepala, yang semula pemurung jadi kurang ajar. Bahkan yang semula jadi penurut hingga jadi berontak. Pastilah kini segala yang ada di benak Biru Langit ini sama sekali tak menceritakan dirinya sendiri.
Di saat bicara begitu seorang buruh masuk dan langsung berbicara pada Prawira. Buruh itu meminta sesuatu karena sedang merasa kurang enak badan.
?Badanku panas dingin, jangan-jangan mau kena tipus ini, Kang. Masih menyimpan jamu-jamu? Atau ibu masih ada??
?Pergilah ke dokter, mukamu pucat sekali,? tegas Prawira.
Orang itu berpamitan setelah Prawira merogoh saku dan membarikan sejumlah uang. Begitu balik badan, orang itu berpapasan dengan buruh-buruh lainnya yang sepulang dari sawah untuk mengambil jatah makan dan upah akhir bulan.
Hari mulai gelap. Apa yang dibicarakan Prawira tentang buruh-buruh taninya membuat Biru Langit banyak berpikir. Begitu keras berpikir, membuat Biru Langit sama sekali tak terusik perihal Yunani, istri Prawira. Orang itu masih menurut Prawira masih pantas jadi perempuan saja, tidak sebagai ibu apalagi seorang pemimpin.
?Semoga tidurmu nyenyak dan bangun kesiangan saja, Yunani,? pikir Biru Langit.

Limabelas

MENDUNG tebal pagi setengah siang itu menutup sepanjang jalan yang meliuk di sebuah desa. Awan gelap dan pengap. Namun hari-hari sekolah Biru Langit tetap lebih cerah, secerah seragam putih merahnya. Ya, selalu cerah, biarpun awan tersaput mendung tebal, namun Biru Langit seperti kawan-kawan lainnya tiada hiraukan semua itu. Sesuatu yang baru diam-diam telah hidup di dalam diri Biru Langit?sebuah kekurangajaran yang diajarkan Bari, anak muda yang gampang tersingguh itu. Sepulang sekolah, Biru Langit telah memicu ulah kawan-kawannya segerombolan bocah untuk asyik menggoda sebentuk tubuh laki-laki yang biasanya berseragam bekas pejuang melawati jalan itu dengan puisi dan lagu-lagu perjuangan. Biru Langit yang sudah biasa menggodanya, dia kemukakan dengan cerita-cerita buatannya sendiri untuk pelajaran Mengarang di kelasnya (biarpun karangan-karangannya selalu diprotes guru bahasanya, karena dianggap tidak masuk akal dan sulit dimengerti).
Godaan segerombolan bocah itu jadilah sebuah nyanyian. Lalu anak-anak itu batuk. Cekikikan. Lantas tertawa ngakak dengan memamerkan bibir-bibirnya yang kadang-kadang persis ikan gurami. Laki-laki itu berjalan seenaknya dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya. Bahkan dia berjoget mempertontonkan pakaiannya yang kumal (dasar turunan keluarga miskin) sampai celana dalamnya. Rupanya dia balik menggoda, memperdengarkan potongan-potongan syair lagu dari bibirnya yang kering dan memucat. Syair apa saja. Lagu asal kena. Namun mendung itu menutup raut wajah dan perawakan, laki-laki malang itu. Dia terus menari. Anak-anak itu dikagetkan, seorang laki-laki lain yang baik hati dan sabar yang mengusirnya seperti gerombolan ayam atau kambing. ?Tidakkah kamu kasihan, Hah!?? Sontak orang baik hati itu menghentikan keasyikan anak-anak.
Laki-laki yang oleh orang kampung dipanggilnya Ciput itu mulai terisak. Kemudian menangislah dia. Sepertinya dipaksa ada menghentikan tariannya. Sebentar diam tepekur. Matanya menatap hampa. Perlahan kabut tebal itu mulai jatuh di wajahnya. Anak-anak tahu isak tangis itu datang dari jiwanya. Luar biasa, laki-laki yang baik hati itu bisa menaklukkan, begitu mudah menyentuh nurani orang, dalam kesempatan bagaimanapun. Bahkan dalam kesempatan yang tak setiap orang bisa menyentuhnya?semacam kegilaan. Biarpun Ciput, tidak dalam suka maupun duka perempuan tua itu tak segan untuk datang menghampiri, mengelus-elus rambut seperti anak sendiri yang tumbuh liar seperti belantara hutan itu. ?Kita pulang, Ciput,? terus saja laki-laki baik hati, bahkan lebih baik dari bapaknya itu meminta sampai kedengaran iba.
Ciput tahu cuping telinganya mendengar sebuah ajakan. Lebih tepatnya bujukan. Tapi mendung tebal dan kabut yang lebih menyerupai gerimis kecil telanjur turun di wajahnya. Ini yang membuat hatinya tak begitu mudah dibentuk setelah waktu yang bertahun-tahun lamanya jiwanya berontak. Kini nyaris mencapai anti klimak karena itu hanya pandangan mata Ciput yang menerawang ke tempat yang jauh. Sejumlah pertanyaan bersarang di batok kepalanya. Anak itu ungkapkan segala gejolak jiwanya dengan bahasa yang hanya dipahami keduanya. ?Ciput sudah tak punya rumah. Rumah Ciput tlah tmpat berkumpul dan bercanda dulu, telah hilang. Mataku sudah tidak bisa melihat bunga-bunga yang pernah tumbuh di halaman kita. Juga hijaunya daun yang membuat kita damai di sana. Sekarang, semua telah menjadi rumah baru yang hanya memamerkan topeng-topeng di setiap dindingnya. Tak ada celah untuk Ciput bernafas. Sampai membuat aku sesak nafas dan sakit. Sakit! Sakit. Aku benar-benar sakit berada di rumah itu!?
?Bapakmu cemas Ciput…?
?Bapak? Bukan. Dia bukan bapak dan tak pantas menjadi seorang bapak.?
?Bagaimana kamu bicara seperti itu??
Di mata Ciput, laki-laki bapaknya hanya lelaki pembuat topeng. Tangannya selalu belepotan cat untuk topeng-topeng itu. Entah sudah berapa topeng yang dia selesaikan. Tapi agaknya dia belum juga puas. Padahal, semua ruangan telah bertopeng. Ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dapur, wc, dan halaman rumah kita. Bahkan potret-potret yang terpajang di dinding juga diganti dengan topeng. Ciput tertunduk. Bukan menangis. Justru air matanya sudah tak cukup diajak untuk bisa mempertontonkan tangis. Laki-laki baik hati itu terus membelai rambut hutannya yang acak-acakan. Dengan penuh kasih sayang, digandengnya tangan Ciput dan dibimbingnya dia berjalan. Sebuah pemandangan sebentuk kenangan masa kecil Ciput.
Sayang sekali, matahari tak menyaksikan adegan ini. Matanya tertutup awan hitam dan terhalang gerimis tipis. Keduanya tetap melangkah dan Ciput baru menghentikan langkahnya ketika Merdeka tak mau lagi bergerak persis di muka pekarangan rumah. Di muka tergantung pada pagar pintu, simbol-simbol rumah dari kayu rapuh dan dari batu keropos nyaris runtuh. Ssampai di muka pintu, prmpuan ibunya, kluar dan dia wanti-wanti anaknya. ?Ayo, masuk. Ibu sudah memasak makanan untukmu.? Ciput memandang ibunya. Ada yang berkecamuk dalam batinnya. Namun, bibirnya hanya bungkam. Mendadak, matanya berkilat-kilat marah saat mendapati seorang lelaki tua yang berbaju putih polos keluar dari dalam rumah. Lelaki itu menghampirinya, memandanginya dengan seulas senyum yang sulit dimengerti. Tangan lelaki itu hendak memeluknya, tapi segera ditepis dengan kasar oleh Ciput. Dada Ciput turun naik menahan marah. Tanpa diduga tangan Ciput terangkat hendak menampar wajah di hadapannya. Namun, tangan kokoh lelaki itu lebih dulu memegangnya kuat-kuat. Ciput berontak ingin melepaskan diri. Dengan kasar, lelaki itu menyeretnya ke dalam rumah. Tatapan sendu perempuan tua ibunya menyaksikan kejadian itu dan sesekali mengusap sudut matanya.
?Di rumah ini, Ibu selalu diam. Kenapa, Ibu? Kenapa Ibu tidak pernah protes melihat semua tingkah laku laki-laki itu. Apakah Ibu sudah dipaksa memakai topeng buatannya. Sehingga muka Ibu sendiri tak berhak berbicara. Aku memang tidak mengerti tentang hidup. Tapi, apakah setia harus diwujudkan dengan cara seperti itu. Tidak, Ibu. Aku tidak rela membiarkan lelaki itu memperlakukan Ibu dengan seenaknya. Ibu, Aku tahu bagaimana muka lelaki itu yang sebenarnya. Aku pernah memergoki lelaki itu melepas topeng yang selalu dikenakannya, dengan dibantu beberapa wanita muda. Di sana, Ibu. Di tempat yang seharusnya hanya menjadi milik Ibu dan lelaki itu. Betapa mengerikan mukanya, Ibu. Hitam dan penuh bopeng-bopeng. Aku jijik melihatnya. Muka itu semakin mengerikan ketika lelaki itu tahu Aku memergokinya mencurangi kejujuran, keiklasan dan kebijakan pengetahuan Ibu. Dia lalu memaksa Aku memakai salah satu topeng buatannya, agar Aku tidak menceritakan kejadian itu pada Ibu. Aku tidak mau. Sebab Aku sudah berjanji akan menghentikan perbuatannya. Akan kulakukan apa yang bisa saya untuk itu. Jika perlu amuk! Ibu, apakah Aku anak yang durhaka jika mengatakan bahwa laki-laki itu tidak pantas menjadi suami Ibu, juga tak pantas menjadi bapakku??
Naluri Ciput terus mlampiaskan suara-suara yang entah darimana asalnya. Begitu hebatnya seolah suara itu begitu kuat tanpa sadar terus mengoyang-goyang tubuh Ciput.
?Aku tidak akan membiarkan semua itu terus terjadi. Ini sudah menjadi keinginanku. Tapi ternyata, aku tidak cukup kuat untuk menaklukkan kenyataan. Zaman sudah edan dan laki-laki itu telah ikut edan. Apakah salah jika aku membalas dengan cara edan-edanan? Dengan memakai topengku sendiri? Ibu, apakah ada perbedaan, aku waras ataukah edan-edanan? Keduanya sama-sama membuat aku jatuh malu. Dengan seperti ini, paling tidak bukan hanya aku yang merasakan malu. Tetapi lelaki itu juga. Bukankah begitu, Ibu??
Perempuan tua ibunya itu terus memanggil nama anaknya. Beberapa tetangga membantunya. Namun Ciput tetap diam di tempatnya. Tubuhnya tidak bergerak lagi. Selebihnya, Ciput hanya bisa mendengar tangis perempuan ibunya itu yang semakin lama waktu semakin surut tapi justru kian menyayat. Di sebelahnya, lampu ublik di ruangan itu semakin kehilangan cahayanya. Sampai akhirnya padam. Ruangan itu sempit dan pengap. Cahaya matahari hanya bisa masuk melalui celah-celah kecil yang kebetulan ada di dinding itu. Di sudut ruangan hanya ada lampu minyak yang apinya mulai redup. Di sampingnya, sesosok tubuh meringkuk lemah dengan kepala terkulai. Matanya tertutup.
Pintu dibuka dari luar. Seorang lelaki yang baik hati itu tadi kluar.
?Siapa dia, Pak?? sesorang kawannya menyela.
?Orang gila??
?Gila??
?Ya! Makanya jangan sring digoda, bisa tambah gila dia.?
?Kenapa gila??
?Minta saja cerita ibumu, dongeng kancil, ande-ande lumut, putri salju atau apa saja. Orang gila dibikin crita. Sudah, jangan lagi rewel. Ayo pulang!?
Setlah itu orang baik hati itu bergerak pergi. Anak-anak bubar. Hanya matanya saja yang memandang ke arah rumah yang hendak ditinggalkannya, meninggalkan sepanjang jalan sekolah. Biru Langit menunduk. Ada sesuatu yang dipikirkan. Dia tetap tak punya bahan untuk diceritakan.
Pelajaran Mengarang Biru Langit tak pernah mendapat nilai lebih dan enam. Guru Bahasanya, sring menjagokan karangan kawan-kawannya yang mencritakan tentang kehidupan orang-orang mapan. Katanya, lebih bisa diterima dan masuk akal mengangkat kehidupan nyata.
?Bukankah cerita aku itu juga sebuah fakta? Dari khidupan nyata??
?Percuma kamu protes, salah-salah malah dikasih angka lima!?

Enambelas

BARU Biru Langit tahu dari buruh-buruh tani di rumah Prawira, Ciput anak tukang barong Nariman. Dia gila karena biasa dulu membunuh orang. Ruhnya gentayangan. Topng-topng bapaknya telah krasukan dan setiap bapaknya menatah topeng, perasaannya sama seperti saat membunuh orang.
?Kasihan.?
?Tidak ada yang mengkasihani.?
?Laki-laki baik hati itu??
?Oh, dia memang terlalu baik hati. Karena itu dia jadi juru kunci kuburan. Jangankan orang hidup. Orang matipun dia jaga.?
?Siapa namanya??
?Cemet.?
?Kalau Ciput??
?Oh, itu dia juga yang kasih nama. Dia siapa??
?Ya, Cemet itu.?
?Maksudku, nama aslinya siapa??
?Lupa aku. Tapi dia bekas Jogoboyo.?
Biru Langit berpikir keras memutar otak. Sepertinya ia telah memiliki bahan untuk ide ceritanya, yang ia yakini bakal mengagetkan kawan-kawan dan terutama guru bahasanya. Bayangkan, bagaimana luar biasanya seorang Jogoboyo kemudian di usia tuanya, dia pilih jalan hidup menjadi penjaga kuburan.
?Ceritakan padaku tentang Juru Kunci bekas Jogoboyo itu, Kang.?
?Dulu Jogoboyo itu punya kehebatan ilmu dan tidak ada yang bisa mengalahkan dalam tiban.46) Selalu menang dan lawannya dibuat tak berdaya. Oh, iya namanya Tiban.?
?Trus? Mengapa Tiban??
?Itu juga bukan nama, sebenarnya. Tiban ini nama dia setelah menjalani profesi itu puluhan tahun silam hingga sekarang.?
Biru Langit terkesiap lega mendengarnya. Sejalan benar dengan angannya.
Lalu buruh tani itu pun melanjutkan ceritanya bahwa orang ndeso namanya kebanyakan ya ndesit-ndesit. Ada nama Tumpuk, Genah, Tunggak, Cikrak. Lain dengan orang gedhongan ada nama Tjondro, Suryo, Mangun. Tiban adalah nama puluhan tahun silam, karena dulunya adalah petarung tiban, ia sangat gagah, pemberani, lincah. Setiap tiga cambuk mengelupas kulitnya, tiga cambuk pula merobek daging lawan, begitu seterusnya.
Lagi-lagi Biru Langit tercengang mendengarkan tentang Tiban. Sepengetahuannya cambuk petiban terbuat dari lidi aren. Dikumpulkan sebesar pergelangan tangan diikal mirip kepang rambut dan diikat ujung pangkalnya. Betapa hebat petarung yang bertahan setengah sampai satu jam di atas genjot.47) Tak ayal jika dulu lelaki itu diagung-agungkan dan nama Tiban dianugerahkan kepadanya. Biru Langit teringat lagi ceritanya. Sedikitnya setahun sekali petarung tiban berlaga. Biasanya suroan, tahun baru hijrah. Atau apabila ada upacara ritual minta hujan pada yang Kuasa. Yang terakhir ini jarang dilakukan kecuali waktu tertentu saja, misalnya jika rawa sedang kering. Pengunjung penuh sesak ingin menyaksikan jagonya berlaga dan kawedanan itu penuh sesak, bahkan pengunjung dari daerah lain pun berduyun-duyun ingin menyaksikan.
?Dia punya jimat??
?Jimat? Ah, aku dngar bukan jimat, tetapi pusaka, yang masih tersimpan rapi sampai saat ini, keris, tombak, sekadar penolak bahaya. Jika kuat dicambuki itu memang badan ini diisi dengan mantra,? jawabnya.
?Pantas,? pikir Biru Langit.
Buruh tani itu lantas, juga menceritakan tentang fungsi pusakanya yang menolak bahaya dan mendatangkan keuntungan. Pusaka itu ada yang mbahurekso 48) katanya. Di masa kumpeni Belanda, dia selalu lolos dari kejaran marso?se-marsose. Pernah suatu ketika dia diancam hendak dijebloskan ke dalam penjara akibat persoalan kecil saja menganggu waker 49) tebu, atau mencuri mangga dan merusak pot bunga di loji-loji.50) Sampai Jepang berkuasa marsose tak pernah menangkapnya. Juga zaman romusha, ia dibuang ke Kroya bersama temannya, tapi ia bisa kembali ke Kediri sedang temannya, Abas tak pernah kembali. Dia luput dari bayonet ganas serdadu Jepang.
?Jadi bisa menghilang, ya?? tanya Biru Langit.
?Menghilang? Ah, perasaan, tidak. Barangkali nippon-nippon itu saja yang tidak bisa melihat dia. Mnurut crita orang-orang tua, dia juga pernah gerilya mengikuti Pak Dirman sampai di gunung Klotok.?
?Karna itu, lantas dia diprcaya jadi Jogoboyo di kampung ini??
?Ya, begitulah.?
?Soal juru kunci itu?? lagi tanya Biru Langit.
?Itu ada ceritanya tersendiri setelah Jogoboyo itu tak seorangpun yang bisa menggantikan, sampai tua. Sampai suatu ketika ia berniat menikahkan satu-satunya anak gadisnya, Saidah. Tiban kaget bercampur gembira saat anaknya hendak menikah dengan seorang priyayi.?
?Priyayi??
?Ya, kamu masih ingat tak seorangpun priyayi berani masuk di kampung ini.?
Semua tahu tentang kepercayaan priyayi dilarang masuk di kampung ini. Terutama abdi pemerintah mulai dari camat bupati sampai yang paling atas. Sebab menurut kepercayaannya seorang priyayi yang masuk ke wilayahnya, cepat atau lambat, akan jatuh dari kedudukannya. Jatuh dari pangkat dan jabatannya. Saya tahu sudah berapa banyak priyayi yang kepati-pati dibuatnya. Kepercayaan mereka, dahulu ada seorang putri pejabat Mataram. Putri Ambarsari. Putri itu telah dijodohkan oleh orangtuanya dengan laki-laki sederajatnya. Ia menolaknya. Dengan alasan berbagai macam namun tetap dipaksanya. Hingga putri tersebut melarikan diri dari pura kerajaan menuju ke suatu tempat. Oleh karena geramnya putri itu lantas membawa ancaman. Siapa pun priyayi yang datang ke tempatnya akan terganggu keselamatannya. Konon tempat itu adalah dusun Pak Majid sekarang.
?Lantas??
?Siapa yang tidak terkejut dengan gelar itu. Sebutan mulia yang diincar oleh setiap orang. Priyayi itu semua orang sudah tahu. Para yayi. Yakni para adik raja. Atau golongan orang-orang elit. Orang-orang yang bukan kawulo alit.51) Orang ningrat. Sedang orang ningrat ini bermacam-macam. Ada yang memang keturunan asal leluhurnya yang ningrat, ada yang dari orang-orang yang cukup kaya, terpelajar sehingga patut juga disebut kaum ningrat. Bukan tanpa alasan jika tadi Biru Langit itu terkejut alang-kepalang. Ketika dari mndngar crita buruh tani itu, Jogoboyo ngunduh mantu 52) seorang priyayi. Dipikirnya demikian mudahnya menyebut dirinya priyayi. Sementara di zaman sekarang ini sulit-sulitnya mencari seorang priyayi. Apalagi priyayi yang sejati. Priyayi yang berwatak luhur, menghormat orangtua, menghargai yang muda. Priyayi yang bersih, patuh dan membela orang yang banyak. Tetapi dia kurang tahu jika yang dimaksud buruh tani itu priyayi-priyayian.?
?Priyayi-priyayian bagaimana?? Biru Langit pnasaran.
?Jogoboyo itu mestinya tahu. Sekarang ini banyak priyayi yang tindak-tanduknya tidak mriyayeni. Bukan maksudku tidak setuju Jogoboyo itu bermantukan seorang priyayi. Ya, itu tadi barangkali saja di salah dengar. Bukankah beda sedikit priyayi dengan priyadi. Siapa tahu calon menantu Jogoboyo itu Priyadi namanya,? ujar buruh tani itu.
?Biarpun jabatannya itu Jogoboyo,? lanjut buruh itu, ?dia adalah keluarga miskin yang patut diangkat. Hanya satu kekayaannya adalah Saidah anak ontang-anting 53) -nya. Sebab itulah, Saidah juga sudah telanjur senang. Kalau bnar dia priyayi. Apa salahnya keduanya dijodohkan. Harapan Jogoboyo itu punya menantu priyayi, nanti dia juga turut jadi priyayi. Lagi pula siapa orang yang mau anaknya disebut perawan tua. Beberapa saat Jogoboyo tampak mengangguk-angguk seraya mengenakkan duduknya. Ya, lelaki itu dulunya bercerita padaku. Sewaktu masih menduda ia pernah melamar seorang gadis dari kalangan bawah. Nah, untuk maksud keinginannya itulah Jogoboyo muda berkedok seorang priyayi. Agar lamarannya mulus diterima calon mertuanya. Namun kejadiannya berlawanan, justru orangtua gadis menolaknya. Alasannya tidak diketahui. Baru diketahui kemudian setelah ia memperistri Lastri. Ibu Saidah sekarang. Bahwa seorang priyayi kurang pantas menikahi gadis yang bukan dari kalangan bangsawan. Nanti akibatnya yang akan menjadi buruk. Akhirnya buru-buru dia harus meninggalkannya. Padahal di antara keduanya sudah saling suka. Waktu itu, aku hanya mengingatkan Jogoboyo itu. Kalau nanti sampean sudah jadi priyayi, bahwa yang namanya priyayi itu sejak zaman kolo bendu 54) zaman sunan, Raden Mas, Gusti Pangeran, sampai sekarang priyayi berdasi sama. Zamannya saja yang berubah. Sedang dasarnya tetap sama yakni bertindak dengan rasa setia serta tindak-tanduk dan watak budi yang luhur. Mereka tidak pernah mengenal yang namanya mo limo 55) Main, madat, maling, madon, dan minum.?
Barangkali apa yang dilakukan Jogoboyo itu bemaksud mendobrak kebiasaan warganya tentang kepercayaan itu. Seperti diceritakan buruh tani itu, pernikahan Saidah dengan sang priyayi itu lancar. Dari lamaran sampai peningsetan. 56) Di peningsetan itu juga tidak lupa nanggap wayang kulit semalam suntuk untuk anak tunggalnya. Pokoknya acara ini dibuat sedikit besar. Sekaligus merayakan dirinya yang akan menjadi orang besar. Masih menurut buruh itu, sampai tepat waktu ijab kabul, Jogoboyo tidak tanggung-tanggung, baik soal biaya maupun tenaga. Menyembelih dua ekor kerbau dan mengerahkan seluruh warga kampung, sanak saudara. Benar-benar yang terjadi akan bukan sekedar pesta pernikahan anaknya, tetapi juga pesta menyambut gelar baru yang bakal disandang Jogoboyo itu?mertua seorang priyayi. Apa terjadi sudah itu? Setelah pernikahan Saidah dengan seorang priyayi itu berakhir dan tentunya Jogoboyo sudah menyandang gelar barunya, paling tidak sebutan yang diberikan oleh tetangga-tetangganya. Tiga hari setelah pernikahan anaknya Jogoboyo itu didatangi sorang tangganya. Namanya Pak Majid.
Kepada Pak Majid, Jogoboyo itu mngatakan, ?Rupanya ada yang terlupakan, Pak.?
?Soal apa, Pak Jogoboyo??
?Ya. Semua yang tetangga katakan dulu itu benar. Menantu saya benar-benar jatuh sebagai priyayi. Pengakuannya sebagai priyayi yang menjadi camat sampai kini tidak terbukti,? kata Jogoboyo itu terbata-bata.
?Lalu??
?Entahlah, saya kurang tahu mengapa sampai dia punya nama Priyayi. Barangkali karena ibunya dulu pernah punya kekasih priyayi. Lantas saking cintanya ia memberi nama anaknya Priyayi,? di saat seperti itu Jogoboyo masih menunjukkan selera humornya, meski tanpa tawa.
?Ketika mendapati penjelasan Pak Majid siapa yang mendengarnya, menghela nafas panjang, yang lainnya tercenung, menyandarkan tubuhnya di kursi atau mengusap mata sendiri yang tampak berkaca-kaca,? begitu buruh itu mengisahkan. ?Memang tidak gampang mencari priyayi. Lebih gampang memuji orang sampai melambung tinggi seperti dihempaskan ke atas. Priyayi yang benar, lambang dari manusia elit di zaman sekarang itu yang mengabdikan keluhurannya pada diri sendiri dan orang lain. Dengan memimpin, memberi petunjuk, dan menuntun warga kampung yang kesulitan. Bagaimana jadi priyayi kalau pada diri sndiri saja sudah main tipu? Aku masih ingat pesan-pesan orangtua. Yang pnting itu menjadi orang yang berwatak luhur, menghormati orangtua, bersih, patuh dan membela orang banyak. Priyayi atau bukan, tidak masalah.?
?Nasib kedua pngantin itu bagaimana akhirnya?? desak Biru Langit.
?Pergi dari rumah karena malu.?
?Jogoboyo??
?Lebih malu lagi. Terbukti dia tidak bisa menjaga anak sendiri. Akhirnya dia pilih mengundurkan diri.?
?Mengudurkan diri??
?Ya. Dia jadi juru kunci kuburan.?
?Alasannya??
?Lebih gambang menjaga orang mati daripada yang hidup. Ya, Cemet itu.?
Biru Langit tak habis bikir dengan alasan yang dikemukakan bekas Jogoboyo itu?lebih gampang menjaga orang mati daripada yang hidup. Berhari-hari dia putar otak untuk direnungkan sebagai bahan untuk menulis cerita, tugas pelajaran Mengarang di sekolahnya.
Sampai waktunya tiba, Biru Langit masih belum menyusun satu kerangka pun untuk karangannya. []

TIGA
DUNIA YANG BERBATASAN TIPIS

SETAHUN kemudian sebuah siaran mengabarkan terjadinya pembunuhan massal terhadap kelompok muslim. Biarpun mulut-mulut orang kampung tak mengerti tragedi itu, namun gelombang-gelombang radio terus menyuarakan. Pembunuhan atau lebih tepatnya pembantaian manusia itu sebetulnya dipicu persoalan sepele.
Dua orang Babinsa, petugas Koramil mengotori sebuah mushola Assa?aah di kawasan Tanjung Priok, dengan masuk ke tempat itu tanpa melepas sepatu serta menyiram poster pengumuman undangan pengajian di tembok mushola dengan air comberan.
Perang mulut terjadi antara orang Babinsa dengan warga muslim, pada 10 September 1984. Dua pengurus Takmir masjid Baitul Makmur, Syarigudin Rambe dan Syafwan Sulaeman mengajak pihak-pihak yang terlibat pertengkara ke tempat RW setempat. Petugas dari Koramil agak sulit diajak kompromi, sehingga massa yang berdatangan di luar tidak sabar, hingga beberapa orang membakar sepeda motor petugas dari Koramil itu. Pada hari itu juga Koramil meminta bantuan Kodim mengirim tentara untuk menciduk empat orang jamaah, termasuk Rambe, Sulaeman, Akhmad Sahi dan seorang lagi yang kemudian dibebaskan, serta Mohammad Noer, salah seorang yang melakukan pembakaran sepeda motor. Penangkapan itu semakin menimbulkan kemarahan masyarakat Islam sekitarnya. Masyarakat Islam sekitar Tanjung Priok meminta bantuan Amir Biki, seorang pengusaha dan tokoh Fosko 66 yang memiliki hubungan dekat dengan seorang perwira tinggi militer yang dikaryakan sebagai Wagub Jakarta ketika itu. Biasanya Amir Biki bisa mengatasi masalah-masalah seperti itu. Tetapi kali ini ia menemui kegagalan. Pada 12 September 1984 diadakan pengajian di jalan Sindang Raya yang memang telah direncanakan sebelum terjadi insiden itu. Banyak mubaliq yang hadir pada waktu itu. Amir Biki sendiri biasanya tidak ikut memberikan ceramah, namun dengan perkembangan terakhir menyangkut penahanan jamaah di situ, kali ini Amir Biki bersedia tampil berbicara bersama mubaliq-mubaliq lain. Giliran Amir Biki berbicara di depan khalayak, dia mengeluarkan ultimatum, jika sampai pukul 23.00 pihak militer tidak membebaskan anggota jemaah yang ditahan, massa akan melakukan unjuk rasa. Sambil menanti batas yang ditetapkan, acara diisi dengan pidato-pidato dari tokoh-tokoh yang hadir. Hingga deadline itu habis, tuntutan tak dipenuhi. Akhirnya massa yang berjumlah sekitar 1.500 orang tersebut mulai bergerak ke Polres dan Kodim. Setelah hampir mendekati kantor-kantor ini, mereka tiba-tiba telah terkepung dari dua jurusan oleh pasukan yang bersenjata berat. Satu kelompok berhadap-hadapan dengan kendaraan-kendaraan berlapis baja dan truk-truk militer. Tentara sudah memblokir rapat dengan memagari jalan sekitarnya. Setelah 10 meter dari barisan tentara, massa sudah menghentikan derap langkahnya. Tiba-tiba terdengar suara aparat keamanan berteriak, ?Mundur?!? Serentak pasukan keamanan mundur dua langkah. Terdengarletusan pistol yang segera dikuti tembakan senjata secara beruntun yang langsung diarahkan pada massa. Jenderal LB Murdani beberapa menit setelah insiden pecah telah terlihat di lokasi pembantaian massal, dan langsung mengatur sendiri operasi penjagalan terhadap massa Islam. Terjangan peluru dari segala arah mengakibatkan ratusan orang tersungkur ke tanah. Mereka yang luka-luka yang berusaha menyelamatkan diri ditembaki dan ditusuki dengan sangkur. Tetapi mereka ada yang bisa lolos melarikan diri melalui gang-gang. Kemudian datang dua buah truk besar yang berkecepatan tinggi, penuh dengan tentara kemudian memuntahkan peluru dari senjata mereka ke arah jamaah yang sedang tiarap dan bersembunyi di pinggir jalan raya. Lebih dramatis lagi, truk besar tadi melindas orang-orang yang telah terkapar atau bertiarap. Jeritan dan bunyi tulang yang patah dan remuk digilas truk terdengar cukup jelas oleh para jamaah yang bertiarap di selokan-selokan. Tak lama setelah tembakan-tembakan dihentikan, tentara mulai mengangkuti mayat-mayat dan mereka yang luka ke dalam truk-truk militer yang telah disiapkan. Semua korban diangkut ke rumah sakit milik militer di Jakarta Pusat. Rumah-rumah sakit lain diperintahkan agar tidak menerima mereka yang meloloskan diri dan luka-luka. Tidak lama kemudian datanglah mobil pemadam kebakaran yang menyemprot jalan dengan air untuk membersihkan ceceran darah sehingga bekas-bekas pembantaian tak terlihat.
Tepat dua hari sebelumnya, Prawira jatuh sakit. Persis dekat waktu magrib, tanpa sepengetahuan Biru Langit. Sesuatu yang jauh di luar bayangan Biru Langit akan sesuatu yang menakutkan. Setelah sekian lama waktu, ia telah lupa bagaimana bangga hidup bersama istri Prawira. Namun kenyataan itupun terjadi pula. Ia hidup bersama dengan istri Prawira. Karena itu tak ada yang memikat hati untuk diceritakan?setidaknya untuk saat ini.
?Baru kali ini aku biasa dengarkan berita sendirian,? pikir Biru Langit di muka radio milik Prawira itu. ?Rasanya aku tak perlu kuatir dengan apa yang hendak dikatai Yunani, tentang radio ini. Aku hanya mendengar siaran radio ini. Kalaupun itu terjadi, aku bakal katai, Prawira yang mengajari aku untuk tiap pagi mendengarkan siaran berita agar tahu apa yang terjadi sesungguhnya di belahan bumi ini.?
Hebatnya tak sepatah katapun keluar dari mulut Yunani perihal kebiasaan pagi mendengar siaran radio ini. Biru Langit hanya mendegar sepatah da patah kata saja. Itupun perihal suaminya yang sakit sebagaimana Biru Langit ketahui.
?Bapai sakit tipus. Dia sudah dibawa ke Rumah Sakit Tulungredjo, Pare. Pergilah ke sana secepatnya. Kamu bisa naik bis lebih dahulu, aku menyusul nantinya,? ujar Yunani.
Biru Langit berkemas seperlunya. Setelah berpamitan, lantas menghilang.
Prawira, lelaki tua itu memicingkan kelopak mata. Terkejut. Begitu matanya terbuka sadar sesuatu telah terjadi. Meringkuk pasrah di bangsal persis bayi baru lahir rasanya serba baru. Dipandanginya jendela kaca, korden separuh terbuka. Di luar kursi roda melintas cepat. Lelaki seumur dirinya bertengger di atasnya dikemudikan suster. Denyut jantungnya berpacu hebat. Prawira ingat bayi?dia dibangsal juga. Apa beda? Tidak ada! Kini sepi. Tak terdengar di kuping Prawira. Cuma irama air di bak mandi, sandal injak kerikil, sepatu menggerus ubin berpasir. Mata Prawira tertutup rapat tanpa sisa. Kotoran di dua sudut pelupuknya berdenyut-denyut. Kasur empuk tenang seperti sampan tanpa gelombang.
Sehingga Prawira punya dua kendaraan besar?kursi roda dan bangsal yang sanggup menerbangkannya ke mana saja sesukanya. Prawira terus bergoyang-goyang seperti ada deru mesin membakar tubuhnya. Semangat dalam jiwanya jadi kembali berkobar. Prawira kembali seperti bayi baru lahir di bangsal, rasanya. Satu hal yang membuat Prawira jengkel, tiap kali dia memandang lewat gorden yang terbuka. Di kursi roda tidak bayak yang bisa diperbuat Prawira. Kesehatannya sudah cukup membaik. Rupanya bukan kesehatan betul yang mencemaskannya, tapi ketuaannya. Sama saja Prawira tidak dicasp manusia, katanya. Prawira pilih sendirian. Prawira bebas mengendara kereta api entah kemana. Tulit?Tulitt? Tinggal duduk. Melintas. Anak-anak sudi mendekati Prawira. Sekaligus mengurangi rasa sakit komplikasi, sesak nafas, hipertensi. Dia ceritakan apa saja biarpun kepada mereka tetangga, para pekerja yang paling cuma bisa bawa kue, tanya ini-itu, menyelipkan sedikit uang di bawah kasus untuk ongkos jaga. Duduk-duduk di bibir bangsal main kipas kertas. Lalu pulang. Tidak lebih. Bila Prawira menggiring kursi rodanya ke kamar mandi?tempat yang amat pribadi?,kesepiannya amat sempurna. Kadang-kadang ia meragukan istrinya. Prawira menikmati kesunyian tanpa pakaian selembarpun. Sepercik air dilemparkan ke permukaan kulitnya dengan harapan hidup ini kembali bersih. Prawira terkekeh-kekeh lagi mengkasiani ketuaannya.
Cerita Biru Langit tentang berita September berdarah, makin membuat Prawira sungguh-sungguh telah berada di kereta? Biru Langit hadir pula di sana?di suatu stasiun entah berada dimana, karena Prawira yang menempatkan dia.
Malam dingin mulai membalut sudut kota. Dari ruang tunggu stasiun di bawah bangunan angkuh, bulan memberi terang pada malam. Memenangkan perkelahiannya dengan kelip-kelip cahaya lampu. Prawira tampak masih duduk di sana kendati sejak petang stasiun seperti pasar yang bubaran, sepi tinggal sisa penjaja makanan dan beberapa calon penumpang yang meresahkan keterlambatan kereta. Mereka menunggu kereta terakhir dan takut pada kegelapan. Orang-orang gelisah, menggeliat dan terkadang pula teriak histeris. Mereka tidak berkawan baik dengan stasiun. Sebab stasiun justru menunggu malam tiba agar tubuhnya dingin kembali setelah seharian dibakar panas matahari. Sebagian orang meninggalkan bangku-bangku lantas berdiri saja di pintu-pintu.
Berbeda di stasiun ini Prawira teringat pada pasien-pasien saat sebelum meninggal. Yakni ketika penyakit ganasnya bertambah parah dan kecil kemungkinan untuk sembuh. Prawira sering menghibur mereka dengan memberikan wejangan tentang kehidupan dan kematian. Dikatakannya di dunia ini suatu saat manusia akan merasa seperti berada di stasiun. Yaitu saat diujung kematiannya. Seperti menunggu kereka yang akan membawanya ke suatu tempat yang sama sekali baru. Meninggalkan bau-bau keduniawian, melepaskan hubungannya dengan dunia dan perasaan-perasaan berdosanya. Kematian itu adalah pengalaman konkret tetapi sangat menyuramkan. Kemudian mereka para pasien itu nampak mencoba meresapi kalimat-kalimat Prawira.
Bulan terasa merayap meninggalkan waktu demi waktu. Hampir dua jam Prawira di ruang tunggu. Tetap tak ada tanda-tanda kereta hendak masuk meninggalkan kawasan itu. Beberapa pasang rel masih tetap kosong. Hanya satu gerbong saja di tempat itu. Prawira mengamati gerak seekor kucing yang melompat dari bangku ke bangku lain. Kelihatan langkahnya tenang. Tidak gelisah menunggu waktu tiba kereta. Prawira menenangkan diri persis seekor kucing dalam penglihatannya. Prawira teringat kembali pesan kepada orang-orang sebelum mereka mati. Ia pernah mengatakan bahwa setiap orang akan mati. Meskipun semasa hidup hendak mengarungi samudera, menyeberangi benua, menguasai ilmu sebuah karya. Namun semua itu harus dilepaskan ketika mau mati. Harus ditinggalkan seperti naik kereta hendak meninggalkan stasiun menuju kota lain. Ketika itu orang itu nampak belum paham benar maksudnya.
Mereka juga sudah biasa menonton mayat tertelungkup di bawah jembatan, mengapung dengan tubuh melepuh atau menangkup di pinggir trotoar yang tak satupun tangan berani menyentuhnya. Orang-orang memilih tangannya untuk menutup hidung, mulut, dan matanya. Menyaksikan orang hitam meringkuk di tengah jembatan, yang bisa mereka lakukan hanya menengadahkan tangan dan mulut berkomat-kamit menambah doa pejalan. Di antaranya anak kecil dengan kaki dan tangannya yang cacat, menawarkan persahabatan. Digapai tangan itu dan diberinya sekeping uang logam. Di atas jembatan tentu nanti pengemis berdiri tegak bercermin di keruhnya air sebelum menjeburkan dirinya kemudian mati. Pikir Prawira, di tempat itulah stasiun mereka. Tapi siapa yang ingin mati di tempat seperti itu?
Malam makin larut dan bulan bergeser makin cepat. Prawira melirik ke arah lelaki tua di sebelahnya. Dia sedang menyulut sebatang rokok kretek. Lelaki itu merasa dirinya diperhatikan. Kemudian Prawira terkejut saat disodori sebatang. Prawira menolaknya. Sejak saat itu asap rokok bergumpal-gumpal terbang di sekitar ruangan. Terasa menyesakkan. Lalu suasana kembali sepi. Tiba-tiba kesunyian malam dipecahkan oleh suara-suara dalam gerbong kereta. Beberapa pasang mata mencari sumber suara. Begitu pula Prawira dan lelaki tua. Suara benda-benda keras menghantam dinding pintu dan kaca gerbong.
?Kurang! Berapa janjimu kau bayar aku? Laki-laki macam apa kau ini. Kau permainkan aku lalu campakkan tanpa pedulikan aku.?
?Aku sudah cukup beri kesenangan padamu!? bentak laki-laki di tempat yang sama. ?Pergi!!!?
Kembali suara benda-benda keras menari di gerbong bersama seorang lelaki yang terbang menghilang melompat dari pintu, meninggalkan isak tangis memilukan. Sebagian yang di stasiun kembali duduk. Sebagian lagi bergerombol dan berbaris-baris.
Di kursi ruang tunggu Prawira terkulai. Mungkin penat setelah menunggu berjam-jam. Tak ayal, Prawira terbayang kereta yang datang.
Stasiun sedang digetarkan oleh datangnya kereta. Suaranya berderak menggema. Prawira terperanjat. Lalu perlahan ia melangkah meninggalkan bangku mendekati pintu kereta. Keringat mengucur deras, dadanya terasa sesak kemudian tubuhnya melambung tinggi ringan tanpa beban, melenggang-lenggang, seperti kertas yang diterbangkan dari pesawat, jatuh terayun-ayun.
Di dalam gerbong orang-orang berkain putih. Raut mukanya pucat dengan bau wewangian yang menusuk. Gerbong penuh beraneka warna dan tanda kabung kertas yang tergantung, kendi-kendi segar. Orang-orang dalam kereta membisu. Sedikitpun tak ada keramahan menyambut kedatangan Prawira. Semua tetap acuh kepada sesama dan kepada Tuhannya. Saat itulah Prawira bertemu banyak orang. Juga orang bertubuh melepuh dan anak kecil menggenggam sekeping logam di gerbong yang sama. Masih terbayang ketika ditemuinya di jembatan.
Pengumuman dari pengeras suara terdengar. Tanda keberangkatan kereta terakhir. Prawira bersiap-siap. Ia kini benar-benar berada di perbatasan. Baru setelah kereta melaju dan merasakan tubuhnya bergoyang-goyang, Prawira yakin meninggalkan stasiun. Perasaannya sama seperti yang diceritakan pada kawan-kawan sebelumnya. Diiringi isak tangis buruh-buruh dan istrinya, Prawira melambaikan tangan pada orang-orang. Juga pada lelaki tua yang ternyata tidak mengikuti arah kereta. Prawira meninggalkan kota menuju padang tak bertepi, menyelam dasar lautan, meninggalkan stasiun. Prawira tak mampu mendengar suara orang-orang di sekitarnynya sedang membaca tahlil.
Di stasiun ini semua tahu arah kereta terakhir. Hanya barangkali lelaki tua itu belum mendapatkan tiket menyadari bahwa suatu saat gerbong itupun ditarik oleh kereta yang sama.[]

EMPAT
SESUDAH SEPULUH TAHUN KEMUDIAN

Satu

SESUATU yang amat menarik perhatiannya adalah politik dan perempuan.
Dia melihat politik seperti perempuan dan melihat perempuan biasanya dengan cara politik. Begitu kira-kira. Di Surabaya, Biru Langit kuliah di sosial politik Universitas Airlangga sesudah melalui pergulatan panjang dengan waktu, nasib dan juga sisa-sisa semangatnya untuk hidup. Tiada rencana, tetapi dorongan dari keluarga?Yunani, dan pekerja-pekerjanya, dirasanya jauh lebih berarti dari segala-galanya. Ketika itu, Tuhan juga entah bagaimana ia lupakan begitu saja. Ini adalah masa-masa terbaik dari keluarga itu, sudah cukup baik untuk tidak lagi turut campur soal tetek mbengek urusan sekolah Biru Langit. Sudah selayaknya, Biru Langit ucapkan terimakasih kepada Yunani?perempuan yang teruji lebih sepuluh tahun lamanya ternyata lebih hebat dari suaminya dalam urusan menghidupkan roda ekonomi keluarganya. Betapa tidak, dalam rentang waktu itu, ia bisa urus sekian banyak pekerjaan dan belasan buruh-buruh yang entah bagaimana terus bertambah jumlahnya. Sebelum sepninggalan Biru Langit, di matanya Yunani adalah seorang ibu terbaik yang pernah ia jumpai dalam hidupnya, sekalipun dibanding ibunya sendiri. Hebatnya lagi, masih seperti tradisi suaminya, buruh-buruh itu mereka-mereka yang menurut Yunani orang yang hidupnya setengah-setengah. ?Setengah hidup dan setengahnya lagi mati. Orang-orang yang sama sekali tak pernah diberi kepercayaan hidup sedikitpun bahkan untuk dirinya sendiri,? ucapnya suatu ketika. Yunani dengan keteguhan seorang ibu, menjadi pemimpin bagi mereka, setelah sekian tahun lamanya ia merasai bagaimana hidup almarhum suaminya, Prawira. Dalam kehidupannya, nasib suami dan orang-orang dekatnya telah menempuh jalan terpahit sekaligus menjadi orang terhebat ketika saat terhimpit mereka masih punya pilihan. Yakni memutuskan untuk terus hidup biarpun harus dengan cara melawan. Ya, betapa hidup mereka jika tetap ingin survive harus dengan cara melawan. Penyakitnya sedikit terobati dengan banyak bergaul dengan kawan-kawan yang berhaluan kiri demokrat. Dia jadi banyak belajar membaca mana kawan dan lawan, mana pejuang dan pecundang. Kebenciannya pada pribadi-pribadi yang dininabobokan oleh kemapanan makin menghebat, juga kepada perempuan yang jatuh cinta padanya, membuatnya ia tak begitu mudah terpikat kecuali bila dia tempuh dengan jalan politik itu tadi.

Dua

PEREMPUAN yang jatuh cinta pada Biru Langit itu, namanya Sulistyorini?anak rang kaya. Namun bagi kehidupan Biru Langit tatkala berbicara padanya hanya melihat suatu cinta atau nafsu?sesuatu yang ia dapat dua-dua ini dari kuliah politik. Jadi sesungguhnya pun cerita ini baginya juga bicara perihal politik, tidak semata-mata masalah perempuan. Menjadi pelik lantaran diam-diam gadis itu dicintai seorang kawan sekelasnya, Pam. ?Edan!? gerutu Biru Langit. ?Betapa sesungguhnya ini perang urat syaraf antar dua pemuda.?
Prediksi tentang matanya sendiri yang buta warna, telah tumbang. Dia bisa yakinkan semua yang baru dilihat. Dia betulkan juga apa yang baru disebut, keindahan dan kecantikan si Sulistyorini, perempuan itu. Rambutnya bersih bak kain hitam berkibar. Parasnya yang bersinar seperti kuning keperakan bulan. Jari-jarinya lentik mirip pemain harpa di tepi orkestra?cocok sekali dihiasi cincin ibarat potret gerhana matahari total di koran yang bagian cincinnya bersinar tajam. ?Kukira semua ini sama juga dengan mata Pam kecuali jika kuanggap ia cacat mata. Lelaki itu tidak tahu mana perempuan berbibir sumbing dan berbibir buah strawbery. Tapi untuk yang ini kukira Pam betul-betul buta. Bahwa si Sulistyorini?perempuan yang sama-sama kami anggap dewi kecantikan?sekarang tengah di dalam botol. Aku sendiri mulai ragu apakah si Sulistyorini bisa mendengar suara layaknya kuperdengarkan suaranya yang merdu tatkala nyanyi,? gumam Biru Langit.
Udara panas, keras, kotor dan berdebu. Mendung hampir jatuh menolak perginya hawa panas yang tersimpan di perut bumi. Kecil sekali lubang awan. Membuatnya sulit leluasa menikmati spektrum matahari. Tapi bukanlah itu berarti kemauan dia berebut saling berganti? Mudah-mudahan tidak sungguh-sungguh seperti cuaca. Biru Langit suka kemauan keras, dingin seperti batu. Berdua, lewat jalanan aspal hitam berabu alas kaki Biru Langit dan Pam menggedor pintu rumah Sulistyorini. Baru Biru Langit tahu di belakang daun pintu, Pam mengeluarkan sebentuk bunga matahari segar dari balik jaket. ?Bagaimana dengan aku? Aku tak sanggup bawa edelweis kemari,? lagi-agi Biru Langit menggumam.
Rambut perempuan itu meliuk hingga keluar menerobos tutup pintu botol. Ujung-ujungnya seolah ditiup sesuatu udara kuat dari dalam perut botol. Dilihatnya kembali segala pemberian Biru Langit, buku-buku, tisue, makanan, strepsils pastiles, coretan-coretan, jadi onggokan di dasar botol. Biru Langit jadi berpikir penjang memberi tanda mata selanjutnya, misalnya edelweise. Di lihatnya juga perempuan itu tidak sedang duduk manis di sudut sofa, tapi ia sedang bertengger di atas meja di samping gelas. Tanpa kepeduliannya terhadap reaksi Pam, didekatinya si Sulistyorini perempuan itu. Dialirkannya suaranya yang lembut ke mulut botol bersentuhan ujung rambut perempuan itu. Segar betul aroma rambut Sulistyorini.
?Kau masih pula percaya bahasa bunga, Dik?? Biru Langit merayu.
Perempuan itu diam teperkur. Barangkali tak begitu dengar bisikannya. Kembali Biru Langit menekan lebih berat suaranya. Sulistyorini sebentar berdiri. Lalu berdiri. Lalu duduk. Berdiri. Duduk. Dia sulit bergerak dalam perut botol. Di mata Biru Langit tubuhnya tiba-tiba mengerut. Badannya menyusut sebesar botol limun. Ia masuk botol sari buah.
?Laki-laki yang menggunakan kekuasaannya akan melakukan itu, memetikkan kau bunga matahari sebesar kepala. Sebelum akhirnya kau juga akan dipetiknya dari: seperti kepastian tanaman pada pancangan kakinya, mengalirkan sari-sari, menebar dan busuk. atau bak meteor, menyisihkan pijar api meski tiada arti pemusnahan di luarnya oleh perusak dalam dirinya. Tubuhnya dipetik, ditaruh di saku belakang celana sebelum akhirnya layu.?
Dilihatnya Sulistyorini kian tersiksa. Perempuan itu terbelit tali sebesar rambut, benci, takut, perih, ketidakpastian. Segalanya mengental dan tumpang tindih dalam botol. Berbaur dengan keindahan yang tak tertulis pada resep-resep dokter spesialis mata. Lelaki Pam nampak lebih tenteram duduk dekat-dekat botol perempuan itu. Cuma terkadang sorot matanya mengancam dan jalang ke arah Biru Langit. Pam kerapkali sudi memaksa diri memutar batang leher, untuk itu. Pam menghisap rokok. Mulut lebarnya nampak hendak menelan seratus batang puntung rokok sehabis menghisap nikotin.
?Kau pasti tersinggung, Pam.?
Biru Langit berkata begitu dingin. Juga siap dengan segala gerakan bisa menyambar botol yang di atasku. Lantas kupecahkan perut botol. Huh?.andaikata. Andaikata, dua cowboy bertarung. Jikapun awan hitam tak menjelma hujan, hujan tangis bakal turun di rumah Sulistyorini.
?Aku cuma menanggapi keindahan yang kamu pilih dan kau selipkan pada Sulistyorini,? kata Biru Langit sinis lagi.
?Tidak sanggup aku melukis keindahan dan kecantikan dengan metafora,? ujar Pam.
?Aku tahu dan hafal kau.?
?Tidak. Kamu tidak tahu. Keindahan dan kecantikan jadi palsu bila dijelmakan dengan metafora. Dan itu telah kamu lakukan pada Atun. Bahasa, metafora, kata-kata puitis cuma tiruan. Keindahan, kecantikan Sulistyorini akhirnya jadi nyata lewat itu. Kamu mencetak Sulistyorini seperti kamu bikin roti bakar. Ini yang mau kuomongkan: Kau menghakimi dia, mengerti??
?Maksudku, aku tahu kau seorang Barthesis.57) ?
Pam diam tercenung.
?Lalu bagaimana dengan bahasa bunga matahari bekas toilet serangga itu, kunyuk??
Pam diam tercenung lebih dalam.
?Dunia ini tersusun oleh ribuan metafora. Itu kerja besar manusia. Terus menerus tiada henti. Setiap metafora tercipta, menjelmakan tafsiran-tafsiran. Dan itu akan memunculkan metafora baru. Seperti tangga, tak seorang pun sanggup memahami keseluruhan tangga metafora. Apa jadinya dunia tanpa metafora?
?Aku tak ambil pusing dengan omonganmu. Aku tidak tahu apakah aku betul mengerti ataukah tidak. Aku cuma tahu kau bakal jadi pemberontak yang radikal macam Jameson.58) Di lain pihak kau menjelma sosok yang dialiri darah pesimis dan terseretnya Paul Recours. Sungguh pribadi yang terbelah. Kasihan. Jangan naik pitam, chimpansee-ku.?
Biru Langit pulang meninggalkan tanda mata: perempuan itu, seperti ibunya. Ketika di jalan, diajumpai pepohonan, dia tidak menemukan apapun kecuali ranting-ranting yang sudah sarat aturan gila. Dan berguguranlah daun itu. Ada mobil-mobil karyawan, truk, trailer-trailer ever green bergerak, maju masuk gerbang pabrik kehancuran. Beberapa menit lapangan parkir penuh, pabrik meledak, terbakar dan jadilah lautan api tangisan orang.
?Begitu pula aku kepadamu, Sulistyorini, perempuanku. Telah kuubah diriku menjadi seorang Decius. Seorang yang mempersembahkan dirinya pada Tuhan neraka dan memilih kematiannya dalam peperangan. Sebab Decius telah mendapatkan ajaran dalam mimpinya sebab dengan begitu tentara akan menang dalam arti yang sebenarnya. Aku memenangkan meraih keindahan, Sulistyorini.?
Kepada ibunya, dikabarkannya tentang si perempuan dalam perut botol itu dengan apapun caranya. ?Sungguh Ibu, aku melihat wajah Ibu, kasih sayang Ibu, kesabaran Ibu pada perempuan dalam botol itu. Anakmu telanjur menikmati segala yang ia punya. Anakmu telanjur melukiskan dan membayangkan semua yang ada padanya, dari ujung ke ujung, Ibu. Begitulah, sampai aku betul-betul yakin bahwa perempuan itu persis Ibu.?
Di antara tumpukan rak botol kecap, botol bir, sambal, saos tomat, sari buah atau botol minyak goreng, kugeledah. Berpuluh-puluh krat, beratus bahkan beribu trade mark botol berserakan kuobrak-abrik. ?Sembunyi dimanakah kau para perempuanku? Sayang jika kau terjepit botol-botol rusuh. Seorang green peace yang menjebakmu, menyapu bersih tempat ini.?
?Kau nyengir menyindir aku??
?Jangan dulu tersinggung, kawan. Justru kau yang semula punya ide ke dokter mata. Makin aku yakin kau yang pertama kali kena rabun senja.?
?Tak usah main olok-olok.?
?Itu artinya kau seperti ayam. Cuma bedanya, kaulah ayam yang buta sepanjang hari.?
?Aku bisa bikin lelucon yang tidak kalah hebat dari kau.?
Berdua, kami lelaki segar, belum punya buntut dan istri setia, sepakat pergi ke dokter spesialis mata jika tidak hendak mencongkel bola mata dengan dua supit kawat jemuran. Tentu saja lelaki berotot segar jadi berat bukan, jika harus pergi di sepanjang jalan seperti mau menjual diri ke perempuan-perempuan? Lalu ke rumah sehat serba putih, antrean panjang, isi daftar hadir, konsultasi dan duduk menguji warna merah, biru (ah betul kan, ternyata belum juga buta warna ini aku?).
?Itu kamu bilang leluconmu? Jadi aku harus turuti saranmu mencongkel mataku lantas kumasukkan dalam amplop tertutup lalu kutulis alamat dan kukirim ke dokter mata? Dan aku tanpa menanti amplop balasan. Ha?ha? Lalu begitu tiba, terus kukenakan lagi mataku yang biru nyaris membusuk, heh?he..?
?Jangan ketawa. Kau sudah seperti anggota masyarakat congomengoloid. Coba lepas kacamatamu yang minus empat setengah itu. Nah, primata congo betul kau.?
?Kau sendiri kayak tebu boleng. Cerminmu lebih tahu itu. Hitam meliuk, korengan dan jangan lupa bibirmu hampir pecah separoh.?
Bak mesin teror atau di kamp conveyor, kepada Pam, Biru angit menjelma Caligula 59) di abad kaca sedang banyak cingcong pada Helicon.
?Ia nampak tersipu ketika kutatap nanar. Ia merah darah, rendah di tepi langit. Lalu ia mulai menyembul. Kian lama kian cepat. Makin lama makin terang. Makin tinggi makin pucat wajahnya. Hingga ia tak ubahnya kolam susu di tengah hutan kelam gemerisik karena bintang. Perlahan, dengan agak malu ia menghampiri, lewat udara malam dan panas. Lembut, ringan tiada tara dan telanjang. Ia langkahi ambang pintu kamarku, meluncur ke dalam ranjangku. Lalu ditungkannya dan akhirnya direndamnya aku dengan senyumnya. Oh, aku cuma inginkan, Helicon.?
Selama hidup tak pernah dia butuh seorang dokter ahli penyakit mata. Sulit pula Biru Langit membawa pulang secarik resep dari dokter yang buka praktek di dalam perut botol. Kinilah saat yang tepat?usai menghitung berapa jumlah dokter ahli penyakit mata yang bertahan buka praktek?untuk membawa diri periksa mata. Atau setidaknya pada cerminlah setiap orang dewasa, anak-anak, perempuan dan lelaki, gembel dan priyayi, saling memicing apakah retina matanya masih cukup baik. Betapa pemandangan terindah saat penuh orang mengotak-atik mata. Lewat celah-celah bibir botol, dia mendengar suara lirih. Sebaris sajak kutawarkan padamu sebutir aspirin, botol-botol kosong.60)

Tiga

PEMUDA Pam adalah seorang sahabat dekat Biru Langit yang asli kalahiran kota Surabaya. Begitu dekatnya nyaris lebih dekat dari saudara, sebelum akhirnya karena begitu dekatnya pula bisa saling serang dalam sebuah perang urat syaraf bersaing memperebutkan seorang perempuan. Begitu dekatnya sampai-sampai tak ada sisa sejengkalpun kisah keduanya yang, lebih-lebih bila itu suatu hal yang lucu, yang dialaminya sama-sama. Belum sebulan dia baru saja kehilangan pacarnya.
Suatu ketika sebelum datang dengan wajah capek, dia, Pam itu sudah membawa keinginan nguping suara lebah berjubelnya orang. Seperti lagu cengeng, mengaum dan garang. Dia juga mengantongi labirin hidung anjing, mengendus bau busuk daging mentah. Dia kadang seperti kucing mencengkiwing ikan asin dari perut pasar, melompat pagar. Lari terbirit, dihadiahi bogem mentah, dihajar pemilik kios ayam potong. Seekor kucing nyanyi lagu sedih. Menyusup di celah cuping lelaki itu dan Si tukang ayam potong sial. Perempuan gembur mengaku gatal, alergi habis menyantap sebaskom ayam potong. Perempuan itu mengadu,mengajukan gugatan Dan pecahlah perang. Parang nyaris melayang. Dugaannya, di balik serat daging ayam, racun bersarang.
?Kalau mata saya sudah hijau bisa mampus betul perempuan itu.?
?Wah, urusan bisa rusuh, Mas.?
?Biar! Laki-laki!!!?
Lelaki matanya melompat-lompat, melotot terjun di toples cendol, mencari moncong mulut-mulut yang mencibir nyanyi lagu sedih. Mulut-mulut suka ikan asin, ikan salem, bumbu masak, beras, kaldu, cabe, kentang, sayur, kopi. Berdengung seru persis seperti lebah. Berebut nyanyian-nyanyian keras nada elangit. Adu mulut bersungut-sungut, teriak caci maki, umpatan, kucing kawin, lenguh pengemis, gembel, pelacur, bajingan, sandal, terompak.
?Jika daun kuping saya merah darah, hidung saya bau bangkai busuk, bisa banjir darah, Mas,? kilah lelaki asing itu.
?Byuh! Anda terlalu banyak nonton TV, Gus.?
Laki-laki kasar itu datang kali pertama menggendong bulan tengah malam di bangsal pasar. Persis preman mengais makan. Garang. Obral jual omong besar tapi tak sesen pun uang keluar kocek.
Sebelum pulang dan sore kembali dagang, pasar sepi. Lelaki preman memencet-mencet hidung jelalatan mencari sumber bau busuk bangkai. Entah di tempat mana, di bawah meja atau kursi pedagang sayur, buah melon, limau, daging, es batu. Entah!
?Sampean cari apa, Mas??
?Banyak! Tapi yang penting saya cari pacar saya.?
?Di pasar ini? Sampai kapan??
?Sampai ketemu. Sampai kapanpun.?
?Pasar ini mau digusur, dua bulan lagi.?
?Ha!!!?
laki-laki preman gelisah. Tukang potong ayam gelisah. Setan! Pencopet, pencoleng, garong, gali, gelandangan. Pencuri, kucing, anjing, bajingan tidak main-main. Pikiran sadis tukang ayam lumer oleh istri preman. Cepat, tukang potong berubah menjadi preman, lelaki yang sehari itu saja dia kenal, itupun berwajah aspal, kusut, meriang. Senyum dan irama siul dia sedih pahit, getir.
?Sebentar, Gus. Siapa nama pacar Anda? Barangkali saya bisa membantu.?
?Namanya Ninik Sumini. Dia penyanyi dangdut.?
Laki-laki preman pulang. Sore kembali. Malam pulang. pagi muncul lagi mengenakan raut wajah dan sorot mata telinga dan bau daging busuk di lubang hidung. Sementara berita pasar mau digusur menyusup menusuk kuping. Blauran, Bubutan, Babadan, Bungkul Merah, Wonokromo, Wonosari, Anom. Orang-orang ribut. Di pasar pelosok yang tersembunyi sampai beratap kardus bekas, tikar pandan campur lumpur, ribut, bagi laki-laki preman, biasa. Aman-aman saja. Segerombolan pedagang berembug protes menggelar kain hitam meneriakkan lagu sedih dan cengeng, menari memukul tambur bagai irama peredam bom kesabaran. Biar orang-orang tersentuh, tergerak, tercabik-cabik jantungnya. Tidak beku seperti jantung ikan laut bersisik, kulit mengkilat tajam gemerlapan tapi matanya sayu dan tubuhnya kaku. ?Bukan berarti agar jantung dan hati kita selalu luluh di depan juragan-juragan berbaju dril coklat itu,? ujar pemilik toko kain di depan loudspeaker mungil. Lelaki preman muncul lagi. Biar selamat utuh dari setan yang masuk cuping telinganya soal penggusuran, nasib dan garis hitam penderitaan, dia pura-pura gila. Cuek. Persis tokoh tragis dalam Hamletnya Shakespeare. Jalan biar lempang. Aman. Dari nganga mulut lelaki preman menyusuri sepanjang lorong asongan berhamburan pernik-pernik partitur lagu sedih tanpa kecapi, gambus atau harmonika.
?Kasihku, di mana kau. Di mana kau. Datanglah. Sayangku, dimana kau. Di mana kekasihku. Datanglah diman??
?Minggat, he! Wong Edan!?
Sisa-sisa jagung bakar, kaleng-kaleng kosong melayang dan kentang boleng tepat mendarat di punggungnya. Laki-laki preman pergi. Cuek! Bertubrukan betis bencong dengan lenggok kasar, muka bemo moncong bibir tebal, main serobot caci-makian.
?Ohh..Laki-laki nggak normal! Main sikat rezeki orang!? Giginya nyangkut tersenyum manis amat manis. ?Permisi, Bu, Pak, Mas dan?? Lantas nyanyi sumbang.
tidakkah kau tahu
betapa hatiku oh rindu
tidakkah kau ngerti
betapa cintaku oh suci
janganlah bimbang jangan kau ragu
cintaku hanya?
?Pergiiii!!! Asu!?
?Wong Gendeng!?
Bagi laki-laki preman pacar adalah lagu. Kemana saja musik itu akan dia kejar. Ke ujung pasar sekalipun. Nihil suara itu tidak jauh dari rongga hatinya. Dekat tapi jauh. Jauh tapi amat dekatnya di dimensi segala ruangan, sudut, tempat terbuka. Udara bersih jadi syair masuk ke bilik paru-paru menggetarkan denyut jantung lelaki preman. Setajam pisau tukang potong ayam mengancam sasaran. Braakk!! Tidak meleset. Penyanyi dangdut akan terus singgah di hati lelaki preman. Sampai kapanpun. Sampai bumi ini terlihat seperti pasar malam di tengah sawah sekalipun.
?Ninik, aku mencintaimu, mencintai suaramu, mencintai bekas-bekasmu, mencintai orang-orang yang kau cintai, mencintai tempat-tempat yang pernah kau singgahi dengan penuh cinta. Hanya Kau yang Kupilih. Tunjukkan tempat kuburnya jika sudah kau matikan ia, Tuhan??
Lelaki preman itu pun menangis. Suara, igau dan sesengguk dia, melesat nyaris hilang. Kembali bau busuk menusuk. Laki-laki itu diserbu rasa takut. Dia sibuk peuli hidungnya mengendus. Bau bangkai tikus? Ikan laut? Sisa daging? Atau manusia? Laki? Perempuan? Jangan-jangan?Huh!!! Lelaki preman cepat lebih tangkas. Parade kerumunan lalat beterbangan dengan ganas, menggaruk sisa makanan di bak sampah melompat ke bak daging kambing, daging sapi segar, daging manusia. Secuil tersangkut di kaki serabut semut turut tersaji di meja makan dekat jamban. Cck..Cck..Cck..Daging ayam, kambing, sapi busuk penuh lalat dan ulat, dipamah habis. Gila! Lelaki preman mengaku memergoki orang melahap daging busuk, bangkai ayam dicomot saja dari empang kali. Lalu nyam-nyam-nyam. Tinggal sisa di pinggir bibir, bulu dan tulang rangka.
?Anda memang kebanyakan nonton TV.?
?Sering sebelum TV menyala bau busuk bangkai menusuk hidung sampai kedalam-dalamnya. Anehnya, begitu TV hidup bangkai itu benar-benar tidak jauh dari tempat duduk saya.?
?Tidak aneh.?
?Ya. Tidak.?
?Hah! Siapa sebenarnya nama pacarmu, kunyuk!?
?Ninik Sumini! Ah, sampean bisa menggantinya siapa saja: Titik Sandora. Evi Tamala. Nurhalimah. Anis Marsela. Puri Rahayu. Inne Chintya. Rhoma Irama. Hamdam. Mansyur. Basofi??
?Diancuk! Dasar preman sableng. Saya serius.?
?Saya main-main. Pacarku penyanyi dangdut. Tidak pernah saya kenal betul kecuali lewat pita kaset, dan TV tetangga yang cuma punya dua warna hitam dan putih. Jelas!?
?????
Lelaki preman roboh lagi. Ini kali tanpa setetes pun airmata. Wajahnya merah darah. Ada dendam kepahitan. Suaranya berat. Merintih. Hatinya gelap.
?Saya seriusssss?!?
Udara pasar makin keruh. Isu campur basil-basil sisa kotoran lalat hijau diterbangkan angin kering. Pasar tempat sarang bau bacin campur aduk bau parfum dan gincu wanita, sisa sengak mention, drum, jenever, Bir hitam, KTI. Gelisah, gundah, nasib, harapan, kecewa, hancur turun dicurahkan persis hujan dari langit. Bila terik datang, menguaplah. Sakit itu pula terbanglah seperti kapal-kapal kertas. Bagi lelaki preman segalanya lagu. Syair. Terbanglah?Terbanglah?terbanglah sampai jauh. Lupakanlah?Lupakanlah sampai pasar ini terkoyak ambruk, takkan kembali syair lagumu. Ia cuma kata. Sialan!
?Suara pacarmu pasti sungguh hebat.?
?Kalau tidak, saya tidak akan mengejarnya sampai di sini. Di TV pacarku pernah membuat ulah orang sakit jantung. Lalu tewas. Atau meremukkan TV cuma oleh sebab gelagat dia. Sampai saya dirasuki bakteri penyakit seperti ini. Tapi yang lain asal ngaco saja. Dangdut! Dangdut! Joget! Joget! Hebat bukan?? Lelaki preman bergaya executive.
?Tampangnya jika laki, pasti istrimu persis HM Damsyik si leher kalkun Datuk Maringgihnya Siti Nurbaya itu.?
?Oh, suka juga nonton TV??
?Ya. 14 in hitam putih.?
Semenjak patok-patok dipasang di pinggir pasar, orang makin sesak nafas, membebek buta di senja hari. Pasar mau dibangun tertib atas Master Plan, Rencana Tata Kota. Tidak bisa tidak. Cepat atau lambat. Merdeka atau mati, hengkang. Oncat! Pasar hendak dibuat pagar kawat berduri. Kawat-kawat dipegang tangan kekar bertopi baja. Juragan-juragan berbaju dril coklat muda di belakang meja menggenggam handphone, cappucino, Coffee Beer, mengunyah rumsteak. Sejenak lagi kebiasaan orang mengumbar dan menguapkan bau bacin mulut tentang dongeng apa saja, lagu apa saja akan terkubur buldoser-buldoser yang berpikiran daging manusia dan daging-daging manusia berwatak segarang buldoser.
Di pintu keluar biasa mangkal tukang ojek, penarik becak, lelaki preman mendengar irama lagu sedih. Tangis orang sseperti bayi ditengah malam panjang, melolong, mengundang kasih. Di sebelahnya papan besar bertuliskan: Dilarang Berjualan di Sini. 50 m kanan dan kiri bertanda panah. Irama lelaki preman berubah garang. Kedengaran gendangnya dipukul asal kena. Ribut. Adu hentakan kardus-kardus bekas, kotak kue, papan atau tiang listrik asal dipukul. Yang penting bunyi. Pedagang, pembeli bisa main lempar batu, tendang botol-botol kosong, kaleng minyak. Pokoknya riuh berbaur basil-basil influensa dan jantung koroner. Seseorang mengaku berguru pada Ki Geram entah dari mana mengacungkan pedang. Rupanya dia tahu juga sulit merubah kebiasaan jika pasar dipagari kawat berduri. Dia tahu pula soal restribusi, setoran, upeti, sewa, salam tempel, pungli ponten. Hah! Sumpek! Sumpek itu akhirnya dibawa turun ke jalan. Buntu tanpa jalan.
Kabar pasar kawat berduri tercium juga dihidung lelaki preman. Dia ngamuk. Mengaum. Menyerang apa saja. Berguling-guling di jalan. Teriak-teriak. Habis itu nyanyi lagu apa saja. Tiba-tiba nyanyiannya menusuk sekali. Orang mulai tidak menganggapnya gila. Cepat perhatian orang-orang di jalan membawa kain, spanduk, kerudung hitam tersedot ke lelaki preman. Lalu es batu. Menyusul kemudian dibiarkan pikirannya dingin. Biar hatinya landau. ?Saya sudah kehilangan istri saya. Sekarang saya kehilangan nyanyian-nyanyian dia. Kehilangan lagu-lagu yang jujur seperti lebah. Kemana lagi saya harus mencari. Saya capek!?
Lantas lelaki preman itu sendiri. Sepi. Orang-orang sudah kembali meninggalkan dia. Sibuk. Bingung. Takut. Sebagian orang memilih mata pencaharian baru. Sebagian yang lain kesruh mengurus soal surat pindah, surat keterangan, ngurus sertifikat tanah, ganti rugi. Ruwet! Lelaki preman dengan suara yang amat kecil mencium orang ngomong Rp. 750 ribu per 100 m2 sampai 40 meja. Lewat saja. Dia cuek. Samar-samar dari jauh tetapi amat dekat, lagu Hanya Kau yang Kupilih Basofi di tengah kebun the tersadap menyusup di celah kuping lelaki preman. Jantungnya kambuh. Lindu rasanya bertubi-tubi. Dinding jantung lelaki preman retak.
?Saya lihat di TV kawat berduri dipakai menjerat tubuh manusia. Dan buldoser menari-nari di atas tubuh orang.?
Lelaki preman ingat nyanyian. Kembali ingat seekor kucing mencuri ikan laut, ingat pisau tukang ayam. Lalu lalat-lalat yang melompat ke bak sampah, menari-nari di daging busuk.
?Bau bangkai tidak jauh dari tempat duduk ini. Hati-hati!?
Lelaki preman menyebut namanya Randu, atau boleh siapa saja Lazuardy, Barep, Andi Sudirman, Zivago. Lelaki preman mekin telantar mencari istri dan nyanyian. Bersama pasar yang terbakar dari empat arah, lelaki preman mati karena sakit jantung.
Diamput! Itu cerita picisan, biarpun Pam dikira preman tapi sama sekali tak ada bau penderitaan, apalagi semangat perlawanan, tidak punya pijakan, tak ada spirit untuk melahirkan suatu yang bermakna bagi hidup, yang dia ceritakan cuma pacar dan lagu-lagu dangdut yang dinyanyikan penyanyi-penyanyi yang sering muncul di TV, tak ada kepedihan di situ seperti pengalaman Biru Langit yang telah disumpalkan di kuping Pam, sama-sama tentang kehidupan orang pasar, di sebuah pinggiran kota, di Kremil?komplek pelacuran pinggir kali kumuh. Di situ pasar malam dan ludruk murahan sedang digelar.
Di lain waktu di kepala Biru Langit, pasar malam membludak. Pertunjukan campur aduk. Dagelan, ludruk, orkes. Panggung mau roboh disesaki hiburan, dijejali tawa ngakak. Laki perempuan cekikikan mengunyah kacang. Berpasang mata suram kehilangan energi diserobot asap rokok hingga sunsum urat-urat. Sepet. Ngantuk. Bahu laki perempuan rubuh, takluk, kusut, ambruk dan tumpah. Mendusel sampai remuk. Di pintu orang berjubel keluar dan masuk. Di sebelah kiri pintu banyak orang ngobrol. Di kanan orang joged riang melepas dendam. Bir ditenggak. Irama dihentak. Berbaur gerit kursi lipat beringsut digerat, digesek-gesek, digosok. Gending berselancar, bertalu sejak tengah malam tapi sepi penonton yang meluncurkan segebok rokok. Ada yang mencoba main-main, melempar botol-botol plastik. Menghantam dengkul pelawak lucu, botak, berkumis sebelah, celana komprang dan kaos sepatu merah menyala, celana kulot bergambar kalajengking sebesar buah pisang tepat di bagian depan.
?Mau bir hitam?? sesorang bernama Bawong menawarkan pada Biru Langit.
?Tidak, terimakasih.?
?Joget??
?Terimakasih, saya capek.?
?Ineks??
?Ohh??
?Ada penyanyi cantik, aku kenalkan.?
?Nah, ini baru siippp!!!?
Biru Langit pasang aksi. Dia melihat dengan mata telanjang ke atas. Purnama sedang bersih. Penuh bintang. Dia dikenalkan Lailly, penyanyi yang dibon orkes dangdut yang bersama grup ludruk keliling. Tapi sial, nampaknya dia menyesal setengah mati baru mencuri pandang di atas punggung panggung. Akibatnya, dia jadi buta wanita cantik. Jadinya, Biru Langit harus mengulang-ulang kata; cantik, cantik, cantik. Byuh, tak satupun perempuan yang melebihi purnama. Huh, sombong benar. Awalnya dia pegang tangan Lailly, dia buang muka ke arah kiri. Jatuh pada laki-laki hitam bibir tebal kusam tengah berjongkok. Tahu apa yang dialakukan? Dia usrek dengan perempuan. Cih! Main pegang, mendusel tenggelam. Semua tak peduli semua yang tenggelam. Justru berpasang mata tajam mengancamnya.
?Hehhh!? Lailly membentak Biru Langit sampai terjungkal. Malu dia. Dia terkesiap, terkejud betul, kaki dan paha pemain bola terbuka disingkap-singkap angin menjambaki muramnya. Muka lesung penumbuk padi. Tangan potongan bambu. Itulah perempuan Lailly. Biru Langit tidak berusaha menarik perhatian Lailly. Lailly seperti perempuan jalang lain yang sepanjang dongeng-dongeng dan diceritakan sahabatnya di warung-warung kopi. Menantang dan merangsang. Biru Langit merasa berdosa pada purnama yang bisa saja diisi dengan gambar-gambar suci. Katanya, pada mulanya perempuan macam Lailly akan bermanja-manja, manis, sebelum akhirnya kejam mengancam. Tapi dia itu penyanyi! Uhh?penyanyi model apa suara saja serak mirip seng bekas drum aspal!
Pikiran bertarung dan bertaruh. Oh, nasib penyanyi orkes dangdut dibon grup ludruk murahan kembang kempis di komplek pelacuran kesenian? Apa-apaan ini! Penyanyi night club, hotel, caf? shop saja kerja serabutan, main sabit dan main serabutan, main cabut dan main serabut, kok. Biru Langit tidak sanggup lagi menantang purnama. Mengumbar dosa. Dia cuma bisa memakan lampu-lampu panggung. Sampailah Biru Langit di ujung belati terhunus nyali kejalangan Lailly. Biru Langit dipelototi.
?Mas, Anda di sini tidak usah banyak tingkah. Aku bisa panggil bodyguard untuk meremukkan perut sampean! Jangan menghina aku, Mas.?
Biru Langit cukup tahu perempuan ini tidak main-main. Dia lirik di sudut seng berdiri bergerombol orang sangar, hitam, penuh tato, celana berhias rantai, tangan penuh batu akik.
?Wong!!! Bawong!!!? Biru Langit teriak memekik sampai urat leher menyembul. Justru sama sekali tak menarik perhatian. Penyanyi kedua orkes telah turun dan ludruk murahan berlanjut.
?Jangan sok suci. Mau apa datang ke sini, ha?!!?
?Itu urusanku.?
?Ya, aku memang nggak punya urusan.? Lailly dia seret masuk bilik istirahat para awak ludruk. Persis ponten umum. Biru Langit dibiarkan di luar. Selama dia digoda perempuan-perempuan jalang belasan tahun seperti mobil baru yang melintas pulang balik. Biru Langit teringat perempuan-perempuan setengah waras yang digodanya waktu di kampung. Dia juga ingat nasi pecel lele di meja makan. Jika dia lapar musti disantapnya habis sampai tuntas, sampai tandas.
Kembali hiburannya dia sempatkan menatap rembulan purnama yang persis wajah perempuan-perempuan di kampung dulu, semenjak ia diperkenalkan oleh Bari. Perempuan yang cantik seperti bintang-bintang bermain-main di terang cahaya. Lailly menyanyi. Buruh-buruh kasar, pedagang, pasar kuli-kuli pabrik melepas dendam di rumput halaman panggung. Wajah lesung Lailly dihantam sorot lampu hologen, meliuk-liuk. Di sela-sela suara yang melengking seperti lolong anjing, seperti di sela rambut-rambut ketiak, dua badut menjambaki rambutnya kemudian punggungnya, bokong, sampai senggol sedikit da bukit susu kiri kanan. Biru Langit lebih suka terganggu ribut-ribut orang nyaris beradu otot, siulan mencari lawan, teriakan caci maki, pedagang mencari pandang dari dinding-dinding sesek yang mau ambrol, daripada liuk penuh dosa tubuh dibebat plastik transparan. Astaghfirullahaladzim! Lailly terus memaksa, mencekoki, menekan ke cuping stiap telinga dengan syair-syair lagu sedih yang dibuat-buat. Nampak sekali beda dengan omongannya yang kasar, jago berantem. Bisa jadi memang orang yang sanggup melantunkan bait-bait kesedihan itu orang yang jauh dari penderitaan, karena orang menderita cuma tahu bunyi mesin pabrik atau perintah-perintah kasar. Hasilnya cuma mendendam, melacurkan diri di panggung orkes dangdut dan pentas ludruk para bencong.
Pukul tiga orkes turun. Bawong muncul dari balik bilik panggung. Mata Biru Langit terus tertuju resleting celana dia. Di sebelahnya, sebut saja mucikari juragan ludruk. Biru Langit bisa dengar dari nafasnya senin-kemis, sama ludruk yang kembang-kempis. Badut ludruk tadi juga menyebut juragannya mucikari Broto. Jadi klop. Mucikari. Mucikari. Mucikari. Sehabis membetulkan resleting celananya, Bawong cuap-cuap asal muncrat bicara soal kesenian tradisional dan permasalahan tanpa metode pendekatan dan landasan teori yang memadai langsung saja mencoba menawarkan bargaining power. Menyusul kemudian kesimpulan. Bagi Biru Langit masuk telinga kiri keluar lubang kanan. Blong!
?Jadi begini juragan Broto, saya datang kemari mencari bibit-bibit pemain baru terutama untuk peran wanita. Zaman dulu, zaman stambul, dardanella, besutan memang wanita dipingit tidak boleh jadi pemain ludruk. Sehingga untuk peran wanita diganti laki-laki. Sekarang banyak wanita cantik-cantik. Tahu kan maksud saya juragan, karena penonton kita juga berkembang status sosial dan ekonominya.?
?Juga moralnya? Tidak bisa, Pak. Pemain-pemain sudah saya bayar tetap dan mereka sudah bertahun-tahun ikut grup ini.?
?Kalau honor mereka saya tambah dua ribu tiap malam??
?Pak Bawong jangan mempermainkan saya. Tadi bapak maunya membantu saya, kok malah pamer kenaikan honor pemain. Kalau mau bantu belikan saja material, kostum??
?Nanti juragan dapat persen. Juragan harus sudi berkorban. Ludruk ini jihad juragan.?
?Tidak bisa!?
?Saya kontrak saja Lailly beberapa malam.?
?Pak Bawong, tolong, Pak. Cuma Lailly primadona paling lincah goyang dan merdunya. Kalau Pak Bawong bawa, saya akan kepaten obor.?
Biru Langit nyaris hengkang, meloncat mendengar basa-basi dibuat serius ini. Sampai ludruk bubar pukul empat. Bawong dan juragan Broto masih bersitegang berkutat masalah basa-basi. Lailly sendiri kabur dibawa laki-laki lain. Entah kemana. Ini semua dunia basa-basi, orkes, ludruk, penonton, juga laki-laki perempuan.
?Lailly! Lailly!? Juragan Broto mengejar perempuan itu.
Merasa diburu Lailly berkelit dibalik laki-laki barunya. Terjadi tarik menarik yang hebat. Lailly meronta.
?Mau kemana kamu?!? Pak Broto kian berang. Hampir main tangan. ?Diamput!!?
?Kemana saja, Pak. Asal tidak dilempar-lempar seperti lemper. Saya sudah capek jadi boneka mainan. Dibeli sana. Dibeli sini!?
?Jangan jauh-jauh. Jaga diri baik-baik.?
?Apa peduli juragan? Ini calon suami saya,? Lailly lantang menyeret laki-laki itu.
Huh! Dia ngece Biru Langit. Biru Langit sempatkan menikmati siraman cahaya purnama. Biru Langit ini basa-basi pula. Tapi mudah-mudahan tidak. Biru Langit masih menyisakan belas kasihan. Awak kena virus ebola! Oh, Biru Langitu telanjur dosa mencap ini main-main. Tidak bisa tidak. Jadi ya begitulah, mudah-mudahan ini basa-basi, main-main.
Juragan Broto kusut beringsut. Dia terjungkal hati. Tersinggung. Mukanya persis dihantam sandal atau plastik bungkus minuman. Hening. Hanya bungkus kacang beterbangan menempel pada seperangkat gamelan bercampur debu yang sama sekali belum dibersihkan dari tempatnya. Untuk besok malam.
?Aku tidak suka perempuan macam Lailly. Aku sungguh suka penari remo, namanya?ee..ee ckk..ckk.?
Biru Langit mendelik tapi aku tidak berpikir serius. Sama. Bawong tidak peduli omongan terutama ke bulan!
?Tadi mau kau bawa kemana katamu??
?Ke bulan!?
?Ya, barangkali Utami eh..Utomo juga hendak kubawa ke sana. Siapa tahu itu tempat yang nyaman atau siapa tahu di sana ada permainan yang lebih dahsyat lagi.?
Malam berikutnya Biru Langit datang sendiri tanpa kawan ke barak penuh dongeng itu. Tentu saja bulan cuil tinggal sepotong. Tidak lagi dia bisa leluasa menyapa bintang-bintang yang bermain di emplasemen bulan sebagaimana diceritakan Pak Amang Rachman Zubair lewat lukisan alamnya. Awan pun seringkali datang berbuih persis ombak memecah.
?Mau bir? Atau ineks??
?Tidak, terimakasih.?
?Wanita cantik??
?Ha??!?
?Namaku Rusma.?
?Rusma siapa??
Lalu bulan tertutup awan. Langit gelap.

Empat

BERSAMA Pam cerita perempuan atau bencong seperti biasa begitu gampang terlupakan biarpun setiap kali perang urat syaraf itu belum akan pernah usai, setidaknya untuk waktu-waktu sekarang ini. Di sisi lain, darah muda kami masih menggelora, ya darah laki-laki yang butuh perempuan buat apa saja. Namun darah yang tersirap di tubuh laki-laki macam Biru Langit dan Pam telah lama dialiri sebentuk dendam atau apa saja tentang kemiskinan, penderitaan, masa lalu yang suram. Sebab itu, yang tak begitu gampang dan mungkin tak kan pernah terlupakan adalah ketika Pam pula yang memperkenalkan Biru Langit pada anak-anak muda kiri di univrsitas. Begitu kirinya, sampai-sampai mereka seperti berandalan dan bukan tampang seorang pemikir jempolan. Anak-anak muda kreatif yang hadir dalam sebuah diskusi ?Rekonstruksi Bisu.? Di situ dia diperkenalkan dengan jago-jago berdebat seperti Anom Astika, mahasiswa Politik yang abadi anak Bali yang tak pernah diizinkan menyelesaikan studinya di Airlangga. Herman anak muda berkaca mata tebal yang sesungguhnya intelektualnya biasa-biasa namun bila bicara ia meledak-ledak, menyerupai petir, kemudian banyak anak-anak muda bersemangat.
?Banyak mereka yang hadir dari pergerakan sosialis Solidaritas Mahasiswa Jakarta, Jakker, SMID, PPBI, 61) ? bisik Pam disela-sela saat mengikuti diskusi mereka.
?Siapa mereka-mereka itu, bicaranya begitu berani,? seperti biasa, Biru Langit selalu tampil menyelidik.
Pam nampak mengangguk atau sedikit tersenyum, menggerakkan tangannya sedikit pada kawan-kawan yang ia kenal, agar tak dicurigai orang-orang yang hadir dan kebanyakan belum juga ia kenal, ?Kendengarannya mereka-mereka dari Front Pemuda Nasional dan Gerakan Demokrasi Nasinal,? Pam terus mencoba memberikan informasi pada Biru Langit sebisanya, biarkan sedikit sibuk dengan dirinya sendiri, ?Kamu tahu Front Pemuda Nasinal diantara kawan-kawan pergerakan telah dicap Leninis dan Gerakan Demokrasi Nasional lebih Maois. Cikal bakalnya sejak delapan tahun lalu, diskusi-diskusi yang dibuat secara sembunyi-sembunyi Persatuan Pemuda Nasinal,? imbuh Pam.
?Rupanya, mereka itu anak-anak muda berbau komunis??
?Bukan. Maksudku bukan semuanya anak-anak muda komunis, apalagi jika yang kamu maksud itu yang PKI. Saya tahu dari keterangan-keterangan mereka, ada faksi PSI Sjahrir, faksi Tan Malaka, dan tentu saja faksi PKI.?
?Dari bicaranya, aku tahu nampaknya itu tidak cukup penting bagi mereka,yang penting bagi mereka adalah revolusionernya,? bisik Biru Langit
?Ya, anak-anak muda itupun tahu sejarah. Tahu bagaimana sejarah masuknya komunis di Indonesia saat dibawa Snevliet dulu. Dulu juga tidak pernah secara terang mengatakan komunis tapi social democratik. Seperti dulu Snevliet, pada tahun 1914 dia juga sosial demokrat.?
?Artinya dalam perjalanannya memungkinkan bagi mereka untuk menjadi komunis?? celetuk Biru Langit.
?Sekarang ini memang bukan komunis tapi selangkah lagi bisa, bukan tidak mungkin hanya menunggu waktu saja untuk melangkah.?
?Apa itu penting bagimu, komunis atau bukan??
?Ya, tidak sih!?
?Seberapa penting jangan anggap komunis atau memang komunis, karena kenyataannya memang bukan berarti mereka-mereka dari bicaranya bukan penganut Marxis, mereka dapat diartikan kira-kira dalam artian penganut sosial demokrat dan populisme. Semacam kiri baru, saya kira mereka bukan komunisme tapi kiri.?
?Ya,? tandas Biru Langit sekaligus menyakinkan dirinya sendiri, ?Sepatutnya tidak usah terlalu phobi dengan Marxisme. Marxisme dan Leninisme sudah lewat. Di Jerman saja pusat besar komunisme sendiri buku-buku Marxis dan komunisme sudah tidak ada. Saya kira memang harus ada yang kiri, karena bila tidak ada yang kiri itu lemah, betul begitu, kawan??
?Kukira, ya! Tapi sebelum kita sendiri berdebat alahkah baiknya kita cermati anak-anak muda itu brsilat lidah, oke??
?Aku tahu jalan pikiranmu, kamu hanya mencoba mencari kesamaan pikiran dengan aku, agar sama-sama bisa mendekati Sulistyorini bukan?? Biru Langit menggoda Pam.
?Hah, kau! Hendak lari kemana kau bicara!?
?Ketahuilah Sulistyorini tak suka politik, jadi percuma pacaran dengan orang-orang seperti kita, setuju kawan??
?Jangan dulu kita bicara itu!? Pam berkelit.
?Ayolah, bicara!?
?Jangan, kataku!?
?Siapa yang bicara itu??
?Arindra, orang SMID, tahu SMID??
?Ya..ya!?
Perdebatan benar-benar terhenti, seperti peserta diskusi lainnya, Pam dan Biru Langit sama-sama mencermati bicara Arindra, seorang anak muda yang nampak pendiam, tenang dan suaranya kurang jernih berargumen, kata-katanya begitu lamban namun sekaligus menunjukkan benar-benar keluar dari pintu jalan pikirannya.
?Saya lebih percaya pada pernyataan Bung Karno dalam buku-buku. Bahwa gerakan tigapuluh September terjadi karena kebodohan pemimpin-pemimpin PKI, kepicikan pikiran-pikiran tentara dan kegiatan-kegiatan subversif dari agen-agen luar negeri. Tetapi dengan penuh tanggungjawab Bung Karno masih percaya kerusuhan pembrontakan oleh segerombolan orang sipil yang didukung militer itu percikan revolusi. Padahal itu semua jelas berarti menggerogoti kekuasaan Bung Karno. Perwira-perwira yang sekolah di AS tidak hanya belajar perang, tapi juga politik kekuasaan, punya kepentingan. Terutama para jenderal tahun 60-an. Soeharto juga dan Indonesia ketika itu masuk dalam jaringan politik domino komunis, komunis Cina, sosialis Rusia, Komunis Vietnam sampai Indonesia yang jelas menakutkan Amerika Serikat. Kecuali itu Amerika Serikat juga ketakutan dengan Bung Karno dan berupaya melenyapkan. Soekarno memang membahayakan Amerika Serikat. Dia bisa menggalang negara-negara terbelakang dengan new emerging forces-nya itu dan di Indonesia sendiri Manipol Usdek yang menyiapkan sosialisme, tumbuh dan hidup di sini. Ini kan cikal bakal perang besar antara blok barat dan blok timur, kapitalis dan sosialis. Indonesia dan Soekarno dipersiapkan untuk perang besar itu, waktu itu. Sosialisme itu pernah berkembang subur di sini juga komunis. Syahrir, Hatta, Soekarno itu orang sosialis dan sebetulnya Indonesia cocok dengan itu. Itu sampai sekarang sah saja. Tetapi keduanya beda. Sosialisme itu gagasan pemikiran masyarakat yang besar, dan dalam sejarah perkembangan pemikiran memang didominiasi oleh negara-negara Eropa timur, Soviet dan Cina untuk membendung kapitalime seperti saya sebut itu. Sedangkan komunisme itu memang bagian dari sosialsme, tetapi sudah melihat kontek sosial, budaya dan sejrah sebuah negara. Contohnya komunisme Cina ang mengembangkan Soialisme Marx, Lenin dan pemikiran ekonomi karakyatan Mao Zedong. Jadi tidak benar itu teman-teman PRD punya hubungan khusus dengan komunisme apalagi pewaris PKI yang merebut kekuasaan dengan paksa. Jika ada orang ngomong begitu berarti masih memakai truf lama. Teman-teman lebih memahaminya sebagai gerakan dengan ideologi sosialisme yang sifatnya lebih responsif terhadap gejala-gejala sosial, kebetulan akibat kuatnya desakan kapitalis. Di antara sosialisme desa yang diterapkan komunis Cina dan sosilisme kota milik Soviet, PKI condong ke sosialis Soviet, meskipun pada akhirnya membelot ke Cina. Kendati sebagian besar penduduk Indonesia petani, PKI lebih memilih cara Soviet, karena PKI menghadapi peran kota-kota, khususnya di Jawa, kapitalis-kapitalis yang perlu digeser. Itu tindakan konkret selama perang dingin.?
?Intrupsi!? seseorang menyela,? maaf saya mohon bicaranya dipersingkat saja??
?Ssstt,,, siapa itu, Pam?? bisik Biru Langit.
?Anak teater, aku sendiri tak sebrapa kenal.?
??Orang-orang pergerakan hampir semua tahu itu, silakan persoalannya dipersingkat saja,? lanjut anak teater itu.
?Baiklah, persoalanku, makin banyak saja orang ketakutan dengan komunisme. Menurut saya semakin banyak orang ketakutan, maka orang-orang seperti kita ini makin besar kemungkinan untuk jadi PKI betul, bagaimana ini?? Mungkin karena tersinggung bicara Arindra mendadak lebih lancar dan lantang.
Ketajaman bicara Arindra dan persoalannya yang betul-betul baru, membuat suasana kosong sejenak. Anak-anak muda itu sama-sama berpikir, tidak tahu siapa yang angkat bicara untuk turut memecahkan persoalan yang diajukan Arindra, hingga kemudian seserang, memberanikan untuk menjawabnya?sudah barangtentu jauh dari persoalan sebenarnya, apalagi harus dengan membolak-balik membaca kembali makalah yang telah dibuatnya panjang lebar.
?Begini memang lebih tepatnya komunisme tidak prenah mati. Secara ideologis komunime itu dimana saja, termasuk di Indonsia bisa muncul kembali. Ini mengingat di sini saja, sistem pemerintahan ala komunis memang belum pernah terwujud. Tetapi dalam prakteknya akibat desakan dari luar maupun kelemahan sebuah konsep sistem pemerintahan, akibatya lebih dari yang direncanakan oleh komunisme. Baiklah, saya akan melihat pada tubuh Golkar saja sebagai kekuatan kekaryaan dan politik. Karena golongan ini yang pada akhirnya menguasahi pemerintahan dan menggunakan kunci birokrasi, setelah PKI gagal merebut kekuasaan. Munculnya Golkar itu melampaui cara-cara yang dikembangan komunis. Pemerintahannya tidak mempunyai visi secara jelas kecuali sebagai respon untuk memperjuangkan kelas ekonomi. Di sini politik birokrasi sebagai alat untuk tujuan ekonomi. Juga pembangunan kultural yang sering disebut-sebut ternyata tidak pernah terbukti sedikit pun. Contohnya kultur Jawa. Golkar, orde baru, Soehato terlampau sering menyebut-nyebut kultur Jawa sampai ruangan-ruangan, kursi pintu harus dinamai istilah Jawa. Yang betul adalah pemerintah masih menggunakan cara kekuasaan Jawa dalam merebut pemegang kekuasaan. Raja-raja Jawa yang dulu menggunakan mitos sabdo pandito ratu, manunggaling kawula lan gusti masih dipakai untuk legitimasi pemrintah sekarang. Caranya dengan menciptakan kondisi chaos sebelum menguasai daerah atau negara. Ini motif merebut kekuasaan kelas sosial yang dilakukan oleh kelas menengah atau bawah pada masa dulu. Hal yang sama persis dilakukan oleh hampir kebanyakan penguasa di Jawa bertahun-tahun lalu dan berkali-kali dalam sejarah Indonesia. Sistem politik birokrasi ini pernah berkembang masa pemerintahan Hindia Belanda, khususnya dalam hal kebijaksanaan perdagangan, ekonomi dan tentu saja politik. Waktu itu juga di-counter oleh organisasi sosial yang sebagian lari tidak sabar mengarah pada kepentingan komunis. Organisasi sosial yang terjebak pada perjunagan kelas di masa pemerintahan Belanda akhrinya berkembang menjadi komunisme dengan merusak, menteror sendi-sendi perekonomian kelas penguasa ekonomi. Mereka hanya memperjuangkan struktur kelas bawah untuk merebut kedudukan kelas atas. Dan sekarang cara-cara itu dipraktekkan pemerintahan orde baru tanpa perbedaan. Bahkan sebetulnya cara-cara komunis itu jauh lebih baik ideologi maupun tujuan-tujuan praktisnya. Ini terlepas dari PKI yang tidak menyukai dmeokrasi dan bebuntut perebutan kekuasaan secara paksa. Komunisme di tingkat bawah menguasai betul lapangan kelas petani dan buruh sedangkan Golkar tidak. Meskipun perolehan basis massanya meniru komunis, misalnya dengan masing-masing anggota mengkader lima orang sampai tingkat bawah dan sebagainya. Dalam hal demokratisasi juga begitu. Demokrasi yang digembargemborkan oleh pemerintah itu sendiri sebetulnya juga bersama-sama memelihara apa yang disebut manajemen konflik yang cenderung menjadikan pemerintah bersifat otoritarian, totaliterisme. Semua gerakan yang lawan kemapanan tidak peduli ekstrim kanan, ekstrim kiri akan dihabiskan. Tidak peduli bahaya laten komunis atau sebetulnya bukan komunis diklaim komunis karena untuk menghabisi. Ini senjata ampuh yang turut melegitimasi pemerintah dan ini pembunuhan ideologi yang berkembang di masyarakat??
Diskusi masih amat panjang, namun dari satu pesan penting ini, sudah bukan suatu persoalan yang menarik untuk diikuti, pembicaraan cenderung tidak fokus, dan seperti biasa di setiap acara diskusi yang bicara adalah mereka yang memang jago untuk itu.
?Sudah lama kamu bergaul dengan mereka, Pam??
?Lumayan,?
?Tapi mengapa pikiran sosial demokratmu itu tidak kamu tunjukkan padaku??
?Jadi kita mulai berdebat sekarang?? Pam rupanya menantang.
?Soal yang mana?? kembali dimentahkan Biru Langit.
?Diamput kamu!?
?Kenapa tidak kita teruskan soal si Sulistyorini tadi? Sampai dimana kamu bicara tadi??
?Baik!? Pam kedengarannya emosi. ?Ya, tadi kamu bilang Sulistyorini tak suka politik, lantas??
?Untuk apa dia suka kamu??
?Atas dasar apa pua dia pacaran sama kamu??
?Dia mahasiswi politik!?
?Ah, itu masalah lain.?

Lima

ANAK-ANAK muda kiri atau yang sudah telanjur berbau kekiri-kirian, melihat politikus seperti pepatah guru kencing berdiri, murid mengencingi guru?jadi politikus-politikus tak jauh dari cerita tentang kencing itu.
?Bumi ini dihuni lebih dari lima miliar nyawa manusia. Sebagai insan manusia ciptaan Tuhan jumlah miliaran itu semuanya kencing dengan rupa-rupa warna, bau dan mungkin rasa. Bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, kakek-nenek, laki-perempuan, presiden, menteri, hakim, jaksa, tentara, politikus, profesional, buruh, petani, mahasiswa, demonstran. Tanpa menggeluh, bumi ini terpaksa menjadi ponten umum bagi mereka dan dia harus rela menyediakan dirinya untuk ribuan kubik liter air kencing Tapi lain ceritanya kalau bicara tentang kencing binatang, atau manusia yang sedang menghuni ruang angkasa di stasiun MIR. Seperti halnya, lain pula bila cerita tentang politikus. Ada ratusan ribu politikus (mengingatkan pada ungkapan ?ingin kaya mendadak? jadilah politikus?) yang kencing di bumi. Yang terbayang di benak setiap orang, politikus-politikus ini digaji dan makan dari uang rakyat atau uang siapa saja yang mengatasnamakan rakyat. Biarpun ternyata masalah gaji dan tetek mbengek asal-usulnya betul-betul bukan menjadi masalah, karena memang tak pernah dicoba dipermasalahkan! Kecuali itu tidak ada. Apalagi mustahil jika ada sebatang hidung yang pernah melintaskan sejenak angan-angan bagaimana para politikus ini kencing,? demikian kata-kata mereka.
Mereka menyebut politikus Bintang Sakti, seorang sesepuh pialang politik di sekitar komplek Balai Pemuda. Namun bagi Bintang Sakti, justru dari miliaran orang di bumi yang semuanya butuh makan itu, rasa-rasanya hanya dirinyalah satu-satunya politikus yang memiliki kebiasaan aneh: kencing di pinggir jalan. Jalanan mana saja di kota-kota besar di seluruh pelosok negeri ini sudah dia kencingi. Jakarta, Aceh, Pontianak, Ujung Pandang, Mataram, Biak. Bahkan jalan-jalan besar di negara-negara yang sempat dia kunjungi rupanya juga bernasib sial harus dia kencingi pula. Australia, Malaysia, Amerika, Cina, Singapura, Thailand dan tidak lama lagi, negara-negara Eropa seperti Jerman, Perancis dipastikan juga bakal dia kencingi. Tiada seorangpun reporter yang berhasil mewawancarainya karena begitu tape recorder atau microfon TV menyala, politikus gaek itu harus cepat-cepat mohon diri untuk kencing. Maka diapun cepat menyambar tasnya dan lari lewat pintu belakang kantornya langsung melompat pintu pagar dan melirik jalan sebelum akhirnya kencing. Suka kencing di pinggir jalan, bukanlah penyakit baginya. Sebaliknya, justru ini yang jauh lebih menganggu dari penyakitnya sendiri, kencing manis. Dulu semasa kecil ketika masih berada di pedalaman kampung di pelosok kota Ponorogo, politikus Bintang Sakti memang pernah mengidap ?semacam? penyakit ngompol yang amat berlebihan. Dan itu terbawa hingga usia remaja. Bila tidur malam, Bintang Sakti bisa ngompol tiga hingga empat kali. Remaja seusianya sudah tidak sama sekali mengalami hal itu. Kerena itu iapun dibuat malu oleh kawan sebaya, demikian juga dengan ibu dan bapaknya. Dia lebih beruntung dari anak-anak sebayanya yang kesulitan menangis. Meski karena alasan yang berbeda, keduanya harus sama-sama diperiksakan ke dokter. Kata dokter, menginjak dewasa akan hilang dengan sendirinya. Betul. Semenjak SMA, kebiasaan buruknya ngompol di sembarang tempat tiga hingga empat kali itupun sirna. Analisa yang tepat dari seorang dokter specialis yang akurat.
Menjadi politikus baginya bukanlah pekerjaan berat. Sebaliknya, adalah sebuah profesi yang sifatnya rekreatif karena dengan begitu, dia bisa berbicara banyak (maksudnya banyak ragam) sebanyak suara yang dipanggul di punggungnya. Juga menjadi politikus membuatnya bisa memilih kawan banyak dan bukan asal orang yang suka membebek. Soal banyak dan bebek menjadi cerita tersendiri bagi politikus Bintang Sakti. Bebek bukanlah contoh baik buat seorang politikus. Tapi seekor banyak dengan leher yang jenjang, mata awasnya, keberaniannya menggoda, otaknya yang menonjol, lantang, bisa menjadi panutan. Sebuah filsafat yang sederhana yang tidak setiap politikus punya kepekaan untuk itu. Sekalipun dari politikus asal kampung sekaliber dia. Dia tak pernah belajar pada negarawan besar semacam Jefferson, Rossevelt, Soekarno, Syahrir, Khomeini atau Mao. Apalagi belajar kepada Plato hingga Kertanagara. Tidak sama sekali. Anehnya, berbicara tentang moral, tentang korupsi, rakyat, demokrasi, pemerintahan, seni, agama Bintang Sakti tidak kalah (tidak mau mengalah?)dengan mereka yang dijuluki politikus kota. Yang terakhir ini kadang-kadang diucapkan dengan sebutan politikus sekolahan. Satu hal yang memberatkan Bintang Sakti, menjadi politikus baginya sebetulnya adalah berjuang melawan kencing. Kenapa? Karena kesukaannya kencing di pinggir jalan itu sudah dialaminya selama beberapa tahun terakhir semenjak dirinya menjadi politikus. Masih jelas dalam ingatannya, bagaimana terakhir kali calon politikus Bintang Sakti tidur pulas di masjid berselimut sarung, tanpa ngompol tanpa keinginan kencing di pinggir jalan. Ini kebiasaan calon politikus Bintang Sakti dari remaja hingga separuh abad hidupnya. Semenjak menjadi politikus dan kesukaannya kencing di pinggir jalan itu, masjid bukanlah tempat yang nyaman untuk mengendap-endap siap kencing di bawah pohon pinggir jalan. Akibat kesukaannya yang aneh itu santri-santri yang rajin sembahyang di masjid banyak yang merasa kehilangan ?orang penting? di kelompok pengajiannya. Masjid yang tak pernah sepi santri sembahyang, semenjak Bintang Sakti jadi orang politik mendadak sepi mampring, senyap, terutama bila malam hari. Seorang saja tak ada yang sembahyang malam, apalagi ngaji khatam. Yang paling perasa dalam hal ini adalah kyai dan imam masjid Ibnu Hadjar. Akibat pilihan politik Bintang Sakti diam-diam makin tumbuh dalam dirinya kebenciannya terhadap politik, meski bukan berarti anti tindakan politik. Politik baginya adalah candu dan candu itu perlu dalam hidup. Seperti dirinya menghisap candu rokok dalam-dalam ke setiap lubang jaringan paru-parunya. Mau tidak mau karena politik itu tadi, imam masjid Ibnu Hadjar memutus tali silaturahmi dengan Bintang Sakti. Naluri manusiawi imam Ibnu Hadjar tak menjadikannya membenci politikus Bintang Sakti, tetapi memaksanya untuk hengkang dari masjid dan memberi penyadaran kepada polikus-politikus, termasuk tentu saja Bintang Sakti.
Suatu ketika, sehabis sembahyang dluhur, di masjid sebuah kantor partai politik, imam Ibnu Hadjar bertemu dengan Bintang Sakti. Maksud hati, imam hendak menasehatinya tentang pentingnya jiwa ksatria dan kholifah dalam tubuh setiap manusia termasuk politikus. Politikus adalah bagian penting dari penduduk bumi, lebih penting dari manusia biasa. Alasan kebelet kencing dan jalanan yang jauh membuatnya perjumpaan itu sama sekali tak berarti kecuali perjuangan melawan kencing. Akhirnya, ceramah imam Ibnu Hadjar cukup didengar anak-anak muda yang tidak tahu politik, sonder Bintang Sakti. Anak-anak muda yang juga tak tahu bagaimana politikus hebat Bintang Sakti memiliki kebiasaan buruk kencing di pinggir jalan. Karena ketidaktahuannya masalah-masalah politik, imam Ibnu Hadjar dengan sabar memulai ceramahnya dengan ?setelah Tuhan, kekuasaan ada pada uang.? Anak-anak muda suka akan itu. Rencananya, minggu depan imam Hadjar akan berbicara, ?Tuhan pun berpolitik.? Bukan tidak mungkin minggu berikutnya, ?Jangan percayai politikus, percayai diri sendiri.? Jikapun mendengar ceramah imam masjid, politikus Bambang terang saja akan bertambah sakit, bukan lantaran kecaman profesinya, justru karena beban kencingnya itu makin melilit. Kalau masalah yang ini seperti kebanyakan politikus ulung, kecuali yang epicurist, dia bisa gunakan strategi check and balance, merangkul lawan. Dia akan mengatakan ?begitu ya begitu, tapi mbok jangan begitu,? karena sebetulnya politikus Bintang Sakti malu bila harus membuka aib dirinya perihal kencing itu. Hampir dapat diduga, isi ceramah imam masjid itupun sampai pula di telinga politikus Bintang Sakti setelah melewati pintu kanan-kiri.
Baginya, masalah kencing adalah masalah tersendiri. Pekerjaan tetap pekerjaan. Di kantor Dewan, ketika sehari-harinya, anggota banyak yang absent lantaran sakit atau kunjungan kerja, dia jarang hadir sudah pasti dengan alasan kencing itu tadi. Jika pun bekerja untuk setiap macam rapat komisi, rapat Pansus, rapat pleno, badan musyawarah, paripurna, pembahasan setiap rancangan undang-undang politikus Bintang Sakti tak pernah hingga kelar. Kencingnya, memaksa cepat mengambil tindakan meninggalkan ruangan tanpa salam. Di belakang gedung Dewan ada ruas jalan yang amat dia suka untuk membuang kencingnya. Deru mesin krata api di baik pagar menghidupkan kencingnya untuk menyerbu sarang semut atau rama-rama. Dulu, semasa di kampung, di belantara hutan, kencingnya itu mampu mengusir sekawanan rama-rama, barisan angkrang hingga anjing kudisan milik tetangga. Itu dulu ketika kencingnya masih sanggup melindungi bebek-bebek peliharaannya dari gangguan anjing. Begitulah sekarang lain ceritanya, dan ia tak bisa berbohong dengan kencingnya itu, barang cepat atau lambat, ketahuan pula belangnya. Seperti halnya yang lainnya, bukan sesuatu yang aneh, bila tak seorang pun pernah menyoal absent politikus Bintang Sakti dari ruang kerjanya di Parlemen. Para kuli disket tak bisa berbuat banyak, kalau koran tempatnya bekerja nyata-nyata kongkalikong dengan politikus, tak terkecuali Bintang Sakti. Reporter yang ngotot, terbukti bisa betul-betul dibuat miskin. Ingat anak istri? Cepat carilah rasa aman. Idealisme hanya ada di dunia imajiner karena idealis hanya berarti menelantarkan keluarga. Di dunia ini seolah hanya ada tiga pilihan, hidup atau mati atau hidup dengan bergelimangan uang. Daripada sengsara setengah mati lebih baik hidup, daripada hidup sekadarnya, lebih baik hidup bahagia dan sejahtera. Kepada siapapun, jangankan kepada wakil rakyat, tapi kepada rakyat, politikus Bintang Sakti tidak bisa berbohong untuk urusan kencing. Ketidakhadirannya, tak pernah digugat terlebih lantaran ia seorang yang banyak di jalan?ini satu-satunya pelajaran terpenting yang didapat Bintang Sakti selama kencing di jalan?dirinya jadi tahu betul bagaimana orang miskin. Biarpun politikus Bintang Sakti dari kalangan keluarga orang miskin, pengakuannya tentang orang miskin dan kencing di pinggir jalan, sungguh sesuatu yang menarik perhatian politikus bukan saja kawan tetapi juga lawan politiknya. Bintang Sakti sukses besar dengan bisnis ?orang miskin?-nya itu. Bintang Sakti menjelma seorang penyelamat pada saat Tuhan diam saja melihat banyaknya kemiskinan di mana-mana. Bintang Sakti memberi pekerjaan kepada si miskin yang pengangguran, memberi makan kepada yang lapar, memberi uang dan pengetahuan kepada setiap yang membutuhkan. Itu semua dia ulurkan atas nama kemanusiaan dan Tuhan. ?Harta karun yang tak ternilai harganya tidak terletak di mana-mana, tapi di sini,? ujarnya dengan kepalan tangan di letakkan persis di dadanya. Tak seorangpun dari ?orang miskin? itu yang paham maksudnya karena mereka tidak berkata-kata. Diam berarti tidak sepaham. Beda dengan paham imam masjid Ibnu Hadjar. Jika tanpa mendengar saja, keduanya sudah berseberangan paham, bagaimana sebaliknya? Bisa diduga, mendengar omongan politikus Bintang Sakti, imam masjid bakal berang tanpa ampun karena sudah berani-beraninya membawa nama Tuhan untuk kepentingan politiknya. ?Satu hal yang amat dibenci Tuhan adalah mengkhianatinya,? dalam setiap ceramah imam masjid tak pernah melupakan kata ini. Imam masjid Ibnu Hadjar telanjur memuntahkan geram, ?jangan percayai politikus!? Tidak baginya, berarti tidak ada kompromi. Keduanya sama sekali tak pernah bertemu pandang maupun pandangan. Tidak juga dalam masjid. Seniman-seniman yang miskin dipelihara dan karena itu kesenian bisa hidup dan menghidupi. Seni yang radikal dirangkulnya pula dan tidaklah sulit bagi politikus Bintang Sakti. Demikian pula demontran-demonstran yang nakal.
Sebuah koran pernah meniru taktik, strategi dan manuver politikus Bintang Sakti untuk meringankan korban bencana alam. Dengan membuka dompet amal, menarik sumbangan pembaca yang terketuk hatinya. Namun ketahuan menari di atas penderitaan orang, terjadi korup di sana-sini dan politikus Bintang Sakti tampil ke depan, membela yang benar. Dia juga mengusulkan perlunya Parlemen membuat rancangan undang-undang khusus mengatur setiap koran yang membuka dompet sumbangan. Politikus Bintang Sakti melakukan segala cara demi perjuangan kemanusiaan ini. ?Silakan korupsi uang negara, uang rakyat dan itu adalah murni kriminal pidana maupun perdata, tetapi menikmati uang korban bencana adalah kejahatan kemanusiaan yang hanya Tuhan tahu hukumannya.? Sebuah kezaliman telah mampu ditumbangkannya dengan perjuangan dan perjuangannya itu seberat melawan kencing. Benarkah?
Andaikata benar Tuhan pun barangkali akan cemburu.
Kesukaannya kencing di pinggir jalan membuat bintang Sakti dikasihani orang. Makin dirinya berani terbuka perihal keanehannya itu, banyak orang makin iba padanya sebagai sosok yang penuh diberkahi kemuliaan, kata orang. Dalam setiap pertemuan warga orang miskin ataupun rapat-rapat Parlemen, tak seorangpun berani memotong pembicaraan politikus Bintang Sakti. Bukan karena aspirasinya yang penting, tetapi lebih karena perasaan kasihan itu tadi. Cuma kencing dia yang demikian berani menyela bicaranya sendiri. Dasar kurang ajar itu kencing! Karena itu, selama dia tidak kencing selalu saja politikus Bintang Sakti diberi kesempatan berbicara terlebih dahulu. Akibatnya, yang sering terjadi adalah kebebasan berpikir dan menyampaikan pikiran yang diterima dari orang lain itu, dia artikan semaunya. Berbicara tanpa paradigma, basis operasional, konsep dan ideologi tertentu. Segalanya benar dan politikus Bambang adalah sosok yang paling universal dan melangit karena suaranya lebih mewakili suara langit. Anehnya, Tuhan tak pernah marah padanya begitu firman-firmannya diacomot semau dia. Kemiskinan sudah menjadi trade mark politik Bintang Sakti, tapi dia sendiri kaya raya, harta karunnya melimpah, simpanannya tak terhitung, selirnya banyak. Penampilannya sederhana lebih menyerupai seniman miskin ketimbang seorang politikus, badannya kekar, rambutnya putih memanjang. Seorang jurnalis pernah memergoki politikus Bintang Sakti keluar masuk ruangan Tuan Presiden dan sejak itu tersiar kabar dia bukan politikus sembarangan. Dia politikus garis depan, orang-orang menyebutnya tim buser, buru sergap yang dalam bahasa sehari-hari sebetulnya seorang anggota tim sukses yang menjamin kesuksesan kelangsungan sebuah kekuasaan. Mesin kekuasan. Laiknya sebuah mesin, dia keras. Tidak banyak kompromi dan tidak segan-segan merusak kanan-kiri. Jika seperti ini yang terjadi, Bintang Sakti lebih menyerupai seorang anggota kelompok intelejen daripada seorang politikus. Di situ uang menjadi taruhannya dan politikus Bintang Sakti bukan hanya keluar masuk ruang Tuan Presiden tetapi juga Gubernur, Bupati. Betapa politik baginya ibarat ruang meja makan di restoran, segala menu tersedia tanpa harus beranjak dari tempatnya. Ada yang mau pesan demokrasi? Kekerasan? Atau jalan ke surga? Wanita? Mayat? ?Siapapun pemimpin negeri ini kelak, dia pasti mencari saya,? ucap politikus Bintang Sakti sesumbar suatu ketika.
Sebuah koran berhari-hari mengupas kemesraan hubungan politikus Bambang dengan Tuan Gubernur dan para Bupati lengkap dengan hobi aneh kencing di pinggir jalan politikus itu. Berita BS, politikus kawakan yang hobi kencing di pinggir jalan, menjadi headline. Tanpa ada yang menggerakkan, kantor koran itu pun disatroni orang tak dikenal. Jurnalisnya setiap hari menerima ancaman, begitu bangun pagi sudah lebih pagi sepotong pesan, ?jaga diri baik-baik.? Kekerasan menjadi santapan pagi sebelum gosok gigi. Demikian banyak kaki tangan politikus Bintang Sakti yang menjulur menjadi sulur-sulur pohon berbuah segar daging semangka. Kuping-kuping banyak berjalan flamboyan. Mulut-mulut berbaris rapi persis antrean beras jatah makan. Begitu banyak sebentuk bayangan-bayangan hitam yang menjadikan politikus Bintang Sakti tokoh nomor satu di negeri ini tanpa cacat.
?Ah, rasanya makin lama semakin tidak membumi dan betapa politikus Bintang Sakti dimanjakan Tuhan, begitu sulit untuk diungkapkan.?
Berkali-kali gaya kekerasan yang ditempuh politikus Bintang Sakti melalui bodyguard-bodyguard-nya terbukti efektif. Ancaman ?jaga diri baik-baik? membuat nyali jurnalis itu ciut juga. Pertemuan negosiasi keduanya dirancang. Pesan-pesan dibuat, lagi-lagi oleh orang yang tidak dikenal. Dialog cukup alot.
?Jangan dikira menjadi manusia seperti saya sama artinya dengan kenikmatan. Sama sekali tidak. Kamu menulis seperti saya ini anak Tuhan.? Bintang Sakti menggugat.
?Saya menulis tidak dengan imajinasi, lima sampai tujuh orang nara sumber sudah saya mintai keterangan,? seperti sudah disiapkan jawab jurnalis.
?Tapi cara Anda menyebut saya inisial BS itu, sama dengan memfonis diri saya kriminal.?
?Saya tidak bermaksud seperti itu.?
?Fakta tulisan Anda tidak bisa dibantah.?
?Saya punya atasan. Sesuai kode etik, itu tanggungjawab atasan saya.?
?Siapa??
?Anda tahu sendiri, karena saya tahu bapak kenalan baik atasan saya.?
?Omong kosong.?
?Faktanya seperti itu, Pak. Saya tidak cukup bodoh untuk memahami ada apa sebetulnya di balik ini.?
?Ada apa, maksud Anda??
?Atasan saya punya kepentingan dengan Bapak. Soal uang. Demikian juga dengan Bapak.?
?Ah, sudahlah.?
?Apa mau bapak sekarang??
?Berita kencing itu sangat mengganggu saya.?
?Itu bukan masalah saya, tapi masalah bapak.?
Beberapa puluh menit kemudian, giliran Kepala Bagian Penerangan Dinas Kepolisian menelepon jurnalis itu menyatakan kekecewaanya atas pemuatan berita kencing politikus Bintang Sakti.
?Saya curiga ini hanyalah masalah anda yang tidak kebagian amplop,? seseorang berpangkat Inspektur Jenderal.
?Hati-hati anda bicara, Pak!?
?Anda seorang Jenderal, tidak pantas bicara seperti itu!?
?Nggak, saya ingin kenalan saja.?
Jurnalis itu tersinggung, telepon dibanting.
?Saya tidak bisa terima tuduhan Anda, Bapak yang terhormat.?
?Berita Anda itu terlalu berlebihan.?
?Oh, ya? Sejak kapan polisi tahu berita bagus??
?Karena anda tak lebih sedang menulis persoalan pribadi anda dengan Pak Bintang Sakti.?
?Oh, ya??
?Saya polisi. Dan polisi bicara berarti ada bukti.?
Jurnalis itu terkejut. Ragu-ragu dan tentu saja takut.
?Seorang wanita bernama Mardiana, istri keempat Pak Bintang Sakti itu bekas kekasih anda, betul??
Jurnalis itu diam.
?Kemudian kekasih anda lebih terpikat lelaki berduit daripada orang setengah-setengah seperti anda, betul??
Lagi, diam.
?Lantas anda memendam perasaan mendendam berbulan-bulan setelah kekasih anda mengaku, atau lebih tepatnya bekas kekasih anda setelah mengatakan dirinya tidak perawan? Tidak salahkah ini semua, bukan??
Diam. Diam. Diam berarti sepaham. Membantah percuma.
Sejak itu kebiasaan kencing politikus Bintang Sakti di pinggir jalan menjadi masalah besar. Apalagi semenjak Dinas Kepolisian resmi ikut menangani masalah kencing. Hubungan Dinas itu dengan LSM-LSM lingkungan hidup serta Dinas Pertamanan juga menjadi tidak harmonis. Pencemaran lingkungan akibat kencing di pinggir jalan terus menjadi polemik. Demikian pula hubungan LSM-LSM dengan warga masyarakat miskin kota yang biasanya cukup baik akhir-akhir ini menjadi menegangkan. Ini akibat kontroversi cara kencing ala politikus Bintang Sakti. Sebagian besar warga miskin ada di pihak politikus Bintang Sakti dan menilai LSM hanya pintar menjual isu-isu saja. Selain karena warga sudah biasa menerima kucuran dana dari politikus Bintang Sakti, juga karena cara kencing ala politikus itu lebih diakrabinya ketimbang cara LSM bekerja. ?LSM bekerja ada pamrih tapi tidak bagi politikus Bintang Sakti,? begitu kata mereka.
Uniknya, sejak masalah kencingnya menjadi hebat, justru politikus Bintang Sakti lenyap dari peredaran untuk waktu yang lama. Mungkin menghilang, mungkin sedang tertimpa kemalangan. Kemunculannya yang biasanya mendadak serba cepat berubah setiap hari, pagi, siang, sore, malam bahkan setiap jam ia bisa siap ganti di bandara, stasiun, terminal, kini daftarnya sama sekali sulit dilacak sedang di kota atau negara mana. Sampai suatu ketika di suatu waktu, setelah begitu lamanya, politikus Bintang Sakti muncul kmbai di Surabaya, tepatnya di Balai Pemuda. Sebuah tempat yang lain dari biasanya, karena di tempat ini dia ?sekadar mampir untuk kencing,? katanya. Di jalanan ini mustahil politikus Bintang Sakti kencing di pinggir jalan yang padat anak-anak muda, cewek ABG, lonthe, orang hilir mudik, pengangguran dan yang pasti seniman. Lalu, apa yang terjadi? Sudahkah dia afkir dari politik? Di tempat yang nyaman di tengah kota ini dia bisa tidur semaunya. Ada masjid, warung murah dan kiranya bisa cukup waktu untuk istirahat. Namun tidak demikian yang terjadi. Esoknya, dia sudah merencanakan untuk terbang ke Jerman dan Perancis. Dan tiket sudah dipesan. ?Saya ingin kencing di pinggiran jalan-jalan di sana. Jerman, Perancis. Belum pernah terbayang sebelumnya.?
Seorang kawan yang brsama dia, prnah crita saat psawat yang membawa politikus Bintang Sakti sudah terbang jauh meninggalkan landasan. Selama dalam perjalanan ke Jerman dan Perancis, politikus Bintang Sakti menekan-nekan perutnya. Kenapa lama sekali? Kencing di sini, mustahil bisa nikmat, katanya. Tak ada semut, rama-rama atau anjing di toilet pesawat ini, apalagi?ach! Pantas saja, di bumi Indonesia, Surabaya, Balai Pemuda banyak semut mati. Banyak orang resah karena di pojok sana-sini, di setiap sudut bau pesing seperti jarum menusuk lubang hidung, mennyisakan sengak alkohol 10 persen, 20 persen, 40 persen.

Enam

AKHIR September 1993 sebuah tragedi terjadi?empat petani Nipah ditembak mati tentara.
Awal mula kejadiannya, Rabu,pagi-siang 8 September, Dilakukan pengukuran tanah BPN didampingi kepala desa Planggaran Barat, dua orang polisi dan satu tentara. Sempat terjadi pertikaian kepala desa dengan warga yang keberatan diakukannya pengukuran. Siang sekitar pukul 14, delapan orang polisi mencari Hadri di rumah dan mushala tempat Hadri bisa mengajar ngaji. Polisi sempat melepaskan tembakan ketika melihat Hadri ke ladang, polisi memasuki mushala tanpa melepas sepatu dan kemudian keluar menembaki pengeras suara, akhirnya polisi naik ke atap mushala mengambil pengeras suara. Senin, 20 September di Balai desa Planggaran Timur dilakukan penyuluhan Bupati serta Muspida Sampang. Semula banyak rakyat yang tidak diperbolehkan masuk, tetapi setelah rakyat ramai di luar pagar, Bupati meminta orang yang mengacau segera ditangkap dan dibawa ke dalam. Mereka tidak diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat. Dalam pertemuan itu masyarakat telah menyatakan keberatan untuk menjual tanahnya. Saat itu juga sampai terjadi pemaksaan cap jempol oleh aparat. Dalam pertemuan itu, Bupati menyatakan proyek Waduk Nipah adalah program nasional dan siapapun yang menghalangi akan ditembak. Bupati juga mengatakan bahwa ia sebagai Bupati bisa mengerahkan pasukan untuk menembak penghalang program nasional tersebut. Jumat, 24 September, dilakukan pengukuran lagi pada saat sholat Jumat oleh BPN didampingi Koramil, Kodim 0828 Sampang, Polsek Banyuates dan Polres Sampang tanpa seizin masyrakat pemilik tanah. Masyarakat protes dan membatalkan pengukuran tersebut. Salah seorang aparat sebelum pergi sempat berucap, ?Awas! Untuk pengukuran besok jangan ada yang keluar nanti akan ditembak? Hari Sabtu, 25 September, pukul 13 ada ikat kepala janur kuning dan ilalang, beberapa aparat desa didatangi massa pemilik tanah dari Planggaran Timur, juga massa dari Lar-Lar, Tang, Nagasareh, Tapa?an, Menter, Planggaran Barat, berdatangan melihat pengukuran berlangsung, ratusan warga sejak pagi bergerombol di bawah bukit berusaha menghalangi aparat. Pikir mereka bearti tanah mereka juga tinggal nunggu giliran diukur, ada sekitar 200-500 orang massa. Melihat massa bergerak maju kurang lebih 125 meter, aparat mencoba memberikan tembakan peringatan, teriakan-teriakan agar massa berhenti. Di jarak 80-an meter, teriakan peringatan petugas dilayangkan lagi, tapi massa terus merangsek maju karena kuatir pada jarak 5 meter, petugas menembakkan ke arah massa Yang diincar mereka yang diduga dalang unjuk rasa, ?Minta hidup! Minta hidup!? Tembakan terus berlangsung, det-det, der-dor, lurus ke arah mereka, peluru berdesingan di sebelah kiri dan kanan mereka. Ketika melihat Bu Mutirah berteriak, lehernya berdarah tertembus peluru, barulah masyarakat petani berlarian menjauh. Tapi peluru aparat keamanan terus mengejar. Mereka melihat Simuki dan Muhammad jatuh mengerang kesakitan Bu Dairah juga jatuh, lambungnya tertembus peluru, tapi ia tak mau merasakannya Bu Dairah bangkit dan terus berlari. Namun naas, ketika baru berlari, jari tunjuk kirinya juga tertembak entah apa yang membuat ibu yang tak kawin ini begitu kuat ia terus berlari dan selamat, tapi Mutirah Perempuan berusia 51 tahun tewas dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Di tengah kepanikan penduduk yang mencoba untuk menyelamatkan diri dari sasaran tembakan aparat keamanan, tiba-tiba tubuhnya yang sudah mulai menua itu tersungkur ke tanah bermandikan darah lehernya tertembus peluru. Mutirah pergi untuk selamanya dengan meninggalkan seorang suami dan tiga orang anak. Khusiyah, anak perempuan Mutirah, sangat terkejut setelah memperoleh kabar bahwa ibunya meninggal tertembak peluru. Khusiyah sendiri sebelumnya tidak tahu ke mana ibunya pergi, mendengar kabar tersebut. Siang itu juga Khusiyah bergegas mendatangi tempat kejadian Niatnya untuk segera membawa pulang jenazah ibu yang sangat dicintainya itu, terpaksa diurungkan, sebab ketika dia sampai di tempat kejadian sudah banyak aparat yang menjaga mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah. Aparat keamanan yang berjaga di tempat melarang Kusiyah membawa pulang mayat ibunya. Bahkan mendekat saja tidak diperbolehkan. Aparat keamanan menghalau dan manakut-nakutinya dengan senjata yang diarahkan pada Kusiyah. Dengan rasa duka dan kecewa yang sangat dalam ia pulang meninggalkan mayat ibunya dengan tangan kosong. Di sore harinya menjelang magrib, Kusiyah mencoba kembali mengambil mayat ibunya. Namun hal yang sama ia dapati begitu mendekati, aparat keamanan yang masih tetap ada di lokasi tersebut menghalau dan menakut-nakutinya dengan senjata. Dua kali Kusiyah telah berusaha mengambil jenasah ibunya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Baru keesokan harinya, pukul satu siang setelah aparat keamanan ditarik dari lokasi tersebut, Kusiyah dengan ditemani oleh kepala desanya, berhasil mengambil jenasah ibunya. Beberapa hari setelah kejadian tersebut, Kusiyah dipanggil untuk diberi santunan dari pemerintah atas kematian ibunya. Kusiyah bersikeras menolak santunan itu ?apa uang ini sebagai penebus nyawa ibu saya?? Setelah dibujuk kiai, santunan itu harus ditrima. Pemakaman dan upacara selamatan ibunya juga memerlukan biaya. Bu Mutirah, penduduk desa Lar-Lar, Banyuwates, dari hasil perkawinannya dengan Mokram mereka dikaruniai 5 anak perempuan, 3 orang tinggal di Ketapang, Kalimantan, 2 orang tinggal bersama orang tuanya. Kusiyah anak bungsunya. Kemudian Nindin Bin Musa Bocah 14 tahun ini murid kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah ?Nurul Ulum? Dusun Tanah Butak, Tang. Dari penuturan ayahnya, anak pria ini terbiasa mengenakan sarung dan songkok ketika berangkat sekolah Nindin sehari-hari tinggal bersama kelurganya di desa Tang, kcamatan Banyuwates. Dengan mengenakan baju seragam, sarung dan songkok di kepala, Nindin setiap hari masuk sekolah pukul 11.00 dan pulang 16.00. Anak bungsu Pak Musa, 50 tahun yang gemar main layang-layang ini memiliki empat saudara kandung, Misari, Misrati, Misratun dan Sumadi. Selain itu, dia juga memiliki dua orang saudara yang dibawa ibunya Marsitun, yaitu Nurhami dan Asma sebelum kawin dengan ayahnya Nindin adalah anak yang sangat disayang orang tuanya. Kesehariannya dia terbiasa membantu orangtuanya menggembala sapi, mencari rumput dan memetik cabe ketika panen. Pada saat kejadian, Nindin seharusnya masuk sekolah. Ayahnya baru menyadari dan mengkuatirkan anakknya setelah sampai menjelang malam Nindin tidak juga ada di rumah. Ayahnya berusaha mencari tahu kesana kemari. Seorang tetangga menceritakan bahwa siang harinya di tempat kejadian ia sempat melihat korban anak laki-laki mengenakan sarung dan baju lengan panjang hitam Pak Musa semakin kuatir ketika memeriksa pakaian Nindin dengan ciri-ciri tersebut ternyata tidak ada di rumah. Karena itu Pak Musa semakin yakin bahwa korban yang diceritakan tetangganya tersebut adalah Nindin. Namun mayat korban, tidak boleh diambil oleh aparat kemanan. Keesokan harinya baru bisa diambil. Pak Musa menduga Nindin mendatangi aksi kejadian itu karena dia merasa penasaran terhadap kerumunan penduduk. Nindin ikut tewas tertembus peluru pada saat dia berada di antara kerumunan orang tetangga-tetangganya. Nindin tertembak peluru di bagian pinggang kanan tembus pada bagian pinggang kiri. Lantas, Simuki, 24 tahun penduduk asli desa Nagasari yang lama tinggal di Kalimantan Barat, ia bekerja sebagai tenaga harian, bagian matrial PT Aji Ubaya, Wood Working Industry, di tanah Mas Pontianak sejak tahun 1990. Dia kembali ke Madura satu bulan sebelum Insiden Nipah Di Nagasareh. Simuki tinggal bersama ibu, istri dan seorang anaknya yang masih berusia 8 bulan. Menurut keterangan pamannya, Nurminten, Simuki memiliki tanah dengan bukti. Tanah itulah yang akan terkena proyek Waduk Nipah Bahkan, pada saat itu, patok proyek sudah ditancapkan tepat di pagar halaman rumahnya, tanpa sepengetahuannya. Keluarganya semua tidak mengtahui bahwa Simuki juga ada dalam kerumunan massa ketika terjadi insiden Nipah. Di tengah-tengah massa yang lari tunggang langgang, diberitakan bahwa Simuki telah tewas dalam insiden. Ia terkena peluru di bagian dada kiri tembus ke bagian dada kanan. Pada diri Simuki diketemukan uang 204 ribu yang karena itu aparat menganggapnya orang bayaran. Padahal uang itu diperoleh Simuki dari hasil penjualan emas saudaranya yang dihutang untuk suatu keperluan tertentu. Uang itu diambil aparat. Kemudian, Muhammad, 38 tahun penduduk desa Lar-Lar adalah korban tewas yang paling lama merasakan penderitaan. Peluru yang menembus lambung kirinya menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Dia meninggal di RSUD Dr Soetomo Surabaya setelah dipingpong beberapa hari dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain lebih dari 24 jam dia harus menanggung sakit yang luar biasa di rumah sakit ini. Sebelum masuk RSUD Dr Soetomo, sekitar pukul 17.00 dari lokasi kejadian korban dibawa ke RSUD Sampang dengan diantar teman dan ayah angkatnya. Pada saat itu Muhammad memperoleh perawatan darurat hanya oleh perawat. Dokter umum belum ada yang datang. Ketika dokter datang, ternyata para dokter memutuskan untuk mengirim Muhammad ke RSUD Pamekasan. Di sinipun, tidak banyak yang bisa dilakukan dokter. Setelah difoto ronsen, Muhammad dikirim dengan ambulan ke RSUD Dr Soetomo. Sampai di sana, pukul 23.00 pembedahan dilakukan pada pukul 02.00 dini hari. Paginya, Muhammad dipindahkan ruang lain, semua keluarganya masih boleh menjenguk. Tetapi tidak lama kemudian, pada hari itu juga, mereka diberitahu bahwa Muhammad tidak bisa ditemui, sekaipun oleh keluarganya. Sejak itu, rumah sakit ini dijaga ketat aparat. Setelah menjalani pembedahan, esoknya kondisinya mulai membaik. Tetapi ternyata kemudian terjadi kebocoran jahitan pada bekas lukanya. Darah kurang lebih dua liter mengalir lagi dari lambungnya. Tubuh Muhammad kejang-kejang dan darah sering keluar dari bekas lukanya. Akhirnya pada pukul 02.10, Kamis 30 September 1993, Muhammad meninggal dunia. Saat kejadian, Choiriyah, istri Muhammad tidak tahu kemana suaminya pergi. Malam sebelumnya juga tidak ada pembicaraan apapun yaang berkaitan dengan kejadian tersebut. Dia mengaku sangat terkejut ketika diberitahu bahwa suaminya tertembak. Saat itu dia sedang mencuci pakaian bayinya yang masih berusia lima bulan. Ia sangat menyesal karena belum sempat bertemu sejak kepergian suaminya ke tempat kejadian, bahkan pada saat suaminya sedang dalam penderitaan yang luar biasa dia tidak diperbolehkan menemaninya. Dari hasil perkawinannya dengan Muhammad ia dikaruniai 7 anak. Namun yang hidup hanya tiga orang saja, Siti 6 tahun, Maisah 2 tahun dan Fatimah beberapa bulan. Yang paling berat dirasakan saat ini karena anaknya sering menanyakan kemana ayahnya pergi. Di dalam hati ia sering berharap seandainya suaminya bisa dihidupkan kembali dan orang yang membunuh maupun yang menyuruh supaya segera dihukum.
Anehnya, hingga seminggu peristiwa itu terjadi tak satu pun kelompok-kelompok kiri yang bersimpati pada korban, apalagi untuk memperjelas nasib petani-petani yang sesungguhnya kesulitan untuk hidup itu, LSM-LSM tertidur dan kampus-kampus tiarap sebab mungkin juga mampus, beberapa yang menyerukan gerakan moral tak satupun yang turun lapangan, sebab itu yang bisa mereka lakukan tak lebih cuma ucapan belasungkawa dan seruan keprihatinan, namun diam-diam, Ipong, serang seniman telah lebih dulu cepat bergerak mendampingi mereka-mereka para petani dengan karya seninya. Dia telah buat sebuah happing art, suatu seni peristiwa, seni yang ia respon dari tragedi berdarah itu, di tempat dimana peristiwa itu persis terjadi. Dalam sebuah karyanya itu Ipong dengan kelompoknya membuat upacara ritual tanah, sebuah proses pengambilan tanah di salah satu desa yang terancam digusur oleh rencana pembangunan waduk Nipah di Kecamatan Banyuates, Sampang. Upacara ritual tanah dilakukan oleh seorang bertopeng laki tua telungkup di tengah-tengah lingkaran yang ditaburi tepung warna-warni, cermin dari warna kas Madura. Lingkarannya bergaris tengah 5 meter dan tepiannya dibatasi tanah dicangkul selebar 20 cm. Sebuah keranjang yang di dalamnya beras, daun jati terletak di luar tepi lingkaran, berdekatan letaknya, laki itu memakai sarung tanpa baju, nafasnya makin lama makin besar, lalu kapalanya bergerak pelan-pelan ke atas, dan memandang jauh nun di sana. Kemudian dia berdiri, bergerak ke sana kemari, berirama dalam gejolak ruang batin yang terancam dan serba salah menghadapi sebuah pembangunan yang mengatasnamakan kepentingan nasional. Tak lama kemudian dia mengambil tanah dari berbagai tepian lingkaran, dimasukkan ke dalam keranjang dan dilakukan secara berulang-ulang. Keranjang sudah terisi tanah Nipah, seperempat penuh. Dia mengangkatnya, dilanjutkan berjalan memutari lingkaran bebrapa kali, membangun imajinasi seorang mencari kediaman kemana-mana. Tanah diserahkan kepada seseorang, dengan harapan perjuangannya untuk mendapatkan keadilan diteruskan. Lalu tanah Nipah dibawa oleh yang menerimanya ke DPRD tingkat satu Jatim di Surabaya.
Diam-diam tanpa sepengetahuan kawan-kawan kirinya, Biru Langit mengagumi perjuangan seniman Ipong yang tanpa pamrih, berani dan serius. Seorang yang tak perlu ia ragukan lagi intelektuaitasnya, rasanya Biru Langit tak perlu tahu apakah Ipong orang politik atau bukan, tapi dari statement, wacana, dan tawaran estetika keseniannya nyata-nyata dia peduli terhadap nasib rakyat kecil?ada sesuatu yang harus diperjuangkan yaitu hidup itu sendiri, setiap yang hidup ia harus pertahankan haknya, kebebasannya dari cengkeraman yang mencoba menguasainya, membeli nuraninya. Kekaguman Biru Langit terlebih lantaran Ipong memberikan spirit baru tentang seni peristiwa dan juga istighotsah?upaya untuk menyelamatkan bumi berserta isinya, lebih dari sekadar doa-doa. Cepat ia menarik tangan Pam ke sebuah tempat tersembunyi.
?Coba dengar aku sekarang, karena aku akan tanyakan satu hal penting padamu. Siapa seniman radikal yang kamu tahu, kawan? Sekarang, dan di sini!?
?Si Brewok itu, siapa lagi? Kau punya rencana sesuatu??
?Bukan. Selain itu??
?Setahuku tidak ada. Dia benar-benar tak bisa dibeli, kalau saja ada sepuluh orang macam Brewok di kota ini, bakal terjadi pemberontakan,? kata Pam.
?Apa pendapatmu tentang Ipong??
?Ipong? Siapa dia? Aku baru dengar.?
?Itulah kamu tak pernah tahu dunia luar, dia seniman independen sama seperti si Brewok. Bedanya kamu akan tahu nanti, karena kita akan cari dan kenalan dengannya,? Biru Langit menyakinkan Pam.
?Bagus, dimana dia??
?Nipah,?
?Nipah??
?Ya, dia sedang lakukan pendampingan di sana.?
?Kamu tidak main-main? Suasana bisa gawat, kawan?
?Apa yang kita cari selama ini, selain menantang maut? Cepat bersiapah!? perintah Biru Langit.
Anehnya, Pam begitu nurut apa kata Biru Langit, meski tak ada sesuatu ikatan yang kuat jikapun untuk tidak berbuat seperti itu, entah apa yang tumbuh dalam diri Pam dalam waktu yang serba singkat itu. Akankah perihal Sulistyorini dia bawa-bawa dalam masalah ini? Kemudian apa pula yang ada dalam benak Biru Langit hingga nalurinya begitu respek terhadap seniman Ipong tanpa sedikit saja bayang-bayang yang menghalanginya?
?Aku ingatkan padamu, bahwa kita tidak sedang bicara perihal perempuan,? celetuk Pam. ?Sebab itu selama perjalanan, biarkan pikiranmu mengembara sesuka hati, termasuk soal perempuan, tapi jangan sepatah katapun itu kamu ucapkan padaku.?
Usai bicara begitu, dalam hati Biru Langit tersenyum juga melihat raut muka Pam yang tak mereaksi barang sedikitpun. Ya, dia diam. Diam bukankah berarti setuju?
?Tahu rasa kamu!?
Dua pemuda itu menyeberangi selat Kamal menumpang kapal feri, dan selama hampir duapuluh menit di atas perairan itu keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Pam masih juga belum menuntaskan rasa herannya terhadap rasa kagum Biru Langit pada seniman Ipong, dan dibenak Pam tetap penuh sesak si Brewok yang radikal itu. Tentang si Brewok itu, bila mendengar namanya saja disebut, orang sudah nyaris muntah. Apalagi perawakannya yang kotor, rambutnya yang gondrong liar, mukanya yang brewok diusianya yang masih terbilang muda, laki-laki itu sudah nampak seorang bapak dengan lima sampai tujuh anaknya. Sesungguhnya ia tak pernah menikah apalagi untuk punya anak karena siapa perempuan yang berani berdekatan dengan dia. Laki-laki saja yang kepingin hidup tenang akan ngeri bila disangkutpautkan dengan si brewok itu. Yah, sebab itu ia hidup dengan nama sebutannya itu?si brewok. Namun kota ini, bahkan negeri ini tak bisa begitu saja menafikkan sosok pemberani dan pendobrak itu. Dia tak begitu pintar, atau mungkin justru karena itu segala keberaniannya berawal. Sungguh ia seorang seniman yang pendobrak dengan setiap gerakan perlawanannya, semenjak tahun sembilan puluhan hingga kini tak pernah suram. Dia begitu percaya diri setiap kali tampil dengan kelompoknya yang hanya segelintir orang saja itu. Betul-betul ia mulai dengan apa yang bisa ia kerjakan dan mampu untuk itu, begitu menyeramkannya pribadinya saat ini sampai ia tak sempat dikenal orang kecuali kengeriannya itu. Namun betul-betul dia manusia yang hidup justru sesudah berkali-kali dia digiring aparat ke ruang tahanan. Dari waktu ke waktu keseniannya yang tiada berisi lain kecuali semangat perlawanan itu membuat si Brewok banyak bergaul dengan kawan-kawan di Jaringan Kesenian Rakyat, bersama Widji Thukul dan kawan-kawan.
?Seberapa hebatkah seniman Ipong sampai ia ganyang kepala batunya si Brewok?? rasa heran Pam masih juga tak surut sampai kapal berlabuh.
Setelah berjam-jam di atas angkutan umum dan sampai di Sampang, melalui petunjuk seorang kiai sepuh, Biru Langit dan Pam bisa temukan seniman Ipong menggelar aksinya. Karena sebelumnya seperti diduga Biru Langit, tentu saja seniman itu minta restu dulu kepada kiai bersurban itu. Perjalanan yang melelahkan anak-anak muda itu serasa mengasikkan begitu naik turun gunung dan sungai kian hebat terjalnya, ladang-ladang dan perkampungan petani. Suatu perjalanan yang sama sekali tak pernah ia kerjakan sebelumnya. Betul-betul perjalanan yang baru, menyaksikan hutan dan ngarai tak terbersit sama sekali teori-teori politik dari para jago berdebat. Mendadak dia merasa sesuatu yang tak ia kenal betul diam-diam telah mengalir dalam diri Biru Langit. Sebuah pengalaman perjalanan hidupnya yang mengembara. Ya persis pengalaman spritual para aulia di padang yang gersang. Biru Langit mendadak merasa menjadi sosok yang melebihi seorang manusia. Mungkin ia menjadi Tuhan kecil, atau barangkali sungguhnya menjad seorang tukang pencerita.
Di matanya, dibayangi proyek-proyek raksasa berdirinya pabrik, orang bergegas salancarkan protes main cabut patok-patok di ladang pertambakan garam. Bau keringat asin dan anyir bangkai ikan, kanal sunyi, sawah kerontang menanggalkan asesoris buatan pabrik-mesin-listrik, sampai tubuh dibebat lumpur basah, makan tanah, hingga mati keramat di atar muka pintu.
Biarpun nalar susah sungguh, serat-serat akal telah tertutup kabut tebal dari pakaian yang terus menerbitkan kecemasan bayang-bayang, keluarga mengaram, kakayaan yang tak runtuh. Kesiasiaan yang menyeret nalar tumpah di sepanjang sejarah tanpa pemberhentian. Katakanlah pasti, semenjak pesakitan. Jadi seonggok daging selama masih hidup, pesakitan itu membawa nasib buruk?berkali-kali mati, tak pernah berguna bagi hidup.
?Nyo?on odik, Nyo?on odik!? 62)
Laiknya rasa cemas dari tubuh tanah lumpur bergetaran isi perut ladang disaksikan kesunyian empat manusia mummi lahir-kembali-hidup-berjalan. Dua laki, ibu tua, seorang anak bau kencur mencegat pakansi para santri, melompati batas parit sempit dengan jemari dingin menekan bekas luka di kulit oleh peluru menggasing di kebun kering bertahun silam di pulau asing ditumbuhi jati. Masih anyir bau darah di semak-semak coklat tua juga lumpur membebat aurat jadi kain yang aromanya menyejukkan, melupakan kecemasan bertahun silam yang lancang mengitari masa lalu moyang-masjid-kubur batu tua. ?Orang-orang itu tak bisa mati sungguh, jasadnya membusuk cuma sekali, tetapi hidupnya, tidak? katanya sampai mengakar. Sebentuk clurit, songkok, sarung , segenggam tanah kering yang masih miliknya dipertontonkan ke celah langit yang terbakar teriakan pemberontakan?menghunus dan menikamkan belati ke ulu hati agar daratan kecil ini penuh sesak dihuni sekawanan makluk asing entah dari species mana di pedalaman yang menakjubkan dengan gaya hidup yang jauh dari keluh, kesederhanaan yang sama sekali tak dikenal, dengan bahasa yang sulit ditangkap cuping telinga dan gelombang dan gemuruh laut menelannya dalam-dalam tanpa sisa suara.
Dari sebuah sumur tua tanpa air, lubang-lubangnya meluangkan para kiai membasuh muka dan mengambil wudu dengan tanah, di atasnya, polisi seperti salak anjing penjaga. Tuhan tidak marah, tetapi senyap listrik padam dan jalan lengang tetap jalang, tenang dan nyaman bagai jembatan. Barangkali di sanalah ditemukan kembali saudara yang hilang dan kemudian disambut pakaian lumpur membelit jasadnya, perempuan-perempuan bersuami nampak mengenakan kemben, lumpur kering berbukit, laki-lakinya dari bilik kecil nyaris tak bisa dikenali. Memar oleh pukulan benda sebentuk tongkat bisbal, anak-anaknya yang banyak berhamburan berkeringat lumpur, tetangga dan orang kampung, gadis-gadis mengunyah rujak Perempuan tua menenggelamkan tangan ke balik kutang dan memperlihatkan nomor 070655//11105/0078, laki-laki bernomor 070655/11105/00349, lalu membersihkan, entah bagaimana makluk asing orang kampung menatap dengan sorot mata pembunuh, seonggok sampah, baju santai, kopor, sepatu, sandal plastik dan menutup hidung dengan akar kayu yang dicabut saja dari ketiaknya di ladang yang menyisakan bekas terompak Tak pernah mimpi ditanami sampah sepatu apalagi larutan polusinya sanggup membunuh. Lantas dibuang kemana? Kaki Langit? Bila bidadari teduh sayap-sayapnya lungset dikitari asap cerobong, kemasan instan menguap.
Nyatanya, hanya tempat bagi orang yang bersih, jika cakrawala sudah demikian keruh niscaya rumah yang nyaman, kesunyian setitik lubang di tanah dengan iringan musik sederhana, dan nyanyian bawah tanah semenjak lama menjadi berita biasa kehiangan anggota keluarga. Sampai kampung tak berpenghuni manusia. Nomor-nomor KTP dimusnahkan. Hanya anak-anak mereka nampak bemain salongsong peluru yang sayang tak satupun orang mengabarkan bahwa itu bekas ditembakkan pelornya ke tubuh bapaknya?
Satu-satunya yang dia ingat adalah raut wajah mayat bapaknya yang ditembak orang tak dikenal. Sepuluh tahun lalu.
Seniman Ipong dan kawan-kawan ditemukan masih hidup. Bahkan dengan banyak tawa riang mereka sedang duduk di sebuah warung di sebelah rumah sedang menyantap rujak dengan aroma petis Madura yang kas itu. Di sana-sini terdengar riuh suara krupu. Sepertinya hanya di tempat itu sejenak ia lupakan nasib petani-petani Nipah yang kebingungan biarpun sesungguhnya nyaris serupa dengan adonan sambal di atas coek. Mulut-mulut anak-anak radikal itu tak sempat merasai kepedihan nasib petani Nipah, sebab mereka sendiri harus sibuk mendesas-desiskan bibirkan karena terlalu pedas. Sesuatu yang mengagetkan Pam dan Biru Langit telah terjadi, anak muda ini dibuat tepekur ketika berkenalan dengan seniman Ipong?sosok yang begitu jauh dengan bayangan anak muda itu. Di benak Biru Langit Ipong seorang yang secara fisik menyakinkan, keras dan dingin. Ternyata tubuhnya kecil nyaris ringkih dan membungkuk, hitam. Usianya kurang lebih 40 tahunan. Hanya kepala botak dan gaya bicaranya yang meledak-ledaklah yang mencirikan ia seorang intelektual. Waktu bersama yang lain menikmati rujak, mulut Ipong terus nerocos bicara nasib buruk dan kelucuan-kelucuan yang memprihatinkan dari keadaan kawan-kawan mereka sendiri, lantas ia perkenalkan satu-satu diantara kelompoknya yang lima atau enam orang itu.
?Anda datang, berarti saya dapat dukungan,? tanpa basa-basi Ipong langsung menembakkan kemauannya, ?Sayang anda terlambat mengikuti kami, bagaimana proses berkesenian kami di sini, bagaimana terlibat mencari gagasan, menyusun artistic, sampai konsep estetikanya, bagaimana pula improvisasi teknis saat di lapangan, tapi itu tak jadi soal. Semuanya bisa anda pelajari di sini? ia bicara sembari menyerahkan empat sampai lima kertas kerja yang kusam namun tetap tersimpan baik. ?Anda-anda seorang intelektual, karena itu kami sangat membutuhkan pikiran-pikiran jernih anda.?
Tak sepenuhnya apa yang dilontarkan seniman Ipong bisa dipahami Biru Langit dan juga Pam. Apalagi untuk menyamakan pengertian. Namun pertemuan itu sendiri sepertinya sudah suatu yang sangat luar biasa bagi mereka-mereka, di suatu tempat yang sangat jarang ada di belahan bumi yang lain?warung rujak.
?Saya kira pikiran jernih itu nomor dua. Keberanian yang pertama,? sergah Biru Langit asal kena.
?Bagi saya bisa ya, bisa tidak. Bisa ya karena omongan anda betul di saat-saat era sekarang ini. Bisa tidak karena bagaimanapun anda adalah seorang intelektual yang dalam kondisi apapun harus berpikir jernih, berpikiran maju dengan paradigma yang terkini. Kukira anda setuju,? papar Ipong.
?Saya sudah ikuti gerakan anda sejak semula, dan konsep-konsep kesenian yang anda tawarkan cukup menjanjikan perubahan. Bukankah begitu, Pam??
?Ya, apalagi yang kita maui saat ini perubahan,? imbuh Pam yang sejak tadi tak banyak mengeluarkan uneg-unegnya.
?Saya hanya seniman, tapi soal melakukan perubahan tata kehidupan yang dirusak orang-orang yang tidak bertanggungjawab saya punya hak yang sama dengan siapapun manusia di bumi ini, untuk itu. Keberadaan manusia di bumi ini tiada lain untuk menghidupkannya, bukan untuk mnghancurkannya.?
?Uh,, rupanya anda seorang yang religius?? ucap Biru Langit.
?Seorang filusuf juga!? Pam menimpali.
?Ah, jangan begitu menyanjung saya. Saya bisa trsinggung!?
?Maafkan saya, apa yang bisa saya lakukan?? Biru Langit bermaksud mencairkan suasana.
?Setahuku anda memang belum melakukan apa-apa. Jangan trsinggung.?
?Tidak.?
?Lalu? Apa??
?Bagaimana kalau saya kirim surat tentang masaah ini pada orang-orang penting di negeri ini??
?Pikiran bagus. Banyak orang penting di negeri ini. Kirimi semua dan pengaruhi agar otak dan hati mereka berputar-putar sebelum berpihak pada petani-petani Nipah yang malang itu. Saya akan bantu siapkan data-data kasus ini, bila perlu lampirkan agar jelas.?
?Saya juga berpikiran demikian,? tandas Biru Langit.
?Siapa yang dituju?? sergah Pam.
?Siapa saja. Eksekutif, presiden, para menteri, legislatif, penegak hukum. Jangan ada sungkan dan anggap mereka semua kawan-kawan kita, yang punya fitrah yang sama di bumi ini, yakni melestarikan kehidupan semesta bukan memusnahkannya,? mata seniman Ipong terus menyala-nyala gambaran semangat hidupnya yang berkobar.
Keesokkan harinya, sepulang dari Nipah seharian penuh Biru Langit mengerjakan surat yang ia janjikan pada seniman Ipong itu. Baru tengah malam ia selesaikan dan telah sempurna menurut ia sendiri. Beberapa buah ia gandakan lengkap dengan lampiran untuk ia kirimkan pada sejumlah orang terpenting di negeri ini. Sebagian yang lain rencananya ia sebarkan kepada orang penting lainnya dan untuk menghemat biaya, surat itu ia kirim ke sebuah koran lokal untuk bersedia menerbitkannya. Demikian bunyi surat yang ditandatangani Biru Langit:

Kepada:
Orang-orang yang Berjiwa Merdeka,

Kawan,
Gerbang lorong waktu seperti asap pekat memaksa intensionalitas tumbuhnya hotline kesadaran. Dus di noktah kecil sisi bumi berdampingan sebentuk organisme masyarakat yang menyakini pengtahuan?kepastian cara pandang atas tempat dia tumbuh-mempertahankan hidup dan beradab?fakta real. Konon digulirkan common sensse, akal sehat dikedapankan. Di belakang, beragam ruwatan turut hidup demi kemulusan cita common sense ada mitos, moral, daya ketahanan fugsinal praktis masing-masing ruh hidup itu. Seolah sebaris agenda, lantas dicatat, diukur, dibebani karaktristik. Nampak patokan perubahan persis kepastian dewa bermain, laiknya seni penyadaran?punya subjektivitas mengkontruksi sosial. Konsekunsi logisnya patut meluangkan kondisi yang disebut Nietzshe adanya seni mencurigai. Semacam dendam bila kuasa rakyat mencapai titik jenuh.
Waktu yang mendesak bagai tekanan sebutir opium getir di tenggorokan. Pun pengalaman bentrokan kesadaran pribumi dan non pribumi, tradisional cacat dan modern yang dalam praktek banyak dipergoki rupa-rupa manipuasi, merebaknya fakta buruk akibat hak peradilan ?hukum sendiri? umumnya bukti kesadaran sosial-politik langsung baku hantam dengan masyarakat sipil orientasi bagi retorika langkah maju dan demi rasa aman kolonialisme. Bertahun silam, taruhlah akibat berlakunya UU Agraria de Wall 1870, politik pintu terbuka, gerbang kunci dalam mengkonstruksi mitos baru kolonialisme di negeri ini berikut segala sakramen pencuci yang mengandung mukjizat dan magis berupa harapan utopis bebas dari pederitaan kondisi manusia. Banyak perkebunan dan pabrik-pabrik partikelir didirikan rakyat justru terinjak dan terhisap sebagai kuli ?lebih dari sekadar fakta real rakyat dianggap pemalas. Praktek main hukum sendiri pada yang malas berkerja dan yang berusaha melarikan diri seringkali terjadi?vonis atas dasar irrasional.
Kebradaan pengtahuan atas kepercayaan-kepercayaan massa hingga format bentrokan, membawa angin segar laiknya ironi kesadaran baru kekuasaan. Semisal maraknya gugatan atas kesewenangan pribumi dihembuskan orang kulit putih Rob Niewenhys, ?apa yang dalam mata orang barat disebut sebagai sewenang-wenang, penyalahgunaan kekuasaan, pemerasan, tidak selalu demikian dalam mata penduduk. ? Sederhananya sebut saja feodalisme?ladang pertambangan emas bagi kolonialisme. Mekanisme reduksi kesadarannya berbentuk penyematan rumbai orang pribumi masuk di altar kelas elit penguasa sejawat pegawai untuk memeras jawa?tidak cuma inspiratif akan suburnya komik cerita silat murahan. Bagi koloni tak ada dewa di rawa-rawa?betapa peradaban dilengkapi sejambak kembang mitasi untuk peluang mendistorsi kebenaran akal sehat, bak rancak tarian di atas bumi Jawa. Pun semu. Tetapi sebentuk dua sisi uang emas, kesadaran akal gemilang mematamatai dunia batin, hidden-god, harkat, nurani.

Kawan Seperjuangan,
Mitos baru berdiri mengakar seperti kubur batu tua. Dirubung seperangkat sakramen tanda modern membaur satu sistem rumit dan tumpang tindih?sepanjang pengalaman sebuah negeri yang berperan bareng poryek rasionaisasi?berujungnya perubahan tingkat kesadaran rakyat hingga daratan kecil, gang-gang kampung, pedalaman-pedalaman. Ini segaris panorama subjetivitas masyarakat terus menerus tanpa henti menjalani transformasi kesadaran individu-sosial. Pendeknya bisa meluncur berwujud wahyu, dipimpin para wali negara, birokrat, agama sekte, suku, kaum intelektual, orang biasa, informasi, pengetahuan, bencana, insiden. Sebutlah kesemuanya semacam pendidikan kesadaran massa termasuk di dalamnya bentrokan-bentrokan kesadaran yang bertentangan, tak jarang bersifat radikal, dibentuk oleh sebab musabab ideologi khusus. Diakui atau tidak fakta menyeret kesadaran-kesadaran massa sangat terlibat dengan sejarah masyarakat-ekonomi, kelas?magis dari aroma sesaji kubur batu.
Bahwa di pelbagai pusaran sistem yang jalin-menjalin menjelang abad milinium ketiga ditemukan manipulasi, proyek penggelapan berkedok kebenaran ekonomis dan politis di sebuah perkampungan kecil, Planggaran Timur dan Barat dipisahkan Kali Nipah. Masih segar di ingatan, Sepetember 1993, di tempat ini 4 petani Nipah bersikukuh untuk hidup dengan layak tetapi gagal?Simuki, Mutirah, Nindin, Muhammad tersungkur jatuh oleh peluru. Waktu tidak dengan mudah mengusir lembaran hitam, kendati dibayangi mimpi-mimpi teknologi industri. Dekat tapi amat jauhnya. Hanya di balik tembok, bersebelahan dengan maraknya kasus kesewenangan, monumen hidup, jauh dari sekadar membela subsistensi hidup?tuntutan kenaikan upah, tunjangan hari raya, perbaikan syarat kerja, jaminan sosial, jam kerja lembur, cuti hamil, cuti haid.
Di pinggiran tempat penampungan bekas jajahan ini, transformasi kesadaran memang tengah terjadi. Sebuah happning art de-kolonisasi. Radikalisasi, perlawanan, gerakan-gerakan protes, serangan keras, teror rusuh, terus diselancarkan. Praktis yang dituju, menggugat kelumpuhan akibat epidemis inheren membanjirnya kesadaran palsu, pasemon. Jelas seni menjalankan kekuasaan di berbagai aras tingkat bawah telah melewati titik jenuh. Tudingan pelaku rusuh bakal ditindak secara konstitusional, tak ;agi menciutkan nyali massa lengkapnya agar dapat diperintah?catatan Foucautl perihal seni menjalankan kekuasaan?rakyat harus diperhitungkan, ditarik pajak, dididik dan tentu saja dikuasai di tempat-tempat yang diatur rumah sekalah, rumah sakit, tempat kerja yang eksistensi akhirnya diwakii dengan cara-cara yag paling sederhana dan kejam oleh penjara dan rumah sakit jiwa, tak cukup menjamin rasa nyaman bahkan fisik. Bukan mukjizat. Tetapi kutukan. Tak manusiawi. Bencana. Tragedi. Betapa dekat musibah yang melumpuhkan kesadaran akan dan yang sah kehendak Illahi Untuk perguatan nalar, massa kampung mustahil menyingkir dari musibah reifikasi ini. Massa tak punya pilihan kecuali satu cara tindakan dekolonisasi. Fakta de-kolonisasi sahih sebagai saudara kandung seni penyadaran. Potensi besar ruang narasi bagi instuisi, intrepretasi, hati nurani, emosi, estitika, religi. Pendkenya, nilai-nilai subjektivitas yang tinggi, perguatan kultural, pendidikan politik yang panjang.
Reifikasi tak prenah menggelisahkan kebutuhan pemikiran baru membrbaskan kemacetan yang diidap rakyat bawah. Rakyat cenderung dibiarkan mengelak di bawah rasa ?penderitaan.?

Sekali lagi Kawan,
Nyatalah, lebih dari sekadar fakta korup diidap sistem birokratisasi yang menyeret rakyat pada kondisi partisipasi paksa?nafas dan darah sepanjang waktu tiada kepastian nasib, hukum melainkan sudah pada apa yang disebut penjajahan akal sehat dan hegemoni penguasa terhadap nalar daya kritis rakyat, terasing fisik-psikis tertimpa tragedi ?sejarah manusia bunuh diri.? Yang hidup sehat yang sanggup bangkit mencopot asesoris kesadaran semu. Sehingga berbagai bentuk kesadaran massa de-kolonisasi nyaris tak bisa diterima nalar, simpang siur oleh karena kian masif terjangkit wabah pembenaran retorika birokrasi yang sesungguhnya justru irrasinal.
Tengoklah sejenak pelbagai pertempuran dekolonisasi yang rumit dari Edward W Said ada imajinasi, keahlian dan kontra keahlian menuntut berbagai cara sampai ke tingkat paling bawah tanpa secuilpun bisa dikesampingkan?bisa jadi justru paling urgen. Artinya rakyat pula yang betul-betul mendesak membutuhkan paradigma pemikiran baru yang sehat. Betapa kesadaran massa yang berbuntut bentrokan, serangan keras, aksi tak mendukung, sarat hasil dari kerja keras akal sehat?mutlak bersifat transformatif. De-kolonisasi yang rumit juga keseluruhan transformasi kesadaran manusia, mungkin benar ditentukan keberadaan sosialnya. Dengan kata lain, konsientisasi, meminjam istilah Paulo Freire, selaku prasyarat pembebasan. Sanggup membebaskan diri dari penindasan sosial dan politis hanya jika mereka pertama-tama membbaskan diri dari apa-apa pikiran yang ditumpangkan oleh penindas.
Kedekatan fakta organisme kecil di kampung yang dilarai musibah sekaligus bencana nalar, menyulitkan suburnya narasi yang jernih. Tak pelak, baik pada altar-altar konstruksi realitas sosial, perlunya menengok wajah masa silam yang mustahil diingkari bahwa tak semua narasi musti mengedepankan nalar. Apalagi yang impasse?mundur. Konon tak fungsionalnya secara manusiawi barisan lama?sebangsa lurah, lkmd, sampai petugas poskamiig sama akutnya koramil kodim, camat, bupati. Sampaiah pada penyederhanaan pola pikir hingga tindakan radikal layaknya musibah, fakta kecil itu membuka proses pendidikan konsientisasi tanpa campur tangan pemikir-pemikir yang sedang dilupakan basis operasional apalagi kasus?tindakan yang sungguh tak masuk akal.

September, 1993
Merdeka!

(BIRU LANGIT)

Kurang lebih lima hari kemudian, kopi surat itu ia sodorkan kepada seniman Ipong. Sambil Biru Langit menunggu hasil komentarnya, Ipong nampak manggut-manggut dan membolak-balik kertas yang ditunjukkan padanya itu. Sepertinya ia tidak membacanya dengan seksama, namun begitulah ia tetap mengangguk-anggukan kepalanya.
?Saya kurang mengerti isinya, tapi saya paham jalan pikiran Anda. Anda benar-benar seorang intelektual yang berisi.?
?Jangan puji saya seperti itu. Saya bisa tersinggung!? giliran Biru Langit tajam menyindir.[]

LIMA
KISAH SEBUAH CIUMAN

Satu

PEREMPUAN Sulistyorini menyaksikan gerak-gerik Biru Langit dari setiap tempat dimana ia bisa. Perihal itu memang Sulistyorini sungguh luar biasa. Sepertinya ia hebat dalam hal kejar mengejar laki-laki. Dalam setiap pertemuan-pertemuan tersembunyi sekalipun, diantara mereka mahasiswa-mahasiswa yang berhaluan kiri, Sulistyorini selalu tahu adakah pemuda bernama Biru Langit. Bisa jadi ia lebih tahu dari intel-intel murahan yang dikirim Kodam. Dia seorang perempuan tapi tidak laiknya kebanyakan perempuan terutama dalam hal mengejar laki-laki. Di tempat indekos Biru Langit seringkali Sulistryorini muncul tiba-tiba atau yang tak kalah lebih sering ia lebih dulu di depan pintu ketimbang Biru Langit. Dalam waktu yang serba cepat Sulistryorini menyatakan cintanya kepada Biru Langit dengan bahasa-bahasa yang sesungguhnya menurut Biru Langit itu sesuatu yang menjijikkan. Mengapa tidak? Itu diaucapkan dalam suatu suasana yang sama sekali tidak nyambung. Dalam suasana yang justru bagi Biru Langit serasa menjadi teror dalam bagian hidupnya. Sebab itu Sulistyorini lebih menyerupai horor dari pada seorang perempuan. Itu bisa terlihat dari ungkapan-ungkapannya tatkala berucap cinta pada Biru Langit. ?Aku sudah mencintaimu lebih dari bertahun-tahun lalu, semenjak pertama kali aku melihatmu,? begitu katanya suatu ketika. Sementara yang pernah hidup di benak Biru Langit perihal perempuan adalah saat ia berlari-lari dengan Bari di kampung mengejar wanita gila, Si Cipit. Kemudian atas inisiatif Bari, dimintanya Cipit itu membuka roknya dan memperlihatkan bagian tubuhnya yang tak bercelana. Di saat itu pun Bari tertawa dan Biru Langit tak mengerti apa-apa barang sesenti pun.
Itu kenangan dia tentang perempuan. Mendadak, ia disodori ungkapan cinta dari perempuan Sulistyorini di siang yang pengap, seperti harus menyantap hidangan nasi rawon yang panas di saat debu-debu beterbangan akibat cuaca gerah. Biru Langit tak bisa mengelak, maka diciumnya kuat-kuat Sulistryorini tanpa tahu persis artinya ciuman itu, dingin, hangat ataukah panas. Biru Langit juga tak melupakan sama sekali kawan-kawan dan juga pikiran kirinya. Bahkan lebih hebatnya, ciuman itu banyak mengingatkan pemikir-pemikir seperti Marxis, Hegel, Marcuse, Soekarno seolah-olah gambar itu muncul baris-berbaris di hadapannya. Sesudah barisan itu berlalu, yang muncul kemudian adalah rasa heran, bodoh dan lagi istiqfar. Di luar anjing terus saja menggonggong?sesuatu yang sesungguhnya tak berarti, namun dasar kebodohan Biru Langit, membuatnya mencoba memberi arti lolongan itu.
?Apakah arti ciuman ini, kamu terima cinta aku Biru Langit?? Sulistyorini bersuara masih terasa serupa desahan nafasnya.
Belum ada jawaban dari Biru Langit, sebab ia masih belum serasa sungguh berada di tempat indekosnya. Perjalanannya dengan seniman Ipong di Nipah jauh lebih kuat terkesan ketimbang ciuman yang ditawarkan perempuan itu. Penderitaan petani yang ditembaki dan juga ingatan tentang ayahnya jauh lebih hebat lagi menancap di bagian hidup Biru Langit. Belum lagi cerita tentang Singer, si bekas penjahat yang luput dari petrus dan kini tinggal di Gresikan, yang membuatnya lebih sedih, betapa tidak, sesuatu yang amat beda dengan nasib ayahnya?bukan penjahat tapi harus mengakhiri hidupnya di ujung pelor penembak misterius. Apa lacur dengan sesumbar si Singer itu? ?Jika ingin jadi penjahat jangan tanggung-tanggung. Sekalian jadi penjahat yang besar karena akan banyak yang membantu. Tapi kalau jadi penjahat kroco, selain banyak yang mengejek juga sering babak belur,? Sewaktu aktif di dunia hitam di tahun 1980-an tak dapat dihitung, berapa temannya yang diciduk kemudian tak diketahui rimbanya. ?Mengingat mereka seperti ditinggal pergi ke suatu kota namun tak pernah berjumpa lagi. Singer pada saat gencar operasi petrus bagi para penjahat, ia merasa punya ide brilian hingga selamat sampai sekarang. Sewaktu gencar dia sengaja bertengkar di lokalisasi Dolly. Ketika ditangkap, di saku jaketnya didapatkan beberapa gram daun ganja. Atas dua tuduhan melakukan keonaran dan menyimpan barang terlarang, mengantarkan lelaki asal Madura itu dijebloskan ke penjara. Karena kalau sudah masuk penjara, maka petugas petrus tidak bisa seenakknya menciduk sasarannya. ?Ternyata perhitungan saya benar. Jika saya tidak dijebloskan ke penjara, mungkin sudah jadi bangkai,? ujar Singer suatu ketika mengenang peristiwa yang membuatnya miris itu. Di dalam penjara dengan status tahanan, pada malam hari ia masih bisa keluar untuk mencari uang dan kembali ke penjara menjelang subuh. Sebagian hasilnya diberikan pada para petugas penjara?hal itu sudah menjadi kebiasaan umum bagi tahanan yang berduit. Ketika masa tahanannya habis, tenyata Singer tidak mau keluar karena situasinya belum aman benar. Atas permintaannya pada petugas penjara akhirnya dia diperbolehkan menghuni hotel prodeo itu dengan sejumlah imbalan. Sementara beberapa temannya yang jadi sasaran tembak ketika masa tahanannya habis dengan gembira keluar penjara, beberapa saat kemudian terbetik kabar mereka banyak yang dipetrus. Apalagi sesumbar Singer yang pernah menguasai daerah pelabuhan dan melindungi beberapa pemilik pertokoan besar di seputar Surabaya. ?Makanya saat itu kalau mau aman harus berani membuat gara-gara agar ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Kan lebih selamat masuk penjara ketimbang masuk liang lahat.? Kini dia menikmati sisa waktu bersama anak istri, dengan menanggalkan profesi lama yang penah mengantarkan dia menjadi orang yang disegani karena keberaniannya.
?Sudah pernah cium perempuan selain aku, Biru Langit??
?Belum,?
?Ya, sudah, berarti kamu terima cintaku, bukan??
?Tunggu dulu, kamu datang dan bicara terlalu cepat, beri aku waktu. Kenapa kamu memilih laki-laki seperti aku??
?Karena kamu orang baik??
?Orang baik??
?Ya, kenapa? Salah??
?Ceritakan kepadaku, apa dan bagaimana itu orang baik menurut kamu.?
?Kamu adalah gambaran seutuhnya tentang orang baik menurutku. Tapi baiklah karena itu permintaanmu, akan aku jawab. Orang baik adalah orang yang bisa menerima kelebihan dan kekurangan istrinya.?
?Tentang kekayaan bagaimana??
?Kaya dan miskin itu sama saja.?
Kontan Biru Langit tertawa ngakak. Baru saja ia mendengar sesuatu yang baru pertama kali ini masuk ke cuping teliganya, dari seorang perempuan lagi. Lama ia tertawa, mungkin itu juga tawa paling lama yang selama ini ia dengungkan, dan apalagi tawa di hadapan seorang perempuan yang setahu dia telah mencintainya.
?Apa artinya, tawamu Biru Langit??
?Jangan tersinggung. Jangan tersinggung kalau aku ganti tanyakan padamu?sudah pernahkam kamu jadi orang miskin??
?Tidak. Lalu??
?Itulah kesalahanmu. Tidak pernah jadi miskin, atau belum. Tapi ini tidak penting??
?Seperti juga halnya kamu tidak pernah kaya, bukan? Jadi sama saja.? Tukas perempuan itu.
?Tidak. Tidak sama. Ini salah satu ketidakcocokan kita,? sergah Biru Langit.
?Apakah harus banyak kecocokan yang diperlukan untuk itu??
?Setidaknya soal kaya dan miskin itu.?
?Itu pandanganmu karena kamu seorang Marxis, Biru Langit.?
?Sudah sebaiknya kita hentikan omong kosong kaya dan miskin ini,? Biru Langit menunjukkan ketaksabarannya. ?Sekarang apa maumu, Sulis.?
?Jadi aku bicara sejak tadi tidak kamu dengarkan? Kita berciuman juga tidak kamu rasakan??
?Maafkan aku, sungguh aku tidak tahu bagaimana rasanya tadi. Bagaimana kalau kita ulang??
Keduanya pun kini berciuman lagi. Dari pipi, kemudian bibir. Lebih lama dari ciuman yang pertama.
?Bagaimana rasanya Biru Langit??
?Aku masih tidak merasakan apa-apa kecuali bau pengap.?
?Sialan.?
?Maksudku, memang kita harus melakukannya berkali-kali.?
?Dasar gila, kamu.?
?Apa yang membuatmu tertarik di politik?? Biru Langit menghunjamkan pertanyaan yang sepertinya tak dikehendaki betul oleh Sulistyorini.
?Aku sih sama sekali tak tertarik.?
?Terus bagaimana bisa kamu kuliah di sini??
?Aku sendiri tidak tahu, tidak ingat dan tidak peduli. Barangkali karena ayahku yang sering bicara politik, tapi itu aku tak yakin betul. Aku sih semula ingin jadi arsitek.?
?Kudengar ayahmu seorang dokter? Betul??
?Lebih dari itu, seorang Profesor, Doktor, Dokter Bedah Plastik terkemuka. Lalu kenapa??
?Ya, maksudku seorang profesor.?
?Ya, tapi apa artinya itu bagiku??
?Ah, jangan bicara begitu, tidak baik sebagai seorang anak, belum pernah bayangkan punya bapak seorang gali bukan??
?Betul bukan, kukira kamu orang baik?? potong Sulistryorini.
?Bisa ceritakan tentang ayahmu padaku??
?Tidak perlu. Nanti kukenalkan kamu padanya, ayah orang sibuk, tapi aku yakin dia akan suka dengan seorang pemikir sepertimu, tentu dia akan luangkan banyak waktu untuk itu.?
?Kamu percaya itu, terserah kamu yang atur,? kata Biru angit ?Kalau begitu ceritakan sedikit perihal kamu saja, betul-betul aku buta tentang kamu.?
?Aku? Apa yang bisa diceritakan dari orang macam aku ini, kecuali kenekatanku yang tentunya sudah kamu tahu.?
?Ceritakanlah, apa saja.?
Lantas ia ceritakanlah sesuatu. Cobalah setiap hari Minggu sore berkunjung menikmati geliat pemandangan arena Ice Skating, di lantai dasar Tunjungan Plasa, begitu riuh anak-anak, remaja dan orangtua yang membimbing putra-putrinya. Teriakan pengunjung atau histeria remaja yang keasyikan. Menari bersama mereka. Ada beragam tarian di sana. Jangan heran bila di situ bakal ketemu dan dibuat kagum oleh keceriaan Sulistyorini. Satu-satunya hobi beratnya yaitu meluncur-luncur dengan sepatunya di arena Ice Skating itu.
?Apa alasannya kamu pilih hobi itu??
?Tidak semua hal musti pakai alasan, bukan? Ya begituah karena aku merasa senang saja. Begitulah semenjak anak-anak setiap minggu diantar papa dan mama, dari rasa senang itu pernah suatu ketika membuat aku jadi berprestasi,? jelas Sulistyorini.
?Dasar anak orang kaya,? gumam Biru Langit.

Dua

PERAWAKANNYA gagah, sehat dan nampak sekali segar. Benar-benar ciri orang yang kaya. Begitu kesan pertama Biru Langit tatkala diperkenalkan ayah perempuan itu, Profesor Doktor, Dokter Maryuhan Kurnia?ahli bedah plastik itu di kantornya di salah sebuah gedung di komplek RSUD dr Soetomo. Namun apakah ia seorang laki-laki, atau ayah yang baik? Entahlah biarpun gelar Profesor, Doktor dan dokternya telah cukup untuk dia sebut ia manusia yang baik. Lebih-lebih melihat kantornya yang amat pribadi, barangkali profesor itu jauh lebih baik dari yang dikira Biru Langit. Mungkin juga lebih baik dari yang kini telah diperkirakan perempuan Sulistyorini. ?Tapi jelas aku kira orang ini lebih baik dari anak perempuannya yang menyerupai laki-laki itu,? gumam Biru Langit. Satu hal yang benar tentang omongan Sulistyorini adalah, ayahnya bakal menyukai Biru Langit. Lebih tepatnya profesor itu biarpun ahli bedah plastik, tapi ia suka bicara politik, dan Biru Langit adalah beberapa dari sekian orang politik yang dikenalnya kemudian. Maka merekapun kemudian asyik bicara politik, sekali lagi bicara politik?bukan bicara tentang perempuan, meski anaknya sendiri seorang perempuan, panjang lebar dan di luar dugaan profesor bedah plastik itu serang yang jago bicara.
Semula dia ceritakan, bagaimana kesukaannya membaca dan membeli buku-buku. ?Kebetulan saya mengerti bahasa Inggris. Kadang-kadang, ada orang yang baca buku tapi tidak mengerti sehabis membaca,? ucapnya merendah sekaligus menyindir. Dia juga sebutkan sejumlah bacaannya, mulai dari surat kabar Kompas, Jawa Pos, Surya, Australian Herald Tribun, majalah American Scientific, Science, Nature majalah ilmiah nomor satu di dunia itu dan paling mahal harganya. ?Kehidupan saya berubah, setelah menjadi dokter, banyak yang cumlude tetapi begitu-begitu saja,? begitu dia mula-mula memperkenalkan diri, sekaligus lagi-lagi menusuk dengan kata-kata tajamnya. Dia juga katakan telah mengabdi untuk ilmu bedah plastik ini sudah cukup besar dari sejak bedah plastik tidak ada baunya sampai ada aromanya di Indonesia.
?Kamu kuliah di politik masih bisa dihitung dengan jari, boleh kutahu apa pandapatmu tentang politik, anak muda?? tanya Profesor Maryuhan Kurnia.
Biarpun Biru Langit seorang mahasiswa politik, rasanya pertanyaan Profesor Bedah Plastik soal politik itu begitu rumit untuk dijawabnya, sebab itu apa saja yang ada di benaknya, ia keluarkan untuk menjawabnya, ?Politik itu kekuasaan dan Soeharto nampaknya penganut Machiavelianisme sejati. Untuk melanggengkan kekuasaanya, dia tak cuma membangun jaringan politik yang mapan, tetapi juga melibatkan para gali dan brandal-brandal. Mereka dipakai bila deperlukan. Kalau sulit dikendalikan, maka perlu segera dilibas. Petrus adalah bagian dari itu,? jawabnya.
?Saya tidak bisa menyalahkan jawabanmu anak muda, teruskan,? barangkali ini memang gaya seorang profesor macam dia.
?Semenjak awal-awal pemerintahan orde baru, Soeharto sudah membentang beberapa incaran. Menciptakan konglomerat pribumi dari keluarga sendiri, juga menjalin hubungan khusus dengan konglomerat Tionghoa. Karena itu Soeharto langsung melibatkan orang-orang seperti Sudarmono dan Ali Murtopo tatkala awal pemerintahan. Soeharto tahu, keduanya menyatu dalam satu tubuh di Golkar, tetapi secara pribadi tidaklah ketemu. Namun memang itulah yang dicari, sebuah cermin manajemen konflik diktator Soeharto mulai diperkenalkan. Keduanya diterjunkan dalam hubungan politik ekonomi pribumi non pribumi. Sudarmono menjalankan roda organisasi ke Golkar, Ali Murtopo sebagai penjaga stalitas Golkar. Untuk memberi imbangan yang lain maka soal ekonomi satu sisi memberi privacy pedagang kuning di sisi lain juga membesarkan nama pribumi seperti Probosutedjo dan keluarganya.?
?Apa yang kamu ketahui selebihnya, bicaralah anak muda,? pinta Profesor itu.
?Konon Ali Murtopolah yang mengorganisir para gali berkomplot untuk mempermudah pengawasan dan demi kelangsungan taring kekuasaan Soeharto. Bila tujuannya sudah tercapai, strategi baru disusun. Hasilnya melenyapkan para bromocorah. Tak hanya itu, Ali Murtopolah dalam catatan orde baru nyata-nyata dipakai terus di barisan depan. Melalui jalur operasi intelejen, operasi khusus bersama-sama Sudjono Humardani, dia terbukti mampu melestarikan rezim Soeharto. Motif operasinya serba ditutup dan dengan kekuatan militer yang melibatkan ABRI. Penyiksaan penculikan, dan menghilangkan nyawa orang lain merupakan modus ciri khasnya. Cara-cara ini, yang berkembang dipakai dari awal orde baru menjelang pemilu tahun 1971 hingga sekarang yang menurut sejarawan Onghokham adalah intrik-intrik warisan rimba politik Jawa. Aktivitas intelejen itu dulu ditunjukkan dengan telik, sandi, kecu, weri. Onghokham juga mencontohkan peristiwa semasa Mataram dalam kekuasaan Sultan Agung dan Amangkurat I yang membantai 6000 jwa golongan ulama termasuk istri, anak-anak, orangtua, pembantu-pembantu ulama. Peranan operasi tertutup ini kian menonjol dengan munculnya tokoh baru Benny Murdani, dengan konfflk-konflik baru yang lebih terorganisir. Munculnya gerakan anti islam dan teror kepada umat islam. Tentu saja suasana jadi kacau karena kegiatan intelejen yang dinilai memotong Kostrad yang seharusnya di bagian depan. Wajar saja ini mnimbulkan pro dan kontra bahkan sakit hati di kalagan perwira. Orang-orang seperti Abdul Haris Nasution, HR Darsono, Sarwo Edi Wibowo disingkirkan. Mantan Pangkopkamtib Sumitro juga menyayangkan penyimpangan penggunaan operasi intelejen dalam urusan politik. Lebih dari itu Jenderal Sumitro disingkirkan dari jabatannya tak lepas dari oprasi intelejen ABRI saingannya. Juga meletusnya peristiwa Malari tahun 1974 itu.?
?Mengapa kau bicara seperti itu, anak muda. Sepertinya di matamu penuh dengan nyala dendam.?
?Oh, ya? Benarkah? Bukankah bila ini sungguh-sungguh dendam, tentu aku tak bisa bicara lagi? Terlebih kepada seorang profesor ayah dari kawan perempuanku??
?Kamu orang yang berbahaya, seperti kebanyakan orang yang penuh dendam itu berbahaya, anak muda.?
?Jadi Profesor menilai aku sukses sebagai pendendam karena peluru aparat salah ditembakkan dan nyata-nyata membunuh ayahku, begitu??
?Saya hanya tidak bisa menyalahkan kamu karena itulah yang kini memperkenalkanmu pada politik, itu saja, sederhana.?
?Apa bedanya, Prof? Tidakkah Prof tahu, sampai di daerah-daerah petrus melibatkan sejumlah aparat desa untuk menyusun daftar target operasionalnya yang kemudian banyak menimbulkan salah sasaran itu, salah tangkap dan salah tembak. Itu kmudian yang amat meresahkan masyarakat selain teror psikologis. Operasi yang menghilangkan hak hukum ribuan orang itu langsung atas perintah Presiden Soeharto sebagaimana pengakuannya dalam buku otobiografi Pikiran dan Tindakan Saya melibatkan banyak aparat militer. Secara langsung di bawah kendali Pangap/Pangkopkamtip Jenderal LB Murdani. Ini semacam mata rantai conspirasy theory masa kekuasaan Soeharto hasil rancangan khusus BAIS. Barangkali ada benarnya jika operasi ini didasari oleh keluhan para konglomerat Cina yang terganggu dengan aksi kejahatan para bromocorah. Namun demikian, petrus itu berkembang menjadi operasi terlubung. Modusnya sebagai teroris yang menakut-nakuti masyarakat. Lebih dari itu sekadar untuk menjamin stabilitas negara dalam hal ini Golkar, konglomerat dan presiden. Di masa kolonial Belanda biro yang disebut kantor Voor Inlandesch Zaken dan Chinessch Zaken merupakan badan koordinasi intelejen. Jadi indikasi Onghokham, menimbulkan kekacauan untuk kemudian menumpasnya, merupakan intrik elit kekuasaan sepanjang sejarah Jawa. Baik pada zaman raja-raja maupun masa kolonial dan pasca kolonial terbukti. Ali Murtopo dan operasi khususnya menjelang pemilu 1971 menggunakan para gali untuk melenyapkan saingannya. Dan dengan petrus akhirnya para gali itu dilenyapkan Soeharto. Hal ini berlanjut di tahun 1978, terkait dengan parpol dan kepemudaan. Namun karena dianggap tidak mampu dikendalikan, lantas para bromocorah yang dulu dimanfaatkan, akhirnya dilibas. Skenario in sangat klasik. Jikapun tak ada intrik dan komplotan, si penumpas kekacauan dapat dituduh menjadi dalangnya.?
Kali ini Biru Langit benar-benar menggebu, nyaris serupa dendam seperti apa yang ditakutkan profesor padanya. Selama Biru Langit angkat bicara, Profesor itu yang nyata-nyata seorang manusia biasa pula, harus banyak menahan emosinya sembari cengengas-cengenges, untuk barangkali sedikit menutupi malunya. Setelah diam cukup lama, lantas dia katakan yang sesungguhnya sebuah untaian basa-basi, ?Saya sungguh beruntung berkenalan dengan anak muda seperti kamu, tapi sepertinya anakku yang kurang beruntung untuk itu,? Biru Langit merasa terpancing, lebih-lebih tatkala Profesor itu menyebut anaknya, ia menjadi sedikit tersinggung.
?Tunggu sebentar,? potong Biru Langit, ?Rasanya tidak adil bila Prof belum ungkapkan pikiran tentang politik pada aku, mengapa seorang dokter seperti Anda tertarik masalah politik??
?Karena sekarang saya lihat bangsa saya, negara saya seperti ini. Sebagai warga negara, saya masih kuat, otak saya masih mau berpikir, sebelum kena stroke. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya masih mikir dengan baik, saya ingin berjuang untuk kepentingan seluruh bangsa Indonesia. Berpolitik yang katanya kotor itu yang bikin saya sakit hati mendengar komentar berpolitik itu yang penting tujuan, tidak peduli cara, menghalalkan segala cara, kalau memang politik itu sampai kapan negara seperti ini, apa mau negara ini diserahkan kepada orang bajingan-bajingan seperti itu. Politik itu harus kotor. Rakyat yang memilih apa harus kotor-kotoran itu, itu kesalahan pola pikir. Pembicaraan seperti itu masih berdiam di Indonesia dan banyak yang menonton. Politik itu campur kejahatan, kejahatan itu harus dipenjrra. Kriminal kok mengurusi rakyat. Bajingan kok disuruh mengurusi orang banyak. Menjelang Soeharto turun, saya melihat segala sesuatunya tidak karuan. Asmuni melawak di depannya Soeharto dan senang, lalu dihadiahi naik haji. Dalam hati saya tanya itu gajinya Soeharto ataukah uang negara? Terus ada industri di kalimantan diambil begitu saja oleh anak-anak Soeharto, di TV ulangtahun sungkem diperlihatkan kepada rakyat Indonesia seperti kerajaannya saja. Wajib relay. Mau jadi apa negara ini. Saya tidak cocok. Kadang-kadang saya berpikir untuk meninggalkan Indonesia dan tinggal di luar negeri daripada ngomong terus ditangkap, tapi ini negara yang kucintai tidak bisa hidup saya di sini, kalau falsafah saya begini.?
?Tahukah Anda, omongan itu seperti kebanyakan omongan politisi sekarang ini, kalau mau kaya jadiah politisi!?
?Jujur saja, motivasi pribadi sudah tidak saya miliki. Untuk apa, cari duit? Saya bisa hidup sederhana dengan gaji yang cukup saya terima. Nama saya sudah banyak dikenal di Surabaya dan di bedah plastik Indonesia. Kedudukan saya seorang profesor di dunia sudah habis kedudukan. Ambisi pribadi tidak ada. Bahkan politik hanya membuat saya sibuk, keluarga saya malah marah-marah karena betapa susah minta waktu mereka pada saat saya memilih sibuk sedemikian rupa juga untuk berpolitik,?
?Apa aku harus percayai semua omongan Profesor?? Biru Langit mencoba menyinggung perasaan Profesor itu.
?Kuperingatkan padamu, agar jangan tersinggung dengan gaya bicara saya, beginilah bila saya bicara, dan banyak orang tersinggung lalu seperti jadi musuh saya,? Profesor itu mulai bicara sesuatu yang amat pribadi.
?Tidak, aku biasa bicara dengan orang macam Profesor??
?Maksud Anda? Yang suka membuat orang marah??
?Kurang lebih, tapi baiknya kita bicara soal pribadi sekarang,? pinta Biru Langit,
?Bukankah sudah saya mulai, anak muda??
?Ya, sudah.?
?Seorang yang cukup dekat dengan saya dalam hal pekerjaan,? kata Profesor itu mulai brcerita, ?Pernah berujar untuk membuktikan kebenaran itu manusia harus berbuat kebaikan kepada sesama orang lain. Saya katakan, tidak bisa drmikian karena dia pikir religius. Kawan saya yng lain nyletuk oh, dia itu omongannya surgawi. Dia juga katakan tidak cocok kalau bicara sama orang seperti saya. Saya pun balik nyletuk kepada siapa pun orang yang mau mendengar omongan saya. Anda betul, omongan dia itu surgawi, tapi omongan saya ini nerakawi. Saya bicara itu karena kejengkelan saya menanggapi omongan profesional yang ternyata sama sekali tak menggunakan logikanya. Cerita yang saya sampaikan barangkali memang murahan betul, tapi angin surga juga kadang-kadang sering datang, silih berganti bersimpangan jalan. Semisal, saya punya kenalan perempuan asli Indonesia. Perempuan itu sering mengirimkan SMS dan dalam surat-suratnya itu ia katakan ?Tuhan begitu baik kepada saya, saya minta apapun dikasih oleh Tuhan. ?Yang menggelikan terakhir kali ia katakan, ?saya minta kenalan yang baik kepada Tuhan kemudian bertemulah saya denganmu.? Pesan itu beberapa hari menyibukkan saya dan membuat saya girang. Saya katakan, ?Hebat sekali Tuhanmu itu. Setiap pertanyaanmu selalu dijawab oleh dia. Tuhan saya ini tak pernah bisa menjawab pertanyaan saya biarpun cuma satu, apa ruh itu, kalau Tuhan mu begitu pintar, kapan-kapan saya akan titip pertanyaan buat Tuhanmu.? Syukurlah perempuan itu betul dikirim Tuhannya untuk tetap bicara kapada saya. Saya belum sempat kabarkan kepada Tuhan saya. Dia masih sibuk. Karena sibuknya sampai saya tidak tahu. Bagaimana bisa saya seperti ini? Semenjak kecil, saya sudah berkenalan dengan pemikiran ahli fisika Albert Einstein. Ketika itu, saya masih duduk di bangku SMP di Palembang, dan perkenalan saya dengannya tidak membuat saya sungguh-sungguh tahu pikiran lelaki yang tampil berkumis lebat dan rambut acak itu. Laiknya seorang murid sekolah, saya juga tidak sadar di masa kelak kemudian hari, laki-laki itu memberi sumbangsih terhadap jiwa saya. Saya tidak mengerti. Memang, perkenalan saya dengan pikiran-pikiran Einstein benar-benar memberi inspirasi pola berpikir. Ketika itu yang tersimpan di otak saya tak lebih dari rasa kagum dan keheranan saya. Saya memutar otak berpikir keras, bagaimana manusia bisa sedemikian pintarnya, sedemikian geniusnya. Jikapun dia makan sekolah, sekolahan model apa yang dilahap makluk luar biasa satu ini. Sederet pertanyaan berakhir dan ujungnya cukup saya simpan dalam benak saya setelah bertahun-tahun lamanya. Ketika saya belajar di Perguruan Tinggi, barulah saya serius mendalami pemikiran-pemikiran manusia jenius itu. Waktu itu di mata saya Einstein sudah makin hebat. Bahkan di mata dunia dia makin terkenal kepintarannya dengan temuan atomnya itu. Dalam hati saya sendiri muncul pengakuan, padahal saya tahu bukan dia sendiri yang bekerja sampai ditemukannya teori tentang atom. Ada pendahulu-pendahulunya yang membuat Einstein begitu hebat. Saya lahir di Surabaya, 11 Maret 1940. Meski demikian, pendidikan dasar saya selesaikan tidak di kota kelahiran. Sebelum lulus berikutnya saya sekolah di Lampung, Sumatera Selatan. Antara dua kota, antara dua pulau, antara dua tempat tinggal saya, memaksa saya mau tidak mau untuk peduli dengan masalah-masalah kebudayaan dan masalah-masalah sosial. Begitulah, di sini perjalanan hidup saya sempat bergolak dalam urusan budaya masyarakat. Saya menyempatkan diri untuk membuat diri saya suka dengan budaya Jawa. Lebih suka ketimbang budaya orang Sumatera-an. Pikiran saya waktu itu, mengagumi budaya Jawa karena teramat tinggi nilai-nilai filosofinya. Betapa tidak, kekaguman saya pada orang Jawa sudah teruji karena segala kehidupannya berpegang pada filosofi wayang. Wayang ketika itu dalam pikiran saya adalah cermin orang Jawa. Tidak ada budaya seperti ini yang hidup di masyarakat selain Jawa. Di sisi lain, budaya orang Sumatera tidak suka berbasa-basi. Sebaliknya, budaya Jawa kental dengan basa-basinya. Kehidupan orang Jawa yang mencontoh garis hidup tokoh-tokoh wayang, diam-diam saya kagumi. Namun demikian terus terang kadang-kadang di tengah rasa kagum saya, saya tidak bisa mengikuti dengan jenak bila sedang menonton wayang. Bahasanya amat susah. Suluk dan omongan dalang tidak bisa saya mengerti. Itu terjadi tidak dalam waktu sekejab. Bertahun-tahun lamanya. Untuk kembali bisa menikmati, semacam menjawab rasa kerinduan pada wayang dan budaya Jawa itu, lantas saya memilih untuk membaca komik-komik wayang yang bahasa Indonesia. Saya tidak meragukan budaya orang Jawa itu lebih tinggi, jauh lebih tinggi dari budaya-budaya suku lain yang ada di Indonesia. Saya pikir begitu, manakala menikmati sopan santun, tepo seliro. Saya harus akui itu sebagai hal yang berbeda sungguh ketika saya menikmati hidup di Sumatera Selatan. Selama 6 tahun dari kelas 4 SD hingga tamat SMP saya ikut orangtua saya di Palembang. Di Palembang bila terjadi tindakan Anarkis, lebih anarkis daripada orang Jawa. Jawa membuat saya teringat kembali sesuatu yang tinggi bila terjadi keributan di tempat tinggal saya. Sampai saya meraih gelar Dokter Ahli Bedah dari Universitas Airlangga, hidup saya sebagai suatu perubahan evolusi saja. Selanjutnya pun demikian. Evolusi hidup saya di bidang keilmuan menuju tingkat yang lebih tinggi, ceritanya berawal saat banyak kawan-kawan saya ingin pergi menuntut ilmu kedokteran ke Belanda. Banyak orang-orang dari THT senior saya berlomba-lomba ke Belanda. Yang mengagetkan saya, sepulang dari Belanda orang-orang itu lantas mengambil tingkat doktoral semua. Saya heran bercampur perasaan ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan kemudian banyak tumbuh dalam diri saya. Kenapa saya tidak memilih seperti yang ditempuh kawan-kawan seprofesi? Jawaban saya, ketika itu karena saya menganggap itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Lebih mengagetkan lagi, lama kelamaan saya melihat kawan-kawan saya doktor yang sudah dua. Di depan namanya ada dokter dan ada doktornya pula. Saya tetap dokter dengan huruf d kecil. Dipaksa untuk D besar, di rumahsakit tetap saya diakui sebagai dokter bukan doktor. Akan tetapi bukan masalah huruf D itu betul yang mengganggu pikiran saya. Melainkan ini: “Kawan-kawan yang mengambil doktoral itu bukanlah orang yang pintar, ternyata bisa. Kalau mereka bisa kenapa saya tidak. Kayak begitu saja, dapat DR-nya dua, kenapa tidak saya lakukan? Lantas saya pun punya pilihan untuk pergi menuntut ilmu kedokteran di negeri Belanda. Di Belanda saya mendalami Ahli Bedah Plastik di Groningen. Di luar dugaan saya, di kota Negeri Kincir Angin ini banyak pengalaman keilmuan yang tumbuh dalam diri saya, lebih-lebih dalam bidang filsafat dan dalam hal pemikiran modern. Saya melahap buku-buku keilmuan dan filsafat. Dengan berbekal bahasa Inggris yang cuma saya dapat dari ruang kursus selama sebulan saja, saya percaya sepenuhnya bahasa Inggris saya. Setamat dari Groningen, berbekal penguasaan bahasa saya pula, akhirnya saya sungguh-sungguh berniat mendaftar tingkat doktoral di Unair. Saya daftar dengan batas minimum tiga tahun. Begitulah saya mengambil doktor bukan karena keilmuannya tetapi lebih didorong karena saya ingin punya dua gelar. Sebab itu kalaupun banyak hal di luar dugaan, yang terjadi dalam diri saya selama mengambil doktor adalah soal tersendiri. Saya makin belajar banyak tentang ilmu di tempat itu. Waktu ambil doktor itu ada mata kuliah filsafat ilmu, saya ikuti. Betapa saya dan juga beberapa rekan kecewa karena ternyata filsafat ilmu di ruang kuliah itu isinya sekadar cerita sejarah. Seorang rekan yang juga calon doktor malah berterus terang kepada saya dan mengaku dirinya justru nggak ngerti sehabis mengikuti perkuliahan. Kekecewaan itu makin luar besarnya lantaran besar harapannya, setelah kuliah dia betul-betul paham tentang ilmu. Selama menempuh doktor, banyak hal yang membuat saya makin belajar sungguh-sungguh meski bukan karena menempuh kuliah tentang filsafat ilmu. Saya belajar karena didorong keinginan untuk saya untuk membuktikan sesuatu. Untuk membuktikan sesuatu itu saya harus pakai alat ukur, tidak bisa tidak. Alat ukur itu harus universal, kalau belum ada alat ukur maka harus dibuat dan harus ada pembuktiannya. Kebiasaan saya berpikir, mulai dari masalah-masalah kecil keseharian saya, semisal ‘mengapa anak minum susu,’ dia tak boleh menjawab ‘saya minum susu karena disuruh mama’ atau ‘kalau tidak minum nanti saya dicubit mama,’ berkembang ke masalah besar dalam hal loyalitas dan kontribusi. Saya pikir anak harus dididik berpikir dengan reasoning bukan atas kekuasaan. Seharusnya anak diajak berpikir bahwa minum susu itu sehat untuk pertumbuhan badannya. Agar tidak mudah sakit badan jadi kuat. Selama belajar, saya banyak bergaul dengan validitas internal-ekternal keilmuan, alat ukur, kriteria dan sebagainya. Bahwa hidung itu bagus apabila simetris. Untuk bisa simetris harus dibuat alat ukur ini simetris. Bagaimana bila terjadi pada anak kecil yang sedang menangis dan lain-lain, misalnya seperti itu. Teori ini yang kemudian saya angkat dalam disertasi program doktor saya, melalui promotor seorang profesor asal Belanda dan proforma orang Indonesia Penelitian saya itu kemudian membuat saya tertarik cara-cara metode ilmiah. Dalam pikiran saya, ini bagus untuk saya pakai menyelesaikan masalah-masalah umum. Ilmu itu universal, dipakai di Indonesia maupun Amerika metodenya pasti sama untuk mencari kebenaran. Hidup saya kian berubah dengan kebenaran itu. Hidup saya tak pernah terlepas dari upaya mencari kebenaran. Kebenaran bukan omongan saja, tetapi melalui suatu hipotesa, dalil jika sudah dilakukan pembuktian dengan metode ilmiah. Segala perkembangan hidup saya tidak terlepas dari itu. Hidup saya betul-betul berubah. Saya sering berpikir tentang kejadian-kejadian yang sepele. Suatu ketika, dalam perjalanan mobil, saya mendengarkan radio yang dengan enteng berbicara soal kebenaran. Kebenaran itu seperti ini, kebenaran itu begini. Saya gusar. Dalam hati saya berkata, orang ini ngerti apa nggak tentang kebenaran? Saya saja yang seorang doktor tidak bisa menjawab. Apa-apaan ini? Saya pun coba bertanya kepada teman-teman, kebenaran itu apa sih, tidak ada yang menjawab. Saya gusar karena saban hari orang ngomong benar salah-benar salah, tetapi tidak tahu yang diomongkan. Baru tiga hari saya berpikir karena saya gusar. Sebuah ironi, pada waktu kehidupan saya berubah setelah menjadi doktor, tetapi banyak profesor yang cumlude tetapi tetap begitu-begitu saja. Sejak remaja hobi saya berpikir. Saya katakan kalau butuh pemikiran, tanya saya, karena di zaman seperti ini masih pula ada orang yang tak mau berpikir. Kepada mereka saya sampaikan. Kalau memang mau bagus harus berpikir. Untuk kepentingan keilmuan saya, semenjak itu saya mengikuti terus berita-berita di koran tentang Stephen W Hawking yang lumpuh, kemudian saya beli buku-bukuya, saya baca, pemikirannya dengan Einstein klop. Berbagai buku Einstein saya punya mulai dari riwayat hidupnya, kemudian buah pikirannya itu, pidato-pidatonya, terus tulisan-tulisannya di koran yang pada akhirnya dikumpulkan dalam satu buku, karena itu saya tahu betul apa artinya God doest play dice?bahwa dia itu Atheis. Di lapangan pekerjaan saya menghadapi masalah antara loyalitas dan kontribusi. Sebenarnya yang paling bagus adalah kontribusi bukan loyalitas. Seseorang diberi bobot bukan karena loyalitasnya tetapi karena kontribusinya. Karena dengan kontribusinya, itu dia bebas untuk bisa memberikan gagasan, buah pikir, kritik, kerja, lalu mengimplementasikan, untuk mencoba. Berbeda dengan pokoknya nderek, ini suatu silent of boulding, orang yang diam itu lebih cepat naik pangkat. Begitulah saya menikmati pribadi saya yang menjadi bahan kesibukan orang lain. Suatu kali, seorang senior mengatakan kepada saya. Dia katakan kalau orang respek kepada Anda mungkin benar, tetapi kalau orang suka kepada saya, tunggu dulu. Ucapan ini bila didengar orang yang bukan saya, sudah barangtentu bakal menyiksa batinnya. Tetapi tidak bagi saya. Justru timbul pertanyaan dalam diri saya. Pilih mana direspeki orang dengan disukai orang? Beberapa hari saya memerlukan jawabannya. Orang respek itu bisa karena saya punya prestasi, saya punya keberhasilan. Tetapi orang suka itu bisa terjadi hari ini suka dan besuk tidak atau suka seterusnya dan sebagainya yang sifatnya sangat subjektif. Saya pikir kepada anjingpun, setiap orang bisa muncul rasa sukanya. Begitulah akhirnya saya pilih untuk direspeki ketimbang disukai. Kejengkelan saya setiap saat bisa timbul bila menyaksikan orang debat kusir tapi tanpa menggunakan keilmuan.?
Bicaranya yang panjang lebar sengaja ia tak meminta pendapat atau apa karena sungguh-sungguh ini dirasanya masalah pribadi. Ia baru berhenti sesudah dilihatnya Biru Langit mulai nampak tidak tenang, berkali-kali matanya keluar masuk terganggu oleh mobil atau pejalan yang melintas di jalan depan ruangan itu yang mulai padat, ?Sepertinya giliran kamu harus ceritakan pribadimu, anak muda.?
Biru Langit yang memang sudah gundah dan duduknya tak lagi nyaman, nampak terkejut, meski begitu ia harus siapkan jawaban yang tepat. Dirinya merasa cukup longgar sebab kiranya jawaban apapun tak perlu ia risaukan. Bukankah Profesor itu orang yang tak perlu tersinggung? Asal ia bisa kemukakan alasan yang penting?
?Aku? Apakah masih perlu Prof? Bukankah aku seorang yang tidak punya kepribadian? Bukankah Prof sudah katakan sendiri itu? Kemudian satu-satunya pribadi yang kumiliki adalah aku seorang pendendam, seperti kata Prof?? enteng saja Biru Langit bicara.
?Tidak masalah, yang penting Anda tidak tersinggung dengan gaya bicara saya.?
?Nggak. Prof juga jangan tersinggung dengan jawaban-jawabanku,? Biru Langit sepertinya hanya bersliat lidah.
?Baiklah, lain kali kita bicara masalah lain,? pintanya.
?Apakah ada masalah lain yang lebih menarik dari politik, Prof??
?Ingat. Kamu dikenalkan saya oleh anak perempuanku, itu juga harus kutanyakan padamu.?
?Ah?masalah pribadi lagi, Prof??
?Saya kira itu lebih baik daripada saya tanyakan padamu apa agamamu, bukan??

Tiga

JALAN masuk yang menyerupai lorong-lorong tua di Rumah Sakit Karangmenjangan 63) seperti sudut-sudut kotak kubus yang kesasar di kota Surabaya. Kamar-kamar yang berhadap-hadapan, bersebelahan, berderet dengan dapur, umum, perpustakaan, ruang kerja, lalu disepanjang lorong itu orang hilir mudik, tanpa tahu kemana tujuannya. Orang-orang berpakain putih-putih, wanita-wanita mendorong kereta yang menyisakam bau formalin, lalu orang-orang yang duduk di kedua sisi bersimpuh di atas tikar atau bungkus kertas koran menyisakan sandal-sandal atau sepatu bekas. Tangan mereka menggenggam minuman, makanan kering membantu menimbukan kesan yang menyedihkan?panorama yang di mata Biru Langit menyerupai wajah kota yang penuh ancaman, maut, dengan penduduk-penduduk dan pemangku pekerjaan yang sulit dipercaya, tidak menyimpan kejelasan.
Di sinilah, di salah sebuah ruangan Prpf Dr. dr. Maryuhan Kurnia menempati kantornya yang indah bersih, di tingkat dua, orang bisa bertamu ke situ melalui tangga lebar dengan kisi-kisi batako yang kokoh. Di pojok ruang kerjanya, seorang wanita yang pendiam dan hanya disibukkan dengan membuka-buka, mengumpulkan atau menata kembali buku-buku di perpustakaannya, di rak paling pojok nampaknya wanita itu meneliti buku-buku yang amat beragam yang nyata-nyata milik pribadi Sang Profesor, sejak buku ilmu pengetahuan, filsafat, sampai politik atau budaya. Kesunyian kerja wanita pendiam itu, terpecahkan oleh dua laki-laki lagi yang dipekerjakannya lalu juga sebuah TV menyala dengan suara yang sepertinya tak pernah terperhatikan betul sehingga menyerupai dengungan lebah belaka. Sepertinya itu tempat terindah pertama yang diketahui Biru Langit yang berbatasan dengan tangga. Persis di bawah tangga bau formalin kadang-kadang sudah menyebar, atau nafas orang-orang tua yang melenggang di sisi ruang rumah sakit itu. Di tempat seperti ini satu-satunya pemandangan menarik, tatkala melihat orang-orang biasa itu berjalan bersama atau duduk-duduk saling menuturkan berbagai anekdot pendek, guyonan ringan, jula-juli atau kecaman terhadap dunia yang ia jalano tapi dengan pasemon. Atau nyanyian-nyanyian ringan yang tak tentu benar ditujukan pada siapa hiburan itu, pada dirinya sendiri ataukah pada dunia yang kosong mlompong, dan baru berhenti tatkala tenggorokan mereka merasa tercekik.
Sungguh inilah perjalanan terindah dari Biru Langit. Rekreasi yang mengagumkan di belahan dunia yang berbatasan tipis dengan dunia yang lain. Itulah sebabnya mengapa banyak cerita-cerita misteri terjadi juga di tempat seperti ini, betapa banyak rumah sakit menyimpan bermacam misteri. Namun di benak Biru Langit, sesuatu yang misterius diam-diam juga menyerang dirinya?sesuatu yang telah merasuki darah dagingnya sejak bertahun silam, yang jauh sekai dari jangkauanya. Ya, suatu yang menyerupai mimpi tapi itu nyata, suatu kenyataan tapi itu berada di bawah arus kesadarannya. Barangkai lebih tepatnya sebuah penggalan masa silam yang hadir kembali di saat sekarang. Biru Langit melihat kepedihan telah berjalan-jalan di hadapannya? Begitu tiba-tiba? Rumah Sakit itu dari luar terlihat seperti bangunan kaca.Tetapi bila masuk ke dalam, akan terlihat betapa keropos dan penuh bau anyir darah. Tempat ini mengingatkan Biru Langit pada sebuah Rumah Sakit di Universitas Copenhagen, seperti tertulis dalam buku-buku orang pergerakan. Di situ hampir semuanya korban tindak kekerasan. Di tempat ini segala trauma yang dibawa diusahakan untuk lupa. Orang-orang itu seperti mereka yang telah berdatangan. Menyaksikan Rumah Sakit itu, serasa melihat sisi kelam gambaran di hampir seluruh nasib negeri berkembang. Beragam teror penyiksaan sacara fisik dan mental terhadap orang di negeri itu.Terpaksa harus dilarikan ke luar negeri. Jauh tetapi amat dekat bagi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Memang rumah sakit. Tempat orang sakit. Tetapi nyaman, ruangan-ruangan tata hiasnya menimbulkan ketenangan dengan lantai permadani. Ini adalah surga dunia para penderita, tempat ini pula yang mengingatkan Biru Langit akan kisah seorang lelaki anggota serikat buruh Chili, Miguel Angel Lee Urzua. Dia bernafas lega di tempat yang baru. Miguel adalah bekas pekerja di pertambangan El Teniente di luar ibukota Santiago. Umurnya kurang lebih 47 tahun. Dia hidup di kota tambang yang dikenal sebagai basis pendukung terkuat presiden Chili sosialis Salvador Allende. Miguel digiring ke kamp pasukan kemanan akibat gerakan politiknya. Akhirnya mendekam di klinik anti penyiksaan pertama di dunia ini. Namanya Rigshospitalet, tempatnya di Copenhagen. Sebelum itu, ketika terjadi kudeta militer tahun 1973 Miguel termasuk orang yang ditangkap pasukan keamanan. Serentetan penyiksaan beruntun yang dialaai Miguel, dihina, sebulan lebih dikurung dalam sel terkunci dipukuli pada malam hari. Disetrum listrik. Dua tahun kemudian, Miquel dilepas tetapi kediriannya sebagai manusia ambruk. Penglihatannya rusak berat, daya ingatya kacau. Di rumah kaca ini ia tetap teretkan. Kepalanya sering diganggu rasa sakit berat. Miguel mengaku sudah merasa bukan laki-laki lagi. Dia nyaris putus asa. Ia dihantui teror yang mengikuti sepanjang hidupnya. Kejantanannya telah dirusak anak buah Jenderal Pinochet. Di India, seorang wanita Arhana Guha, lumpuh kakinya. Ia wanita kepala sebuah sekolah lanjutan di Kalkuta, ditangkap 1974 karena dituduh terlibat gerakan Naxalit?kelompok teroris sayap kiri yang beroperasi di Benggala Barat. Selama penyiksaan, seluruh bagian tubuhnya dipukuli terutama daerah selangkangan. Dan punggungnya terus diserang dikurung dalam sebuah sel kotor.
Kisah ini pula yang kali pertama diceritakan Biru Langit pada Sulistyorini tentang kekejaman. Sepertinya ia harus ceritakan itu pada waktu yang tepat di saat ia kembali dipertemukan ayahnya di ruang praktek pribadinya di kawasan jalan Jawa. Kisah itu muncul lebih dari sekali dan sebab itu pula menyerang benak Biru Langit melebihi gangguan syarafnya, begitu ia melihat ruang praktek dengan meja-mejanya yang tinggi, di pasang alat-alat listrik yang entah bagaimana sampai di kepala Biru Langit amat mengerikan, persis meja penyiksaan dengan peralatan pencukil kuku, mata, tang, belati, palu dan sebagainya.
?Kamu seperti orang gila, Biru Langit,? bentak Sulistyorini yang merasa merinding dengan cerita itu. ?Tapi betapa mengerikan akibat penganiayaan itu bila semua ceritamu itu benar.?
?Aku tidak sedang minta pendapatmu apakah ceritaku benar atau salah, Suistyrini. Sebab aku tahu tentu kamu tidak tahu apa-apa tentang pergwrakan. Yang mau kukatakan, penganiayaan masal itu, menggugah naluri kalangan para kedokteran, atas permintaan Amnesti Internasional. Tahukah kamu, apa yang di benakku bila mengingat seorang wartawan Irak yang berusia 23 tahun dengan ditubuhnya terdapat 35 bekas luka bakaran dari besi panas atau para korban penyiksaan di Amerika Latin yang seluruh tubuhnya mengalami penyiksaan listrik, Sulistyorini??
?Kamu tidak sedang bertanya sungguh padaku bukan?? perempuan itu merajuk.
?Bagaimana bila itu terjadi di sini pada kawan-kawan atau bahkan pada aku sendiri??
?Sama saja bukan, dimana pun itu kejadiannya??
?Bagus, jawaban yang tepat, cerdas juga kau!? Biru Langit bermaksud memberi hati, namun jika mau jujur, sungguh itu jawaban yang cerdas. ?Motif operasi terselubung yang menistakan orang itu, juga hidup subur di negara yang rakyatnya dikatakan sejak ribuan tahun lalu tepo seliro, tenggang rasa, sopan santun. Negrinya Kusni Kasdut. Tahu Kusni Kasdut kamu??
Perempuan itu menggeleng cepat. Belum juga usai pertanyaan itu, ia lebih dulu menggeleng berulang-ulang.
?Nama lengkapnya Ignatius Kusni Kasdut, bekas anggota Tentara Pelajar. Dia dikenal sebagai pembunuh dan perampok di Museum Gajah, Jakarta dengan alasan untuk menolong sesama temannya yang juga bekas pejuang, Dia dieksekusi di sekitar tambak ikan Gresik bulan Januari 1981,? papar Biru Langit.
?Terserah padamu, Biru Langit. Ceritakanlah padaku tentang kekejaman lebih banyak lagi, entah apa yang terjadi padaku, aku jadi suka ceritamu dari semua yang mengerikan,? pinta Sulistyorini.
?Terus terang aku jadi kuatir justru kamu yang sedang dalam proses menuju gila.?
?Sepertinya kamu makin suka saja, kalau aku telah gila,? perempuan itu seperti memancing di air keruh.
?Suka apanya??
?Tidak, sayang, aku sedang bergurau, teruskan ceritamu,? desak perempuan itu.
?Sejumlah tahanan politik di sini juga mengalami penyiksaan berat. Mulai dari pemukulan, tendangan dan pemukulan dengan gagang senapan. Dengan siksa api dengan menyulut korban pakai rokok, pencabutan gigi secara paksa tanpa obat bius, strum atau dengan mengaliri listrik di ranjang besi korban. Kemudian korban dibiarkan di tempat yang berhawa dingin dibiarkan dalam posisi tertentu dengan tangan terikat di belakang maupun berdiri terus menerus. Tangan atau kaki korban digantung pada kipas angin di plafon, telapak kaki dipukuli, korban disiksa dengan minum obat yang menghancurkan kesehatannya. Lantas siksa psikologis, pemaksaan untuk menyaksikan orang lain disiksa, tembakan dengan peluru kosong atau tikaman degan pisau mainan, membangunkan korban dengan mendadak saat tidur nyenyak. Lalu terus menerus menyoroti dengan cahaya silau. Pengucilan, perusakan panca indra, intimidasi, perusakan kemampuan seks, pemotongan bagian tubuh, perkosaan dengan memasukkan benda keras ke dalam vagina atau dubur adalah bagian dari penyiksaan itu. Ada lagi dengan cara membenamkan kepala korban ke dalam air berisi kotoran, muntahan atau air kencing. Membungkus kepala dengan kantung plastik sampai korban megap-megap, membunyikan suara kras dekat kuping yang merusakkan gendang telinga, serta menutup kepala korban dengan helm lalu memukulinya.?
?Tahukah bila kamu ceritakan tentang rumah sakit itu pada ayahku, kamu akan ditanya kebenaran sumbernya?? perempuan itu bermaksud mwnghilangkan keragu-raguannya.
?Apa yang aku ceritakan ini dari beberapa laporan Amnesti Internasional. Dari catatan tim Rigshospitalet ada sejumlah korban dari negeri berkembang termasuk Amerika Latin. Dari orang dewasa hingga anak-anak. Ada lelaki umur 35 tahun selama enam tahun disiksa pukulan tubuh, sengatan listrik, alat kelamin, lidah, twlinga. Selama 20 hari dikucilkan dan dipaksa menyaksikan orang lain disiksa, ada yang tujuh tahun, ada yang empat tahun disiksa. Juga menimpa seorang anak 9 tahun yang trauma akibat orangtuanya disiksa. Dan masih ratusan ribu lagi korban penyiksaan yang tak bisa mereka tolong karena tak diberi izin mendatangi korban, atau karena para korban tak diizinkan meninggalkan tanah air. Untuk menolong anak-anak, tim Rigshositalet di Copenhagen membentuk kelompok khusus anak. Ada psikolog anak, dokter jiwa, beberpa pekerja sosial dan perawat. Sebagian besar orangtua anak-anak ini dari Chili. Anak-anak gampang menangis, mendengar suara bising saja sudah ketakutan. Banyak anak yang susah tidur, sering diganggu mimpi mengerikan tentang polisi, tentara, pembunuhan dan kematian Operasi terselubung ini justru bisa lebih berbahaya seperti dicontohkan tentang ditangkapnya dua dokter Basque, sebuah darah di Spanyol yang ingin memisahkan diri. Kedua dokter itu, Estaban Maruetagoyena dan Jose Miguel Yetano, diciduk 16 dan 22 Maret 1982 karena memriksa dan merawat sejumlah korban penyiksaan. Sungguh biadab. Kedua dokter itu dituduh membocorkan berita penyiksaan yang telah dilakukan oleh tentara. Keduanya dipenjara. Dalam pembebasannya, salah satu meninggal karena ketakutan dan serangan jantung. Protes pun dilayangkan atas kekuatiran akan bahaya yang mengancam para dokter Spanyol yang merawat korban penyiksaan. Jadi kalau dokter yang anggota Palang Merah Internasional saja ketakutan menjadi sasaran penyiksaaan, apalagi orang biasa??
Kian lama suara-suara itu makin tenggelam di telan, derit pintu ruangan, dihantam bising jalan dan dihempaskan cuaca petang yang riuh dengan angin-anginnya yang meresahkan. Derit sepatu menggerus pasir dan bebatuan lalu deru ribut radio panggil taksi membuatnya tak tersisa sedikitpun pembicaraan dua anak muda itu. Satu-satunya yang tertinggal adalah ?suka apanya? Sulistyorini. Giliran Biru Langit membolak-balik sendiri kalimatnya, memutar-mutar jalan pikiranya, ?apanya yang disuka?? Lantas iapun tersenyum kecut, dalam benaknya, timbul dugaan perempuan yang duduk di sampingnya ini serang yang luar biasa, buru-buru ia pertanyakan kembali pikirannya, ?luar biasa apanya?? Kembali ia tersenyum, kali ini lebih kecut lagi.

Empat

BILA malam tiba hawa dingin serasa menusuk tulang-tulang yang entah karena capai begitu ngilu dan seperti keropos dan bersuara. Air yang turun dari keluasan udara, mungkin sisa hujan atau embun malam begitu dihantam hembusan angin, tampak begitu berani dan tanpa permisi masuk ruangan-ruangan, menyerbu menerobos celah-celah pintu rumah kediaman Profesor Maryuhan Kurnia, yang sesungguhnya menyerupai sebuah istana, yang berdiri di jalan Dharmahusada.
Sulistyorini duduk santai menghadap pintu dan jendela kamarnya gelisah tiada peduli dan mungkin juga telah terbius dan kebal oleh hawa dingin yang asing itu. Beberapa jenak ia belum sadar dengan apa yang terjadi padanya, sebab itu ia belum juga terdorong untuk menutup korden jendela dan daun pintu.
Semua orang tidur, juga ayahnya Sang Profesor yang tenang tapi pikirannya prnuh gejolak itu. Perempuan itu terjerumus lagi dalam pesona laki-laki Biru Langit yang kian hari kian membuatnya tak berpikir mengapa dirinya mencintai laki-aki itu, menyukai setiap bicaranya dan sayang bila tak bisa berada di sampingnya. Ya, sungguh ia tak pernah lagi berpikir setiap peristiwanya jika tengah bersamanya, sesuatu kekuatan yang menyekapnya membuatnya ia telah lupa segalanya, maka dengan termangu-mangu ketika udara malam serasa mengirimkan aroma dan desah nafas laki-laki itu, maka ibunya, masih memakai gaun ungu kekuning-kuningan yang hampir putih, hanya membiarkannya dari kejauhan biarpun bertemu pandang di mulut pintu?sesuatu yang kesekian puluh mungkin ratusan kali terjadi bila malam tiba.
Dengan kedua buah tangannya di meja perempuan itu duduk menatap bayangannya sendiri di bawah sorot lampu 40 watt. Namun ia tak melihat dengan jernih bayang-bayang itu. Perempuan itu juga tak pernah berpikir akankah dirinya akan kehilangan bayang-bayang yang senantiasa mengikutinya sejak bangun pagi hingga menjelang tidur malam. Satu-satunya pikiran yang masih hidup bila sosokl bayangan ibunya muncul adalah, ?Kalau ibunya tahu apa yang terjadi dengan vaginaku hanya ada tiga kemungkinan yang terjadi, ibunya bunuh diri, aku yang dibunuh atau aku tidak tahu apa-apa!?
Bagaimana itu terjadi pada perempuan Sulistyorini? Bagaimana mungkin terjadi? Sekarang sudah terlambat, seharusnya cerita ini dibuat untuk membuka masalah itu, tapi karena bukan untuk itu, sesuatu yang mustahil dan sia-sia belaka jika lembaran-lembarannya dihabiskan untuk urusan itu. Jadi percuma untuk tak menyebutnya kehilangan waktu.
Sekarang ia perempuan yang ternoda, itu saja. Titik. Biarpun ia tokoh perempuan yang nasib dan pergulatan hidupnya berputar-putar, cerita tentang vagina itu tak pernah pergi dari tubuhnya. Biarpun lantas ia besoknya pergi kuliah bergurau dan duduk berdampingan dengan gadis-gadis dari kota hingga pelosok desa, atau berdebat dengan perempuan yang telah menjadi ibu di muka kelasnya, kawan-kawan aktivisnya, cerita itu juga tak meloncat keluar seperti ucapan dan kata-katanya.
Sesudah ayahnya, Sang Profesor bedah plastik itu, entah di suatu waktu di kesmpatan yang tersedia ia akan ceritakan mungkin pada ibunya, pada lelaki Biru Langit atau pada siapapun yang ia jumpai di jalan, sampai air matanya sudah mengering dan tak ada lagi yang sanggup mengalir bila kesdihan itu berulang-ulang ia bagi pada orang lain dan beban itu setitik demi setik terlepas dari tubuhnya.
Di luar jendela dan pintu rembesan embun itu bergumam dan angin yang menari-nari terus membisiki kuping telinga perempuan Sulistyorini, bercerita tentang kepedihan dan juga semangat untuk hidup yang entah sebutir atau dua butir embun itu pernah terbang pula di atas kamar Biru Langit. Siapa tahu.

Lima

?PALSU! Palsu semua! Tidak kawan, tidak lawan segalanya palsu dan terlalu banyak basa-basi, Biru Langit,? Pam terus mengumpat tanpa memperhatikan reaksi Biru Langit.
Dia juga terus bicara begitu melepas jaket, topi, dan menyelipkan batang rokoknya ke celah bibirnya yang tebal dan menghitam. Sampai nyaris persis suara orang berkumur ketimbang orang berbicara, bayangkan sesulit apa bila dalam kondisi seperti ini Biru Langit harus mengajaknya untuk berdiskusi. Pam pemuda bekas preman itu berkali-kali membontang-banting jaket topi dan kemudian tasnya sebelum akhirnya ia banting juga sisa tubuhnya ke kursi panjang yang kumal berdebu, dengan karet-karetnya yang menggelambir keluar. Menyaksikan itu, Biru Langit hanya kuatir barang itu diremukkan potongan-potongan tubuh Pam, untungnya kejengkelan Pam sudah terlebih dulu dilepas dari tubuhnya, hingga tak memberatkan lagi badannya.
Dia rindukan Sulistyorini sampai nyaris hilang nyawanya, tapi keinginannya untuk bertemu selalu kandas dan kesempatannya kerap kali direbut Biru Langit dengan obrolan-obrolan yang bagi Pam sendiri kalau mau jujur membosankan dirinya. Pam mundar-madir, hilir mudik, ke sana kemari bila itu terjadi, tak ada pembicaraan menarik, tak ada diskusi yang simpatik apalagi tentang manusia?bukankah dirinya beda sdikit dengan binatang yang bimbang?
Baginya, Sulistyorini adalah perempuan jalang yang membuatnya mabuk kepayang, Dia juga perempuan yang sangat antik bila dibandingkan dengan program kuliahnya di jurusan politik yang dia sendiri lebih tergelitik dengan teori-teori besar orang barat yang bukan politikus. Sebab itu wajar bila kian hari tambah membingungkan dirinya sendiri, Pendek kata, tidak ada istilah lain kecuali malapetaka di saat-saat seperti itu. Bila itu terjadi saban hari, saban kali, kebiasaan barunya muncul yakni dengan mereka-reka jari-jemari atau kekenyalan otot-otot perempuan itu di atas tombol nomor-nomor telepon umum, tiga sampai empat kali ia bayangkan perempuan itu menari di meja telepon. Sementara bayangan tubuhnya yang lain terbang dari tembok ke tembok di rumah-rumah atau gedung-gedung pinggiran jalan, hingga sungguh-sungguh memabukkan. Belum lagi rambut hitamnya yang terbang seperti menari-nari di angkasa dan dibayangkannya beberapa helai ujungnya menyentuh kulit muka Pam yang melintas karena kulit tangannya luput dari genggaman tangannya.
?Jadi betul-betul kamu sudah rayu mati-matian Sulistyorini?? seloroh Biru Langit.
Lalu Biru Langit melangkahkan beberapa jejak di sisi Pam. Sepertinya gendrrang perang urat syaraf itu sudah kembali diperdengarkan, sesuatu yang sungguhnya kedengaran lelucon bila mereka berdua berhadap-hadapan. Betapa tidak, sebab keduanya harus menunjukkan tampang berpusing-pusing tentang nasib perempuan yang siapa tahu sesungguhnya perempuan itu, Sulistyorini, tengah tertidur terlentang nyaris tanpa nyawa, atau makan kacang sambil nonton adegan prcintaan. Di saat seperti itu seperti dua ekor anjing, anak-anak muda yang kekiri-kirian itu hanya sama-sama menengadahkan mukanya ke atas.
?Aku sudah katakan cinta, dan bermaksud memperistri Sulistyorini,? ucap Pam lirih nyaris tak terdengar karena tak ada lagi kepercayaan diri.
?Terus apa katanya?? Biru Langit tak sabar.
?Apa katanya? Ya dia katakan tidak bisa, karena dia sudah jatuh cinta dengan pemuda Marxis bernama Biru Langit, jahanam!?
?Dia sungguh katakan itu??
?Kamu yang mengecewakan aku. Mengapa itu tak lebih dulu kamu katakan padaku. Jadi aku harus menghormati kawan.?
?Menghormati kawan atau tidak jatuh malu??
?Tidak ada bedanya, bagiku.?
?Kasihan sekali kamu. Tapi ketahuilah aku tak pernah katakan cinta padanya. Memang aku minta waktu untuk mencoba.?
?Mencoba? Dan mencicipi maksudmu??
?Itu urusanku dan kukira kita telah banyak membuang waktu untuk omong kosong tentang perempuan yang tidak ada gunanya.?
?Tidak. Ini penting bagiku, karena kamu tidak bermain dengan fair. Kamu munafik,? Pam masih ngotot untuk brdebat.
?Fair? Tunjukkan padaku dimana tak fair dan tidaknya dalam masalah ini.?
?Kamu sedang menjebakku, kawan.?
?He, sampai di situ rupanya.?
?Itu pengetahuanku tentang kecenderungan gaya politikmu.?
?Setan apa yang merasuki dirimu sekarang??
?Tapi aku tahu iblis apa dalam pikiranmu. Politik!?
Adu mulut itu nyaris berakhir dengan adu pukul. Untungnya sesosok wanita lewat dan entah malaikat apa yang turun ke kawasan itu, si perempuan menyapa keras dan menyebut nama dengan gamblang dua pemuda itu. Ya dua-duanya. Belum lagi bunyi panci yang sengaja dipukul sebulum akhirnya dijatuhkan, juga menghentikan kedua pemuda itu. Sejak itu mulai timbul perasaan-perasaan aneh, kasihan, penyesalan, kuatir dan kekosongan.
?Dengarkan aku kawan. Jika kamu kawini Sulistyorini, dan jika kamu undang aku, aku berjanji untuk tidak mendatangi undanganmu,? Pam masih sinis.
?Dengarkan juga aku kawan. Aku juga tak akan mengundangmu jikapun benar-bnar dia bakal istriku.?
?Terserah!? potong Pam.
?Sekali lagi aku harus sadarkan kamu, bahwa omongan kita benar-benar tidak ada gunanya karena terlalu banyak kata jika, mengerti kawan?? celetuk Biru Langit.
Karena dia tamu dan Biru Langit tuan rumah, di rumah kontrakannya di kawasan gang sempit di Menur, maka dia harus tunduk pada penutup kata Biru Langit. Pam kembali pulang dengan segenap perasaan dongkol dan yang jelas rasa malunya itu, begitu mendongkolnya dan demikian malunya di rumah kontrakan itu dia harus berputar-putar seperti kesurupan mencari lubang pintu rumah. Sepertinya dia bersusah payah melindas kertas-kertas yang berserakan dan sepatu bekas di ruangan yang memanjang dan mirip lorong-lorong itu. Sorot matanya liar seperti hendak mencari hiasan-hiasan di dinding yang memang mustahil ia jumpai. Entah apa yang tersimpan di benaknya, begitu keluar melewati pintu samping rumah Pam lantas melompati pagar sisi kanan rumah kontrakan itu yang tak seberapa tinggi. Nampaknya ia lupa, persis di sisi luar tembok itu ada kali kecil dengan airnya yang menghitam dari aliran-aliran bak mandi serta comberan orang kampung. Diapun kecemplung. Setelah itu tidak ada kabar dari dalam rumah, kecuali terdengar pekik umpatan. Diamput! Namun dia bicarakan dirinya sendiri.
?Dia sungguh terlihat seperti anjing, biarpun tak sedang mendongakkan permukaan wajahnya ke langit dan biarpun tak menjulurkan lidahnya ke dasar kali,? pikir Biru Langit dari baik salah satu celah tembok itu.

Enam

SETAN yang bermukim di tubuh Pam tenggelam, semenjak laki-laki itu sudah memutuskan percintaannya yang menyebalkan itu. Biarpun sebentuk kecil diam-diam pernah ada dalam kehidupan perempuan Sulistyorini?kendatipun barangkali hanya memualkan saja di bagian tertentu perutnya sebelum akhirnya dicampakkannya.
Seperti juga setiap bagian hidup ini rupanya baik perempuan itu, Pam dan juga Biru Langit tak semudah membalik tangan bila untuk saling mencampakkan. Terlebih bagi sisi hidup Sulistyorini tentang Biru Langit atau sisi hidup Biru Langit. Juga perihal ayah perempuan itu.
?Jadi untuk siapakah ini semua?? Biru Langit tercenung mengerutkan kening memikirkan sesuatu yang tak penting benar.
Ia sendiri tak peduli benar apa yang terjadi pada dirinya tentang perempuan. Apalagi perihal masa lalu dan orang-orang di sekelilng Sulistyorini, tapi ia peduli kepedihan yang telah melampaui rupa-rupa perjalanan hidupnya sendiri semenjak keluarganya dimatikan. Sejumlah pertanyaan yang bergelanyutan di batinnya tak lebih adalah perasaan pribadi sedalam-dalamnya. ?Dendam dalam jiwa ini demikian akut membuat aku tidak tahu diriku sendiri,? begitu setiap kali ada pecahan perasaan yang menyadarkan Biru Langit. ?Rasanya obat mujarab bagiku cuma banyak bicara, banyak mendengar dan banyak bekerja tanpa aku tahu kenikmatan apa yang kudapat.?
Banyak kawan membuat Biru Langit bisa dapat obat mujarab itu, tanpa harus peduli harta, gelar, laki-perempuan, latarbelakang, ideologi dan pikiran-pikiran nakal yang bagaimanapun itu busuknya. Dia juga merasa terangkat hidupnya karena itu. Juga lantaran seorang Profesor Bedah Plastik lebih suka bicara atau barangkali tepatnya menghibur dirinya. Belum lagi anak perempuannya yang memberikan perasaannya, meski tetap membuat dirinya masih tak tahu kenikmatan apa yang ia dapat. Betapa Sang Profesor itu orang yang sulit diterima kebanyakan orang, tapi disegani mahasiswa-mahasiswa, kolega dan dipercaya orang terbaik di Rumah Sakit Karangmenjangan itu, tiba-tiba menjadi orang yang kecil, bebas, dan tak punya keluarga?betapa semua orang dianggapnya itu orang lain? Akankah Sang Profesor itu juga tidak diterima di keluarganya sebagai manusia biasa? Lagi-agi dirasanya ini pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab jikapun untuk tidak mengatakan memang tak seharusnya dijawab.
Diam-diam, dari hari ke hari Sang Profesor itu merelakan waktunya juga uangnya untuk agar putrinya dan Biru Langit prgi keluar menikmati dunia luar, menonton apa saja. Semenjak itu dua orang muda-mudi itu biasa menonton pertunjukan film, musik atau teater?sebuah jalan tengah untuk membersihkan jiwanya dan memperkaya semangat hidupnya, biarpun tidak jelas benar inikah suatu bagian dari kenikmatan, dengan makan kacang, mengunyah popcorn berjalan santai sejak dari komplek Balai Pemuda, Taman Hiburan Rakyat, Plasa, Jembatan Merah, yang segala tempat itu satupun tak pernah di sebut pemikir-pemikir kiri pada zamannya, tapi terlintas di benak Biru Langit tentang kapitalisme. Begituah dendam itu bisa menjadi penyakit karena nyata-nyata bisa muncul di setiap saat tanpa pandang dimana tempat dan waktunya?taruhlah ibarat penyakit maag,
Kadang-kadang ada yang terlintas cepat di saat-saat misterius itu. Biru Langit ingat kampung halamannya. Dia bisa ingat kerbau atau kambing atau bebek yang berkeliaran di sawah. Dia juga ingat perempuan-perempuan kampung yang masih lugu, dan yang pasti dia ingat ayahnya sebelum tertembak mati, ibunya sebelum mengakhiri hidupnya. Di lain waktu, ia juga ingat saat masih anak-anak mengenakan seragam sekah berpakaian merah putih dan bila mengenakan seragam pramuka tak pernah ia kenakan celana warna yang coklat tua karena satu-satunya seragam yang dimilikinya ya merah itu. Dibayangkannya itu kenakalan paling nakal di masa kanak-kanak, lantaran tak serangpun kawan-kawannya punya nyali untuk melakukannya itu?pelajaran berharga setelah bertahun perjalanan hidupnya, betapa kemiskinan itu telah menghidupkan keberanian dalam dirinya, biarpun sulit dibedakan dengan kenekadan dan dendam. Sebab itu semenjak dia tumbuh dengan seragam pramuka bercelana merah itu, ia rahasiakan bagian hidupnya itu. Jikapun kawan-kawan semasa kanak-kanak tahu itu, hanya dirinya sendiri yang tahu rahasia pribadinya itu. Juga leluconnya. Bayangkanlah betapa berat perbuatan untuk mentertawakan diri sendiri, kenangnya. Jauh lebih brat dari mematahkan semangat yang tumbuh dan mampu mengusir rasa takutnya itu. ?Ya, karena kedua-duanya, ketakutan dan kebranian yang berbuah lelucon itu telah terlanjur hadir dalam masa silam Biru Langit. Betapa ini suatu dagan yang memilukan,? kenangnya.
?Kemarilah, anak muda. Siapa namamu?? tukas Sang Profesor saat sekelebat melihat laki perempuan itu sepulang dari sebuah acara.
?Biru Langit!? sahut perempuan Sulistyorini.
?Ya, Biru Langit. Namamu terlalu bagus sehingga sulit saya mengerti. Ceritakan padaku tentang seni, keindahan dan perempuan,? pinta Sang Profesor itu seperti sudah disiapkan sejak mula.
Terang saja pertanyaan itu amat mengejutkan dan membingungkan Biru Langit. Tak satupun dari ketiga kata itu yang benar-benar dikenalnya dengan baik. Kesenian hanya ia tahu dari perkenlannya dengan seniman Ipong. Keindahan tak pernah tahu datang permisi lalu duduk dalam hidupnya. Lebih-lebih soal perempuan, sulit ia harus ceritakan perihal yang satu ini pada orang lain. Permintaan Profesor itu tumbuh menjadi kebencian dan sebuah kutukan padanya. Selebihnya yang tumbuh cepat dalam jiwanya adalah perasaan bahwa ia tengah dalam kekuasaannya. Terang saja Biru Langit tak mengijinkan perasaaanya terus berkembang sebelum akhirnya Sang Profesorr itu memperbudaknya. Satu-satunya cara untuk agar ia tak tunduk pada pola pikir Sang Profesor, ia harus mengingat kembali seragam pramukanya dengan celana warna merah hati.
?Tolonglah anak muda, bedakan antara seni, keindahan dan perempuan,? pintanya lagi.
?Bagi aku itu sama saja, Prof,? tegas Biru Langit.
?Tolong beri alasan pada saya.?
?Karena untuk terlibat di dalamnya terhadap ketiga-tiganya dibutuhkan kebranian, Prof. Artinya bagi aku hanya seni, keindahan dan perempuan yang benar-benar berani yang harus didekati, digauli dan diperjuangkan. Bagaimana dengan penjasan aku Prof??
?Masih membingungkan. Saya kurang mengerti dengan bahasamu. Masih ada yang lain?? tanya Sang Profesor lagi.
?Begini maksud aku, bagi aku untuk memahami karya seni, untuk menggeluti kesenian agar tahu yang namanya keindahan yang dalam bahasa muluknya itu estetika dibutuhkan daya intelektualitas yang tinggi dan intelektuatas yang tinggi itu maksudnya adalah kebranian. Pintar itu nomor dua. Keberanianlah nomor satu. Orang pintar itu banyak tapi orang berani itu jarang. Intelektual yang canggih itu terlalu banyak tapi pemikir yang punya nyali itu bisa dihitung dengan jari. Bukan berarti tidak ada, sebab aku sudah melihat sebagian dari mereka dan maaf kalau aku masih mengacuhkan Anda dengan sederet gelar di depan dan belangkang Anda, Bisa dimengerti, Prof??
?Ya, lumayan,? Sang Profesor itu tetap kukuh. ?Tapi kamu belum sebutkan tentang perempuan, bukan??
?Bukankah tidak sulit bagi aku untuk misalkan menempatkan perempuan sebagai suatu karya seni? Jadi hanya orang-orang yang punya intelektuaitas yang tinggi pula yang bisa menikmati keindahan perempuan, sebab dengan itu laki-laki akan memilih perempuan-perempuan yang berani untuk menjadi pendamping hidupnya?? papar Biru Langit.
?Kamu anak muda yang suka sesuatu yang sulit. Lagi-lagi saya dapat kata-kata yang butuh penjelasan, intelektual dan keberanian.?
?Bagi aku dua hal itu juga sama, Prof. Siapa saja bisa menjadi intelektual, bisa menjadi pemikir yang punya keberanian untuk mengeluarkan apapun jalan pikirannya. Sekalipun itu suatu hal yang tidak mungkin. Siapapun bisa menjadi pemikir yang berani berbuat dan bekerja dengan isi pikirannya itu. Dengan begitu keberanian yang aku maksudkan di sini adalah keberanian untuk hidup dan bukan hanya keberanian untuk mencari penghidupan. Sekali lagi keberanian untuk hidup dan bukan cuma untuk mencari penghidupan,? Biru Langit terlihat seperti berpikir keras.
?Terus??
?Sampai di sini, maaf juga kalau bagi aku dalam soal perempuan dan laki-laki adalah sesuatu yang sama. Karena anda seorang Profesor Ilmu Bedah Plastik, mustahil bagi aku jika Anda bertanya tentang laki-laki dan perempuan atau tentang apa itu hidup pada aku. Atau barangkali justru sebaiknya Anda tak akan bisa menjawab jika kutanyakan bagaimana Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan? Lalu dimana ruh hidup manusia?? tajam Biru Langit memilih kata yang menghunjam telak Sang Profesor.
?Tuhan? Ya, itu urusan yang sangat personal sekali,? Sang Profesor sepertinya hanya menggumam.
?Sebab itu tak kutanyakan pada Anda, Prof. Tapi aku tahu bagaimana itu bisa kutanyakan padamu dan kita bisa mulai berdebat perihal beda percaya dan yakin, kepercayaan dan keyakinan. Dan aku sudah bisa menduga, tahu persis bagaimana jawaban Anda. Bukankah, kita tidak akan pernah ketemu dalam satu titik tentang masalah itu, Profesor?? Biru Langit terus menghunjamkan kata-kata kunci yang ia tahu tak akan membuatnya tersinggung.
?Begini Biru Langit,? Sang Profesor itu begitu kaku bibirnya menyebut nama itu untuk kali pertama. ?Yang ingin saya tanyakan juga apakah anak gadisku cukup cantik menurutmu??
?Pertanyaan itu sama saja,? Biru Langit nampak memutar otak. ?Begini saja. Anda butuh jawaban yang berbelit-belit ataukah yang sederhana??
?Apakah pertanyaan saya cukup berbelit-belit untuk kamu jawab??
?Ya, putri Anda sangat cantik,? jawab Biru Langit mantap.
?Tahu apa kamu tentang kecantikan?? desak Sang Profesor.
?Aku kira aku sudah tahu itu, karena aku sangat berhati-hati untuk mengatakannya. Bagi aku kecantikan itu tak ada hubungannya dengan uang, pengaruh dan kekuasaan. Ya, kedengarannya seperti omong kosong, tetapi aku sangat berhati-hati karena laki-laki yang mengatakan cantik pada gadisnya itu seringkali sama artinya dengan menyerahkan dirinya untuk dikuasai. Padahal itu semua bermula dari sesuatu yang sangat sepele. Tidak lain karena keperluan belaka biarpun tumbuh dalam hati nuraninya. Dengan penuh kesadaran aku tidak mau berbuat seperti itu, lebih baik aku memilih jalan berkhianat dari itu dan kemudian memperhitungkan kembali untung rugi. Anda tahu untung rugi yang ada di kepala aku? Bukan harta atau kedudukan apalagi gelar, tapi hidup itu sendiri, titik. Aku harus akhiri di sini karena lagi-lagi Anda tak bisa memasuki ruang hidup aku,? Biru angit terus bicara dengan pikiran-pikiran yang berani.
?Apakah putri saya mengerti semua apa yang kamu bicarakan??
?Aku ragu, karena aku selalu ragu pada siapapun, juga pada Profesor seperti Anda.?
?Kamu orang yang berbahaya, Anak muda.?
?Bagi siapa??
?Siapa siapa saja, juga putri saya.?
?Orang-orang yang berpikiran besar selalu membahayakan orang-orang mapan. Tapi Prof tak bisa begitu saja mengabaikan bahwa putri Anda menyukai aku.?
?Cinta??
?Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kurang lebih.?
?Begitu??
?Tanyakan itu pada putri Anda, jelas dia lebih tahu dari aku.?
?Ah, tidak juga. Kadang ia juga tak tahu siapa sesungguhnya dirinya.?
?Kalau soal itu, kadang aku juga tidak tahu persis siapa diriku sebnarnya. Begituah misteri manusia??
?Kenapa kamu bicara seperti itu anak muda??
?Karena aku bicara dengan orang tua, dan yang lebih pnting lagi, karena aku mencintai putri Anda.?
?Seprrtinya kamu sedang mengajari serang Profesor tentang seni bercinta,? Sang Profesor ketus.
?Seni? ya sni?? Biru Langit sempat menyimpan semacam perasaan geli dan lelucon dalam dirinya. ?Kalau begitu aku perlu tahu pendapat Seorang Profesor Ilmu Bedah Plastik tentang seni.?
?Memang dalam limu bedah plastik, segala sesuatu itu berbau seni, tidak ada yang tidak, semua terkait dengan keindahan. Di pendidikan ilmu bedah plastik, begitu masuk yang diajarkan kepada mahasiswa-mahasiswa adalah bagaimana bisa berbuat sesuatu untuk penampakan lebih baik dan lebih bagus. Untuk bagus, tentu saja lemak yang tertinggal yang dibicarakan. Untuk apa membicarakan yang dibuang? Semua ilmu bedah seperti itu. Misalkan ada pasien kalianan usus dan harus dipotong sekian meter yang penting bukan berapa meter yang keluar dan berhasil dipotong ususnya, tetapi berapa yang kamu tinggalkan sehingga orang masih bisa hidup dengan ususnya. Itulah seni saya.?
?Bagaimana dengan kecantikan, dalam pikiran Anda, Profesor??
?Begini. Yang bikin orang cantik itu lapisan lemak. Jadi kalau lapisan lemaknya terlalu sedikit orang itu jelek, karena kurus kering seperti tulang yang dibalut kuit. Begitu juga kalau lemaknya terlalu banyak, juga bikin orang tidak cantik.?
Biru Langit cepat bisa tertawa, dan dirasanya pikiran Sang Profesor ternyata juga lebih lucu dari jalan pikirannya.
?Jadi orang gemuk itu susah jadi cantik?? sergah Biru Langit.
?Saya bilang mudah jadi lucu,? katanya.
?Rupanya Anda sedang brteori??
?Ya. Persisnya ini ilmu-Ilmu Bedah Plastik. Jadi sekarang orang memikirkan untuk mendapatkan porsi fat yang tepat tidak terlalu banyak dan tidak juga terlalu sedikit Seberapa fat yang menarik sebetulnya itu individual sifatnya. Ada yang suka sedikit gemuk, ada yang sedikit kurus. Sampai saat ini jika yang diidolakan orang seperti itu, sebnarnya tidak ada hubungannya dengan liposuction. Sedot lemak berperan pada orang yang sudah memiliki porsi ideal, namun di beberapa bagian tubuh itu terdapat tumpukan lemak yang berlebih, baru di situlah tempatnya sedot lemak. Karena itu sedot lemak disebut body counturing. Jadi melakukan pembentukan garis atau lekuk tubuh dengan membuang lemak yang berlebih pada tubuh. Bukan menguruskan seserang yang sudah gemuk secara menyeluruh. Kalau orang menguruskan badan yang sudah gemuk itu harus dengan diet dan olah raga. Jadi makanan yang masuk perut di atur dan ditambah dengan pembakaran lemak pada saat melakukan aktivitas olahraga. Prinsipnya seperti itu kalau mau menguruskan badan. Jadi body counturing, dilakukan hanya di tempat tertentu misalnya saja orang yang sudah cantik itu terdapat timbunan fat yang lebih banyak, sebut saja di lengan bagian atas sehingga kelihatannya seperti bersayap. Kemudian ada yang dipunggung, perut, paha bagian luar, biasanya di tempat-tmpat yang banyak lemaknya. Hanya sekarang ini, ada orang-orang tidak seluruhnya memakai sedot lemak itu dengan maksud seperti itu, karena kadang-kadang kalau orang itu sudah telanjur gemuk itu memang susah. Susah untuk duduk, atau untuk tunduk dalam keadaan duduk sehingga tujuannya memang bukan untuk body cunturing, tetapi tujuannya sekadar supaya dokter menghisap lemaknya, bukan untuk bagus-bagusan. Supaya bisa lebih enak saja. Tidak ada yang mengganjal.?
?Aku belum melihat sama sekali penjelasan Profesor tentang kecantikan,? potong Biru Langit.
?Cantik itu semuanya sama di seluruh dunia. Mereka pakai standarisasi kecantikan, yang sama. Dulu mungkin ada pikiran bahwa ukuran cantik bagi orang Timur itu harus seperti, cantiknya orang Barat. Itu anggapan dulu, ternyata pembicaraan yang terakhir, sepertinya hampir semua spakat, bahwa ukuran kecantikan itu universal. Orang Asia yang berhidung pesek kalau dia mau meniggikannya, bukan berarti mau dibentuk seperti orang barat. Dia mau meninggikan sebatas apakah ukurannya itu nanti harmonis untuk mukanya. Demikian pula bagi orang Barat yang hidungnya besar-besar, mrka mengingingkan dipotong, direndahkan supaya harmoni juga dengan mukanya. Jadi berarti memang kira-kira kebutuhannya sama. Orang Barat yang matanya besar dan orang Cina yang matanya sempit, lalu orang Cina itu menghendaki operasi itu bukan karena mau mencontoh orang barat, tetapi memang kalau dipasang lipatan jadi lebih bagus. Orang Barat tulang pipinya kecil tetapi orang Asia, menonjol. Kebanyakan orang Barat ditambahi, dan orang Asia dikurangi tulang pipinya. Jadi cantik itu universal.? 64)
?Sudah aku katakan sejak semula, Prof. Rupanya kita tidak akan ketemu dalam satu titik tentang masalah-masalah seperti ini. Mustahil aku yang mahasiswa politik ini menyeberangi sungai yang Anda kuasai berpuluh-puluh tahun itu.?
?Ya..ya.. saya bisa mengerti. Tapi saya bisa berkendara perahu di dunia poliitik, dunia kamu. Catat itu anak muda.?
?Silakan dan maaf kalau aku harus katakan, sangat terganggu dengan dunia universal Anda itu Prof. Permisi aku harus pergi.?
Biru Langit berpamitan dan sesudah itu lampaulah waktu demi waktu.[]

ENAM
MATAHARI SUBUH DI BULAN APRIL 1994

Satu

KEKACAUAN tetap menyelimuti pribadi perempuan Sulistyorini.
Dia hidup dengan seorang ayah yang sama sekali tak pernah percaya dan tak pernah beribadah, untuk menyebut Tuhan saja juga tidak. Kemudian ia mengambil kuliah sesuatu yang keputusannya ia ambil dalam suasana yang kacau?politik. Lantas ia memilih kawan laki-laki yang ia percaya bakal jadi kekasihnya itu orang yang tidak pernah tahu persis dimana jalan hidupnya, lalu perempuan itu juga tak tahu persis akankah masa silamnya yang suram sungguh-sungguh hilang, seperti apa yang dijanjikan ayahnya tentang keperawanan? Beban kekacauan itu semua ia tanggung sendiri saban hari. Sebab itu ia juga harus jumpalitan berusaha untuk menemukan kenikmatan-kenikmatan. Betul-betul ia berdiri dalam situasi kagalauan.
Dalam pencariannya itu dia ingin membedakan dirinya dengan batu. Barangkali dengan mendengarkan adakah musik dari dalam batu itu, maka atas saran Biru Langit pergilah keduanya ke kampung miskin dan mencari batu. Batu tetap batu, tapi kecerdikan Biru Langit membuatnya ia meluncur dengan taksi ke selatan kota mencari tidak sembarang batu, lebih dari itu agar perempuan itu tahu ada ruh yang ditiupkan orang-orang miskin itu pada batu.
Sekali waktu seorang perlu datang untuk milihat art galery atau berilibur menyisir pinggiran kota sisa kerajaan Majapahit di Mojokerto. Dijamin mengagumkan. Mengagumkan karena di situ bisa dinikmati penduduk yang khusyuk bekerja memahati kayu atau batu. Mencipta sebentuk dewa atau tubuh manusia adalah sesuatu yang biasa di sana. Meski tak pelru dilakukan seorang empu di suatu tempat semedi. Ini malah bisa dilembur di semacam home industry. Berbekal seperangkat alat cukil kayu dan tatah batu, pencipta begitu leluasa membuat tertawa para dewa, atau gestur tubuh wanita atletis mirip artis, apalagi jika cuma pesanan sepotong anatomi binatang yang bengis. Itu tidak mustahil dan benar terjadi di dunia nyata. Bukan mimpi.
?Kenapa kamu ajak aku kemari, Biru Langit??
?Karena di sini banyak dewa dari batu, bahkan kamu tinggal pilih mana yang kamu suka perlu sepotong dewa yang tampil utuh, atau cuma perlu kepalanya saja,? kata Biru Langit.
?Terus terang aku tidak mengerti maksudmu.?
?Kita berjalan-jalan saja dulu tanpa aku harus mengganggu bagaimana kamu menikmatinya perjalanan ini.?
Selama itu taksi yang disewanya dari Surabaya, membawanya berkeliling dan menyisir pinggiran jalan yang dipenuhi patung-patung dari batu dan pekerja-pekerja yang sulit diganggu. Sesekali dua kali taksi itu berhenti dan dua anak muda ini mengelus dewa-dewa buatan para perajin. Semua pekerja berkelompok menghadap batu-batu itu seperti penyembah-penyembah yang khusyuk sejak zaman penganut kepercayaan, sementara perempuan-perempuan yang di halaman rumahnya menggandeng dan menyuapi anaknya dengan pandangan yang kosong. Juga di bagian paling dalam palataran itu seorang yang tertua sendirian memperhalus batu-batu yang sudah diselesaikan tukang-tukangnya.
Selama itu Sulistyorini nampak seperti kebosanan dan capek. Ia menggengam kuat-kuat tasnya dengan keringat keluar menderas. Sepertinya ia justru lebih kacau dari hari biasanya.
?Kenapa tak bisa kamu nikmati dengan enjoy?? Biru Langit mencari tahu.
?Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh, Biru Langit??
?Ceritakan padaku.?
?Aku merasa lebih buruk dari batu-batu itu.?
?Kamu terlalu sentimentil.?
?Kukatakan ini sejujurnya, cantik-cantik sekali dia, benar begitu Biru Langit??
?Kenapa tak kamu lihat bagaimana pekerja-perkerja itu bisa jadi manusia??
?Tidak, itulah bedanya kau dan aku.?
?Ada lagi yang perlu kamu sampaikan, Sulistyorini??
?Aku harus bawa pulang salah satu batu itu. Aku perlu.?
?Ya, aku tahu itu.?
?Ambilkan sebutir kepala dewa saja, bayar sescukupnya dan jangan ditawar.?
?Semoga kamu bahagia dengan pilihanku.?
Maksud hati Biru Langit sungguh bercanda, sebab itu ia musti menambahkan satu senyum kecil di bibirnya. Namun betapa terkejut ketika ia saksikan Sulistyorini justru menggigil dan kemudian meneteskan airmata. Sementara dirinya hanya bisa berkata di hati. Kamu orang yang tahu kenikmatan hidup Biru Langit, justru karena kepedihan akibat perasaan ditindas yang tidak kunjung padam.
Begitulah pendapat terakhir perempuan itu tentang Biru Langit sebelum akhirnya ia ceritakan padanya bahwa dirinya sudah tidak perawan.

Dua

JARAK pinggiran kota sejak timur hingga barat antara Menur dan Benowo, luar biasa jauh. Dua jam lebih perjalanan mengendara angkutan umum dan harus pindah tiga kali untuk sampai ke sana, Jalan terjal yang padat dengan kendaraan berat pabrik-pabrik, banyaknya pasar di pinggir jalan, kemacetan jelas memperlambat gerak mobil yang ditumpangi Biru Langit.
Di Benowo, rumah keluarga seniman Ipong sebelum sampai di emperan harus ditempuh dengan berjalan kaki hampir setengah kilometer jauhnya di ladang pohon siwalan dengan tanah-tanahnya yang keras, panas dan gersang?sebuah tempat tersembunyi yang tidak gampang ditempuh siapapun sekalipun seorang polisi. Pekarangannya yang tak ditumbuhi pepohnan apalagi rumput liar, dipakai oleh kelompoknya untuk tempat pertemuan diskusi penting di ruangan-ruangannya yang menyisihkan tempat tidur istri dan anak-anaknya. Lantainya masih belum rapi betul apalagi dinding-dinding batanya belum tertutup dan batubatanya di sana-sini masih terlihat menonjol keluar.
Biru Langit diperkenalkan dengan anak gadisnya yang cacat. Yang lainya beberapa kawannya yang sepertinya sudah lama menunggu. Arif Budiman, seorang mahasiwa Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan seorang wartawan koran Darma Karya Adi Santoso, Johar Kurmen, wartawan dari koran kriminal, Memorandum. Arif Budiman seorang yang tenang tabiatnya sudah memperlihatkan ia seorang pemikir. Sementara Adi Santoso dan Johar Kurmen bicaranya lancar dan nampak sekali bersahabat. Mereka sedang mendiskusikan suatu rencaana pameran instalasi ?Jangan Nangis Mari Bermain,? akhir April 1994 mendatang, tentang kepeduliannya terhadap nasib pendidikan dan masa depan anak-anak akibat desakan gencarnya pembangunan dan Biru Langit datang untuk memenuhi janjinya memberikan sumbangan pemikiran pada kelompok itu. Mula-mula kepada Biru Langit seniman Ipong memberikan gambaran tentang konsep-konsep pameran.
?Saya bertolak dari ketidakmampuan dalam menghadapi perasaan semakin sempitnya kesempatan anak-anak untuk mengmbangkan imajinasi dan etos kerja mereka. Persoalan in tidak mungkin kami pikirkan sendiri, karena menyangkut masa depan suatu generasi dalam sebuah bangsa, melalui konsep belajar sambil bermain memberikan kesempatan anak berekspresi tanpa takut berbuat salah, suatu yang amat penting dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa. Setiap anak dilayani sesuai dengan kemampuannya. Memberikan pengalaman pada anak dalam mengungkapkan pengalaman estetika, memberikan kebebasan bermain-main bahan dan teknik yang dipilih anak. Menghargai anak berpendapat dalam mengungkapkan kehidupan alam, rasa, pikiran, kemauan serta kepribadiannya.?
?Barangkali pada Biru Langit, bisa ditunjukkan metodenya?? pinta Arif Budiman.
?Ya, kunci metode Seni Rupa Bermain itu diperlukan kesadaran, kesabaran, ketekunan dan pengorbanan yang besar dalam melayani kebutuhan setiap anak yang diperlukan dalam setiap proses berkarya, agar dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan anak ke arah kedewasaan yang utuh dan sempurna, pengembaraan imajinasi anak dijadikan pintu yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan dalam pembinaan mental,? papar seniman Ipong.
Giliran Biru Langit, ia pertontonkan beberapa lembar kertas hasil kerjanya.
?Maafkan aku, Cak aku tidak tahu ini bentuknya apa, cerita pendek, puisi ataukah lainnya. Anda tentu tahu aku tidak begitu paham kesenian, tapi kukira itulah jalan pikiranku, pada saat itu muncul, saat itu pula kutuliskan dan jadilah seperti ini.?
?Tidak masalah dan bagi saya itu sesuatu yang tidak penting. Ada yang lebih penting dari itu semua yakni studi kasus yang jelas,? tukas Ipong.
?Itu sudah kupikirkan sejak awal.?
?Dimana kamu pilih wilayah garapan kamu, kawan??
?Kremil. Komplek pelacuran Kremil. Ini adalah gambaran kepedihan anak-anak di sana.?
?Kedengarannya menarik.?
Kamipun membaca bersama-sama dalam suasana yang amat tenang, Satu gelas besar kopi jahe dan rokok Dji Sam Soe tak membuatnya was-was, sebab mereka sudah telanjur mencapnya ?Rokok Ideologi.?
Inilah kisah yang ditulis Biru Langit tersebut?

SEBUAH KISAH
PENGGAMBARAN DUNIA BATIN ANAK
DI KAMPUNG KUMUH
KOMPLEK PELACURAN PINGGIRAN KOTA

TOKOH

ALIF LAM, lelaki, seorang bocah murid SD
KUNTI, pelacur ibunda Alif Lam.
RUKBI, sahabat kawan bermain
PENYAIR si tukang cerita
Lelaki Bukan Bapak
Penduduk Kampung

KENCING

TIBA di tempat tersembunyi di ujung gang, seperti biasa bocah lelaki itu girang. Dia bersimpuh di tanah.
Digaulinya, semut-semut yang keluar masuk lorong hingga berbaris rancak di dinding bangunan tua. Didekatinya, moncong mulut semut, didengarkannya, bisik dan sungut-sungut yang bertubrukkan. Begitu ramai hiruk-pikuk dan gelisah.
Belum lagi, tak jauh dari tempat bocah itu bersimpuh ada angkrang, kecoa, tikus atau anjing.
Bila dirasa bisa mendengar berontak kemarahan, kegaduhan sekawanan semut, bocah itu merogoh sebentuk cangkir bekas yang dia simpan di balik rerumputan.
Bocah itu berdiri dan cepat dibukanya resleting celana pendeknya. Lalu mengencingi setiap baris binatang-binatang malang itu. Sebagian dari sisa kencingnya, ia tampung di cangkir bekas itu. Sebelum akhirnya, ia lempar untuk mengusir anjing kudisan milik tetangga?ketika kencingnya masih sanggup melindungi bebek-bebek peliharaannya dari gangguan binatang nakal.
Kebiasaan ini sering terbawa hingga dalam mimpi yang berlebihan. Bila tidur malam, bocah lelaki itu kencing di sembarang kesempatan.
Kesukaannya kencing di pinggir jalan membuat bocah lelaki itu dikasihani banyak orang. Makin dirinya berani terbuka perihal kebiasaannya itu, banyak orang makin iba padanya

LAKI-LAKI
BUKAN BAPAK

SEPULANG sekolah. Lebih pagi dari hari biasa. Masih mengenakan pakaian seragam, dengan sepatu yang belepotan lumpur, Alif Lam bermaksud menyantap makanan di meja makan. Namun tanpa seizin ibunya, tak mungkin keberaniannya muncul. Karena itu, dia menunggu.
Lagi-lagi ketidakpedulian ibunya, menggugah keingintahuannya. Alif Lam mencuri waktu untuk melihat ibunya di kamar. Dibukanya kamarnya yang tanpa daun pintu itu. Jemari Alif menarik korden kain tipis, begitu hati-hati.
Betapa terkejut bercampur takut, ketika Alif melihat sesuatu yang sama sekali belum pernah disaksikannya. Dia melihat dua tubuh, ibunda dan seorang lagi laki-laki yang bukan bapaknya bersetubuh. Dilihatnya laki-laki yang bukan bapaknya itu tidur telungkup bugil di atas tubuh ibundanya yang dengan sorot mata tajamnya terus mengawasi ke lubang ngangga korden pintu.
Di tangan kanan ibunya, masih nikmat menggenggam benda sebentuk gergaji. Seperti ada bagian tubuh dari laki-laki bukan bapaknya itu yang hendak dibenamkan ke dalam rongga-rongga tubuh ibunya. Sebaliknya, seperti baru saja ada sebentuk benda yang baru saja dibenamkan di leher laki-laki bukan bapaknya itu.
Kamar cukup gelap, tidak ada sinar matahari, karena itu tidak jelas adakah genangan darah mengalir atau mengering di atas kain sprei.
Cepat Alif Lam menutup korden dan menahan nafas. Sorot mata tajam ibunya mendesaknya agar dia cepat meninggalkan tempat. Alif bergegas melompat. Keringatnya yang sebesar biji-biji kacang hijau mendadak muncul dan berjatuhan di lantai.
Bocah itu berlari kuat melempar sepatu dan tasnya. Menyusul kemudian seragamnya. Sialnya, dia tak sadarkan diri begitu melempar seragamnya, ternyata di dapatinya dirinya sudah jauh di luar rumah.
Sepasang seragam satu-satunya itu terbang melayang sebelum akhirnya jatuh terjerembab di sungai busuk berbau sampah dan kotoran manusia di seberang jalan. Tidak ada seekorpun ikan disana, karena telah mati sejak lama. Air kali yang hitam sehitam bekas-bekas luka di kulitnya cepat melumat seragamnya. Bercampur plastik-plastik bungkus shampo, kaleng bekas, kawat gawat, dedaunan membusuk, gelas pecah dan karet-karet ban menyumbat aliran. Serasa di kerongkongan.
Nasib kerongkongan bocah Alif Lam memang sedang gawat.

JATUH
DI TUBIR JURANG

SEMENJAK memergoki ibunya dan laki-laki bukan bapaknya yang menumpuk, bocah itu harus menanggung beban didiamkan ibunya. Satu-satunya cara untuk menarik perhatian kembali mereka, Alif Lam jadi anarkis dengan banyak menangis sehebat-hebatnya.
Di kamar perempuan ibunya itu, terbukti memang tak setetes pun darah diajumpai. Sprei dan tempat tidur masih teratur rapi dengan bantal dan guling di tempatnya. Justru laki-laki yang mestinya di mata anak itu bisa terbunuh oleh gergaji ibunya, tergelatak segar biasa dengan nafas liar.
Begitu bangun, biarpun masih dengan mata terpejam, dia sanggup memukul tubuh anak itu hingga terjengkang. Sepotong tempe goreng kering untuk membujuk Alif Lam terjatuh di tanah berpasir karena diacuhkan anaknya itu. Laki-laki bukan bapaknya itu kian berang. Alif ditendangnya sampai bibirnya mencium dinding berjurang. Untuk kali pertama anaknya itu melihat darah keluar dari lubang hidungnya, setelah bekas-bekas luka menghitam di kulit tubuhnya.
Giliran laki-laki itu yang acuh. Di luar dugaan, dengan wajah berapi, jari telunjuknya tajam diarahkan persis di depan hidung Alif Lam. Meledak dari moncong mulut laki-laki yang bukan bapaknya itu.
?Ingat, jangan sekali-kali ganggu saya!?
Anak itu diam. Tidak mengangguk. Tidak juga menggeleng.
?Ini urusan laki-laki. Kamu masih kecil tahu apa? Ngerti??
Bocah itu menangis sejadi-jadinya. Kepalanya dipenuhi wajah-wajah dan benda-benda keras. Lama tangisnya tidak berhenti. Setelah reda, di pojok sempit otaknya terselip bayangan ibunya?ancaman yang kali pertama ia dengar. Kunti, perempuan ibunya itu masuk tak terkendali dalam benak Alif Lam akibat secuil ancaman serupa yang entah sadar atau tidak dia kagumi ibunya?kekaguman seorang anak tanpa ucapan terimakasih saja.
Bagi Alif Lam lebih dari sekadar tahu, ibunya adalah seorang ibu yang dinamis, perempuan yang ruang geraknya demikian leluasa, dia juga istri yang tak pernah tidur. Begitu dinamisnya, seolah-olah tak ada yang berhenti dalam tubuhnya seperti halnya semesta dengan ruh hidupnya yang tak pernah mati. Inilah ruh hidup dari seorang satria yang setia, seonggok daging manusia pembela kebenaran dan keadilan yang dipilih Tuhan untuk mewakili di dunia. Dia berdiam dalam keheningan keluarga dan yang dikirimkan untuk Alif Lam agar mengasihi anak-anak dengan mulut dan dada terbuka.

BERKAWAN DENGAN BIR DAN PENYAIR

TAK satu pun gang di daerah pinggiran yang miskin ini, tak dikenalnya. Semenjak syair-syair tajamnya yang selalu diabacakan itu gagal, dia pilih berjalan menyusuri kemiskinan adalah jalan hidupnya.
Tubuhnya akrab dengan alam, sorot matanya masih tajam lebih tajam dari syair-syairnya. Begitulah dia selalu hadir bersemangat. Sebotol sisa bir masih di tangannya.
Lebih bersemangat di saat belajar bersahabat dengan imajinasi anak-anak.
?Satu dari bapakmu yang mengecewakan ibumu. Bapakmu tumbuh jadi manusia yang menahan diri, dan puncaknya ia jadi penidur saban hari-harinya.?
?Menahan diri??
?Ya. Bukankah bila Tuhan sebentar saja menahan diri, pasti dunia berhenti berputar dan semesta kacau dibuatnya? Karena itu Tuhan tak pernah menahan diri untuk bertindak, mencipta, menjaga, mengatur dan membunuh sepanjang masa? Betul-betul Tuhan tak pernah kehilangan momen.?
?Jadi ibu tak suka orang yang menahan diri??
?Lebih dari itu. Sebagai seorang ibu, ibumu juga benci setiap manusia yang mengumbar nalar tanpa menajamkan hati. Kamu tahu apa yang terjadi bila ini dibiarkan terus hidup? Bila bumi dipimpin orang-orang yang curang. Kecurangan akan menjadi penduduknya.?
?Ibu tidak pernah terlalu jauh bicara seperti itu.?
?Itu hanya karena kamu tak pernah mendengarnya, bukan??
Bocah itu diam dengan mata yang tajam, penuh sesak pertanyaan.
?Tapi kamu mulai biasa dengan bicara ibumu, Nak. Tentang bapakmu, atau agar jangan seorang pun boleh mengganggu keluargamu.?
Laki-laki bermata tajam setajam syair itu mengisahkan. Kunti, perempuan ibu bocah itu berbicara bukan lagi sebagai ibu atau sepotong manusia, tetapi seorang ksatria. Laiknya seorang ksatria, setiap orang bakal dibuat percaya, apa yang terjadi padanya, bila semakin tumbuh rambutnya yang putih, semakin pula Kunti berbicara dan bertindak sebagai seorang ksatria. Ksatria bagi keluarga dan anak-anaknya.
Lucunya, Kunti bukanlah ksatria yang memilih pedang samurai, keris, golok, atau tombak untuk jadi nyawa keduanya, tetapi sepotong gergaji menjadi bagian dari sisa-sisa hidupnya yang nyaris putus asa.
Lebih dari sekali Kunti menyelamatkan nyawa suaminya. Dasar suaminya seorang yang tak tahu diri untuk berucap terimakasih (semisal cukup dengan membuka mata biarpun setengah mati sulitnya) tak juga pernah dialakukan.
Ketika asyik duduk di bantalan rel kereta api, suaminya pernah tertidur beberapa waktu lamanya sampai badan kereta yang meliuk seperti ular raksasa itu mulutnya terbuka nyaris menyambar daging dan tulangnya. Pernah juga di emperan rumahnya tidur suaminya dibuyarkan Kunti beberapa saat sebelum truk besar bermuatan besi beton mampir dan hampir meremukkannya. Pada saat seperti itu Kunti seringkali tampil melebihi seorang manusia, melebihi seorang ksatria yang menjaga keluarganya.
?Lalu apa? Siapa dia??

SEPOTONG RAHASIA

RANJANG kusut. Dua tubuh laki-perempuan tergolek diam. Nafasnya kacau, badannya meringkuk seperti mengendusi bau busuk. Tinggal kaki-kakinya bergerak mencari kain-kain kumal yang semula terlempar. Kebingungan seperti kehilangan celana dalam dan juga kutang.
?Dulunya suami aku seorang yang penuh gairah.?
?Gairah, Kunti??
?Ya.?
?Kenapa sampai Alif sebegini besar, belum juga ada adik baru di rahimmu??
?Ah, kamu. Polos sekali pertanyaanmu. Adik baru. Rahim.?
Diam-diam hati perempuan Kunti amat terpukul.
?Mustinya, ini juga yang harus aku sampaikan pada suamiku. Terus terang sama sepertimu.?
?Aku tahu ada masalah besar, pada diri kamu dan suamimu sampai seperti sekarang, Kunti??
?Tidak sepenuhnya kamu tahu. Ini akibat suamiku banyak menahan diri.?
?Menyiksa diri maksud kamu??
?Nggak ada bedanya, memang.?
?Terus.?
?Perasaan aku ada yang hilang.?
?Perasaan??
?Sudahlah, berkali-kali aku katakan padamu, kamu tidak akan mengerti perasaan perempuan, ibu, istri dari suami seperti itu.?
?Ayolah. Jangan kamu sembunyikan sesuatu.?
?Seperti penyair, suamiku seorang yang luar biasa menghidupkan kata. Setiap kali merayu sebelum tidur, perasaan aku tak bisa digambarkan karena bila hendak bersenggama dibisikkannya sesuatu ke telinga aku. Kamu tahu apa itu??
Seperti ada yang menghentikan hidup lelaki itu. Otaknya serasa tak berfungsi dan jaringan syaraf yang asing berdenyut di bawah perutnya. Pelan-pelan dia menggeleng.
?Gergaji. Seperti ini.?
Kunti menarik benda itu dari balik kain di atas bufet. Laki-laki itu cepat melompat. Tertawa ngakak. Kunti bangkit cekikikan. Tak peduli bila segalanya tak berarti.
?Betul. Dia sebut beberapa kali.?
Keduanya masih cekikikan. Tanpa baju tanpa celana.
?Kadang-kadang dia juga minta aku duduk di atas kompor?
?Untuk apa??
?Seperti juga aku, dia ternyata suka sesuatu yang panas.?
Kunti dan lelaki itu makin hebat tertawa. Tidak peduli tetangga. Seperti halnya lelaki itu, sama sekali perempuan Kunti tak menahan diri. Sebelum akhirnya, sama-sama membeku. Serasa syaraf otaknya dihantam sebentuk benda penuh gerigi dan karatan. Persis gergaji.
?Sekarang,? Kunti meledakkan dendam, gairah, nafsu, obsesi dan sekumpulan lagi perasaan. ?Kamu bisakah bayangkan bila sejak lebih sepuluh tahun lalu bisikan itu tak lagi ada. Bila sejak lebih sepuluh tahun lalu, setiap kali melakukannya, hanya dalam hitungan menit suami aku lalu tertidur mendengkur, telungkup di atas tubuh aku??
Kunti menghunjamkan perasaannya.
Di kepala lelaki itu, seperti ada bagian tubuh suami Kunti yang hendak dibenamkan habis ke dalam rongga tubuh Kunti. Bersamaan itu, seperti baru saja ada sebentuk benda tajam bergerigi habis dibenamkan di leher dia sendiri. Pembunuhan adalah kosa kata yang berdiam di benak lelaki itu.
Sayangnya, kamar gelap, tidak ada sinar matahari sore, karena itu tidak jelas adakah genangan darah mengalir atau mengering di atas sprei.

PETANG, DALAM SUATU AMARAH

PINTU rumah kontrakan Kunti meledak. Petang itu berbarengan dengan tubuhnya yang terbang tak terkendali, membelah daun pintu. Dengan rambutnya yang tergerai bebas, mengenakan selendang berkeliaran, tubuh Kunti tenggelam dalam sukmanya yang liar. Tubuhnya nyaris lupa bila sedang menggenggam sebilah gergaji.
Di pekarangan itu berkumpul penduduk kampung. Tanpa suara. Mematung dengan sorot mata berkaca-kaca namun nyaris tanpa makna.
?Aku peringatkan kalian, jangan coba ganggu keluargaku! Segala yang terjadi di keluargaku tak seorang pun boleh ikut campur?sekalipun itu tentara. Jangankan untuk menghadapi kalian, mulutku ini bisa pula melebihi kilatan petir. Kalau kalian punya nyali menyebutku perempuan jalang, aku nggak ragu-ragu memperlakukan dagingmu seperti daging anjing. Jangan remehkan aku. Aku katai seperti ini karena aku hanya ingin membalas cara kalian yang melihat keluargaku lebih rendah dari anjing. Apa kamu kira keluargaku makan daging anjing? Aku peringatkan kepada kamu, sayangilah nyawamu. Kamu lihat apa yang kubawa? Kalian mau kurebus daging kalian dengan bumbu kaldu lalu kuhidangkan pada anjing, hueeh? Jawab!?
Kunti mempertontonkan gigi-gigi gergaji setajam taring macan. Demikian akrab tangannya menggenggam. Dia meringis bermaksud memperkenalkan senyum dan gerakan seorang pembunuh berdarah dingin.
?Kalian perlu tahu, sekali saja sorot mataku tak pernah tergelincir dari ujung tiap gigi gergaji yang tajam karatan ini. Itu karena mata-mata jemari tanganku ini tak pernah ada yang menandingi biarpun oleh mata buta seekor kelelawar. Ya, mata jemari ini telah bertahun-tahun terlatih ketangkasannya, tak silau oleh mentari, tak rabun oleh kabut malam dan tak lekang dimakan zaman. Biarpun mata jemari yang telah menumbangkan ratusan pohon di ujung gigi-gigi gergaji tetapi tak pernah sejenak saja lupa mana anyir getah pohon dan amis darah manusia.?
Sepenggal calon korban nyata-nyata lari tunggang langgang membayangkan kengerian. Persis seekor nyamuk sial berhadapan muka dengan pemburu mengokang sebilah tebah.
?Kalau aku mau, jangan dikira aku tidak bisa menghapus matahari. Dengan tanganku ini aku bisa,? perempuan Kunti makin sulit mengendalikan diri.
?Apalagi cuma mengganti tubuh suami yang tamat riwayat. Apalagi cuma mengambil alih peran kepala rumah tangga dari tangan pria yang hitam kulitnya oleh bekas koreng. Enteng!! Kalian tahu jelek-jelek perempuan seperti Kunti ini oleh yang maha hidup dibekali hati dan perasaan tajam. Aku bisa menangis seperti perermpuan lain, tapi tangisku ini seperti jarum-jarum hujan dihempaskan dari langit dan yang ditaburkan ke tengah laut. Jangankan sebatang tubuh manusia atau binatang. Sepercik bayangan hitam atau suara saja, yang terbukti mengganggu, aku tak segan cepat membunuhnya. Kalian bisa pilih, sekali lagi ada yang mengusik manusia Kunti dari kehidupannya di bumi, gergaji ini akan kubenamkan di batang leher kalian. Sebelum kemudian tanganku yang giras ini memotong satu persatu daging tubuh dan mengumpulkan penis kalian untuk campuran sayur rawon dan pelengkap rempeyek kering.
?Ah, tentu kalian mengira perempuan Kunti ini kesurupan. Terserah kalian karena aku sendiri juga tidak pernah mengerti mengapa terjadi seperti ini bahkan setiap hari hingga bertahun-tahun. Seperti kalian juga yang sama-sama punya anak, aku sedikit beruntung bisa bercermin pada diri putraku. Aku selami jiwanya dan aku rasuki otaknya. Aku bisa melihat bagaimana perempuan ibunya ini masuk tak terkendali dalam bagian tubuh Alif Lam, putraku. Entah sadar atau tidak dia kagumi ibunya?kekaguman sorang anak tentu tanpa ucapan terimakasih. Aku terus bercermin dari hari ke hari, dari pagi, siang, petang maupun malam hari. Bahwa bagi Alif Lam, putraku, seperti juga kemauanku sejak melahirkannya, lebih dari sekadar tahu, ibunya adalah sorang ibu yang dinamis, perempuan yang ruang gerakknya demikian leluasa, sekaligus istri yang tak pernah tidur. Begitu dinamisnya, seolah-olah tak ada yang berhenti dalam tubuhku ini seperti halnya semesta dengan ruh hidupku yang tak pernah mati. Inilha ruh hidup dari seorang ksatria yang setia, seonggok daging manusia pembela kebenaran dan keadilan yang dipilih Tuhan untuk mewakili dunia. Dia Berdiri dalam keheningan keluarga dan yang dikirimkan untuk Alif Lam agar mengasihi anak-anak dengan mulut dan dada terbuka.
?Apakah ada yang masih meragukan perempuan Kunti ini kesurupan atau tidak? Di luar rumah saja, orang seperti kalian boleh kesulitan menentukan kebenaran dan keadilan. Di luar sana masih banyak perempuan atau lelaki yang kebingungan mencari arti bagaimana ksatria itu bekerja, hidup dan menghidupi dirinya. Tapi itu semua tidak terjadi dalam rumahku ini. Di tempat ini segalanya itu jadi gamblang, tak perlu diperdebatkan. Kedatangan kalian kemari memang mengganggu aku, tapi aku juga harus berterimakasih kepada kalian karena sudi membuka pagar rumahku meskipun tanpa permisi. Sekarang pulanglah. Hari sudah malam. Malam adalah waktu yang tepat untuk kesempatan mencari jawab siapa sebenarnya di antara kalian semua yang kesurupan. Wajar kalau terjadi ada ayam-ayam kalian yang sulit mencari pintu masuk untuk pulang ke kandang, karena itu perlu diselamatkan. Tapi kalau ini terjadi pada manusia macam kita dan kesulitan mencari jalan pulang untuk bis selamat sampai di rumah, itu berarti malapetaka. Pulanglah! Kalau kalian tetap ngotot mau mencampuri kehidupan pribadi dan keluargaku, apa boleh buat. Kalau kalian memaksaku untuk memberi tahu pintu keluar masuk kehidupanku, datanglah bila aku punya waktu senggang dan akan kutunjukkan, di sini!?
Kunti memegangi kuat-kuat vulva vaginanya. Musik dangdut dari tape recorder di pasang keras-keras.

ANAK, TETAPLAH SEORANG ANAK

?IBU masih muda. Gergaji di tangan itu membuat ibu dianggap bukan lagi manusia. Mengapa ibu nggak buang gergaji itu. Untuk apa ini semua??
Cuma Alif Lam berani mengusik ibunda Kunti dari kehidupan gergaji itu.
?Kamu nggak ngerti bagaimana jadi seorang perempuan seperti ibu. Kamu nggak akan pernah mengerti perasaan seorang istri sampai lebih percaya kepada gergaji daripada kepada suaminya sendiri.?
Di hadapan anaknya, perempuan Kunti berhati selembut salju (di kampung kumuh ini tak pernah dia jumpai salju).
?Kalau ibu diam, terang saja nggak akan pernah aku mengerti??
?Apa mau kamu sekarang, Nak??
?Ceritakan kepadaku, tentang gergaji itu??
Diceritakannya pada anaknya asal muasal gergaji itu.
?Gergaji ini membuat ibu sulit bisa tidur.?
?Kok bisa begitu, Ibu??
?Karena ibu nggak bisa tinggalkan gergaji ini nganggur di tempatnya. Ibu harus kerja, kerja dan terus kerja. Ibu percaya gergaji ini sahabat ibu yang sanggup ibu pergunakan untuk apa saja, memotong apa saja.?
?Ibu tidak tersiksa??
?Hanya orang sehat yang tidak punya siksaan. Sepanjang hidup ibu, ini penyakit yang amat menyiksa.?
?Jujurlah Ibu, ada apa sebenarnya??
?Tanyakan itu pada bapakmu. Sebelum dewasa, kamu harus tahu ini. Rahasia apapun telah ibu buka di luar rumah, tapi ibu nggak ingin anaknya sendiri telat mengetahui isi rumahnya.?
Perempuan Kunti tak bisa sembunyikan mata tajamnya.
?Ibu tahu sendiri, bapak nggak pernah buka matanya, seperti mata ibu. Bagaimana bisa aku dapat jawaban dari Bapak, Ibu.?
?Begitulah bapakmu. Bukan bapakmu, jika tidak begitu. Dia selalu tidur sepanjang waktu. Satu-satunya alasan bagi dia untuk bisa bangun cuma menyantap makanan.?
?Kalau cuma makan saja, bapak nggak perlu buka mata, Ibu. Mulutnya mengunyah nasi seperti sapi tapi jiwa raganya tidur mendengkur persis babi.?
Kepada anaknya, perempuan Kunti terus ceritakan suaminya yang tertidur tak pernah bangun sampai usianya di ujung senja. Namun begitu, mustahil Kunti mengurusi dapur keluarga tetangga ketika pada setiap yang bertamu ke rumahnya dia ingatkan agar tak coba-coba mencampuri bahtera rumah tangganya.
?Di rumah ibu percaya gergaji. Siapa tahu di luar banyak cerita tentang istri-istri yang bersahabat dengan kapak, parang, cangkul atau pistol.?
?Maafkan Alif, Ibu. Alif belum ngerti maksud Ibu.?
?Ibu tidak akan menyalahkan kamu, Nak.?

PAGI, DALAM SUATU MASALAH

BILA parak pagi tiba, laki-laki suami Kunti menunggui tungku. Setiap Kunti usai memasak, laki suaminya itu sebentar bangun, menyantap makan, lalu kembali mendengkur. Bangun di siang hari, mengisi perut yang kosong, lantas berak terus tidur. Bangun lagi di sore hari, makan, kemudian tidur lagi.
Kejengkelan perempuan Kunti menghebat di saat kelakuannya laki-suaminya masih dengan mata tertutup melempar komentar-komentar tak bermutu sampai membusa di moncong mulutnya. Betapa sakit hati Kunti mendengarnya.
?Hebatnya, apa yang dia lakukan dalam tidur? Sungguh tidur atau bersandiwara? Apa dia mampu terus bermain untuk masa bertahun lamanya semenjak sepuluh tahun silam? Mungkinkah dalam tidur, dia mengeja masa silamnya. Ataukah tidur adalah semacam pil penyembuh sakitnya dalam hidup di dunia yang sebentar ini? Bukankah sesuatu yang mungkin, tidur baginya ibarat perahu yang membuang jangkar ke pinggir pantai, dengan tidur dirinya ingin melucuti pakaiannya yang bernama tanggungjawab itu? Mati surikah??
?Mana yang betul, Ibu.?
?Semuanya bisa betul. Kamu tahu, tidak ada yang salah dalam hidupnya. Satu-satunya kesalahannya, dia punya mata. Kesalahan kedua, dia punya nyawa. Nyawanya sendiri. Itulah sebabnya, kenapa setiap kali ibu bermaksud membunuh bapakmu selalu gagal. Ibu tak punya hak.?
?Apa maunya, Ibu??
?Ibu biarkan bapakmu agar mati sendiri di kasur.?
?Nggak berhasil??
?Nggak.
?Kenapa, Ibu??
?Justru itu yang membuat ibu sedih.?
?Ibu yakin Bapak itu manusia? Bagaimana kalau Hantu??
?Di Kampung ini memang banyak hantu. Tapi bapakmu bukan hantu. Buang jauh pikiran kamu itu!?

BILA MALAM BERTAMBAH MALAM

PEKARANGAN lain, keributan terjadi di rumah Rukbi. Jerit setengah tangis bocah perempuan sahabat Alif itu bertubrukkan dengan teriakan bapaknya. Bunyi sepatu sandal yang dilempar persis mengenai daun pintu.
Kegaduhan isak dan jerit tangis berebut nyaring lengking suara adzan isyak di masjid ujung gang.
Rukbi cepat berhamburan keluar. Tanpa sandal. Sebentuk tabungan ia genggam ke luar pintu. Berlari sepanjang gang untuk bertemu di suatu tempat dia membuat janji dengan sahabatnya?Alif Lam.
Sepanjang jalan melelahkan tak ada suara kecuali suara malam dan sisa tangis perempuan kecil Rukbi. Sesampai di tempat yang dituju, pelan-pelan nyaris berbisik memanggil sahabatnya Alif Lam. Menyusul kemudian, bocah itu muncul dari balik tembok bangunan tua.
Disodorkannya sebentuk tabungan itu ke sahabatnya.
?Kenapa nangis?? Alif Lam buka bicara.
?Belilah seragam sekolah dengan ini,? ucap gadis kecil itu.
?Dimarahi ibumu, ya??
?Bukan. Bapak.?
?Soal ini??
?Ya. Tapi ini duitku bukan duit bapak.?
?Kamu kerja??
Gadis itu mengangguk. Entah benar atau tidak.
?Kamu seperti ibuku. Bekerja. Tapi ibuku tidak pernah menangis.?
?Apa kerja ibumu??
?Ibu nggak pernah cerita. Kamu??
Gadis itu diam. Tersenyum.
?Bantu ibumu jualan, ya??
Gadis itu mengangguk. Dia usap wajah dan air mukanya. Lalu dirangkulnya Alif untuk beranjak pergi.
?Besok cepatlah beli seragam, agar tak dimarahi ibumu.?
?Aku bisa sekolah lagi. Bisa belajar mengarang lagi di sana.?
Menghilang.
?Jangan nangis lagi, ya.?
?Ya. Aku janji.?
?Main ke rumah sebentar, ya??
?Biar kamu nggak dimarahi, ya??
Makin menghilang.

SEKS RASA SIRUP JERUK SEGAR

LAKI-LAKI menyelinap ke dapur Kunti. Derit pintu kayu dan derak papan terinjak mengagetkan perempuan Kunti yang sedang menggoreng ikan asin dan tempe kering sisa diendus kucing.
Dari arah belakang, memunggungi daun pintu laki-laki itu langsung membekap kasar perempuan Kunti.
?Suamimu??
?Ngorok! Mau apa lagi kemari, ha??
?Ssstt.. Nggraji!!!?
?Utang kemarin belum kamu bayar. Jangan coba macam-macam!?
Sesuatu membuat Kunti bertindak lebih kasar.
?He! Aku kemari juga mau bayar utang, sialan.?
Sejenak Kunti biarkan tubuhnya diperlakukan bukan seperti perempuan biasa. Utang membuat nyali perempuannya cuma setengah badan. Sedikit ia mendongak ke rak bambu. Nampak tangannya merogoh sirup jeruk segar dalam bungkus plastik, gelas dan kemudian sedotan bekas. Dibukanya plastik itu dan seduhnya sirup biarpun dengan air dingin.
Laki-laki itu kian ganas menyerang sekalipun berdiri dekat api panggang.
Kunti pelan-pelan menyedot minuman rasa sirup jeruk segar. Tangan kanannya riang memegang segelas air dingin dan segar. Sebelah kirinya, menggenggam sebentuk batangan yang hangat, kenyal dan terjepit sumpek mencari lubang sempit yang terhimpit.
Dua pasang mata mengintip dari balik sisa pintu yang terbuka. Bocah. Dua pasang mata milik Alif Lam dan Rukbi yang mencari jawab pekerjaan Kunti. Di benaknya sama-sama tumbuh perintah Tuhan untuk tidak boleh menyaksikan persetubuhan. Sesuatu telah memaksa keduanya. Dari punggung kedua pasang persetubuhan, tak ada pilihan lain kedua bocah menunggu untuk sama-sama melihat dada.
Dengan sesak nafas yang tertahan, kedua bocah?yang terbiasa mendengar mulut mendesah atau mengintip dua tubuh yang menumpuk?itu sabar menanti.
Benar Kunti dan laki-laki itu saling berputar menukar posisi badan. Mendadak Rukbi terhenyak. Cepat dia balik badan dan ambil langkah seribu. Disusul kemudian Alif Lam.
?Siapa itu?? bisik laki-laki
?Anakku.?
?Ah, persetan.?
Cuilan tempe sisa kucing mengering di penggorengan.

KEHILANGAN DAN MENCARI DIRI SENDIRI

DALAM pelarian itu, kembali Alif Lam kehilangan. Sebentuk tabungan yang dia genggam jatuh tergelincir dan berguling-guling sebelum akhirnya terjun ke rahang sungai. Dilahap sampah-sampah busuk. Kalap.
Kali ini bocah itu tak peduli. Dia terus mengejar sahabatnya, Rukbi yang melupakan janjinya untuk tidak lagi menangis.
Kian mendekat, persis di punggungnya ditariknya kuat-kuat kemeja gadis cilik itu. Dia terjatuh. Demikian pula dengan Alif Lam. Berguling-guling di tanah. Bertubrukkan masih dengan sedu-sedan tangis yang liar. Keduanya duduk berpelukkan kasar laiknya tidak seperti anak-anak. Untuk beberapa saat, tidak jelas karena tidak ada penjelasan apapun?
Selama itu, Alif Lam memandangi teliti seonggok tubuh tua tidak jauh dari tempatnya. Matanya. Rambut putihnya. Keriput kulit mukanya, tangannya, dadanya. Ia nikmati sebagai benda yang rusak tak berguna.
Entahlah, lantas bocah lelaki itu mencari sesuatu yang sama sekali tak ia temukan. Jalan. Sekolah. Gedung Tinggi. Langit. Bulan. Bintang.
?Kamu masih teman aku, Alif??
Mengangguk.
?Janji??
?Janji.?
Rukbi menahan bicaranya. Dia sadar pertanyaan ini jadi tidak penting. Bukankah dirinya juga tak penuhi janji untuk tak lagi menangis?
?Kamu yang ingkar janji.?
?Maaf. Memang sebaiknya anak kecil seperti kita tak boleh berjanji.?
?Apakah kita masih perlu merasa seperti anak kecil??
Lagi, Rukbi dibuat diam. Diam-diam ia membenarkan ucapan Alif Lam. Diam-diam sesuatu keberanian telah tumbuh dalam diri bocah perempuan itu. Barangkali ia kemudian merasa jadi laki-laki.
?Ya. Tumbuh dewasa saat ini atau nanti sama saja.?
?Mungkin kita dicap nakal. Tapi kita merasa jadi pintar.?
?Kalau aku laki-laki, tentu aku berani kasar pada ibumu seperti bapakku memperlakukan ibumu tadi.?
?Itu bapakmu??
Dia jawab pertanyaan Alif Lam itu bersamaan dengan tangisnya yang datang kembali. Tangis itu makin menghebat saat Alif Lam melempar Rukbi dan mendorongnya kuat. Mendadak emosi Alif Lam menghebat bukan lantaran tangis itu tapi karena mulai tumbuh benih dendam.
Rupanya, dia betul-betul seperti bukan lagi anak-anak.
Begitu gadis cilik itu roboh. Bocah lelaki itu langsung berani memiting, membekap. Rukbi tak berdaya. Diam tidak ada perasaan mengiba. Diam-diam pula dia belajar sesuatu yang sudah biasa.
Bocah laki-laki itu berani memasukkan jari tangannya ke bagian tubuh gadis cilik itu. Tidak ada perasaan apa-apa, juga iba.
Tak selayaknya keduanya untuk membuat janji.

YANG TUMBUH SAAT SUBUH BERGEMURUH

ADZAN subuh bergemuruh. Bocah lelaki itu mengendap-endap untuk keluar. Diintipnya tubuh bapaknya yang tidur mendengur. Dia tak peduli jikapun sudah mati. Dengan darah atau nanah di tanah. Mengering campur sisa taiyeng.
Di luar pintu, adzan subuh saling menumbuk dengan musik dangdut dari tape recorder murahan. Dia berjalan ke arah sungai mencari tempat seragam dan celengan yang tergelincir di makan sampah.
Di tepian bibir kali, dilihatnya di tempat jauh langit menguning keemasan. Jatuh di permukaan sungai. Dimatanya, sinar itu hidup di sana. Berbiak dan pemandangan yang luar biasa bumi ini kaya.
Didengarnya bunyi kencing laki-laki. Ibu-ibu membuang sampah. Dijumpainya perempuan setengah tua berak digigir kali, menginjak kayu-kayu menyerupai tangga. Dia intip sebentar. Merasa percuma.
?Sudah apa belum.?
?Kamu anak kecil, mau berak di sini saja di samping saya.?
Bocah itu merasa tidak lagi anak-anak.
Dia merasa berdekatan rapat dengan daging perempuan keemasan.
Sebentar kemudian, bocah itu menuruni tangga kali. Perasaannya tidak berubah. Menginjak tisu-tisu kusut, bungkus-bungkus kondom dan plastik-plastik berisi bekas cairan mirip putih telor. Di pinggir kali, tanggannya menari, merogoh, mencari seragam dan celengan persis tak peduli emas-emas mengambang di permukaan kali.
Di belahan sisi yang lain, Rukbi menatap sedih wajah langit kemerahan.
Di balik tempat lain, penyair lamat-lamat menyuarakan syair-syair tajamnya.

Kepada Matahari Subuh yang Akan Menerangi Dunia.

Lebih lima miliar nyawa manusia tlah huni bumi yang menua
kencing dengan rupa-rupa warna, bau dan mungkin rasa
Bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, kakek-nenek, laki-perempuan, presiden, menteri, hakim, jaksa, tentara, politikus, profesional, buruh, petani, mahasiswa, demonstran
Tanpa keluh, rela dirinya menampung ribuan kubik liter air kencing
menjadi ponten umum bagi mereka
Binatang lain cerita bila bicara, pun manusia penghuni ruang angkasa
Seperti halnya, lain pula bila politikus jadi berita

Bagaimana ia kencing.
melompat pintu pagar dan melirik jalan
satu-satunya pelajaran terpenting selama kencing di jalan
jadi tahu bagaimana orang miskin.

Menjadi politikus sebetulnya adalah berjuang melawan kencing.

Sayang, betapa politik bagi Tuan
ruang meja makan di restoran,
segala menu tersedia tanpa beranjak
pesan demokrasi? Kekerasan? Jalan ke surga? Wanita?
Atau mayat?

Kremil, April 1994

Usai membaca karangan itu, Ipong kembali melipatnya, setelah berhenti sejenak menghirup kopinya, ia berkomentar panjang lebar, begitu panjang dan berbobot.
Anehnya, sepertinya Biru Langit tak mendegarkan apa-apa, tak sepatah katapun?

Tiga

MEREKA orangtua yang mendengar dan melihat hubungan percintaan putrinya dengan pemuda Biru Langit. Tapi Sang Profesor dan Puri Wangi, istrinya juga melihat mungkin rumahnya ini akan digempur dua anak muda yang sama-sama berbahaya ini, sebelum terlambat orangtua ini hendak dikepung oleh pendapat-pendapat dan pandangan hidup anak-anak muda yang tak pernah tahu persis siapa dirinya, lantas ia menggiringnya keluar pada hari Minggu sekembali dari arena Ice Skating di lantai satu Tunjungan Plasa. Dengan berkendara mobil VW milik Sang Profesor itu, mereka meluncur menuju cafe langganannya di Hotel Garden.
Tempatya sepi dan dan mereka pun memilih tempat di pojok sisi kanan, agar matahari sedikit bisa jatuh di atas kakinya, di dekat meja mereka berdinding kaca dan bisa melhat dengan jelas keluar kolam renang berombak-ombak, beberapa orang duduk santai di tepinya. Profesor memesan roti bakar yang di permukannya ditaburi susu kental. Sementara istrinya memesan pisang yang dipotong-potong. Biru Langit minta dibuatkan sejenis gado-gado dan coffee cream. Perempuan Sulistyorini hanya memesan minuman juice tomat segar.
Mereka berbicara di meja makan bersama sendok garbu yang beradu dengan piring kaca, dan gas-gas yang berantukan dengan permukaan meja, sesekali juga harus berhenti sebab suara blander juice yang berdekatan dengan tempat duduknya meraung-raung?rupanya masih juga keluarga itu salah memilih tempat.
?Kita bertemu di sini untuk semua, bukan untuk saya?? Sang Profesor bicara dengan menyebut satu persatu di antara mereka. Tidak ada yang memotong. ?Bukan, sebab itu aku perlu tanyakan padamu, putriku apakah telah kamu ceritakan semua tentang dirimu pada anak muda ini??
?Sudah, Pa,? jawab Sulistyorini enteng.
?Ada apa ini?? tanya Puri Wangi buru-buru kendati sepertinya perempuan Sulistyorini sepertinya belum lengkap bicara.
?Papa minta saya cerita keadaan saya pada Biru Langit, Ma.?
?Tapi mengapa? Apa kesalahan kamu sepertinya kamu jadi terdakwa?? kata ibunya.
?Ya, aku juga merasa jadi terdakwa, Prof?? Biru Langit menyela.
?Jangan begitu, Ma,? potong Sang Profesor, ?Sama sekali tidak ada niat menjadikan dua anak muda ini jadi terdakwa, seperti di pengadian saja. Sebaiknya, kita harus banyak belajar dari anak muda Biru Langit ini. Dia orang yang kenyang makan asam garam dan kepahitan hidup, dan ini bukan hanya masalah anak kita tapi masalah banyak orang. Orangtua seperti kita maupun yang di luar sana.?
?Masalah apa, Pa?? tanya istrinya.
?Keperawanan.?
Naluri keperempuanan dan keibuan Puri Wangi membuatnya harus diam seketika. Dia juga tak bisa menangis apalagi di depan anaknya dan pemuda macam Biru Langit. Dia hanya perlu membujuk dirinya sendiri betapa miskinpun telah berlimpah-limpah kebaikan telah diapunya, sesuatu peristiwa pahit telah menimpa putrinya dan bukan dirinya, biarpun sesama perempuan. Dia harus terus membujuknya bahwa anaknya cukup tegar, tak menaruh dendam pada laki-laki seperti terbukti bisa bergurau senang dengan anak muda Biru Langit. Apa yang terjadi pada putrinya nyata-nyata sampai sekarang tak pernah sungguh-sungguh ia tahu perasaannya. Jadi untuk apa lagi ia menangis? Apa yang terjadi pada putrinya sekarang, telah terjadi pada ribuan bahkan jutaan perempuan tapi hanya satu yang bernama Sulistyorini satu-satunya putri Profesor yang sekarang sedang makan di hotel berbintang.
?Hanya binatang buas yang layak melakukan pemerkosaan,? gumam Puri Wangi.
?Sudahlah, Ma,? bujuk Sulistyorini.
?Begini anak muda, atau semua saja. Sebelum terjadi pada Sulistyorini, perkosaan dan penggeranyangan tubuh perempuan telah terjadi pada ratusan korban baik di depan umum maupun di depan keluarganya. Jauh sebelum kejadian, banyak tokoh berbicara tentang moral, tentang akhlak, Tetapi mengapa perkosaan beramai-ramai bisa terjadi di negara yang merasa punya kebudayaan luhur? Benarkah kita berbudaya luhur? Hanya sampai di situkah keluhuran budaya kita? Apakah tolok ukur keluhuran budaya kalau begini? Masih akan banyak lagi pertanyaan yang akan timbul untuk bisa mengerti. Kalau mengerti saja tidak, maka jangan harap masalah itu akan teratasi secara lebih permanen. Para tokoh yang menamakan dirinya pemuka moral, pemuka akhlak, pengkotbah moral dan akhlak, benarkah ia sudah mengundangkan moral? Mereka harus berintrospeksi dalam dirinya sendiri lagi, karena ternyata tidak efektif. Menteri Urusan Peranan Wanita yang anti buka-bukaan, anti ratu-ratuan, haruskah menutup mata terhadap perkosaan yang menggemparkan itu? Kalau tanpa sengaja, tanpa menduga sebelumnya, bertemu binatang buas lalu kita diserangnya, luka-luka bahkan mungkin mati, salahkah kita? Kalau bertemu sesama manusia, tanpa menduga bahwa manusia itu hanya wujudnya saja tetapi perangainya binatang, binatang buas, lalu anda diserangnya salahkan anda? Pada keaadaan seperti ini siapakah yang tidak berharga, siapakah yang bernilai rendah? Perempuan yang manusia biasa, yang diperkosa ataukan manusia pemerkosa yang binatang? Perempuan korban perkosaan tidak akan berubah harganya karena diperkosa, kalau tadinya ia perempuan terhormat, ia tetap perempuan terhormat. Justru laki-laki yang tadinya dikira manusia terhormat, setelah kejadian itu ia tidak lain hanya sesosok binatang yang tidak berharga dan patut dibawa ke pengadilan untuk menghadapi ancaman hukuman yang berat. Kejadian yang menyedihkan ini bagi si korban patut kita berikan simpati tetapi tidak perlu menjadikannya suatu kesedihan yang berkepanjangan. Pengertian yang arif harus diberikan baik kepada korban, keluaraganya, pacarnya, suaminya bahkan siapapun, bahwa kurban tidak akan hilan kehormatan dan nilai kemanusiaannya karena diperkosa atau dipaksa. Kurban harus ditolong baik secara fisik, mental dan budaya oleh dirinya sendiri maupun oleh masyarakat. Siapapun harus dapat dengan jelas membedakan kurban dan pelaku. Sikap masyarakat, budaya masyarakat akan dipengaruhi oleh sikap para pemimpin dan pemerintah. Sayangnya reaksi para pemimpin terhadap kejadian yang ini terasa amat lambat, kurang peka. Kalau perkosaan mempunyaarti yang serius dalam soal budaya, secara medis-fisik bukan suatu hal yang serius, suatu hal yang ringan. Mungkin ini tidak begitu dipahami oleh masyarakat. Luka yang biasanya ditimbulkan hanya luka lecet atau luka ringan. Kemungkinan timbulnya infeksi umumnya adalah infeksi yang mudah dapat diatasi, kecuali AIDS, tetapi penyandang AIDS jarang berambisi memperkosa. Liang vagina sesudah perkosaan akan segera kembali normal, reversible. Kerusakan selaput dara bagi yang masih perawan bisa minta bantuan spesialis Bedah Plastik untuk mengoreksinya. Atau akan lebih baik lagi bila dengan tegar dapat diterima saja sebagai suatu fakta tanpa harus dioperasi. Kerusakan fisik secara medis bukan masalah serius. Perkosaan menjadi lebih terasa serius dan berat bila si korban berada dalam naungan budaya yang mengelu-elukan kelamin, seolah-olah kelamin adalah segala-galanya dalam kehidupan ini. Sering penghargaan terhadp kelamin terasa amat berlebihan. Misalnya seseorang yang tidak perawan diserbut tidak suci, seolah-olah kelamin itu barang suci. Bukan Alkitab sebagai buku suci, rumah peribadatan sebagai rumah suci, tetapi vaginapun ada vagina yang suci. Masalah yang cukup serius tersebut hendaknya tidak lebih dibesar-besarkan lagi, tetapi dihadapi secara realistis dan berimbang. Dengan mengubah sedikit para korban dan sikap masyarakat maka penderitaan itu menjadi terasa lebih ringan. Tetapi para pemerkosa, manusia dengan perangai binatang itu tidak bisa lepas dari pertanggungjawabannya. Memperbaiki perilaku budaya bangsa yang barbar yang tidak bernalar yang serendah binatang buas harus diperjuangkan dengan segala cara. Akhlak, moral tidak berdiri sendiri, tidak ada pengkotaan, moral hanya berarti moral pancasila P4, akhlak hanya punyanya agama, budaya hanya punyanya orang yang tidak beragama. Moral akhlak, budi pekerti, etika semua berada dalam satu wahana yang sama, wahana budaya. Banyak macam budaya yang berilai tinggi, luhur tetapi ada juga yang seolah-olah luhur dan kita harus punya kemampuan memilihnya. Pemilihan itu akan semakin mendekati ketepatan kalau kita bisa mempergunakan daya intelektual/daya nalar kita secara optimal. Pemakaian daya nalar secara optimal hanya dijanjikan dalam budaya yang biasanya mengantar ilmuwan, budaya ilmiah. Para ilmuwanlah yang mengubah dunia ini dari era primitif ke era modern. Budaya ilmiah sudah harus mulai dilatih sewaktu anak-anak masih duduk di sekolah rendah atau SMP dengan menggelar forum debat untuk masalah sederhana. Dengan demikian logika, kritik dan reasoning dapat dimulai dari umur yang amat muda dari masalah yang amat sederhana sampai yang amat sulit. Selama berpuluh tahun budaya ilmiah tidak bisa berkembang karena adanya orang-orang yang ingin mempertahankan jabatan dan kekuasaannya, orang yang tidak mau dikritik, orang yang tidak mau realistik, orang yang inginkan status quo entah sampai kapan. Yang dikembangkan justru budaya raja-raja (aristokrasi) serta budaya militer untuk orang sipil. Bawahan, anak buah dan rakyat disuruh, dihimbau, diindoktrinasi untuk jadi penurut, takut, tidak boleh protes, tidak boleh kritik. Para pejabat menganggap negeri ini miliknya sendiri dan bukan milik seluruh rakyat. Pengertian sederhana begini saja tentang kepemilikan negeri ini rupanya tidak semua ?pemimpin? menghayatinya sehingga lalu merasa dirinya menjadi besar sampai kecil, jenderal besar sampai jenderal kecil. Karena merasa raja ia tidak bisa dan tidak butuh kritik. Tempat budaya raja-raja biarkan dia hanya berada di sekitar raja yang masih tersisa dalam area sekian meter persegi di sekitar Jogjakarta dan Surakarta. Budaya militer biarkan ia berada di dalam kemiliteran, karena memang harus demikian. Tetapi rakyat sipil di negeri Republik yang bercita-cita demokrasi ini, jangan dipaksa, jangan diindoktrinasi, di-brainwashing dengan kedua budaya itu. Bangsa ini ingin pandai, bangsa ini ingin modern dan ingin bermoral dengan ukuran-ukuran internasional. Apakah kalau bangsa kita sudah berbudaya ilmiah perkosaan akan lenyap? Kebijakan dari hampir semua bidang, semua lini, pada suatu periode yang sama biasanya akan bercorak budaya yang sama, budaya yang sedang berkembang di waktu itu. Perbaikan satu sektor budaya akan berimbas memperbaiki sektor lain. Budaya yang kondusif terhadap kemajuan budaya ilmiah akan mengantar semua lini kehidupan bangsa ke jenjang yang lebih tinggi. Masyarakat kecuali mengenal berbagai macam aturan, tatacara dan kaidah-kaidah mereka pun akan lebih mampu mempergunakan nalarnya untuk memilih. ?Life is distinguishing.? Perkosaan sporadis, perkosaan satu-satu mungkin saja masih terjadi dan akan menimbulkan reaksi keras dari masyarakat. Di masyarakat modern, dengan nalar yang tinggi perkosaan massal sudah terlalu kecil kemungkinannya untuk bisa terjadi!?
Mendengar pikiran itu, Biru Langit sama sekali tak memberi komentar karena itu adalah pernyataan seorang Profesor Bedah Plastik. Kemanapun ia kejar teorinya itu mustahil ketemu dalam muara yang sungguh-sungguh membahagiakan. Apalagi untuk kemudian satu hati, mustahil.
Satu-satunya yang membuat sibuk pikiran Biru Langit karena selama ini Sulistyorini tak pernah mengungkapkan dirinya korban perkosaan.

Empat

KABAR tentang Pam kedengarannya seperti sosok makluk asing buat Biru Langit dan tentu saja perempuan Sulistyorini. Asing karena begitu sulit dilacak dan ditemukan simpul pikirannya. Pilihan langkahnya sulit ditebak, membingungkan. Persentuhannya dengan masalah-masalah dunia pemikiran juga sulit dirangkai kembali.
Sesudah sekian lama tiada kabar, semenjak gejolaknya dengan Biru Langit perihal perempuan, laki-laki itu bekerja menjadi reporter di sebuah majalah. Yang mengherankan lagi majalah itu dimiliki salah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor bangunan di kawasan jalan Ahmad Yani. Sebab itu Pam banyak berurusan dengan masalah-masalah properti, pertanahan dan sejenisnya. Lebih mengherankan lagi, belakangan Pam juga banyak keluar masuk Plasa, entah apa yang dicarinya, tidak ada penjelasan untuk itu dan satu lagi dia jadi suka sesuatu yang berbau mistik. Dalam suatu perjalanan yang kurang dimengertinya itulah ia bertemu dengan seorang gadis. Dengan mengenakan kaos armani dan celana jean levis, seorang gadis itu mulanya melaju dengan mobil merah menyala dengan kecepatan limapuluh kilometer perjam. Di tangannya melingkar arloji rolex seharga 3.200 dollar US. Di dompetnya terselip beberapa kartu kredit. Dari daftar harga dan jenis marka dagang yang tertera, jelas wanita itu dari kelas jet set. Sampai Pam tak begitu yakin apakah sedang melihat gadis itu sungguh-sungguh atau cuma impian-impian persis adegan film televisi atau telenovela yang sering ditonton ibu-ibu rumah tangga atau dia sedang terobsesi oleh iklan-iklan di balik showroom kaca. ?Baik. Anggap saja aku sedang bermimpi,? gumamnya,
Di luar dugaan, suatu hari Pam juga kerja menjual photo, gadis-gadis malam hasil jepretannya. ?Ini kejamnya kota,? bgitu pikirnya, ?harus pintar-pintar sajalah cari duit.? Diantara puluhan photo, muncul perempuan berkaos armani, celana jean levis. Entah bagaimana akhirnya, gadis itu juga muncul dari laboratorium photo dan wajahnya tercetak lalu terjual lima ribu sampai sepuluh ribu perlembar. Pam terus terganggu. Jangan-jangan itu karena pikirannya sudah dipenuhi gadis sial itu. ?Tapi ini bukan mimpi.? Entah mengapa Tuhan akhirnya menjatuhkan spot light tepat pada permukaan photo. Gambar itu nampak seperti hidup. Aneh! Di balik gemerlapan daftar harga barang mewah yang sama sekali tak dikenalnya, wajah itu menyimpan rasa sedih yang dalam. Juga dendam.
?Sungguh, ini bukanlah mimpi.?
?Lantas, bagaimana nasib photo gadis itu? Negatifnya masih kamu simpan?? banyak yang kurang percaya dengan pengalaman Pam.
Akhirnya tercetak cukup banyak. Dan laris. Semula gadis itu memang cuma muncul dalam photo. Selanjutnya keluar dari pintu restoran, ruang-ruang pramuniaga. Dia terganggu sekali dengan kecantikannya.
?Namanya?? kawan-kawan yang mendengarkan terus memburunya.
?Aku tidak tahu. Aku cuma tahu dari ciri-ciri khususnya. Pokoknya dia cantik.?
?Banyak wanita cantik sekarang.?
?Ya.?
Biarpun orang kota, kemiskinan membuat Pam datang di plasa persis si Kabayan turun ke kota. Di kota tidak ada kerbau. Cuma wanita cantik. Kecantikan perawan-perawan kota luar biasa lain: ada di mana-mana seperti kembang plastik dijual di bazar tujuhbelas Agustusan. Di plasa tentu saja Pam leluasa membawa wanita cantik. Karena itu baginya dan tentu bagi banyak orang, plasa memang tempat mengagumkan. Fantastis! Meski dia tahu di plasa banyak barang imitasi atau kembang plastik imitasi, kerbau imitasi, plasa melebihi tempat peristirahatan, villa besar kusam dan kelam. Tapi plasa juga persis neraka. Hal yang sama adalah, angker. Lebih dari dongeng-dongeng orangtua di kampung tentang peri, bau parfum. Apa bedanya dengan bau minyak serimpi menusuk hidung. Pam kian ketakutan. Bahkan lebih runyam lagi. Laki-laki sudah menjadi wanita, pakai anting-anting, minyak serimpi, rambut panjang. Ini peri bencong. Ah, dunia apa-apaan ini! Pam pasang aksi lebih berani. Padahal sering nyaris terkencing-kencing. Tiba-tiba saja celana basah.
Makin hebat ketakutannya makin dia susah kencing. Kian pula dia merasa dekat dengan perempuan itu. Pam kenalan di tangga lift berawal dari suka seragam kantornya yang kotak-kotak. Dari aroma suaranya sudah pasti wanita itu pakai pasta gigi close up. Namanya Rusma. Di muka pilar-pilar restoran, Rusma dijepret separuh badan sendirian. Pam terkejut. Jantungnya hampir runtuh tersumbat bola tenis ketika naik cetak, photo itu berubah pose peri bersebelahan laki-laki setengah tua kumis tebal panjang pakaian hitam seram. Hasilnya ditunjukkan petugas laboratorium photo. Katanya, ?Aku tidak melihat apa-apa!? Lantas diajawab, ?Sebaiknya anda periksa mata, Bung!? Tapi ini biasa, pikir Pam. Seringkali memang terjadi muncul gambar-gambar asing di belakang photo tertentu. Sebut saja makluk yang mbahurekso tempat itu. Selesai.
Rasa ingin tahu banyak campur aduk rasa ngeri yang memuncak. Sehabis dia datangi lagi pilar restoran sialan itu, Pam curiga jangan-jangan ada perempuan yang sengaja dikubur hidup-hidup campur adonan semen dalam pilar itu dan cuma Pam yang sanggup melihat dengan kasat mata, saat itu. Maunya Pam panggilkan paranormal. Tapi urung. Sekali-kali dilihatnya photo yang tersisa di kantong. Lalu beberapa perempuan muncul dengan betis, paha dan dada terbuka. Amblas di sudut tembok. Ada lagi amblas ditelan mulut kamar lift. Dan naluri ingin tahunya tambah dahsyat saat diabaca koran Nyata hari ini. Tulisannya: Tiga bocah jadi tumbal proyek perumahan Citra Raya Klakahrejo Benowo, Surabaya Barat. Nampak tubuh ketiga korban naas itu mengapung di atas kubangan air tanpa baju dan di angkat ke darat, ditidurkan berdampingan.
?Hiihh!!! Bangkai orang! Ini bangkai orang! Bukan bangkai tikus!?
Pam makin keranjingan. Pam merasa seperti hidup di alam yang mesterius. Tapi ini bukan dongeng seperti yang pernah diceritakan ibu sebelum tidur dahulu ketika masih anak-anak tentang lelembut. Hingga dia tak begitu percaya apakah tengah berkumpul dengan manusia ataukah lautan calon bangkai.
?Begitulah, kamu sebenarnya tidak sedang bermimpi,? kata seorang kawannya dengan gaya pemikir lulusan Fakultas Sastra dan Filsafat. ?Dan aku percaya itu semua ada.?
?Aku ketakutan sekali karena baru saja aku kenalan dengan salah seorang?Namanya Rusma.?
?Ha???
?Ya. Rusma Rahmawati.?
?Rambutnya agak pirang, potongan pendek laki-laki??
?Betul.?
?Hah!! Dia itu? Ah, dua tahun yang lalu perempuan itu, ck?ck?ck? terkilir jatuh dari lift. Lalu mati!?
Mulut Pam terkunci rapat. Pelupuk matanya serasa penuh dikerubuti semut. Dan aliran darahnya seolah terhenti total. Hampir saja Pam roboh. Nyali runtuh.
?Itu peristiwa biasa di zaman serba beton dan serba rumah kaca ini. Minggu lalu kamu baca di halaman muka koran Nyata, wanita tengah baya terpelanting dari sepatu ice skating. Kepalanya membentur sudut pagar besi pembatas. Mati! Aku tak sampai hati menghitung tumbal semenjak plaza ini dibangun, para kuli jatuh, tersengat listrik, cacat, tertimpa material berat. Hah!!!?
Sungguh, setiap detik di kota misterius nyawa bisa terancam rusak. Cuping telinga kian waktu juga kian penuh sesak kabar kematian, pembunuhan,kecelakaan. Lalu beterbangan arwah para peri malang itu. Bayangkan jika ragu dengan diri sendiri dan memilih hidup bersama peri! Jangan-jangan ini kota milik para peri. Saban kali Pam bicara dengan seseorang terutama wanita, dia tidak begitu yakin apakah betul sedang berhadapan dengan manusia ataukah peri.
?Apa yang bisa kulaporkan untuk majalah kontraktor macam begini?? ini satu-satunya ucapan bingung Pam saat menghadapi pekerjaan.
Hari-hari berikutnya dia kerja seperti biasa.
Anehnya, diantara puluhan photo yang dicetaknya, kemudian muncul pula gambar Sulistyorini, perempuan yang nyaris dia buru sampai mati. Dia tersenyum. Tapi di mata Pam wajahnya berubah teramat buruk rusak oleh berbagai marka kosmetik kimia buatan pabrik.
?Hai, perempuan, aku ingin kawin dengan peri. Tidak dengan manusia seperti kamu. Kamu manusia, bukan??
Peristiwa itu amat cepat.[]

TUJUH
SIMPANG SOCIETET

Satu

MUNGKIN Cuma bisa dihitung dengan jari saja, bila seorang anak bisa melihat sebilah pensil besar berdiri tegak di tengah kota. Selain karena tak masuk akal, soal yang ini tampaknya hanya dimiliki imaji anak yang punya problem dengan sekolahnya.
Banyak sudah anak-anak sekolah, apalagi bagi penduduk kota. Tapi tentu saja tak semuanya suka girang dengan kebiasaan menulis kapur di papan tulis hitam berdebu, atau meraut pensil patah matanya, menyapu bolot hitam di atas kertas karena penghapus di kaki pensil itu. Tak semuanya betah dengan kebiasaan saban hari seperti itu. Selain karena jemari tangan jadi pegal, sudah barang tentu juga menjijikkan bercampur liur yang menetes dari ingus yang tergenjet tak tahan mengendus. Karena nasib buruk di depan kelas mati kutu dengan juding 65) bambu di tangan, bibir tak mau bersuara, otak bisa berjalan, gigi gemeretak kaku, lidah ngilu bila harus diperintah menceritakan gambar-gambar di kertas buffalo, atau kelamin menegang kencang Karena arus darah yang mengalir ke otak tiba-tiba, mendadak sontak mengucur deras ke kantung kemih dan menggenangi ubin kotak-kotak ruangan kelas.
Sebagai anak-anak, entah bagaimana bisa terjadi air dalam tubuhnya masih harus berbagi dengan tangis yang manganak sungai di sudut-sudut matanya. Ternyata bisa terjadi dan pelajaran itupun luput tak terkendali. Setelah sekian tahun duduk manis di meja jati kelas berbaur debu sisa kapur tulis dan penghapus di sebut bantal tikus itu, hanya dua benda berdiri tegak yang kini benar-benar terpendam dalam benak Biru Langit: Kelamin sendiri dan buah pensil yang tiruannya besar-besar berdiri tegak di tengah kota persis depan kantor gubernuran yang diobrak-abrik karena bermaksud hendak dibangun sebuah museum?ambisi yang mengkhawatirkan bisa menteror pensil di benak Biru Langit.
Betapa kenangannya akan tenggelam oleh bangunan-bangunan yang memendam tubuhnya. Empang-empang di sisi gedung saja sudah menghalangi sorot mata anak-anak yang lewat. Kendaraan-kendaraa yang penuh sesak melukai pemandangan jantung kota. Satu-satunya harapan bagi anak-anak yang ingin menikmati ujung runcing buah pena itu bila parak pagi saban hari minggu. Saatnya terbuka pasar murah, bazaar untuk pedagang kaki lima. Rekreasi baru untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah. Taman kota itu mendadak disulap jadi pasar kaki lima dengan warna-warni barang dagangannya dari sandal jepit, sepatu hingga gesper bermata, dari celana belel, jeans, mantel hingga jas murahan plus tangan bawel penjaga stan, rujak cingur, es buah, semanggi, ketoprak mataraman. Semua tersedia di tempat rekreasi kawasan lain di Gembong ini?tempat tengah kota yang cukup menggiurkan dan menggairahkan para penjaja uang. Di situ tersedia segala barang bekas, semuanya dagangan berwujud barang bekas, segala wujud barang. Barangkali terkecuali manusia bekas.
Tak cuma itu, seolah pensil raksasa itu juga diapit, di peluk kekasih lainnya karena tepat di sebelah barat badut-badut yang menutup tubuhnya, ada pasar buku bekas. Bertempat di sepanjang pesisir jalan yang sama sekali aneh karena bukanlah milik kota ini. Namanya, Semarang. Persis membelakangi stasiun termegah di kota ini, Pasar Turi karena lokasinya berpelukan dengan pasar Turi. Jalannya sempit, bila melenggang di jalan ini, nyaris terhimpit dan tergenjet roda kendaraan angkot dan emperan dasaran pemilik toko buku bekas. Sebetulnya tak terlampau besar, mungkin karena sudah demikian dikenal, apalagi di jalan yang namanya demikian aneh, maka jadilah keunikan. Lebih unik dari toko serupa yang lebih sempit di kawasan Blauran. Semarang menjadi tempat tersendiri di hati para pemburu buku bekas. Ya, sudah pasti jadi sumber pengetahuan baru mahasiswa, pelajar maupun sarjana-sarjana yang haus akan ilmu pengetahuan. Bukan tidak masuk akal bila tempat ini cepat melambung, mengangkasa, meski sempit tapi menjanjikan .
Bersebelah dengan pasar burung dan mebel-mebel berwarna khas, para pemburu ilmu tak cepat dibuat bosan. Tak hanya deru kendaraan yang masuk telinga pengunjung tapi juga dentuman kereta bermesin lokomotif dari stasiun terbaik kota ini. Dan sudah barang tentu para pencopet ikut menikmati serbuan suara itu. Begitulah jalan inijadi demikian terbuka. Sempit dan demikian kenyang sosok, penghuni, tamu. Sesekali dua kali Biru Langit menyempatkan dating ke sana. Berlibur, menguji nyali, menyelami samudera dan memburu dirinya sendiri yang dirasanya hilang. Masih ingat ketika pertama kali dating, ia terombang-ambing tanpa tujuan. Dia hanya berdiri kemudian duduk, jongkok, atau bungkuk. Kemudian berdiri lagi, duduk lagi dengan sorot mata ke sana-kemari sampai ke bawah meja gelap atau rak buku yang terhimpit di sela-sela selangkangan para pemburu.
Ya, ketika pertama kali datang ke sana masih tergiang di jidat Biru Langit dirinya berakhir terdampar dan terjepit di sela-sela buku tebal yang tua di rak buku paling sempi. Dirinya tak bisa bergerak. Dirinya baru bisa keluar setelah ditarik kuat-kuat oleh sebuah buku entah siapa penulisnya dan entah apa judulnya, dan bagaimana hurufnya. Yang jelas seingatnya itu buku paling tebal yang pernah dilihatnya. Karena sanggup membongkar tumpukan lainnya dengan ganasnya. Karena dialah Biru Langit selamat. Berkat buku tebal berwarna merah itulah Biru Langit bisa berkenalan dengan banyak orang, berkawan dengan banyak ragam dan bergurau dengan banyak pernyatan, berargumentasi dengan banyak pertanyaan, bahkan berdebat dengan makhluk-makhluk yang menyamar malaikat. Mula-mula berkenalan dengan Centini dan tak keberatan dibawa pulang. Mahabarata, Seribu Satu Malam, Sindhunata, Naquib Mahfudz, Umar Kayam, Bumi Manusia, Mochtar Lubis, Pramudya Ananta Toer, Al Ghozali, Camus. Mereka-mereka ini sosok-sosok tua yang nakal dan dipaksa untuk dibawa pulang. Begitu nakalnya terkadang kurang ajar, tak peduli mengamuk, murung dan tak sedikit yang sama sekali sulit dimengerti kelakuannya. Di jalan yang sumpek itu pula Biru Langit berkenalan dan dekat dengan Ali Syariati, sebelum ia tertembak ujung pelor kaki tangan penguasa barat.
Semenjak itu dia pun tahu betapa kuliah-kuliah saudara Ali Syariati ini menyiratkan sikap hidupnya sebagai seorang pejuang. Betapa kemudian terpikir menjadi pejuang itu tidak gampang, menjadi seniman tidak mudahdan menjadi pemimpin juga sulit. Semenjak perkenalannya dengan sosok itu Biru Langit merasa beruntung lantaran perlahan-lahan tapi pasti dirinya menggenggam sebilah kunci. Dirinya bersikeras cepat-cepat menyiapkan sesuatu yang menurut pikiran sosok yang baru dikenalnya itu bernama ideologi, pandangan dunia dan masdzab berpikir. Berpijak dari posisinya di tempatnya berdiri di jalan sempit berbaur asap kendaraan angkot, lantas dia bayangkan dan renungkan. Dirinya berpikir tidak ada kata yang paling tepat untuk melukiskan sikap hidupnya kecuali ada sesuatu pengalaman pahit yang musti dipompa untuk diperjuangkan.
Lalu sederet lagi ungkapan paling pas karena memang seperti saudara kandung kata-kata menakjubkan itu. Yakni banyak hal musti dilawan, dihancurkan seperti berhadapan dengan sebentuk raksasa yang bayangannya jatuh kemana-mana. Biru Langit berdiri mengaku dirinya orang yang tidak berbekal apa-apa selain niat baik sebagai makhluk Tuhan. Kedahsyatan pernyataan-pernyataannya hingga kalimat-kalimat terakhir mengingatkan Biru Langit pada sosok Ibu. Lebih dari itu sanggup menggemuruhkan nyali dan spirit untuk menaklukkan puncak-puncak hysteria hidup yang ada dalam aliran darah dan pori-pori kulitnya. Melebihi kedahsyatan gemuruh perut bawahnya yang kosong dan yang hanya berisi seteguk dua teguk air yang mengalir di usus-ususnya. Gelegar itu berlayar dari waktu ke waktu dan tenggelam oleh batok kepala yang pening, mata yang redup. Kepala ini serasa tak berisi apalagi teraliri darah?darah segar yang didorong oleh jantung yang hanya berjarak beberapa puluh centi saja. Begitu berat seolah tersumbat, atau berangkali tersesat karena begitu banyak lorong-lorong yang harus dijelajahi. Biru Langit seperti sedang tak menginjakkan kaki dan kepala ini entah sedang terbuang melayang. Kemanakah? Tak terurus dan dibiarkannya menerawang awang mendekati langit-langit yang menghentakkan imajinasinya. Matanya redup tak mempu mempertontonkan gairah di dalamnya, siapakah sebenarnya ini? Tubuh siapakah gerangan? Ruh hidup yang mana lagi yang memerangkap pemilik jantung dan kepala dan perut kosong ini? Satu-satunya yang tersisa di dalamnya laki-laki Biru Langit merasa menyimpan satu titik nyala api, di tengah samudera dan di kejauhan terlihat di sudut-sudutnya telah berlabuh perahu-perahu nakal. Dia bermaksud meraihnya batang perahu itu, tapi karena tak kuasa, sebaris pesan senada amarah melompat. Pergilah kemana kau suka!
Dalam perjumpaan berikutnya, Biru Langit berjumpa dengan sosok yang bertubuh besar, tambun, yang kemudian hari ia satu-satunya pelukis Semar di kota ini. Namanya Dwi Ja. Memang pada kesempatan pertama ia tak mengungkap tentang pilihan objek Semarnya. Akan tetapi cerita pelukis semar itu perihal ibunyalah yang mengesankan Biru Langit. Dia menjadi kader Partai Sosialis termuda di kota ini yang cukup dekat dengan tokoh dan budayawan gaek Gathot Kusumo. Demi menceritakan perihal ibunya, si pelukis Semar itu rela mengisahkan bagaimana ikwal dirinya sebelum mendekam sebulan lamanya di bulan Januari 1974 yang kemudian hari disebut-sebut sebagai peristiwa Malari.66)
?Di Surabaya saya orang PSI termuda, dan mulut saya yang nggak mau diam membuat saya cepat menyakinkan orang. Saya betul-betul kader PSI. Tokoh-tokoh PSI Surabaya pun begitu cepat mengkader saya ini anak muda yang masih segar, brilian dan berani. Begitu peristiwa Malari meledak, saya dijemput di rumah oleh provost. Inilah hebatnya. Saya punya ayah mayor tentara biarpun tentu ia bukan mengajar saya untuk berani. Tapi mengajari saya untuk jadi seniman. Ibu saya yang mengajari saya berani menghadapi kenyataan, mengambil resiko. Waktu saya ingat provost menyodorkan surat penangkapan, ?Dik, anda diundang ke kantor. Ini Suratnya,?
?Ya, Pak. Boleh saya makan dulu??
?Silakan.?
Selama makan itulah, si pelukis Semar menuturkan bagaimana dia mendengar apa kata ibunya kepada provost.
?Kenapa harus anak saya??
?Ibu tidak ikhlas??
?Ikhlas. Karena bapak telah mengajari untuk bertanggungjawab membela yang benar.?
Sampai di tahanan apa yang terjadi? Sang calon pelukis itu hanya mendengar kepalan tangan tentara yang diletakkan di permukaan meja. Setelah itu hanya ada pesan, ?jangan ceritakan apa-apa yang terjadi di sini ya, dik.?
?Saya tidak bisa diam, Pak.? Katanya.
Mengingat ibu, yang hadir di dada Biru Langit adalah rasa sakit dan rasa sakit yang sudah lama berdiam di tubuhnya menyebabkan Biru Langit punya kebiasaan aneh: Rekreasi ke rumah sakit. Karena itu meski ia belajar ilmu politik di Universitas Airlangga, dia tidak senang bertutur tentang kampusnya. Sebaliknya, ia lebih memilih bertutur tentang rumah sakit. Suatu kebetulan bila baginya Rumah Sakit Karangmenjangan berada di komplek kampus Universitas Airlangga. Dari ruang kuliahnya hanya berjarak berberapa langkah kaki saja. Sebaliknya bukan karena di balik bangunan dan gedung tempat orang sakit itu ada Profesor Doktor Dokter Maryuhan Kurnia, ahli bedah plastik yang anaknya menyukai Biru Langit. Bukan.
Jadi memang baginya rumah sakit adalah tempat yang mengasyikkan. Betapa baginya berjalan di lorong-lorong rumah sakit seperti bermain kubus-kubus petak umpet semasa kanak-kanak. Bedanya, di kanan kiri lorong di bingkai pintu sal ada tubuh-tubuh yang sedang menunggu nasib dari tangan dingin penguasa rumah sakit. Melenggang di lorong rumah sakit berbeda dengan meluncur di jalan raya. Tak ada sirine, tak ada rem, tak ada kecelakaan, tak ada tronton pengangkut semen. Tapi kereta dorong, roda kursi, tiang infus, sandal ganjil dan tentu saja si tokoh kita malaikat berbaju serba putih melintas tanpa ada yang sanggup menghalangi langkahnya dengan tumit yang bersi putih. Lalu para penunggu nasib yang sabr menggelar tikar bersimpuh di ubin lembab sembari jemari tangan memutar-mutar kipas dari serat bambu warna-warni atau dari daun pandan. Ah, pemandangan yang terlampau biasa memang, tapi mengisyaratkan hubungan makhluk yang benar-benar manusiawi, karena semuanya diperankan oleh manusia. Ada korban, penderita, malaikat dan bahkan Tuhan. Tak perlu biaya mahal bagi siapapun untuk menyelinap ke sana, kecuali ongkos parkir. Itu kalau tidak mau atau kepingin berurusan dengan dengan geng-geng penguasa lahan setempat cukup merogoh kantong keluar sedikit recehan. Tapi tidak bagi Biru Langit.
Dengan mengayuh sepeda pancal hasil jerih payah yang ia beli dari honorarium tulisan di Koran, berbekal seuntai kunci pengaman dan ia pun bebas ongkos parkir yang entah lari kemana duitnya itu. Begitulah, tidak disangka baginya sepeda pancal itu sebuah jalan menuju kenikmatan tanpa biaya. Itu pun kalau tak ingin diusik lagi oleh sepeda dan kunci karatannya, Biru Langit bisa meninggalkan di rumah kontrakannya yang tak seberapa jauh di Menur. Cukup dengan melintas beberapa langkah menyisir kali kecil di belakang rumah dengan menutup lubang hidung lantaran baunya yang bacin dan warnanya menghitam pekat. Sekitar sepuluh menit kemudian tembus jalan Dharmawangsa dan akhirnya leluasa ke rumah sakit. Lima atau tujuh menit kemudian, atau dirinya bisa memutar melewati kedai tuak terkenal dengan tong-tong penyimpan minuman berarak itu hingga tembus gedung bioskop kelas tiga di pasar Kalidami. Bila rela mengayunkan langkah kaki dari tempat itu ke arah utara sepuluh menit kemudian tembus ke lorong-paling senyap di kawasan rumah sakit: kamar mayat?tempat paling disukai Biru Langit bila berlibur di sana, nyaman dan pemandangannya sangat menarik, bukankah mengingatkan kampung halamannya berikut keanehannya lantaran bersebelahan dengan kuburan?
?Ah, tampaknya ini suatu gejala yang amat berbahaya. Aku harus hati-hati karena bila tidak, aku bisa jatuh ke lubang putus asa. Dan tempat ini sudah begitu amat dekat dengan tubuhku saja. Semoga nyaliku tidak,? pikir Biru Langit bermaksud melempar jurus bila saban kali menlintas di kawasan itu. Ini seringkali terjadi bila depan emperan kamar mayat itu sepi tak ada sepotongan pun tubuh manusia yang masih bernafas. Ia cukup kerap terbantu bila penjaga kamar mayat yang berwajah sejuk dengan di temani beberapa laki-laki bertampang dingin bermain catur seperti hendak mencari makna hidup dalam dirinya. Saat itulah nyali Biru Langit sebagian tumbuh dari bidak catur untuk bedrjuang dan sisanya dari penjaga kamar mayat dan laki-laki bertampang dingin untuk mencari makan hidup saat terjangkit panyakit sepi. Nyali yang tidak pernah diadapatkan dari emperan atau di balik jendela kamar kontrakannya yang rindang.
Di petak-petak kamarnya yang senyap dan nyaris pengap itu, kerapkali di sebukkan ulah mahasiswa-mahasiswa yang menekan-nekan keyboard komputer portable si Juned, si Bagong yang kesehariannya lengket dengan kartu-kartu dan meramal nasib setiap calon korbannya dan berakhir dengan nasibnya sendiri, atau si kutu buku karena tidurnya berebut tempat dengan buku dan saban hari tertimbun tumpukan buku-buku tebalnya yang ambrol dan sama sekali tak pernah diketahui Biru Langit buku apa yang suka dilahapnya. Mungkin ensiklopedi, mungkin diktat-diktat kuliah, barangkali juga kamus-kamus asing, atau bisa jadi komik-komik lama dan usang karena kertas-kertasnya yang cuil dan mengotori sprei. Dan itu baru diketahui saat menjelang siang dikibaskan persis di muka pintu kamar Biru Langit. Dan yang paling tak pernah lupa meski hampir tak pernah berbicara dengannya adalah sosok kutu busuk lantaran hobinya tidur sepanjang jam itu. Betapa tidur adalah kebutuhan hidupnya, melebihi kebutuhannya terhadap makan. Apalagi akan ilmu pengetahuan.

Dua

SIANG yang pengap itu perjumpaan dan perkenalan Biru Langit dan seniman Ipong berlanjut. Kalimat ini sesungguhnya tak tepat betul karena yang sebenarnya terjadi, seniman Ipong memperkenalkan pada Biru Langit kehidupan yang lain, bergaul dengan orang-orang yang sering nongkrong di kawasan Simpang. Persisnya di komplek Balai Pemuda. Ini masih dugaan. Sebab belum terungkap betul maksud gamblang si seniman Ipong. Sebagian yang lain yang ditangkap Biru Langit, perjumpaan keduanya kali ini lebih karena keinginannya untjuk mengenalkan diri dengan seorang politikus Bintang Sakti. Kebingungan sikap Biru Langit seperti ini lebih karena didorong perasaan kehati-hatiannya. Tak mengapa. Toh meski tak sedekat calon kekasihnya, perkenalan dengan seniman Ipong adalah persoalan baru dan kin oleh seniman itu pula persoalannya ditambah dengan misteri baru nama politikus Bintang Sakti.
Sekali lagi tak mengapa. Lebih dari itu Simpang menjadi sesuatu yang sama sekali baru bagi kehidupannya. Bertempat di sudut komplek kawasan itu, diutarakanlah maksud seniman Ipong sebelum dipertemukan dengan politikus Bintang Sakit. Baru kemudian ia tahu di bawah pohon nangka yang rindang itulah kawanan anak muda di kawasan Simpang itu sering beradu gagasan berbagai macam ragam persoalan. Sejak kesenian hingga persoalan social, politik sampai perdagangan. Idealisme hingga mencari makan. Seperti syair sebuah lagu penyanyi Leo Kristi, ?Surabaya tak bertepi, dimana tepianmu?? Ya, begitulah dia menjadi halte tempat persinggahan berbagai kepentingan. Syair-syair menggelitik penyanyi Sujarwoto Sumarsono, 67) kebanyakan juga lahir dari pinggir Kalimas itu. Drama-drama hebat macam Dian dan si jenius dramawan Basuki Rachmat dengan adaptasi-adaptasi nakalnya asal penulis Jerman. Pun kegarangan aktor aktor Bawong SN, juga si flamboyan Franky dulunya banyak menghabiskan waktu di bawah pohon nangka ini. Lalu apa itu artinya lagi sebatang tubuh Biru Langit? Jelas tidak ada. Sepenggal arti yang cukup dia tahu hanyalah sebatang pohon nangka itu. Bagi orang Jawa sebatang pohon nangka memang bisa berarti symbol penting untuk persaudaraan, kekeluargaan. Diakui atau tidak, meski sering diungkap dengan peribahasa yang sangat sinis ?tak ikut makan buahnya tapi belepotan getahnya? buah dan pohon nangka sanggup memikat cermin hidup orang wong Jowo untuk saling berbagi rasa dan karsa, bila tak salah mengelola. Setidaknya begitulah yang telah ditunjukkan orang kelahiran Ngawi si Umar Kayam. Ia telah perintahkan kepada keluarga besar Sastrodarsono dan tokoh Lantip untuk menjelaskan itu semua. Itu pun ia ceritakan menjelang lembaran-lembaran akhir karena pohon nangka bersejarah itu harus ditumbangkan dan buahnya dibagi-bagikan kepada anggota keluarga. Hanya itu. Apa yang dirasa di tempat Biru Langit kini, di tepian Kalimas ini sama sekali belum membekas. Apalagi ia malah dikejutkan selain di sini ia tak mendapatkan sambutan ramah, cuek dan terkesan angkuh. Ya, begitulah betul-betul misterius orang yang disebut-sebut Bintang Sakit. Seberapa saktikah gerangan?
Siang itu pula perburuan Biru Langit berlanjut ke toko buku loak di jalan Semarang. Ia tak punya niat yang mantap untuk membongkar kertas atau huruf-huruf paling kumal di laci rak buku atau di lubang jahanam bawah meja. Tidak. Yang pasti dalam benaknya Cuma memburu hantu, mencari tahu buku terakhir yang menyelamatkannya dari himpitan sampul paling keras di jurang paling dalam buku-buku itu. Betapa mengejutkan ketika menemukan jawaban, si penyelamat itu buku paling berat bersampul merah darah dengan ribuan halaman full color setebal lebih dari limabelas centimeter?Buku Orde Baru, alias Sukses Repelita. Ya, berkali-kali Biru Langit memegangi kepalanya. Tapi tidak karena rasa pusing. Terkejut memang. Jadi jelas ada yang salah dalam diri Biru Langit, kalau betul terkejut mengapa harus memegangi kepalanya?salah satu pertanda yang lebih umum dimaknai akibat pusing, pening, sakit kepala, migrain dan sejenisnya.

Tiga

PERBINCANGAN penting di bawah pohon nangka itu begitu misteriusnya, dan tak boleh tercium kuping perempuan Sulistyorini, si pemburu cinta Biru Langit. Banyak sekali alasannya, dan entah mengapa semuanya jatuh di bulan Juni 1994. Buntutnya bulan ini dianggap bulan terpenting dan bahkan bulan paling sial sepanjang catatannya. Betapa rencana, teror, misteri dan godaan serta penyakit berhumbalang. Pilihan agar kekasihnya Sulistyorini tak diizinkan mencium kabar, lebih sebagai sikap kehati-hatian Biru Langit. Atau setidaknya dengan kata lain di matanya perempuan Sulistyorini adalah sumber malapetaka, biang kehancurannya.
Dia memang cantik, bolehlah selain kenekadannya, dan sudah barang tentu berduit lantaran putri seorang profesor bedah plastik ternama di negeri ini, bahkan di seantero dunia (bukankah tidak ada lagi gelar lebih tinggi sesudah professor?). Lantas rencana apakah gerangan sehingga Biru Langit demikian tega menilai perempuan menderita yang juga kekasihnya itu seperti zombie pencabut nyawa? Barangkali bukan karena rencana di bawah pohon nangka itu betul yang membuat dirinya menjadi makhluk tak berhati. Atau lebih tepatnya akibat nyali Biru Langit yang rendah dan menggigil ketakutan, lantaran belum siap betul untuk menjadi manusia pemberani, petualang dan membuka diri belajar banyak hal tentang hidup. Selebihnya karena jiwanya kurang sabar menghadapi sikap kekanak-kanakan perempuan Sulistyorini yang memang pantas bertindak seperti itu. Dia yang sering disebut-sebut anak mami oleh laki-laki macam Biru Langit. Dia kurang makan asam garam di perjalanan dan tak pernah terantuk batu di tengah hiruk-pikuk kekejaman orang pinggiran.
Ya, dia memang ?anak mama? tapi mengapa Biru Langit tak pernah berpikir betapa tak semua perempuan di dunia tahu penderitaan isi hati korban perkosaan macam Sulistyorini. Entahlah mengapa tak terpikirkan itu di benaknya. Semoga ia tak termakan teori profesor bedah plastik Maryuhan Kurnia, ayahanda perempuan itu tentang selaput dara, sehingga menutup mata hati laki-laki Biru Langit. Semoga bukan karena itu tuhan maha pengampun. Akan tetapi entahlah ini sebuah pertanda jalan ke pengampunannya tatkala secarik pesan yang tersimpan di celana blue jeans Biru Langit dari perempuan Sulistyorini sontak mengusik dirinya. Ya, pasti sesuatu kekuatan memaksanya untuk kembali membaca, meski itu telah usang, dan kecengengan itu benar-benar belum pernah mencoba untuk pergi.

Adalah suatu kebahagiaan jika kita dibutuhkan orang lain. Adalah suatu kebahagiaan, jika kehadiran kita dirindukan orang lain. Aku jadi tahu bahwa dalam hidup kita tak bisa sendirian. Kita selalu membutuhkan orang lian. Terutama di saat-saat kita sedang butuh perhatian dari seseorang agar hidup kita senantiasa bermakna. Agar hidup kita tak sia-sia. Tapi mengapa pertemuan kita terasa begitu menyakitkan. Aku bingung, jika aku melihat sesuatu yang tidak benar padamu dan aku berkomentar, kamu akan bilang aku suka ngatur dan kasar. Aku tambah bingung ketika aku bereaksi diam, kamu malah marah dan menganggap aku susah diajak ngomong. Mungkin aku gagal sebagai perempuan. Barangkali juga aku sedang menuju kegagalan sebagai kekasih. Ketahuilah, betapa aku tidak mengerti dengan diriku.

Sulistyorini

Terang saja Biru Langit tak ingat betul bagaimana dan kapan persisnya, berapa jam lalu atau berapa hari sebelumnya pesan secarik kertas murahan itu tersimpan di saku celananya. Begitulah hanya kekuatan tangan Tuhan yang menyebabkannya terjadi hal demikian. Berkat campur tangan-Nya. Oya, ada suatu kabar yang tertunda untuk diceritakan yakni tentang kisah di bawah pohon nangka. Terang bukan karena bisik-bisik seniman Ipong sebagai pembawa kabar, namun semata-mata karena tersita nada cengeng pesan peempuan Sulistyorini. Gaya khas bicara lirih seniman Ipong memang tak terlupa. Terlebih cra dia membasahi rokok Dji Sam Soe-nya dengan sisa bubuk kopi di pantat gelas atau liur di ujung lidahnya sulit terhapus dari memori laki-laki Biru Langit.
?Kusarankan kamu terlibat aksi ini, Biru Langit. Percayalah padaku seburuk-buruk keadaan, politikus Bintang Sakti tak akan menjerumuskan kita,? seperti biasa mata lebar seniman Ipong terlempar liar.
?Aku sih tidak keberatan. Tapi kamu belum jelaskan aksi yang kau maksudkan, bukan?? Biru Langit mencoba menyelidik.
?Sebut saja namanya Aksi Geger Ngoyak Maling. Awal mulanya begini,? seniman Ipong berteriak memesan kopi di warung sebelah. ?Sebuah media besar (ia menyebut sebuah nama koran pagi) segaja menilep dana yang dihimpun untuk korban bencana Tsunami di Maummere.68) Dana itu dihimpun selama berbulan-bulan dai masyarakat pembacannya dan jumlahnya hingga kini mencapai miliaran rupiah, kurang lebih 1,3 miliar rupiah.?
?Terus apa soalnya?? Biru Langit memotong karena bermaksud menunjukkan perhatiannya.
?Kamu tentu tak berpikir dana itu tak sampai ke tangan para korban tragedy kemanusiaan, bukan? Tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Dana itu terbukti ngendon di tangan segelintir pemilik Koran dan kroni-kroninya. Apakah kita diam saja?? dari bicaranya ada kesan sosok pemilik dahi lebar ini mencoba menyakinkan dirinya sendiri pula.
?Biadab kalau itu benar terbukti seperti itu,? Biru Langit cepat tanggap.
?Oh soal bukti tentang aliran dana dan dugaan keterlibatan wanita idaman lain bos koran itu, atau rencana pendirian beberapa perusahaan di Maluku dari dana yang dikumpulkan masyarakat berbudi baik itu ada di tangan politikus Bintang Sakti. Apalagi tentang main mata dengan sesama anggota gengnya. Semuanya sudah tercium politikus Bintang Sakti,? sorot matanya yang melompat-lompat dan bicaranya yang mulai tersendat mengundang curiga Biru Langit.
?Kamu sendiri bagaimana kawan? Kamu percayai informasi setengah-setengah itu??
?Mungkin ya, mungkin juga tidak. Tapi gagasan menyampaikan aksinya dalam wujud kesenian menjadi baru bagiku. Pengalaman estetis dari buku-buku bacaanku menyebabkan aku menyetujuinya dan memilih terlibat di dalamnya.? Meski begitu tersendat, jawaban seniman Ipong terkesan memang tidak sedang terpaksa. ?Bagaimana dengan kau Biru Langit??
?Baiklah. Aku ikut denganmu. Apa kompensasinya??
?Entahlah. Aku tidak tahu.?
?Ah, aku bertanya pada orang yang salah.?
?Sebaiknya pertanyaan itu kau lempar ke Bintang Sakti.?
?Atau tidak sama sekali (memang sebaiknya disimpan saja pertanyaan muskil ini??
Lain seniman Ipong, lain pula bagi politikus Bintang Sakti. Ketakjuban mampu menenggelamkan banyak hal. Karena itu eman bila satu hal ini tak diceritakan. Bintang Sakti menyerupai sebuah bayangan?gelap dan memanjang. Dengan kulit hitam yang berminyak, bila berjalan, gigi-gigi putih dan rambutnya yang dua warna lebih dulu menyapa. Ini pertemuan pertama semenjak kawan-kawan berkisah tentang politikus Bintang Sakti kencing sesuka hatinya. Tentu saja selain kebal dari penciuman nyamuk pers, kabar burung menyebutkan dialah si sosok untoughtable (tak tersentuh). Terang saja dengan ketakjuban yang membius itu sanggup menyingkirkan bayang-bayang perempuan cengeng Sulistyorini. Sekalipun politikus Bintang Sakti bukan tak suka berbicara perempuan, lebih dari itu dialah si politikus kencing sesuka hati. Banyak yang kesulitan menterjemahkan kata olok-olok ini. Tapi bukan sesuatu yang tak masuk akal bila olok-olok itu sekadar sindiran terkait dengan masalah-masalah perempuan.
Kami pun berbincang-bincang. Dari dialog itu terungkap jalan pikirannya yang sederhana, tidak meledak-ledak seperti layaknya politikus pada umumnya. Kadang-kadang begitu sederhananya, bicara Bintang Sakti cenderung teknis dan dangkal. Sebaliknya, kesederhanaan bicaranya menyiratkan misteri. Betapa ia tidak bicara politik, kesenian, atau yang lain. Begitu pula tatkala bicara soal perempuan, politikus itu sama sekali tak mempertontonkan emosi. Kesan itu terungkap saat membeberkan rencana aksinya Geger Ngoyak Maling. Penjelasan gamblang, nyaris tanpa symbol yang rumit. Soal-soal teknis pun tampaknya tak ia kuasai. Apalagi bila harus menjelaskan konsep-konsep estetis yang njlimet dan itu nihil. Bahkan ia tak pernah mengungkap dari mana ia dapat ide tentang Geger Ngoyak Maling.
Hebatnya si Bintang Sakti tak mau buka-bukaan bila lebih sepuluh tahun sebelumnya salah seorang penggagas gerakan sastra kontekstual Emha Ainun Nadjib lebih dulu menggunakan judul yang nyaris sama persis: Geger Ngoyak Macan.69) Fatalnya, jelas tak terungkap akankah keduanya nyaris sama ide dasarnya atau tidak sama sekali. Atau memang si politikus Bintang Sakti sengaja berniat buruk mencuri, tanpa memberi kabar asal muasalnya. Belum ada kejelasan yang pasti. Baiklah, hanya saja soal yang ini Bintang Sakti berujar begini:
?Topeng. Ya, perempuan dalam aksi itu nanti harus memakai topeng dengan wajah yang sangat manis. Bergaun merah menyala. Sepanjang aksi perempuan itu terus menari sesuka hati karena dia adalah pelacur,? ucapnya enteng.
?Pelacur? Mengapa pelacur?? Biru Langit mendesak.
?Apakah ada kata yang tepat untuk menggambarkan wanita simpanan yang mengeruk uang dari hak korban kemanusiaan? Apalagi jumlahnya mencapai miliaran. Korupsi mungkin wajar. Tapi yang satu ini, saya tidak bisa memaafkan. Dimana hati nuraninya? Karena itu saya pikir nanti tidak ada salahnya bila perlu catat nama sebesar mungkin di atas kertas tergantung di lehernya. Betapa biadab wanita itu ketika menari sesuka hati.?
?Mungkin dia hanya sasaran antara karena dia adalah seoarang bawahan. Bagaimana dengan bos pemilik Koran itu?? seniman Ipong terus memburu karena mencium ada gelagat kurang fair dari obsesi politik Bintang Sakti.
?Kamu benar. Oh, tapi rupanya kamu belum tahu juga bagaimana seorang perempuan bila selain menjadi bawahan juga seorang simpanan bagi bosnya. Ya, kurang lebih setali tiga uang. Tapi baiklah, kau harus Bantu aku cari jalan bagaimana dengan bos itu. Mau dibawa kemana dalam aksi ini. Sementara ini dalam pikiranku orang ini adalah kunci di balik baying-bayang perempuan itu. Sementara yang lain terlibat sebagai anggota gengsternya dari mata rantai penyelewengan dana kemanusiaan itu. Bagaimana??
Ah, soal yang begitu tak perlu dikhawatirkan tentu. Apalagi ini hanya masalah sepele yang sudah banyak contoh ragamnya. Toh anda punya banyak anak buah yang belajar rajin menyaksikan bagaimana piawainya Marlon Brando, Robert De Niro, Al Pacino, Andi Garcia dalam God Father. Mereka tak perlu keluarkan sebuah jurus untuk ini,? lagi-lagi Ipong bermaksud membesarkan hati politikus Bintang Sakti.
?Itulah. Supaya otaknya digunakan tidak hanya melukiskan nasibnya sehari-hari. Jangan sampai terjadi kawan-kawan berpikir banyak soal-soal rumit tapi sebetulnya bukan persoalannya sendiri. Itu tidak ada gunanya. Bagaimana mengambil makna dari dua kalimat yang kedengarannya bertolak belakang ini?? politikus Bintang Sakti bermaksud menasehati, sayangnya nasehat itu masih misteri dan tidak pada tempatnya karena kawan-kawan yang dimaksudkan tidak sedang berada di antara mereka di bawah pohon nangka itu. Untuk memecah suasana Biru Langit mencoba membalasnya dengan kalimat yang tidak kurang abstraknya. ?Begitu ya begitu, mbok ya jangan begitu. Tak usah buru-buru yang penting cepat tuntas.?
Kemudian terjadilah sesuatu yang aneh. Seolah-olah mereka sama-sama memahami kalimat-kalimat misterius yang tak jelas asal muasalnya maupun maknanya itu. Lebih dari itu, keanehan yang lebih telah terjadi. Seolah-oleh merekapun bersepakat mengenai aksi-aks itu .

Empat

TAK ada selembar kertas pun untuk menjelaskan setiap gerak rencana aksi itu. Hanya dari mulut ke mulut menyebar setiap rencana penting pun terkait angka-angka nominal. Djam D Hari H tak ada. Musik-musik yang semula dirancang politikus Bintang Sakti juga tak memilih lagi aksi ataukah lagu cinta. Apakah ini tak begitu penting baginya? Mungkin apapun yang terjadi peristiwa semacam ini adalah perkenalan Biru Langit terhadap politikus Bintang Sakti, yang tak pernah terjadi sebelumnya. Menjadi hal baru dalam pengalaman hidupnya, sekaligus menunjukkan masih banyak yang tak terungkap dari jiwa terdalam politikus Bintang Sakti. Apakah sudah sedemikian kebiasaan cara kerjanya? Atau sebaliknya justru ini sebuah pertanda dirinya telah menyimpan lebih banyak senjata-senjata pemukul mundur bagi lawan-lawan politiknya? Ah, Biru Langit sudah terlanjur menggunakan bahasa-bahasa seorang yang lebih dulu mengedepankan apriori ketimbang berkenalan dengan seorang kawan, sekalipun bukan mustahil di kemudian hari menjadi seorang lawan. Ketika lama ditunggu tak muncul juga ide-ide terbaru dari Bintang Sakti, sejenak kemudian suasana membeku, dan mendung bergelayut di atas gedung, tapi bukan pertanda bakal turun hujan. Sampai kemudian terlontarlah gagasan agar selama aksi berlangsung gedung itu ditutup kain hitam, symbol atau pertanda bela sungkawa karena dirundung duka akibat tragedi kemanusiaan.
?Ya, setuju sekali. Untukmu Maummere, gedung ini kita tutup kain hitam,? Bintang Sakti menegaskan tanda ucapan terimakasih dengan gagasan itu. ?Agar tak diterbangkan angin, kain dibebat kawat dari setiap sisinya,? Bintang Sakti kembali bergairah. Sebagai basa-basi berikutnya, Bintang Sakti membeber perihal semangat Simpang di masa lampau. Mungkin basa-basinya telah ia tahu membosankan, tapi rupanya ia tetap memandang penting untuk mengobarkan semangat menegakkan kebenaran dan keadilan, sebagaimana ketika di masa revolusi fisik gedung itu dijadikan markas pemuda-pemuda. Meski di lain fakta, jauh sebelumnya Simpang Societed, justru jadi ajang pesta pora sinyo-sinyo di masa Hindia Belanda, dan kini menyisakan hantunya itu.
Untuk menambah bumbu aksinya ia mencuri kisah kelam Kalimas yang memang tidur membujur di sisi utara bangunan itu. Ia ceritakan bagaimana ketabahan Kalimas mengalirkan darah prajurit-prajurit di masa Erlangga dengan Ujung Galuhnya, di masa si cerdik Raden Wijaya berburu tentara Jayakatwang dengan bantuan bala tentara Tar Tar, ratusan ribu prajurit melayang sebelum akhirnya giliran ribuan orang Mongol juga di lenyapkan. Anehnya kota ini jadi berbangga dengan kejayaan di tengah mara bahaya. Padahal kebanggaan itu mendadak berbinar di raut politikus Bintang Sakti, terlebih ketika menyebut Raden Wijaya yang cerdik dan tentu saja pandai bersilat lidah di depan si Khu Bilai Khan, orang Mongol penguasa Cina. Karena ia meluangkan waktu khusus ke negeri itu, justru saat di tanah kekuasaannya terjadi gejolak.
Di wajah Bintang Sakti pula, kebanggaan itu mewakili keganasan perang saudara Panjalu dan Janggala. Bagaimana kota ini yang kalah perang hanya karena terlampau sibuk berdagang. Mestinya Biru Langitlah yang berbangga, lantaran Panjalu menjadi bintang dalam rewayat hidupnya, tumbuh menjadi negeri yang berbudaya dan mengenal sastra denagn amat luar biasanya. Apalagi yang dimaksudkan tak lain adalah Kediri, yang juga tempat kelahirannya? Terus apa yang anda banggakan dari kotamu selain Kalimasmu itu Tuan Bintang Sakti? Apakah laki-laki yang mirip wanita berbadan besar gemuk dan tambun yang duduk malas di Taman Apsari itu? Konon sosok yang dikenal kemudian Joko Dolog itu tak lain adalah seorang yang bodoh, cuma tahu makan enak dan minum arak. Betapa mengagetkan bila si pemabuk yang dimaksud adalah Kertanegara. Terang ini tak layak dibanggakan bila benar terjadi, toh tempatnya pun mulai ditinggalkan orang.
Minggu pertama bulan Juli, gedung itu benar-benar ditutup kain hitam. Selain duka, ada perasaan gelap yang menutup bagian hidup Biru Langit.

Lima

AWAN hitam itu tak lain karena Sulistyorini mendengar rencana aksi lebih cepat dari keinginan Biru Langit. Terlebih perihal kepastian bakal berlangsung di Jakarta juga ia tahu. Itu artinya, Sulistyorini tahu bakal ditinggal kekasihnya untuk beberapa saat lamanya. Fatalnya Biru Langit belum menyiapkan jawaban untuk itu, Sulistyorini keburu menyusul di Simpang Societet.
Di suatu siang yang pengap, didorong kepanikan yang dahsyat, Biru Langit menggiring Sulistyorini ke gigir Kalimas yang dikisahkan politikus Bintang Sakti memiliki kesabaran menyimpan dendam darah dan airmata di masa silam. Tapi di masa kini, di belakang kantor gubernuran itu Kalimas telah menjadi taman dengan paving merah jambu dan anjungan perahu berdayung, yang di waktu malam hari sering jadi rekreasi mesum anak-anak muda kasmaran atau laki-laki hidung belang dengan perempuan-perempuan jalang.
Ya, siang itu Biru Langit menyambar Sulistyorini tanpa berpikir panjang, kecuali mencari rasa aman dari pergunjingan kawan-kawan barunya. Justru di saat sibuk menyiapkan aksi terpenting bagi perjuangan kemanusiaan. Begitulah kurang lebih dalam benak Biru Langit. Namun tidak bagi Sulistyorini. Justru Sulistyorinilah yang merasa terancam sebagai korban kemanusiaan bila Biru Langit meninggalkannya ke Jakarta. Di Kalimas, airmata perempuan itu tumpah.
?Kenapa kamu tidak juga mengakhiri kecengenganmu, Sulistyorini? Berapa kali aku katakan kamu adalah ujian bagiku. Bila aku berhasil membuatmu jadi wanita yang bersahaja, saat itulah aku benar-benar laki-laki berarti bagimu dan bagi semesta,? Biru Langit bermaksud membujuk, merayu atau menggoda dan bahkan memuntahkan amarah padanya.
?Kamu masih bisa marah padaku. Aku hanya tanyakan kenapa kamu harus ke Jakarta. Mestinya kamu bisa menangkap pertanyaanku, bahwa itu pertanda aku tak ingin kau tinggalkan dan jauh darimu. Kenapa kamu justru marah padaku?? Sulistyorini kian menjadi-jadi. Ia malah menunjukkan dirinya yang tersinggung. ?Kalau kamu perlu uang, aku bisa membantumu dan tak perlu kau jauh-jauh ke Jakarta.?
Pernyataan itu mempersulit Biru Langit. Ia tak berkutik. Seperti biasa, ketika dirinya tersinggung hebat, ia harus mengakhirinya dengan amarah. ?Tidak. Aku tidak butuh uang. Justru sebaliknya selama aksi, aku akan membagi-bagikan sejumlah uang kepada gelandangan, pengemis dan orang miskin dimanapun kujumpai mereka. Hebat kan? Sudahlah, aku pergi tidak akan lama. Berhentilah kau cengeng. Jadilah waniata yang tangguh, berani menghadapi problem dan keadaan apapun.?
?Bukan begitu maksudku Biru Langit. Bukan maksudku aku tidak lagi mempercayaimu. Tapi itu semua karena ketakutankum yang kurasakan. Mungkin ketakutan yang berlebihan. Jujur saja aku ingin mengatakan kamlah satu-satunya orang yang bisa memahami dan mengerti aku. Bila kau harus ke Jakarta, aku benar-benar merasa kehilangan dan sendirian. Kamu tentu tahu selama ini aku selalu menghadapi masalah pribadi yang berat Biru Langit. Kamulah yang selalu menghiburku memberi pertimbangan-pertimbangan dan nasehat padaku. Bila kau ke Jakarta itu artinya aku harus kembali menyimpan masalah itu dan tak membaginya dengan siapapun. Bukan berarti aku memaksamu ikut memikirkannya. Terserah padamu aku tak mau mengganggu urusanmu dengan rencana aksimu itu. Segala perhatian yang kamu berikan selama ini tak pantas bagiku untuk meminta lebih.?
Di luar dugaan, nada suara pasrah Sulistyorini meluruhkan pula hati Biru Langit. Sampai justru pria itu tak bisa berkata-kata. Lantas tahu dirinya mendapat empati kekasihnya, Sulistryorini justru makin menjadi-jadi. ?Tak mengapa kalau memang cara ini yang menjadikan sesuatu lebih mempunyai makna. Aku percaya aku bisa mengubah kesedihan ini menjadi kebahagiaan dan menjadi bagian dari hidupku yang sulit kupisahkan. Kadangkala aku merasakan kebahagiaan dalam kesedihanku. Terutama saat aku harus mengingat kebersamaan kita. Saat ada kerinduan yang tak tersampaikan. Saat ada ketakutan yang menyesakkan rongga dada. Aku mungkin hanya bisa menangis saat mengenang tentang kita.?
?Hei.. Ada apa kau ini, Sulistyorini?? Potong Biru Langit.
?Aku sudah cukup bahagia ketika kau mengatakan kau tidak pernah menolak apapun yang ada pada diriku. Aku kembali diingatkan dengan jawaban yang berkali-kali kau sampaikan meski harus kudesakkan pertanyaanku. Masih ingat ketika sebelum menghadap Papa dan Mama dan kau kutanya tentang apa yang kamu sukai pada diriku, kamu bilang aku menyukai semuanya yang ada padamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu.?
?Sulis!!!?
?Aku tak berani berkata sebenarnya karena kamu menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, terlebih wanita sepertiku. Tapi kenyataan yang ada padaku berkata lain. Aku harus sampaikan bagaimana diriku sesungguhnya tetap merasa dilecehkan, sebagai korban perkosaan. Yang bisa kulakukan hanyalah menghibur diri dan berkata, sudahlah jangan dipikirkan yang sudah lalu. Untuk menjadi kertas yang benar-benar bersih memang sulit. Ada saja noda yang menghampiri. Semuanya terserah kamu. Kamu berhak mengembalikan hidupmu yang telah dibuat berantakan oleh manusia jahanam. Jangan takut untuk hidup, memilih teman hidup. Masih banyak yang lebih baik, yang lebih menghormati kamu. Aku juga teriakkan suara keras-keras, mulai saat ini hargailah lebih tinggi dirimu dengan ego. Jangan turuti perasaanmu terlalu jauh.?
?Ssstttt???
Hujan tangis kembali pecah. Bedanya, kali ini tak sampai mengalir deras, apalagi sampai menganak sungai dan jatuh digigir Kalimas. Tidak. Kali ini airmata sesenggukan perempuan Sulistyorini luruh di pundak Biru Langit. Keduanya sejenak berada dalam pelukan. Sejenak pula suasana kosong oleh kesibukan pikir masing-masing. Dalam benak Biru Langit melintas anggapan bahwa sesuatu yang luar biasa telah terjadi pada jiwa Sulistyorini. Dalam hati Biru Langit juga berpikir tentu kalimat-kalimat akhir Sulistyorini adalah bukti dirinya ikut andil membangkitkan gairah hidup kekasihnya. Namun entah bagaimana jadinya, sesuatu yang terlontar dari bibirnya justru berkata lain. Biru Langit merusak suasana barangkali karena memang tengah tidak sedang konsentrasi pada kekasihnya. Sebaliknya, terlampau sibuk dengan pikirannya sendiri.
?Mustinya akulah yang harus berterimakasih padamu dan Papa serta Mamamu. Lewat tanganmu dan keluarga, mereka banyak berkorban untukku, terutama berkaitan dengan biaya kuliah dan hidupku. Tanganmu sudah mengambil alih tanggungjawab yang seharusnya bukan menjadi kewajibanmu. Terimakasih Sulis, aku tidak bisa membalas kebaikan kalian, selain mengucapkan rasa terimakasih dengan tidak melakukan hal-hal yang membuatmu kecewa. Percayalah..?
Mendengar pernyataan Biru Langit, Sulistyorini menahan pelukannya. Dipandanginya bola mata kekasihnya itu. Tapi ia sendiri tak yakin dengan isi bola matanya. Dia tersinggung, bingung, tapi juga sedih dan prihatin, kemudian kembali tercenung. Sayang keduanya sudah tak mampu berkata-kata. Ya, dua sejoli itu sudah kehabisan kalimat untuk menjelaskan gangguan isi jiwanya yang lunglai. Kosong. Apakah tubuhnya masih berisi? Kalimas tetap tenang dan keruh. Jakarta terlupakan hanyut terbawa arus. Hanya pikiran Sulistryorini terlah mengembara. Di saat bimbang dengan perasaannya tentang kekasihnya dan trauma masa lalu, berlanjut hingga perlahan-lahan perempuan itu mulai meragukan perasaannya tentang cintanya. Mungkin Biru Langit tak berubah mencintainya. ?Maafkan aku Biru Langit. Aku menjadi tersadar begitu mendengar suaramu tidak ada yang berubah. Aku bisa merasakan ketulusanmu di sana. Sama seperti saat-saat kita mulai bersama dan berjanji untuk saling setia. Aku mencintaimu, Biru Langit. Tak bisa kudapat menemui cinta yang tulus selain darimu,? perempuan itu makin sibuk dengan jalan pikirannya sendiri. ?Bila engkau tak ada di sini bagaimana aku bisa memeluk dan menciummu??

Enam

KAMIS malam, 9 Juni 1994
Memang bukan malam pertama Biru Langit di bawah gedung pertunjukkan teater di Dewan Kesenian Surabaya. Lebih tepatnya ini malam kedua. Karena itu, ada sesuatu yang menyerang dahsyat untuk perlu diceritakan terlebih dulu. Sebab itu sebelum segalanya terlupakan lebih baik disampaikan lebih dulu.
Kiranya bukan sesuatu yang tak masuk akal bagaimana ini terjadi selain karena ini baru untuk kedua kalinya terjadi dalam hidup Biru Langit, bangunan tua bersebelah dengan gedung teater itu menyimpan inspirasi tersendiri. Ya, pasti karena ini peninggalan zaman Hindia Belanda. Entah mengapa segala yang berbau Hindia Belanda jadi misteri di benak sepenggal hidup Biru Langit. Baiklah seperti janji semula sebelum ingatan ini berontak, diceritakanlah oleh Biru Langit.
Entah ini suatu kebetulan atau bukan setahun lalu, untuk kali pertama ia menonton pertunjukan teater di gedung ini. Betapa jalinan kisah karakter-karakter tokohnya, latar belakang cerita dan semua sangata memikat dalam benak Biru Langit. Tak lain karena ada jiwa dalam pertunjukan teater yang sanggup mengaduk-aduk ruh Biru Langit. ?Waktu itu lakon yang dipertontonkan berjudul Nyai Adipati.70) Kisah itu terjadi di zaman Hindia Belanda awal abad 20. Kisahnya tentang kegemparan yang melanda Kabupaten Lumajang pada masa penjajahan Belanda. Karena potret Sri Ratu Emma di rumah Asisten Residen Sitjhoff hilang, kecurigaan politik menjarah kemana-mana. Kekejian kolonialis semakin tak dapat dihindari. Melalui penembak-penembak misterius, para bromocorah dilenyapkan dan 25 orang pelayannya dihukum dera oleh Sitjhoff. Hilangnya potret Sri Ratu Emma dilihat sebagai upaya perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Padahal hilangnya potret hadiah Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu adalah murni perbuatan kriminal. Pelakunya adalah Gombrek, seorang petani Lumajang Kulon, yang jatuh melarat sejak sawahnya ditarik untuk ditanami tebu demi kepentingan pabrik gula. Adipati Lumajang Suryokusumo inilah yang bertanggungjawab melindungi rakyatnya, yang juga mendapat tuduhan mendalangi aksi pemberontakan, hingga Adipati dihadapkan di Batavia. Berkat dorongan moral Van Den Brand, Nyai Adipati mengajukan laporang kelicikan Sitjhoff ke Residen dan dilanjutkan ke Gubernur Jenderal. Tapi tidak memperoleh jawaban yang memuaskan. Kemudian surat protes dilayangkan ke Parlemen Hindia Belanda. Sitjhoff yang sesungguhnya otak pembunuhan Residen Jansen, mengalami kegoncangan jiwa lantaran digugat Nyai di depan Rad Van Justitie. Namun Nyai Adipati tetap berada dalam situasi tersudut. Keberaniannya menggugat Asisten Residen oleh pemerintah dianggap berbau pemberontakan. Karena itu, jika Nyai Adipati tidak mencabut gugatannya, maka akan terkena sanksi hukuman buang.
?Begitu memikatnya cerita itu bagimu, sampai kau tak lupa titik komanya??
?Bagiku bukan cerita itu sungguh yang mengesankan karena apa yang tersirat sebagai antikolonialisme dan feodalisme tak sememukau apa yang pernah ditulis sebelumnya oleh Pramudya Ananta Toer dalam Bumi Manusia. Apalagi tampaknya buku itulah yang jadi babon inspirasi utama Nyai Adipati. Tokoh-tokoh Nyai Adipati mengingatkan pada nama-nama Nyai Ontosaroh, Minke, Herman Mallema, Annelies.?
?Lantas apa yang mau kau katakan??
?Justru yang memikat aku oleh karena Nyai Adipati dipanggungkan. Kau tahu Nyai Adipati aslinya kisah dalam bentuk novelet yang ditulis Mayon Sutrisno. Dia orang termasuk dekat dengan dramawan Rendra dan beberapa kali menovelkan dramanya Rendra. Salah satunya berjudul Perampok. Dari situlah aku tahu bagaimana terpukau Nyai Adipati jadi bahasa panggung. Di satu sisi aku teringat Nyai Ontosaroh, di sisi lain tergambar perjuangan masa tua Cut Nyak Dien dengan tubuh ringkih yang loyo tapi semangat juangnya masih menyala di binary matanya. Di atas panggung Nyai Adipati tanpil membelakangi peta dunia dan tak terpisahkan dari putranya Raden Legowo. Sepanjang pertunjukan berlangsung khidmat dan terlebih sesekali terdengar beberapa tembang Jawa seperti Tombo Ati diiringi musik kentrung.?
?Diantara yang sekian banyak memikatmu, tidakkah ada yang paling menarik perhatianmu, Biru Langit??
?Ada. Perilaku hidup penduduk kampung yang nglesot di lantai. Kenyataannya seperti itulah hidup bangsa ini, yang disimbolkan pertunjukkan. Di situ terungkap bagaimana suasana mencekam, menyimpan kemarahan dan sudah barang tentu keputusasaan.?
?Kedengarannya mengasyikan Biru Langit. Aku jadi merasa lebih mengenalmu dari sisi lain kehidupanmu. Maksudku apa yang menarik bagi hidupmu. Barangkali kau memang seorang nasionalis yang tersisa. Maksudku ada sisa-sisa zaman yang sengaja kau bawa di masa modern ini.?
?Ah, aku mulai senang dengan bicaramu yang membingungkan ini.?
?Kamu sinis kedengarannya Biru Langit.?
?Tidak bagimu. Tapi bagiku juga aku merasa jadi lebih nyaman mengenalmu belakangan dari komentarmu. Kamu perempuan yang mau belajar.?
?Sekarang aku benar-benar mendengar ejekanmu.?
?Oh ya. Tentu kamu tak menduga, sebetulnya aku tahu lebih jauh apa yang ada di balik sandiwara ini. Orang-orang dan kegigihan pelaku-pelakunya selama proses penggarapan Nyai Adipati. Tidak banyak karena aku baru mengusutnya sebelum dan sesudah pertunjukkan.?
?Sebegitu hebatnya yang kamu lakukan? Ceritakanlah Biru Langit.?
?Sang sutradara yang dijuluki si burung nuri itu sampai harus sendiri ke Lumajang untuk studi social perilaku penduduk di sana dan menyeberang ke Madura guan melengkapi property pecut, musik alam, lampu dari tanah liat dan mengenal dari dekat perilaku orang Lumajang yang sebagian besar memang keturunan Madura. Selama itu si burung nuri membunyikan klinthing untuk leher sapi agar diharapkan dari itu muncul setiap inspirasi. Latihan-latihan tiap hari berdarah-darah dan bermuntah-muntah. Itu semua tak musti membawa hasil gemilang. Tanah liat dicarinya dari lahan berbukit di kawasan Lakarsantri. Sepulang dari angkutan umum, esoknya dicetak dan dibakar. Hasilnya nol besar karena berantakan. Peluh dan tenaga telanjur terbuang percuma, hasilnya pun percuma tapi tak menyurutkan semangat mereka. Mungkin dugaanku mereka ini sedang kerasukan rohnya Adipati Suryokusumo.?
?Sebegitu mendetailnya engkau ketahui Biru Langit.?
?Ah ini belum seberapa. Ada bagian terpenting yang belum tapi harus kuceritakan padamu Sulistyorini.?
?Ceritakanlah. Aku mau karena memang sedang tepat tempat dan waktu.?
?Tapi diam-diam aku mulai meragukan diriku sendiri terhadapmu. Betapa tidak. Ini keherananku yang kedua setelah kau yang putri profesor bedah plastik dan gemar politik dipaksa ayahmu kuliah di sekolah politik. Lalu mengapa perempuan sepertimu teramat suka dengan diskusi serius macam begini? Ada apa dengan dirimu? Bukankah ini sebetulnya ancaman bagiku, punya calon istri yang terlampau pintar dan berbahaya bagi laki-laki??
?Hah, aku jadi tahu sekarang kamu mulai takut kehilangan diriku. Maaf kalau barusan yang lain-lain bicaramu tak kudengarkan he..he..?
?Jadi kau mendesakku mengakhiri semua disini??
?Ayolah Biru Langit. Kau belum kisahkan bagian terpenting yang kamu janjikan.?
?Aku juga baru tahu kamu menggigil kalau kehilangan aku. Kelihatannya kata akhir itu momok bagimu.?
?Kamu belum mau mulai cerita juga. Hati-hati sebelum ini mengurangi arti penting ceritamu itu.?
?Orang tua sering terusik dengan ulah anak muda yang kritis cerdik dan berani. Entah ini mengapa jadi rumus dunia. Setidaknya itu terjadi di sini. Semula Nyai Adipati ini ide sekelompok anak muda yang berpikiran merdeka dan kian terlihat hasilnya, pengaruhnya, kekuatan aksinya, daya pikatnya. Saat itulah orang tua yang terancam posisinya atau lebih tepatnya terombang-ambing kuasanya, mulai menunjukkan taringnya. Dimulai dengan menyebarkan desas-desus, mengancam menyumbat dana, meneror hendak menghentikan kegiatannya. Sebelum akhirnya turut campur mengurusi dapur dengan tetek mbengek urusan yang jelas menggunakan dalih kepentingan politik pecah belah tak terhindarkan. Anak-anak muda mulai diganti kedudukannya oleh orang-orang tua dari kelompoknya dan anak-anak muda dibuat takbisa apa-apa, kecuali memang tak punya pilihan lain selain perpecahan. Maka terjadilah malapetaka di kemudian hari. Nyai Adipati memang selamat sampai tujuan, tapi kemudian hari yang kumaksudkan juga benar-benar terjadi. Semoga kau mengerti orang tua yang kumaksudkan membuat skenario itu semua adalah politikus Bintang Sakti. Kamu mengerti maksudku Sulistyorini??
?Tidak. Aku tidak mengerti orang yang barusan kamu sebut. Tapi aku mengerti arah pembicaraanmu.?
?Karena itu sebaiknya kuakhiri bicaraku sampai di sini. Bukankah aku telah tahu apa yang tak kau mengerti??
?Ya. Hanya aku masih terusik dengan pengetahuanmu di balik layar yang luar biasa hanya dalam waktu semalam. Itu yang menyenangkan aku. Karena itu kiranya tidaksalah bila di kemudian hari kamu berbakat menjadi seorang jurnalis, Biru Langit.?
?Jurnalis? Oh, terimakasih atas masukanmu. Sama sekali tak terpikir olehku. Maksudmu kau menemukan Minke atau Raden Mas Tirto Abdisoerjo dalam diriku? Oh betapa luar biasanya,? Biru Langit sendiri tak tahu dan tak sadarkan diri apakah omonganya serius ataukah bercanda karena dirinya baru saja berkenalan dengan tokoh-tokoh dari sebuah dunia yang lain. Satu-satunya referensi tentang jurnalis di benaknya di dunia nyata hanyalah Pam?bekas sahabatnya, kawan bermain, lawan berdebat, rival berebut pacar yang desersi dari diskusi-diskusi ideologi kiri di kampus Airlangga. Lalu menghilang sekian lama. Itu pun muncul di benak Biru Langit tak laiknya seperti Minke. Betapa Pam bekerja sebagai jurnalis sebuah perusahaan properti. Diambil apanya? Barangkali berikutnya Biru Langit cukup berbilang terimakasih karena dirinya telah diingatkan kembali pada sosok Pam yang pernah betapapun buruk sungguh dalam penggalan hidupnya. Sebab itu tak ada salah bila dirinya berjanji untuk tak lama sesudah ingatannya ke permukaan, bernjanji mencium jejak Pam. Lalu ia pun berjanji dalam hati, tanpa tahu kekasihnya, Sulistyorini.

Tujuh

Geger Ngoyak Maling tak menggegerkan ingatan Biru Langit. Hampir tak ada catatan penting, melebihi rencana semula tatkala bincang dan rembugan di bawah pohon nangka. Kamis malam itu yang mencekam hanya sorot lampu merah menyala. Hampir memedihkan mata. Ada musik kentrung dipadu musik rock tak begitu menusuk kalbu, ada syair-syair, lalu puisi dan dari belakang disusul pernyataan sikap, seruling ditiup melengking dan panjang. Sekelompok pemuda melayangkan yel-yel perlawanan. Semuanya terlampau biasa. Ada sedikit tampil beda malam itu. Sejumlah pemain di tengah pertunjukan menggelar dialog dengan audien, penonton dengan tema pertunjukan. Betapa kemanusiaan telah hilang nilainya oleh uang. Betapa malang korban musibah di Maumere karena hak-hak mereka dipenggal oleh tangan orang yang setiap hari tampil dengan murah senyum.
Dan ini yang paling menjijikkan; tariannya. Tarian yang menggambarkan kemaharajalela, tapi lebih menyerupai kegirangan burung terbang di udara. Jadi sama sekali tiada hubungannya. Dan lagi kasihan malah pada burung itu. Toh bagaimanapun burung gagak sekalipun tidaklah tampil sentimental seperti tarian itu. Lalu yang paling menjijikkan diantara menjijikkan adalah karena tarian itu dibawakan oleh Biru Langit. Bukan itu saja, lantaran Biru Langit harus tampil dengan kostum wanita, dandanan seronok dan mendekati seorang pelacur menggerakkan mahkota dan gaun merah menyala, menggamit kipas di tangan dengan bibir senantiasa menebar senyum. Kalau ini terjadi dulu sebelum remo dan bencong ludruk jadi primadona, okelah. Tapi ini?
Saat seperti itulah Biru Langit harus menari dan sejenak harus menenggelamkan namanya di balik selendang kertas bertuliskan nama seorang wanita pemimpin sebuah media massa terbesar di Surabaya. Sebutlah inisialnya NW dan tak perlu menyebut namanya selengekap kertas itu menanggung bebannya. Tapi semua beban itu seolah semuanya ditanggung Biru Langit, sementara politikus Bintang Sakti malah seperti dewa penyelamat.
Kisahnya, Mat Koja seorang pendekar si tulus hati dari Selobintana yang disegani karena keahliannya menangkap pencuri dari segala lapisan tanpa pandang bulu. Ia jadi kesulitan ketika yang menjadi pencuri ternyata adalah bayangannya sendiri. Sang penyelamat, politikus Bintang Sakti menggugat dan bertanya, mengetuk hati dengan puisi seperti ini:

Untukmu Maumere
Kukirim berita
Tentang ribuan orang
Yang menyisihkan uang
Bagi ribuan orang
Yang malang dan ditimpa bencana
Tapi, apa yang mereka sisihkan
Tak sampai
Terhalang tangan angkara,
Mencengkeram
Berlaksa wajah prihatin
Ooo..
Bencana di atas bencana
Keserakahan menari di atas kemalangan
Untukmu Maumere
Kukirim berita?

Perihal beban itu kiranya harus diakhiri sampai di sini karena bila berlanjut dan Biru Langit tahu diantara penonton itu ada perempuan yang setia mengajaknya diskusi dan mencintai dirinya akan lain cerita. Lalu bagaimana ayahandanya, Profesor Doktor Dokter Maryuhan Kurnia juga duduk di deretan paling belakang di gedung teater itu, cerita akan sama sekali lain. Betapa hancur kelaki-lakian Biru Langit tenggelam di bawah rok menyala si pelacur NW. Hakh? beruntunglah akhir Geger Ngoyak Maling memang digegerkan insiden kecil dan melupakan beban Biru Langit. Aneh, kedengarannya memang, ternyata orang yang disebut-sebut biadab dan berada di balik kedzoliman menjegal hak korban tsunami di Maumere itu hadi pula di tengah pengunjung.
Lebih aneh lagi si empunya inisial DI, sang bos besar yang datang, tentu saja dengan beberapa anak buahnya itu tak berniat menghentikan pertunjukkan. Barangkali tarian, nyanyian, dan yel-yel tak memberinya kesempatan untuk itu. Mungkin juga karena dia tahu pertunjukkan itu sudah jadi tontonan dan pemainnya semua yang hadir di gedung pertunjukkan, termasuk dirinya. Namun bisa jadi segalanya berjalan seperti ini lebih karena dirinya sedang tahu diri. Dia menyadari sebagai seorang pemain yang tangguh, politisi yang ulung, geng dari sebuah kelompok yang licin dan tahu pintu masuk dan keluar setiap persoalan sesulit apapun.
Ya, segalanya mungkin bagi orang besar dan penguasa seperti dia. Apalagi cuma menghadapi seorang Bintang Sakti dan anak-anak muda yang perlu mainan. Bila yang terakhir ini benar, tampaknya untuk malam ini dia harus kecewa, sebab begitu ia bermaksud bertatap muka dengan Bintang Sakti, barangkali untuk menentukan deal-deal atau yah, setidaknya sedikit konfirmasi si politikus lebih dulu melompat keluar berbekal kunci pintu belakang gedung pertunjukkan. Banyak pertanyaan tersisa, termasuk mengapa insiden itu terjadi justru di akhir cerita? Tiadakah tangan-tangan yang bisa bekerja dengan baik sehingga tak perlu insiden itu terjadi? Atau tidakkah justru ini hasil kerja terbaik pembuat skenario yang bakal menyimpan sejuta misteri setidaknya untuk malam ini? Pertanyaan itu tinggallah pertanyaan, meskipun hanya untuk sementara.

Delapan

YANG tak boleh lupa diceritakan, tapi baru ingat sekarang adalah penampilan Sulistyorini malam itu. Ia kelihatan amat berbeda dari biasanya, bukan karena duduk setikar dengan papanya, memang sebuah pemandangan yang jarang ditemui Biru Langit di hari biasa.
Kesannya, dia memang sedang berbahagia, sehingga begitu bahagianya, sebagai perempuan dia harus memendam perasaan, buntutnya yang tampil di luar tubuhnya malah sikap kemalu-maluannya. Satu lagi, kebiasaannya mengenakan celana jean dan Tshirt ketat, untuk waktu itu ia tanggalkan dan berganti dengan kemeja halus dan rok panjang. ?Kau terlihat lebih anggun dengan penampilan seperti ini Sulistyorini,? Karena kaget setengan terpukau, Biru Langit terpaksa menembakkan pujian seperti itu. Buntutnya, perempuan itu lebih terlihat kekenak-kanakkan. Melihat sikap perempuannya seperti itu, Biru Langit keterrusan melemparkan pujian dan kali ini lebih berani bicara tentang isi roknya. ?Ah, yang satu ini untuk aku saja, ya!? Biru Langit cekikikan sebelum akhirnya senyum kecut diserobot teori Profesor Maryuhan Kurnia tentang kelamin.
Beruntung malam itu Profesor tak mengikut sertakakan putrinya pulang bersama dengan mobil VWnya. Setelah basa-basi sebentar minta Biru Langit main ke rumahnya di Dharmahusada atau di kamar kerjanya di Bedah Plastik Rumah Sakit Karangmenjangan. (Bisa jadi ini bukan basa-basi, karena professor itu berujar tanpa didampingi istrinya Puri Wangi. Betapa wanita sering meragukan isi hati laki-laki). Sepeninggal professor, jadinya Biru Langit bisa punya waktu panjang untuk menenangkan diri, menyibukkan diri atau mengubur dan bahkan membolak-balik isi hatinya tentang perempuan Sulistyorini. Hasilnya, seperti ini: Begitu panjang waktunya, selain karena malam Minggu jadi trade mark malam panjang, dua sejoli itu duduk duduk di depan jalan Simpang, bicara soal naluri, jalan-jalan di Jembatan Yos Sudarso disitu terungkap soal tanggungjawab. ?Semoga tak ada yang terluka,? katanya, tanpa memberi penjelasan siapa yang dimaksud. Memang tidak ada yang terluka malam itu. Betapa indah Kalimas di waktu malam yang berlukis perahu dan kerlip lampu metropolis remang. Kadang terdengar kecipak ikan yang menyembul di permukaan juga gemericik air yang terpecah dan senantisa membuat kesadaran dua sejoli itu dalam jaga. Tidak disangka perempuan Sulistyorini menyimpan banyak bahasa. ?Adakah keberanian jika ingin kutelusuri tubuhmu dengan kesederhanaan bahasa untuk menggali sepotong hati yang selalu kau simpan rapat di bawah kuasa dalam gengamanmu. Betapapun hanya beberapa, makna itu telah memiliki sayap di lengannya. Yang menjadikan semua berjalan biasa tanpa kata, atau juga kalimat yang panjang-panjang yang kubaca, sebuah kesederhanaan bahasa. Saya kira, saya benar-benar suka padamu Biru Langit. Semoga tidak menjadi seonggok penyesalan.?
?Ada yang tak kau suka dan terpikir olehmu, Sulistyorini?? Biru Langit mencoba mengusik dan membaca pikiran kekasihnya.
?Tidak,? Sulistyorini menghentikan pernyataannya. Ia balik bertanya, ?Apakah dengan yang kita alami aku bisa disebut kekasihmu, atau kau kusebut kekasihku Biru Langit??
?Kenapa kamu kembali sentimental, berubah dari beberapa jam lalu?? Biru Langit asal kena.
?Aku hanya memastikan tak ingin ada orang lain yang memasuki hadir di antara kita, dalam cerita kita,? perempuan itu mempertontonkan muka kusutnya.
Duduk di tepi pagar besi Kalimas, dua sejoli itupun tanpa ragu saling berangkulan, berpelukan dan disusul kemudian Biru Langit mencium pipi Sulistyorini dan menyentuh bibirnya. Biru Langit tahu dan sadar tak boleh terlambat melakukan itu. Jadi ia sudah memilih tepat waktu. Sebelum akhirnya perempuan itu bertindak atau berkata yang lebih sentimental lagi dan sebelum hal itu menggerogoti isi hati Biru Langit dengan sendirinya. Ia sudah tahu pasti soal keperawanan. Itu lagi yang jadi senjata Sulistyorini. Begitulah Biru Langit berani ambil resiko dengan lebih dulu menciumnya. Selamat.
Meski malam bertambah malam, namun tidak ada tanda-tanda menunjukkan hal itu. Bahkan jalanan makin padat berisi. Kesibukan malam justru menuju puncaknya. Waktu menunjukkan sekitar pukul 22.00 wib. Sebelum pulang diajaknya gadis itu memesan makan malam di lesehan Yos Sudarso. Entah pernah terjadi dalam pengalaman Sulistyorini ataukah tidak, Biru Langit tak begitu peduli memaksanya duduk di warung pinggir jalan berbaur dengan asap rokok dan tungku pemilik warung beralaskan tikar atau terpal berdebu. Biru Langit memesan krengsengan dan Sulistyorini menyantap mie goreng. Lamban sekali perempuan itu makan, mungkin karena panas, mungkin juga bermaksud menikmati. Tapi bukan mustahil karena takut kehilangan waktu. ?Selepas malam ini, pasti hanya ada kegelisahan. Apalagi Biru Langit segera berangkat ke Jakarta. Tentu aku tak bisa sedikitpun mengusir bayangannya. Namun aku pun tak mendapati sesuatu dari pencarianku. Ah, aku semakin berpikir banyak tentangnya. Semoga kegelisahan ini tak mengganggumu di sana,? Sulistyorini tak mengucapkan ini karena bibirnya sibuk atau lebih tepatnya menyibukkan diri agar terkesan tampil lahap mengusir kebutuhan tubuhnya dengan mie goring yang mungkin bercampur semut, ulat atau keki kecoak yang sama sekali tak dia tahu. ?Aku mengherankan diriku kenapa aku masih malu, sesuatu yang amat dibenci Biru Langit. Tidak boleh. Aku sekarang sudah banyak belajar tentang naluri. Aku ingin semua yang t elah kudapat tak pernah berakhir dan aku sekarang merasa sangat bahagia. Kebahagiaan ini tak boleh pergi karena ini kali pertama aku merasa kehidupan menjadi berarti. Bukankah telah ada orang untuk diajak berbagi, tanpa perasaan tertekan tanpa depresi. ?Ketakutannya akan kehabisan waktu tak mau pergi. Toh jam pun kian mendekati tengah malam dan adat kesopanan perempuan jadi pertimbangan.
Terlepas dari itu, sepiring krengsengan dan mie goreng memang telah ludes tanpa sisa. Setelah menghabiskan sia minuman the botol dan bayar ke pemilik warung, Sulistyorini harus pulang. Taksi langsung meluncur ke Dharmahusada, melintas cepat lewat jalan Moestopo, Karangmenjangan, Kalidami dan tembus Kertajaya berbelok ambil arah kiri. Setelah itu tak ingat persis karena ingatan Biru Langit jatu pada Sulistyorini yang bergaun malam. Makin mendekati pintu rumahnya, Biru Langit, Biru Langit makin disibukkan dengan mencari kalimat yang sekiranya bisa ditinggalkan kekasihnya, agar dirinya sulit untuk memejamkan mata. Beruntung kemudian sebelum turun dari taksi, Sulistyorini mengajukan pertanyaan yang mungkin tak begitu penting dan asal kena saja. Sebaliknya menjadi tantangan dengan menggerakkan hati Biru Langit untuk mencari jawaban terberat agar tak mudah hilang dan lekang di makan waktu.
?Kau harus jawab pertanyaanku. Apa sih yang menarik dari aku, bagi kamu??
?Semuanya. Karena engkau pilihanku. Maka di dalamnya, termasuk harus bisa menerima kekuranganmu juga. Semua harus bisa dipertanggungjawabkan,?
Jawaban Biru Langit kedengarannya sedikit memaksa. Tak mengapa. Tapi ini bukti dia telah mampu menundukkan putrid seorang profesor bedah plastik terkemuka.
Taksi meluncur ke kontrakannya di Menur.

Sembilan

HAMPIR bisa diduga, bila kemudian tidur Sulistyorini di kamar mewahnya tak bisa jenak. Jalan pikirannya berputar dan perasaan bercampur aduk. Sesekali melintas bayangan tubuh Biru Langit yang di jalanan. (padahal sebetulnya laki-laki itu telah pulang di rumah kontrakannya) Sementara dirinya berbaring nyaman di kasur empuk berselimut tebal.
Di saat lain rencana keberangkatan kekasihnya ke Jakarta terus juga terngiang-ngiang di telinga dan isi otaknya. Lalu, kepulangan di tengah malam hari memaksanya harus membersihkan tubuhnya dan mandi sedikit banyak malah menunda waktu tidurnya. Tubuhnya serasa lebih segar dri sebelumnya. Belum lagi semangat hidupnya saban kali sehabis menelan setiap kata Biru Langit menghidupkan emosinya. Pendek kata, betapa ia merasa merugi bila menghabiskan sisa malam dengan memejamkan mata. Kemudian entah bagaimana mulanya dia menikmati betul malam yang tersisa ini lantaran begitu yakin Biru Langit juga melakukan hal yang sama?tak segera tidur untuk membayangkan dirinya (padahal semenjak tiba di kontrakannya, tanpa menyentuh air barang sedikitpun laki-laki itu langsung amblas alias molor).
Karena beberapa rencana sudah diputuskan sejak mula, mencari kawan lamanya Pam dan memenuhi undangan professor bedah plastik Maryuhan Kurnia) Sialnya, tubuh Sulistyorini makin sulit diajak kompromi. Sedikit saja waktu lengah dari pikiran, perasaan dan emosinya, perempuan itu pun tertidur tanpa daya, tergolek lunglai seperti kain bekas. Dia memang merasa sial, dalam tidur pendeknya tanyata masih diganggu dengan mimpi buruk. Tentu saja segala perasaan dan mimpinya yang belakangan itu baru dirasakannya tatkala bangun, saat pnya sedikit waktu untuk merangkai kembali jalinan ketaksadarannya, yang tergambar di aras otaknya. Kurang lebih seperti ini: Suatu saat perempuan itu berlari seperti hendak memburu sesuatu. Anehnya dia lakukan itu di tengah samudera. Tak berapa lama perempuan itu dalam pelariannya menyaksikan ada tiga arah jalan di air. Terang saja ia pun memilih salah satunya. Di luar dugaan pilihannya mengagetkannya lantaran jalan itu dekat dengan gelombang besar. Apa boleh dikata itulah pilihannya dan itulah baginya yang cocok. Kembali perempuan itu dikejutkan perjumpaannya di sebuah rumah yang tertutup dan gelap. Entahlah bagaimana mulanya ia diberitahu seseorang bahwa Biru Langit sedang ada di langit-langit. Sulistyorini menggigil, begitu tahu Biru Langit tersekap di sana dengan wajah yang hampir seluruhnya tertutp kain putih melilit mirip perban. Hanya mata dan mulut yang kelihatan dari sela-sela ikatan. Di wajah Biru Langit ada pisau yang diikatkan di sana. Dia melihat kekasihnya dengan kecemasan dan Biru Langit menatap Sulistyorini penuh harap memohon pertolongan. Akhirnya seseorang mengijinkan mereka berdua berjalan-jalan dengan menenteng pisau dan parang. Begitulah yang begitu jelas dalam gambaran, sebelum perempuan menjatuhkan pilihan sebuah jalan, berulang kali dibingungkan dengan daftar yang cocok dengan dirinya. Walhasil, sebelum keputusan itu, telah lebih didahului musibah dan terjebur di samudera yang lumayan luasnya, meski dari petunjuk beberapa orang perempuan itu akhirnya bias naik ke daratan lagi. Sesungguhnya, masih ada lagi bagian lain dari mimpi itu, tapi sebagaimana kebanyakan mimpi ada pula yang sulit dibahasakan kembali dengan pikiran, apalagi bila telah lewat waktu. Ya, waktu terkadang cukup kejam mendzolimi alam bawah sadar. Atau jalan pikiran manusia saja yang seringkali tersumbat di bagian sisi lobus occupitalis yang tak bias membedakan mimpi dan kenyataan, justru pada satu titik penting terbangun dari tidur?[]

DELAPAN
INSPIRASI

Satu

BILA pagi itu ada pemandangan menarik di penghujung abad ini, maka terjadilah. Meski bukan yang paling spektakuler, namun itu terjadi di sebuah kurun waktu paling mutakhir sebabnya berabad-abad yang lalu memang memangpernah terjadi. Puluhan tahun sesudahnya juga menghiasi wajah kota ini. Bertahun-tahun lalu masih juga sering terjadi. Akan tetapi bisa diduga mengapa sekarang begitu unik dan terkesan gila romantika. Padahal itu bukan.
Ya, pagi itu Biru Lagit langsung mengayuh sepedanya, melintasi kota. Ia bermaksud melunasi janjinya pada dirinya sendiri. Lantas apa yang terjadi bila ia memancal sepeda butut kesayangannya. Tentu saja wajah kota seperti ibarat menggarami samudera. Tak banyak berubah di tengah hiruk pikuk zaman yang sudah menggila. Hanya Biru Langit sendiri yang bisa merasai bagaimana sejarah ini ada dalam dirinya?ia hanya melunasi janji dengan mencari sepotong manusia yang bisa jadi tiada arti bagi zaman ini?Pam. Betapa dengan semangat dalam dirinya itu ia pun mencari dirinya sendiri makna sejarah.
Asap dari deru kendaraan di jalan seperti angin yang berlalu dalam dirinya. Ketika dia melenggang di Simpang dengan mengangkat dagunya dan mendongakkan wajahnya, Biru Langit memandangi sebuah rumah sakit tua di seberang kanan jalan. Di situlah dulunya dokter pribumi Soetomo pertama kalinya menampung pasien-pasiennya. Entah mengapa ia menyaksikan dokar banyak hilir mudik di sepanjang jalan itu dan mendapati Darsam dan Robert Suurshof. Ia meluncur ke arah ELS.71) Barangkali maksudnya hendak meledek Minke yang dua tahun di sana tinggal kelas satu. Ia meninggalkan dokar dan memotong jalan tembus di kanan, sebelum akhirnya merapat di kiri jalan dekat pasar Pandegiling.
Entah mengapa, lagi-lagi otaknya merasa diajaknya terhenti dan batinnya merasa memiliki seorang kawan. Seniman tapi juga ilmuwan. Namanya Slamet. Dia seorang seniman musik. Atau lebih kerennya komponis. Dia pun diingatkan dengan Jean Maris, sahabat Max Tollenar, yang cacar karena keganasan perang Aceh. Tak Cuma cacat, yang membuat keduanya mengingatkan Biru Langit pada Slamet. Tapi juga diantara keduanya darahnya berbau Perancis. Jean Maris orang Perancis yang lantas jadi serdadu Belanda. Slamet beristri orang Perancis ketika belajar musik di sana. Sayangnya, hingga kini ia tetap memilih tinggal di gang sempit dekat pasar Pandegiling. Ketika melanjutkan sepedanya di Embong Malang, dalam hati Biru Langit hanya mengingat dengan satu pertanyaan. ?Jalan ini tampaknya sudah tak layak lagi menyandang nama Embong Malang.? Karena itu barangkali ia sulit mengingat satu pun peristiwa di jalan yang telah malang melintang lantaran suntuk oleh gang-gang yang tak karuan, sebelum sampai di pacuan kuda, tepatnya dekat pabrik es.
Biru Langit membanting arah sepedanya di gang-gang sempit berbau. Bahkan begitu rumit, iapun berkali- kali berputar haluan. Memotong satu dua jalan rel kereta api. Kemudian masuklah di gang tersempit di kampung itu. Begitu sempit, nyaris sempoyongan bila acap kali ada orang masuk, lantaran di kanan-kiri masih terpasang tiang jemuran penduduk kampung.
Ya, itu kunjungan kedua Biru Langit ke rumah mungil itu. Satu-satunya catatan yang tak pernah terhapus dari ingatannya tentang rumah itu karena bersebelahan dengan badan rel kereta. Apalagi kali pertama datang ke sana Biru Langit harus menembus kuburan, tanah, serta kali paling busuk di kampung yang kemudian diingatnya bernama Asemrowo itu.

Dua

WANITA tua itu, benar-benar tak bisa menyembunyikan ketuaannya. Kacamatanya, sisa rambut putihnya di bawah kerudung, baju kebayanya yang banyak menyediaakan tempat bagi peniti pelbagai ukuran dan pasti keriput kulit tangannya yang berkeliau.
Ya, bagi Biru Langit tidak ada yang terlupakan pada diri ibunda Pam. Demikian pula, sebaliknya, tak lama dia mengingat Biru Langit sebagai sahabat anaknya. Bahkan dia tak lupa Biru Langitlah kawan terbaiknya. (Jika belakangan berubah, tentu hanya mereka berdualah yang tahu duduk soalnya). Raut wajahnya yang dingin, bukti wanita itu banyak makan asam garam membesarkan anak-anaknya. Tak pernah mempertontonkan kesedihan (dan bahkan kegembiraan). Tak sempat pula memperlihatkan rautnya yang cepat berubah oleh kejutan, kekawatiran, apalagi merasa bersalah.
Pendeknya dia sosok wanita yang sering disebut-sebut orang Jawa sebagai sosok yang memegang teguh prinsip hidup ?Orang hidup ojo kagetan. Orang hidup harus selalu siap dengan yang terburuk. Ada banyak hal yang sudah terjadi sepanjang hidup sehingga kadang sesuatu hal menjadi biasa saja dibandingkan hal-hal lain.? Sebuah pesan hidup yang mengingatkan akan kata-kata dalam kitab Wulangreh: den ajembar, den momot lawan, den wengku, den kaya segara.72) Ya, suatu pandangan hidup yang sederhana tapi juga demikian rumitnya. Sederhana lantaran kata-kata demikian pendek ungkapannya tapi rumit oleh karena Biru Langit mengerti arti sepenuhnya. ?Manungsa tinitah luwih, apa ngaken raksa, mulya dewe saking Kang Dumadi.? 73) Ah, kedengarannya ada bahasa lain yang seringkali diucapkan orang. Tapi apalagi maunya bahasa Jawa yang kali ini. Entahlah, ini hanya soal kesan dan pesan dan raut wajah perempuan tua ibunda Pam.
Kedatangan Biru Langit pun tak membuatnya terkejut. Dengan sabar ia pun mendudukkan Biru Lanit dan mendudukkan perkaranya. Sebaliknya, justru Biru Langitlah yang dibuat terkejut wanita itu, ketika didengarnya kabar Pam Langit tak lagi pulang ke rumah. Ia pergi entah kemana. Tanpa kabar, tanpa berita. Selama bertamu, Biru Langit tak banyak bicara. Apalagi basa-basi. Demikian pula dengan wanita itu karena memang tak banyak yang bisa dibicarakannya. Beruntung, sepucuk surat penting telah membantu mengungkap perihal misteri laki-laki Pam. Dari ibundanya Pam itu, Biru Langit mendapati sepucuk surat panjang tertulis rapi dengan jari Pam, tanpa coretan. Hebatnya itu surat pertama dan terakhir yang tampaknya sengaja tidak hanya diperuntukkan ibundanya. Lebih tepatnya itu sebuah kartu ucapan terpanjang di hari lebaran sebagai permohonan maaf kepada siapa pun yang mau membacanya.
Beruntung pulalah ibunda Pam cukup mengerti dan sudi menyimpannya baik-baik surat itu di kopor tua terbuat dari seng. Setelah Biru Langit bermaksud meminjamnya untuk disalin dan berjanji mengembalikannya, beginilah isi surat itu dalam salinan Biru Langit:

Kami sekeluarga besar. Itu betul-betul kami rasakan waktu pernikahan Kang Darman, kakak nomor dua. Kami berkumpul dan bukan main riuhnya anak cucu ibu dan ayah. Aku masih teringat jelas karena sempat meminjami dasi sejam sebelum akad nikah Kang Darman. Sampai sekarang dasi itu belum kembali. Sudah pasti lenyap karena peristiwanya sudah tujuh tahun silam. Kecuali itu, rasanya semenjak itulah kami semua sudah merasa dewasa di hadapan ayah ibu. Adik terkecilku tujuh tahun lalu sudah kelas tiga SMA. Tentu saja kini telah bekerja. Bahkan tinggal dau dari kami yang belum berkeluarga. Pernikahan Kang Darman itu pun sudah jauh dilangkahi beberapa adiknya.
Keluarga kami sepuluh orang. Dua diantaranaya perempuan. Wajar jika karena kesibukan masing-masing kami baru dipertemukan kembali pada hari lebaran. Selain itu tidak lagi. Jadi lebaran itu hari yang amat istimewa. Tidak mungkin ditinggalkan. Tapi sekarang tidak lagi seperti itu. Semenjak pernikahan Kang Darman, bahkan ibu pernah cerita biu punya anak banyak agar besok sering ada upacara pernikahan.
Itu sudah berjalan beberapa tahun terakhir semenjak pernikahan kakakku. Aku teringat betul dan aku yakin keluargaku lainnya juga berbuat hal yang sama. Waktu itu suasana memang menyentuh melihat acara pernikahan Kang Darman. Kang Darman seperti orang yang sekian tahun lamanya baru sembuh dari sakitnya. Kang Darman menikah pada usia yang tergolong tua dan memperoleh gadis yang amat muda. Bukan karena itu saja, sepanjang usia tua Kang Darman semua tahu dialah yang paling banyak menyusahkan orangtua. Khususnya ibu kandung kami. Sepertinya kakakku itu orang sakit. Sebetulnya tidak. Buktinya, dialah yang punya keberanian tinggi untuk memilih hidup yang kukira sebetulnya punya resiko besar. Sehabis menikah dan punya anak satu perempuan, Kang Darman merantau ke negeri jiran, Malaysia sampai sekarang. Kata itu keberanian itu sudah nampak pada masa dia masuk taman kanak-kanak. Kang Darman itu pekerja keras dan tentu saja sayang ibu. Hanya ibu yang tahu. Bapak sendiri tidak pernah menghadapi persoalan seperti yang dihadapi ibu. Itu perbedaan ibu dengan bapak. Bapak itu orang yang terlampau dihormati, tidak pernah Kang Darman membantah atau main bentak seperti yang dilakukannya terhadap ibu.
Semenjak pernikahan Kang Darman, seoalah semuanya menemukan jalan terang. Segala kenangan pahit seolah terhapus dalam sehari. Aku masih ingat bagaimana barang-barang perabotan itu hancur oleh kapak Kang Darman, bagaimana padi di sawah ludes dijual tengkulak tanpa sepengetahuan ibu dan bapak. Suatu ketika ibu kepergok nyaris menenggak racun serangga karena ulah Kang Darman itu. Itu cerita lama yang lenytap oleh peluk cium ibu pada Kang Darman di hadapan bapak. Aku tidak tahu betul bagaimana perasaan ibu dan Kang Darman, karena aku tak betul-betul tahu apa yang terjadi. Aku hanya sempat meminjami dasi waktu pernikahan Kang Darman. Itu kuingat betul. Sudah sekian tahun tidak pernah ia ganti karena semenjak kepergiannya ke Malaysia dia tak pernah kembali. Hanya beberapa lembar surat dan wesel yang dia kirim bua mertuanya, tidak buat ibu. Alasannya, Kang Darman memang tak sanggup untuk membuat surat kecuali ucapan-ucapan salam, kecuali oleh karena ibuku yang tak tahu baca-baca. Ibu tahu betul itu. Tapi yang dipikirkan ibu, satukali saja kiriman uang tak pernah jatuh ke tangannya. Itu yang membuat dia curiga. Lagi pula sudah sekian tahun. Padahal dia meninggalkan anak darah dagingnya di tempat ibu. Bila ibu memuntahkan marah, siapa saja bakal kena, tidak kecil tidak pula dewasa. Aku bisa bayangkan andaikata tak seoarang pun di sebelah ibu kecuali bapak. Bapak akan menanggapinya dengan lelucon-lelucon, satu hal yang paling ibu benci dan tak hilang dari kehidupan bapak. Rumah yang Cuma dihuni sepasarang orangtua jadi riuh membicarakan anak di rantau.
Tahun-tahun berlalu dan itu sudah berjalan sepanjang tahun. Karena itu lebaran tahun ini tidak bakal ada yang istimewa. Tak ada surat, wesel apalagi kartu ucapan. Bapak-ibu sendiri tinggal ditemani adik perempuan kami. Kemudian bapak-ibu sudah tak kuat lagi pergi sembahyang ke masjid. Hanya dalam hati saling memintakan maaf. Tidak sempat meninggalkan rumah untuk bersilaturahmi. Hanya si bungsu, adik kami satu-satunya, harapan untuk menutupi itu semua. Sungguh, aku tidak tahu bagaimana perasaan sesungguhnya bapak dan ibu ditinggalkan anak-anaknya. Hanya kenangan masa-masa kecil anak-anak yang menghiasi hidupnya?terakhir dia cium pipi Kang Darman sebelum pergi ke Malaysia cari kerja. Sampai membuat rumah, sebagian juga dibelikan sapi. Dan membiarkan bapak ibunya menunggu hasil sepetak sawah warisa. Ujian apalagi sebetulnya yang dilupakan Tupah pada keluarga kami.
Ibu pernah menangis dan aku memergoki ibu menyembunyikan air mata meratapi anak hilang di rantauan. Semenjak itu aku seperti dihidupkan lagi untuk mencintai ibu dan mengutuk kakak-kakakku yang tinggal di Jakarta, misalnya. Jakarta memang tempat yang jauh. Orang bilang jarak antar kota tak mengubah rasa cinta. Bagi ibu, tidak. Cinta ibu tanpa kabar. Jika ibu hendak menyiapkan kebutuhan puasa dan lebaran, ibu sendiri pergi ke pasar. Tak perlu menunggu uluran tangan dan kiriman kakakku. Apalagi orang lain. Sampai betul-betul biasa di mata ibu. Setidaknya, ibu tak pernah mengeluh di hadapanku meskipun aku kerapkali certa soal dasi. Aku perlu menjelaskan pada ibu bahwa dasi memang soal sepele, tapi yang perlu kutegaskan adalah rasa kasih sayang yang sedikit itu pada Kang Darman yang dulu ibu sering menyebutnya durhaka. Itu yang mau kutunjukkan pada ibu. Itu pun aku belajar banyak dari naluri-anak-anak karena memang hanya itu yang aku bisa. Perhatian semacam itu yang kata ibu tak pernah dipinjam saudaraku yang lain. Mereka saling sibuk dengan urusannya sendiri dengan keluarganya dan anak-anaknya sendiri pula. Sampai tak pernah menyempatkan diri untuk menjenguk bapak dan ibu di hari lebaran sekalipun. Ibu tidak pernah terima kabar apakah alasan tak kebagian tiket kereta atau memang tak sanggup menyisakan uang untuk pulan, jauh lebih bisa diterima asalan Kang Darman di Malaysia. Jauh dan sedang cari uang.
Suatu ketika ibu berniat mengganti dasi yang aku maksudkan. Aku tersinggung. Aku menolak dan aku tak bermaksud agar ibu berbuat seperti itu. Barangkali ibu terganggu juga dengan ulahku. Aku hanya mohon maaf pada ibu dalam hati. Lantas membiarkan ibu sendirian pergi ke pasar mencari buah kurma kesukaannya. Itu yang terpenting bagi ibu, katanya. Aku sudah terbiasa melihat ibu sendiri. Karena itu aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya bisa melukis kartu ucapan sepanjang ini. Tidak cukup aku mewakilkan maafku hanya dengan dua kalimat majemuk yang sudah terlampau sering diucapkan orang. Tidak ada artinya. Di bagian akhir kartu ucapan aku membubuhkan tanda tangan. Di sini banyak buah kurma ibu. Tapi aku tak bisa beli buat ibu. Sebab di sini pula banyak berita-berita besar yang tak ingin kuceritakan buat ibu. Aku tulis kartu ucapan ini tepat pada saat banyaknya karyawan di PHK, tenaga kerja dipulangkan dari Malaysia. Tapi percayalah Kang Darman tak akan pulang. Demikian pula dengan yang lain. Salam buat ibu. Mohon maaf lahir dan batin.

Dari putramu.

Tiga

EDAN! Masih saja tak berubah kelakuan si pemuja setan satu ini. Makin menyebabkan Biru Langit mendapat satu lagi julukan baru padanya?si bunglon. Betapa banyak cingcongnya, tetap tak mau pergi dari mulutnya, hanya untuk menyelamatkan dirinya. Seperti inilah gambaran si Pam saat berdiskusi dengan kawan-kawan di kampus soal apa saja dari masalah politik, ideologi sampai soal wanita. Berputar-putar tanpa menjelaskan sumber persoalan yang sebenarnya. Bahkan sekarang ia meninggalkan bangku kuliah tanpa kejelasan batang hidungnya.
Betapa dalam suratnya ia banyak mengutuk saudaranya yang hilang, tapi sesungguhnya Pam sendiri telah menunjukkan sikap bahwa dirinya juga tak mau pulang. Barangkali ini dia lakukan karena terlalu banyak membaca buku-buku dan dia memilih racun yang direguknya dari buku-buku itu.
?Kasihan sekali kau bunglon! Kau bisa jadi orang yang sangat berbahaya, tidak bagi engkau sendiri tetapi juga bagi orang lain.? Begitu Biru Langit bicara dalam hati.
Lepas dari itu Biru Langit harus jujur mengakui banyak dari ungkapan si bunglon itu yang memikat hatinya. Terutama gaya tulisannya yang banyak kejutan-kejutan, kompleks dan berisi. Kedua, meski sebatas kata, tampaknya si bunglon itu tahu benar bagaimana menggugah rasa cinta terhadap sang ibu. Sesuatu yang tak ada pada Biru Langit. Karena itu, diam-diam Biru Langit mengaguminya sambil meratapi dirinya, yang tak lagi memiliki ibu. Ibunya kini telah berada di tempat yang jauh, mati karena nelangsa sejak ayahnya terbunuh oleh peluru penembak misterius. Inilah untuk kali pertama di benaknya timbul keberanian melintaskan masa lalunya yang hitam menghitam. Lalu, melintaskan kembali hidupnya bahwa ternyata dirinya masih tetap manusia. Dan sedikit dalam dengan mulai tumbuh sebuah pengetahuan bagaimana ia bisa mulai mencintai ibu dan bapaknya.
Ironisnya, itu semua ditumbuhkan oleh sahabatnya yang telah hilang dalam sebuah surat terakhirnya. Ya, suatu pesan tanpa alamat. ?Lagi-lagi kau membuatku marah, gelisah, kasihan, Bunglon! Tapi bila kelak kutemukan kau, aku tak segan menyirami engkau dengan ucapan terimakasih,? kenangnya.
Tentang bunglon ini Biru Langit mendapati kata kunci di kamus: Bunglon Sisir, hidup di pohon yang sebarannya di sekitar hutan Maluku dan Irian Jaya?Ah, cocok dengan warna kulit Pam yang kehitam-hitaman. ?Betapa suratmu makin mencerminkan kehidupanmu tak jauh dari milikku, jalanan adalah rumahmu,? Batin Biru Langit main bergejolak. Ia tak yakin, bakal pergi terbuang di sisi jalanan, tertiup angin dan asap debu kendaraan bermotor. Pikiran itu kian sabar mengikuti ayunan kaki pada pedal sepeda pancal.

Empat

SANGAT kusut pikiran Biru Langit, diserbu habis isi surat terakhir Pam. Ia seperti diburu-buru masa lalunya dengan perempuan ibunya. Setiap kali menyeberangi jalan, seolah giliran badai jalanan yang membebani kayuhan sepedanya. Ia menjadi tak kenal waktu. Satu-satunya yang diingatnya hanyalah beban pikirannya, bahwa ia kini merasa kembali menjadi manusia, punya orangtua. Mengenang kembali ruh ibunya, semangat hidupnya, penderitaannya, janjinya, cita-citanya, bahkan kesiapan menghadapi kematiannya. Helai demi helai terpajak jelas di hadapannya.
Pada kesempatan lain, masih di atas sepedanya dan di jalanan, helai-demi helai masa depannya tergambar jelas pula. Disadarinya, masa depan tentu tak lagi seperti masa lalunya, setidaknya atas pantulan spirit hidup dan mati ibundanya. Betapa dulu peristiwa berlalu dan dirinya terbenam di dalamnya. Entah, kekuatan apa dan dimana letaknya dalam hidupnya yang kemudian menyelamatkan dirinya seperti sekarang ini.
?Ya, sesuatu telah terjadi. Tetapi sesuatu juga telah menjadi diriku hingga tumbuh seperti sekarang,? pikirnya tanpa henti. Jalan pikirannya pun kian mendesakkan untuk terus merenungkan siapa di balik ini semua. Kekuatan dirinya sendirikah? Kesabaran? Penderitaan? Keseriusan? Keluguan? Terang saja tak menemukan jawaban karena sengaja, laki-laki ini masih menutup satu kemungkinan yang mengunci segala pikirannya: Tuhan. Bukan karena apa, lantaran dalam hitungan menit atau jam, ia masih belum lepas dari angka satu dari kesadarannya sebagai manusia. Pendek kata, Biru Langit belum yakin seratus persen dengan dirinya sendiri. Boleh jadi perasaan ini, pikiran seperti ini cuma gurauan salah satu metabolisme tubuhnya sendiri.
Ya, terus terang, mumpung ini sebuah kesempatan, ia tak mau spekulasi diganggu oleh kekuasaan Tuhan. Ia tak mau ambil resiko, bila sekilas saja mampir di benaknya, pikirannya bisa berhenti mendadak dan mengagetkan reaksi tubuhnya, lalu berhentilah ia mengayuh sepedanya. Betapa mengerikan. Sepintas, itu semua tak terjadi. Roda sepeda tetap berputar. Mulailah Biru Langit merasa menjadi manusia.
Ya, ia memulai jadi manusia tepat pada hari Minggu. Ironis, justru terjadi tatkala banyak orang sedang memilih untuk harinya istirahat, bersenang-senang, atau waktunya dibuang. Karena itu rasanya, pada hari itu ia tak pantas berhadapan, apalagi, berurusan dengan orang. Setidaknya, ia harus tahu memilih orang, sesuatu hal yang amat sulit dilakukannya bila sedang di jalanan. Padahal bukankah Pam baru saja mengingatkan dirinya juga orang jalanan? Jalanan baginya seperti denyut jantung. Atau sebaliknya, denyut nadinya hidup laiknya hiruk pikuk jalanan. Inilah, gairah baru dalam diri laki-laki itu. Meski sebetulnya yang tepat adalah inilah kesadaran baru akan gairah hidupnya yang dinamis seperti mesin waktu. Ajaran ibunya memperkuat kesadaran itu. ?Orang miskin tidak boleh lelah, tidak boleh capek. Orang miskin tidak boleh mengeluh.? Maka dari itu, hari pertama hidup, menjadi siksaan bagi Biru Langit. Betapa meski demikian ia tak boleh menangis seperti bayi keluar dari rahim. Karena dia sedang tidak telanjang. Bedanya lagi bila bayi baru lahir berbaur antara malu, takut, bangga, sedih sehingga jadilah tangis, tidak demikian dengan Biru Langit. Mungkin ada pada dirinya perasaan malu, sedih, bangga, takut. Tetapi ia telanjur dibekali dengan pikiran. Karena itu satu-satunya jalan harus berpikir dan bukan menangis. Sebab itu untuk selanjutnya, ia punya nyali untuk menghentikan laju sepedanya, akibat satu kegiatan penting: Berpikir tentang tujuan hidup, maksudnya langkah berikutnya sesudah detik-detik menjadi manusia. Sejenak ia memeras otak, beberapa kata diputar-putar: manusia-hidup-hari minggu-rekreasi. Ketemulah jawabannya: Rumah Sakit.
?Ya, sesuatu kesukaanku yang telah lama tak kulakukan harus kulakukan hari ini. Tamasya ke rumah sakit,? Biru Langit girang memperlihatkan gairahnya yang berkobar. Sudah pasti hasrat gembiranya, ini berbeda dengan apa yang terjadi pada keluarga priyayi macam Sulistyorini.
Ia menatap matahari dan mamastikan sudah nyaris meninggalkan siang. Ia juga memastikan jam-jam seperti ini di hari libur, Sulistyorini asyik bermain ice sceating di Plaza Tunjungan, bersama gadis-gadis atau anak kecil yang menjerit-jerit kegirangan. Benar-benar anak papa mama. Betapa si Sulistyorini ditemani mamanya, Puri Wangi sambil menyantap kentang goreng. Atau ditinggal papanya si Profesor bedah plastik itu menikmati gado-gado di sebuah caf? di Hotel Garden Palace. Ah, Biru Langit mengaku tahu kebiasaan itu saja, merasa dirinya sedang merugi sebagai manusia jalan pikirannya kembali berputar, mengapa ia memilih rumah sakit, tidak panti jompo, panti asuhan, atau rumah sakit jiwa? Jawaban sementara karena di rumah sakit segala jalan menuju hidup dan mati terasa gamblang. Ada orang sehat yang hidup, ada orang mati, ada banyak yang setengah mati. Tak sedikit yang putus asa meminta mati, tapi masih hidup, lalu yang berjuang untuk agar tetap hidup juga lebih banyak lagi. Betapa fantastis. Yang bersedih, yang gembira, berduka, dan bahagia, raut-raut wajahnya amat gampang berbeda. Tampaknya inilah dan disinilah pelajaran pertama tentang hidup yang amat penting bagi siapa saja. Sayang hanya sedikit saja yang menyadari hal ini dan Biru Langit salah satunya.
Tentang rumah sakit jiwa, sebetulnya menarik juga, karena itu ia pun timbul keingintahuan, kelak bila telah datang masanya akan berkunjung ke sana. Untuk saat ini pertanyaan pertanyaan sebatas membentur pagar besi yang tertutup rapat di rumah sakti jiwa di Menur. Entah mengapa. Barangkali karena, rumah sakit jiwa adalah sebuah dunia manusia yang lain. Atau lebih tepatnya, tempat manusia hidup dengan cara pandang yang lain. Liyo-liyaning liyan.
Ah, ini semua masih asumsi-asumsi saja. Tetapi, saat ini yang tengah terjadi, Biru Langit telah berada persis di pintu belakang Rumah Sakit Karangmenjangan.74) Ia tahu apa yang hendak dilakukannya, membuka lebar-lebar matanya, kuping, hidung, pikiran dan perasaannya. Bahkan naluri, imajinasi, persepsi dan intuisi dan interpretasinya. Karena dengan cara itu, ia bisa merasakan jarak manusia dengan ruhnya sendiri. Bahkan pori-porinya pun ikut membuka diri. Sebuah pertanyaan menyerobot masuk dan tentu saja tak terjawab pasti, mengapa ia mulai tumbuh kesukaannya untuk masuk lewat pintu belakang yang tak lain adalah kamar mayat? Barangkali saja jawabnya ini karena ada sisa darah Jawa mengalir dalam dirinya sehingga ia cenderung main belakang yang sepele seperti dirinya hendak masuk dari belakang. Bila ingin di depan, tentunya harus mencuri kesempatan, menyerobot setiap hambatan untuk bisa ke depan. Mungkin. Bisa jadi, ini sebuah kiat Biru Langit untuk mengusir rasa takut terhadap hawa kematian. Betapa kematian di rumah sakit berbeda dengan di luar rumah sakit. Tidak ada doa-doa, bacaan-bacaan yang justru mencipta kengerian. Tidak ada nyanyian atau dupa atau selamatan yang menakutkan. Kematian di rumah sakit ini menjadi suatu hal yang biasa. Satu-satunya yang serupa dan itu hal yang menyenangkan adalah ciri warna putih yang menjanjikan sebuah jalan yang bening. Karena itu yang mencemaskan, mengapa masih ada orang suci yang beranggapan mati di rumah sakit mengurangi kesempurnaannya dibanding bila mati di rumah atau tentu saja di jalanan? Sebaliknya hal lain yang membedakan menyebabkan jurang perbedaan mati di rumah sakit dan di luar rumah sakit adalah, formalin 75) alias pengawet.
Memang menjelang masuk kamar mayat, terlebih bila dijumpai kereta dorong yang mengangkut jasad orang, setiap yang berpapasan senantiasa menutup hidungnya, berjalan cepat. Sebagian yang lain memilih berpaling atau berjongkok di sisi lorong dan menahan isi perutnya yang hendak ambrol karena muntah. Ia heran, mengapa isi tubuh orang tak demikian bisa diajak kompromi. Bukankah, barangkali inilah yang tepat sebuah inspirasi? Lantas dijawabnya sendiri soal inspirasi ini oleh Biru Langit. Dengan demikian, inspirasi menurutnya adalah setiap tindakan berani untuk melakukan tindakan kreatif, dan penghuni rumah sakit boleh berbangga karena ini.
Ah, coba bayangkan bila pemilik warung dan langganannya dekat kamar mayat itu sedang bekerja, menyantap makanan dan menenggak minuman. Kenikmatan tampak benar-benar milik mereka, tanpa menutup hidung, mata dan telinga. Pantaslah mereka awet muda, karena mereka pikir bau formalin menjadi suplemen baru bagi hidupnya.
Tak kurang menarik, pemandangan di lorong-lorong rumah sakit seperti pasar penuh sesak sosok-sosok yang begitu asing sampai tak terdefinisi satu persatu. Kaya miskin berbaur, kakek-nenek bercengkerama, laki perempuan, anak-anak maupun dewasa, bahkan begitu asing sampai sulit mengenali di antara mereka ini manusia jahat atau baik, hitam putih, sawo matang, bahkan antara malaikat dan jin. Mereka berkawan baik karena nasib. Mereka sosok yang senantiasa sabar menunggu dan menghargai waktu. Tiada saat yang tepat mempelajari hidup ini selain pada tingkah polah mereka. Ini mengingatkan pada sebuah sajak Alexander Pope, yang paling tepat untuk mempelajai kemanusiaan adalah manusia itu sendiri. Kiranya, cukup untuk itu. Tapi betapa di lorong itu lebih dari cukup ada malaikat, jin dan bukan mustahil Tuhan ada dimana-mana. Bohong kata orang bila tempat ini paling nyaman. Terbukti justru lorong-lorong ini tempat segala kegaduhan?….dengung lebah lebah menyerupai tempat ini. Salah besar bila rumah sakit tempat yang tepat bagi manusia untuk istirahat. Sebaliknya, justru lokasi palint membutuhkan energi besar untuk mencari hidup. Begitu besar makna itu di sana, sampai seringkali sukar membedakan orang sakit dan yang tidak sedang sakit. Mereka memilih untuk sibuk berbagi.
Setidaknya pemandanganitu sering dijumpai di lorong-lorong rumah sakit. Para pembezoek atau penunggu banyak menggelar tikar berbagi rasa dengan lainnya. Mereka yang sakit dengan masih memegangi infus di tangan atau dengan kaki atau bagian kepala dibebat perban, mencuri waktu berkeliaran di sana. Lalu berceritalah tentang penderitaan mereka bercerita untuk mengusir kesedihan. Mereka bercengkerama hanya untuk menemukan saat yang tepat agar bisa menertawakan dirinya, agar orang lain mau memaksakan dirinya menertawai bahan bicaranya sebagai lelucon. Karena itu leluconlah barang termahal di tempat itu selain tentu saja biaya di loket-loket rumah sakit.
Yang menakjubkan betapa lorong-lorong itu seperti kotak mainan anak-anak semasa Biru Langit kecil. Masih ingat, di kepalanya saat bermain gobak sodor dengan anak-anak dusun. Berbelok ke kanan lalu ke kiri, ke kanan lagi, kiri lagi. Sempit, dengan berjubelnya orang. Berjalan tanpa hati-hati, tanpa bisa membawa diri hanya akan menuai pergunjingan sebagai manusia kebingungan. Ya, sesuatu yang masuk akal karena di rumah sakit ini segalanya seolah berjalan dengan kepastian. Ragu-ragu berarti malapetaka. Orang yang paling berjasa menganjurkan hidup seperti ini tak lain adalah dokter (semoga tidak keliru dan entah mengapa sejenak pikiran Biru Langit meloncat ke profesor bedah plastik). Tentu saja dalam hati Biru Langit mengagumi profesor. Tapi entah mengapa berada di rumah sakit ini pikirannya diaduk-aduk.. Mengintip di sal, ia terhimpit dengan ruangan sempit pasien. Tapi ia tak punya perasaan apa-apa tatkala membuang pandang ke keluasan kebun tempat beberapa ekor menjangan dibiarkan bebas berkeliaran.
Satu-satunya alasan dirinya memilih tak punya perasaan apa-apa karena sedetikpun Biru Langit tak ingin mewakili perasaan menjangan di rumah sakit ini. Ia harus tetap sebagai manusia. Menjadi manusia di antara orang-orang di sini sama sekali rasanya berbeda bila sedang di luar sana. Satu-satunya yang masih serupa dengan dunia luar, di sini pun masih ada kelas-kelas menengah, atas atau bawah. Semoga ini hanya benar-benar perkara isi kantong mereka. Lebih dari itu kenyamanan yang terjadi di luar sana betapa sebuah penyakit, karena di tempat ini sebagai ajang paling tepat guna melatih nyali. Teriakan, tangis sedih orang jadi biasa. Bila sedang tepat waktu berkunjung ke sana pasien yang tak tahan rasa sakit harus melempar suaranya keras ke udara, sebab tak diizinkan menyimpan dendam pada dokter dan birokrasi rumah sakit. Bila anggota keluarganya tak berhasil diselamatkan, tak ada laranganuntuk meledakkan tangsi. Lalu jerit menyayat anak-anak yang risih kedengarannya tak kurang memekakkan. Karena itu bila ada yang belum pernah dengar itu semua, atau kurang yakin dengan nyalinya, rumah sakit adalah tempat yang tepat. Tapi itu belum seberapa, bila waktunya tepat pasti menjumpai raungan sirine ambulan di pintu gerbang disusul kemudian derit kereta dorong, tak berapa lama tubuh hancur korban kecelakaan dikeluarkan dari mulut ambulan. Terlihat tulang-tulang yang remuk bercampur pasir dan dari kepalanya menganak sungai darah segar beberapa cabang. Seperti kecap di mangkuk soto dan menetes di meja makan. Tak berapa lama lagi tiba ambulan entah yang ke berapa. Dari mulutnya menyembul tubuh rusak berbau tahi. Daging-dagingnya sebagian terjatuh di paving merah jingga. Masih segar bersebelah dengan pedagang sate bakar yang menaburi bubuk kelapa muda. Karena begitu banyak sepatu dan sandal melintas, daging itu pun cepat gepeng dan mengering persis dendeng.
Begitulah di tempat ini begitu banyak menyimpan cerita, perjuangan, kekalahan maupun kemenangan. Manusia melawan menusia, orang bertarung dengan mesin, tubuh berperang dengan benda mati lainnya. Bahkan manusia melawan binatang pun atau yang bentrok dengan jin pun ada di tempat ini. Perihal dua yang terakhir ini Biru Langit pernah mengikuti salah satu ceritanya. Kurang lebih seperti ini: Semula seorang lelaki hendak ke jalan besar, karena rumahnya di pedalaman, lantas ia harus menyeberangi areal perkebunan?entah milik siapa. Celakanya, itu dilakukannya pada malam hari. Saat langkahnya masih dalam hitungan jari, tiba-tiba ia menginjak seekor binatang yang langsung mereaksi dengan menggigit salah satu jarinya. Dialah seekor ular kobra yang kemudian jadi musuhnya. Meski si kobra itu cepat melarikan dirinya, begitu laki-laki itu melompat kaget, kobra itu telanjur menanamkan racun dalam darah laki-laki itu, akhirnya cacat kakinya seumur hidup. Ia selamat berkat berpuluh-puluh serum kuda. Jiwanya yang terancam kobra tertolong berkat jasa kuda. Sejak itulah laki-laki itu jadi pengagum kuda dan amat membenci ular.
Berikutnya, Biru Langit harus cerita pertarungan manusia dengan jin yang harus berakhir di sal rumah sakit. Laki-laki itu semula bekerja di sebuah pulau kecil dan terasing. Suatu kali ia terjatuh dan terjerembab tak sadarkan diri. Entah bagaimana kejadiannya, sadarnya terjadi juga datang selama berbulan-bulan. Bahkan tubuhnya lunglai dan matanya melotot tanpa kepastian arah pandang. Orang kampung menyebut kerasukan jin jahat. Tapi dokter memvonis penyakit lain di salah satu aliran darah menuju otaknya. Kesimpulan itu diambil setelah melalui foto CT Scan. Sebuah benda super kecil jelas terlihat dalam darah menuju otaknya. Fatalnya, selama berbulan-bulan laki-laki itu meski kesadarannya mulai pulih, ia tak bisa memastikan arah pandang dan bicara sepata kata saja tak bisa. Satu-satunya yang luar biasa terjadi di sal rumah sakit itu hanyal jin dan kesabaran istrinya. Sang istri seperti bertubuh ganda, ia harus memandikan, menyelimuti, menyuapi sang suaminya yang ia percaya di situ jin itu bersemayam. Karena tak pernah putus asa, selama berbulan-bulan sang istri mulai diserbu kenyataan lain. Dia jadi jarang mengurus dirinya dengan benar. Selebihnya mulai tumbuh keragu-raguan antara mengurusi suaminya ataukah mengenakkan istirah jin dalam tubuh suaminya. Satu-satunya yang mengakhiri cerita ini, laki-laki itu mati tanpa ada setetes pun airmata. Inilah kematian paling menakjubkan di mata Biru Langit. Betapa hidup, cinta, kesedihan, kasihan, kesabaran, putus asa, sama sekali tak punya arti yang lain di tempat ini. Bahkan kematian di rumah sakit ini, betapapun orang suci menilai sebagai tidak sempurna.
Hari menjelang petang, karena matari telah condong ke barat. Tentu ini petaka bagi Biru Langit, karena berarti hari Minggu keburu akan berakhir. Ia masih harus memutar otak menjadi manusia?berpikir tanpa istirahat. Cepat saja ia temukan jawaban. Karena itu ia tahu tujuannya: Profesor Bedah Plastik! Dialah sepengetahuan Biru Langit orang satu-satunya dalam benaknya yang tak mau berhenti berpikir. Seperti pengakuannya sendiri. Selain itu, betapa dirinya harus pula melunasi janjinya ke Dharmahusada. Karena itu meski jarak Karangmenjangan-Dharmahusada bisa ditempuh beberapa menit saja, dengan bersepeda Biru Langit harus tetap menjaga pikirannya. Maksudnya tak boleh sedetikpun berhenti, paling tidak bisa mengikuti laju berputarnya gigi-gigi roda sepeda.
Dalam hitungan detik, Biru Langit cepat melintas di kawasan elit itu. Bisa diduga mengapa pedalnya dikayuh lebih kuat agar lajunya, lebih kencang. Tak lain sesuatu telah menakutkan dirinya. Ia takut pikirannya tersedot habis berkat rumah-rumah orang kaya itu?satu dari sekian banyak penyakitnya. Ya, bila berhadapan dengan kekayaan, seringkali pikirannya justru buntu. Bahkan untuk mengingat kediaman kekasihnya, Sulistyorini saja, dirasa otaknya tersendat-sendat. Karena itulah ia memilih untuk jarang sekali bertandang.
Begitulah ini kali kedua Biru Langit ke sana. (kali pertama datang hanya masuk ke pekarangan rumahnya) ia harus memutar ingatannya. Bila sesampai di bawah tiang-tiang listrik tegangan tinggi, jika memutar haluan dengan berbelok ke kanan, itu kebiasaannya kalau hendak ke perpustakaan atau menonton pemeran, pertunjukkan di PPIA.76) Sebelum memutar haluan, bila hendak ke rumah besar profesor bedah plastik itu, ia harus berbelok ke arah kiri.

Lima

KEDIAMAN sang profesor bedah plastik itu lebih menyerupai istana ketimbang rumah orang biasa. Seperti berkali-kali profesor itu bila bicara sebagai manusia. Ya, pendapat ini cukup kuat apalagi didukung argumentasi profesor saat pertama kali bertemu, bahwa hanya rajalah yang berhak mendiami istana. Tapi sejak dari pintu pagar, dua buah tiang besar, halaman yang luas, pintu jati dari ruang tamu berundag yang maha luas layak untuk disebut kediaman seorang raja. Yang membedakan hanyalah ruang tamu itu tak ada sama sekali buah lukisan, tampak sekali profesor memang bukan pemuja seni, apalagi patung, atau piano. Yang mencolok kebanyakan perkakas yang berukuran besar, meja besar, kursi besar, almari besar, bersebelah dengan rak tinggi tempat buku-buku bersampul tebal.
Lagi, astaga! Lampu gantungnya di langit-langit berkubah itu bersinar seperti bintang-bintang saja. Menyaksikan istana dan dirinya telah terkurung di dalamnya, penyakitnya perlahan kambuh. Otak dan hatinya serasa hendak membeku. Fatalnya, justru tepa pada saat hati dan otaknya mengeras seorang permaisuri dan putri raja keluar dari peraduannya. Gaunnya sangat indah. Benar-benar Biru Langit kini melihat wanita ibunda Puri Wangi dan putrinya Sulistyorini, dari kejauhan keduanya seperti terpaut sedikit saja usianya. Setelah basa-basi, ibunda Puri Wangi mempersilakan Biru Langit berbincang dengan putrinya, sambil menungguProfesor Maryuhan Kurnia tiba.
Ah, betapa dari tutur katanya, Puri Wangi itu perempuan yang amat lemah, meski kadang-kadang dibalut kesopanan. Betapa kelemahan itu dia tunjukkan kepada tamunya justru pada saat di kediamannya sendiri, di istananya sendiri . Ya, banyak misteri makin terkubur di istana ini. Keanehan demi keanehan tertangkap pikiran Biru Langit yang tertolong oleh penyakitnya bagai anak ayam menginjakkan kaki di balai-balai.
?Kenapa pikiran kamu kacau seperti ini, Biru Langit?? Sulistyorini menghentikan lamunan tamunya itu.
?Oh ya? Bagaimana kamu tahu? Aku sedang merenungkan perangai mamamu. Kasihan dia, di istana sebesar ini jiwanya lumpuh dan tunduk pada kekuasaan papamu,?
?Ah, baru beberapa kali bertemu, kaum punya nyali menyimpulkan begini macam, Biru Langit,? giliran Sulistyorini dikagetkan pengakuan Biru Langit.
?Aku hanya mencoba menangkap senyum berat dan sorot mata ragu-ragu ibunda Puri Wangi. Tidak lebih dari itu,? Biru Langit menyakinkan.
?Kamu berbakat jadi pembual. Tapi entah mengapa aku ya cukup suka dengan gaya analisismu.?
?Itu kebanyakan tabiat wanita. Jujur saja aku tidak suka. Aku hanya ingin, bila benar itu terjadi pada mamamu, aku tak ingin kamu mengalami hal itu.?
?Maksudmu?? Sulistyorini panasaran, entah karena kurang jelas ataukah sekadar minta Biru Langit bicara lebih banyak.
?Aku serius dan tidak sedang ingin jadi pembual.?
?He, kenapa kau melotot seperti itu? Maksudku, kau kan seorang pengarang. Eh, siapa tahu kau sedang membuat karangan??
?Betul aku pengarang. Tapi salah bila kau melihat setiap karangan itu hasil bualan. Salah besar.?
Mendapat serbuan hebat seperti itu, Sulistyorini takluk. Ia diam tepekur. Diam perempuan itu, mendapat arti lain di kepala Biru Langit. Rupanya itu bukti perempuan itu menyerupai tabiat ibundanya. Di kepala Biru Langit dia inginkan terjadi saling serang. Keinginannya berhenti di tengah jalan, justru di kediaman, istananya sendiri. Beruntung diamitu tak berlangsung lama. Dengan tertatih-tatih Sulistyorini kembali menyakinkan bahwa dirinya tak ingin kelucuan terjadi bila terdengan ibunda Puri Wangi, sementara mereka berdua bicara dengan nada serius. Bahkan terlampau serius.
?Tak ada kekonyolan paling konyol di dunia ini kecuali bila terjadi kelucuan tapi dalam bicara serius.?
Giliran Biru Langit mendapat pukulan hebat. Ia pun ganti diam tepekur. Meski ia tak tahu benar apa maksud kata-kata sulistyorini, dia coba renungkan dan pertanyakan bagaimana bisa ia mendapat ungkapan demikian dahsyat. Lama tiada pembicaraan. Juga pertanyaan. Beruntung, Sulistyorini menyelamatkan keadaan. Kini sebagai pemilik istana, ia benar-benar tak seperti ibundanya dengan senyum kecut dan sorot mata terpaksa.
?Ayolah kita bicara yang enteng-enteng saja. Bukankah ini hari Minggu??
?Misalnya soal apa??
?Kisah cinta.?
?Oh??
Dasar Biru Langit, kisah cinta yang ada di kepalanya tentu bukanlah kisah cinta murahanyang diecer di pingir jalan. Isi kepalanya langsung terisi dengan kisah cinta Saijah dan Adinda, sebuah kisah cinta paling agung sepanjang berabad-abad, yang di tangan Multatuli demikian menakjubkan. Biru Langit hafal betul dan oleh sebab itu ia nukilkan sedikit kisah paling tragis dan mengerikan hati itu untuk Sulistyorini.
?Pada suatu hari ketika pemberontak-pemberontak sekali lagi dikalahkan, ia mengembara di dalam desa yang baru saja direbut oleh tentara Belanda,jadi masih terbakar. Saijah tahu bahwa gerombolah yang dihancurkan di tempat itu, sebagian besar terdiri dari orang Banten; ia berkeliling seperti hantu di rumah-rumah yang belum terbakar seluruhnya dan menemukan mayat ayah Adinda dengan lua kena kelewang di dada. Di sampingnya Saijah melihat ketiga saudara Adinda yang terbunuh, pemuda-pemuda, anak-anak mati, dan sedikit lagi ke sana nampak mayat Adinda, telanjang, teraniaya dengan cara mengerikan?
Ada sepotong kecil kain biru masuk ke dalam luka yang terbuka di dadanya, yang rupanya mengakhiri pergulatan yang dalam?? 77)
?Lho, kok cerita kamu begitu.? Sulistyorini protes keras lantaran tak mendapat kisah cinta yang diingini.
?Kalau yang kau mau aku ceritakan Romeo dan Julietnya Shakespeare, terang aku tak bisa. Itu kisah cinta paling kusuka karena selain digali dari cerita rakyat, juga kisah itu berakhir memilukan,? Biru Langit terus menyakinkan.
?Ah, kamu pemuda yang berbahaya.? Sulistyorini punkian menjadi sangsi.
?Kamu harus dengarkan penjelasanku. Begini: Setiap kisah cinta itu tentu menarik bagi kalangan muda karena di situ terungkap sebuah fase perkembangan fisik, mental maupun spiritual dan perlunya mengalami ketegangan-ketegangan. Ketegangan seperti inilah yang harus dicari oleh setiap individu, untuk menemukan suatu hal yang transenden bagi dirinya, semacam sandaran hidupnya. Kurang lebih begitu. Ya, sebagian dari mereka kawula muda punya semacam utopia, bahwa menceritakan kembali pengalamannya adalah juga termasuk sandaran,? kedengaran bicara Biru Langit susah dimengerti bahkan oleh dirinya sendiri karena pikirannya diganggu oleh hantu istana itu.
?Maaf bila aku kurang memahami kalimatmu,? perempuan Sulistyorini mendesak untuk mencari sebuah jalan.
?Nah, itulah maksudku. Saijah dan Adinda itu sebuah dunia tersendiri yang harus dimengerti, direnungkan untuk kemudian dibaca lebih kritis,? Biru Langit masih terdengar menaklukkan pikirannya sendiri. ?Dia bukan sekadar cerita. Dia bisa dimaknai, didialogkan teks dan konteksnya. Membaca kritis berarti memaknai karakteristik faktor sosio kultural cerita itu hidup, kemudian menginterpretasikan dan meresapi cerita tak lain dimaksudkan untuk menciptakan kondisi berpikir sejak usia muda, mencapai ketegangan dan senantiasa membentuk pemahaman baru tentang sebuah dunia.? Begitulah perlahan Biru Langit mulai menemukan pijakan.
?Lantas, ada apa dengan Cinta??
?Ya jelas konkretisasi dalam hal ini adalah persoalan cinta. Cinta adalah sebuah dunia juga. Cinta menjadi agung di tangan individu dan antar individu. Karena itu penyempitan terhadapnya adalah penyempitan terhadap individu dan antar individu. Di tangan Saijah dan Adinda, cinta menjadi hal yang hebat. Cinta itu sendiri dikoyak-koyak sampai pada diditk dimana cinta adalah kemanusiaan itu sendiri. Cinta di tangan Saijah dan Adinda tidak sekadar cerita rakyat sebagaimana cerita itu dihidupkan di Rangkas Bitung.? Inilah saat paling menakutkan, sebab ketika Biru Langit demikian serius berujar justru Sulistyorini mulai tertawa cekikikan. Lamat-lamat terngiang kembali tentang ucapan perihal kekonyolan, kelucuan dan keseriusan.
?Kukira kamu sedang mencoba merayakan saja. Hanya karena kau tak bisa bersikap romantis sehingga keluarlah senjata Saijah dan Adindamu itu,? kali ini tawa perempuan itu tak lagi sembunya-sembunyi.
?Oh tidak. Kamu salah besar jika kerangka romantismu itu yang populer. Padahal ini adalah bahaya besar, bagaimana sikap romantis menjadi paham besar dan menggejala. Ketahuilah pada dasarnya romantisme ialah paham yang idealistis yang melihat dunia kehidupan nyata manusia dari prespektif sebuah dunia ideal, seimbang, harmonis seperti dalam surga. Disinilah bahaya besar bila romantisme ini dipahami sempit hanya melahirkan para pemain cinta yang hanys bisa bermimpi, dininabobokan surga yang cenderung menjatuhkan pada selera populer. Begitulah romantisme populer hidup, berkembang dari bentuk budaya populer, disebarluaskan industri populer, menjual obat bius dan memberi harapan-harapan pada pemain cinta yang tidak melibatkan diri pada wacana sesungguhnya.?
?Tolong sampaikan padaku bahasa yang sederhana saja. Terserah kamu mau merayuku, menipuku atau hanya mendengar omong kosongmu saja,? keaslian Sulistyorini jadi mengemuka, ia memang perempuan tak sabaran.
?Aku hanya ingin mempengaruhimu untuk selalu hidup realistis, itu saja. Titik. Dan jangan terpukau oleh mimpi.?
Tampaknya perempuan Sulistyorini lebih bisa mengerti dengan penjelasan akhir yang singkat itu. Justru pikirannya bekerja sendiri tanpa dicekoki idiom-idiom yang gagah tapi rumit. Anehnya, Biru Langit terus menembakkan kata yang sudah bisa diduga tak lagi didengarkan kekasihnya.
?Ini persoalan kita bersama bagaimana menyalakan api romantisme di tengah maraknya berita kriminalitas yang tiap hari memenuhi halaman koran, penggusuran atas tanah, atas hak. Api romantisme yang tidak berpihak pada kesewenang-wenangan, pada keserakahan. Itu semua harus dihidupkan dengan penuh tanggungjawab yang besar.78)
Hanya basa-basi tuan permaisuri Puri Wangi yang justru menenangkan suasana. Edan benar ini hari. Boleh jadi ini terjadi sekali dalam pengalaman hidup Biru Langit betapa jiwa yang lumpuh mampun menggempur pertarungan dingin dalam sebuah istana penuh hantu pada hari Minggu. Terpaksa Biru Langit dan Sulistyorini harus tunduk menyerah kalah pada omongan tak berguna dari seorang wanita lemah seperti Puri Wangi. Tapi baiklah tak ada salah bila mendengar pesan tak penting sang permaisuri itu.
?Pikirkanlah kalau kamu mau tinggallah di sini. Banyak kamar kosong dan kamu tak perlu mengeluarkan uang untuk kontrak rumah.?
?Terimakasih, Bu. Sulistyorini telah banyak membantu saya, saya tidak ingin lebih merepotkan lagi, terutama ibu dan bapak.? Ketika berujar demikian, sebetulnya surat Pam lah yang banyak bermunculan di kepala Biru Langit. Apa terjadi bila ia katakn sebetulnya dirinya lebih ingin memilih hidup di jalanan ketimbang menjadi berdiam di istana seperti ini. Tak inginlah kekonyolan benar-benar terjadi justru bila di berargumentasi demikian seriusnya. Sementara sorot mata dan senyum permaisuri Puri Wangi tetap mesterius.
?Pikirkanlah sungguh sambil menunggu papa datang. Tentu dia akan senang bila mendengar kamu menyetujui.?
Tidak ada jawaban.
?Papa masih di kantor klinik di Jalan Jawa.?
?Kerja??
?Biasanya membaca atau menulis.?
?Papamu juga menulis??
?Begitulah, papa paling suka melahap buku-buku keilmuan dan menulis untuk mendisiplinkan keilmuannya,? ungkap Sulistyorini.
Lantas diceritakannya, pengakuan papanya, bagaimana kebiasaan membaca dan menulisnya itu bermula sejak pergi menuntut ilmu kedokteran di negeri Belanda, tepatnya saat mendalami ahli bedah plastik di Groningen. Di kota negeri kincir angin itulah banyak pengalaman keilmuan tumbuh dalam dirinya, lebih-lebih dalam bidang filsafat dan dalam pemikiran modern. Karena itu salah seorang ilmuwan yang dikaguminya adalah Albert Einstein si penemu teori atom yang luar biasa itu, dengan kumis lebat dan rambut acaknya itu. ?Ya, pikiran-pikiran Einstein diakui papa benar-benar memberi inspirasi hidupnya. Kekagumannya terhadap kepintaran dan kegeniusan ahli fisika itu seolah tak tertanding. Jangan heran kalau koleksi buku Einstein papa lengkap, sejak dari riwayat hidupnya, buka pikirannya, pidato-pidatonya, percikan tulisannya di Koran-koran, semuanya punya. Papa juga gemar membaca majalah bergengsi American Scientific, Science, Nature,? imbuhnya.
Dalam hati, Biru Langit berkata tak satu pun ia pernah lihat rupanya, apalagi menyentuhnya. Tapi ia hibur dirinya, tentu saja sang professor itu tak melengkapi koleksinya dengan Ibnu Chaldun, Iqbal, atau Tan Malaka, Boris Pasternak, Multatuli, Sindhunata?. Belum berakhir, membariskan daftar orang hebat di dunia yang belum disentuh sang profesor, sekonyong-konyong derum mobil VW pemilik istana itu tiba. Entah mengapa, pikiran Biru Langit mengarah untuk bagaimana memulainya untuk menyembahnya. Konyol memang, tapi itu benar ada, meski tak benar-benar terjadi.

Enam

?SAYA suka berpikir. Saya katakana kalau butuh pemikiarn, tanya saya, karena di zaman seperti ini masih pula ada orang yang tak mau berpikir. Menanam bunga pun saya berpikir. Coba bayangkan, demi kepentingan keilmuan Stepen W Hawking yang lumpuh bisa terus berpikir. Sebab itu saya pikir hidup ini ilmiah. Saya juga terkesan dengan komentar seorang editor majalah Nature, apa nanti yang tak ditemukan di dunia?? Sang profesor tahu pertanyaan itu tak untuk dijawab, apalagi oleh seorang Biru Langit. Tapi di benak Biru Langit tumbuh daya kreatifnya yang menyatakan bahwa pertanyaan itu hanya bisa diucapkan seorang yang berilmu tinggi.
Lantas diceritakannya, sang profesor sering berpikir tentang kejadian-kejadian sepele. Suatu ketika, dalam perjalanan mobil didengar siaran radio yang dengan enteng berbicara soal kebenaran. Betapa gusar sang profesor. Sebagai profesor saja dirinya tak bisa menjawab soal itu, tapi tiap hari justru didengungkan orang tentang benar dan salah. ?Dalam hati saya berkata, apa-apaan ini? Orang ini ngerti apa nggak tentang kebenaran?? Lantas kepada Biru Langt, sang profesor memberi contoh keseharian tentang berpikir. ?Mengapa anak minum susu?? Dia tak boleh menjawab ?saya minum susu karena disuruh mama. Dikatakan anak harus dididik berpikir dengan sebab akibat, bukan dengan kekuasaan. Seharusnya anak dididik berpikir bahwa minum susu itu sehat untuk pertumbuhan badannya, agar tidak mudah sakit dan badan jadi kuat, katanya. ?Selama belajar, saya banyak bergaul dengan validitas internal, ekternal keilmuan, alat ukur, kriteri dan sebagainya. Bahwa hidung itu bagus apabila simetris, untuk bisa simetris harus dibuat alat ukurnya, bagaimana bila hal itu terjadi pada anak kecil yang menangis misalnya. Nah, teori inilah yang kemudian saya angkat dalam disertasi program doctor saya, malalui promoter seorang profesor asal Belanda,? demikian ungkap sang professor sepertinya peduli untuk dimengerti. Sebaliknya Biru Langit juga pasang muka untuk agar dicap lebih mengerti. Satu-satunya yang mengusik pikiran dan terlibat di dalamnya hanyal kata kebenaran. Sebab itu ia tanyakan. Bagaimana bila professor bicara tentang kebenaran. Ia katakan, dalam pikirannya penelitian tentang disertasi program doktornya itu bagus bial dipakai menyelesaikan masalah-masalah umum. ?Ilmu itu universal, pasti sama metodenya untuk mencari kebenaran. Begitulah hidup saya kian berubah dengan kebenaran itu. Hidup saya tak pernah terlepas dari upaya mencari kebenaran. Kebenaran bukan omongan saya, tetapi melalui suatu hipotesa, dalil, jika sudah dilakukan pembuktian dengan metode ilmiah. Segala perkembangan hidup saya tidak terlepas dari itu. Hidup saya betul-betul berubah.?
Lagi, suatu malapetaka terjadi. Saat Biru Langit tumbuh dengan teori kebenaran itu, mendadak sang professor nyaris lepas kontrol bicara sesuatu yang kedengarannya untuk dirinya sendiri. Ketika itulah Biru Langit menangkap ada lubang ketidakjujuran sang professor. Atau setidaknya sengaja disembunyikan. Suatu kekuatan yang menggerakkan tubuh dan jiwa sang professor tapi diungkap. ?Anda belum ceritakan siapa di balik yang menggerakkan anda, yang membukakan mata anda tentang kebenaran itu.?
Hebatnya sang professor tak menunjukkan gelagat tersinggung. Ia seperti menangkap arah tembakan pertanyaan Biru Langit. Meski demikian, dingin saja dia menjawab. ?Sampai saya meraih gelar dokter ahli bedah dari Universitas Airlangga, hidup saya sebagai suatu perubahan evolusi saja. Selanjutnya pun demikian. Evolusi hidup saya mencapai keilmuan lebih tinggi pun bukan karena benar-benar demi keilmuan tetapi lebih didorong keinginan saya untuk meraih dua gelar. Sebab itu kalaupun banyak hal di luar dugaan, yang terjadi dalam diri saya selama mengambil doctor itu jelas soal tersendiri.?
Titik. Disinilah letak misteri itu. Sang profesor tak berniat menjelaskan lebih dalam. Demikian, Biru Langit ketakutan terapung-apung dalam jurang tak bertepi. Sebab itu ia putuskan untuk mengakhiri perbincangan dengan pertanyaan yang kaku. ?Oh ya, saya dengan profesor menulis juga??
?Ya. Konsekuensi dari kata berpikir. Saya banyak menulis di media massa. Saya juga sedang menyiapkan draf buku ajar Tentang Hidup dan Budaya Keilmuan untuk diterbitkan.?
?Oh ya??
?Karena saya terus berpikir, akhirnya saya temukan sebuah model berpikir. Ini yang sedang saya siapkan. Saya mengutip Einstein, Hawking karena banyak hal-hal di dunia ini yang semu. Hawking bilang barangkali masalah di dunia nantinya hanya bisa diselesaikan oleh buku yang hanya berisi beberapa halaman, tidak perlu beribu-ribu halaman. Einstein pun tidak punya bayangan, seperti model saya, tapi saya percaya ini omongan orisinil saya??
Selebihnya sang professor betul-betul bicara masalah pribadi. (ah diam-diam ada pikiran sang profesor yang menarik dalam tubuh Biru Langit).[]

SEMBILAN
OMONG KOSONG

Satu

TAK ada tanda-tanda Isya? tiba. Biru Langit melompat hengkang dari istana dan menyisakan penyesalan. Ia lupa memandangi langit-langit dan bintang yang bersinar di istana itu. Ia lupa menyantap hidangan dan mereguk minuman di meja, beberapa potong roti dan mentega, coklat dingin , ada minuman ovaltin.
Oh, sudah lupa rasanya sejak beberapa tahun belakangan dan lupa kali ini rasanya benar-benar berbeda. Ia berpikir bagaimana itu bisa terjadi, tetap telah telanjur terjadi. Karena itu ia renungkan bagaimana bila tak lagi pernah berkunjung ke istana itu? Kasihan betul pasti. Lainnya, Biru Langit lupa menanyakan pendapat sang profesor perihal Geger Ngoyak Maling, satu-satunya peristiwa yang mempertemukan keduanya dan membuat janji bicara tentang hidup di istana itu. Rasa sesal itu makin tebal, mengingat beberapa hari lagi Biru Langit musti meninggalkan Surabaya. Sementara banyak bincang yang belum lunas sampai dua tiga pertemuan dengan sang professor bedah plastik itu. Betapa ia belum bicara tentang pergulatan hidup di jalanan, tentang Sulistyorini, tentang tanggungjawab sebagai manusia, atau bahkan tentang pribadi.
Pribadi. Ya, kedengarannya kata ini yang cukup berjasa merekatkan hubungan antara dua laki-laki, mahasiswa sosial politik dan profesor bedah plastik itu. Pribadi. Sebuah kata yang amat perlu dihadapi dengan kehati-hatian. Suatu ketika bukan tanpa alasan bila kata itu yang sanggup menghancurkan kehidupannya. Sebaliknya, kata itu pula yang membuka jalan untuk menjadi manusia yang benar-benar hidup dengan sorot mata tajam, dada terbuka, dan bicara lantang. Lantas berjalan enteng seperti melayang tanpa beban?mungkinkah ini yang disebut cara hidup malaikat?
Kedengarannya sampai di luar pagar istana itu, antara dua pria itu masih bersepakat untuk tidak berbicara tentang soal-soal pribadi. Jadi semasa masih dalam situasi batin yang seaman-amannya, yang mengerikan hanyalah bayang-bayang pertanyaan, kepribadian, kata pribadi, obsesi pribadi, hubungan pribadi dengan sang putri. Ah, tapi Biru Langit tak mau hidup atau berjalan lebih besar dari bayang-bayangnya sendiri.

Dua

JAM tiga sore, hari berikutnya, rombongan lepas dari terminal bis Bungurasih sesuai rencana. Sekitar belasan orang di bawah pimpinan politikus Bintang Sakti, mereka meninggalkan gedung tua berselimut kain hitam di kawasan Simpang. Kendati cukup dengan bis ekonomi jurusan Pulogadung, politikus Bintang Sakti sanggup merias wajah-wajah rombongan menjadi segar dengan sorot mata tajam, lantaran dipompa api perjungan membela korban bencana alam. Hanya beberapa saja yang membebaskan sorot matanya ragu-ragu atau penuh kecurigaan. Lainnya, asal melangkah dan dan dengan sedikit poles, mengkilatkan kulit dan binar mata mereka kegirangan. Semenjak itulah Biru Langit mencoba memberi arti tentang api perjuangan. Tentu saja diantara semangat yang ditangkapdari bawah pohon nangka dn pelesir di hari minggu sebelumnya. Itupun belum seberapakarena masih diteror oleh waktu selama belasan jam dalam perjalanan.
Agar terhindar dari ancaman, terror Biru Langit sibuk mereka-reka pikirannya, di bawah dingin serbuan hawa palsu Air Conditioning. Sebagai orang baru yang tugasi membawa panji-panji api perjuangan, ia harus rajin mengamati gerak-gerik romobongan pasukan. Selain itu juga agar kedekatan mempermudah menyampaikan setiap kabar tentang apa saja di medang perang. Sudah barang tentu kecurigaan pda sesama anggota rombongan tetap ditanam dalam-dalam. Dalam setiap kesempatan, ia mengamati gerak-gerik bagaimana dingin dan tenangnya si panglima perang Arif Budiman, penyair asal Kutisari itu. Lalu, seniman Ipong yang selalu bernada protes tidak puas dan penuh kecurigaan. Betapa dia lebih menyerupai seorang penjaga leluhurnya di Benowo ketimbang sebagai seniman. Bicaranya yang besar keras tampaknya cermin dia orang dari kampung terasing dekat dengan punden Pangeran Benowo. Pangeran Benowo adalah putra Jaka Tingkir pendiri kerajaan Pajang sebagai penerus Demak. Sayangnya, Pengeran Benowo disingkirkan sepupunya, Arya Penggiri. Entah bagaimana ceritanya, berakhir di dusun penuh siwalan itu. Lantas prajurit berotot Budiarto dari Kertajaya yang nyaris susah membawa diri setiap kali bicara kaku dan kebiasaan sendawanya yang luar biasa, sanggup membangunkan setiap yang tidur. Berikutnya Vidi dan Setia Kawan, keduanya prajurit pampasan perang dari Jombang dan Blitar. Selaku prajurit setia, kareda sudah tunduk pada sumpah, tak bisa menyembunyikan rasa takut dan pengabdiannya pada politikus Bintang Sakti. Sang flamboyan dan si peniup suling yang lugu. Lalu ini, Johar Kurmen dia sisa-sisa orang Jawa yang cinta berkeluh terhadap kota, ya Surabaya. Karena itu dia menyatakan genderang perang bila mendengar setiap yang berbau tidak senafas dengan Surabaya. Satu keanehannya, ia seorang yang tak suka tampil ke depan. Satu hal lagi yang ia bisa, ia seorang jurnalis. Satu hal lain kenapa dia amat cinta dengan Surabaya melebihi pada dirinya sendiri,lantaran ia masih tenggelam dengan kesedihan Surabaya sejak Kalimat ditumpahi racun pasukan Mataram pada abad 17. Kota ini dibendung kehilangan 59.000 jiwa dari 60.000 cacah warga kota. Kemudian sosok yang dibalik layar, sebagai sesepuh yang madeg pandhita ratu adalah si Bintang Sakti. Banyak misteri ada padanya, banyak cerita ada di sekitarnya, desas-desus. Seluruh kota bahkan kota di dunia telah diinjaknya, kebiasaannya kencing di sembarang tempat, kaya raya, beristri banyak, pialang politik, mengidap kencing manis, sang penyelamat, dan anehnya laki-laki berambut panjang ikal itu belum pernah menunjukkan dirinya tak disegani. Ia selalu memilih duduk di belakang.
Cepat Biru Langit menoleh di bangku bis paling belakang. Benar dia ada di sana. Anehnya lagi, dalam sekejab suara sudah tiba di Jakarta. ?Ini Jakarta Bung! Bukan Surabaya!? begitu sapa tegur pertama buat wajah pgi ibukota. Kedengarannya, kota ini lebih tidak ramah,dibanding Surabaya. Entah, mungkin juga kota yang perlu ditaklukkan, setidaknya bila terlihat dari kacamata si Johar Kurmen. Betapa tidak, hari pertama di Jakarta, rombongan justru memesan masakan Padang. Hanya si Johar Kurmen mengunyah daging kikil, setelah lebih dulu memesan lontong balap Wonokromo. Nihil.

Tiga

DI SEBUAH kamar penginapan Mawar depan terminal Pulo Gadung, sebuah kopor coklat muda dibuka dan astaga, isinya penuh uang kertas lima ratusan rupiah, warna hijau. Tampaknya sudah dibendel dari bank masing-masing seratus ribu rupiah. Gres! Belum pernah sebelumnya Biru Langit melihat keindahan rupa uang sebanyak itu, rapi, sudutnya tajam, warnanya seragam dan kertasnya bersuara lantang bila dipegang. Dan yang pasti nomornya manis berurutan.
Tangan politikus Bintang Sakti demikian sakti menguasai. Tanpa ragu-ragu atau bermaksud hati-hati, hanya matanya yang melempar pandang kesana-kemari. Para prajurit tanpa tanya kecuali pada dirinya sendiri. Itu terlihat dari setiap sorot mata yang menajam ke arah benda coklat muda dan tangan Bintang Sakti. Mereka para parjaurit sudah tahu kemana dan untuk apa isi kopor coklat muda itu. Tak lain ke tangan-tangan mereka sendiri. Tapi persoalan itu justru terletak pada diri mereka sendiri. Mau diapakan keindahan kertas-kertas warna hijau itu nanti diterbangkan? Atau tak perlu diterbangkan? Terus saja uang masih di tangan Bintang Sakti, terciptalah perang batin di kalangan rombongan prajuritnya. Tapi sorot misteri sang sesepuh itu tak cukup diketahui ada apa di balik rencana ini semua.
?Uang ini harus kalian dermakan kepada kamu miskin, pengemis dan gelandangan di jalan setiap kali kalian temukan. Bila kalian tak temukan, cari sampai dapat sebanyak-banyakny dan uan ini harus habis. Ingatlah, tanggungjawab ini kuberikan kepada kalian..? ucap Bintang Sakti panjang lebar.
Ya, memang kalimat tak Cuma itu. Biru Langit juga tak mungkin salah dengar, bagaimana sang sesepuh itu memasang kata amanah dalam pernyataannya. Suatu kata yang selebihnya berat makna dengan tanggungjawab bagi pemberi maupun penerima, semacam tugas suci. (Ah, Biru Langit begitu ketakutan menterjemahkannya sendiri) Betapa dirinya sedikit lebih gampang mencerna kalimat laindari sang sesepuh itu. ?Karena aksi kita ini memperjuangkan kemuliaan, alangkah baiknya bila kita mulai dengan kemuliaan pula,? demikian katanya.
Ah, begini rupa rasanya bila politisi, sesepuh berbicara tentang orang kecil, kaum gelandangan dan pengemis: Kemuliaan. Anehnya,dalam benak Biru Langit dirinya lebih menangkap sebagai upaya untuk semacam pensucian diri atau membersihkan sedikit dosa-dosa di masa lalu. Astaga! Mengapa pikiran seperti itu mendadak membuat tubuh Biru Langit seperti dipukul benda keras? Lalu tubuhnya panas dingin sebab tak lain sebetulnya Biru Langit sedang membicarakan dirinya sendri. Persis ketika lembaran setumpuk uang kertas limaratusan itu jatuh padanya. Bibirnya gemetaran dan keringat dingin mulai merintis di rongga-rongga kulitnya. Matanya gelap, dan kepalanya mulai pening. Entah, mengapa tiba-tiba ia mendengar bisikan pelan tapi makin beruntun tidak jauh dari dirinya suara seorang perempuan, ?mendici..mendici?mendici?.? Setelah kertas di tangan dan ia sadar dari kegelapan, baru Biru Langit terheran-heran. Mengapa suara itu yang datang , dari seorang perempuan lagi. Bukankah itu salam bagi kaum gelandangan dn pengemis di masa silam, tepatnya di zaman Yunani abad-abad permulaan? Ah, mungkin karena ia telah banyak membaca saja sehingga ruh pengemis perempuan di zaman Yunani itu datang dalam pikirannya.
Ini pemandangan pertama tentang wajah Jakarta. Mengapa kaum pengemis dan gelandangan susah ditemui? Dimana mereka bersembunyi? Atau waktu masih terlampau pagi buat mereka? Padahal kesibukan kita mulai berputar, manusia mulai menyemut. Aplagi, kota seperti ii dikenal tak pernah tidur? Dari trem Jabotabek kota yang sumpek itu, mungkinkah kaum gelandangan masih tidur di balik genting-genting semrawut itu. Dalam tubuh trem yang bergoyang terlihat hanya beberapa pengemis saja, itu pun langsung diserbu para prajurit, Vidi, Setiwan, si Burung Nuri malah tampak beringas. Lalu seorang pengemis buta yang pura-pura menyuarakan nyanyian dari kotak kecil karaoke buatan malah sudah dikangkangi si panglima dan penyair Arif Budiman. Hebatnya, setelah sekian lama menincar korbannya, panglima itu cukup punya nyali untuk menghentikan seorang pengemis buta itu. Caranya, ia memegang kuat si bocah yang menuntunnya dan memasukkan sejumlah besar kertas limaratusan di sakunya dan memintanya berhenti. Ia melotot kaget bercampur bercampur girang dan si buta tak tahu apa yang terjadi dan terus menyuarakan kaset lusuh dari kotak karaoke itu. Hanya, satu tarikan kecil si bocah yang menghentikannya dengan kasar dan membisikan ke telinganya, ?akan kujadikan kau sebuah sajak penting di dunia ini.? Begitulah akhirnya lahir sebuah sajak Impian Dalam Trem. 79) Dengan disana-sini dicampur bahasa Inggris, Perancis, lantas diterbangkanlah sajak itu ke seluruh penjuru dunia, sementara pengemis itu tetap buta dn tak pernah tahu jadwal kereta dan gerbong nomor berapa yang membawanya pergi melintasi Jakarta. Sang penyair yang tak pernah berpisah dari seniman Ipong yang keras dan kritis, tampaknya harus menyimpan rapat-rapat rahasia sajaknya itu. Bila tidak, betapa sang kritikus itu juga sanggup membuka mata dunia dan membuat dunia tahu bahwa darah yang mengalir dari sajak itu adalah darah pengemis yang buat.
Sang kritikus lain lagi punya cerita. Karena memang belum pernah terlihat melempar selembar pun uang kertas yang indah itu. Entah sekarang berada msih di sakunya, di tas kecilnya yang selalu dikempit di ketiaknya atau sedang di tempat lain. Dia selalu berpandangan menhimpang dengan anggota pasukan yang lain, dan nyaris terkesan seorang desersi. Benarkah? Dalam sebuah kesempatan perbincangan, suatu ketika sang kritikus itu terlempar kata kamuflase. ?Cara seperti ini hanyalah kamuflase, untuk menutupi maksud sesungguhnya aksi ini.? Sampai di sini, Biru Langit tak bisa menerima kalimatnya. Tentang kamuflase yang diingat Biru Langit hanyalah gelagat pengemis yang buta saat menyanyikan lagu dari kaset dalam kotak miliknya. Tapi tentang tujuan sesungguhnya, Biru Langit sedikitpun tak punya pikiran apa-apa. Rupanya kalimat lain dari sang kritius itu cukup menyegarkan. ?Kalau itu dimaksudkan untuk orang miskin, orang seperti kita ini juga miskin,? (ah rupanya dia melibatkan Biru Langit). ?Jadi memang masih pantas untuk menerima sumbangan,? imbuhnya.
Sekarang jelaslah sudah bahwa dia perlu uang dan lembaran kertas indah itu memang belum pernah pergi dari tas atau kantongnya. Semenjak mendengar bicara sang kritikus tubuh dan pikiran Biru Langit serasa berkali-kali menerima pukulan keras. Lalu dadanya serasa ditikam benda tajam hingga terhunjam dalam. Sama sekali di kepalanya berloncatan kata amanah, tanggungjawab, pensucian, pembersihan, kamuflase, makin cepat dan cepat. Tapi di sisi lin ia mendengar suara, ?mendici..mendici..mendici?makin besar jumlahnya. Dalam kesempatan lain, sang kritikus banyak mencuri waktu dengan berkendara bajaj meluncur ke kawasan Senen. Bisa diduga kemana arahnya, tak lain di sepanjang pasar buku lok di pinggiran jalan. Inilah pasar buku loak terbesar di kota ini, mengingatkan Jalan Semarang di kota Surabaya. Tempatnya pun tak jauh dari stasiun kereta Senen. Bedanya di kawasan ini lebih luas, lebih banyak stan. Bisa diduga sang kritikus itu bakal menghabiskan lembaran kertas yang indah itu di tempat ini. Benar, ternyata sekembali dari Senen, sang kritikus sudah memenuhi tasnya dengan buku-buku bekas. Seperti biasa ia tak tunjukkan selembar pun, satu bukupun pada yang lain, meski hanya permukaan sampulnya. Ia hanya menyampaikan pesan, ?Dengan buku-buku ini, saya juga akan memperjuangkan kaum miskin, gelandangan dan pengemis.? Begitulah terbaca sekilas bagaimana ia menyimpan pikiran Marxis,Leninis, Mao Tse Tung dalam otaknya. Jujur saja harus diakui Biru Langit, nama-nama tokoh itulah yang mempertemukan dan mendekatkan keduanya semenjak berkumpul dalam diskusi-diskusi di kampung tesembunyi di Benowo. Setidaknya, itu terbaca pula dari persannya agar Biru Langit menyempatkan diri pergi ke Senen. Ya, pastilah dia ke sana. Bukankah pasar buku loak adalah rekreasi terbaik baginya di bumi ini selain rumah sakit?
Tentang kaum miskin, pengemis dan gelandangan masih menyibukkan pikiran Biru Langit. Ia belum mendapatkan seorang pengemis pun. Malah ia tersedot oleh Jakarta yang dibenaknya menenggelamkan mereka. Kemana mereka menyingkir, sembunyi atau mencari penghidupan. Ke pinggiran kota? Ya, pasti mereka menyingkir ke pinggir kota. Lantas, mengapa dirinya justru ke jantung kota? Mendadak pikirannya melompat pada Bintang Sakti. Bagaimana ia bisa merencanakan sesuatu yang salah sasaran? Ataukah justru da manuver baru menggiring pasukannya ke jantung kota sonder kaum pengemis ini? Begitulah ia pun meloncat cepat ke kecurigaan. Kecurigaan seniman Ipong. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba pikiran Biru Langit tertuju pada masjid.
Ya, masjid. Di sanalah kaum pengemis berada. Karena sudah jadi rahasia umum, mereka kaum pengemis ini menyimpan di matanya bahwa di masjid banyak penderma. Bukan karena alasan kaya atau miskin. Kaya dan miskin hanyalah soal harta kekayaan di rumah. Tapi isi kantong orang yang pergi ke masjid tentu soal lain.. Apalagi bila kantong-kantong mereka berada paling dekat dengan hati dan isi dadanya. Para pengemis sudah tahu itu. Ya, masjid adalah tempat yang sepele bagi mereka. Mereka juga gampang bisa leluasa mata sejuk setiap yang keluar dari pintu. Lagi-lagi Biru Langit terjerat oleh isi kepala sang kritikus. Mengapa kertas dingin serasa jadi juru bicara yang mewakili perasaan-perasaan kaum pengemis dan gelandangan? Mungkinkah ini bukti kebenaran ucapan sang kritikus sat melibatkan Biru Langit dengan ?Kita ini orang miskin? itu lantas sebagai kepanjangan pikiran Marxis-Leninis-Mao yang banyak diamininya itu? Biru Langit tak punya nyali untuk menjawab. Tapi ia tahu satu-satunya alasan untuk cepat pergi ke masjid terbesar di negeri ini?Istiqlal. Benar, ternyata bisa diduga begitu banyak jumlah pengemis dan gelandangan di hampir tiap pintu masjid. Inilah perjumpaan pertama Biru Langit dengan mereka, di tengah kota. Laki-perempuan, Kakek-nenek, bayi-bayi dalam gendongan ibunya, anak-anak yang tak bisa tunjukkan keceriaannya. Mereka hidup. Menjumpai mereka tak ada waktu bagi Biru Langit untuk bicara, tak ada kesempatan untuk berpikir, apalagi cerita atau membuat cerita di tengah mereka, kecuali teriakan mendici..mendici? ?Berbagilah kebahagiaan hei saudaraku, aku tak ada waktu. Merdeka!? Lembaran indah warna hijau, habis seketika hanya dalam hitungan detik.

Empat

MALAM
?Apakah seorang pengemis cukup berarti bagimu, sehingga kamu menuliskan sajak tentangnya, Kawan?? Biru Langit mencoba menyelidiki isi kepala penyair.
?Oh, kamu memata-matai aku Biru Langit??
?Ya, sebagai seorang kawan aku perlu jawabanmu, untuk kusimpan kelak bila mengenangmu.?
?Jadi bagimu aku lebih penting dari pengemis itu??
?Bisa ya, bisa juga tidak.?
?Pengemis bagiku adalah sebuah inspirasi yang kaya. Karena begitu dekatnya bicara kenyataan dan impian baginya. Hanya itu, dan jujujr saja, memberikan uang padanya sebetulnya adalah pertarungan hebat bagiku: Aku takut keliru menilai mereka dan khawatir salah persepsi mereka terhadapku. Siapa yang tidak tercengang bila uang yang kuberikan padanya diam-diam secara perlahan membunuh impian-impian dalam dirinya? Padahal berapa besar uang yang diterimanya. Lalu berapa ratus orang jumlahnya yang peduli padanya? Lantas apa boleh dikata bila para pengemis itu benar-benar mendewakan para dermawan seperti kita laiknya kepada Tuhan? Berhadapan dengan pengemis aku merasa sebagai manusia yang harus tetap menjaga harmoni kenyataan dan impian. Bagiku, aku tidak yakin yang mereka minta adalah uang recehan atau sedekah. Tidak. Yang mereka minta adlah ketulusan dan keiklasan sebagai manusia. Jadi sebetulnya mereka adalah manusia yang sanggup menyentuh dunia terdalam dari manusia lain. Ya, sebuah dunia yang oleh manusia itu sendiri tak disadarinya ada pada dirinya; terhadang. Omonganku bukan teori dan bukan tanpa bukti, sebagai manusia pengemis bisa tersinggung nuraninya bila bersentuhan dengan kekerasan tindakan kasar atau bahkan ketidaktulusan. Dia sendirilah yang melatih dirinya untuk tahu itu semu. Untuk tahu kapan waktunya dan menempatkan nuraninya di tengah begitu banyak tangan-tangan persi di depan matanya. Salah satu kebesaran jiwanya adalah kesanggupannya untuk duduk di tempat rendah, dan mengorbankan sedikit tenaga mengangkat kepalanya menatap mata setiap manusia yng lewat di depannya. Karena itulah bagi saya, pengemis itu sedang berusaha untuk menterjemahkan sebuah kekosongan dengan caranya. Bagiku tidakkah, yang dimiliki jiwa pengemis itu lebih indah dari sajak Octavio Paz, betapa dunia setengah terbuka: aku percaya telah melihat maut ketika kulihat penampakan lain dari wujud, kekosongan: kecemerlangan tanpa sifat selamany,? Sang penyair menghentikan celotehnya dengan sorot mata tak terhenti, seolah ia sedang menikmati sendiri sepotong puisi.
?Kau sedang berbicara tentang diri sendiri, tanpa melihat penting seorang pengemis. Tapi tak apalah, ternyata kau seorang yang cukup religius,? Biru Langit menghancurkan kediaman sang penyair.
?Oh ya. Setiap penyair pastilah seorang yang religius.?
?Itu artinya kau seorang yang romantis juga kan? (entah tiba-tiba Biru Langit terngiang suaranya tatkala berbincang tentagn hal ini dengan Sulistyorini) Kamu mudah terseret oleh cara hidup pengemis itu di depan manusia lain. Kamu tak lebih sebagai seorang korban dan tak ada jalan keluar bagimu kecuali sepotong sajak dan ketulusan itu tadi.?
?Kamu benar saat berbicara tentang sepotong sajak dan ketulusan. Sebagai penyair, aku tahu keduanya memiliki tabiat yang sama yakni pentingnya kejujuran. Bila tanpa itu, keduanya sama sekali tak memiliki makna. Tapi kamu keliru ketika menyebutkan sebagai korban karena sebagai korban manusia akan terjebak pada hitungan untung dan rugi. Padahal kita bisa memilih diantara keduanya atau terserah ula pakai pijakan yang mana. Ekonomi, politik, sosial, sastra, filsafat atau agama. Tentu kau pernah membaca bagaimana Al Quran mengabarkan bahwa pada prinsipnya manusia ini makluk yang merugi. Tapi kabar itu belum berhenti kecuali bagi orang-orang yang tidak beriman. Kurasa sebagai manusia kita sepakat untuk memilih tidak berhenti, kau, aku atau pengemis itu. Tetapi tentang jalan boleh punya pilihan. Aku tak perlu berhenti dengan sajak, mungkin engkau dengan uang recehan, atau pengemis yang memilih cara lain. Sebagai penyair aku berbicara kejujuran dengan kata. Dengan katalah kemudian aku berbicara soal kenyataan, sebuah dunia yang tanpa makna yang sering menenggelamkan tubuh manusia menjadi potongan-potongan dan merasa sebagai orang asing saja. Mungkin pengemis itu tak tahu mengapa ia masih saja duduk di sana, seperti juga bila kau tanya mengapa aku masih saja menulis sajak,? kali ini sang penyair seperti meratapi dirinya seolah ia merasa pertanyaan itu justru ditujukan pada dirinya sendiri. Ia diam seperti telah menemukan jawaban, hanya saja ia terus disibukkan untuk menyakinkan nuraninya.
?Tampaknya aku telah memulai bisa mengagumimu karena kau yang dengan sadar sanggup menenggelamkan dirimu, ee, maksudku ke dalam kata. Jadi aku bisa menangkap bahwa kau sendiri tak mempedulikan dirimu. Atau lebih tepat tak menganggap dirimu penting. Bukankah ada yang lebih penting darimu yakni kata sang penyair??
?Terimakasih kau telah membaca aku dengan tepat. Inilah yang kumaksudkan perjuangan mempertahankan batas ambang antara kenyataan dan mimpi, ketakjelasan batas kenyatan sejati dan yang kasat mata. Pada kenyataannya tidak satu pun di dunia ini yang menyimpan realitas purba, yang belum bercemar oleh waktu, apalagi tercemar oleh kata. Saya percaya dengang ungkapan penyair Subagio Sastrowardoyo, ?asal mula adalah kata, jagad tersusun dari kata.? Jadi menghidupkan kata-kata yang mati bagiku sebanding artinya dengan menghembuskan nafas dalam jasadku sehari-hari. Barangkali beginilah ruh kehidupanku terus bergerak menuju kehidupan yang lebih berikutnya. Maaf kalau aku harus kabarkan padamu juga tentang pernyataan seorang filsuf yang aku setujui kata-katanya. ?Tak ada tulisan yang aku sukai kecuali digoreskan dengan darah? demikian kata Nietzsche. Bagiku tak lain sang filsuf satu ini sedang mengecam kata-kata mati. Itulah sebabnya banyak kata dan buku-buku yang tidak dibutuhkan lagi. Seperti inilah aku membahasakan ke dalam pengertianku sendiri kata-kata sang filsuf itu sebagai pencarian makna hidup. Ya, kita sedang sama-sama mencari makna. Ya, makna bukanlah kenyataan tetapi kenyataanlah yang terus menerus mencari makna. Tentu kau sudah sedikit menemukan jalan yang membedakan sekaligus membuat sama antara aku, penyair, engkau, uang dan bahkan seorang pengemis. Kamu bisa menambah sendiri deretan lebih panjang lagi, saudara Biru Langit.? Sang penyair dan panglima bermaksud melemparkan jauh tubuh dan pikiran Biru Langit ke angkasa yang asing, dan berhasil. ?Tapi kau belum sama sekali kemukakan pendapatmu tentang soal yang sama, bukan? Untuk kusimpan bila kelak kamu sudah tak berguna.?
?Baiklah. Jujur saja harus kuakui, aku kagum padamu ketika bicara tentang ketulusan, keikhlasan dan kejujuran karena itu yang sedang kupersoalkan saat ini sebagai manusia. Kalau boleh aku berkata, itu harga sebatang maunsia yang masih kupercaya. Tapi maafkanaku bila yang lain-lain dari ucapanmu tak begitu aku percaya. Tampaknya ini yang membedakan antara kau dan aku. Maafkan aku dan jangan dulu potong bicaraku. Kata telah mampu membuka hidupmu terhadap kejujuran, keikhlasan dan ketulusan, mungkin juga kebenaran. Tapi bagiku perjalanan, kepahitan, kegetiranlah yeng menyebabkan aku percaya dan yakin dengan beberapa kata yang kusebut belakangan itu. Akut tidak bermaksud bakal mengataimu kau seorang yang bukan mustahil bisa bermanis di bibir, bersembunyi di balik kata tentang kejujuran. Tidak akan. Semoga dugaanku keliru saja. Tapi harus jujur kuakui aku tersinggung ketika aku kamu katakan arti seorang pengemis bagiku adalah seberapa besar uang recehan kuberikan padanya. Tidak demikian sederhana kawan. Kau tentu menyadari antara kau dan aku punya satu kesamaan tujuan hidup: berjuang. Kamu memperjuangkan kata dan aku memperjuangkan sebuah perjalanan, masalalu, masa kini dan masa depan. Bukankah bagiku kedengarannya lebih realistis. Aku ingatkan bahwa kita harus pula sama-sama menyadari takkan pernah sekalipun kita samap pada satu titik kecemerlangan. Kita selalu berada pada sejumlah koma dengan di sana-sini banyak lubang ngangga yang anehnya begitu hebat ditaklukkan oleh tangan kekuasaan. Rasanya tak paerlu kau memicingkan mata dengan kata kekuasaan. Kekuasaan Tuhan, rezim atau bahkan malaikat atau setan. Jadi tampaknya kamu menurut aku harus mengoreksi kepercayaan dirimu yang amat berlebihan, sebelum aku mencap kamu sebagai seorang yang individualis. Itu sesuatu yang amat berbahaya bagimu, karena justru bisa membunuhmu sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna. Itu artinya, bila telah terjadi, kegagalan besar bagimu. Ya kamu bisa gagal sebagai manusia. Lalu bila Tuhan kasihan padamu kamu bisa dibuat beruntung. Ya, tampaknya beruntung itu kata yang paling tepat buat manusia dalam keadaan sepertimu. Pikiranmu, perasaanmu, batinmu, nuranimu, tetap dihidupkan Tuhan dalam batas-batas tertentu atau puncak-puncak tertentu, tetapi bukankah itu semua tetap dalam kungkungan jasmaniah? Jujur harus kukatakan padamu, bila kamu tak segera membuka diri, itu sama artinya tak mau berlomba dengan makhluk rohani yang lebih tinggi: malaikat. Masih perlukah aku pasang nama Ibnu Chaldun untuk menyakinkan pendapatku? Barangkali, kamu berpikir aku juga seorang yang religius sepertimu. Mungkin ya, mungkin juga tidak. Tetapi kalaupun ya, yang membedakan kau dan aku adalah religiusitasmu yang bersumber pada pikiran. Sementara padaku ada yang tak terjangkau oleh akal dan bahkan tak bisa kuceritakan padamu sama sekali. Ya, seperti inilah kurang lebih hubunganku dengan pengemis dan gelandangan seperti yang kau tanyakan. Persaudaraan, kawan. Persaudaraan. Hanya itu sementara in yang bisa kuceritakan padamu,? sepertinya bibir Biru Langit gemeter ketika berkata persaudaraan.
?Kritikmu terhadapku, mengingatkan aku akan Faust. Itu sama artinya kau menudingku lebih gampang bersekutu dengan setan demi meraih apapun. Tapi aku bukan orang Jerman dan memang pikiran filsuf-filsuf Jerman banyak mengilhami pikiranku. Harus kuakui aku seorang Descartius. Lantas apa pendapatku tentang kau, Biru Langit? Kamu seperti orang primitif, kau tak lebih dari hantu abad permulaan yang gentayangan di zaman ini. Karena itu, ketulusan, keikhlasan dan kejujuran yang ada padamu itu adalah sisa peradaban yang tak bisa dipakai di zaman ini. Jadi terus terang aku pun mencurigaimu bahwa itu hanyalah omong kosong yang dibalut dengan rohani-rohani itu tadi. Bukankah kita telanjur sepakat tak ada setan atau hantu yang berwujud bermuka buruk dan bergigi drakula. Fatalnya, manusia telanjur diciptakan sebagai makhluk manis dan ternyata setan pun amat senang bersemayam dalam tubuh manusia. Karena itulah dugaanku mengapa kini kamu tetap memilih hidup di jalanan, jawabnya ada dua. Barangkali karena kau orang primitif yang sulit untuk larut dalam perubahan zaman. Atau karena kau terlalu asyik dengan dunia rohanimu itu. Dengan demikian menurutku kau seorang yang inkonsisten. Gagasanmu tentang persaudaraan itu hanyalah gambaran sikapmu yang cenderung Marxis. Lalu kamu mencoba mencampur aduk dengan komunisme, Islam, terhadap kaum pengemis dan gelandangan.? Kedengarannya sang penyair tersinggung, nada suararnya pun meninggi.
?Kalau kau sudah tak bisa kujadikan saudara, sepertinya kamu perlu mendengar penjelasanku tentang filisofi gelandangan,? Biru Langit terus menantang. Tapi suasana hening.

Lima

RABU, 15 Juni 1994 Pukul 09.00 WIB
Rombongan meluncur dengan bis Mayasari Bhakti dari arah Pulo Gadung menuju Senayan. Tujuannya gedung wakil rakyat. Empat puluh menit kemudian belasan pejuang hak itu tepat tiba di pagar besi gedung wakil rakyat. Setelah sang panglima di dampingi beberapa prajurit mengurus segala soal dengan aparat, belasan orang langsung melenggang di pelataran aspal hitam halaman gedung. Pasukan berjalan cepat. Makin cepat dengan membentangkan beberapa gulungan poster berisi kecaman terhadap tindakan tak berperikamanusiaan oleh dua orang pemimpin sebuah media massa. Diantaranya ?Kembalikan Sumbangan Rp 1,3 M Kepada yang Berhak,? ?DI dan NW, Dimana Nuranimu?? ?Koranmu Hanya Kedok Kejahatanmu,? ?Maumere Bukan Ladang Ganja,? dan masih banyak lagi. Pasukan berjalan lebih cepat lagi diiringi cekikikan tawa mereka yang sejuk dihempas guyuran rintik-rintik air mancur depan gedung dewan.
Karena di sisi lain harus menghindarkan poster mereka yang yang terbuat dari karton agar bebas dari air. Begitu tiba di pintu kaca, pasukan cepat merangsek masuk. Terbang, rebana, seruling, yel dan lagu-lagu langsung ditembakkan. Sementara panglima mengatasi persoalan dengan beberapa aparat yang kaget dengan kedatangan mereka. Terlihat sekali petugas berseragam polisi itu dengan menggenggam handitalky di tangan menjaga pintu lift masuk sebab khawatir pasukan nekat menerobos. Tak ada peristiwa benar detik-detik itu kecuali bunyi rebana, terbang, seruling dan nyanyian tanpa judul. Selain itu juga wajah-wajah dan tampang yang memasang aksi pasukan maupun petugas polisi.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, rombongan diizinkan masuk dan berdialog di lantari dua gedung dewan. Beberapa wakil rakyat bertindak sebagai tuan rumah dan dialog berjalan dingin, menegangkan dan kadang memaksa diri bertindak lucu. Seperti biasa politikus Bintang Sakti yang duduk di kursi paling belakang menutup pembicaraan. Tuntutan pasukan ditanggapi dengan rencana wakil rakyat memanggil dan minta ketegasan DI dan NW. Kesimpulan lain, dewan perlu mempertimbangkan adanya Undang-Undang yang mengatur media massa menarik sumbangan dari masyarakat untuk tujuan tertentu.

Enam

DARI SENAYAN ke Tanah Abang hanya beberapa menit bila ditempuh dengan naik angkot. Lebih cepat lai bila dengan menumpang taksi. Ke Tanah Abang memang sebuah pilihan. Karena disini cukup banyak kawan lama, atau lebih tepatnya orang-orang ternama yang telah bersedia dijadikan kawan.
Masa silam jalan Simpang di Surabaya yang telah menyimpan catatan bersama dengan sebuah gang sempit di Tanah Abang, di rumah Sutradara, penulis skenario film dan pemimpin Teater Populer, Teguh Karya. Menjelang sore itu, di pendopo rumahnya yang memang masih asli berarsitektur gaya Jawa, justru di tengah kota Jakarta. Boleh jadi di kota ini hanya itulah rumah satu-satunya.
Menjelang sore itu Teguh Karya mengundang banyak sekali para pemulung, jumlahnya mencapai puluhan. Mereka diundang untuk bicara banyak perihal diri mereka sendiri. Maka berbicaralah mereka dengan berbagai bahasa, gaya maupun celoteh serius dan kekonyolan serta cerita. Teguh Karya memang mengundang mereka untuk penggarapan sebuah film cerita. Sebagai tamu rombongan Biru Langit hanya mendengarkan saja. Itu pun berada menyisih di tempat yang agak jauh. Banyak ragam cerita orang miskin di sana, tapi ceita yang mana yang kemudian jadi sebuah film cerita tak ada yang mengerti.
?Oh, begini rupa rasanya si Teguh berkarya itu menjual orang miskin,? cemooh Setiawan. Sulit menerka keseriusan bicara Setiawan.
Tapi entah mengapa ia berpendapat seperti itu. Memang begitulah adanya orang satu ini banyak berkubang dengan film-film perihal kehidupan dan perjuangan hidup orang miskin.
Di tempat pojok agak menyisih, persis di belakang rumah joglo Biru Langit mendapat cerita pemulung tanpa nama. Ia punya keluarga, anak dan istri. Hebatnya, ia pun punya kampung atau lebih tepatnya sebuah gang yang dihuni oleh para pemulung. Semuanya pemulung, kakek-nenek, anak-anak, laki-perempuan. Lebih hebat lagi, mereka semua tinggal tanpa ktp. Usut punya usut, ternyata keberadaan mereka memang disoal. Tiap mengajukan permohoan ktp selalu ditolak. Penolakan itu sebagai dampak dari sikap pembangkangan para pemulung terhadap pemerintah daerah. Ikwal kisahnya, gang itu dulunya sebuah areal tanpa kejelasan pemilik lama karena tempatnya yang bersebelahan dengan kuburan. Bertahun-tahun sejak aktivitas pemulung di sana tak pernah timbul persoalan sampai akhirnya banyak dididikan bangunan. Lama kelamaan para pemulung yang sudah memadati gang itu merasa terganggu kegiatan kremasi pembakaran mayat di kuburan itu. Lantaran terganggu kebersihan lingkungannya, para pemulung punya keberanian untuk memprotes dan meminta ganti rugi yang menimpa diri mereka, terutama kepada pemerintah daerah. Tanpa hasil. Tuntutan malah berbalik. Mereka tak pernah lagi mendapat ktp dan belakangan lahan itu bakal digusur dari aktifitas para pemulung?
?Bukankah kamu punya hutang untuk menjelaskan filosofi gelandangan kepadaku, Biru Langit?? panglima Arif Budiman menagih janji, ada seniman Ipong, Burung Nuri. ?Tampaknya kita bisa bicara dalam suasana yang tepat.?
?Pada prinsipnya manusia hidup ini menggelandang di duni ini tanpa tujuan, dan itu yang tidak dapat dilakukan oleh gunung, laut atau angin. Karena benda-benda itu memang tak sanggup melakukantugas yang diberikan kepada manusia. Oh, barangkalai hanya kebetulan saja saudara-saudara kita jadi pengemis atau gelandangan seperti itu. Bukankah itu mempermudah kita untuk mengakui bahwa dia adalah saudara kita lantaran punya tugas yang sama di dunia ini? Ya, memang sebagai manusia, sebagai pribadi memang sama sekali tak pernah bisa mengerti pengalaman batin, perasaan atau kehidupan rohani masing-masing, akan tetapi sebagai saudara tentu kita mengerti arah kembara semua ini. Ya, karena kita sama-sama sebagai gelandangan yang miskin dan tak memiliki apa-apa kecuali kekayaan batin sendiri-sendiri. Menjadi gelandangan adalah syarat mutlak karena dengan demikian manusia akan menemukan kebebasannya, termasuk tentu saja dalam hal menggunakan pikirannya. Begitulah, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai tenaga kreatif, roh yang membumbung tinggi, bergerak maju, bangkit dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Tentu yang kubicarakan ini manusia yang sehat. Lain halnya bila diantara kita memang ada yang tidak termasuk dalam masalah ini. Ya setidaknya ini pertanyaan untuk kita sendiri. Jadi, menjadi gelandangan hanyalah suatu keadaan, menjadi pengemis Cuma situasi di semesta ini. Tapi menjadi manusia bukan kutukan, apalagi untuk menjadi manusia bodoh. Menjadi manusia karena manusia tahu diri dengan kebebasannya dan menggelandang adalah sebuah cara untuk mencari jawab apa yang sudah dan akan diperbuat bagi tatanan kehidupan semesta ini. Betapa semakin jauh menggelandang semakin banyak pula setan berkeliaran mengganggu, menteror, bahkan memalsukan jalan hidup yang diterangkan Tuhan kepada manusia yang sengaja ditempatkan di posisi yang setinggi-tingginya ini. Kalam Tuhan sudah demikian menunjukkan kemurahannya pada manusia, mengapa kita tidak malu kepadanya bila kita meletakkan pengemis dan gelandangan di tempat yang sehina-hinanya? Terus terang saya curiga laku pengemis dan gelandangan ini sebagai penggemblengan jiwa, pengujian batin, terlepas dari karena kebodohannya yang mati pikirannya, sehingga sampai di situlah titik temu tingginya amal mereka dibandingkan dengan gagasannya. Tapi bagi kita, orang yang sudah sedikit dibukakan pengertiannya mana manusia diserlimuti kabut kebodohan dan berpengetahuan, tentu bisa mengerti bila lebih mengutamakan tujuan-tujuan amal bagi tata kehidupan kosmos daripada gagasan yang hanya berguna bagi diri sendiri atau yang disalahgunakan oleh laku setan untuk merusak tatatan kehidupan semesta ini. Itulah sebabnya aku sulit mempercayai tujuan hidup ini, karena tujuan hidup ini banyak dikelilingi hal-hal yang palsu. Aku lebih percaya pada amanat hidup, lantaran sebodoh-bodoh manusia, Tuhan telah menempatkan di tempat yang tinggi dengan kecerdasan, pikiran dan tentu saja batin dan kehidupan rohani. Kukira kau sudah cukup mengerti dengan kepalsuan tujuan hidup yang kumaksud. Dan kukira engkau juga mulai paham, gelandangan yang kumaksud betapa manusia ini senantiasa gelisah dalam pengembaraannya mencari titik temu, menemukan jawaban atas pelbagai pertanyaan misteri semesta, dan mendapatkan cahaya keabadian. Ah, maafkan penjelasanku barangkali sulit kau cerna. Atau kau meungkin mulai menilaiku pintar omong kosong?? terakhir Biru Langit lebih didorong karena kehabisan kata-kata dari pada menutup pembicaraannya.
?Oh, tidak. Kita memang sedang hanya omong kosong. Bedanya Cuma kamu yang mamasukkan ?omong kosong? itu dalam penjelasanmu. Seolah-olah memperjelas bahwa kaum sadar tentang hal itu,? Sang panglima tertawa bermaksud menyindir. ?Omong kosong sebab satu pun diantara kita tak mampu membebaskan penderitaan pengemis dan gelandanganitu. Baru sedikit uang recehan, kita sudah banyak bicara,? imbuhnya.
?He! Kamu jangan epehan,80) Bung Arif,? sergah seniman Ipong. ?Dua kalimat akhir itu punyaku. Itu bagianku untuk bicara,? seperti biasa bila hendak bicara seniman Ipong seperti tak terkendali, wajahnya tegang, matanya nanar.
Sayangnya saat berapi-api itu pecah oleh pelanyan rumah yang membawa nasi goreng Jakarta. Apalagi, tuan rumah cepat menyilakan agar menyantap hidangan. Sebab itu, tidak ada alasan lain untuk tidak menikmati nasi goreng Jakarta dan teh hangat. Bicara pun tak diizinkan suasana. Aneh, padahal suasana tak ada yang istimewa. Nasi gorengnya pun juga tak seindah namanya. Tampaknya ini keangkuhan Jakarta, sampai nasi goreng pun harus dimonopoli. Dimana-mana nasi goreng itu sama. Barangkali perasaan lapar yang membuat suasana jadi hidup berkat nasi goreng Jakarta. Seember lagi. Tak ketinggalan sendawa prajurit Heru.
Justru tuan rumah sutradara Teguh Karya yang tak mau berkurang bersahajanya meski terus bicara di sela-sela asap rokok dan secangkir kopi susunya. Mula-mula dengan nada nyinyir ia bicara soal bukunya 25 Tahun Teater Populer, kemudian teater dan tentu saja film. Yang paling panjang, ketika bicara tentang hidup. Bagaimana persoalan teater adalah sebenarnya persoalan tentang hidup. Hidup harus dilakoni dengan tatag, titis, tutug. Hidup harus dihadapi dengan berani ambil resiko, tahu kemampuan diri dan bertanggungjawab sampai tuntas. Berani, cermat dan tuntas. Menjadi aktor dalam teater sama halnya menjadi lakon dalam kehidupan nyata. Aktor harus pandai bergaul dengan kehidupan karena dengan demikian hidupnya akan realistis. Begitulah, sang sutradara banyak bicara tentang hidup juga kehidupan bekas anak buahnya. Herman Felani yang sadar gagal jadi aktor ternama tapi puas mendapat semangat hidup aktor di kehidupan nyata. Lalu Alex Komang yang tidak bisa bergaul, Slamet Raharjo yang bersahaja dan Eros Djarot yang cerdas membaca tanda-tanda zaman. Sesekali ia di usia tuanya berbangga memiliki rumah tua yang klasik di tengah kota sambil berjalan hilir mudik dengan sebatang rokok yang tak henti-hentinya ia isap tembakaunya. Mula-mula di pendopo, di situlah dalam banyak kesempatan diambil gambaranya dalam film November 28. Di halaman depan banyak diletakkan pelbagai kembang persis saat film Ibunda di buat, atau film Doea Tanda Mata. Di salah satu ruangan ruangan banyak terpampang beberapa foto lama. Aktris Christine Hakim bermain dalam Ranjang Pengantin, Wajah Seorang Laki-Laki. Lalu pertunjukan Jayengrana dan Layonsari. Di dalam ruangan masih tersimpan banyak sekali benda-benda antik, meja kursi, jam dinding, lampu gantung, almari besar. Begitulah kehidupan antik di kawasan Kebon Pala, Tanah Abang.
Malam itu rombongan tidur di pendopo. Pulas cukup dengan tikar pandan. Hanya beberapa mata berdedip, termasuk seniman Ipong bicara tentang kemiskinan, yang tertunda.
?Orang miskin, pengemis dan gelandangan tidak lain hanyalah sebuah korban. Ini jelas suatu fakta hidup dari anmal rasioanle, binatang yang berpikir. Manusia itu tak lebih punya sikap dasar sebagai binatang yang tempatnya lebih tinggi sedikit dibanding kera, sebagai animal rasionale ia punya dua kecenderungan menindas dan ditindas. Yang kedualah yang banyak dipredikatkan pada golongan miskin dan gelandangan. Dianggap sampah, penyakit masyarakat, dipinggirkan. Dan yang penting mereka itu dicap tidak beradab. Hebatnya, cap kedua ini justru melahirkan konsep baru terhadap pola hidup mereka yang sebagai makhluk sosial: yakni solidaritas kaum miskin. Mereka bisa berkumpul, mengancam, menaikkan posisi tawar, menuntut, bahkan memberontak, tak lain karena jumlahnya yang maikn hari bertambah besar??
Seniman Ipong terus berbicara. Bahkan hingga tiap katanya makin sulit dipahami karena hari kian malam. Sampai ia putus asa oleh sebab tak ada sedikitpun nyala bola mata rekan-rekannya. Ya, para prajutit lebih banyak yang tidur mendengkur ketimbang mendengarkan ocehan tak bermakna.
?Huh..Diamput!!?

Tujuh

PAGI. Tak satupun koran ibukota memuat berita aksi protes rombongan Bintang Sakti bersama prajuritnya. Bisa diduga lantaran kasus ini menimpa bos besar imperium media massa. Entah apa yang terjadi di belakang ini semua, sebentuk solidaritaskah? Belum ada jawaban.
Satu-satunya yang masuk di telinga Biru Langit, hanyalah ocehan seniman Ipong tentang solidaritas yang ia dengar lamat-lamat antara sadar dan tidak di tengah malam. Mungkin juga bila kata Ipong, bila ada solidaritas kaum miskin, bukan mustahil ada solidaritas golongan elit. Diantara keduanya lebih gampang cari perbedaan ketimbang persamaannya. Meski sama-sama terikat oleh sebuah solidaritas. Nasib buruk pengalaman sejarah dan kekayaan yang membedakan keduanya, setidaknya begitulah pandangan Ipong.
?Solidaritas kaum miskin lebih karena didorong oleh nasibnya yang selalu jadi korban kekuasaan, uang dan alat negara. Sebaliknya solidaritas kaum atau golongan elit karena didorong oleh kepentingan sama-sama menjaga kekayaan modalnya dan tentu saja kedudukannya sebagai warga negara kelas satu,? ini pikiran Ipong yang diingat, Biru Langit karena menyerupai adonan buah pikiran Karl Marx, Mao Tse Tung, atau Tan Malaka (memang itulah nama-nama yang kerap ia sebut, entah sebagai tokoh idolanya ataukah bukan).
Satu hal lain yang dia ingat adalah tiadanya kejelasan bicara tentang mimpi, kenyataan atau omong kosong. Ini pula yang membedakan sekaligus dengan tiga lelaki; si brewok Marx, si keren Mao atau si misterius pemilik sebuah foto Tan Malaka. Sebaliknya obsesinya bicara atau membual atau berapi-api atu entah apa namanya lebih menyerupai kesurupan ketimbang intelektual yang berpikir dingin.
Ya, barangkali saja ia sedang menterjemahkan kesepiannya sendiri menikmati kesendiriannya sekaligus mengusir nyamuk, kecoak atau setan. Lantas apa kata-katanya bila menutup pembicaraan seperti ini? ?Aku tidak suka kesunyian. Jadi keadaanku seperti ini bukan semata-mata keinginanku sendiri. Ada kekuatan lain yang? ah sialan betul dunia ini. Kenyataan macam ini?? Begitulah Biru Langit mau katakan seniman Ipong telah asyik dengan kebiasaannya menyalahkan kekuatan lain di luar dirinya ketimbang keadaan dirinya yang membuatnya seperti sekarang.
?Kalau kau punya kesimpulan seperti itu, sebetulnya diantara kita ada titik temu, isi pikiran kita bila untuk mengatakan tentang dunia ini, kawan Ipong,? pikir Biru Langit. ?Boleh jadi kita hanya memang sekadar omong kosong belaka.?
Berikutnya catatan pentingnya tentang seniman Ipong. Trade marknya menyebut praktek kapitalisme rente oleh penguasa negerinya?bahwa penguasa menjual pengaruh untuk menguasai ekonomi. Itu yang dilakukan Soeharto dan anak-anaknya. Dia Cuma menjual kekuasaan. Dalam kapitalisme rente, kaum oposisi yang ingin menjadi kapitalis itu dibatasi ruang geraknya. Yang diberi kesempatn yang tidak mengancam kekuasaan politik, seperti etnis Cina. Selain dari golongan Cina adalah golongan pribumi yang tidak mengancam kekuasaan seperti kerabat, konco. Jadi tidak ada perusahaan besar yang murni milik Cina, atau murni milik pribumi. Sebagai seniman tak lupa dirinya menjejalkan kritik sesama rekannya, ?Seniman selalu terbawa arus ekslusivisme seni, terjebak permainan yang mengarah dalam gerakan-gerakan bentuk saja, tetapi tidak dalam jiwa, roh dan isi pikiran.?

Delapan

DERIT roda kereta Jabotabek beradu rel kali pertama mengagetkan potongan-potongan peristiwa asing. Banyak kali terjadi hentakan akibat misteri suasana hatinya yang tak menentu?lebih tepatnya gejolak pertarungan dalam jiwanya atas kenyataan yang entah mengapa sulit ia terima dengan iklas. Kereta berhenti di sebuah stasiun kecil di Cipayung, Bogor. Entah bagaimana terjadinya tiba-tiba Biru Langit telah melompat ke tubuh mikrolet. Sepasukan ditelan semuangya dengan diantar seorang kurir bernama Daeng Kelana, mikrolet meluncur di sebuah perbukitan. Lagi-lagi yang mengejutkan, angkutan sewa itu berhenti di gerbang Padepokan Bengkel Teater milik penyair kenamaan WS Rendra.
Untuk pertama kalinya dalam perjalanan, rombongan disambut oleh beberapa ekor anjing. Tidak liar memang. Lalu kandang ayam, gubuk reot dan lading gersang. Kurir menterjemahkan semua gambar yang semuanya tak tersentuh. Juga foto-foto. Lantas berkenalan dengan manusia-manusianya, orang-orang perkasa yang menyerahkan tubuhnya dan nasibnya, juga jiwanya pada nama besar si burung merak itu. Kali ini waktu yang mengecewakan. Sayang waktu telah jatuh menjelang petang perjumpaan dengan pembawa sajak sebatang lisong dalam film Yang Muda Yang Bercinta itu sampai film itu dilarang beredar , hanya sekali kata saat pengajian. Malam berlanjut dengan tahlil dan terpaksa rombongan pun hraus menginap di ruang perpustakaannya (suatu pengalaman yang menyebabkan Biru Langit sulit memejamkan mata karena tenggelam dalam kata, tubuhnya yang ringkih itu. Ingatan yang sama menerbangkan dirinya kepada suasana pasar loak di jalan Semarang Surabaya, atau perpustakaan di Balai Pemuda).
Malam berakhir dengan penjamuan makan nasi lodeh dengan lauk ikan asin, plus harus mencuci piring bekas makannya sendiri. Itu aturan setiap tamu yang dijamu di sini. Barangkali, ini cuma sepercik cermin sikap hidup kegagahan dalam kemiskinannya yang ditanamkan Rendra pada anak buahnya: Ikan asin dan piring kotor, dan tentu saja perhatiannya pada alam, lading, kebun, lereng, perbukitan, binatang piaraan dn angin. Barangkali, itulah pilihannya karena alam bersih yang ia bangun perjuangkan dan jaga dari kerusakan, ia bisa temukan jalan. Ya, suatu pikiran tentang kebudayaan. Sepotong sajaknya mengingatkan Biru Langit, miski ia belum jenak bertatap dengan wajah sejuk penyair berambut semir itu. Aku tulis pamflet ini karena kawan dan lawan adalah saudara di dalam alam masih ada cahaya. Matahari yang tenggelam diganti rembulan. Lalu besok pagi pasti terbit kembali. Dan didalam air Lumpur kehiduapn, aku melihat bagai terkaca. Ternyata kita toh, manusia! 81)
Pukul 10.00 pagi. Tepat esok harinya. Tak terbayang semalam dan memang terlupa untuk diceritakan, lantaran terinjak dan semua perabotan dinding, daun pintu, jendela, saka, kediaman segalanya terbuat dari kayu jati. Tiap kali kaki melangkah, saban kali pula lantai berderak.
Dalam kekosongan pikiran, timbul pertanyaan bagaimana orang ini membeli ini semua? Uang dari mana? Kayu jati illegal loging ataukah bukan? Terang tak terjawab. Putus. Sang burung merak melompat dari lubang pintu.
Lalu perkenalan politikus Bintang Sakti atas gerombolannya lebih menyerupai impresario. Nyata tapi tak masuk akal. Dari emperan lantai dua yang menyerupai balai-balai itu bertiup angin kencang yang berputar-putar dari atas maupun bawah perbukitan Cipayung, juga suara kambing, bebek, atau anjing. Lalu laki-laki yang menyapu halaman. Dari balai-balai itu pula banyak tikaman yang menghunjam berkali-kali.
Ceritanya, mata pisau itu telah terlihat bagi Biru Langit saat mendapat laporan aksi kegilaan bos koran terbesar di Surabaya, tak ada tanggapan yang bisa dicatat. Sebaliknya sang burung merak berbicara terlampau banyak, sampai tak satupun anggota rombongan yang bisa mencuri waktu atau memotong bicara. ?Begini rupa rasanya polah tingkah orang punya nama besar. Apalagi yang terlah berumur.? Ada misteri di dalamnya, kenapa ia tak peduli, kenapa ia bicara begitu banyak soal sampai tak termuat dalam ingatan. Bahkan soal tahlil minta doa karena istrinya yang sakit keras tak membekas. Mungkinkah ada sindrom kuasa dlam dirinya selaku orang besar? Sikap yang senada kentara sekali saat mengomentari beberapa kali pencalonan nobel sastrawan Pramoedya Ananto Toer. Seolah-olah dia berkata dirinyalah sebetulnya yang lebih pantas mendapatkannya. Ah, ternyata toh kita manusia! Terkadang di mata Biru Langit, dia lebih sebagai sosok yang menganut ilmu silat ketimbang surat: Betapa ia bangun pagi pergi ke ladang dengan cukup menggerakkan celana komprang kaos oblong lalu menendang kesana-kemari. Makin membuat isi pikiran Biru Langit berputar-putar menerawang ke dalam sayu hijau mata tuanya. Tapi ia terus berbicara, berkicau sambil mempertontonkan bulu-bulu indahnya, matanya. Hebatnya sesekali ia memperlihatkan pukulannya yang dahsyat, menghunjamkan tikamannya yang mematikan.
Ya, ia diam-diam manusia yang berbahaya, seperti kobra yang sanggup membunuh seratus manusia sekaligus ia juga penari yang cantik bila sedang bertemu dengan kekasihnya. Kedua-duanya hadir persis di dalam dirinya tertangkap sebagai buah tangan Biru Langit untuk dibawanya kembali pulang ke Surabaya. Dalam perjalanan pulang setelah menikmati derit lokomotif, kawat-kawat elektris, lalu peron, bangku-bangku yang bosa menera saat-saat keberangkatan, setelah membungkam kenangan dengan berfoto bersama di pelataran masjid istiqlal berlatar belakang menara Monas, Biru Langit melirik sepotong sajak penyair panglima rombongan yang terpaksa juga dimaksudkan sebagai cindera mata dari si burung merak. Di lobby rumah rakyat itu, engkap mengecupku seraya berkata: ?ada anak burung terjatuh dari sarangku. Maafkan aku mencintainya, ternyata. Ah, betul juga si burung merak itu manusia berbahaya bukan? Ia lebih menyemprotkan bisa ketimbang senyum sebenarnya. Atau sebenarnya ia adalah ular kobra yang memangsa sesama ular dari pada si burung merak yang memamerkan kecantikan sekaligus kesombongannya.
?Barangkali tak juga terlalu sia-sia hei panglima, saat kau membujuk, menghasut, menteror sepasukan prajurit anak buah Hamlet bercelana jean itu!? pikir Biru Langit. ?Kau kotori pikiran mereka, dengan pertanyaan mengapa lebih memilih mengabdi kepada penguasa yang dictator daripada seniman yang mencintai kebebasan dan meliarkan tubuh dan jiwamu mengembara?? Tak ada jawaban seketika kecuali busa atau ampul kondom yang melayang-layang dan mencemari sungai-sungai nadi mereka. Tentu saja jawaban sementara sebagai permakluman, ?Toh kita adalah manusia.?
Sebelum lepas meninggalkan kota dari bawah menara, tiap wajah banyak berubah karena siap berkendara bis executive class termahal. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Biru Langit. Mendadak tikaman terjadi bertubi-tubi, pukulan berkali-kali mengenai jantung hati paling dalam. Betapa melalui kuping dan mulut sang panglima serta seniman Ipong, tercium kabar telah terjadi transaksi besar-besaran antara politikus Bintang Sakti dengan wakil bos koran besar yang terbit di Surabaya itu. Transaksi terjadi atas perantara salah seorang petinggi sebuah koran harian dan mingguan Tabloid terbit di Jakarta, di suatu tempat di kawasan Lebak Bulus persisnya di belakang stadion. Ya, sebuah tempat yang cukup nyaman, jauh dari keramaian untuk transaksi. ?Nilainya mencapai ratusan juta dan baru kali ini aku lihat uang sejumlah besar itu,? bisik panglima. ?Hasilnya, seperti ini kita bisa pulang nyaman dengan bis mewah ini,? ucapnya menyakinkan.
Selepas itu seluruh rombongan pasukan menikmati perjalanan malam dengan enggan membuka mata. Dalam sekejab bis telah tiba di terminal Bungurasih Surabaya. Bahkan tanpa mimpi. Hanya tubuh dan wajah yang serasa melepuh yang masih terbawa. Peristiwa terjadi paling cepat dalam diri Biru Langit itu tak terhapus, persis beberapa hari menjelang tragedi pembredelan pers Tempo, Editor dan Detik 21 Juni 1994. Ya, inilah siang yang paling panas saat kali pertama turun dari suhu Air Conditioning bis executive class.
Seolah dirinya menjadi kembali hidup pertama kali mengenali dunia. Tapi ia bukan seekor bayi.[]

SEPULUH
IDEOLOGI LELAKI

Satu

KENDATI perempuan Sulistyorini mengaku suka membaca sejumlah sajak Chairil Anwar dan pernah membaca skenario Aku garapan si jenius Sjumanjaya, entah mengapa sama sekali tak ada yang membekas padanya. Ia justru tumbuh sebagai gadis yang sulit melepas kekanak-kanakannya, sentimentalismenya. Beruntung perkenalannya dengan Biru Langit, politik dan diskusi-diskusi kiri agar menggoyahkanya untuk tinggal sedikit saja membuatnya garang. Begitu pun berkali-kali Biru Langit musti ingatkan dengan bait-bait ?Kawan-kawan, kita bangkit dengan kesadaran, mencucuk menerawang hingga belulang. Kawan-kawan, kita mengayun pedang ke dunia terang. Tak mempan.
Lantas, apa yang terjadi selama sepekan tanpa Biru Langit di dekatnya. Seperti inilah ternaya yang dialami perempuan Sulistyorini.
?Yang sebenarnya terjadi, meski selama ini kamu berpura-pura tahu (sok tahu), aku yakin kamu juga papa dan mma tidak pernah tahu apa arti kehadiranmu bagiku, Biru Langit. Kamu telah kuanggap saudara, sebagaimana orang-orang yang aku cintai, papa dan mama. Jika ada yang menyuruhku berhenti mengingatmu, kangen padamu, berarti dia tiak pernah mengerti aku sebenarnya. Berarti dia talah membunuh sebagian dari hidupku. Kalau itu ada padamu seperti terkesan olehku berarti kamu benar-benar tak mengetahui apa yang telah kukorbankan untuk kamu Biru Langit. Aku perlu ulangi, demi kamu, aku telah buka rahasiaku yang telah kehilangan darah keperawananku, mahkota hidupku. Kamu belum mengerti Biru Langit,? Sulistyorini seperti tersedu suaranya memberat, badannya tertangkap menumpahkan segala perasaannya, dendamnya kepada kekasihnya. Biru Langit tak mampu menggunting kata-katanya, ia tersedot daya ledak emosi Sulistyorini. ?Aku terus menunggumu, suratmu, telpon darimu, kedatanganmu bahkan kabarmu pun tidak, berapa lama. Kau tak tahu apa yang aku lakukan di sini? Aku menulis surat-surat untuk menumpahkan perasaanku padamu yang tak mungkin kukirimkan kepadamu. Tak terbayang olehku andai perasaanku ini selisih jalan dengan kamu Biru Langit. Karena itu cukup aku kumpulkan seperti ini.? Ia membuka tas dan memperlihatkan kertas-kertas berwarna-warni. Biru Langit tak punya nyali menyentuhnya. Dirinya masih temukan pikiran dan perasaan sendiri. Betapa sunyi kekasihnya itu saat menulis larik-larik, ?Aku tak bisa menulis puisi entah mengapa aku menilai inilah puisi pertama dalam hidupku. Betapa berat saat aku menuliskannya, tanpa tujuan. Setidaknya ini untuk aku bisa mengurangi penderitaanku,? Sulistyorini mencoba menenangkan diri, sekaligus menyedot perhatian kekasihnya.
Kata ?puisi? membuat Biru Langit terluka. Ia menggandeng perempuannya dan mengatakan dengan kata-kata bijak. ?Menulis surat panjang, itu cara paling ampuh untuk menulis sastra, puisi atau prosa,? meski sebetulnya dalam hati ia merasa prihatin dengan nasib puisi seperti diucapkan kekasihnya. Lantas untuk memecahkan kebekuan, diajaknya Sulistyorini berjalan-jalan. Sore itu, Ahad, ia menyempatkan menonton latihan teater mahasiswa. Tampaknya, mahasiswa-mahasiswa ini mau mementaskan naskah Caligula-nya Albert Camus, cuma saja kedengarannya dialognya maupun tokoh-tokohnya diadaptasi dengan gaya Jawa. Barangkali dimaksudkan mendekatkan pada persoalan-persoalan pemerintahan saat sekarang. Soal kediktatoran, korupsi, perempuan, intrik-intrik istana, uniknya tingkah polah tokoh-tokoh dalam pertunjukkan meminjam gaya Kabuki Jepang. Dari sekian adegan yang tepat menggambarkan suasana hati Biru Langit dan Sulistyorini adalah saat Caligula menuntut istrinya ikhlas dibunuh sebagai bukti cintanya pada permaisurinya itu. Sekaligus demi cinta wanita malang itu pada dirinya. Fantastis, tragis dan subversif. Hebatnya, betapa terjadi pertarungan batin saat akhir adegan, berpapasan dengan senyum dan pandangan absurd perempuan Sulistyorini. Terkadang ia terlihat sengaja menyembunyikan wajahnya di balik urai rambut yang jatuh di wajah. Banyak sekali perasaan yang menyeruak. ?Akankah aku musti membunuhmu perempuan sentimental dan cengeng?? pikir Biru Langit. Sulistyorini hanya diam saja. Hei, diammu jangan menyimpan sesuatu gejolak. Entah bagaimana makna diam itu tiba-tiba sebuah apel merah memaknai sesuatu, lalu beberapa lembar kertas surat berwarna-warni. Biru Langit memaksakan diri untuk membuka lembar demi lembar ari yang sepele hinga yang paling berat semuanya ditujukan kepadanya. Sementara dilatari suara kacau mahasiswa-mahasiswa yang latihan acting voice, musik yang gaduh, sungguh suasana yang tak romantis. Satu-satunya yang menyelamatkan, cepat Biru Langit menggenggam jemari tangannya, sampai menggelindingkan sebutir apel merah dari tangannya.
?Biru Langit,? suaranya tertahan, ?Aku selalu menahan apa yang bergejolak, setiap kali sentuhanmu menyentuhku. Aku takut sesuatu terjadi pada kita sepeninggalanmu. Tapi di sisi lain begitu hinakah aku di matamu, sehingga tak menghargai perasaanku lagi? Aku memang sakit, dan aku tak berhak berada di antara kamu. Jujur saja sampai detik ini ada dalam diriku masih bertarung diantara dua hal ini Biru Langit.?
Biru Langit tak memiliki jawaban. Sebaliknya, ia juga tak mau hanyut oleh kedekatan, kemanjaan, ketakutan atau bahkan kehilangan, iri atau dengki. Tidak. Apalagi oleh airmata. Kekalutan membuat perempuan Sulistyorini bersandar di pundaknya. Sebab itu dilatari kegaduhan teriakan dan musik pokrol bambu, satu-satunya yang menyelamatkan adalah bait-bait sajak Chairil Anwar?kita mengayun pedang di dunia terang? Takut terjadi selisih paham, mengetahui Biru Langit mulai membuka surat, perempuan Sulistyorini masih mendesakkan hasrat dan kalimat.
?Kamu harus percaya betapa sakit dan pedih hatiku ketika kamu pamit berangkat ke Jakarta. Aku melihat tatapanmu yang sangat menyentuh perasaan. Ada airmata yang mengalir ketika sampai di rumah. Maaf aku harus menuliskan surat-surat ini karena perasaanku yang merasa dibohongi, telah menghapuskan rasa percayaku, saat ini. Aku tidak tahu sampai kapan akan pulih kembali. Aku tidak ingin berpura-pura, maaf jika ini agak menyakitkan. Percayalah, jika di sana kau rasakan kerinduan, di sini pun kurasakan hal yang sama. Aku sangat menyayangimu.?
Entah bagaimana mulanya, lembar-lembar yang terbaca kali pertama Biru Langit adalah sebuah puisi (ah dia tak tahu benar apa artinya. Setidaknya ia terpikat karena kekasihnya menuliskan dalam larik-larik menyerupai puisi). Ada dua lembar yang menarik dibacanya:

Manakala sunyi menggerigi
Malam yang perlahan membuka kembang sejak tadi sore
Menghias sekelopak, lalu menabur (di atas)
Wangi di atas tubuh dan memagutnya dalam sekulum
Lagu yang telah tersusun
Semusim yang lalu tidakkah
Kau dengar pori-pori yang gelisah?
Menahanku sesak (yang) berlari-lari mendatangi
Tubuhmu yang menjelma api
Lalu mengabu (bersama rindu)
Kutaburkan dirimu didiriku hingga
Tiada itu mewarna jelas di dahiku

Lalu?

Jauh-jauh kudengar lagu itu
Di balik naungmu yang membahana
Ku bimbing nestapa yang mengelabu
Menghindar pada abu yang mengarak-arak rindu
Terlena menuju altar
Pada arus di bawah samudra kencana
Yang mewangi bagi srimpi malam hari
Di balik naungmu yang membahana
Kubawa secangkir embun manakala senja
Beradu kelu yang terpendam sudah
Menjadi rindu membatu
Di situ,
Gunung-gunung tak lagi bersetubuh
Enggan merupa kita. Sebab ada lengan
Yang bertaut gelang gemerincing
Rencong pengasihan

Dua puisinya tanpa judul, hanya saja di kertas bagian bawah tertulis:

Tuhan memberiku cobaan, itu berarti Tuhan menyayangi dan menjagaku. Jika saat ini ada cemas yang teramat sangat, mungkin itulah cara Tuhan mengingatkan?

?Tidak ada seorangpun yang menginginkan apa yang telah dirintis itu gagal. Tapi entah karena apa semuanya terasa lain. Aku menjadi sangat sensitive. Dan aku mulai suka menyakiti diriku sendiri dengan pikiran-pikiran tentang kesedihan. Hingga aku menangis, ? terus saja Sulistyorini mendesakkan perasaan sat melirik dan tahu kekasihnya usai membaca bait-bait puisinya.
?Sayang, tidak ada puisi terindah selain yang kita jalani selama ini. Kuyakin engkau mengerti, karena engkau telah menterjemahkan lewat kata. Walau kutahu, kau takkan mampu menuangkan semua, tapi aku bangga padamu sayang. Tahukah kau sayang, kau adalah bagian dari puisi terindah yang pernah kumiliki. Bagaiamana aku akan selalu mencintaimu, selain menghormatimu. Aku menghormatimu sebagai bagian dari hidupku. Engkau selalu membuatku sadar dalam menjalani hidup. Seharusnya engkau di sini bersamaku, membagi kebahagiaan ini.?
Coretan-coretan perempuan Sulistyorini kedengarannya di mata Biru Langit makin menggila. Betapa idiom-idiomnya sangat sederhana tapi justru asing di telinga Biru Langit. Dalam hati Biru Langit bertanya-tanya, bagaimana kegilaan perempuan di hadapannya ini demikan kumat, hanya dalam waktu sekejap kepergiaannya. Apalagi bila setahun, dua tahun, puluhan tahun. Sebegitu pentingkah dirinya di hadapan perempuan itu. Atau sebaliknya sedemikian perlunya menyehatkan wanita itu bagi Biru Langit setidaknya terbukti dari sekian lama perjumpaannya, membuahkan hasil tanpa sentimental, cengeng, ratapan, dan tentu saja puisi murahan. Benarkah sepasang kekasih ini sedemikian saling berharga? ?Oh, betapa kejam seisi dunia ini telah meruntuhkan nasib dua sejoli ke dalam lubang perangkap berbahaya: misteri puisi murahan,? keluhnya. Tapi sungguh tak ada lagi pilihan, mencari perlindungan pun tidak, ia tahu telah jauh masuk perangkap meski hanya sebentuk lembaran sesobek kertas. Untuk mengibaskannya pun tidak sanggup. Sebab itu ia musti baca surat terpanjang dan paling murahan yang pernah didengarnya dari kekasihnya. Beruntung, suasana tak begitu memagut sehingga melompat sejalah kata-kata dan jatuh entah ke mana pergi ke jalan-jalan, lapangan, ruangan kosong, gudang atau bahkan pasar becek dan diterbangkan angin. Dengan mencoba bangun dari kemalasan ia tunjukkan beringas kepala dari rasa pusing, blingsatan matanya dari kabur, dan perutnya dibebaskan dari berpilin-pilin serta tengkuknya dari lengkung tulang belakangnya. Lalu melompat-lompatkan pikiran Biru Langit mengeja kata-kata dalam suratnya?

Mas, lagi ngapain sih? Kalau memang sibuk ya udah. Nggak usah telpon, nggak usah ngirim kabar. Aku nggak bakalan nangis gara-gara ini. Bahkan aku bisa membalas perlakuan Mas padaku. Mas, aku punya hati, rasa khawatir kangen, marah, benci, kesal, sedih. Mau tahu perasaanku sekarang. Aku ingin melupakan Mas. Hanya jalan itu yang bisa membuatku tenang. Maafkan aku, hatiku sedih jika merasakan mas tidak mempedulikan aku. Aku tahu mas berjuang. Tapi itu tidak berarti bisa seenaknya. Sungguh aku sedih. Itu tak apa. Itu menjadikan sesuatu lebih bermakna. Aku percaya bisa mengubah kesedihan ini menjadi kebahagiaan dan m enjadi bagian dari hidupku yang sulit kupisahkan.
Kadangkala, aku merasakan kebahagiaan dalam kesendirianku. Terutama saat aku harus mengingat kebersamaan kita. Saat ada kerinduan yang tak tersampaikan, saat ada ketakutan yang menyesakkan rongga dada. Aku menangis saat mengenang tentang kita. Ya, menangis karena bahagia. Sudah demikian rumitnya hidupku, sulit menterjemahkan tangis dan kebahadiaan. Mas tidak mengerti perasaanku. Mas selalu menganggap semuanya baik-baik saja.
Sudahlah, Mas lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tahu mas ingin meraih sesuatu. Dan untuk itu ada yang harus di korbankan. Dan aku tahu posisiku sedasng berada di sebelah mana. Aku mulai berpikir sekecil apapun perhatianku padamu menjadi sia-sia. Sudahlah, Mas sudah berubah, aku tidak mengalimu lagi. Oh, Tuhan, jika aku tahu akan terjadi hal demikian, aku tak akan mau melepasnya ke Jakarta. Tapi apa yang bisa kulakukan, aku bukan apa-apa bagi dia. Aku tidak tahu dia manganggapku apa. Mas sikapmu telah menyakiti hatiku. Aku tidak tahu apakah saat pulang nanti aku masih bisa menyambut kedatanganmu

Yang selalu menunggu.

Ketika Biru Langit melipat kertas suratnya, tangannya seperti ketakutan karena hati-hati. Sesuatu telah menggerakkan dagunya ke atas dan menarik bibirnya ke belakang kuat-kuat. Sebelum akhirnya tertawa meledak sekuat tenaga. Sulistyorini kaget setengah mati, tapi suasana benar-benar berantakan berkeping-keping. Airmata, ludah, lidah, bahu, kening, hidung, tubuh sebuan bergerak seperti baru saja berlari seribu meter. Betapa Biru Langit memekikkan tawa demi banyak hal. Kelucuan, prihatin, sedih, duka yang dahsyat, ?Bagaimana bisa aku mengalami hal ini,? ucapnya. ?Bagaimana bisa ini terjadi padaku. Belum pernah sebelum ini aku dijangkiti perasaan seperti ini,? tiba-tiba ia mendekatkan moncong mulutnya kepada kekasih. ?Dan kenapa kita tiba-tiba jadi bodoh seperti ini? Aku demikian cepat terseret keadaanmu yang mustinya kita bisa sama-sama memenggalnya berkeping-keping, ha??
Sulistyorini hanya menatap balik wajah lelakinya, tanpa mengerti luapan emosi yang tak berujung pangkal itu. Di balik itu semua, sesungguhnya Biru Langit mentertawakan dirinya sendiri. Di sisi lain ini bukti dirinya lebih baik dari sebelumnya, lebih sehat dari kesehariannya, atau bahkan lebih unggul dari manusia kebanyakan. Setidaknya untuk waktu petang itu. Saat bersebelahan dengan mahasiswa-mahasiswa berlatih teater mencari pencerahan diri. Begitu sehatnya dirinya, sampai melihat perempuan Sulistyorini di dekatnya demikian cantiknya, hidungnya, kakinya, alis matanya, dan baunya. Ya, ia bukanlah perempuan yang norak, murahan sebagaimana kata-kata dalam suratnya. ?Ah, tidak, kau cantik sekali. Maafkan itu semua hanya ada dalam pikiranku.? Begitu cantiknya sampai-sampai tak terpikir sedikitpun di benak Biru Langit tentang kata apalagi puisi. Yang ada hanyalah perasaan dan tentu saja sedikit nafsu, gairah serta gejolak hidup sehatnya. Ia merasa seperti manusia kebanyakan. ?Kekasihku, buatlah hidupmu selalu mengagumkan, biarpun itu bagiku tidak. Namun setidaknya engkau senantiasa tahu dan mengerti aku tidak akan pernah menyatakan ?tidak? yang sesungguhnya. Begitulah lebih dari sekadar fakta cintaku terhadap engkau. Aku sendiri sulit untuk menceritakan dan mengabarkan kepada orang lain, termasuk engkau. Kecuali kepada Tuhan.?
Sulistyorini tak bisa menyembunyikan kegirangannya mendengar ungkapan manis kekasihnya. Ia begitu berani mencengkeram lelakunya. Ia memastikan diri sudah tak memiliki air mata lagi karena itu ia bermaksud memaksa memperlihatkan linangan basah bola matanya. Merasa tak mampu dan belum cukup, tanpa sadar, bibirnya mulai berkata-kata, perasaannya terbawa, dan pikirannya mengembara. Munculnya semacam puisi yang sangat berbeda, dan kiranya tidaklah perlu untuk dicerna apalagi di eja kata perkata. ?Sayang, bagaimana kita akan menyatukan dua samudera tanpa ada benua di antaranya. Sedang di sini kita tak punya semut pekerja yang bisa merancang jembatan untuk pertemuan kita. Kita hanya menuliskan tembaga yang telah legam di genggaman. Tak apa mau kita seperti itu. Kita jadikan emas dan kita bangun sendiri rumah kita di sana, di puncak mercusuarlah kita rajut benang-benang kerinduan kita di atas serpihan-serpihan ombak di laut sana. Pada angin yang berhembus di kala senja, akan kukabarkan cintaku dari puncak mercusuar.?
Kali ini Biru Langit benar-benar tersedot oleh suatu kekuatan dahsyat. Tak ada desau angin apalagi kicauan burung. Engah megnapa suasana serasa hening. Tidak juga ia mencoba mencari makna. Diam itu mungkin juga bukti puisinya taklah bermakna. Biru Langit tak punya nyali untuk meledakkan tawa.

Dua

LAMA sekali Biru Langit berdiri tanpa kata-kata. Ia tengah berpikir tertuju nyalinya. Ia mulai menyadarinya, tertawa, nyali, tak menjadi pertanda terenggut dari dirinya. Kebebasan. Ya, barangkali ini bukti secuil terenggutnya kebebasan. Secuil, bisa berarti awal dari keruntuhannya. Apakah dengan demikian diam-diam dirinya menjual sebagian hidupnya kepada perempuan Sulistyorini? Ia melemparkan diri ke dalam ranjang dan membanting tubuhnya, jiwanya, hidupnya: Hanya oleh karena tunduk kepada seorang perempuan.
Satu-satunya yang membayangi Biru Langit adalah Caligula. Betapa dirinya lemah di hadapan tokoh ciptaan Albert Camus itu. Mengapa justru dirinya menyerahkan cintanya pada sesosok tubuh perempuan. Ah, betapa otoritarian itu wanita. Terlalu baik dirinya di hadapan Sulistyorini, hingga ia lupa diri, seberapa lenmah dirinya sebagai sesosok makhluk Tuhan yang mengarungi samudra hidup di semesta ini. Fatalnya, sesuatu telah menyedotnya bertingkah tak kalah sentimentil, seolah-oleh ada bagian perjalanannya yang tak cuma berhenti istirahat, tapu mundurke belakang. Dan jujur saja Biru Langit harus mengakui kemiskinanlah titik temu dari seluruh rangkaian waktunya yang menyebabkan ia terdampar di wilayah yang sebetulnya tak ia kenali sungguh: sentimentalisme. Dunia yang harus dihadapinya dengan amat hati-hati. Sebab ia bisa meniadakan dirinya, melumatnya dari sekian banyak kata dan metafora hidup.
Ya, pendek kata sentimentil bisa sama sekali tak bermakna bagi manusia. Bahkan menjadi pembunuh baginya, menguburnya dalam-dalam di semesta ini. Jadi sentimentil tak mustahil menjadi semacam ideologi yang mencuci otak manusia untuk kemudian diganti sebagai sejenis benda yang belum ada namanya, tapi hidup lebih rendah dari binatang ternak yang menjadi pelengkap empat sehat lima sempurna makhluk hidup lainnya. Bila tidak, sentimentil juga yang sanggup menyebabkan dunia ini berkerut kerena tua bukan karena kecantikannya, tapi oleh karena kepasrahannya. Sebaliknya, sentimentil bisa menjadi kekuatan dahsyat karena justru dengan demikian makin menunjukkan dirinya sebagai manusia jauh dari sikap sempurna. Karena itu ia pula yang menggerakkan sisi dalamnya, nasibnya, kelemahannya, kekalahannya, kepekaannya bahwa manusia bukanlah seonggok daging yang hidup sendiri.
Ya, manusia tidak hidup sendiri, bahkan dalam kediriannya ada sesuatu yang telah menggerakkannya.
Ya, suatu kekuatan yang karena itu dirinya bisa melihat kehebatan dunia luar, kegagalan, kemenangan, kekuasaaan. Toh, ini semua hanya soal dunia dalam. Lalu, dimana engkau memilih? Berpijak? Persoalannya tidak banyak yang tahu menempatkan diri saat tepat memenangkan pertarungan antara dunia dalam dengan dunia luar, antara perjuangan dalam diri manusia sendiri, atau peperangan manusia dengan kekuatan hebat di luarnya. Segalanya berpulang pada manusia. Ah, sebetulnya tak tepat benar bila Biru Langit memilih cara ?hati-hati.? Ada sisi yang tak terjawab dengan idiom itu. Yang paling mendekati tepat adalah perjuangan. Dan itu pun harus diembel-embeli tanpa henti. Lalu apa yang terjadi pada Biru Langit pada saat sekarang? Ia masih hati-hati, ia masih berdiri pada perasaannya, ia masih berada pada titik yang terlalu besar dan dalam kemiskinan. Ia masih berada pada wilayah kegelisahan dan disisi lain ia ingin terus hidup sebagai manusia. Sebab itu kemiskinanlah yang menyebabkan dirinya mengeja seluruh rangkaian yang pernah dilihatnya, dirasakannya. Segalanya dalam waktu yang cepat. Hebat. Lantas baginilah jadinya, ia berbicara pada dirinya sendiri. ?Kujaga segala penghargaan ini, walau seharusnya ada toleransi diantara kita. Namun terbuka sudah serbuk-serbuk bertaburan penghias malam. Terbentang sudah dan terpungkirilah satu janji di hati. Tak ada emosi yang henti, semua berlalu bersama debu. Berlari menodai makna hari. Aku tak pernah menyukai ketertutupan ini. Pun tak sepantasnya kubuka yang ada. Waktu yang tak berpihak. Dan kesakitan semakin menggelegak. Di sini ada emosi yang tak terkendali. Menggebu. Memukul dinding dingin dada.?
Luar biasa, Biru Langit tertegun sendiri mendengar luapan hatinya. Sejenak kemudian ia tergelitik untuk tertawa lepas. Ia sengaja menyia-nyiakan dirinya. Sore itu persis perasaannya tatkala melempar tubuhnya ke tempat tidur rumah kontrakannya. Inilah perasaan terbaik semenjak kepulangannya, seusai mendebat kekasihnya, dan sesudah tunduk pada surat-surat kadaluwarsa yang terpaksa harus ia baca. Ya, ia merasa lebih jujur, lebih bebas dan lebih berbicara gamblang membedakan dunia dalam dan kenyataan, puisi dan fakta. ?Sayang, pendeknya aku ungkapkan hal ini tatkala emosiku sedang labil. Hanya karena masalah sepele aku merasa tertekan. Mungkin aku sudah benar-benar capek dan butuh waktu untuk istirahat sejenak. Memang aku akui, saat ini aku (mungkin) terlalu memaksakan diri dan berharap banyak dari sesuatu yang belum jelas. Aku terlalu ambisius untuk mewujudkan mimpi dan cita-citaku dulu, dan aku lupa akan seberapa besar kemampuanku, serta dukungan yang sebenarnya aku harapkan tapi tidak kuperoleh. Sayang, aku mempunyai cita-cita untuk memutus lingkaran masalah kemiskinan yang membelitku. Aku tak ingin larut dalam masalah-masalah itu dan terus-terusan menjadi korban suatu keadaan. Kenyataannya, aku telah ditempatkan sebagai korban, menanggung beban. Lantas apakah engkau bisa merasakan, melihat keadaan apa yang kita alami sekarang. Mungkin tidak. Sebab engkau selalu positive thinking menghadapi sesuatu atau barangkali tak berpikir apapun?. Jujur saja aku ingin bercerita padamu, satu hal yang membuatku bingung, mungkin juga sedih, adalah ketika aku memilih berbohong, tentang kemiskinan, yang . Semua tentu tidak akan jadi masalah bila engkau tak perlu membantu biaya hidup dan pendidikanku. Engkau dan juga keluargamu bermaksud memberikan cuma-cuma, sebab biaya hidup dan pendidikanku, bagi keluargamu bukanlah apa-apa. Tanpa suatu paksaan aku menyanggupi. Tanpa suatu pengantar basa-basi berbelit-belit aku selalumenerima dengan tangan terbuka sumbanganmu. Bahkan sedikit lubang penyelesaianpun tak ada beritanya. Ah, ketahuilah kekasihku, bahwa yang benar-benar meringankan aku berikutnya adalah saat aku harus ceritakan sentamintalia ini sebanyak kali kepadamu. Ah, sampai ceritanya begitu panjangnya. Sampai mulut dan pikiranku capek untuk terus menceritakan kembali dan hebatnya sesudah itu juga tak terjadi suatu peristiwa atau perasaan apapun menyusul kecapekanku. Jujur saja kuakui, aku hanya ingin waktu segera berlalu dan aku akan segera lepas dari masalah ini, ? Lalu Biru Langit membuka mata.
Hari sudah petang. Ada yang aneh dengan dirinya, ia merasa sulit membedakan antara igauan, mimpi ataukah bukan kedua-duanya. Dalam gelap oleh banyak tanda Tanya itu. Biru Langit menemukan satu jawaban. Atau mungkin jalan tengah. Mungkin juga sebuah inspirasi. Tepatnya suatu inspirasi. Bahwa dirinya harus mempertimbankan tawaran untuk tinggal serumah dengan keluarga Sulistyorini, papa Maryuhan dan mama Puri Wangi. Kali ini boleh dikata berkat pertimbangan yang sangat logis, urusan kemiskinan, kepraktisan, kenyamanan dan tentu saja masa depan. Selain tentu saja atas alasan tetek mbengek yang berkaitan dengan perasaan segala. Bahwa ia lelaki yang dibutuhkan, diharapkan dan cukup berarti. Yang meluangkan sebuah pertarungan. Karena itu di samping ia menerka-nerka perasaannya kelak tinggal dengan manusia-manusia yang secuil saja dari bagian hidupnya, jiwa dan pikirannya yang ia kenal. Biru Langit juga harus menjawab teka-teki selaku laki-laki yang terpilih bagi mereka, seberapa jauh akan menelan kebebasannya berada di dalam rumah besar dan orang-orang besar?orang kaya yang mempelajari orang miskin dengan cara tertarik pada dalil-dalil filsafat keilmuan. Akankah yang menimpa padanya adalah kebiadaban tak laiknya selaku makhluk manusia? Sebab itu tak berlebihanlah bila yang hadir dalam pikirannya adalah laki-laki Pam, sahabat sekaligus musuhnya selama ini. Yang telah menghilang dengan membawa sisa-sisa kebebasannya dan juga dendam. ?Aku tak akan pernah mengubah pikiranku, perasaanku terhadapmu kawan. Aku telanjur memposisikan dirimu di suatu tempat dalam diriku, dimanapun kau berada. Bahkan jika pun hilang,? ucapnya dalam hati. ?Hanya aku yang bisa memaknai ada dan ketiadaanmu, sahabat. Aku bisa menerka perasaanmu bila kelak engkau tahu aku tinggal serumah dengan Sulistyorini,? lantaran ini hanya suatu inspirasi Biru Langit hanya bisa tersenyum?pertanda sebuah keraguan antara memiliki hidup dan dimiliki, antara menang dan kalah, antara idealisme dan jalan tengah. Dan antara kemanusiaan dengan kebendaan.

Tiga

KEMBALI Biru Langit tertegun dengan jalan pikirannya, yang kedengarannya begitu sederhana. Menjadi rumit tatkala melibatkan emosinya, perasaannya dan suatu kekuatan hidup yang entah dimana jauh keberadaannya. Karena itu nyalinya dia tarik ulur dan terpikir olehnya untuk tak perlu lagi tersenyum.
?Ah, ini jelas bukan kemauanku sendiri terlibat dalam tetek mbengek urusan pelik macam wanita,? keluhnya.
Uniknya, Biru Langit mulai meratapi dirinya, seberapa kuat dirinya menentang arus yang menghanyutkannya , nyata-nyata tak bisa bangun dari keterpurukannya. Buktinya, ratapan, penyesalan terus hidup, tumbuh dan berkembang. Barangkali ini suatu jalan tengah atau kompromi, karena ia menempuh cara membelitkan hidupnya kepada akar-akar yang berjuluran. Alibinya, karena dengan demikian dia berharap menemukan hidup baru, atau lebih tepatnya menghidupkan sisi-sisi baru dalam dirinya, yang selama ini tak terjangkau oleh dirinya sendiri, seorang laki-laki.
Ya, barangkali ia sedang berharap bisa lebih mengenali diri bahwa ada bagian dari ruh hidupnya yang selama ini tersia-siakan. Barangkali. Meski demikian sebuah pertanyaan terus meluncur deras, bukankah sebenarnya ia bisa memilih bebas dari akar-akar itu lalu terbang seperti elang, gagah, keras, beringas dan sombong. Anggaplah ini suatu titik pemberhentian sementara. Karena dengan demikian ada yang harus digerakkan di dalam pemberhentian itu. Sembari menguji bahwa dalam semesta ini tak ada yang benar-benar berhenti. Ada yang bergerak dalam diam. Ada energi hidup sekalipun manusia memilih dirinya berhenti di sebuah stasiun. Sebab itu Biru Langit merasa di situlah perlunya berpikir tentang hal-hal yang seperti, semisal perihal perkawinan.
Ya, jujur saja ia harus akui berbicara tentang wanita bagi Biru Langit seperti hantu soal perkawinan tiba-tiba menerobos masuk. Dan ia musti menambahkan hantu lainnya yakni cinta. Ah, perkawinan, suatu ideom yang mustinya tak cocok buat sepasang manusia, meski di sisi lain justru menempatkan manusia pada posisi yang demikian sederhana. Lalu mana yang benar? Sebuah penyederhanaan ataukah suatu hakekat hidup apa adanya? Begitu sulit berdiri di suatu titik. Atau menjadi kekasih, pecinta, pejantan, budak sekaligus dalam pengertiannya yang komplek, meninggalkan kehidupan sebagai manusia bebas. Lantas, apa arti kebebasan sebentuk yang demikian? Mungkin tak ada, atau belum menemukan. Namun barangkali juga belum memerlukan. Sebaliknya, bukan mustahil kebebasan itu belum datang jika ia sebentuk makhluk yang bertugas menyelamatkan manusia dari kehidupan yang otoritarian ini. Apapun kata orang tentang perkawinan, sekalipun sebagai hantu, Biru Langit masih punya kuasa untuk memasukkannya ke suatu pertimbangan yang pelik, apalagi ke persoalan rumit sampai menggugat tidakkah sebetulnya undang-undang perkawinan negeri ini cuma sebentuk tirai yang membuat sekat perzinahan besar-besaran? Yang dijaga oleh algojo-algojo pembawa tradisi sembari menakut-nakuti atas nama penguasanya? Tidak demikian adanya. Sebab jika benar seperti ini Biru Langit bisa terjangkit penyakit kejiwaan yang menentang arus masyarakat, meski ia tahu tak berhak berbicara tentang kebenaran yang sebenar-benarnya. Sebab itulah baginya untuk saat ini berpandangan mempertimbangkan perkawinan adalah suatu kerugian-kerugian. Tentang cinta yang semodel demikian pun ia tak paham. Yang ia tahu adalah cinta dalam pengertian melibatkan ruh jiwa yang tinggi dan mendekati pembicaraan hidup dan mati, dua hal yang dirinya tak bisa memilih. Maut telah hadir dalam diri kita sejak kita hidup, kata Sutardji Calzoum Bachri. Hidup seperti cinta yang ini bukanlah pilihannya. Sebagaimana mati, mustahil pula ada dalam tangan atau pikirannya. Apalagi orang lain, meski sama-sama tahu bagaimana hidup dan apa itu mati. Ibunya lah yang mengajari segalanya tentang cinta yang demikian. Bahkan perihal jalan kematian. ?Ibulah makhluk hidup paling fantastis di semesta ini, dan bapak adalah makhluk yang paling menderita, oleh sebab kematiannya yang ada di tangan orang lain. Apalagi ia telah menjadi korban salah pilih?buntut dari suatu pilihan,? kenangnya. Oleh sebab itu suatu yang sangat menarik bagi Biru Langit adalah berada pada situasi ketegangan antara pilihan-pilihan dengan suatu yang bukan pilihan. Inilah penyakit yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak seperempat abad ini tak sudi hengkang dari kehidupannya. Inilah kelemahannya. Inilah petaka terburuk sepanjang zaman yang menjangkit pada anak manusia.
Cerita tentang perempuan Sulistyorini pun di sinilah duduk perkaranya. Perkara berikutnya adalah sejauh mana ia sadar akan hal itu mempertahankan kemanusiaannya lauar maupun dalam, justru pada saat dirinya terus-terusan menjadi korban dan terpuruk dalam sebuah zaman. Inilah yang sebenar-benarnya disebut kegairahan?semacam seks. ?Ya, semacam itulah. Tetapi sebetulnya bukan. Bahkan bisa jadi seks hanyalah percikan dari kegairahan itu tadi. Karena itu aku sendiri yang mengatur dian kegairahan itu seberapa besar atau seberapa kecil agar tak justru menjatuhkan aku pada kehinaan. Ya, aku sendirilah pembawa api itu karena ibuku meski tak suntuk telah mengajari untuk itu. Sisanya aku sendirilah yang menentukan jalanku, Ibu.? Biru Langit mulai mencemaskan mengapa pikirannya berlarut-larut, perasaannya berbelit-belit. Satu-satunya yang sanggup menutup adalah kesadaran bahwa segalanya telah berjalan di rel pikiran dan emosinya. Tidak lebih dan tidak kurang. Bahkan untuk menggerakkan indera paling terdekat pun belum ia lakukan. ?Sialan, kenapa setan demikian pintar menerobos alam kesadarannya!? celetuknya. ?Atau barangkali setan juga yang mempengaruhinya menusukkan dalil-dalil menyerupai filsafat tanpa lebih dulu mengujinya di alam terbuka. Ah, lulusan sekolah filsafat mana itu si setan?

Empat

?JADI kamu telah mempertimbangkan sungguh untuk mau tinggal di sini, Biru Langit??
?Begitulah Bu.?
Sengaja Biru Langit mengutarakan maksudnya langsung pada mama Puri Wangi, si permaisuri yang lemah lembut justru karena kelemahannya itu. Ia tak mengabarkan lebih dulu kepada Sulistyorini, tak lain agar tercipta histeria pada wanita itu dan pancaran bahagia pada Puri Wangi. Dan Biru Langit tak perlu menyiapkan perhatiannya berlebihan karena ia percaya hal itu pasti terjadi. Ia tampil biasa dengan baju dril lengan panjang yang dilipat, blue jeans dan sandal gunung, tas berisi beberapa pakaian pengganti dan sejumlah buku. Satu-satunya yang agak menganggu adalah bau tembakau dan rambut panjang?ciri khas orang jalanan. Ia terganggu meski tak bermaksud mengakhirinya. Ia tetap percaya diri. Dugaan terhadap profesor Maryuhan Kurnia yang selalu berkata ?ndak apa-apa? tak mengurangi percaya dirinya (justru tentang profesor bedah plastik ini, Biru Langit percaya lebih banyak perang mulut saja daripada menyimpan luka hati yang menusuk perasaan).
Diam-diam Biru Langit mencermati sosok yang demokratis di istana itu, yang mendekati pengertian liberal. Jika benar demikian bolehlah dikata Biru Langit telah mencicipi kebebasan dengan memiliki perempuan Sulistyorini.
?Hei..jadi..? Sulistyorini tak bisa berkata lantaran begitu bingungnya. Senyum, tertawa, menangis, histeria menumpuk jadi satu. ?Kenapa kamu begitu bodoh. Kalau kau beritahu aku sebelumnya, aku bisa membersihkan kamar atas terlebih dulu,? tangannya mulai memukul-mukul, rambutnya dikibarkan kemana-mana, meski tak ada angin bertiup.
Lalu ia lebih sibuk lagi. Berbicara. Dandan. Mengatur polah tingkahnya agar tak terkesan ia sedang berada di alam terbuka yang kotor. Dan yang penting, ia terkesan sudah melupakan dirinya sebagai korban perkosaan?inilah satu-satunya kenyataaan yang tak pernah terungkap sedetil-detilnya keculai tentang analisa sang profesor bedah plastik yang mengungkap fakta bahwa perempuan korban perkosaan tidak akan berubah kehormatannya karena diperkosa. Liang vagina sesudah perkosaan akan segera kembali normal. (Bersiaplah kelak Biru Langit akan menyingkap habis misteri ini, demi mendapatkan pasangan hidup yang sehat walafiat, empat sehat lima sempurna tanpa beban dosa: caranya dengan mengakui semua perbuatannya).
?Bagaimana Sulistyorini, kamu sudah siap kita tinggal serumah??
?Kenapa tidak??
?Kamu sudah kuat, jika kutangkap kebiasaanmu yang membungkus tubuhmu dengan handuk selepas dari kamar mandi??
?Ah, pikiranmu ngaco!?
?Aku serius.?
?Toh aku tak pernah pakai handuk sehabis mandi.?
?Hi..begitukah. Jadi seperti lemper tanpa bungkus.?
?He.. ayo-ayo teruskan..?
?Oh, andai ada lemper berkeringat sebegitu gedhe..?
?Bangsat, kamu Biru Langit. Mau bilang apa lagi kau..?
?Tak akan ada orang menulis puisi??
?Apa hubungannya??
?Lho, penyair kan sibuk menggosokkan kertasnya untuk lemper berkeringat itu tadi??
Sepasang sejoli yang mulai tinggal serumah itu tertawa ngakak.
?Kamu harus berkata jujur, mengapa tak memberitahukan dulu tentang rencana ini, entah serius ataukah tidak pertanyaan Sulistyorini kali ini.
?Apakah itu masih penting bagimu. Toh, aku masih bisa tinggal beberapa minggu di kontrakanku bila aku mau,? Biru Langit mencoba kembali mengusik kegelisahan Sulistyorini, seolah yang hendak dikatakan adalah dirinya bisa tak perlu tinggal di istana milik papa-mamanya ini.
?Oh, aku mau katakan ini upayamu menunjukkan penghargaanmu padaku. Dan saat ini aku ingin mengatakan agar semuanya bermakna. Aku ingin memberitahu bahwa apa yang kamu lakukan selama ini sangat berarti bagiku. Surat-suratku selama ini, perlu engakau tahu betapa tidaklah cukup mewakili perasaanku. Terimakasih Biru Langit, engkau mau menemaniku, mengisi waktu bersama. Mau mendengar cerita-ceritaku, dan juga menasehatiku di saat aku memang butuh untuk itu. Aku tentu tak akan melupakan kenangan-kenangan manis seperti ini. Aku akan selalu mengingatnya dan akan kuceritakan pada anak-anak kita kelak. Ada satu hal yang tak pernah berubah ada padamu dan aku sangat menghargainaya. Engkau punya sifat sabar yang hebat. Engkau tidak mudah terpancing, memiliki kelebihan dalam mengendalikan emosi.?
?Kau terlalu berlebihan memujiku. Kau tahu justru menempaktkanmu ke jurang sentimentalia paling dalam,? Biru Langit mempertontonkah ketidaksabaran dan memberikan telak.
Sulistyorini mati kutu. Kali ini benar-benar terlibat seperti korban perkosaan. Pucat dan berdebu. Persis meja makan yang kotor dekat bak sampah.
Kamar atas lebih menyerupai tempat peristirahatan ketimbang ruang untuk tidur. Istirahat, yang dimaksudkan di sini, menenangkan pikiran, jiwa dan tubuh. Dan tidur itu tak lain berupa melemparkan kesadaran sejauh-jauhnya?kiranya seperti inilah pola pikir orang-orang dalam keluarga seperti ini. Sebab, itu jadi kamar ini lebih cocok bagi Biru Langit meski berantakan berdebu, terbuka dengan jendela dan ventilasi yang tak terurus, kardus-kardus bekas. Kursi panjang tak tersentuh. Tak terbayang jika sebelumnya sudah dirapikan Sulistyorini?bisa mentalkan imajinasi dan membunuh inspirasi. Beberapa majalan dan buku berantakan, pertanda ruangan ini kadang-kadang saja terpakai. Biru Langit terpikat matanya pada sepasang buku berjudul sama. Ia terkagum-kagum dan membuka acak, Wanita, Paul Wellman. Biru Langit menjamah permukaan buku bergambar seorang wanita berbusana yang mempertontonkan kecantikannya?tubuhnya. ?Hei.. kamu membaca buku ini, Sulistyorini??
?Ya.. aku membaca saja. Tapi aku tidak tahu sungguh apakah ini karya serius ataukah tidak. Seorang mahasiswa papaku membawakan buku ini untukku dan aku tidak keberatan menerimanya.? Sulistyorini tanpa ragu-ragu saat menyebut salah seorang yang dimaksud. ?Namanya Isnaeni, seorang dokter tentara dari kesatuan marinir. Dia ambil spesialis bedah plastik dan masih menyempatkan membaca buku-buku seperti ini.?
?Wah, hebat ya dia. Tentara, dokter, spesialis, bedah plastik dan membaca buku sastra. Tapi aku tidak mempersoalkan hal itu, justru aku melihat kamulah yang hebat,? Biru Langit tahu diri ada yang terasa ganjil dan itu ada pada Sulistyorini. ?Aku sendiri sudah membaca, buku ini beberapa tahun lalu dan kesabaranmu membaca ini akan serasa penting bagi seorang wanita, bahkan laki-laki. Akan sanggup merubah diri atas pandangannya terhadap setiap wanita. Bahkan wanita adalah suatu ladang inspirasi bahwa wanita itu seperti nyala api bagi suatu peradaban. Bahkan wanita adalah suatu kekuatan, suatu dunia yang tak bisa begitu saja dianggap tersendiri. Tapi wanita suatu dunia yang justru bisa menggerakkan peradaban dengan pelbagai renik kelemahan dan kedahsyatannya. Sebab itulah kamu dan siapa saja tidaklah salah bila membaca karya seserius ini. Kedengarannya dokter tentaramu itu cukup tahu akan hal ini, Sulistyorini.?
?Ya, tapi aku tidak bisa menangkap nyali api seperti yang kamu gambarkan itu Biru Langit. Aku hanyalah membaca, lebih karena dia seorang wanita. Itu saja,? Sulistyorini sedang memainkan jurus, di satu sisi ia bicara dirinya sendiri, di sisi lain ia menangkis jurus lain perihal tentara itu. ?Jadi aku lebih menyukai cara membacamu ketimbang upayaku sendiri mengambil makna dari kenyataan hidup yang dialami pelacur dalam tokoh novel itu. Karena itu ceritakanlah lebih banyak lagi tentang novel itu.?
?Oh, kamu tak perlu memaknai sebaik dan sebahaya tokoh pelacur dalam novel itu. Janganlah dan mustahil bisa. Itu samaartinya kamu justru terjerumus bakal menempatkan dirimu sebagai pelacur, dan tidak apa adanya seperti sekarang.? Sebetulnya Biru Langit setengah bercanda, namun kata pelacur membuatnya tak bisa ketawa dan sulit untuk melucu, makin membuat Biru Langit menyimpulkan bahwa dia masih seorang wanita.
?Begini, aku hanya ingin mengatakan betapa cinta itu bagi manusia, seorang wanita sesuatu yang mendarah daging, menulang dan telah tumbuh di mana saja, kapan saja. Dia tak pernah jauh dari kehidupan gadis kecil pengemis, budak, bahkan pelacur. Bahkan di saat seperti itu cinta telah merelakan dirinya ditempakan pada suatu keberadaan yang sangat rendah, tipis hina?kemiskinan, nista, budak kelamin. Hebatnya seluruhnya itu terjadi pada diri seorang wanita bernama Theodora, yang hidup pada masa kejayaan Romawi sekitar abad 6. Pada saat itulah kedahsyatan cinta itu tak bisa digambarkan dengan kata-kata ketika bersekutu dengan kecantikan dan kecerdasan yang ada pada diri perempuan itu. Sang perempuan hanya memilih menjadi selir penguasa, akan tetapi betapa kecerdasannya, cintanya yang menipis bedanya dengan intrik-intrik kehidupan istana jusru membuatnya dipuja-puja. Seorang pelacur, selir bisa merubah peradaban dan menjadi penguasa kebudayaan terbesar pada masanya. Betapa akhirnya, cintanya, hidupnya dipuja-puja rakyatnya, karena ia telah tahu apa arti dirinya bagi peradaban, arti seoarng manusia, bukan hanya karena wanita, apalagi hanya karena pengemis atau pelacur. Begitulah dia menjaga cintanya, hidupnya dari setiap kekuatan yang mengancam bakal merenggutnya. Oh, Sulistyorini aku sendiri seorang laki-laki, maafkan bila kau mencampuri hak-hak hidup. Theodora yang telah terenggut, salah, atau keliru kusampaikan padamu. Sudah kukatakan sebelumnya tak ada kata-kata yang bisa menuliskan kedahsyatan cinta, kecerdasan, kecantikan yang bersekutu dalam tubuh Theodora. Di sinilah keseriusan karya ini, penulis telah mengumbar kata untuk maksudnya itu, justru demi kerendahan dirinya mencari makna cinta yang bersekutu dengan banyak hal dalam hidup Theodora. Kamu juga harus demikian Sulistyorini, kerendahan dirimulah yang diminta Theodora untuk merubah peradaban, cinta, kecerdasan dan kecantikanmu sebagai wanita bisa untuk itu. Hanya dengan demikian sebagai wanita kamu akan tahu betapa penting arti dirimu bagi yang lain, termasuk bagiku. Bahkan bagi zaman ini. Lalu apakah kamu masih sulit menjawab pertanyaan seberapa penting aku bagimu Sulistyorini?? Biru Langit merasa dirinya belum pernah berbicara seserius ini kepada kekasihnya. Demikian seriusnya sampai ia lupa sedang berbicara untuk dirinya sendiri ataukah untuk kekasihnya. Mengerti tidakkah dia? Bukankah soal seberat ini juga soal setiap manusia? Entah bagaimana mulanya saat pikirannya, tubuhnya dan jiwanya, inderanya terasa lelah, ia mulai bangunkan hal lain. Di sore yang pengap, berdebu dan derit daun jendela yang menutup, Biru Langit mendengar isak tangis Sulistyorini. Air matanya seperti tak tertolong. Tak cukup kain, sapu tangan untuk menyelamatkannya, ia raih tangannya sendiri, lalu korden berdebu didesak menghentikan tangisnya. Tapi tak bisa. ?Kenapa kamu jadi seperti ini Sulistyorini? Kamu sakit, karena aku menyakitimu?? Biru Langit sebetulnya hanya basa-basi, dan bertanya apa adanya. Ia tahu bagaimana keadaan sebenarnya kekasihnya: Terharu. Atau Cuma ini saja yang sebenarnya ia tahu dari perasaan perempuan? Bukankah dia juga tak pernah tahu kedalaman hati korban perkosaan? ?Ah, ini semua jadi tidak penting bagiku. Prek soal wanita!? pikirnya.
?Aku terharu. (Betul tho?) Aku jadi tahu bagaimana kamu menempatkan aku Biru Langit. Karena itulah ini bukti seberapa penting artinya kehadiranmu buatku. Aku yakin kamu bukan orang yang salah, maksudku aku tidak salah memilihmu menjadi bagaian dari hidupku,? katanya tersedu-sedu, terbata-bata karena sibuk mengatur perasaan dan isi pikirannya.
?Sudahlah, jangan berbicara terlalu banyak. Aku malah sulit untuk mengerti. Lebih baik menangislah.?
Sulistyorini malah tertawa.
?Hei.. ketawamu itulah bukti kelemahanmu. Maksudku mengingatkan kau agar tak terlalu yakin dengan isi bicaramu. Jangan terlalu percaya. Kau bisa salah menempatkan aku di posisi yang mana yang menurutmu sangat penting itu. Aku seorang laki-laki lebih percaya kepada apa yang diungkapkan Tagore perihal perempuan. ?Bagiku kau setengah perempuan dan setengah impian.?18)
Kembali perempuan Sulistyorini tertawa. Tetapi kali ini tawa yang sangat sulit dicerna. Mungkin juga memang tanpa makna.
Sesudah makan malam, semeja dengan profesor bedah plastik Maryuhan Kurnia, banyak berbicara tentang suatu zaman, tentang sejarah keilmuan. Akan tetapi, hanya sedikit sekali yang tersimpan. Justru yang terekam baik di otak Biru Langit karena puluhan kali seorang profesor itu berkata. ?Ndak apa-apa? atau ?Itu nggak jadi soal.?

Lima

DI KAMAR atas rumah ini, Biru Langit kembali bisa mendengarkan beberapa suara radio asing, diantaranya BBC London atau Voice of America maupun Radio Australia. Suatu kebiasaan yang beberapa tahun terakhir ia tinggalkan, sepeninggal dari orang tua angkatnya di Kediri. Meski, ia bisa melihat perkembangan dunia dari sejumlah stasiun TV swasta, rasanya kenikmatannya, kehangatannya, berbeda bila didengar dari siaran radio. Sepertinya, gelombang-gelombang suaranya yang mengirimkan sinyal ke kupingnya mencitrakan masa-masa hidupnya bersama Prawira dan Yunani?orangtua angkatnya di kampung. Kekacauannya menemukan gelombang paling pas tak bisa diganti untuk menghidupkan kembali kenangannya, juga menghitung sisa-sisa semangat hidupnya.
Untunglah, ia tahu diri bukanlah sosok yang romantis. Apalagi sentimentil, akan tetapi memang belum menemukan kecanggihan informasi yang melampaui gelombang radio. Tak ada setitik saja di dunia ini yang lepas dari gelombangnya. Seakan dunia benar-benar digenggamnya?beda rasanya melihat sisi dunia dari tabung televisi, seperti memeluk perempuan saja. Dalam hal-hal begini ia bisa mulai berani mempertanyakan: Mengapa bisa terjadi pada dirinya seperti ini? Jawabnya karena udara pun, gelombang pun tak memiliki udara kebebasannya sendiri. Tentu saja dari siaran radio asing itulah Biru Langit mendengar pertama kali kabar buruk yang sangat merisaukan.
Hari itu, Selasa 21 Juni 1994. Tiga buah media besar Tempo, Editor dan Detik dibredel pemerintah rezim Soeharto, tanpa suatu alasan yang mendidik?merongrong kewibawaan pemerintah. Pembreidelan diumumkan menteri penerangan ?si petunjuk bapak presiden? yang telanjur dijuluki rakyat ?hari-hari omong kosong (Harmoko). Konon pembredelan itu terkait pemberitaan pembelian puluhan kapal bekas buatan Jerman untuk persenjataan angkatan laut, melalui juru runding Menristek BJ Habibie.
Dikabarkan negara akan tekor besa karena peralatan itu lebih menyerupai besi tua ketimbang bangkai kapal, di samping terjadinya dugaan penyimpangan praktek nepotisme segala. Kabar lain mengungkap ini petaka dari bau bacin perseteruan terselubung militer dengan sang penguasa dan dimenangkan oelh tangan kekuasaan. ?Petaka. Ya, terlepas dari benar tidaknya konflik terselubung ini menjadi bukti bahwa petaka itu memang ada, ketakutan pada rezim satu ini cukup beralasan. Ya, petaka ini telah menyangkut kepentingan banyak kalangan. Dan tampaknya ini puncak dari bacinnya kekuasaan yang kehilangan kecerdasannya,? tukas Biru Langit menggeram. ?Tinggal menunggu waktu, siapa sebenarnya paling cerdas, rakyat ataukah penguasa.?
Tiba-tiba bagi Biru Langit udara sangat dirasa pengab. Bahkan Radio Nedherland giliran menyiarkan wawancara sejumlah pihak. Sebagian besar menghujat rezim Soeharto, sisanya melecehkan militer. Entah, dalam situasi yang serba panas seperti tini mendadak Biru Langit ingat pada sosok Pam, kawan serta lawannya yang menyingkir, karena dirinya tak mau ditaklukkan dan malu bila diketahui orang telah takluk. Barangkali karena kabar terakhir yang diterimanya Pam bekerja pada sebuah media yang turut dibunuh.
Ya, sebelum kepergiannya dialah yang memperkenalkan dalam salah satu wawancaranya dengan Kiai Alawy Muhamad terkait kasus penembakan petani di waduk Nipah beberapa waktu lalu. Ah, bukan memperkenalkan. Lebih tepatnya mengajak untuk sekadar menemani karena toh selama wawancara, kiai yang selalu tampil sinis itu tak pernah secuilpun mengajak bicara Biru Langit. Bahkan sorot matanya pun tak pernah jatuh atau bertubrukan dengan Biru Langit. Ah, barangkali serta pula yang menyeret Biru Langit untuk kali pertama masuk pesantren sekalipun mengakhirinya untuk tak pernah lagi kembali. Semenjak itulah Biru Langit terus bertanya tentang setan dan mencari jawab dalam buku-buku Islam yang mau bersahabat dengan pencariannya dan tak begitu cepat menuduhnya setan.
Di situlah ia menjumpai kekejaman. Tapi disitu pula ia mendapatkan sebagian dirinya dan tentang kebenaran?bukan kebenaran itu sendiri. Sebagai manusia ia harus selalu bertanya dan meragukan setiap hal. Tapi sebagai manusia pula ia harus mengakhiri kebingungannya. Persoalannya adalah tidak mudah menempatkan pada suatu yang tepat pernyataan terakhir ini ke dalam bingkai hidupnya, mungkin pribadinya. Masalah berikutnya, adalah soal pribadi ini ternyata cuma akal-akalan manusia saja. Sebab itu susah untuk membahasakan ke dalam bahasa universal yang tak cuma bisa dipahami manusia?sang jagoan memelintir, mendistorsi kebenaran demi kepentingan sendiri, pribadi. Dan Pam hadir dalam situasi terjepit yang sangat tidak tepat, di satu sisi hadir sebagai pribadi di sisi lain ia hadir bersembunyi , menyelinap diantara setumpuk bahaya umat (maksudnya rakyat, publik).
?Mengapa kamu tiba-tiba gemetar dan pucat seperti ini Biru Langit? Seolah bencana ini sedang menggelontor urat nadimu seorang diri,? Sulistyorini memergoki.
?Aku sedang memikirkan si bangsat Pam,? jawab Biru Langit. ?Aku mengenal baik kelakuannya, kecerdikannya, idealismenya. Tapi ia tak henti-hentinya menggangguku. Dia yang membuatku ragu-ragu tapi tidak pada tempatnya, justru pada saat ada persoalan penting yang menjadi taruhan untuk menguji idealismeku. Pembredelan media ini pembodohan paling ampuh sempanjang zaman bagi rakyat, yang dilakukan penguasa paling bodong dalam sejarah bangsa. Tapi bagiku Pam malah ikut-ikutan mengancam dengan mencoba membodohi aku agar aku kasihan padanya.?
Semula Sulistyorini tak sudi bicara soal Pam?lelaki yang pernah memburunya, bahkan mempermalukannya, dengan sepotong kembang merah yang tak ia butuhkan. Bahkan memuakkan baginya, yang kemudian kemuakan ini pula yang dijadikan senjata Biru Langit untuk memikatnya. Jadi, kesediannya lain untuk kembali bicara tentang Pam, lebih dari sebuah pertanda bagi Biru Langit. ?Di sini, di dekatku kau sudah nyaman. Ada apa denganmu sebetulnya Biru Langit?? Sulistyorini mulai menggugat. ?Kamu dipaksa kasihan padanya? Apakah kamu yakin dia memerlukan itu??
?Aku tidak tahu. Akan tetapi kehadirannya dalam pribadiku di masa-masa yang lalu, seperti mata-mata yang terus mencurigai kehidupanku, sikapku, pendapatku, gagasan-gagasanku, bahkan mungkin idealismeku ini kedengarannya bukan sepenuhnya miliku sendiri, tapi juga milik Pam,? ungkap Biru Langit.
?Ah, jangan salah Biru Langit. Kedengarannya kau sendiri yang mencurigai pribadimu.?
?Sulit membedakannya.?
?Ceritakanlah padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu.?
?Begini. Mungkin ini kedengarannya cengeng. Tapi ini berangkat dari kejujuranku sebagai manusia yang selalu mempertanyakan, seorang yang tidak pernah puas melihat masa silam yang kelam. Aku hanyalah sederet orang yang sadar mencoba untuk bangkit. Ya, banyak juga sih orang yang telah tahu akan tetapi tidak mengerti, atau salah mengerti, atau malah nggak ngerti sama sekali. Tetapi selamat dalam kehidupannya. Mereka jaya, bergembira apa adanya, menari, bernyanyi, asyik sampai tak tahu siapa sesungguhnya dirinya, karena tak pernah mempertanyakan. Ya, kedengarannya memang cengeng. Jujur saja aku ingin benar-benar menjadi dirinya sendiri. Semoga kau tak salah mengerti. Aku ingin mengendalikan gairah hidupku sendiri, aku ingin membebaskan diri dari hantu-hantu masa lalu yang semakin kurasakan menusuk jiwaku. Aku ingin utuh seutuh-utuhnya supaya aku bisa berlayar di samudera luas dan tak tenggelam seperti sekarang. Aku tak ingin jiwaku dibelah-belah oleh kapak yang kesetanan dan sanggup membuatku gila seperti ini. Inilah penyakit yang membelah jiwaku, yang oleh pengejar masa silam disebut-sebut schizofrenia yang menjangkiti mereka juga. Pertanyaanku apa yang terjadi bila kegilaan didiagnosis oleh orang-orang yang juga gila. Aku tersiksa dengan jiwa yang tercabik-cabik. Aku ingin melupakan masa silam. Aku ingin hidup kembali. Tapi tak bisa. Aku tak bisa melupakan secuil saja penggalan hidupku, yang membuatku menderita seperti sekarang ini. Aku mau hidup Sulistyorini. Aku tidak mau hanya menjadi beban oleh karena beratnya masa silam. Dan tentu kau tahu ada berjuta-juta orang bernasib sepertiku. Berjuta-juta. Anehnya, seperti tak terjadi apa-apa. Ya, mungkin tugasku sekarang hanyalah selalu menjaga diri agar tak harus tenggelam. Aku tak perlu melupakan masa silam, tapi menjaga bagaimana itu sanggup membuatku sadar dia tak sampai meniadakan sisa-sisa jiwaku yang terserak. Hei aku ingin hidup seribu tahun lagi, Bung Chairil. Ya, Sulistyorini aku tak perlu melupakan sahabat kita Pam, karena dia sudah habis. Dia sudah mati bersama terbunuhnya Tempo, Editor dan Detik. Jadi dia tak bakal punya sumbangsih terhadap idealismeku.?
?Hei, Biru Langit. Kau jangan menceracau seperti itu. Kau sudah seperti orang gila, apa??
?Lho, kamu ini bagaimana? Apa kamu pikir sudah empat sehat lima sempurna. Jadi manusia Indonesia seutuhnya, kawan??
?Kau seperti orang tak beragama, Biru Langit.?
?Agama? Bukan. Aku hanya belum ingin melibatkan agama. Untuk memastikan aku ingin menerbangkan sayap kebebasanku. Aku percaya tanpa atau dengan agama, kebebasan ini sudah menjadi hakku. Kedengarannya memang arogan. Tapi begitulah aku mengatur hidupku. Dengan demikian aku bisa menempatkan agama sebagai suatu inspirasi dan bukan sebuah inspirasi. Seberapa pun kecil sumber inspirasi yang ada padaku, persoalannya itu bisa terus menyalakan api gairah kehidupanku. Bukan membunuhnya. O ya, kukira inilah yang membedakan hidup dan matinya gairah dalam diri Pam dan ada pada diriku. Pam, seorang yang atheis, seorang yang percaya akan kekuatan dirinya. Pekerjaan–kalaupun ada–Tuhan menurutnya, yang paling memuakkan adalah selalu bersembunyi. Fatalnya, Tuhan selalu bersembunyi dalam diri orang-orang yang pengecut. Dengan cara itu ia menjadi seorang yang sangat percaya diri dan pemberani. Sementara aku, selalu berada dalam posisi kebingungan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kukira hal ini lebih karena kesulitanku membedakan antara persoalan keilmuan dan ketuhanan. Di satu sisi aku masih percaya pada masa lalu, masa kini dan masa depan. Hasilnya adalah ketakutan. Tapi di sisi lain aku masa bodo dengan hal itu. Buahnya adalah kebimbangan oleh sebab apalah arti sepotong kecil makhluk bernama Biru Langit bagi semesta ini, dibanding sebutir pasir atau batu misalnya??
?Eh, kedengarannya kamu menyindir aku, Biru Langit??
?Oh tidak. Aku berbicara soal diriku sendiri.?
?Kalau tidak, bagaimana mungkin kamu berbicara soal masa lalu dan Pam, tapi menyeret-nyeret sedemikian jauh.?
?Aku hanya ingin menyakinkan diriku, seberapa berartinya Pam bagiku. Ia bisa tak lebih dari sebutir pasir seperti aku. Kamu sendiri bagaimana? Soal agama? Sisa kembang merah layu pemberian Pam? ? Biru Langit kembali mengusik kegelisahan kekasihnya.
?Aku tidak tahu itu semua,? Sulistyorini tak pasti hendak menunjukkan gelagatnya, keangkuhannya, cuek, ketololannya atau kepedihannya, tak jelas.
?Ah,? lagi-lagi Biru Langit mengejutkannya. ?Aku punya ide dan ini baru kutemukan sekarang. Jadi masih segar. Bagaimana kalau kita sepakat tidak mencampuradukkan keilmuan dan soal-soal spiritual keagamaan. Ya, maksudku harus membedakan keduanya supaya memperoleh buah yang menyegarkan badan. Supaya tak ada pertengkaran diantara kita yang sebetulnya tak perlu dan malah bisa menganggu tatanan kosmos seindah ini sebab kedengarannya ketidaktahuanmu itu menyimpan bahaya besar.?
?Ngaco kamu. Kamu ngomong apa sih??
?Sepakat??
Sulistyorini diam. Diam berarti sepakat. Tapi diam juga boleh karena tak paham. Huh dasar perempuan, diam memang terkadang bisa berarti the silent is golden: emas. Tetapi menurut ajaran spiritual, diam itu berarti,.. (ah kenapa bicara sesuatu yang belum waktunya?)
Biru Langit diam. Tetapi dalam diamnya menyimpan gelora, pemberontakan, gugatan. Pelajaran mengarang yang ia peroleh dan laku seniman di kawasan balai pemuda, cukup buatnya untuk menjadi pemberontak?memberontak pada realitas, pada dunia dan pada Tuhan. Inilah yang menyelamatkan dirinya dari keberingasan dan pendendam; menjadi munafik. Sebab itulah dalam diamnya, ia mengagumi sosok Pam sebagai pejuang hak-hak manusia. Dalam diamnya ia meragukan benar apakah atheis dalam diri Pam sungguh-sungguh menafikan Tuhan. Ataukah Cuma suatu cara hidup untuk tak mendengar ancaman Tuhan saja? Tapi surat Pam yang tertuju pada ibunya dan telah ia simpan mengesankan ia seorang tenaga kreatif yang melawan dan memberontak kuasa Tuhan. ?Ah, bagaimana bisa terjadi Tuhan baginya bisa diganti dengan selembar kertas surat untuk ibunya,? pikir Biru Langit. ?Hal ini cuma bisa dilakukan seorang yang cerdas seperti dia. Jadi mustahil rasanya aku kasihan padanya. Dia tak butuh dikasihani. Dia memang telah jadi korban, tapi dia tentu akan memberontak kuasa Tuhan yang direnggut penguasa rezim dengan membunuh Tempo, Editor dan Detik. Aku percaya.?
?Kenapa tiba-tiba kau jadi orang yang tidak percaya diri seperti ini, Biru Langit?? Sulistyorini membangunkan lamunan kekasihnya.
?Oh, ya?? Biru Langit terperanjat. ?Soal apa? Masa depan? Nasib bangsa? Atau Cuma bicara soal kita berdua??
?Semuanya.?
Biru Langit menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya kembali menghadap jendela. Ia mengamini dugaan Sulistyorini. Buktinya ia juga mulai tersinggung. Ia merasa kekasihnya sedemikian kejamnya.
?Aku juga tak menduga sedemikian berartinya Pam bagimu.?
Lagi, sinisme Sulistyorini tentang Pam menampar-nampar batin Biru Langit.

Enam

SERGAPAN ketakutan lama-kelamaan mereda. Tampaknya, di rumah Dharmahusada, Biru Langit menemukan jalan keluar. Diskusi yang aktif dengan Sulistyorini, membuahkan pikiran yang lebih jernih. Tentu saja jalannya belepotan, emosi, dendam, gairah meledak dan percikan kegilaan pun tercurah. Ia bisa membolak-balik hati. Dan lagi ia menulis sebuah karangan tentang betapa rezim penguasa telah merebut kekuasaan dari tangan Tuhan. Ini pun suatu jalan keluar.
Dalam kasus pembredelan Tempo, Editor dan Detik menjadi titik balik baginya yang sangat penting. Ia bisa berbicara atas nama orang banyak. Ia telah mereka kerangka kemana arahnya kurang lebih isi tulisannya. Ia juga masih punya banyak waktu berdiskusi dengan profesor bedah plastik, yang terpikat pada soal-soal politik. Hebat.
Nantinya, tulisan Biru Langit akan berbicara soal pembisuan salah satu kekuasaan Tuhan yang direnggut dari asal muasalnya. Sang penguasa telah menutup ruang publik, hak-hak setiap orang untuk menjadi pintar, mengerti, cerdas dan perburuan keingintahuannya menyingkap dunia. Sang rezim juga telah melakukan tikaman ke jantung publik dengan cara-cara yang menimbulkan rasa putus asa, lenyapnya hak hidup jutaan orang dan menghidupkan dendam yang terbawa seumur-umur hidupnya. Dan lagi yang terpenting adalah bahwa sang rezim hanyalah seorang yang pengecut. Betapa tindakannya adalah suatu kebodohan karena apa yang ia lakukan bukanlah memberontak pada kekuasaan Tuhan, menyaingi kedahsyatannya, akan tetapi hanyalah mencuri sebagian dari miliknya.
Ya, rezim itu tidk sedang membuat, menciptakan tatanan dunia baru bagi manusia untuk sepanjang masa. Sebaliknya, bukan untuk apa-apa. Karena itu percayalah sang penguasa nanti segera tumbang. ?Hei, tentu ini nantinya jadi kesimpulan penting. Bahwa pembodohan itu nanti menemukan jalan kegagalan. Tak sedikit yang jadi pembela Tuhan, sisanya mereka yang menjadi pemberontak dan pembangkang karena sekian tahun rezim itu berkuasa, diam-diam mereka membaca buku-buku terlarang secara tekun. Selebihnya, para jenius tentu tak tinggal diam, selalu mengobarkan api pemberontakan dengan dingin demi memperjuangkan dunia yang hidup kepada Tuhan. Ya, seperti inilah mereka ini mengembarakan kebebasannya,? pikir Biru Langit.
Jadi satu-satunya prestasi Biru Langit saat ini yang perlu dicatat adalah ia sama sekali tak punya rasa takut berbicara tentang kebebasan. Ia juga tak takut bicara tentang Tuhan, sepertinya ia bukan siapa-siapa. Mungkin ia sejawatnya atau dirinya sendiri. Ini yang membedakan Biru Langit dengan profesor bedah plastik, Maryuhan Kurnia?betapa ia tak pernah punya nyali untuk bicara tentang Tuhan yang entah ia sembunyikan di sudut mana bagian hidupnya. Seoalah ia berdoa untuk hidupnya dengan rumus-rumus Einstein saja. Suatu ketika, sang profesor pernah menunjukkan tempat persembunyian tuhan di tempat yang gelap, itu pun dengan nada ancaman. ?Soal Tuhan, menurut pendapat logika di kepala saya, sama halnya memaksa saya untuk berbicara tentang agama, atau ratu adil dan sejenisnya dewa-dewa dan sebagainya. Saya harus menjelaskan bahwa itu bukan orang dan tidak masuk akal orang bisa menjadi ratu adil seperti itu semua hanya software, suatu sistem,? demikian ungkapnya dengan gaya sinismenya yang khas. ?Perkembangan agama itu tidak pernah rasional. Kenapa kita beragama? Biasanya karena penguasa, karena orangtua, karena guru atau orang yagn dihargai. Bukan karena rasio. Kalau bapak ibunya menyuruh Islam, Kristen, Yahudi atau yang lain, pergilah si anak ke sana. Sebab itu jangan pernaha lagi tanyakan kepada saya soal agama. Agama itu golongan dan menurut saya bisa jadi bumerang. Saya hanya sedikit menyinggung saja supaya orang bertanya tanya sendiri bahwa agama itu seperti gerombolan, kelompok atau pribadi. Ya, supaya tak jadi bumerang, belum apa-apa sudah menyerang balik saya sebagai orang yang melawan agama. Akal sehat saya mengatakan, agama itu hidup selalu karena dipaksa oleh penguasa. Sejak zaman dahulu seperti itu. Agama berkembang karena perang. Masak kita mau melawan orang tua? Makanya, kalau bisa kita mengembangkan pikiran sendiri tanpa harus melibatkan kekuasaan. Inilah penghargaan kita kepada orangtua, suatu prestasi besar yang lebih objektif.?
?Prestasi? profesor bedah plastik menghentikan pukau Biru Langit. Sepertinya sampai di sini batas kesepahaman. Selebihnya adalah ruang terbuka untuk peperangan. Dalam sekejab, tulisan Biru Langit berjudul ?Rezim yang Mengkorup Kekuasaan Tuhan? telah kelar di depan monitor dan keyboard komputer. Ketika dibaca ulang, Biru Langit telah menghilangkan pikiran sang profesor, terlebih tentang ketuhanan, sedikit saja buah pikirannya yang diamini, diantaranya perihal profesionalisme. Betapa sang profesor sangat mengagungkan setiap profesionalisme. Kendati demikian, Biru Langit membersihkan pandangannya dari kecurigaan-kecurigaan yang nantinya bisa menghambat simpati publik pada nasib buruk jurnalisme. Profesionalisme yang diungkap profesor bedah plastik itu adalah setiap profesional yang berpikir selaku intelektual (kata ini terpasang secara kasuistis, sebab sesungguhnya sang profesor memandang sebelah mata dengan hanya mengakui profesionalisme dan keilmuan eksakta. Ilmu-ilmu sosial menurutnya bukanlah ilmu, karena itu ia mencurigainya). Yakni setiap profesional yang memiliki basic intelektual, basic logic, basic rational. Karena dengan demikian intelektual memiliki produk yang objektif, yaitu analisa yang sesuai dengan kenyataan. ?Dulu waktu di SD,? kenangnya. ?Saya dengar dongeng kancil yang melompat puluhan buaya dan mencuri timun. Baru kemudian saya temukan cerdik itu maksudnya cerdik menipu. Pekerjaannya memang menipu. Apakah seperti ini? Tidak demikian bagi intelektual yang makan sekolahan.?
Dari sinilah kemudian profesor bedah plastik itu mencoba menawarkan analisanya terkait fakta politik pembunuhan tiga media besar. Hampir bisa diduga kemana arah analisanya yang murahan itu. Satu hal yang tak bisa ia sembunyikan, ia mengecam rezim penguasa.
?Maaf, Profesor,? tiba-tiba Biru Langit berseru. ?Kau telah memberiku gagasan, tapi tak kupakai seluruhnya, karena menurutku itu saja tidak cukup.?
Ia tercenung. Wajahnya berkerut memperlihatkan dengan tajam hitam kulit pelipisnya yang bekas operasi plastik, oleh sahabatnya sesama profesor bedah plastik dari Australia. Seperti biasa ia selalu membubuhkan ?ndak apa-apa? di belakang kalimatnya.
?Ya, aku harus menjadi diriku sendiri. Dan kukira apa yang menjadi buah pikiran tentang kebebasan berpikir anda itu sudah kulampaui. Selain itu, anda lebih menempatkan diri saya sebagai pengarang an bukan sebagai seorang profesional, apalagi sebagai ilmuwan. Maafkan bila saya tersinggung. Bukankah, anda melihat kepengarangan saya sebagai pemuja klenik??
?Itu yang ndak boleh terjadi, tersinggung. Keilmuan tak memberi peluang untuk tersinggung.?
Hari-hari hampir tanpa jeda aksi demonstrasi. Diskusi-diskusi berhenti dan mahasiswa-mahasiswa turun ke jalan. Di jalan para demonstran melempar tuntutan menyuarakan haknya yang dibonsai penguasa. Radio BBC, Radio Australia terus mengabarkan hampir setiap jam, kondisi sejumlah kota terutama di Jawa dan Sumatera. Mereka meneriakkan satu kata ?lawan? dan mempopulerkan bait-bait penyair kampung, yang juga seorang penarik becak Widji Thukul Wijaya. Seolah-olah kata itu menaklukan kekuatan yang sebenarnya: hanya satu kata.
Yang mengejutkan, siaran BBC London hari Senin pagi 27 Juni terjadi peristiwa berdarah. Puluhan aktivis di Jakarta harus menghadapi pentungan polisi berseragam hitam-hitam dan mengerikan. Masa yang bergabung dengan wartawan, mahasiswa, aktivis LSM disambut kekerasan pentungan rotan pasukan operasi bersih. Ya Jakarta berdarah saat itu. Puluhan orang yang diberitakan terluka parah, tak sadarkan diri, hilang atau ditangkap hidup-hidup. Pelukis Semsaar Siahaan dikabarkan bakal mengalami kelumpuhan hebat, lalu yang mengejutkan ada nama si burung merak dan anak-anak muda pengikutnya.
Sejenak Biru Langit teringat saat saat bagaimana beberapa hari sebelumnya, ia melancarkan aksi provokasi agar mereka cepat meninggalkan ladang-ladang atau tak perlu menjadi pelayan atau keset bagi sang nama besar. Ini tentu suatu pukulan, bagi Biru Langit karena ada darah ternyata yang mengalir dari tubuh mereka. Oleh sebab itu betapa malu dirinya bila harus mengutip sebaris sjak Sutardji Calzoum Bachri, karena tampaknya hanya seperti ini yang bisa ia lakukan di Surabaya, ?Yang tertusuk padamu berdarah padaku? 82). Ah betapa rendahnya diri ini. Dan lagi nama besar si burung merak, tampaknya telah menjawab teka-teki paling misterius tentang kepedulian. Sejenak angan Biru Langit terbang pada sosok (yang memuakkan) politikus Bintang Sakti, dn acuh sang penyair mendengar kabar aksi penggelapan dana Maumere yang berujung kelam. Mendadak kali ini darah telah terpercik oleh kesewenangan serupa tapi tak sama?kepada media?tentang hak dasar manusia. Bedanya pun tipis tapi amat jauhnya (setelah kekuasaan, berikutnya adalah uang). Berikutnya, yang tak kalah mengejutkan dalam peristiwa berdarah itu, nongol nama Pam sebagai korban. Lantas Biru memastikan dari kertas copy faximale dari sebuah kantor berita di Jakarta. Serasa justru darah Biru Langit berhenti mengalir.
Oya, tentang darah. Kisah tentang darah ini, kali pertama terjadi pada Biru Langit ini bersamaan dengan kisah tentang seorang jenderal dengan pesawat tempurnya. Waktu itu Biru Langit masih kanak-kanak dan terjadi beberapa waktu sebelum bapaknya mati ditembak gerombolan orang tak dikenal. Entah bagaimana mulanya bapak berujar, ?sesuatu yang mengerikan akan terjadi.? Memang bapak yang meniru gaya seorang jenderal itu bisa saja mengucap kata-kata yang bernada memberontak. Atau sebaliknya, seorang jenderal pun bisa pula mengumumkan keadaan perang dengan nada lemah lembut. Semuanya serba mungkin. Demikian bolak-balik gejolak seluruh isi hati tentang jenderal dalam diri bapaknya, tiba-tiba mendadak dan cepat blingsatan seolah tak diberinya kesempatan hati lain masuk dan menteror rasa takut dengan berita kesejukan. Tidak bisa. ?Ah, bapak bisa saja. Paling-paling itu kalimat untuk mengusir rasa takut yang sudah bapak simpan berpuluh-puluh tahun lamanya,? tukas Biru Langit menyela?sela seorang anak kepada bapaknya yang dianggap tak punya nyali untuk hidup jujur. Memang begitulah keadaan seorang yang umurnya sudah di ujung tanduk, tinggal mati saja. Maka yang berjalan adalah rasa takut dan Cuma bisa melangkah pelan-pelan, berjalan merambat, bernostalgia di masa lalu dengan kegagalan-kegagalan yang membuatnya putus asa. Ya, seorang yang terus dimakan umur hidupnya bertambah hari-bertambah bulan, bertambah tahun bertambah kelam. Lebih dekat dengan putus asa ketimbang rasa optimis untuk bertemu dengan kemapanan, keadilan, kemenangan. Apalagi bertemu Tuhan yang konon bisa dijumpai di ujung gang dengan arah membelah jalan ke kiri atau sebelah kanan. Ingat?di setiap jalan yang dilakukannya dihadang oleh orang kafir, iblis atau semacam vampire dengan pakaian serba hitam dan menyerang pada malam hari.
?Tidak. Ini bukan lelucon. Sesuatu yang mengerikan akan betul-betul gejadi,? kata bapak yang terakhir kali, ?Kamu harus percaya bapak.?
Saat itu pula Biru Langit berlari sekuat-kuatnya menuju Maknya. Biru Langit berhamburan dan sergera dirangkum maknya di ketiak persis ketika sejumlah pesawat tempur meraung-raung tepat di atas atap rumah. Kemudian diceritakanlah dengan bahasa anak-anak bagaimana seorang bapak yang menakut-nakuti anaknya dengan iblis, vampire. Kata ibu, itu tidak ada dan cuma ada dalam dongeng.
Biru Langit mulai mencurigai bapaknya tidak hanya sebagai seorang penakut, tapi juga pengecut tidak bertanggungjawab, mengabarkan berita bohong mendidik anak-anaknya dengan kengerian dengan perang tidak dengan kasih sayang, pendidikan, kreativitas, cinta diri. Barangkali Biru Langit juga harus mencurigai diri sendiri yang sudah terjangkiti basil penyakit bapak. Setidaknya separuh dari umurnya sudah dimakan oleh umur bapaknya dan diisi dengan kekejaman. Sementara itu dari umur bapaknya, akan sedikit berkurang dengan mengusir sebagian dari hidup Biru Langit. Lantas bagaimana dengan diri Biru Langit, seorang anak, dengan bapaknya yang terus berjalan-jalan bernostalgia dengan masa lalu, dengan masa kanak-kanak? Suatu ketika di pagi yang membuka hari, Biru Langit menantang bapaknya dengan pertanyaan yang tidak sopan?tapi ketidaksopanannya itu bapak sendiri yang mengajari. ?Apa yang saya peroleh dari bapak?? Beberapa saat kemudian bapak main tendang sampai Biru Langit terjungkal. Rasanya persis terjungkal dari tugu yang dibangun bapaknya sendiri. Malu campur dendam. Bapak melemparkan jauh-jauh Biru Langit sampai bak sampah. Secepat kilat Biru Langit merasa dianggap sampah oleh bapak. Gerakan ketika menendangnya pun seperti kebiasaan bapaknya membuang puntung rokok atau bungkus nasi. Biru Langit bermaksud membalas tapi ibu mencegah (inikah awal mula keberanian?) Dan memang Biru Langit tak sanggup melakukan apapun ketika di ketiak ibunya. Ibu, katanya, tiga kali kepala seorang bapak yang bisanya cuma menakut-nakuti anaknya melihat dunia.
Di rumah yang sempit itu, Biru Langit bermaksud membalas tendangan bapak dengan bermain pisau lipat. Hasilnya, bapak hanya tergores ringan di bagian lengan. Lalu bapaknya menghajar Biru Langit lagi. Kali ini Biru Langit tak Cuma terjunjgkal, tapi juga berdarah. Melebihi darah goresan pisau di lengan bapaknya. Semenjak itulah Biru Langit tahu darah, warnanya merah, seperti getah dicampur kecap dan sedikit pewarna. Lantas diceritakannya kepada teman-teman bagaimana pertama kali ia melihat darah. Dan mereka pun menceritakan pengalaman masing-masing. Biasanya, ibu menangis saat melihat anak-anaknya berurusan dengan darah. Tangis kas seorang ibu. Ibu akan gugup mengambil sedikti kain untuk perban dari jaritnya dan obat merah. Apalagi bagi ibu yang tak menyiapkannya karena memang tak siap anaknya berdarah darah. Lagi-lagi ibu yang dibuat repot oleh bapak.. Tapi ibu tak pernah bisa bertengkar dengan bapak. Pernah sesekali bertengkar, esok paginya sudah baikan lagi. Berciuman lagi. Biru Langit hanya memergoki satu kali. Lalu disimpulkan sendiri mereka memang saling membutuhkan, saling mengatur bagaimana memberinya kekejaman dan kedamaian. Kadangkala bapak menang, lain kali ibu lebih unggul. Nyatanya, Biru Langit tidak pernah bisa hidup sendiri. Ya, Biru Langit tidak bisa hidup sendiri. Apalagi teman-teman mengajak Biru Langit untuk bermain di luar, Bapak melarang tapi ibu mengijinkan. Lebih dari itu Biru Langit tak diberikan kesempatan untuk tahu kehidupan teman-teman yang lain.
Begitulah cerita tentang darah itu mengingatkan Biru Langit pada seorang jenderal yang memerintahkan anak buahnya berperang. ?Saya tidak takut bapak.? Dia sendiri yakin ini hanya untuk mengusir rasa takut, dan itu adalah kesalahan bapak. Maka yang muncul adalah jawaban itu tadi. Bapak diam lalu merenung. Biru Langit tahu dia semula bermaksud menyembunyikan rasa takutnya di balik retorikanya, tapi Biru Langit tahu betul dia orang macam apa, agamanya bagaimana, kapasitasnya berapa. Ia juga tak perlu menggambarkan bagaimana dendam Biru Langit hanya membayangkan bagaimana bapak menendangnya ke tempat sampah dan berdarah. Semua orang tahu setiap yang hidup, anak-anak, dewasa, ibu-ibu, laki-laki, perempuan semuanya berdarah, semuanya merah, seolah tubuhnya berwarna merah penuh dengan darah.
Suatu ketika, pernah ibu menceritakan pada Biru Langit saat lahir bayi itu juga merah bercampur darah. Dia percaya dengan cerita ibu. Lain halnya dengan bapak, ketika ketakutan, Biru Langit tak mau diajak jalan-jalan bernostalgia. Masa lalu bapak hanya membuat orang untuk bunuh diri atau setidaknya cuma menunda kematian. Betapa bisa dibayangkan bila seorang jenderal tugasnya sekadar menunda kematian dan sementara jabatan, pangkat yang dia peroleh tidak cuma menunggu orang-orang untuk mati. Siapa tahu apa yang dilakukan seorang jenderal sebelum itu? Silakan berjalan-jalan, bernostalgia. Anda tak sulit menemukan jawabannya??Sesuatu yang mengerikan memang akan terjadi,? pikir Biru Langit. Sementara bapak tak pernah membayangkan bagaimana anaknya dihantui rasa tertekan yang bukan main bertumpuk, rasa takut matu, apalagi rasa takut dibunuh oleh bapak sendiri. Seorang bapak tidak pantas jika tak bisa menunjukkan bagaimana caranya anak memberi hormat atau para anak buah kepada jenderalnya. Karena itu saya memberi hormat dengan cara saya sendiri. ?Sesuatu yang mengerikan memang akan terjadi, bapak.? Bila bapak masih hidup dipastikan Biru Langit akan punya nyali untuk menatap bapaknya dengan wajah seorang anak pendendam tapi tetap bersih. Bapaknya bakal makin menunjukkan rasa takutnya. Ya: tapi di belahan bumi yang lain. Atau bila masih hidup akan menendang lagi anaknya sampai terjengkang dan hidung anaknya kembali berdarah.

Tujuh

SEJAK dari awal, sesungguhnya yang meleset dari bicaranya adalah perihal Pam. Laki-laki itu kalau mau jujur tak mau pergi dari kehidupan Biru Langit yang compang-camping. Tak ada satu hal pun pada bulan-bulan belakangan yang sepi dari bayangan kehidupan Pam. Pelbagai pantulan hidupnya terus menyerbu. Jelas sudah, Pam sukses merasuk dalam diri Biru Langit.
Berikut ini sejumlah pantulan yang menyerbu dalam perjalanan Biru Langit?dalam hati sebetulnya ia bermaksud mengusir, atau memperkecil ruang gerak hantu Pam. Sayangnya, Biru Langit tak bisa dan malah salah langkah akibat dirinya yang justru terseret-seret lebih jauh.
Problemnya adalah karena sama-sama simpati pada korban kekuasaan. Beberapa jam sesudah pembredelan pers, sesudah ia membaca nasib Pam, entah bagaimana mulanya tiba-tiba Biru Langit duduk dan hadir dalam suatu kampanye Ojo Dumeh. Biru Langit tekun menyimak pledoi-pledoi GM salah seorang pemimpin media yang dibunuh. Bertempat di aula gedung kesenian, di komplek Balai Pemuda, tempat itu tak seperti biasanya, sesak oleh asap rokok para simpatisan. Berada di tengah asap rokok itulah GM mengaku dirinya kini pengangguran.
Dia ceritakan ingatannya tatkala melakukan perjalanan ke Eropa Timur. Di sana baca puisi dan teater mendapat kunjungan yang besar dari publik. Publik tampaknya suka sekali dengan kesenian. Tetapi setelah ada pergantian rezim. Jadi pemerintahan yang demokratis, ternyata masyarakat yang semula mendatangi teater dan baca puisi menjadi jauh berkurang. ?Waktu itu saya bertanya kepada salah seorang pejabat kebudayaan, kebetulan seorang wanita, mengapa hal itu terjadi. Jawabannya ternyata menarik karena menurut dia, sejak jatuhnya komunisme maka surat kabar dan televisi telah menyiarkan hal yang benar sehingga orang tak perlu lagi datang ke teater, orang tak perlu lagi mendatangi acara baca puisi. Karena tadinya hanya di teater dan baca puisi saja bisa ditemukan kebenaran,? kisah GM.
Dan ini berarti, puisi dan teater menjadi satu-satunya sama penyampaian apa yang benar. Jadi lebih menarik dibanding surat kabar dan televisi serta radio yang dikuasai oleh partai dan negara dan harus berbicara tentang apa yang dikehendaki engara. ?Jadi, kalau kita ingin demokrasi maka kesenian tidak akan punya peminat yang banyak dan itu merupakan ancaman bagi seniman. Ah, tapi ini cuma bergurau saja,? cepat GM menyela. Lain ceritanya bagi Cina, imbuhnya. Di Cina, pemerintahannya komunis, segalanya dikuasai pemerintah, tetapi toh suatu hari ada sutradara film yang kemudian dikenal di dunia karena film-filmnya bermutu dan tidak hanya berbicara tentang propaganda pemerintah. Orang seperti itu tetap mempertahankan integritasnya sebagai seniman dengan skil dan ketrampilan yang tinggi untuk menyatakan hasil karyanya. Hal ini yang belum terlihat dalam film-film Indonesia, tidak bebas karena tidak boleh bicara soal sosial politik. Keterbukaannya hanya sebatas pada buka-bukaan.
?Kami mengungkap soal film seks. Apa karena itu kami dibredel, jangan-jangan karena kami membongkar kenyataan bahwa film seks Indonesia ada politiknya. Lebih lanjut menurut GM, terlalu sederhana untuk mengkonsentrasikan kesalahan yang ada sekarang pada badan sensor film. Dalam Tempo menjelang dibredel , dikutip sebuah pernyataan bahwa pada BSF (Badan Sensor Film) dititipkan sebuah pesan agar BSF tidak terlalu ketat menyensor film Indonesia supaya laku. Karena itu sebuah politik perfilman di Indonesia bahkan juga seluruh politik informasi di Indonesia ini harus ditinjau kembali. Bagaimana mau membuat film yang bermutu kalau film yang bermutu dihambat di peredaran, kalau belum apa-apa sudah mengalami sekian pergulatan melawan birokrasi. Ini adalah masalah politik informasi yang menyesatkan, bukan hanya masalah pers yang kita hadapi sekarang.?
Kesenian, menurut GM, memiliki peran yang penting, sebuah peran yang memberikan kesempatan untuk membuka koridor lebih luas. Ketika pers dibungkam, seperti sekarang, biarkan kesenian yang bicara. Ketika pers menjadi ketakutan, kesenian harus mengambil alih peranan. Seorang seniman kalau mau mencipta tentu membutuhkan ruang untuk berekspresi dan kebebasan. Dan kebebasan itu kalau tidak diberikan, tidak tersedia atau dihambat oleh penguasa, maka akan menimbulkan reaksi. Hal ini menyebabkan persoalan menjadi persoalan politik, karena dihubungkan dengan kekuasaan. Seorang seniman tidak bisa menutup diri pada sebuah perjuangan untuk memperluas ruang kemerdekaannya. ?Tapi bahwa kesenian harus berbicara politik saya kira tidak,? tandas GM.
Kesenian menurutnya, bisa memperjuangkan soal itu, tanpa menjadikan keseniannya hanya berbicara politik. Tentang keterlibatan seniman pada persoalan-persoalan politik yang nampak menonjol belakangan ini, sebetulnya bukan hal baru dan tak perlu ditakutkan. Buntutnya, sama seperti si burung merak yang ditangkap polisi di jalanan, meski dengan hukuman ringan . Ternyata yang hadir dalam pertemuan Ojo Dumeh ini kalangan pers, mahasiswa, umum, seniman dan budayawan, tapi juga polisi. Buktinya, penyelenggara, ketua Dewan Kesenian harus berurusan dengan polisi.

Delapan

BEBERAPA hari kemudian, sebuah peristiwa penting terjadi. Tak Cuma soal kesenian. Tepat 29 Juli, hari Jumat di tempat yang yang sama, digelar pembacaan puisi dan peluncuran buku penyair Wiji Thukul, Mencari Tanah Lapang. Bisa dipastikan mengapa peristiwa malam ini lebih mengesankan dari pembacaan puisi sebelumnya oleh penyair yang sama pada siang harinya di kampus Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Airlangga. Tak lain lantaran Biru Langit dikenalkan dengan seorang lagi laki-laki dalam kehidupannya.
Tapi baiklah, sebelum itu alangkah etisnya bila Biru Langit merunut tentang peristiwa keseniannya lebih dulu karena memang inilah partai utamanya. Persoalan bila sesudahnya ternyata lebih penting itu lain soal. Penampilannya, pernyataan dirinya malam itu memang menjadikan ia seoarang penyair dan bukan si lugu yang saat pertama kali perjumpaan Biru Langit dalam diskusi tampil terkesan rendah diri, pelo dengan kopyah mungil yang selalu ia pakai membelakangi kepalanya. Betapa ia justru bisa menarikan suaranya yang cadel sambil menembakkan kata-katanya. Dengan tubuhnya yang ringkih, kurus kerempeng, compang-camping tak terbayang ia ternyata seorang yang keras kepala. Ia pilih sendiri kata, peluru dan pistolnya untuk melawan. Lebih dari itu ia sendirian pula yang pasang badan, dengan otot di leher yang menegang, bahkan berani bernyanyi dengan suara kas kuli batu atau tukang becak.
Malam itu, tak lupa ia membawakan puisi yang telah dijadikan pernyataan perlawanan rezim oleh mahasiswa, aktivis LSM maupun kalangan buruh, hanya ada satu kata: lawan! Oya, sebelum jabat tangan dengan penyair, kali pertama Biru Langit menemukan nama Wiji Thukul Wijaya dalam catatan Ariel Heryanto, sebagai penyair kampung Solo dalam Prisma 8, 1988. Lalu Keith Foulcher si doktor dari Flinders University of South Australia, yang menjuluki Thukul sebagai penyair jalanan. Berikutnya dalam catatan Netwoker Halim HD, mengungkap penyair itu nama aslinya Wiji Widodo kalahiran kampung Sorogenen, Solo 26 Agustus 1963. Lahir dengan panggilan akrab Jikul dan besar mengamen puisi di tahun 1980-an dari satu kampung ke kampung lainnya, Solo, Jogja, Semarang, Tegal, Jakarta sampai Bandung. Ia banyak menciptakan lagu anak-anak ke selatan, dari titik api, aku masih di laut, kedongombo, pemilu orba, hidup di televisi, kuli-kuli dn tong potong roti. Baiklah, inilah bait-bait puisi sang penyair yang dimiliki Biru Langit melalui selembar kertas yang ia temukan dari rak untuk sebuah penerbitan. Kebetulan ditulis penyair di tahun 1987-1988 an, tahun-tahun ketika namanya tercatat dan kali pertama sampai di kuping Biru Langit.

Bunga dan tembok

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur
Dalam keyakinan kami
Dimana pun?tirani harus tumbang!

Berikutnya, sebetulnya perkenalan dengan laki-laki bernama Isnaeni bukanlah hal yang istimewa. Bahkan lebih banyak menyinggung pribadi Biru Langit. Yang menarik hanyalah karena hal ini suatu pengalaman baru dan tentu saja perlu analisa baru, cepat, akurat, apalagi dalam suasana yang belakangan begitu menegang. Bisa diduga bila yang terjadi adalah laki-laki yang sedang menganalisa laki-laki. Sebagai pria normal yang timbul kemudian lebih mungkin rasa ini ketimbang cemburu. Atau perasaan senang daripada kagum. Meski seorang doktor linguistik lulusan Universitas Cornell, Dede Oetomo, pernah mengungkap dalam diri setiap laki-laki ada kecenderungan potensi berperilaku homo, bisa diduga mengapa perkenalannya kini dengan Isnaeni melalui profesor bedah plastik yang turut hadir dalam pembacaan puisi penyair jalanan itu, menimbulkan kemuakan dan tidak suka. Tapi layaknya sebuah perkenalan, setiap jiwa tentu menyibukkan diri dalam suatu pesona.
Begitulah pula yang terjadi pada diri Biru Langit, seluruh sisi kekuatannya ia curahkan demi suatu pesona. Ia tempuh pelbagai cara meski dengan manis di bibir pahit di hati atau bermanis-manis masam perangai. Rasanya sulit menggambarkan suasana yang demikian memalukan ini. Pria itu berbadan tegap, tinggi besar, berkulit putih, berambut pendek yang manis, ringan kaki dan banyak mengumbar bicara?pendeknya ia pintar memikat lawan bicara. (oh, mengapa sederetan kata-kata ini sedemikian indah? Barangkali ada yang tidak beres dalam diri Biru Langit. Atau mungkin inilah ungkapan kejujurannya?) Sebaliknya yang ini tentu bukanlah sesuatu yang indah bagi aktivitas Biru Langit: Ia seorang perwira marinir, militer. Seorang dokter tentara, sarjana ekonomi perbankan, bekerja sebagai dokter di rumah sakit pangkalan TNI Angkatan Laut di Tanjung Perak, Surabaya, kini sedang menjalani tugas belajar di bedah plastik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, yang artinya ia mahasiswa Profesor Doktor Dokter Maryuhan Kurnia. Akan tetapi bukan itu semua yang mengejutkan Biru Langit, melainkan cara sang profesor Bedah Plastik itu memperkenalkan mahasiswanya itu yang kedengarannya berlebihan. ?Beliau ini dokter pribadi, si Sulistyorini. Bila dia sakit, dialah yagn menangani, tapi kenyataannya dia datang bukan hanya bila Sulistyorini sakit, tapi juga bila perlu konsultasi dengan papanya, ? seperti biasa sang professor bicara enteng dan membubuhkan, ndak apa-apa?idiom kata yang bagi Biru Langit lebih misterius ketimbang manusianya. Lama kelamaan, dalam percakapannya Letnan Kolonel Marinir Isnaeni itu demikian membosankan, kebiasaannya berbicara banyak tapi ternyata tidak berbobot tentu menjemukan. Sementara itu, cara dia menghargai setiap lawan bicara tak lebih sebagai upaya baginya untuk mengumpulkan bahan bicara yang sebetulnya lebih berbicara tentang keunggulannya diri sendiri. Kedengarannya seolah-olah dokter perwira itu serba tahu, dan banyak makan asam garam ilmu pengetahuan. Hal it setidaknya terlihat dari sederet gelarnya belum lagi tentang hobinya menulis artikel, pemerhati social, mantan dosen fisiologi dan lain-lain. Apakah benar demikian, tentu saja di benak Biru Langit, tidak. Setidaknya ini terlihat dari pandangannya yang amat keliru terhadap anak-anak muda sosialis demokrat. Oleh sebab itu, Biru Langit pun kian hafal bagaimana ia harus menghadapi pria perlente macam begini; betapapun memuakkan bila harus memilih Cuma cengengas-cengenges.
?Saya bisa menduga mengapa mahasiswa-mahasiswa seperti anda juga menyukai puisi-puisi seperti itu. Ternyata mereka yang umumnya aktivis dan gampang mencerna sajak-sajak yang sederhana. Tentu tidak seperti terjadi pada mahasiswa kebanyakan seperti saya,? begitu bila si dokter perwira itu mulai bicara tentang dirinya, sebelum akhirnya selalu mengatakan, ?Tetapi saya senang dengan anak-anak muda yang kreatif, menuliskan apa-apa yang jadi kegelisahannya ketika melihat terjadi ketimpangan di negerinya.?
?O, begitu. Ya, memang seharusnya demikian, ? Biru Langit dingin, di otaknya bergejolak. Ia tak menyukai tentaran baret merah yang memang sedang naik daun di mana-mana. Namun ia juga tak memungkiri sebuah doktrin untuk tidak mempercayai tentara sekalipun dokter, sekalipun marinir.
Sesekali Biru Langit memberi umpan untuk agar sang dokter tentara itu bicara kesenian, puisi, sajak-sajak perlawanan. Tetapi ketidaksabaran Biru Langit berbasa-basi dan cengengas-cengenges memaksanya to the point, mendesaknya menyampaikan pandangannya tentang gerakan-gerakan perlawanan kelompok kiri. Seperti inilah pendapatnya yang menurut Biru Langit tak sepenuhnya benar itu, meski ia mengakui kehebatannya memasang nama-nama besar tokoh kiri internasional.
?Suatu hari di penghujung tahun 90-an, saya yang masih berstatus mahasiswa diajak seorang teman bertandang ke rumah salah seorang aktivis mahasiswa. Menurutnya, acara bertandang itu hanya sekadar silaturahmi dan perkenalan dengan mahasiswa senior, tak lebih. Sesampai saya di rumah kos tersebut ternyata di sana telah berkumpul sekitar sepuluh orang mahasiwa mengitari meja makan dengan setumpuk buku tua yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Alangkah terkejutnya manakala saya mengetahui bahwa mereka sementara mendiskusikan buku-buku tua yang ditulis oleh Karl Marx, Frederick Engel, Tan Malaka dan Pramudya Ananta Toer yang berpaham sosialis-komunis. Bukan hanya itu, berderet-deret buku langka dan di larang yang berpaham Marxisme-Leninisme tampa terpajang rapi di sebuah rak susun. Belakangan saya tahu bahwa mereka tidak membaca keseluruhan buku tersebut. Mereka hanya membaca introduksinya dan menjadikannya sebagai symbol perlawanan untuk suatu reformasi radikal revolusioner. Saya piker seandainya mereka dengan sungguh-sungguh membaca keseluruhan isi tersebut dengan pemahaman, saya yakin mereka tidak akan menjadikan ideology usang tersebut sebagai sebuah paham perlawanan.?
?Apa yang anda lakukan waktu itu, dengan style anda seperti ini?? Biru Langit bertanya seperlunya, sekaligus menyindir sinis.
?Ya, saya sebagai tamu yang diajak bertandang untuk sementara waktu hanya diam layaknya seorang pengamat. Tapi lama kelamaan, timbul juga responsive insting melihat diskusi semakin tidak terarah dan hanya memandang perlsoaland ari satu sisi demensi penyelesaian. Inti diskusi mereka adalah kejenuhan kepada system politik, perbedaan status social yang telalu mencolok dan ketidakberpihakan system social politik kepada strata perifer yang terdiri dari kelompok buruh dan tani. Dan mereka saling percaya paham Marxisme Leninismelah jawabannya (Betapa ia mulai menggunakan istilah-istilah yang memuakkan.)
?Terus..? Biru Langit memaksa diri ikut menyela dan tentu saja asal bicara.
?Lalu saya mencoba menyumbangkan pikiran dengan mengantarkan penyelesaian melalui kacamata Pancasila dan Islam. Mendadak diskusi berhenti. Semua memandang kepada saya yang dianggap berseberangan dengan mereka. Kemudian mereka berargumentasi membantah pendapat saya dengan sengit. Seolah berupaya untuk menyakinkan saya bahwa Pancasila telah gagal dan Islam bukan alternatif terbaik bagi suatu penyelesaian sosial. Hasilnya, diskusi semakin panas ketika saya dengan tajam mengatakan bahwa ideologi yang saat ini mereka pelajari, sosialisme dan komunisme justru telah gagal dimana-mana. Saya mengajak mereka untuk mengkaji pengalaman sejarah bahwa ideologi komunis hanya memberikan penderitaan dan pembodohan kepada rakyat. Terbukti pergolakan di tahun 1926-1927, pakai Madiun 1948 dan tentu saja G 30 S/PK gagal dan hanya menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat terutama terpecah belahnya persatuan dan kesatuan bangsa. (Dia makin memuakkan saja). Dunia pun telah membuktikan kegagalannya komunisme Uni Soviet yang dikenal sebagai kiblat komunisme telah runtuh. Negara Eropa Timur satu persatu menyatakan diri lepas dari ideology komunis. Saya yakin tak lama lagi komunis di Cina akan runtuh dengan wafatnya Deng Xioping. Saya mengajak mereka kembali pada pemahaman eksistensi pribadi bangsa kita yang asli yaitu Pancasila. Dalam 25 tahun mendatang saya yakin bahwa ideology-ideologi di dunia komunis, sosialis, liberalis, kapitalis dan lain-lain akan mengalami keruntuhan. Dan kiblat ideology baru yang membawa pencerahan itu ada di Indonesia. (Biru Langit tak bisa menahan tawa tapi tidak jelas apakah sebetulnya ia sedang menahan perutnya agar tak keluar seluruh isinya).?
?Lantas, bagaimana reaksi mereka??
?Yang mengherankan, mereka masih saja berargumentasi bahwa kegagalan Negara-negara dan ketidakberhasilan segala bentuk aksi terjadi karena Negara-negara tersebut tidak menerapkan teori secara benar. Setelah diskusi selesai, saya pamit pulang dan berusaha melupakan apa yang telah saya alami sebagai suatu mimpi buruk. Tadinya saya berikir bahwa kelompok penganut paham kiri ini tidak terlalu besar dan belum berani menampakkan diri. Tapi ternyata dugaan saya meleset. Meskipun dari segi kuantitas kelompok New Left ini sedikit namun dari segi paham ideology, kelompok ini termasuk militant dan radikal. Konsep menghalalkan segala cara telah menjadikan ujung tombak pola kerja mereka dengan menunggangi buruh tani dan rakyat jelata dengan alasan advokasi. Yang dirugikan adalah individu, pribadi dan golongan yang secara sungguh-sungguh berkeinginan untuk berempati dan membela rakyat jelata tanpa embel-embel ideologi. Lihat saja, banyak aktivis mahasiswa yang berkendara agama menunjukkan kepedulian terhadap nasib rakyat, penggusuran, upah buruh yang amat minim serta petani yang lahannya diambil paksa.?
?Terus maunya apa?? Celetuk Biru Langit.
?Mau apa? Apanya?? Si dokter tentara itu kedengarannya memergoki iseng Biru Langit. Barangkali dirinya merasa dipermainkan. Sehingga ?apanya? dia nadanya meninggi. Kecurigaan tak bisa terhindarkan?sungguh suasana yang sama sekali tidak nyaman. Meski demikian Biru Langit tak kurang akal.
?Terus, maksud saya, anda kan belum kasih komentar pertanyaan saya soal puisi perlawanan,? keseriusan Biru Langit tak mengurangi ketegangannya, tapi ia sadar mengajukan soal yang tak diminati dokter tentara itu.
Dan benar adanya. Sang dokter tentara tak menjawab satu patah kata pun. Suasana pecah oleh persoalan lain yang entah tak merasuk dalam pikirannya.
?Tahu rasa kamu!? pikir Biru Langit. ?Mustinya tentara itu perlu belajar baca puisi, jangan cuma pegang senjata.? Biru Langit terus disibukkan dengan pikirannya sendiri. Bila pun banyak membaca puisi, tentara tetaplah tentara. Sebaliknya kalaupun tentara itu boleh baca puisi, itu berarti sipil seperti dirinya pun harus diberik hak untuk menggunakan senjata, atau setidaknya mempelajari seluk beluk senjata berikut pelurunya. Pasti asyik. Lalu ia pun tertawa dengan ketololannya sendiri, gelak tawa yang kosong tiada makna.
Meski demikian, seburuk apapun peristiwa malam ini, adalah perkenalannya yang luar biasa dalam hidupnya. Betapa ia merasa, bagaimana satu persatu nama hadir dalam lingkaran keruwetan hidupnya, yang ia rasakan dari hari ke hari jadi misteri yang membingungkan, hidup yang begitu cepat seperti mengambang namun buram, absurd, serasa berada di tengah kabut tak bertepi?ya, begitulah dari hari ke hari Biru Langit seperti sedang berbantal kabut, berenang di tengah ombak. Hidup yang menurut penjelasan Profesor Bedah Plastik kedengarannya sangat sederhana. Lantas menjadi aneh karena malam itu sang profesor memilih diam karena memang tidak mengerti. Setidaknya seperti itulah pengakuannya. ?Saya tidak mengerti,? selain senjata ?ndak apa-apa,? nya sang professor. Sesuatu yang sangat masuk akal, karena menurut engakuannya sendiri ia mengerti karena tidak membaca buku-buku dari karya sejumlah nama besar yang disebut-sebut dokter tentara itu. ?Daripada salah mengerti, yang dibicarakan orang yang kurang mengerti, lebih baik saya diam. Apalagi karena saya memang tidak mengerti. Tapi kalau soal budaya ilmiah dan bedah plastik tanya saya.?
Kebekuan akhirnya terpecahkan Gelak tawa kali ini bukan lagi sesuatu yang kosong. Bahkan masing-masing sibuk mencari makna tawa itu dalam benak sendiri.

Sembilan

TENTANG tempat komplek Balai Pemuda, terselenggaranya kegiatan baca puisi perlawanan, itu keberadaannya memang tak bisa dilepas dari politikus Bintang Sakti sebagai sesepuh, yang mbahureksa.
Dahulu di zaman Hindia Belanda gedung itu dipakai klab orang kulit putih. Orang pribumi dan anjing dilarang masuk, betapa kurang ajar itu colonial Belanda, betapa pribumi itu disamakan dengan anjing. Barangkali oleh sebab itu pula jarang pribmi yang sengaja memelihara anjing. Lalu di masa revolusi fisik tahun 1945, komplek itu dijadikan markas Pemuda Republik Indonesia, dijadikan pusat perlawanan pemuda Indonesia terhadap pasukan sekutu. Tetapi sekarang komplek Balai Pemuda itu dikuasai oleh seorang tua yang nyentrik?nganeh-nganehi, politikus Bintang Sakti. Rambutnya yang putih dibiarkan memanjang, dikuncir dan setiap berjalan ia selalu dibuntuti oleh werewolf-werewolf kucel yang bangga sebagai gelandangan-gelandangan. Oleh karena teracuni atau lebih tepatnya terimbas racun novel-novel Iwan Simatupang?tapi yang ini alias tanpa alamat dan tempat tinggal yang jelas. Fatalnya, si tuannya politikus Bintang Sakti ini menambah racun seperti bubuk ditergen yang biasa digunakan tokoh-tokoh agama, kiai, ustad, ulama, dai atau mistikus dengan dalil-dalil mensyahkan kedudukannya. Sekali lagi, yang lebih tepat werewolf-werewolf inilah yang terimbas racun. Agama bagi politikus Bintang Sakti seperti seekor kancil yang tertangkap tangan yang lalu dilemparkannya pada werewolf-werewolf kelaparan.
Kini, sepintas gedung-gedung tua komplek Balai Pemuda itu tak menyisakan apapun juga?apalagi darah, perlawanan. Sudah berjalan puluhan tahun dan orang-orang pribumi sama sekali tak pernah mempermasalahkannya. Barangkali karena terlampau sibuk dengan pekerjaannnya dan jalan pikirannya yang sudah sesak oleh rasa bersalah akibat sejak lahir telah dikoyak moyak kemiskinan dan sekarang terimbas racun modernitas. Politikus Bintang Sakti sendiri menjadi penguasa di sana berawal dari kisah sebutir beras. Waktu itu tahun 1972 harga beras membumbung naik dan ia turut memprotes. ?Ketika itu Jawa ibarat tikus mati kelaparan di lumbung padi. Ada gudang pangan nasional terbesar di sini dengan lumbung padinya, tetapi penduduk miskin juga membengkak. Harga beras tak terjangkau. Beberapa kota yang disebut lumbung padi justru muncul kondisi baru, rawan pangan. Di Ngawi sejumlah penduduk sudah mula mengkonsumsi pangan non beras. Ditemukan juga di Pacitan, masyarakat yang makan gaplek dan ares umbi pisang,? demikian kenangnya suatu ketika. Saya, orang tua itu juga tak pernah mengajari bagaimana mencuci muka?mencuci tangan agar pikirannya bersih sehingga tidak muncul sama sekali perasaan dendam. Mengapa tidak pernah terungkap fakta sesungguhnya pasca penangkapan dirinya mengakhiri demonstrasi harga beras naik. Ia ditangkap aparat dan mendekam beberapa bulan di tahanan. Tapi itu menurut pengakuannya dengan bangga. Benarkah ia ditahan, dikurung dalam tahanan alias dipenjara? Lalu apa yang terjadi saban harinya di dalam penjara? Lantas ada apa selepas dari penjara justru direkrut jadi werewolf alias anak buah seorang pejabat tinggi waktu itu? Berikutnya, megnapa politikus Bintang Sakti merahasiakan pertemuan penting di bilangan Lebak Bulus beberapa hari lalu?
Sekarang memang lain. Keadaan sudah berubah. Beban, dosa itu menyisakan dendam. Hanya jalan yang menentukan. Ternyata ia berbeda sebagai politikus menempuh cara. Biarpun tubuhnya sudah dimakan sisa umur tetapi jangan sekali-kali salah tafsir. Herannya, justru itulah yang makin menguatkan bahwa dia laki-laki yang patut disegani, dihormati. Tidak hanya itu, tetapi dia patut didewakan. Barangkali aneh kedengarannya, tua, hitam, keriput, kurus seperti mayat tetapi didewakan. Sebagai seorang dewa, tentu ia menceritakan hal-hal yang baik, meksi sebagai manusia biasa dia tak pernah luput menangkap agama seperti menggenggam seekor kancil di tangannya. Sang politikus Bintang Sakti pun membuka kisahnya tentang seorang bapak yang berotak bersih dan belum sama sekali dilumuri pikiran hitam seperti oli pabrik tempat kawan-kawannya bekerja. Kedengarannya seperti mesin perang yang sedang diturunkan ke sebuah kampong yang penduduknya miskin, kotor dan matinya tinggal berada di ujung mesin penghancur. Lalu bangkit teriak, menabuh genderag, maju dan mati. Kedengarannya, seperti itu mengerikan. Dikatakannya, ?Jika semangat berjuang mereka digambarkan ke dalam sorot-sorot bayangan di luar akan tampak seperti pecahan kaca. Kadang mengkilat kadang tak berarti muncul dan tenggelam.?
Sebagai politisi ia gila misteri. Dan inilah kisah berikutnya yang (bangsat) ternyata mampu memikat hati Biru Langit?.
Diceritakannya bagaimana pemuda-pemuda bersepakat belajar hidup dari pria dalam tokohnya itu. Ya, diakui sebetulnya hal itu pernyataan berlebihan dari seorang pemuda. Tetapi rasanya itu perlu, terbukti sejumlah pemuda lain bersepakat. Bahkan yang paling arif pun mengingatkan dengan pernyataan seperti ini, sebagaimana ditirukan politikus Bintang Sakti. ?Bukan maksud kami menempatkan laki-laki itu besar kepala karena harus berada di depan seperti kisah-kisah kepahlawanan pemuda harus dibarisan depan? pemuda harus di barisan depan?. Sementara sudah menjadi kisah umum orang muda tak berdarah dingin tetapi emosional dan besar kepala. Semoga saja anak-anak, ibu, perempuan tua, kakek, bersitegang mendengar cerita yang sesungguhnya sudah mereka ketahui sebelumnya, karena mereka bertetangga, karena mereka punya nasib sama. Sama-sama terpuruk tetapi tak punya kesadaran untuk bangun dan Cuma cerita dari mulut ke mulut yang menjadi api yang menyadarkan mereka, bahwa mereka orang tidak berguna. Tak ada yang salah kalau laki-laki tua itu harus mati di depan puluhan orang-orang kampung. Itu wajar. Tetapi kematiannya yang membangunkan orang hidup itu yang harus kita jaga.?
Begitulah bapak yang legam bagi anak-anaknya itu bukan orang biasa. Sekarang belum mati. Sekarang masih hidup meski sebetulnya sekarat dengan ribuan basil penyakit bersarang di bawah rongga-rongga kulit dan dagingnya. Kemudian, penyakit kencingnya, sudah pasti?suka kencing dimana-manapun tempatnya, itu karena kantung kemihnya telah usang. Laki-laki itu dengan dada membusung ke depan menantang siapa saja yang bermaksud menghadang langkahnya. Sampai tubuhnya kurus kering dimakan penderitaan laki-laki itu masih sanggup menunjukkan dadanya. Bahwa dia memang dewa, terhormat. Siapapun tahu bahwa pisau, golok, pedang tak pernah mampu menembus kulitnya. Tak ada satu goresan pun dari kulitnya yang hitam tapi bersih. Begitulah, laki-laki itu tak pernah berususan dengan senjata, kecuali nyali dan dendam memang dia punya. Masih menurut kisah politikus Bintang Sakti. ?Dia selalu kalah. Dia biarkan orang-orang kampong berdiri di belakangnya sebagai orang kalah. Mau apa sekarang?? Tiga orang istrinya dan tujuh orang anaknya cuma menjadikan pria itu terbebani seumur hidup. Tapi dia tahu siapa yang salah. Betapa tidak? Anak-anak adalah darah daging sendiri yang suatu ketika harus diusirnya dari keluarga, dan rumah rumahnya dari kampong, kalau perlu ditendang keluar biar tidak bercokol di negeri bapaknya. Tetapi pria itu belum sanggup.
?Suatu ketika,? kisah Politikus, ?Laki-laki itu sehat betul dan di luar dugaan dia masih hidup. Penyakit dia seperti lelucon hanya menjadikannya bangkit lalu jatuh, bangkit lagi, jatuh lagi, kemudian bangkit lagi, hidup beberapa bulan lagi, menderita lagi. Sayang sekali dia sudah tak memiliki airmata cukup untuk menggenangi rumahnya dengan airmatanya agar tetangga membantu mengirimi beras, gula, kopi, untuk menyambung hidup. Tetapi ya itu tadi dewa tidak akan menangis dan tidak sedang membutuhkan beras. Setidaknya, semenjak itu dia telah menemukan kebenaran, bahwa daripada mengkalkulasi kesalahan yang sebagian kecil dia lakukan semasa kanak-kanak, lebih baik menghitung kesalahan orang lain kepadanya dan itu keinginan dia hingga sekarang. Kesalahan pertama orang kepada laki-laki itu karena mereka menganggapnya dewa. Dan kesalahan kedua, orang-orang diam saja melihat kawannya menderita.?
Darah muda Biru Langit bergolak. Ia tak tahan dengan misteri gila-gilaan ala politikus Bintang Sakti. Cepat dia menyela dan menggugat. ?Siapa laki-laki yang anda ceritakan itu, Bung?panggilan politikus Bintang Sakti yang atas permintaannya sendiri? Dan apa artinya, dia memandang orang kampong diam saja melihat kawannya menderita??
?Karena mereka tak punya pikiran sama sekali. Yang mereka pikirkan cuma keluarganya sendiri. Bagilah beras ke tetangga, begitu mustinya.?
?Ya, tapi anda belum jawab pertanyaanku yang pertama, Bung.? Sergah Biru Langit karena merasa ditelikung. ?Siapa pria dalam cerita anda itu??
?Saya sendiri. Politikus Bintang Sakti!?
?Ah,? pikir Biru Langit, ?Begitu rupanya awal mula cerita beras itu.?
Entah apa yang terjadi padanya semenjak teka-teki misterinya telah terpecahkan, ia masih tetap ingin melanjutkan ceritanya, meski kini merubah gayanya lebih sentimental, mengiba sebagai sosok pria yang tua dan rapuh. ?Saya punya istri, punya anak. Kadang-kadang apa yang saya lakukan tidak membuat mereka tertawa atau bersedih. Tetapi justru membuat mereka bingung.? Sementara Biru Langit yakin politikus Bintang Sakti itu tidak sedang mengatakan yang sesungguhnya. Dia yakin polikus Bintang Sakit itu tidak sedang mabuk oleh pikirannya sendiri yang baru saja waras dan sedikit normal. Politikus Bintang Sakti hanya mondar-mandir memikirkan satu hal tadi karena tiba-tiba dia merasa sebagai seorang dewa yang kesepian. Atau seorang pelawak yang abai?
Di ujung perempatan jalan besar, ada sebuah bangunan tua bekas gedung besar tak terpakai. Setiap orang yang lewat dengan menyusuri trotoar jalan, dengan gampang bisa mengamati bangunan yang dikelilingi tembok besar yang oleh anak-anak digambari berbagai macam dan dikotori dengan arang, cat atau sejenis pilox. Barangkali saja dijaga ketat oleh satpam yang tugas pokoknya setiap sore menghalau anak-anak gembel yang melukisi dinding tembok karena dianggap mengotori pemandangan kota. Tapi anak-anak tak kehilangan akal malam hari adalah waktu yang tepat melanjutkan aksi mereka. ?Saya hanya tertawa saja melihat tingkah anak-anak itu. Kadang saya juga berpikir dengan pikiran seorang dewa. Mengapa bapak-bapak tidak belajar dari anak-anaknya? Dan saya tertawa lagi. Dunia apa ini? Berikutnya, saya merenungkan diri pribadi. Sebuah rumah yang hendak dibangun, tidaklah pernah berubah sama sekali bila hanya dipikir. Seperti juga nasib tidak pernah berganti hanya dengan berpikir. Seorang dewa tidak dilarang merenungi hal seperti ini. Merenung lagi. Barangkali jikapun saya akan menceritakan satu kalimat seperti ini kepada tetangga, kawan, anak-anak, kerabat, mungkin akan ditertawai, mungkin juga ditangisi karena resikonya terlampau besar.?
Ceritanya makin sulit dihentikan. Ketika dia melihat gambar-gambar milik anak-anak, politikus Bintang Sakti seperti bermimpi meloncat ke istri dan anaknya. Ia membayangkan tekadnya untuk tak perlu lagi melakukan satu hal yang ceroboh dan berjanji melewati waktunya sebaik mungkin?sesuatu yang mustahil, seperti tangisan yan tak berguna. Lukisan ksatria menunggang kuda itu menggamit cambuk dan keris, tetapi jelas bukan Dipanegara yang mengagumkan namun juga seorang yang arogan itu. Di sebelahnya, lukisan orang bekerja ditunggui mandor yang berkacak pinggang. Di bawah lagi gambar sebuah warung yang dilempari petugas karena pemiliknya tengah diusir. ?Menikmati lukisan anak-anak itu, saya merasa seperti tertidur ratusan tahun di kamar tidur yang teramat sunyi. Toh, ternyata saya bukan dewa. Saya manusia biasa yang dewasa. Yang terbiasa menghadapi kawan, lawan atau politisi lawan. Yang penting dihadapi dengan dada membusung. Memang bukan oleh karena keberanian, tetapi akibat penderitaan yang seumur hidup ditambah perasaan kesepian ratusan perasaan ditipu, perasaan dihasut, perasaan diadu domba, perasaan diremehkan. Segalanya bercampur aduk lalu pecah seperti bom waktu. Sesuatu yang wajar bukan??
?Ya, segalanya masih berjalan di atas kewajaran.?
?Ini saya pelajari dari siaran-siaran tv yang digunakan orang sebaik-baiknya tanpa sisa untuk mengumpulkan massa, main bujuk rayu. Digunakan pejabat sebaik-baiknya untuk membersihkan muka dan mencuci tangan mencuci kaki biar wajahnya tetap seperti wajah malaikat. Padahal semua tahu tangannya kotor oleh darah anak-anak dan kakinya kotor oleh keringat orang miskin lalu kepalanya dipenuhi dusta, siapa yang tahu??
Sesungguhnya, politikus Bintang Sakti tak sempat berpikir, karena tipis bedanya jarak emosinya. Bagaimana ia bisa berpikir bila hal itu ia sampaikan dalam waktu sepersekian detik. Bahkan dalam waktunya yang pendek itu harus berebut dengan keinginan kembali mencari lukisan di tembok besar seberang jalan. Belum lagi, tiba-tiba serbuan ingatannya pada istrinya yang berburu mengisi ruang otaknya. Ya, seorang ibu dari anak-anaknya yang tahu betul bagaimana menghadapi kenyataan hidup, pahit getirnya, penderitaanya, dan bagaimana kebahagiaan hidup yang semu itu.
Sampai di sini, betapa politikus Bintang Sakti memang gila misteri. Lagi-lagi darah muda Biru Langit telah habis kesabarannya. Tentang hidupnya yang telah diobrak-abrik telah gambling tergambar di benaknya. Tetapi kenapa di tangan politikus Bintang Sakti begitu berbeda rasanya. ?Hei bung, berapa kali harus saya tanyakan siapa orang yang anda maksudkan dalam kisah Bung??
?Diri saya sendiri. Mungkin,? jawabnya singkat.
?Tak bisakah Bung cerita sesuatu yang bukan misteri kepada kami anak muda yang benci misteri??
?Ya, bisa. Tetapi itu tidak asyik. Tidak ada seni berpolitik di situ.?
?Hei, I tu artinya anda mendistorsi kata seni. Tidak boleh dan salah.?
?Tidak boleh? Kalau begitu ya karena tidak asyik saja.?
?Huh! Anda cuma berbelit-belit Bung.?
?Baiklah kalau begitu siapkah anda mendengar keinginan saya yang bukan misteri??
?Kenapa tidak? Katakanlah.?
?Saya ingin kawin lagi. Istri yang keempat.?
Ah, bukan sesuatu yang penting bagi Biru Langit.

Sepuluh

BERAS. Sejumput beras sulit dibayangkan bagaimana bisa mengubah pandangan seseorang tentang hidup. Jawabannya, bisa oleh karena adanya nilai sebutir benda kecil berwarna putih itu bagi kehidupan itu sendiri. Kalaupun nilai itu kemudian berwujud harga dalam rupa-rupa sebentuk rupiah hanyalah suatu kebetulan itu terjadi pada manusia. Tapi nilai beras nyata-nyata tak cuma berharga bagi manusia. Serangga atau unggas pun punya penilaian bagi kehidupannya terhadap beras. Dengan logika yang sangat sederhana memang bisa dijelaskan bagaimana pentingnya beras dan perlu dibuktikan dengan produksi missal, di sawah-sawah oleh petani. Berlimpah.
Ya, hanya sesekali dua saja terjadi gagal penenan, atau diserbu hama wereng, tikus. Selebihnya cerita yang meluas berkarung-karung beras dengan segel manis berhasil ditampung di gudang-gudang, keluar masuknya diatur, dijadual, serbuan ngengat ditangkis dengan rupa-rupa ramuan kimia sampai berbau apak, dengan teknologi supercanggih dijamin aman. Lalu harganya pun diatur sikian rupiah. Lantas, ada ekspor-impor dengan modernisasi perdagangan beras. Semuanya masih bisa dijelaskan. Dengan logika masih pula bisa dijelaskan, jikaun kecilnya subsidi dan merosotnya produksi beras berdampak pada melambungnya harga. Kemudian serbuan hama atau akibat musim kemarau panjang, sehingga mengacaukan pola musim tanam, kebingungan petani memilih varietas yang cocok, naiknya harga pestisida, masih bisa dijelaskan. Apalagi, orientasi petani yang sengaja untuk mencukupi kebutuhan sendiri, karena ulah penadah besar yan dianggap diskriminatif, merugikannya sangat bisa dimaklumi. Justru wajar bila terjadi petani memberdayakan kekuatannya sendiri untuk menyelamatkan keluarganya dengan cara menyimpan beras tidak untuk dijual.
Sebaliknya, yang sulit dijelaskan dengan logika adalah bagaimana sebutir beras yang berpilin-pilin dalam usus dan lambung kemudian menggerakkan otak dan menggetarkan hati kemudian menghasilkan suatu kompromi. Ada distribusi yang terputus-putus sejak dari usus, pembuluh darah hingga jaringan neuron. Entah menyusup ke bagian mana dan menghasilkan suatu yang mirip sebuah pemberontakan, atau revolusi yang di mata Biru Langit sangat mengagetkan, dan itu terjadi pada diri politikus Bintang Sakti saat mengambil nilai sebutir beras baginya, bagi keluarganya dan bagi werewolf-werewolfnya. Apakah dengan demikian telah cukup diwakili ungkapan ?sekian puluh juta penduduk negeri ini sama-sama makan beras?? jelas tidak. Harus dicari dan ditemukan detik-detik awal mula revolusi itu terjadi dalam diri politikus Bintang Sakti, yang nyata-nyata mampu menggerakkan pesona keseharian hidu si Bung itu hingga berpuluh-puluh tahun kemudian. Kalaupun ia kemudian berkisah tentang penderitaan, kemiskinan, masa lalu, itu kiranya persoalan lain. Bukti bahwa ia memang punya masa lalu.
Tapi kenyataan bahwa dalam dirinya telah terjadi pemberontakan besar dan arena itu dia menang berkat beras, itu fakta yang jujur harus dikagumi Biru Langit. Sampai kemudian melar dengan berpikir tentang perempuan keempat. Sungguh hal itu adalah kepekaan yang patut diacungi jempol. Tinggal selangkah lagi mengganti beras dengan hal-hal lain untuk menemukan titik pemberontakan lain dalam diri semisal, istana, kedudukan, perempuan dan lain-lain. Sebelum akhirnya juga kekuasaan dan ilmu pengetahuan. Sayangnya, politikus Bintang Sakti ini sosok yang harus selalu dicurigai karena kebiasaannya mendistorsi seperti sebagaimana dilakukan terhadap seni dalam kegiatan politiknya. Ia menganggap politik itu seni dan seni itu bisa dijual untuk politik?sesuatu pengertian yang penuh bisa diterjemahkan ke dalam bahasa yang gampang dicerna, mudah dimengerti dan enteng dipahami. Tampaknya, ia sengaja tak sudi mengurai persoalan yang pelik seperti itu. Ia takut keliru atau disalahkan. Mungkin juga karena ia tahu kesalahannya.
?Ah, yang belakangan ini Biru Langit tak yakin betul. Justru kecurigaannya berkembang, bila politikus Bintang Sakti sanggup mengganti beras itu dengan kekuasaan atau ilmu pengetahuan. Biru Langit kesulitan membayangkan apa bakal terjadi dengan dunia ini. Bolehlah, sampai di sini ia dianggap sebagai orang yang tak peduli dengan tetek mbengek penjelasan dan catatan sejarah. Ia hanya mau berdiri, berlalu sebagai pembuat sejarah, tokoh dan pelaku. Tetapi ketidakkonsistenan telah menghancurkan dirinya sendiri, setidaknya menurut pandanganku. Betapa pentingnya penjelasan dan catatan bagi kehidupan di dunia ini untuk ditinggalkan kepada anak cucu, dibaca kembali, selain agar dimengerti segenerasi. Ia mengabaikan satu hal itu, di sisi lain ia justru memperjuangkan sentimentalisme kebutuhan duniawi dengan beras sebagai contoh konkretnya. Bukankah sesungguhnya justru sejarahlah yang harus membebaskan diri dari urusan-urusan duniawi dengan menciptakan utopia-utopia yang bersifat simbolis. Oleh karena tujuan-tujuan yang konkret telah dimiliki sebelumnya oleh ideology-ideologi? Barangkali politikus Bintang Sakti memang perlu perempuan keempat untuk menjembatani kompromi-kompromi berikutnya akibat ketegangan karena ketidakkonsistenannya sendiri. Atau selebihnya, ia perlu perempuan kelima, keenam dan seterusnya??
Inilah rupanya penggalan perjalanan hidup Biru Langit paling rumit perihal politik dan perempuan. Betapa ia diam-diam telah masuk ke dalam circle keduanya dan sulit keluar apalagi dengan selamat tanpa cerca. Di satu sisi ia buth penjelasan dan catatan akan hal itu, namun pada kenyataannya ia sama sekali tak memperoleh jawaban. Politikus Bintang Sakti telah sudi dengan leluasa membuka misteri keinginannya untuk bergaul dengan perempuan keempat untuk dijadikan sebagai istri. Perlukah kemudian dikejar agar terbuka kembali, itu perempuan untuk apa, siapa namanya, demi perjuangan ideologi atau utopia, dunia atau akherat atau ia hanya bermaksud menciptakan sebuah tanda bagi kehidupannya saja?semacam status kejantanannya?
Selebihnya perkenalan dengan dokter tentara Letnan Kolonel Marinir Isnaeni yang menyelinap dalam dirinya, justru memperkeruh suasanan batinnya perihal perempuan. Mendadak Biru Langit merasa dirinya sangat ceroboh, rapuh, pencemburu atau rendah diri. Bukan satu satunya alas an karena dokter tentara itu menyelewengkan diri bertindak sebagai dokter pribadi Sulistyorini: Kekasih Biru Langit. Ya, dokter pribadi. Ya, ini alasan yang sebetulnya cukup untuk tidak mengatakan : ini sebuah ancaman. Atau setidaknya karena ternyata si dokter tentara juga sering bertandang di luar waktu sakit Sulistyorini. Sebuah langkah yang sangat arif ketimbang mendoakan agar senantiasa Sulistyorini dijatuhi hukuman sering sakit. Meski sama-sama bukti kekurangajaran manusia yang bisa mencetak biru bahwa sebetulnya setiap manusia itu berpotensi untuk jatuh sakit. Bahkan setiap manusia itu berpenyakit. ?Ah, rasanya belum pernah terjadi dalam diri Biru Langit sebelumnya, perasaan bahwa perempuan itu sepenting hari ini,? pikir Biru Langit yang menyelami keasingan dirinya. ?Padahal aku belum memasukkan pelbagai pandangan social, politik, budaya, ekonomi, apalagi ideologi di dalamnya. Hah!!?
Selain itu, baru saat inilah dirasakannya dirinya perlu hiburan, meski ia tak bisa memilih untuk jauh dari persoalan. Sebuah artikel tentang perempuan ia baca dan ia dapati tulisannya seperti ini: Seorang wanita jelas berbeda dari pria. Terutama pada anatominya. Tapi wanita juga mempunyai persepsi berbeda terhadap berbagai pengalaman, walaupun seberapa banyak perbedaan itu dilihat dari sikap budaya dan dari perbedaan kelamin, belum nyata benar.

Sebelas

CUACA bulan Juli luar biasa bertambah gerah. Semakin pengap dengan nafas hitam mobil dan kendaraan motor lainnya, seberapapun jauh diterbangkan ke udara atau digiring ke pinggir pantai utara, seperti sia-sia. Kabut awan juga kosong. Tetapi kabut lain bersemayam pada diri Biru Langit bergumpal-gumpal, bahkan ia berjalan seperti sedang menggendong gumpalan kabut atau bila tidur kelihatannya berbantal kabut. Memandang langit yang kosong, dengan pandangan yang terhalang selaput bening matanya, seperti merasai dirinya mengambang di angkasa. Bedanya, kadang-kadang pemandangan itu bia terbingkai dalam jendelanya. Tetapi perasaan bilamana dirinya terombang-ambing, dilempar dan dihempaskan hembusan angina yang pengap tak juga mau pergi dalam dirinya.
Inilah rupanya kabut paling panjang dalam sejarah manusia, tak hancur oleh musim, tak retak oleh zaman. Matahari musim panas, atau bulan musim hujan hanyalah pemandangan yang menghiasi bingkai kehidupannya seperti lukisan-lukisan atau karto pos-kartu pos yang dijual murah. Kabut tetap tak mau pergi, dan bayangan-bayangan di kejauhan makin menggila. Dan di bawah langit, di sebuah kota dengan gedung-gedung kokoh, roda-roda yang beringas, kampong slum kumuh, sisa-sisa pohon hijau sebuah taman yang kering justru mengotori benak Biru Langit. Kesumpekan yang tak jelas tapi nyata di belakang bawah kabut kehidupannya. Ironisnya, diam-diam ia telah menemukan titik simpul dari keresahannya, kegelisahannya hanyalah ada pada diri seorang perempuan?kekasihnya, Sulistyorini. Ia tak bisa mencari jawab semisteri apapun dirinya sebagai manusia bagaimana hal itu terjadi, perempuan melekat kehadirannya di tengah kabut pekat yang menyiksa.
Ya, ia tak bisa mencari jawab seberapa hebatkah dirinya jikapun benar kelak ada pemberontakan dalam dirinya, kalaupun terjadi revolusi segenap pikiran, emosi, jiwanya. Tapi ia akui perubahan itu nyata terjadi dan perbedaan masa lalu dan masa kini memang dating. Hanya saja ia pun harus ragu titik simpul itu bukanlah sebuah kenyataan, melainkan justru suatu misteri. Selanjutnya, Biru Langit mulai merasakan dirinya, kini menjadi sosok yang bukan mustahil tana ia sadari sedang gila misteri. Setidaknya dalam waktu dekat ini belum ada tanda-tanda kabut menyingkir menuju setitik celah langit yang terang. Terhadap persoalan yang menghempas-hempas di atas gelombang kabut seperti ini, seorang profesor bedah plastik pemuja budaya ilmiah yang mengobarkan panji-panji sendiri sekalipun tak bisa membuka jalan. Bahkan terkait dengan pribadi putrid satu-satunya ia pun tak kuasa?atas nama demokrasi, sebagai ganti sementara kata cinta sang professor. Sang profesor tak bisa menjawab pertanyaan Biru Langit mengapa ia percayakan dokter tentara Isnaeni sebagai dokter pribadi putrinya dan bagaimana, sejauh mana hak-hak seorang dokter pribadi bisa masuk dalam pribadi putrinya, lalu bukankah dia tetap seorang dokter bila mengunjungi pasiennya di luar jam diagnosa akibat penyakit yang diderita pasiennya?
?Saya tidak bisa menjawab soal-soal pribadi semacam itu. Bagi professor seperti saya hal itu sudah selesai.?
?Itu artinya anda sedang melakukan eksperimen terhadap putrid anda sendiri, Prof. Tidakkah anda pertimbangkan kemungkinan justru putri anda mengalami gangguan jiwa, kalau dia tidak tahu secara terbuka maksud anda sesungguhnya mengenai dokter tentara itu,? Biru Langit seperti mengobarkan darahnya yang tersirap karena perasaan yagn tak sudi ia ungkapkan dengan jujur.
?Kenapa justru anda yang bingung?? sinisme profesor kumat.
?Karena saya melihat sebuah ancaman, Prof. Dengan begitu, berarti diam-diam anda sedang melenyapkan sebuah kehidupan pribadi, dari ruang dan waktu yang demikian utuhnya.?
?Anda keliru Biru Langit. Anda tidak berbicara dengan lugu. Berbicaralah sesuatu hal yang konkret dan masuk akal. Begini: Sebetulnya saya sedang melakukan koreksi sejarah. Ini yang saya maksudkan dengan pikiran modern. Saya tidak ingin ada kesalahan lagi sejarah Hindu-Aristokrat. Di bawah kekuasaan raja-raja di dalam istana, seluruh rakyat sampai hulubalangnya harus ngesot, menyembah. Rumah tangga di zaman dulu juga harus begitu, panggil tuannya dengan ndoro. Saya dulu dipanggil ndoro karena masuk lingkungan mereka. Ini budaya raja. Bapak di atas, anak-anak di bawahnya. Menurut pikiran modern ini nggak betul. Sekarang mestinya bapak dengan anak bisa guyonan. Seperti ini mau saya, karena ini adalah analog yang menurut saya sebagai budaya ilmiah. Saya piker, walaupun asal muasalnya dari lingkungan perguruan tinggi, science bisa diterapkan di segala lapisan masyarakat di jagad ini. Anak kecil yang belum bersekolah, harus diajari ngomong pakai logika, seperti ini. Jangan biasa diajak pergi ke tempat dukun, tanya hari baik dengn tetek mbengek ilmu astrologi dalil-dalil yang sebetulnya dikembangkan tidak ilmiah. Saya ingin menciptakan iklim seperti ini. Juga dalam keluarga saya. Apakah bahasa saya yang sederhana ini belum bisa ditangkap??
?Guyonan. Prof? Bagaimana anda memakai kata ini di tengah hiruk pikuk zaman yang makin sulit ditemukan lelucon seeprti ini. Ini zaman sudah demikian kaku. Anda belum menjelaskan sesungguhnya tentang hal ini, dan lagi sejak berhari-hari saya ada di rumah ini, saya belum menjumpai suasana guyonan yang anda gambarkan itu, Prof.?
?Kedengarannya anda tak menangkap esensi dari teori saya. Kalau soal zaman, iklim yang seperti saya gambarkan itu baru bisa terlaksana apabila saya jadi presiden.?
Di mata Biru Langit, sinisme sang professor tiba-tiba berbuah lelucon, meski kemudian kembali disangkal sang professor.
?Huh? kuharap anda tidak sedang membuat lelucon yang merisaukan saya ini, Prof.? Biru Langit tak bisa menolak tawa.
?Oh tidak. Saya serius. Atau setidaknya orang-orang yang seperti sayalah yang pegang kekuasaan, baru iklim ini bisa berubah. Soeharto saja, begitu punya kekuasaan, budaya di negeri ini bisa berubah. Korupsi merajalela. Saya mengikuti zaman Soeharto, juga Soekarno. Dulu negera ini melarat tetapi tak pernah dengar koruptor-koruptor, aksi sogok menyogok. Mungkin kalau pun ada jumlahnya sedikit ya. Saya tahu karena saya mengalami. Zaman Soekarno yang dikobarkan hanya masalah politik dan nasionalisme, bagaimana cinta tanah air. Ya, memang melarat karena nggak ada yang mikir duit. Soeharto, sebaliknya malah mikir perut. Bila Negara ini dipegang oleh orang-orang yang mau memulai dengan idealisme berbudaya ilmiah, sedikit demi sedikit suatu saat akan lebih baik. Apalagi kalau saya atau orang seperti saya yang pegang kuasa ini punya duit, tentu jadinya lebih cepat terjadi perubahan. Saya tinggak suruh orang bekerja mati-matian. Tapi kalau tidak punya kekuasaan, tidak punya uang bagaimana saya bisa suruh orang??
?Bahasa anda memang terlampau sederhana, Prof. Tapi anda juga berlebih menyederhanakan arti kata budaya, seperti setiap orang itu berbudaya. Tidak, Prof! Budaya itu suatu perjuangan bahkan pemberontakan dengan segenap pikiran, emosi, kekuatan, pengetahuan yang dikerahkan demi kehidupan yang lebih baik di jagad ini. Bahkan tidak hanya berlaku untuk manusia saja, apalagi untuk diri pribadinya. Ya, kata kuncinya adalah pemberontakan dan baik. Dua hal yang sampai detik ini begitu kerap dibunyikan, begitu sering dipersoalkan, begitu gampang disimpulkan, tapi sebetulnya begitu rumit untuk dimengerti. Saya bisa katakana amat berbahaya bila di tangan orang-orang yang ceroboh dan bodoh. Sabaliknya bisa sangat menjerumuskan di tangan orang-orang pintar karena sudah ratusan buku, bahkan ribuan dan masih terus dicoba untuk dirumuskan arti dua kata yang saya sebut tadi: pemberontakan dan kebaikan. Jadi, begitu rumit, Prof dan saya hanya bisa menasehati setiap yang masuk ke dalamnya agar berhati-hati. Karena itu kedengarannya, bila saya tak salah tangkap, anda bukanlah orang yang cocok dengan bukti ucapan terakhir anda yang menyiratkan sebagai orang yang hedonis dan materialis.?
?Ya..ya.. Sampai dengan kata pribadi saya sepakat. Justru yang ingin saya kerjakan ini adalah untuk bangsa, untuk Negara. Untuk pribadi tidak ada. Ini soal politik dan bukan soal pribadi, soal bagaiaman mengurus Negara. Ini yang saya ingin agar didengar dan dimengerti orang banyak dengan gampang. Demi politik, apa yang bisa saya kerjakan sekarang, saya lakukan. Saya ceramah, menulis di Koran-koran untuk menyebarkan pikiran saya. Bukan agar saya kelak menjadi presiden. Tapi saya ingin menanamkan ideologi lain, memang iya. Kalaupun saya berbicara tentang kekuasaan dan duit itu hanyalah ajakan saya agar berbicara lebih realistis. Jadi tidak ada hubungannya dengan segala yang berbau irrasional dan mitos pada diri manusia. Saya sendiri sudah tidak pernah punya rasa kecewa, karena sudah hilang dari hidup saya dan pikiran-pikiran saya. Kalau kamu mau hidup enak di dunia ini, kamu berbuat sebaik-baiknya. Berbekal tanpa rasa kecewa, apapun hasilnya puas. Bila target tak tercapai, bisa dilanjutkan waktu berikutnya. Tidak ada sesuatu yang sia-sia. Ini bukan sesuatu yang murahan, ini prinsip yang benar dan ciri jawaban yang benar.?
Diam-diam mulai ada kesan yang disambar Biru Langit. Meski harus diperas susah sungguh. Barangkali karena otaknya yang telah carut marut, yang tak siap mendengar kesederhanaan kata seorang professor yang ia curigai sebagai penganut hedonis. Mungkin juga karena ia menangkap adanya tak kejujuran di balik kata-kata sederhana sang professor. ?Ah, sebegini parahkah keruwetan isi dunia ini dan siapa sebetulnya yang sedang mengalami gangguan jiwa akibat kompleksitas yang menggila ini? Bukankah manusia itu makhluk yang komplek dan tak bisa disederhanakan?? pikir Biru Langit. Sebaliknya, ia menemukan hal luar biasa dalam beberapa kali perjumpaan dengan sang professor. Baru kali ini ia berbicara tentang kebenaran secara berterus terang, meski kiranya boleh dikata itu pertanda kekurangpercayaan dirinya dalam pencarian dan perjuangan sehingga perlu kata bantu. Biru Langit sesungguhnya merindukan bilamana ia bicara tentang kebaikan sebagai penyeimbang dari ?ndak apa-apa? nya sang profesor. Sayangnya, kerinduan itu tak pernah kunjung datang. Selebihnya, yang mengejutkan adalah betapa sang professor diam-diam juga bicara tentang perasaan, kendati ia menafikannya sebagai sisi lain dari wajah manusia. Ya, ia bicara tentang perasaan, gairah, nurani, mungkin juga ruh terdalamnya dengan sesuatu yang entah apa namanya dan bagaimana bentuknya. Jawaban sementara yang ditemukan Biru Langit hanyalah: Kata.[]

SEBELAS
SCIENCE, FICTION

Satu

BIRU Langit tidak suka pada tentara. Biru Langit tidak suka pada dokter tentara. Biru Langit tidak suka pada dokter Letnan Kolonel Marinir Isnaeni. Terlebih Karena keterlibatannya dalam lingkaran pribadi Sulistyorini?ruang yang belakangan ini begitu menggelisahkannya. Ruang yang entah sadar maupun tidak dirasainya lama kelamaan dicoba untuk diretakkannya. Tembok-tembok penyekat mulai dihancurkan, tak lain untuk menaklukkan ruang diri untuk selanjutnya dijadikannya menjadi bagian dirinya yang lain. Batas-batas pribadi mulai diperhitungkan sungguh agar dengan gampang bisa diubah wujudnya seperti tirai super tipis.
Atas dasar inilah sesungguhnya satu diantara sederet alasan Biru Langit sudi tinggal satu rumah dengan Puri Wangi, Sulistyorini dan profesor doctor dokter Maryuhan Kurnia. Tapi, mendadak ia merasa dikesampingkan, karena ternyata ada orang lain yang diam-diam masuk ruangannya dan mencoba meretas wilayah pribadi kekasihnya,. Bahkan betapa ia membangun benteng kokoh sebagai dokter pribadinya. Biru Langit merasa terusik dan terganggu hatinya. Bagaimana bila terjadi ruang pribadi Sulistyorini dikoyak moyak dengan senjata dokter tentara, Letnan Kolonel Marinir Isnaeni itu. Tentu, harga diri menjadi hal yang penting dipertaruhkan kemudian.
Kalau benar itu terjadi, maka tak ada bahasa paling rendah selain kurang ajar. Diantara sekian banyak pertanyaan yang menjejali benaknya, terselip wajah Pam. Barangkali begini rupa rasanya ketika Pam gagal mendapatkan hati Sulistyorini karena perempuan itu telanjur jatuh hati pada pemuda Biru Langit yang hingga kini tak ditemukan bekas-bekas alasannya mengapa sampai terjadi demikian. Sepertinya ini adalah masa-masa paling sulit di lalu lintas otak dan hatinya. Seperti jalan raya antara otak dan hatinya berjubel rintangan-rintangan menjenuhkan?bukti dari kegagalannya memperkuat bangunan kokoh idealismenya. Ia merasa runtuh. Dia begitu rapuh tiba-tiba. Ia kembali tak berdaya, sebagaimana kelahiran hingga masa kanak-kanaknya yang penuh derita. Ia kalah. Dikalahkan oleh dentuman masa lalunya yang kembali menyergapnya setelah sekian lama justru membakar jiwanya. Inilah pasang surut hidupnya yang paling runyam, mendekati predikat manusia yang serendah-rendahnya, semurah-murahnya di hadapan makhluk manis yang bernama perempuan. Manusia yang paling rendah adalah manusia yang tidak bisa melihat kekuatan lain selain tangan dan kakinya. Manusia yang tak bisa menjaga dirinya dari kekosongan, dan bahkan tidak tahu menahu bahwa dirinya sebetulnya sedang kosong. Bahwa sebetulnya dirinya tinggal mayat hidup tanpa sepengetahuannya. Dan semurah-murahnya manusia adalah yang dalam dirinya hanya bisa menggerakkan nalarnya, nafsunya untuk membunuh atu membiak. Manusia yang murah yakni manusia yang mengalami kematian yang tragic atas instingnya, gairah hidupnya, ide-idenya karena dengan demikian mereka dihargaimurah, semurah dunia nyata tempatnya berpijak dan perlu pajak ini. Tetapi tidak pernah menikmati keasyikan berada di tengah arus gelombang kebahagiaan sesungguhnya dan kesenangan kegembiraan yang meruah yang sama sekali tak disediakan duni dan tak perlu membayar pajak ini. Betapa bumi ini memang tidak cocok untuk manusia yang menyeretnya pada tempat yang paling hina, di tepian paling jorok dan tanpa perasaan, tidak mengakuinya sebagai pewaris tubuhnya. Anehnya, hampir tak ada yang menepis anggapan bahwa dunia ini memang kejam.
Ya, memang begitulah adanya. Kekejamannya yang paling utama adalah menzalimi manusia dengan menghilangkan instingtive dari kediamannya yang suci. Berikutnya karena bumi menyediakan dirinya menjadi pembela satu-satunya surga terindah bagi manusia. Lalu, apakah arti dari kehadiran mereka ini semua? Apa guna setiap kurun masa dilakukan cacah jiwa oleh badan yang berhak mengklaim ini punya pekerjaan dan ini tidak, ini kaya dan ini miskin, ini punya hutang di bank dan ini tak punya jaminan. Juga ini manusia dan yang ini setengah manusia. Keseimbangan, ya barangkali alasan inilah yang aktual digunakan. Kadang-kadang dibahasalainkan dengan pemerataan. Tetapi sesungguhnya bukankah setiap oranglah yang justru punya hak untuk menentukan keseimbangan dirinya? Karena diri sendirilah yang tahu kediriannya? Bukan malah sebaliknya dilakukan oleh badan-badan yang meniru jasad manusia lengkap dengan kepala dan kaki tangannya itu?suatu lembaga yang sebetulnya lebih mengajari manusia untuk menemukan kegilaannya daripada menunjukkan jalan kebahagiaan di surga di luar bumi ini sebagai makhluk-makhluk angkasa luar yang bergairah, indah dan mempesona.
Ya, keindahanlah yang menjadi harapan dan tujuan semua orang, tapi hanya sedikit yang sudi memikirkan, merenungkan, memburu, apalagi menebarkannya. Kalaupun ada dari sedikit itu, mereka telah salah pikir, salah renung, salah perburuan dan fatalnya mengajak yang lain ke jalan kesesatan sampai ke titik nyaris sebagai bukan manusia, entah apa namanya. Baiklah keseimbangan. Sekarang keseimbanganlah yang membuat Biru Langit beruntung dan selamat. Persoalannya adalah bagaimana tetap berdiri pada titik agar dirinya tak jatuh ke tempat rendah dan murah, apalagi hanya akibat persoalan perempuan macam begini yang kedalam keperempuannya belum sepenuhnya oncat dari wilayah pribadi. Kedengarannya, pengertiannya serupa dengan puasa. Demi keseimbangan mulai sekarang Biru Langit harus berpuasa terhadap hal-hal yang sanggup merendahkannya. Karena dengan demikian seluruh rangkaian peristiwa hidupnya, penderitaannya yang kelam, dendamnya yang membara, pencariannya yang bersahaja, kebingungannya, dosanya, bahkan kesia-siaannya sendiri menjadi bermakna. Keseluruhan rangkaian itu telah menghidupinya seberapa pun terseok-seok langkahnya. Tapi kini dilihatnya dunia begitu sempit bahkan seolah bisa berada dalam genggamannya. Di tangannya itulah terlihat bagaimana dokter tentara Letnan Kolonel Marinir Isnaeni terjepit diantara jari-jarinya. Kasihan deh lho.. Oleh sebab itu demi keseimbangan pula puasa memberi pengertian lain, betapa pentingnya perempuan baginya. Pendeknya tak ada hal sekecil biji pasir pun yang tak bermakna. Apalagi ini sebesar tubuh perempuan Sulistyorini. Apakah ancaman keseimbangan ini musti didiamkan? Kenapa tidak diperjuangkan? Kenapa masih banyak berkata-kata. Tidakkah Biru Langit tidak cukup percaya metafora penyair Sapardi Djoko Damono: aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Ya, inilah pengungkapan, penyingkapan yang dilakukan kata terhadap kedirian Biru Langit. Dan inilah jagad kecil dalam dirinya yang tersusun berkat ketguhan metafora perempuan, per-empu-an. Stop! Ah, mengapa banyak sekali berseliweran otak-otak orang lain yang berebut dalam otak Biru Langit? Adakah dalam dirinya mulai terjangkit penyakit keterasingan?
Ya, saat seperti inilah yang tepat untuk menjaga diri, menahan diri agar tak kehilangan hak miliknya sebagai manusia. Ya, saat ini pula ia temukan arti jaga diri yang sebenar-benarnya. Bila suatu saat seorang berpisah dari kawan,kerabat atau saudara tak ada pesan paling hebat selain ?jaga dirilah baik-baik??menjaga diri dari zombie asing yang menggerogoti otaknya, menjaga diri dari serbuan virus penyakin akut yang mematikan dan menjaga diri agar selalu siaga tak sihinggapi ilusi menyesatkan. Justru dari titik inilah ia bisa belajar banyak perihal cinta yang sesungguhnya, cinta yang berpuasa, cinta yang menahan diri dan terhindar dari kesepian, kecemasan, apalagi kehilangan. Cinta yang tidak takut pada jarak, waktu dan tentu saja ruang. Cinta yang bisa mendengar dan merasakan jerit tangis, luka, bahagia,sampai dasar yang terdalam manusia. Cinta yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata karena tak sanggup menampung kandungan isinya, tapi juga cinta yang tak bisa menemukan titik paling kecil dalam kata mungkin semacam molekul, partikel atau gelombang abstrak yang bertukar tempat, silih berganti wujud, tak menarik tanpa henti. Ah, beruntung tampaknya Biru Langit tak sulit merondai pikirannya, dengan menempatkan dirinya pada tirai puisi. Tidak terlalu susah membiarkan otaknya memutar balik pandangan tentang pikirannya dalam semesta.
Ya, semesta telah dirangkumnya dalam suatu gerak pikiran besarnya. Tidak bersusah payah untuk itu berkat kata dalam puisi yang menghadirkan perasaan, instuisi, imajinasi, jiwa, kesadaran bahkan roh hal yang sangat manusiawi sekaligus mempribadi. Sebaliknya ia telah menemukan roh, kesadaran, jiwa, imajinasi, instuisi dan perasaan setiap kata sebagaimana ia temukan dirinya dalam kata. Ya, pendek kata ia membabtiskan kata itu seperti manusia juga, seperti partikel seperti gelombang abstrak. Sebab itu meskipun ia tahu begitu banyak, jutaan kata-kata, miliaran buku-buku, seperti juga manusia Biru Langit tahu bagaimana mereka harus hidup, menyela dan menyusun pikiran besarnya. Sebab itu pula ia berjanji kelak sebagai pengarang ia akan memperlakukan kata seperti halnya terhadap manusia, begitu sebaliknya aku menghormati manusia seperti halnya angkat topi terhadap kata. Betapa ia tak akan tinggal diam saat menjumpai kenyataan seperti sekarang, pernyataan dan perkataan seperti sekarang: Kata sudah demikian kejam menjadi pembunuh berdarah dingin yang menghabisi manusia, seluruh isi semesta, membantai sesame kata dan bahkan membunuh dirinya. Akibatnya, kematian terjadi dimana-mana, kecuali bagi siapa saja yang bersih dan jujur. Demikianlah, sebagai pribadi, sebagai pengarang, sebagai ilmuwan dan sebagai manusia Biru Langit berjanji akan menemukan dan melahirkan kebersihan dan kejujuran kata dalam kepengarangannya kelak.
Kini dorongan kuat dan serangan hebat dalam bagian hidupnya talah cukup menjadi alasan (alasan bukanlah kata yang tepat sesungguhnya) guna menyusun kata-kata menjadi jalinan peristiwa yang benar-benar hidup. Hidup yang sungguh-sungguh hidup, saling ketergantungannya dalam keutuhannya tanpa direcoki oleh ruang dan waktu, apalagi oleh manusia. Pendek kata ia seperti kata yang tak mau mati ide. Ia harus berani mengakui sebagai manusia atau sebagai kata telah lahir cacat oleh pendahulu-pendahulunya. Boleh jadi apa yang dilahirkannya sekarang ini telah lebih dahulu dilahirkan pengarang-pengarang dan karya-karya sebelumnya. Sehebat apapun karyanya, kata-katanya mungkin bukan sesuatu yang benar-benar baru karena orisinalitas di tengah hiruk pikuk zaman juga kian sulit ditemui dan dicari. Tetapi kedadaran kosmis seperti dalam pikiran besar, yang juga dianugerahkan pada kata menjadi esensi dalam kepengarangan. Ya, boleh jadi jauh lebih hebat dari karya sastrawan terdahulu, Steinback, Jose Rizal, Gorky, Tolstoy, Pasternak, Pram, Kundera, apalagi Tahar Ben Jelloun, Naguib Mahfudz, Mishima, Marquez, Borges, Sindhunata. Boleh dikata karya Biru Langit kelak adalah sampah, meski diperlukan orang-orang rendah hati seperti Einstein, Heisenberg, Gustav Jung, meninggalkan Newton, Descartes dan pendahulu-pendahulunya. Namun demikian tekad untuk sadar cukup karya sajalah yang cacat dan bukan dirinya atau setidaknya Biru Langit bisa mengurangi cacat dalam dirinya yang terbawa sejak lahir menjadi lebih berharga. Seharga bagaimana kata juga memandang hal yang sama pada dirinya. Bayangkan, betapa sebuah tragedi besar terjadi, bila ia tak lahirkan karya. Bila kata tak lagi menghidupi semesta. Sudah barang tentu ia bakal cacat sebagai makhluk hidup karena mati ide. Karena itulah dalam diri Biru Langit mengalir semacam pemahaman bahwa ia tak percaya pada karya terbaik. Baginya, sebuah karya yang terbaik hanyalah karya yang belum lahir dan masih ada dalam otak. Ia justru percaya pada karya yang baik yakni yang bergerak dinamia dalam kediaman katanya. Artinya, tidak salah bila Biru Langit menila semua karya itu misterius, tidak mustahil menyimpan muatan buruk, pembodohan, kebohongan dan kejujuran di situ sulit dipertanggunggjawabkan. Kini, ia lebih cepat percaya pada karya yang dibebani setumpuk obsesi, menyimpan keserakahan, kemabukan, aksi tipu-tipu, target, cita-cita, dendam, gejolak dan sebagainya, keinginan popularitas terselubung penulisnya?keseluruhan watak manusia. Tapi kata sendiri belum pernah diperlakukan semulia roh dasarnya. Tak cuma kepada pengarang lain, bahkan kepada karya sendiri pun seharusnya juga dihadapi dengan sikap apriori. Jadi satu-satunya amanah pengarang itu terletak pada kemuliaannya dan kewajibannya untuk mengingatkan bahwa menghidupkan kata pada karyanya itu sama halnya kreasi tuhan menempatkan roh hidup manusia di semesta ini, seperti halnya partikel dan golombang abstrak lainnya semacam kabut tipis di seluruh jagad. Maafkan, bukanlah maksudnya ini menggambarkan kerja Tuhan dalam wujud manusia, partikel atau gelombang abstrak, melainkan karena tidak ada bahasa yang paling mendekati artinya kecuali demikian. Kesadaran seperti inilah yang sesungguhnya musti ditegakkan, mendekatkan diri pada pekerjaan Tuhan agar senantiasa ikhlas menjalani hidup, ikhlas dengan kreativitasnya, sebagai rohani beterbangan?yang mendekati sang pencipta.
?Andaikata..andaikata Pam masih hidup, masih ada, maksudku masih bisa bersama-sama, dialah yang kuajak merenungkan dan memikirkan serta mendengarkan gagasanku yang demikian rumit ini dan tak perlu aku sendiri seperti ini. Seandainya, karyaku telah lahir, dialah orang pertama yang kuminta membacanya, berdiskusi bersama sambil sesekali menikmati wajah manis perempuan bernama Sulistyorini. Karena dialah mungkin yang bisa memahami jalan pikiranku, perasaanku sambil aku menyindirnya sebagai sosok sang epikuris sebagaimana kecurigaanku selama ini. Ya, kupikir Pam hanyalah laki-laki pemburu kesenangan, bergaul, bekerja, pacaran. Inilah rupanya ketidaksepahamannya sejak sediakala, meski Pam seorang yang cukup menahan diri. Kemiskinan keluarganya membuatnya bekerja dan mencari uang, karena ia ingin hidup, jiwanya nyaman. Ia juga yang mengajariku untuk percaya pada mawar berwarna merah bila merebut hati kekasih dan ternyata gagal?satu-satunya hal yang menjatuhkan hidupnya sendiri, kepalsuannya?dengan membuktikan dirinya menghilang. Hanya saja, satu-satunya yang bisa mematahkan dugaanku adalah surat panjang yang ditujukan kepada ibunya. Bahasanya begitu memukau melukiskan besar cintanya terhadap ibunya yang tak tertandingi. Seolah ia mengatakan ruang dan waktu tak mampu meretas kasih sayangnya. Ah, seandainya kelak ia membaca karyaku, mungkin ia takkan terlalu banyak mengajukan pertanyaan. Atau seandainya ia kini mendengar uraian-uraianku, ia akan tahu bahwa sekalipun seorang Einstein akan balik bertanya ternyata banyak yang tidak ia tahu tentang alam semesta tentang dunia batin manusia, pengalaman religius, yang sangat mempribadi seperti halnya kasih sayang terhadap ibunya.?
?Tidak kusangka, Pam begitu berartinya bagimu Biru Langit. Mungkin jauh lebih berarti dibandingkan diriku. Bahkan sekalipun ia telah tak diketahui rimbanya,? tukas Sulistyorini.
?Jangan salah sangka. Engkau pun tak kalah pentingnya bagiku. Yang sangat menusuk perasaanku puncaknya adalah, aku tak pernah sanggup mencintai ibuku dengan penuh kasih sayang, sebentuk kasih sayang Pam. Sementara berartinya engkau bagiku karena mampu membuka cakrawala, pesona hidupku dari sisi yang lain. Percayalah, tak ada satu titik pun di semesta ini yan tak kuanggap penting. Kahadiranmu bagiku mempertajam mata batin tanpa aku harus menundukkan kamu menjadi bagian hidupku, seperti juga kepada Pam tak pernah terlintas diantara kami untuk saling menaklukkan, bahkan kita jadi saling tahu bagaimana dan dimana saling menempatkan diri. Inilah sebetulnya prinsip dari persahabatan dan oleh sebab itu aku harus percaya padanya, kepergiannya yang tak meninggalkan bekas adalah pilihannya yang segar sekaligus bukti bahwa dia memang tak boleh menaklukkan engkau Sulistyorini. Sebab itu jangan katakan kasih sayangku padamu telah mengakhiri persahabatan kita. Bukan. Aku mengutuk kata-kata Albert Camus yang seperti pernah kau dengar dalam pentas Caligula, bahwa cinta adalah segala-galanya, mencintaiku berarti siap mati untukku, demi cintaku padamu engkau harus mati di tanganku.?
?Sudahlah, Biru Langit. Istirahatlah, hari sudah malam. Bila kau lanjutkan ceritamu perutku akan semaki mual, sayang.?
?Oya? Aku justru terinspirasi untuk mengajakmu makan malam.?
?Ah, dengan senang hati. Asal kau tak ceritakan padaku tentang darah. Kau tahu itu bukan karena aku pobhia pada darah. Tapi darah menghunjamku pada masa silam yang kelam.?
?Sudahlah, bila kau lanjutkan kisahmu aku bisa muncrat? Eh, maksudku muntah.?
?Sialan kamu!?
Sejoli itu meluncur ke sebuah rumah makan di bawah jembatan stasiun Gubeng. Mereka memesan nasi goring dan pecel lele. Sialnya, nasi goring pertama kecampur bangkai kecoak, dan musti diganti dengan nasi goring kedua. Ini pengalaman pertama terjadi pada diri Sulistyorini. Akhirnya, makan malam berlalu dengan kecoak yang terbawa pulang di benak mereka.

Dua

ISTANA besar Profesor Doktor Dokter Maryuhan Kurnia sedang pulas tertidur. Mendadak suatu sore dikagetkan derum mobil menerobos pintu gerbang, menuju halaman di sayap istana. Suara, warna, derumnya, jelas dokter tentara Isnaeni pemiliknya. Bila benar, tentu ini suatu malapetaka: Ia datang pada saat Sulistyorini tidak sedang jatuh sakit, dan profesor belum kembali dari ruang prakteknya di Jalan Jawa. Atau barangkali masih berkantor di Karangmenjangan. Artinya, Sulistyorinilah yang harus menjadi korban dipenjarakan di rumahnya, istananya sendiri menjadi sebuah makhluk hidup yang menahan dokter tentara itu dari kepergiannya.
Benar. Dokter tentara itu kini telah berdiri di mulut pintu. Sebuah ironi terjadi sebab permaisuri Puri Wangi jadi petugas pembuka pintu dan tamu langsung mengutarakan maksudnya, hendak bertemu Sulistyorini. Wajah Sulistyorini pucat seperti tak berdarah, gerakannya ragu-ragu, meski kecantikan seorang putrid terpancar dari istananya, wewangian dan kosmetiknya, kelihatannya tak mampu menutupi jiwanya yang terpenjara. Nyala pandangnya lain, kelembutannya berubah ketegangan.
?Dokter tak perlu mengkuatirkan kesehatan saya, kalau tak ingin membuang-buang waktu. Saya bisa jaga diri,? ketidaksabaran Sulistyorini tak bisa dibendung.
?Tapi sebagai dokter pribadi, saya berhak tahu perkembangan dan keadaan kesehatan anda nona manis. Seluruh catatan medis anda ada pada saya, beberapa tahun terakhir ini. Jadi saya sedikit banyak telah tahu siapa dan bagaimana anda, termasuk mengapa kamu berkata sinis seperti itu Sulistyorini,? dokter itu berusaha menaklukkan sang putri.
?Jujur saja harus kuakui, dok. Setiap kali anda datang kemari, kepalaku jadi pusing. Saya bisa jatuh sakit beneran dan itu artinya andalah sumber penyakit saya.?
Dokter Isnaeni tertawa karena melihat kelucuan sekaligus merasakan serangan dan ia pantang menyerah. ?Kamu seperti anak kecil Sulistyorini, tapi juga seperti kebanyakan orang di sini mereka tak suka berurusan dengan dokter. Kalau bayi takut disuntik, orang dewasa jantungnya berdebar, tekanan darah berpacu keras, keringat mengucur deras, ujung-ujungnya mereka tak mau minum obat. Aku juga belum pernah menyuntikmu bukan??
Tak disangka lelucon dokter Isnaeni membakar emosi Sulistyorini. Kesannya telah tercapai puncak kemuakannya, setidaknya dari kata-kata seperti ini: ?Dokter sialan. Lelucon anda ini menurut saya sudah suatu kekurangajaran. Jadi omongan dokter sama sekali sudah tidak benar dan bukti anda tidak tahu siapa dan bagaimana saya. Saya kira anda juga tidak tahu tentang perempuan. Ini malapetaka bagi anda, dokter. Kasiha sekali perempuan-perempuan yang memilih dekat dengan anda, Dok.?
Tentu tak tahu dirilah setiap laki-laki yang tak terpukul oleh kalimat tajam dan panjang seperti rentetan bunyi senapan. Meski dirinya tak merasa dilemparkan ke tempat yang serendah-rendahnya, dokter itu tercenung untuk mengatakan sesuatu yang sama sekali baru, memulai sesuatu yang baru. ?Sulistyorini, sebagai dokter aku tidak perlu mendoakanmu jatuh sakit untuk agar bisa bertemu denganmu, bukan? Akan tetapi sebagai manusia dewasa engkau sedang sakit dan perlu obat seperti halnya terjadi padaku. Jangan pungkiri itu nona manis.?
?Tidak. Kamulah yang sebenarnya sakit. Dan tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakitmu, dokter.?
?Begitu??
?Ya, seperti itu.?
?Siapa yang mengajarimu berpikir demikian filosofis? Biru Langitkah? Si mahasiswa indekos sepanjang zaman itu??
?Dokter tak perlu turut campur kehidupan pribadiku. Terus terang, saya jadi curiga mengapa papa memilih anda sebagai dokter pribadi. Saya kenal betul dengan papa, yang tidak mau diganggu kepribadiannya. Saya curiga ini hanyalah rekayasa anda saja agar bisa dekat dengan saya dan papa.?
?Syukurlah anda sudah mengerti, nona manis. Tak perlu aku menjelaskan panjang lebar. Sekarang bagaimana??
?Bagaimana apanya? Ya, kalau papa tahu dan mau, ia bisa mempersulit karir anda dokter.?
?Baiklah, kau tak perlu lagi panggil aku dokter. Panggil aku Isnaeni saja. Katakan bila berjumpa Biru Langit aku ingin berkenalan dengannya. Bila ia butuh pekerjaan, datanglah di kantor saya, di belakang lapangan Dharmawangsa. Kudengar ia pengarang karena itu dia bisa Bantu usaha penerbitan di sana. Katakan jangan belajar jadi penganggur dan manusia indekos sepanjang masa.?
Sulistyorini melangkah undur dari tempat duduknya. Sekarang ia tak cuma merasa pusing di kepalanya. Perutnya mual dan isinya serasa mau ambrol saja. Badannya panas dingin, dan denyut jantungnya makin kuat memompa darahnya. Semenjak hari itu Sulistyorini benar-benar jatuh sakit. Satu-satunya hal paling luar biasa ia lakukan adalah ia menolak minum obat, sejenis analgesic dan anti peratik pereda rasa sakit penurun panas yang diberikan dokter Isnaeni. Aspirin-parasetamol menumpuk busuk.

Tiga

BERIKUT ini adalah perjumpaan paling mengharukan antara dua perempuan, Sulistyorini dan ibundanya Puri Wangi, terkait dengan kondisi sakit putrinya itu. Karena ini pertemuan mendalam antara dua orang insan perempuan, apalagi seorang ibu dengan putrinya, Biru Langit tentu tak memahami sungguh perasaan-perasaan mereka. Biru Langit hanya bisa merangkumnya, mendengar dan menafsirkan dari cerita ibu Puri Wangi. Kurang lebih seperti ini:
Penyakit Sulistyorini bukanlah penyakit fisik yang akut apalagi berpotensi untuk kambuh dalam waktu menahun. Sementara, rasa sakit yang menyerang tubuhnya sebagai akibat dari gangguan psikis, mungkin karena terkejut atau terlalu capek menghabiskan tenaga. Bahkan dirinya sempat menanyakan apakah dirinya belakangan ini berbuat sesuatu yang mengecewakan putrinya. Dan dijawab oleh Biru Langit, hal itu tak pernah ia lakukan karena memang dirinya tidak berhak itu atas diri Biru Langit. Meski demikian, dengan tenang Puri Wangi mengakui hal itu adalah sesuatu yang biasa terjadi pada seorang wanita?sesuatu yang jelas tak terpahami Biru Langit. Inilah kesulitan lain dari usaha mengerti perasaan Sulistyorini dan ibu Puri Wangi dalam sakitnya. Tak lain karena kemiskinan bahasa ibu Puri Wangi yang terkesan pasrah dan tak banyak bicara seperti dalam kesehariannya.
Sekali pun sebagai ibu, Puri Wangi tampaknya tak leluasa memberikan nasehat. Terlebih menyangkut satu pengalaman kelam Sulistyorini yang tak pernah terjadi pada diri Puri Wangi, hilang kegadisannya secara paksa (ini bahasa yang secara sadar digunakan Biru Langit dengan penuh kehati-hatian). Maka yang terjadilah menangis menjadi hiburannya. Setiap kali ibu Puri Wangi sampai di kamar, justru menambah tangis keduanya. Sebab itu, Sulistyorini memilih untuk sendiri. Nyatalah bahwa pilihan kesendiriannya dari ibu Puri Wangi adalah persoalan perempuan. Dan yang terpenting, sang ibu tak sanggup menyembuhkan. Naluri seorang ibu Puri Wangi sesungguhnya bisa membuka sebuah jalan bagi Sulistyorini dengan berbicara banyak, mengobral kata dan perasaan terutama soal perjalanan hitam putrinya. Sayang hal itu tak ia lakukan. Menangis menjadi jawaban ketidaktahuannya mengapa keduanya terpilih sebagai perempuan. Dan tangis itu terbawa hingga di luar pintu kamar. Dan sang ibu tahu kesendirian putrinya adalah suatu bahaya besar. Ia minta Biru Langit untuk mengisi hari-hari putrinya: Orang yang sebetulnya tidak tepat bila harus menggantikan peran membocorkan lebih banyak perjalanan hitam Sulistyorini yang menyerupai kutukan itu. Ya, sekalipun laki-laki, Biru Langit tak sampai hati dan tak cukup punya nyali untuk itu. Seperti suatu dunia yang tak terjangkau.
Begitulah betapa sulit melukiskan perasaan, pikiran, jiwa dan isi hati dari perjumpaan dua perempuan ini. Betapa habis dan luluh lantak seluruh yang dimiliki Biru Langit berhadapan dengan soal keperawanan macam begini. Kendati samara-samar soal lobang (maafkan Biru Langit karena ini satu-satunya cara membangkitkan kembali jiwa yang luluh lantak), ia lebih cepat memahami bacaan terakhirnya soal lubang hitam dari buku-buku yang ditulis fisikawan caliber dunia Steppen W Hawking. Satu-satunya yang dipahami dari Puri Wangi adalah permintaannya agar Sulistyorini diajak kembali ke arena Ice Skeating atau mendengarkan musik?hobi yang telah lama ia tinggalkan.

Empat

BELUM pernah Biru Langit melihat kondisi Sulistyorini sebaik ini. Tubuhnya tenggelam dalam selimut berombak yang berpilin-pilin. Selimut berenda itu menenggelamkan piyama tidurnya yang bening, dengan warna-warni yang berontak. Kelihatan tubuh Sulistyorini makin menipus dengan geraian rambut dan raut wajahnya beralaskan bantal. Lalu tali piyamanya sebesar lidi aren melekat di kedua pundaknya, ia tahu Biru Langit mendekatinya. Ia tak kaget, terganggu atau risih kendati tubuhnya berbau apek keringat dan arus mulutnya.
Semula Biru Langit ragu-ragu saat menyeka dahi Sulistyorini. Ia pun menyempatkan menyingkap sebagian gerai rambut kekasihnya. Berikutnya, di periksanya denyut nadinya di pergelangan tangan. Selanjutnya tidak tanggung menggenggam telapak tangan kekasihnya itu. Ya, ia memang sedang dalam keadaan tidak sehat. Denyut jantungnya tak stabil, tubuhnya panas tapi perasaannya menggigil. Keringatnya enggan berderai.
?Kenapa tak pernah kau ceritakan padaku kamu suka musik, Sulistyorini?? Biru Langit membuka bicara, dengan mata jatuh di atas tumpukan kaset dan tape recorder, dan tentu saja buku-buku. ?Ya, kita memang hidup tidak terlepas dari musik, bahkan dalam kesenyapan pun ada musik. Ya, musik bisa membuat hidup kita jauh lebih hidup dari hidup, dinamikanya, loncatan partiturnya, kelembutannya, bisa menggetarkan batin kita. Atau bahkan melemparkan kita jauh ke sebuah dunia yang tak pernah kita kenal sebelumnya. Tanpa musik mungkin jiwa kita kering, seperti juga tanpa puisi. Sebab itu puisi pun juga menyimpan musik. Mungkin karena jiwamu sedang kekeringan saja sehingga engkau seperti ini, Sulistyorini.?
?Kamu sungguh kejam Biru Langit. Dalam keadaan seperti ini, kamu paksa aku mendengarkan uraian filsafatmu yang kasar. Eh, bungkuslah dengan cerita biar aku bisa enteng mendengarnya dan kamu tinggal lama di sini,? Sulistyorini sambil menarik ke atas tubuhnya dan menyandarkan punggungnya pada bantal. Sekarang hamper separuh tubuhnya yang dibebat piyama licin itu menyeruak.
Luar biasa girang Biru Langit mendengar ungkapan Sulistyorini dan luar biasa senang tak lagi menjumpai tubuh kekasihnya itu tenggelam. Seperti nyala lilin yang kembali berkobar, dengan hempasan arus udara dari bibir-bibir mungil. Nyala lilin yang bersitahan. Di atas tempat tidur ia juga seperti kapal yang tegar dari hantaman gelombang selimut kusut. Matanya mulai berbinar, dan Biru Langit menatap hingga ke ruang dalam dan menemukan dirinya di sana. ?Ah, Sulistyorini, mustinya kau yang ceritakan padaku dan banyak bercerita agar kau temukan kembali api yang tersimpan dalam sekam. Ayolah, mungkin itu akan membuat arterimu rileks atau justru meregang dan mendorong keringatmu bercucuran. Ceritakan, kau menyukai Queen, Beatles, Koes Plus, ada Kitaro, Sirkus Barock, ah kau punya Kado Muhammad juga rupanya. Pilihlah mana yang kau suka dan kubantu memutarkannya.?
?Tidak usah. Aku suka ceritamu. Itu musik bagiku.?
Lagi, Biru Langit melambung sekaligus siksaan buatnya. Sebetulnya ia memutar otak agar Sulistyorini mengungkap banyak hal yang menyebabkan ia menderita dan jatuh sakit sebagai akibatnya. Barangkali ia dihantui oleh perasaan berdosanya, atau mungkin perasaan sakit dan dihina. Demi kekasihnya, ia telah siap mendengar kisah sekalipun paling hitam dari jagad kelam.
Ya, ia telah siap sesiap-siapnya. Bila itu terjadi dari bibir Sulistyorini sendiri, itu artinya ujia berat bagi Biru Langit hidup matinya, sebagaimana seorang ibu yang melahirkan anak-anaknya. Ya, sebuah perjuangan, pergulatan di seberang pintu dua ruangan. Ya, bila itu terjadi hal itu adalah titik dari waktunya untuk membolak-balik hati meski dengan perasaan getir. Begitulah ia cukup percaya pada kata-kata Carl Gustav Jung bahwa pengakuan atas sisi gelap manusia ini sangat penting kalau kita ingin mencapai kepenuhan integritas diri dan bertindak secara lebih realistis. Ya, inilah sikap terbuka membocorkan diri atas sisi gelapnya. Ini memang sebuah siksaan, tapi Biru Langit yakin sebagai sebagai jalan pencerahan kendati pun bukan suatu penebusan dosa. Bahkan dosa menjadi kata yang pengertiannya amat susah dirumuskan.
Kiranya, sekaranglah saat yang tepat, sebuah kesempatan untuk mencari jawab, bahwa nilai seorang manusia bukan terletak pada masa lalunya, tetapi terletak pada bagaimana ia bisa menghitung sisa umurnya itu kelak bukanlah hal yang sia-sia. Hanya sedikit saja rupanya tetapi membutuhkan pengorbanan besar, sekalipun itu sesungguhnya tidak cukup berguna bagi orang lain. Ialah berbicara dan berbicara tentang ketakutannya sendiri, juga kepada dirinya sendiri. Dahulu ketika Biru Langit masih kanak-kanak, bila ibunya tahu si anak histeris mendengar raungan belasan pesawat terbang, si ibu malah memaksanya menantang derum pesawat itu pada keesokan harinya. Hasilnya seperti sekarang. Lantas, apa guna orang lain dalam hal ini apa guna Biru Langit bagi kekasihnya Sulistyorini? Bukankah sebetulnya bisa ia kerjakan sekalipun tanpa Biru Langit, menjadi semacam monolog begitu? Sepertinya, orang lain di sini mendapatkan pengertiannya yang baru. Jarak menjadi berubah, mendekat atau memantul. Atau bahkan telah tiada jarak diantara keduanya. Yang ada menjadi tiada. Sebaliknya yang tiada justru bisa dihadirkan keberadaannya.
Ah, lama-kelamaan keadaan ini memang menyiksa, menjadi suatu keanehan karena tanpa memberikan aba-aba, mendadak di antara keduanya terjangkit semacam penyakit mashokis?saling menyiksa diri. Betapa tidak, keduanya saling melempar minta cerita, dan cerita pun menjadi bulan-bulanan karena bernasib sial. Kasihan, sejak berapa lama menjadi korban, Bung?
?Hei? cerita saya itu seperti sound scape, jadi kacau dan hangar binger. Tidak cocok buat kamu, Sulistyorini.?
?Aku tidak peduli. Pokoknya bicaralah sepanjang apa pun aku tekun mendengarnya,? Sulistyorini merajuk, sambil melempar selimut ke sisi ranjang hingga lengkaplah sudah pemandangan, tidak ada gelombang apalagi laut. Yang ada hanya seorang perempuan di atas ranjang dengan piyama terang benderang. ?Ayolah, apa saja sayang.?
Sayang Sulistyorini kembali meluruhkan Biru Langit. Seolah ia dijatuhkan dari tempat yang tinggi, kemudian dilambungkan lagi. Tak pernah ia merasa diperlakukan sedemikian hebatnya di tempat yang begitu dahsyatnya: di kamar dan tepian ranjang. Sementara ia belum juga menemukan bahan cerita. Atau mungkin karena ini bulan Agustus sehingga begitu sulit mendapatkan ide cerita. Apa hubungannya? Bisa jadi karena negeri ini sedang berpesta dengan lampu-lampu penjor di jalan raya, gedung-gedung dan pesta sesungguhnya justru menghilangkan sisi gelap sebuah perjalanan. Padahal ide itu terselip dalam gudang saat berada dalam kegelapan, sementara obsesi Biru Langit membuka kata agar ide-ide beterbangan dan Sulistyorini sudi membedah dirinya dan mengudal kepedihannya. Sungguk sebuah siksaan. Ia menyesali mengapa negeri ini berpesta di bulan yang telah demikian penuh siksaan, di tepi ranjang.
?Baiklah, asalkan kau mau berjanji untukku, Sulistyorini??
?Apa itu??
?Ya, menceritakan padaku satu cerita saja agar menahanku lebih lama di kamar ini.?
?Oya? Dengan senang hati.?
Lalu mulailah Biru Langit mengarang dengan sangat bersusah payah?kehidupan lain dia yang sangat menggelisahkan. ?Suatu pagi mendung tebal menutup sepanjang jalan yang meliuk di sebuah kota. Jadi awan gelap dan pengap.? Meski belum menemukan bahan, tampaknya ia girang menemukan idiom yang tepat untuk Sulistyorini. Entah mengapa iangatannya jatuh pada masa kanak-kanak yang menggoda perempuan gila semasa di kampung dan itulah kali pertama ia diperlihatkan suatu benda yang sangat aneh: vagina dengan belantara hutannya, dari seorang perempuan gila.
?Terus, kok berhenti Biru Langit?? Sulistyorini menyela.
?Ya, segerombolan bocah tanpa hirau suasana asyik menggoda sebentuk tubuh perempuan muda, entah sebut saja namanya Merdeka.?
Sulistyorini cekikikan dan mulai mempertontonkan kemanjaannya. ?Kok Merdeka??
?Sudah jangan protes saja.?
?Lalu kenapa perempuan?? Sulistyorini menggugat.
?Hus! Pertanyaan itu mustinya diajukan kepada Tuhan. Bukan kepada tukang cerita, jelas??
?Lho, kok..?
?Sudah jangan omong lagi. Kapan aku ceritanya??
?Kok membawa-bawa nama Tuhan??
?Lho, tukang cerita itu kan Tuhan kecil. Sudah ya, aku keburu lupa ini.?
?Siapa nama perempuan tadi??
?Merdeka! Bagaimana sih??
?Nggak.. Aku hanya menggoda. Terus..terus.?
?Ya, bocah-bocah itu terus menggoda dan bahkan menemukan nyanyian-nyanyiannya. Merdeka..merdeka..Hiduplah Indone? Huek..hueekkk?. Tiba-tiba anak-anak itu batuk. Lalu cekikikan, lantas tertawa ngakak dengan memamerkan bibirnya yang terkadang persis ikan gurami. Merdeka tidak peduli. Ia terus berjalan dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya. Dia justru berjoget dan balik menggoda sesekali mempertontonkan goyangannya dan juga tubuhnya. (Biru Langit mensensor bagian ini karena tidak sampai hati). Perempuan itu juga balik bernyanyi dengan syair-syair yang asal kena. Tapi mendung itu juga yang menutup raut muka seorang perempuan lain, ibunya yang terus mengejar Merdeka dan membuntutinya.?
?Perempuan lagi?? kembali Sulistyorini protes.
?Iyalah. Ibu itu musti perempuan,? jawaban yang tak bermakna.
?Terus??
?Si ibu itu sontak menghentikan Merdeka. Lalu ibu itu berkata: Tidakkah kamu kasihan pada ibumu, Nak? Kamu tidak menyayangi ibumu, Merdeka? Perempuan tua yang baru belakangan sering dipanggil Ibu Pertiwi itu mulai terisak. Kemudian pecahlah tangisnya. Setelah menatap hampa sorot mata ibunya, Merdeka tahu itu isak tangis yang datang dari jiwa ibunya. Seorang ibu yang setiap saat begitu mudah menyentuh nuraninya, sekalipun pada kesempatan yang tak setiap orang bisa menyentuhnya?semacam kondisi kegilaan. Mengelus-elus rambutnya yang tumbuh liar seperti belantara. Dibujuknya anaknya pulang, sampai suaranya terdengar menghiba: Pulanglah, Nak. Tapi mendung tebal dan kabut itu telanjur menutupi wajah Merdeka. Ini yang menyebabkan hatinya tak mudah dibentuk setelah bertahun-tahun lamanya jiwanya berontak. Kini nyaris mencapai anti klimak, karena itu hanya padangan matanya yang menerawang jauh-jauh sekali. Bahkan tak berbatas.?
Sulistyorini tekun mengikuti. Sepertinya ia terharu. Atau mungkin tersiksa. Terlihat dari keseriusannya. Bahkan untuk menggerakkan tubuh saja ia tak kuasa. Begitulah, Sulistyorini mulai hanyut dalam cerita.
?Perempuan Merdeka itu terusik,? lanjut Biru Langit. ?Ia berontak dan berkata: Mengapa Merdeka harus pulang ibu? Merdeka tak lagi punya rumah. Begitulah perempuan itu mengungkapkan segala gejolak jiwanya dengan bahasa yang hanya bisa dipahami kedua makhluk perempuan itu. Ketahuilah ibu, katanya, rumah tempat kita berkumpul dan bercanda dulu telah hilang. Mata Merdeka sudah tak bisa melihat bunga-bunga yang pernah tumbuh di halaman kita. Juga hijaunya daun yang membuat kita damai. Sekarang semua telah menjadi rumah baru yang hanya memamerkan topeng-topeng di setiap dindingnya. Tak ada celah untuk kita bernafas. Sampai membuat Merdeka sesak nafas dan sakit, Ibu. Sakit! Sakit! Merdeka benar-benar sakit berada di rumah itu, Ibu. Begitulah ia terus meronta. Lalu kecemasan Merdeka begitu memuncak manakala ibu itu menyebut satu-satunya tokoh laki-laki dalam cerita ini.?
?Laki-laki? Siapa dia dan apa katanya?? Sulistyorini terpancing dan ada keingintahuan berikut kecurigaannya yang dalam.
?Laki-laki itu adalah bapaknya. Bapakmu mencemaskanmu Merdeka, begitu kata ibunya. Tak disangka kebencian Merdeka pada laki-laki bapaknya itu menghebat. Bapak? Begitu sergahnya. Bukan! Dia bukan bapak dan tak pantas menjadi seorang bapak, Ibu. Mendadak ibunya terhenyak. Merdeka! Bagaimana kamu bicara seperti itu. Merdeka pun tak kalah tersinggung dan berkata?Ibu! Saya ingatkan jangan teriak panggil namaku selantang itu. Sudah tidak ada artinya, Ibu!?
?Huh, dasar calon politisi,? Sulistyorini menyela.
?Tidak. Aku tak ingin jadi politisi. Aku ingin jadi filosof,? Biru Langit sekadar menghentikan cerita, tak menyadari betul apa yang dibicarakannya.
?Lanjut??
?Begitu cantiknya perempuan itu.?
?Yang mana??
?Kau Sulistyorini.?
?Huh! Gombal!?
??Begitulah di mata Merdeka, laki-laki bapaknya hanyalah pembuat topeng. Tangannya selalu belepotan cat untuk topeng-topeng itu. Entah sudah berapa topeng yang dia selesaikan. Tapi agaknya dia belum juga puas. Padahal semua ruangan telah bertopeng. Ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dapur, wc, halaman rumah, bahkan potret-potret di dinding telah digantinya dengan topeng. Kepada ibunya, Merdeka menyakinkan, hanya kita berdua yang tersisa ibu. Ia tertunduk. Bukan menangis. Justru airmatanya sudah tak cukup diajak untuk bisa mempertontonkan tangis. Saat itulah dengan penuh kasih sayang digandengnya tangan Merdeka dan dibimbingnya berjalan. Sebuah pemandangan sebentuk kenangan masa kecil Merdeka dan Ibu Pertiwi. Sayang sekali matahari tak menyaksikan adegan ini, Sulistyorini.?
?Lho kenapa??
?Kan hari masih mendung. Jadi matanya tertutup awan hitam dan terhalang gerimis tipis.?
?Oh ya..ya.. Terus..?
?Kedua perempuan itu, Merdeka dan Ibu Pertiwi pulang. Sesampai di muka pekarangan, Merdeka tak mau lagi bergerak melihat pagar pintu, simbol-simbol rumah dan kayu rapuh dan batunya keropos nyaris runtuh. Merdeka memandang ibunya, ada yang berkecamuk dalam batinnya. Mendadak, matanya berkilat-kilat marah saat mendapati seorang laki-laki tua berbaju putih polos keluar rumah. Lelaki itu menghampiri, memandangnya dengan seulas senyum yang sulit dimengerti. Tangan lelaki itu hendak memeluknya, tgapi segera ditepis dengan kasar oleh Merdeka. Dada Merdeka turun naik menahan marah. Tanpa diduga tangan Merdeka terangkat hendak menampar wajah di hadapannya. Namun tangan kokoh laki-laki itu lebih dulu memegangnya kuat-kuat. Merdeka berontak ingin melepaskan diri. Dengan kasar lelaki itu menyeretnya ke dalam rumah. Tatapan sendu perempuan tua menyaksikan kejadian itu dan sesekali mengusap sudut matanya. Lagi, Ibu Pertiwi menangis??
Kontan, Biru Langit harus cepat menghentikan ceritanya. Ia mendapati justru Sulistyorini yang tak kuasa menahan airmatanya. Makin deras menggenangi pelupuknya dan akhirnya tumpah. Tangis pun pecah. Biru Langit bisa menduga, kekerasan dan laki-laki yang menyebabkan ia tak kuat. Tapi ia telah bangun benteng, setidaknya bukankah peristiwa seperti ini yang dikehendaki Biru Langit? Lagi, keduanya kini sedang bertanya melawan perasaannya. Bagi Sulistyorini, setidaknya menurut pandangan Biru Langit, airmata yang tumpah di raut wajahnya, telah membuatnya lebih segar. Sebaliknya, bagi Biru Langit, ini adalah tangis paling aneh yang ia rasakan dari kekasihnya, di tempat yang amat memikat: tempat tidur. Pertanyaan antara yang rekayasa dan alami dari hati yang paling dalam. Antara keinginannya menjadi sosok yang menyerupai peran seorang psikolog dengan laki-laki keji penebar derita.
?Kenapa kamu yang menangis Sulistyorini?? Biru Langit pura-pura tak tahu, dan berlagak malaikat tanpa dosa.
?Nggak apa-apa. Aku masih kuat. Lanjutkan ceritamu, aku menyukainya.?
?Sampai di mana tadi??
?Ibu Pertiwi menangis,? Sulistyorini membersihkan airmatanya.
?Ya, maafkan??
?Nggak apa-apa. Kamu tak bersalah, sayang.?
?Maksudku Ibu Pertiwi yang minta maaf pada Merdeka.?
?Oh, sorry,? Sulistyorini kecele. ?Apa katanya??
?Ibu Pertiwi minta maaf lantaran tak bisa mencegah suaminya agar berhenti membuat topeng yang sudah jadi bagian hidupnya. Katanya: Maafkan ibu, Nak. Ibu tahu kamu tak menyukainya, tapi karena apa? Jelaskan Merdeka. Jangan berdiam diri begitu. Tidakkah kamu malu dikatakan edan? Berkata demikian Ibu Pertiwi terus mengusap matanya yang basah. Demikianlah, ini bukan kehendakku, Sulistyorini, betapa episode ini bagian paling menjengkelkan karena penuh dengan permintaan maaf. Betapa Merdeka pun juga minta maaf pada Ibu Pertiwi. Katanya: Maafkan Merdeka, Ibu. Merdeka tidak bermaksdu membuatmu sedih. Jangan menangis, Ibu. Airmata ibu terlalu mahal untuk membayar semua topeng itu. Anehnya, setelah saling minta maaf, kedua perempuan itu justru terkesan saling cek-cok, Sulistyorini.?
?Bertengkar, maksudnya??
?Kurang lebih seperti itu. Yang jelas terjadi ketegangan.?
Dan Biru Langit menceritakannya seperti ini:
?Jangan diam saja Merdeka! Bicaralah sesuatu.?
?Tidak, Ibu. Sebenarnya Merdeka tidak pernah bisa diam. Di rumah ini justru ibu yang selalu diam. Kenapa ibu? Kenapa ibu tidak pernah protes melihat semua tingkah laku laki-laki itu? Apakah ibu sudah dipaksa mengenakan topeng buatannya sehingga muka ibu sendiri tak berhak berbicara? Merdeka memang tidak mengerti tentang hidup. Tetapi apakah setia harus diwujudkan dengan cara seperti itu? Tidak ibu. Merdeka tidak rela membiarkan lelaki itu memperlakukan ibu dengan seenaknya. Ibu, Merdeka tahu bagaimana muka lelaki itu sebenarnya. Merdeka pernah memergoki lelaki itu melepas topeng yang selalu dikenakannya, dengan dibantu beberapa wanita muda. Di sana, Ibu. Di tempat yang seharusnya hanya menjadi milik ibu dan lelaki itu. Betapa mengerikan mukanya, Ibu. Hitam dan penuh bopeng. Merdeka jijik melihatnya. Muka itu semakin mengerikan ketika lelaki itu tahu Merdeka memergokinya, mencurangi kejujuran, keiklasan, dan kebijakan pengetahuan ibu. Dia lalu memaksa Merdeka memakai salah satu topeng buatannya, agar Merdeka tidak menceritakan kejadian itu pada ibu. Merdeka tidak mau, sebab Merdeka sudah berjanji akan menghentikan perbuatannya. Akan kulakukan apa saja yang bisa kulakukan. Jika perlu amuk! Ibu, apakah Merdeka anak yang durhaka jika mengatakan bahwa laki-laki itu tidak pantas menjadi suami ibu, juga tak pantas menjadi bapak Merdeka??
Naluri perempuan tua itu membuat dirinya tanpa sadar terus menggoyang-goyang tubuh Merdeka. Biar pun dia tanpa berkata-kata…
?Merdeka tidak akan membiarkan semua itu terus terjadi. Ini sudah menjadi keinginan Merdeka. Tapi ternyata, Merdeka tidak cukup kuat untuk menaklukkan kenyataan. Zaman sudah edan dan laki-laki itu telah ikut edan. Apakah salah jika Merdeka membalas dengan cara edan-edanan? Dengan memakai topeng Merdeka sendiri? Ibu, apakah ada perbedaan, Merdeka waras ataukah edan-edanan? Keduanya sama-sama membuat Merdeka malu. Dengan seperti ini, paling tidak, bukan hanya Merdeka yang merasakan malu, tetapi lelaki itu juga. Bukankah begitu, Ibu??
Ibu Pertiwi memamerkan kediamannya.
Sulistyorini juga diam.
?Bukankah begitu Ibu Sulistyorini??
Ia diam dan makin sibuk dengan dirinya sendiri.
?Haloo?.?
Masih hidup.
Biru Langit tinggal menyelesaikan bagian akhir ceritanya:
?Merdeka! Merdeka! Bangun, Nak. Bangun!?
Perempuan Ibu Pertiwi terus memanggil nama Merdeka. Beberapa tetangga membantu. Namun Merdeka tetap diam di tempat. Tubuhnya tidak bergerak. Selebihnya Merdeka hanya bisa mendengar tangis perempuan ibunya yang semakin lama semakin surut tapi justru kian menyayat. Di sebelahnya, lampu ublik di ruangan semakin kehilangan cahayanya. Sampai akhirnya padam.
Hari itu, pagi-pagi sekali di jalanan tampak beriringan beberapa orang laki-laki mengusung keranda. Di belakangnya seorang perempuan tua menjerit-jerit memanggil anaknya. Perempuan tua itu hanya bisa memandangi orang-orang dari kejauhan. Kadang-kadang dia memaksakan dirinya tersenyum, biarpun kakinya terasa perih dan berdarah karena menginjak topeng-topeng entah milik siapa. Merdeka terus saja berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami ibunya. Biar pun suaranya makin tak terdengar.
Hari itu pagi-pagi sekali, telah dikuburkan dengan upacara sangat sederhana, entah sesosok manusia ataukah sebingkai topeng. Yang jelas namanya Merdeka. Angin berhembus kencang, meruntuhkan symbol-simbol rumah di atas pagar halaman. Terjerembab ke tanah, pecah terinjak?
?Hmm..inilah kebiasaanmu yang murahan itu Biru Langit. Kau seringkali membunuh tokoh-tokoh ceritamu.?
?Karena kupikir itu lebih baik untuk mengakhiri penderitaannya,? ia cukup hati-hati berucap yang ini. ?Ya, karena pengarang itu punya kuasa.?
?Kenapa tak kau suruh bunuh diri saja tokohmu itu??
Ah, kekhawatiran Biru Langit pun terjawab sungguh?Sulistyorini berpikir tentang bunuh diri. Suatu kondisi yang sangat absurd, yang melukiskan keluasan diri sekaligus kerendahan, yang menggambarkan keberanian tapi kekonyolannya, yang mempertontonkan kebebasan tapi juga penderitaan paling kelam. Juga memamerkan jalan menuju batas ruang waktunya, tapi sebetulnya juga telah menemukan jalan buntu masa depannya. Satu-satunya pengertian yang gampaing diterima dengan satu kata ialah, bunuh diri itu memang situasi yang amat fantastik, dan karena itu mamang hanya boleh terjadi dalam fiksi.
Ia katakan, memang sebuah fiksi banyak yang menempuh jalan fantastik dari tangan tukang ceritanya, pengarangnya dengan lkuk-liku pikiran absurditas seperti disebutkan di atas. Dan itu artinya, Sulistyorini mampu menangkap bagaimana sebetulnya tokoh sesungguhnya dalam fiksi adalah sang tukang cerita sendiri yang sanggup dengan kuasa kreatifnya membunuh dirinya. Bahkan bila mau, si tukang cerita menjelaskan kepada tokoh-tokohnya bahwa seluruh umat manusia di dunia ini termasuk dirinya dalam tokoh itu telah menjalani prosesi upacara bunuh diri missal, meskipun secara perlahan-lahan, apabila dalam diri manusia terus-menerus digerogoti dan kehilangan bagian demi bagian. Ya, kehilangan ruh kemanusiaannya yang ditandai dengan kian keroposnya jasadnya. Sebaliknya, di situlah tampaknya sumber malapetaka bagi Sulistyorini, betapa ia pahami bunuh diri itu berarti darah dan tali gantungan di benaknya. Semoga tidak terjadi demikian.
?Lalu, kenapa kamu pikir justru Merdeka itu tokoh manusia dengan darah dan dagingnya, Sulistyorini??
?Karena aku menemukan diriku dalam tokoh buatanmu itu. Bukankah perempuan itu aku, Biru Langit??
Biru Langit tegang. Pikirannya kacau dengan tokoh-tokohnya sendiri. Ia telah dibuyarkan imajinasinya, yang sama sekali tak diingatnya kembali hanya dalam hitungan sekian detik. Sementara Sulistyorini terus menuntut dan merasa justru dirinya yang sebenarnya adalah tokoh buatan Biru Langit. Sementara Sulistyorini yang sekarang bukanlah apa-apa. Makhluk hidup pun bukan. Ia telah mati dan dia sendiri menangisi kematiannya. Ya, satu-satunya pekerjaan yang besar ia lakukan selain tekun mendengarkan tukang cerita, adalah menangis. Ia merasa sangat kesepian di dalam kematiannya. Ia merasa sangat sunyi, di balik isak tangisnya. Ia merasa bukan apa-apa selain kekosongan dan ruang hampa. Pendek kata, ia lebih percaya pada kuasa tukang cerita ketimbang kepada yang menjaga dan memberinya lentara hidup. Ketegangan otak dan kekacauan berpikir Biru Langit mengakibatkan timbul niatnya untuk membelokkan ceritanya. Ia mulai sibuk menyusun rekayasa tokoh-tokohnya.
?Kamu keliru Sulistyorini. Kamu tidak ke mana-mana dan tetap di sini di sampingku. Justru tokoh ceritaku ini tukang cerita dengan salah seorang putrinya. Kamu masih harus mendengar bagian paling akhir kisah ini, sayang.?
Lalu, disusunlah rekayasa peristiwa yang ia sendiri takut tak berisi dan tanpa kesan. Seperti ini:
Ruangan itu sempit dan pengap. Cahaya matahari hanya bisa menerobos masuk lewat celah-celah kecil yang ada di dinding itu. Di sudut ruangan hanya ada lampu minyaki yang apinya mulai redup. Di sampingnya, sesosok tubuh meringkuk lemah dengan kepala terkulai. Matanya tertutup.
Kriettt!!
Pintu dibuka dari luar. Seorang lelaki tua tukang cerita masuk ke kamar putrinya. Dia segera memadamkan lampu. Ruangan menjadi remang-remang.
?Bapak, jangan dimatikan lampu itu. Biarkan saja tetap menyala. Tolong, bapak. Biarkan lampu itu tetap menyala.?
Lelaki tua tukang cerita itu menoleh.
?Kamu sudah bangun, Merdeka? Ini sudah lewat tengah hari. Bapak matikan lampunya, ya??
?Merdeka? Siapa Merdeka??
Tukang cerita itu kaget dan tanpa sadar kembali menyalakan lampu dihadapannya.
?Kenapa panggil aku Merdeka? Aku ..(Biru Langit nyaris menembakkan nama Sulistyorini)..Aku Marsinah!?
?Bapak bawakan jajan ini untukmu, Merdek?k, Sul?Eh, Marsinah!?
Putri tukang cerita itu tak bergerak. Hanya matanya saja yang memandang ke arah bapaknya. Tukang cerita itu menunduk. Ada sesuatu yang dipikirkannya dan ditambatkan di lantai tanah.
?Ceritakan kepadaku tentang dongeng kancil, ande-ande lumut, putri salju atau apa saja, Bapak.?
?Sudah, jangan lagi rewel!?
Dia tak punya bahan untuk diceritakan. Sayang ia, tukang cerita yang bodoh. Bila sedikit pintar barangkali ia akan menempuh jalan seperti dilakukan Yasunari Kawabata: Bunuh diri. Lagi, ketakutan Biru Langit kembali terjadi. Sulistyorini tak tunjukkan simpati. Ia masih juga kosong. Akhir cerita yang sia-sia rupanya.

Lima

?SEKARANG giliranmu, Sulistyorini.?
Mendadak ia merasa ditampar. Dalam keadaan seperti ini, ia sama sekali tak punya rencana, cerita bahkan ilusi. Kata-kata pun begitu miskinnya ditelan kekuatan dahsyat yang menekan perasaannya. Dari sedikit kata-kata itu, Sulistyorini tak menaruh kepercayaan membawa tubuhnya ke ruang fiksi, apalagi sampai menyentuh ke dasar jiwanya. Lalu kepada siapa ia berserah diri? Entahlah. Ia belum bergerak dari suatu titik. Tampaknya, ia perlu sepotong rayuan yang tak perlu ia tahu kesungguhannya, bualan atau sekadar tipu muslihat?kekuatan kata.
?Aku tak bisa. Sungguh tak punya cerita.?
?Ayolah, katakana apa yang terlintas dalam pikiran dan perasaanmu. Apa saja, segalanya bermakna bagiku,? desakan, bujur rayu Biru Langit terus ditembakkan. ?Bicaralah betapapun pedih itu.?
?Emosiku sedang labil, dan aku merasa tertekan. Mungkin aku sudah benar-benar capai dan butuh waktu istirahat. Aku sadari karena aku terlalu memaksakan diri dan berharap banyak dari sesuatu yang belum jelas. Aku terlalu ambisius untuk mewujudkan mimpi dan cita-citaku dulu, dan aku lupa akan seberapa kuat kemampuanku, serta dukungan yang sebenarnya aku harapkan tapi tidak kuperoleh,? tuturnya tidak dengan cukup percaya diri.
Tidak jelas apakah kalimatnya yang berputar-putar itu terpahami betul oleh Biru Langit. Terkadang timbul kesan, dalam hal ini Biru Langit dilibatkan ke dalam perasaannya yang pelik, sebagaimana ungkapnya. Belum pernah selama ini perempuan itu didengarnya bicara tentang cita-cita, harapan, apalagi ambisi kecuali soal hubungan persahabatannya, percintaannya yang belum terungkap lengkap.
?Selesaikan kalimatmu, sayang.?
?Aku punya cita-cita untuk memutus lingkaran masa laluku yang membuatku terseret-seret. Aku tak ingin larut dalam masalah-masalah masa lalu dan menjadi korban suatu keadaan. Ini keinginanku, otakku yang berbicara. Tapi perasaanku belum bisa. Kenyataannya, aku telah ditempatkan sebagai korban, sekaligus harus menanggung akbiat dari masa lalu. Apakah, engkau bisa merasakannya dengan melihat keadaanku sekarang? Mungkin tidak. Sebab engkau selalu berusaha positive thinking menghadapi sesuatu. Itu pikiranmu. Sebaliknya, perasaanmu bisa jadi berkata lain. Kau masih dengar ceritaku Biru Langit??
?Tentu saja.?
?Jujur saja ingin kukatakan padamu,? Sulistyorini begitu ragu-ragu, terkesan dari bicaranya yang patah-patah. Tekanan perasaannya menyebabkan isak tangisnya kembali mencuat. ?Satu hal yang membuatku bingung, sedih, dan menyiksa diriku adalah ketidaktahuanku perihal sikapmu sebenarnya terhadap keperawanan.?
Biru Langit tertegun bukan lantaran kilatan pisau lidah Sulistyorini. Tapi karena ia ingin biarkan tumbuh dalam diri perempuan itu seonggok nafsunya bertutur kata. Seberapa pun besar kediamannya, meniup-niupkan hawa ke dalam nalurinya untuk mengobral kata, penyesalan, ketakutan bahkan merajuk sekalipun.
?Aku telah mencium arah bicaramu,? Biru Langit dingin.
?Aku takut sekali Biru Langit. Aku bimbang. Terpikir olehku aku belum cukup waktu sampai menyimpulkan keperawanan bukan hal terpenting bagimu yang tertimbun oleh perasaan entah cinta, iba, lupa waktu atau entah oleh apa. Namun di bagian lain otakku, terpikir bagimu takkan pernah memberi ampun padaku.?
Hebatnya, Sulistyorini tengah mencoba bicara dengan pikirannya, bukan dengan emosinya. Kendati dua kalimatnya terkesan sebuah permohonan ketimbang suatu pilihan. Lalu dimana perasaannya saat berbicara? Ternyata ia tambatkan pada isak tangis dan airmatanya yang kian deras.
Lantas, tak mau disebut makhluk paling kejam menyaksikan seluruh penderitaan itu, cepat Biru Langit menangkap pundak Sulistyorini dan mengunci bibirnya dengan jari telunjuknya.
?Engkau jangan meremehkan daya intelektualitasku, Sulistyorini. Aku bisa tersinggung,? ia ucapkan ini persis meminjam kata Al Pacino dalam film God Father.
Dalam waktu sepersekian detik, dengan gerakan yang tak terhitung dalam ruang dan waktu pemandangan berubah menjadi pelukan yang kuat dan erat. Tangis pun bagi Sulistyorini dirasakannya sangat berbeda artinya. Lalu, lukisan gelombang dan ombak memecah di atas sprei dan selimut tersusun kembali akibat gerakan kaki yang lupa terkendali.
?Teruskan kalimatmu, sayang. Kau berbicara bukan pada orang yang salah,? dibisikkannya suara hampir menyentuh cuping telinganya.
?Aku telah menjalani hari yang melelahkan. Aku capai ketika aku mulai instropeksi diri, aku malah menjadi takut. Jangan-jangan selama ini perasaanku, pikiranku, keinginanku, hatiku dan tindakanku yang semuanya kutujukan untuk rasa cinta dan keinginan hidup denganmu hanya ada membeku di pikiranku. Apakah selama ini aku sakit? Ya, dengan merenung, diam, aku telah asyik dengan pikiranku sendiri. Apa yang kurencanakan telah kulakukan, tapi itu semua hanya terjadi dalam pikiranku. Bila tidak, mengapa aku masih terbaring lemah seperti ini? Ketahuilah, Biru Langit, rasa cinta dan kasih sayangku padamu seperti semakin tak bisa kutahan. Sampai aku nekad mengambil kesimpulan: Tak ada yang lebih penting bagiku selain siap di sampingmu dan mendampingimu sepanjang waktu.?
Biru Langit dingin. Bukan karena keringat Sulistyorini yang tak ragu menyusup ke lubang pori-pori lelaki yang erat mendekapnya. Namun bombardier kata yang tak biasa ia dengar dari seorang wanita, ternyata membuatnya mengambil sikap menunggu. Ia menunggu sudah tuntaskah jalinan kisahnya.
?Belum,? katanya. ?Justru aku belum sampaikan padamu cerita yang sesungguhnya. Ini masih semacam pengantar. Karena aku perlu ucapkan janji terlebih dulu. Janjiku menunjukkan kepadamu bahwa aku mencintaimu dan harus selalu melayanimu. Selama ini kamulah yang selalu berkorban untukku. Sekaranglah saat bagiku untuk membuktikan sebaliknya betapa aku mencintaimu. Aku akan memberimu kejutan-kejutan. Sekarang kamu siap dengan ceritaku sesungguhnya??
?Ya, kenapa tidak? Dengan senang hati Sulistyorini.?
?Sekarang peluk aku kuat-kuat dan cium aku selembut mungkin,? perintahnya.
Biru Langit menuruti perintahnya dan Sulistyorini pun menyusun kata demi kata di tubuh kekasihnya di tengah gelombang samudera ranjang memecahkan ombak-ombak sprei dan selimut. Sejenak terjadi pertarungan memperebutkan nahkoda atau imam cinta. Piyama tipis nyaris tembus pandang yang gemilang ibarat kertas bagi Biru Langit. Demikian pula hangat tubuh Biru Langit yang menanti serupa lading imajinasi bagi Sulistyorini. Ya, sebuah awal keduanya menyusun fiksi yang telah menjadi haknya. Pelukan dua sejoli itu yang menguat dan ciuman yang mendarat di pipi dan bibirnya yang menghangat sebagai tanda berawalnya perjuangan eksistensi diri dalam fiksi ini yaitu saling menyadari kontek kahadirannya, dan menguji kata dengan bahasa tubuhnya.
?Sayang,? desah Sulistyorini masih dengan cucuran airmata yang panas karena bertaruh dan berebut makna antara keikhlasan dan gairah menguji kata-katanya sendiri, inilah barangkali bagian dari kekurangajaran ungkapan, di satu sisi menyerahkan diri dimaknai tapi di sisi lain justru sibuk diri mencari makna. ?Inilah cerita yang kujanjikan dan jujur saja ini yang bisa kususun dengan sungguh-sungguh, seikhlas-ikhlasnya, seindah-indahnya sebab hanya engkau yang bisa menembus keindahan yang kutawarkan.?
?Kasih, belum pernah kutemui fiksi yang luar biasa seperti ini, sebab ini adalah pengalaman terbaru sepanjang kehadiranku di semesta ini. Betapa aku merasa menemukan keutuhanku kembali kelengkapanku yang sedang menuju sempurna berkat keindahan yang kau tawarkan. Andai kau tahu perasaanku sekarang, tubuhku ini seperti hendak raib karena hanyut oleh arus deras dan gelombang gairahmu yang menggelegar. Ya, tubuhku hilang dan aku lupa telah memilikinya. Ya, lupa. Inilah lupa diriku paling dahsyat yang menjangkiti aku dan belum pernah terjadi sebelumnya membelakangi ingatan kesadaranku sehebat ini, Sulistyorini. Aku telah hilang bentuk, remuk. Menjelma gelora api dalam tubuhmu yang segar berair.?
?Oh, andai kau juga tahu perasaanku, Biru Langit,? perlahan-lahan isak tangis Sulistyorini mencapai puncaknya ledakannya berwujud erangan dan igauan, sebelum akhirnya jatuh dan tenggelam ke dalam desah dan dengus nafasnya tidak karuan. Ya, tidak karuan seirama dengan usapan bibir Biru Langit dan sentuhan jari-jari serta, himpitan tubuhnya mendarat seluruh permukaan k ulit kuning langsat Sulistyorini. Ya, menjelajahi segala penjuru wilayah serupa peta, seperti kanvas kosong, atau seperti kertas putih yang tipis dan rindu akan kata, darah atau warna. Cahaya kemilau yang memancar dari payudaranya menusuk ruang terdalam mata Biru Langit dan membutakannya (seolah) dan sesudahnya ruangan kamar, ranjang dengan dinding-dinding kokoh seperti samudera tak bertempi yang berputar-putar menuju satu pusaran yang paling dalam dan belum pernah terjangkau jangkar Biru Langit sebelumnya. Waktu juga menghilang entah kemana. Entah bagaimana urutan peristiwanya segalanya mengental, mengumpul dari samudera ke bukit, dari bukit ke ngarai dari ngarai ke danau dari danau ke hutan belantara atau sumur tanpa dasar sebut sajalah spiritual black hole. Demikian halnya, Sulistyorini ia benar-benar telah klendran di bagian mana ia taruh dirinya pada kekasihnya, ia telah abai kapan terakhir kali sosot mata tajamnya ditambatkan pada pantai gairah Biru Langit, sebelum akhirnya Sulistyorini tak tahu dimana tepi-tepinya sendiri. Hisapan demi hisapan membawa sejoli itu seperti tengah bertukar tempat, berganti posisi saling mengenalkan diri, bahkan saling memiliki, sekalipun itu tak mungkin, kendati pun itu mustahil. Inilah ketegangan yang mengasyikkan. Ya, suatu fantasi yang benar-benar nyata. Belum pernah terjadi di luar dirinya suatu ketegangan yang mengasyikkan. Begitu asyiknya, sejoli itu rintihnya terdengar seperti sebuah cengkerama. Gerakan-gerakan tubuhnya yang setengah telanjang dalam kesatuannya seperti tarian kanak-kanak yang murni. Lalu tutur lembut katanya mengisyaratkan kejujurannya, menjadi musik yang menambah kenikmatannya. Seolah-olah bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk diterbangkan ke angkasa dilayangkan ke udara. Begitu seterusnya di langit, jatuh lagi, dilemparkan lagi, jatuh lagi, sampai tak ada batas birahi dan gairan cinta mati yang tak pernah habis-habisnya.
Sedikit dari darah yang mengalirkan jemari tangan Biru Langit ia gunakan menyingkap helai rambut kekasihnya yang menutupi wajahnya. Agar padang yang maha luas jendela kecantikan jiwanya itu tak terhalang, keringant atau seperti titik titik oase di padang tandus tak bertepi. Sebagian besar arus darahnya mengalir ke wilayah paling rahasia dari tubuh, wilayah paling subur dan wilayah paling mengundang pesona wisata ruh cinta di mulut gua garba dengan lorong terdalam menuju hati serta darah yang mengental di pulau bertanjung yang sejak zaman baheula disebut lingga yang padat. Tapi benarkah itu wilayah paling rahasia? Lalu apa artinya sebuah rahasia di dalam ketelanjangan yang demikian bersahaja??ketelanjangan yang menyingkap derita dan juga bahagia? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus mengemuka sepanjang penyerahan dirinya kepada kuasa birahi dan cinta, sepanjang permainan agung yang berbuah orgasme. Ya diiringi desah kuat dan erangan hebat yang melepas segala beban derita dan bahagia, ke udara, persetubuhan sejoli itu melayangkan kenikmatannya yang maha dahsyat ke ruang paling dalam di dasar hati, sekaligus ke udara paling bebas di bumi ini, bahkan ke langit di seluruh semesta. Segala pertanyaan itu pun terjawab hingga detil paling muskil.
Mata Sulistyorini berlinang basah airmata. Barangkali menangis, tapi barangkali juga karena melepas beban dari kebutaannya. Tangis tipis yang mistis. Sementara Biru Langit menyanyikan puji dan ampunan pada Tuhan.
Biru Langit dan Sulistyorini yang masih merapat saling mengangkat wajahnya. Tangannya samara-samar terulur dan membersihkan wajah kekasihnya dari carut-marut helai rambutnya. Kini mulai menangkap padang kosong itu disirami titik-titik air danau keringatnya. Ya, kanvas kosong itu kini telah diisi lukisan warna. Kertas putih pun disesaki kata-kata. Mereka terbangun dari fiksi dan kembali ke alam nyata.
?Sulistyorini,? ungkapnya dalam keintiman yang belum terlepas. ?Bagaimana kau bisa menuliskan kisah sehebat ini? Percayalah aku akan merindukan fiksi-fiksimu berikutnya.?
?Oh, Biru Langit kekasihku. Ceritaku yang ini memang tak kan pernah berakhir, sayang. Demi cintaku padamu, aku tentu tak pernah bisa mengakhirinya.?
?Tak terbatas??
?Ya, tak terbatas.?
Sesudah keintiman terlepas dan menyisakan putih susu yang menyehatkan, ditambah sedikit vitamin ciuman lembut di ujung bibir Sulistyorini, sebuah keajaiban terjadi: Perempuan itu terbebas dari derita sakitnya, ia sembuh dari demamnya.

Enam

TAMPAKNYA sampailah kini pada bagian yang paling menjemukan untuk dijalani, didengarkan dan diceritakan. Setidaknya itu bias terlihat dari catatan-catatan Biru Langit yang tercecer dan tak tersusun rapi. Dirasanya waktu begitu lama berlalu, justru pada saat derap jantungnya menghendaki berlari cepat. Kalimat-kalimat begitu mahal di saat semestinya, dirinya harus banyak mengobral kata, ungkapan dan ucapan. Karena itu dirasanya, hari-hari demikian Bengal dan tidak seperti biasa memperlakukannya seperti ini.
Ya, ia merasakan sesuatu yang baru terjadi dalam dirinya. Inilah yang kedengarannya, sedikit banyak mampu menghibur kejemuannya atas dunia luar. Kesegaran menghirup udara cukup membuatnya menemukan alasan, bahwa seberapapun kejenuhan tetap harus dikemukakan demi keseimbangan dan tentu saja demi keadilannya sendiri menjalani hidup. Betapa ia tak boleh, tak biasa dan tak bisa memilih. Segalanya tersedia apa adanya dan ia menjadi bagian di dalamnya sekalipun seringkali ketlingsut di tempat yang sangat terjepit. Seperti surat yang tertimbun kertas-kertas bekas dan bungkus karton.
Pada saat demikian, Biru Langit mencari-cari kuasanya sendiri yang ia dapati bersamaan dirinya yang menghilang. Di luar, memang dirinya tak memiliki kekuasaaan. Tapi di dalam, ia terus mencoba bertanding dengan berbekal kenekadannya, menghitung ada dalam dirinya. Di luar, ia merasai juga seperti dirinya, menghitung keberadaannya sendiri, ketiadapedulian dan bahkan berbicara tentang diri mereka sendiri juga kepada dirinya sendiri. Fatalnya, mengapa perasaan itu muncul di saat dirinya kehilangan kekuasaan dan diperlihatkan di diapan matanya bahwa memang ia tak punya kuasa? Boleh jadi inilah zaman paling buruk tentang keterasingan manusia akibat serbuan materi seperti disebut kaum Marxis dan Erich Fromm. Akan tetapi bukan itu betul yang menggelisahkan Biru Langit, karena memang dirinya tidak sedang bicara materi dan keterasingan.
Ia berbicara pada satu keadaan yang sama sekali lebih berbahaya dari seluruh bahaya manusia yakni kecenderungannya bermonolog, kesukaannya berbicara sendiri tentang dirinya sendiri dan kepada dirinya sendiri. Ya, suatu keadaan berbahasa yang sama sekali tak punya arti. Ya,ya.. karena Biru Langit ingin mencatat dunia dalam manusia yang kerontang, meski sekadar mengusir kejemuannya pada hari-hari. Tapi sekaligus ia juga ingin mengungkap betapa di antara jiwa-jiwa manusia yang kerontang itu ada yang paling mengalami nestapa dan itu menyedihkan bila tak segera ia mengetahuinya lalu segera bangkit membenahi dirinya. Mungkinkah, karena perasaan senasib dan sepenanggungannya dalam perjalanan bangsa yang bertahun-tahun didera akibat masa kelam, penderitaan, tekanan dan kepahitan, secara langsung juga turut membentuk tradisi dalam arti lebih suka diceritai daripada menjadi pencerita yang analitis. Atau lebih suka jadi pendengar atau pendongeng saja?
Ya, boleh jadi deraan nasib dalam zaman gelap seperti ini dengan kata lain turut menumbuhsuburkan monolog. Buktinya, berapa banyak penulis yang begitu dahsyat apabila menceritakan tentang penderitaan itu sendiri, meski tanpa suatu analisis tertulis dari disiplin keilmuan yang dalam. Tentu saja, ini adalah dua jurang terdalam yang harus dihindari Biru Langit, ?zaman gelap,? dan ?keterasingan.? Lalu bagaimana bisa ia berjuang keras keluar dari situasi yang membelitnya ini? Lantas seberapa kuat dirinya menahan serbuan orang-orang yang tiada menyadari dirinya menggunakan kekuasaannya tak lebih hanya untuk dirinya sendiri, tentang dirinya sendiri dan terus-menerus mencari arti dari bahasanya sendiri pula itu?

Tujuh

TAK seorang pun menyangka, Biru Langit harus memutuskan keluar dari kelompok diskusi aktivis-aktivis kiri di kampusnya Universitas Airlangga. Banyak yang menyayangkan, tapi tidak sedikit pula yang mengamini. Kendatialas an sebenarnya tak pernah diungkap, apalagi dalam suasana diskusi yang sudah barangtentu bakal menuai bentuk sentimentalisme seorang aktivis. Tiadanya informasi yang jelas ternyata justru menyudutkannya. Ia keluar dituding karena alas an dirinya disibukkan dengan urusan-urusan perempuan. Bila hendak lebih kritis sebetulnya alas an yang sama sekali bukan salah.
Ya, memang dalam waktu belakangan Sulistyorini menjadi titik simpul paling penting dari perjalanan Biru Langit. Begitu pentingnya hingga dirinya seperti digerakkan oleh aura kekasihnya itu sampai pada titik sulitnya mencari jati dirinya pun ia alamai. Bahkan hingga pada wilayah paling gersang yang sebelumnya tak pernah dirasa Biru Langit: cemburu dan curiga. Ah, tapi biarlah agar cerita ini urut, untuk sementara kutangguhkan soal yang satu ini.
Alasan sesungguhnya, Biru Langit (dan tentu saja mengajak serta Sulistyorini) keluar dari kelompok diskusi kiri, lantaran ia sudah tak lagi menemukan kegairahan akan kegelisahan intelektual yang terbuka (alasan yang membedakan pernyatan dokter tentara Kolonel marinir Isnaeni). Diskusi-diskusi tak menelorkan konsep wacana yang sampai pada menggali ruh terdalam sisi manusia. Seolah-olah manusia ini hidup dalam penyederhanaan kiri dan kanan, dalamnya persyaratan yang sangat berat dan mustahil terjadi dalam suasana kewajaran manusia. Pendeknya suatu utopia yang justru menumbuhsuburkan ilusi-ilusi yang telah mendarah daging sebelumnya yakni sebuah masyarakat sosialis.
Kegandrungannya pada teori-teori Marxis, Mao Tje Tung, New Left, Tan Malaka yang menuju aksi revolusioner tak sempat digodog dalam laboratorium intelektual menuju gagasan baru semisal membandingkan dengan gagasan Hasan Al Banna, Iqbal, Arkaun, Mahatma Gandhi, Ali Syariati, dan sederet nama lain menjadikan diskusi-diskusi itu kering?sesuatu yang sama sekali tak perlu terjadi dalam petualangan segar seorang manusia macam Biru Langit. Dan lagi, keberaniannya mengungkap bahwa sebetulnya cikal bakal dari komunisme yang diagung-agungkan mereka itu adalah terdapat dalam jiwa kebudayaan Isalam telah mematahkan diskusi-diskusi dan menutup pergaulan diantara mereka. Ya, seperti keasingan berbincang perihal factor X sebagai spiritualitas di hadapan mereka.
Lagi, bila itu terjadi, itu artinya Biru Langit sekaligus juga harus meniadakan arti Pam dalam ketiadaannya. Itu yang barangkali juga sedang bergulat menaklukkan impian-impiannya, idealisme-idealismenya sendiri, sambil mengucap ?selamat jalan di persimpangan semoga sampai tujuan.? Dengan demikian dirinya bisa leluasa berpikir tentang kedamiana, tidak dalam jangka waktu mendatang, tapi bias ia mulai saat sekarang.
Demikianlah, mula-mula ia tanpa pikir panjang memutuskan hubungannya dengan kelompok diskusi kiri kendati meninggalkan desas-desus. Selanjutnya, terpikir olehnya masuk pergaulan lain dengan bergabung kelompok Aksi Budaya Bermain pimpinan Ipong. Dengan cepat ia akrab dalam lingkaran pergaulan penyair, seniman dan wartawan. Meski di lain kesempatan juga makin akrab dengan politikus Bintang Sakti, si yang mbahurekso kawasan Balai Pemuda itu. Salah satu yang mengakrabkan mereka biasanya dengan masakan, roti mariam di kawasan Ngampel bila sedang menyempatkan berziarah ke makam Sunan Ampel di belakang masjid kawasan itu. Kendati dalam hati, mulai timbul kecurigaan ada latar gelakang yang gelap tentang kebiasaan ini. Sampailah juga tumbuh kecemburuan terkait maksud terselubung politikus Bintang Sakti, di balaki kebiasaannya yang mereguk air sudci di masjid Ampel sampai kembung . Diam ?diam politikus Bintang Sakti jatuh hati pada Sulistyorinin tentu saja itu dibarengi dengan keinginannya mempersuntingnya menjadi istri keempat?suatu keinginan yang sungguh memalukan di mata Biru Langit. Tak cuma memalukan, tapi juga memuakkan. Keinginan yang tidak bisa ia sembunyikan dari sorot matanya dan bicaranya yang berbusa-busa.
Pada saat demikian biasanya Politikus Bintang Sakti sibuk dengan dirinya sendiri terutama dalam hal mempertontonkan kekuasaannya, uang dan juga kekayaannya. Ah, suatu pemandangan yang sudah sangat biasa tetapi masih juga terjadi dan fatalnya itu melibatkan Biru Langit dalam lingkaran persoaln yang memualkan perutnya ini. Karena itu tercatat sudah, hanya Biru Langit yang tahu benar mengapa banyak lelaki jatuh hati pada kekasihnya dan bermaksud untuk memiliki?keinginan dari banyak cara memperlihatkan kejantanannya. Sebaliknya Biru Langit pria yang menaklukkan wanita dengan percintaannya. Ya, memang Sulistyorini tak boleh lepas darinya dan semenjak itu tak seorang pun menyangka, bahkan dirinya sendiri bahwa telah terjadi perubahan pada diri Biru Langit. Ia harus punya keinginan spontan untuk segera mengawini Sulistyorini?sesuatu yang tak pernah terbayang sebelumnya dalam waktu secepat ini, bahkan untuk bicara saja seperti saat ini.
Demikian waktu disampaikan kepada Sulistyorini, bahwa situasi terkini lebih sebagai penyebab keinginan mereka daripada sebagai alasannya, kekasihnya itu mafhum. Sejoli itu pun tak mau menikah dalam kondisi perus Sulistyorini terlihat berisi. Suatu alasan yang masuk akal. Pendeknya hanya ada satu jalan itu, kendati pun tiada yang tahu menyempit, longgar, lempang, ataukah justru buntu. Setidaknya sejoli itu telah tahu pintu, bahwa pertama mereka harus meminta restu Mama Puri Wangi dan Papa Profesor Doktor Dokter Maryuhan Kurnia, si ahli bedah plastik yang gandrung dengan soal-soal politik. Sebab itu Biru Langit menduga di tangan professor itu permasalahan bisa menjadi rumit, ruwet dan panjang. Ya, waktu yang memanjang dirasanya begitu menjemukan, tapi apa boleh buat jalan musti ditempuh untuk tahu menyempit, lempang ataukah buntu.

Delapan

?JANGAN berdiri saja di situ, masuklah Biru Langit.?
Suatu petang, Biru Langit memang hendak memenuhi maksudnya dank arena itu ia pilih waktu usai praktek profesor itu di kliniknya di Jalan Jawa.
?Bagaimana, tampaknya kau mengajak berdebat lagi? Soal apa? Pendidikan oh ya. Kau kelak juga garus pikirkan anak-anakmu dengan pendidikan yang benar.?
Betapa girang Biru Langit saat profesor bicara anak-anak dan masa depan. Seolah ia telah membuka pintu bicara ke arah sasaran dan sang professor dirasainya menangkap tanda-tanda zaman. Mungkinkah, ia telah tahu hubungan sejarah putirnya, atau kedekatannya, tentang rencana-rencananya, tentang perkawinan?
?Bila kelak anakmu tumbuh dewasa, sebagai orangtua kau dan ibu dari anakmu harus memberikan pendidikan yang merdeka, harus memilih sekolah yang terbebas dari tangan kekuasaan. Ya, tampaknya itu memang hanya ada di luar negeri seperti Singapore misalnya. Anak juga harus tahu dan merasakan seberapa hebatnya kekuasaan tak bisa dipakai alasan membenarkan atau mencampuri science, atau institusi ilmiah sejenisnya. Orangtua juga harus bisa berpikir, di balik kecenderungan memasukkan iptek dan imtaq ke dalam pasal rancangan unang-undang pendidikan. Betapa ini sebuah lelucon karena iman dan taqwa itu salah kaprah bila harus masuk pendidikan. Karena itu bicara soal agama, dan agama itu kekuasaan. Tentu kamu sudah tahu kapan hari saya bicara kekuasaan agama itu menjadi utopia, apakah itu kekuasaan Tuhan, kekuasaan nabi, roh kudus, paus, ketua mui yang sudah selesai sampai berhenti di situ. Bahkan bagaimana itu bis terjadi juga di perguruan tinggi. Mereka masih berpikir bahwa menjadi orang baik itu harus dengan iman dan taqwa, padahal tidak. Kamu bisa menempuh jalan yang ini, menjadi orang yang tidak pada umumnya Biru Langit. Menjadi orang yang percaya pada cara bersain dengan dunia global dalam pendidikan anak-anakmu kelak. Saya sendiri melihat hal-hal yang berbau agama tidaklah konsisten, tidak ada jaminan imannya baik diiringi kebaikan moralnya,? ungkap profesor dingin dan enteng, dengan membumbui lelucon semisal, ?Kalau Tuhan itu satu dan harus memenuhi doa orang yang saling bermusuhan, betapa Tuhan itu menjadi bingung karenanya.?
Sampai di sini Biru Langit masih tertegun, ia masih merasa anak-anak dan masa depannya dibicarakan. Tak ada niat untuk menggugat, terlebih ketika sang profesor menyebut contoh seorang loyalis yang tak diragukan lagi iman dan taqwanya. ?Tapi tahukah kamu sekolahnya apa para loyalis yang hanya ingin meraih pangkat saja itu? Yang benar sesuai keilmuan itu adalah seoarang yang dinilai bukan karena loyalitasnya tapi karena kontribusinya. Dia bisa memberikan gagasan, kritik, pekerjaan, praktek, eksperimen dan bukan silent is building, asal bapak senang. Lalu dimana letak kebenarannya? Yang jelas bukan pada omongan orangnya, tapi dengan penelitian, validitas, alat ukur seperti saya mengoperasi hidung atau bibir sumbing itu dikatakan sudah bagus bila alat ukurnya simetris. Jadi kebenaran itu yang telah terbukti dan bukan hipotesa-hipotesa. Saya Tanya kebenaran itu apa, nggak ada yang bisa menjawab. Tiap hari ngomong benar-salah, tapi tak tahun apa itu yang diomongkan. Sebaliknya, bila sudah temukan dan berani bicara kebenaran ilmu, kita tak perlu keder dengan siapapun, sekalipun pada seluruh dunia. Kamu juga harus ajara dan didik anakmu seperti ini Biru Langit. ?Jangan pakai cara lama menakuti orang, membatasi kreativitas. Hidup harus tanpa fanatisme karena dalam ilmu tidak ada paksaan. Anak-anak kita tidak akan bisa maju bila tak biasa dengan alternative. Ya, hidup di dunia ini harus dengan alternatif.?
Di ruang kerjanya yang mewah, di atas meja kaca mengkilat, berserak beberapa batang spidol. Berkali-kali ian menyentuhnya lalu berdiri dekat whiteboard. Tapi berkali-kali pula ia membatalkan keinginannya, barangkali lantaran kebiasaannya menguliahi mahasiswa-mahasiswanya tapi bisa jadi memang karena belum tergerak untuk menorehkan teorinya ke atas papan tulis.
?Sesungguhnya persoalan saya yang konkret,? potong Biru Langit, ?adalah soal manusia juga, keinginan untuk hidup??
?Ya, ini memang soal manusia, soal ilmu pengetahuan dan tidakada soal yang tak bisa dipecahkan ilmu pengetahuan,? giliran profesor cepat menggunting, ?Begini, memang ilmu yang sebenarnya itu natural science. Definisi ilmu itu benar-benar oleh karena suatu dengan acuan materi dan sistem. Bidang studi atau suatu pengetahuan yang sistematis untuk menerangkan fenomena dengan acuan materi yang kemudian diolah dalam metode ilmiah. Jadi kalau tidak ada materi, idealisme orang itu bukan ilmu, kalakuan manusia, hokum, kejahatan itu bukan ilmu karena tidak ada materi fisik. Kalau H2O itu nggak ada, ternyata dengan alat ukurnya, dan direaksi kimia terjadilah komposisi seperti itu. Ilmu sesungguhnya seperti itu. Tapi ilmu tentang kelakuan manusia? Tidak ada materi. Hukum, ekonomi, Soeharto batuk kurs naik, bagaimana menghubungkannya? Memang setidak-tidaknya ilmu psikologi, sosial itu hanya dicari cara supaya mendekati natural, sehingga mnasih bisa dipakai ilmu. Tapi tidak semua orang setuju. Berbeda dari fisika, biologi, kimia. Biologi bilang orang ada itu karena gen, maka ditemukan DNA,83) ada barangnya dan kelihatan. Tapi agama? Agama itu tidak bisa disebut ilmu karena dogmatis banget, cerita doing, nggak ada materi fisiknya. Yang bilang tuhan itu ada, mana? Nggak ada dan nggak bisa diproses kimia, tidak pernah kelihatan. Nabi juga demikian, hanya disebut Tuhan dari mimpi. Padahal mimpi bagi ilmu pengetahuan tidak ada apa-apanya. Surga dan neraka juga tidak pernah kelihatan, tidak pernah ada yang tahu. Jadi Cuma cerita. Boleh percaya tapi itu bukan ilmu. Saya tidak melarang untuk tidak scientist. Boleh. Orang pakai kepercayaan, silakan, tetapi itu tetap bukan scientist. Tahapan-tahapan natural science itu bisa memprediksi terukur dengan alat ukur. Newton bilang tarik-menarik dua buah benda itu sebanding massanya dan berbanding terbalik dengan kwadrat jaraknya. Itu bisa mengukur tarik menarik segala benda di alam ini. Mengapa bulan di situ terus, kok nggak pergi? Nggak mendekat? Karena ada daya tarik menarik seperti hukum Newton. Sehingga kita bisa menghitung kira-kira itu barangnya di mana, bisa diprediksi dengan tepat. Terus pertanyaan saya pada anda, kalau kalakuan orang itu suka mencuri, korupsi, mestinya kan lebih sering masuk penjara? Kenapa di negeri ini nggak? Mengapa pejabat-pejabat yang seperti ini malah sedikit yang masuk penjara? Lalu bagaimana memprediksinya? Ini terjadi karena alat ukurnya tidak akurat dan karena itu tidak masuk hitungan saya. Memang ini soal kelakuan manusia, tentang ilmu sosial, tapi saya akan ajak semua orang untuk memakai keilmuan dalam memceahkan semua soal, termasuk jika kamu punya soal karena bisa dipakai siapa saja dan dimana saja. Bagaimana caranya supaya dia bisa disebut ilmu, harus dipakai metode ilmu dengan mengubah sendiri instrument-instrumennya dengan cara-cara sendiri. Validitasnya, yang terlalu rendah tak bisa dipakai. Soal Negara, hukum, bangsa, pemerintahan, semuanya ilmu sosial. Artinya, kalau kita mau menyelesaikan soal-soal itu harus memakai cara berpikir orang-orang natural science. Misalnya, kita pakai sesuatu alasan yang logic, yang relevan dan tidak asal bunyi. Orang yang berilmu itu tidak asal bunyi. Kenapa orang berkaki dua? Jawabannya, karena ayam berkaki dua. Ini sudah terbukti, tapi relevansinya dimana? Jadi untuk membuktikan kbenaran itu harus dengan data-data yang dianalisis, instrumennya jelas dan pakai logika. Kamu boleh percaya atau tidak saya menemukan pernyataan bahwa: ?untuk membuktikan kebenaran itu kita harus baik dengan semua orang.? Kedengarannya ini memang sedikit religius. Itu omongan surgawi tidak cocok kalau untuk professor seperti saya. Saya guyon mengatakan diri saya ini nerakawi untuk menjelaskan omongan yang gak ilmiah itu, nggak ada logikanya itu.?
Biru Langit tak bisa tertawa lepas. Justru ia mulai menghela nafas dalam. Barangkali karena dalam tubuhnya telah mulai panas, karena merasa dirinya menjadi manusia terpenjara. Tapi kalah jauh lantaran hati dan perasaannya mulai terluka, semacam putus asa melihat seorang profesor berbicara sendiri atas nama ilmu pengetahuan, seolah-olah segalanya berada dalam kepastian ilmu dan teorinya. Biru Langit pun mulai curiga adanya suatu penyakit mental yang berdiam dalam diri Profesor Doktor Dokter bedah plastik, betapa ia telah melihat persoalan itu dengan materi dan bukan bagaimana materi itu sebetulnya juga punya jiwa, ruh hidup dan tidak dihilangkan haknya untuk menolak dijadikan kelinci percobaan oleh ilmu pengetahuan yang memusingkan sang professor sendiri. Dan lagi, diam-diam hati Biru Langit terasa teriris-iris, melihat sang professor yang alergi dengan agama dengan spiritualitas yang sering dijadikan bahan olok-olok itu. Akan terapi yang paling menyedihkan adalah sang professor belum memberikan jawaban persoalan dirinya sebagai manusia yang sehat dan hendak menikahi putrinya yang sentimental itu. Sialnya, bahkan untuk mengajukan pertanyaan saja belum ia lakukan. Tapi tidak fair rasanya bila Biru Langit tak mendebat, jika tak ingin dirinya mendapati jawaban soal cintanya pada gadisnya dari seorang ayah yang berpenyakit mental dokter bedah plastik. Jadi bolehlah ia berkepala dinign, menunda sedikit waktu percepatan dalam hidupnya.
?Saya curiga anda menyimpan tidak kejujuran, Prof. Tapi semoga kecurigaan saya ini keliru,? Biru Langit mencoba menawarkan strategi agar bicaranya yakin berguna bagi sang professor, syukur bila merubah pandangan hidupnya. Sekaligus mempertontonkan atraksinya bahwa dirinya tidak sedang berbicara sendiri. ?Selain itu saya melihat ketidakkonsistenan berpikir anda dalam sejarah ilmu pengetahuan. Jadi soal kejujuran dan konsistensi anda yang saya gugat. Begini, anda tampak ceroboh ketika memindahkan dan mencari jalan pada saat begitu percaya pada ilmu pasti, tapi juga menggebu-gebu berambisi memecahkan persoalan-persoalan perilaku manusia dengan kompleksitas dampaknya dan itu. Anehnya, anda tetap ngotot bersikeras cenderung merendahkan manusia itu sendiri dari materi-materi ilmu pasti. Itu artinya anda merendahkan diri anda sendiri, pikiran anda sendiri di hadapan materi bukan? Apakah sampai di sini kedengaran omongan saya tidak ilmiah??
?Teruskan!? professor itu tampak menyiapkan energi baru.
?Kalau benar terjadi demikian, saya juga curiga anda memahami diri anda sendiri hanya seonggok materi dan bukan sebagai layaknya manusia diciptakan Tuhan berikut ruh hidup sebagai energinya. Di mata saya, anda memahami diri anda sendiri hanya dari pikiran anda saja. Ya, semoga dugaan saya keliru untuk membuktikan ketidakjujuran anda, professor. Dan lagi, ketika anda mengagungkan teori Newton dan Einstein, seolah anda tidak mengerti puncak-puncak perncapaiannya yang ternyata saling bertentangan. Ibarat mesin, Newton adalah otaknya mesin atau mesinnya otak. Tapi Einstein, ia lebih mirip seorang pengarang absurd atau mistikus dari pada seorang ilmuwan. Karena ia tak begitu percaya pada kepastian ilmu pengetahuan. Diam-diam ia semacam penganut religiusitas ketimbang seorang yang atheis. Ya, semacam religiusitas yang anda cibir habis-habisan dan anda jadikan dagelan mentah-mentah itu. Oya, rupanya adan perlu tahu bahwa sekarang makin banyak ilmuwan yang sadar konsep-konsep mistik memberikan gagasan filosofis pandangan keilmuan mereka, termasuk ilmu tentang manusia yang menjawab segala renik persoalan manusia yang anda hargai senilai tempurung buah kelapa, karena otaknya itu,? Biru Langit menyadari gerakan emosinya, karena mulai tumbuh kejengkelannya.
?Jangan keliru, karena saya tidak pernah bicara pribadi-pribadi manusia. Saya bicara keilmuan dan bukan demi tujuan pribadi, tapi saya rangkai teori demi tujuan manusia memang iya. Sebetulnya, saya ingin mengubah isi pikiran manusia sebagaimana ilmuwan-ilmuwan seperti Newton, Einstein dan lain sebagainya menggunakan pikirannya. Saya juga ingin menyebarkan semangat kerja sebagaimana mereka profesional bekerja di bidangnya dan tentu saja, semua itu ada aturan mainnya ada alat kontrolnya. Karena dengan demikian semuanya berubah, bangsa ini berubah dan hidup kita juga mengalami perubahan. Tidak seperti sekarang. Tapi kalau anda berpikir seperti itu, ya ndak apa-apa. Saya tidak memaksa,? betapa ia mulai sentimental, bukti kebekuan perasaannya terhadap orang lain antara kecewa dan pasrah pada kenyataan.
?Sesuatu yang tidak mendidik, Prof.?
Biru Langit bermaksud mendinginkan pikirannya, yang dirasanya mengalami error akibat serbuan logika ilmu sang profesor, kendati dirinya yakin dingin yang sedingin-dinginnya tidaklah terletak pada pikirannya. Yang dirasainya otaknya yang panas tak berimbang hasratnya yang belum terjawab. Sebaliknya pun perubahan yang digambarkan professor itu malah mengernyitkan dahinya. Betapa itu mustahil terjadi karena telah ketinggalan zaman. Sementara perubahan yang dikehendaki Biru Langit tak sanggup menyentuh logika profesor. Inilah ketiadaan konsistensinya pikiran dan ilmu pengetahuannya profesor itu, bahwa perubahan belum akan terjadi meski sebenarnya selalu terjadi. Tak kejujuran baginya hanya ada pada otak dan ciri-ciri keilmuaannya, dan tidak meletakkan pada ruang dalam batin manusia yang tak saja hampa, sepengetahuan Biru Langit. Sebab itu, terpaksa ia harus menunda lagi sedikit waktu dan tampaknya esok akan berlangsung seru. Setidaknya terlihat dari jari-jari professor yang masih menggantung spidol snowman dan whiteboard-nya yang putih bersih.

Sembilan

HARI kedua, ruang kerja gedung bedah platik rumah sakit Karangmenjangan, siang.
?Hei, apa kesibukanmu sekarang, hingga siang-siang sudah datang kemari??
?Kuliah.?
?Ohya, bagaimana kuliahmu??
?Alhamdulillah, berjalan baik dan tak terlalu membosankan.?
?Alhamdulillah? Ha..ha,? sinisme professor itu mulai lagi. ?Terus kegiatan di luar masih menulis atu lagi kosong??
?Bersama kawan-kawan Kelompok Aksi Bermain, kami sedang merencanakan Seratus Hari Pembredelan. Kami harus jadi kelompok penghubung jaringan seniman, wartawan, intelektual, LSM, seluas mungkin untuk bertemu 1 Oktober dan menggelar pentas serentak dalam satu malam. Tempatnyta di komplek Balai Pemuda. Saya berharap orang-orang seperti anda juga harus hadir di acara yang sangat luar biasa penting untuk negeri ini.?
?Kau sendiri bagaimana??
?Saya terlibat di dalamnya. Nanti saya akan membacakan sebuah cerita pendek saya tentang kesunyian dan pembisuan.?
?Kamu mau menceritakannya untukku, Biru Langit? Kebetulan aku punya waktu banyak sehabis operasi bibir sumbing dan liposuction sejak pagi.?
?Kisahnya tentang keadaan sebuah negeri yang tanpa suara dan begitu sunyi karena setiap orang warganya harus menjalani operasi menghilangkan pita suaranya agar tetap bisa hidup. Sampai suatu ketika benar-benar negeri ini dihuni orang bisu, bahkan binatang pun juga harus mengalami nasib serupa, dihilangkan pita suaranya. Begitu lamanya, akhirnya untuk berbicara mereka menemukan bahasa isyarat sendiri dengan tangannya, yang terus memusingkan pihak penguasa negeri itu. Rencana berikutnya, mereka bakal antri untuk amputasi bagian tangannya. Betapa fantastisnya yang ingan saya gambarkan saat seluruh warga berbicara dengan sisa bagian tubuhnya itu.?
?Kedengarannya sangat menarik.?
?Dan lagi Prof, tentu saja operasi itu melibatkan para dokter. Untuk itu barangkali suatu saat saya perlu bertanya soal-soal medis pada anda. Tapi saya datang kali ini tidak untuk itu.?
?Saya bisa menangkap keinginan dan pikiran besarmu untuk Negara ini dengan ceritamu itu. Ya, ndak apa-apa.?
?Ya, cepat atau lambat perubahan mesti terjadi, Prof. Kukira anda setuju dengan ucapan-ucapan saya, bukan? Saya harus jujus menginginkan perubahan dalam diri saya, nasib saya, status saya, hidup saya?? entah mengapa Biru Langit begitu sulit memulai bicara soal rencana yang melibatkan kekasihnya Sulistyorini. Sepertinya lantaran banjir kata dan longsoran dalil yang membuatnya terjerembab dalam lubang. Tapi ia harus terus berjalan dan waktu masih memanjang. ?Sabarlah, Biru Langit sayang,? bisiknya.
?Ya ya..setiap warga negara punya hak untuk perubahan negerinya. Seperti halnya punya hak untuk mengajukan pertanyaan untuk apa sebuah negara itu ada? Bagi saya jelas negara itu dipakai untuk kemakmuran rakyatnya, ini tujuannya. Terus untuk mencapai ini harus adil dan aman. Lalu bagaimana caranya? Untuk mencapai itu perlu instrument kenegaraan. Apa? Keilmuan. Karena ilmu tak mengenal primordial, golongan dan sangat objektif jadi adil hanya peduli benar dan salah. Pakai logika dan relevansi yang setiap orang bisa. Tidak pakai emosional, karena memang tidak bisa. Contohnya ada orang yang mau kawin, orang lain bisa Tanya sekolahnya apa, penhasilannya berapa. Tapi soal emosinya hanya mereka berdua yang tahu. (Biru Langit seperti mendapat angina segar karena hasratnya mulai mendapat tempat, meski hanya barang sedikit). Jadi betapa pun kuatnya kepentingan pribadi tidak bisa dipakai untuk kepentingan public. Keilmuan itu soal kendaraan. Emosi tak bisa mengantar kita sampai tujuan. Berikutnya, negara ini harus negara sekuler. Artinya, meski bukan berarti tak mau tahu, tapi dalam kerjanya tak usah pakai agama. Bila tak ingin disebut Negara ambivalensi. Pengalaman Turki waktu memproklamirkan negaranya sekuler tapi ada partai agama yang menang pemilihan umum. Yang benar adalah Singapore. Agama dilarang berpolitik, tapi boleh hidup semaunya seperti Amerika, Perancis. Sementara India, Malaysia, Indonesia itu bukan Negara sekuler. Israel juga sekuler tapi politik agama tetap hebat. Saya tidak peduli, bagi saya Indonesia bila mau adil harus sekuler, konsisten dan tidak memikirkan agama. Tidak bisa berdasar negara agama. Harus sekuler berdasar keilmuan. Karena negara ini dibuat untuk seluruh orang. Bukan untuk mayoritas dan tidak ada minoritas. Semua warga negara punya hak yang sama. Tidak ada mayoritas Islam kemudian menempeleng orang seenaknya. Atau karena mereka yang punya maka yang lain dianggap kost. Jangan salah dengan keilmuan budaya yang lain dimatikan. Budaya apapun boleh tapi hanya untuk mereka-mereka saja pemiliknya. Tapi untuk negara hanya satu yang bisa dimengerti semua orang, Jawa, Irian, Batak yakni keilmuan. Ewuh pakewuh cuma dimengerti orang Jawa, orang Batak nggak peduli. Mau menari Bali semalam suntuk, dikembangkan nggak karu-karuan selakan. Tapi demi negara, setiap bekerja jangan coba-coba selain dengan keilmuan. Sama seperti terhadap agama, bukan berarti negara tak membolehkan hidup. Mau sembahyang 24 jam nggak makan, minum, berak juga silakan. Itu urusan mereka sendiri dan bukan urusan Negara. Kita jadi tahu mana kepentingan public mana kepentingan pribadi. Kalau punya pembagian yang jelas sebenarnya mengatur negara ini gampang. Tapi kalau kita gak punya pegangan pasti ngomongnya kacau balau.?
Entah mengapa saat sang profesor itu benar-benar menarikan spidol snowman-nya di whiteboard, Biru Langit melihat fantasi di papan yang kebetulan lebih luas dibandingkan kamar kareja dokter bedah plastik itu di jalan Jawa. Diagram-diagram yang ditorehkan profesor itu sampai di mata Biru Langit serupa struktur gen yang menjelaskan kromosom sel telur dan sel sperma dan menghasilkan keturunan XY. Di saat lain ia melukis telur ayam berukuran besar. Ya, barangkali telor dinosaurus. Lalu ia menuliskan nama-nama anggota keluarga, tulisan yang laing kurang jelas manakala membubuhkan nama Sulistyorini dan Biru Langit. Sebaliknya di bagian itu malah gambling tertulis profesor doktor dokter bedah plastic Maryuhan Kurnia. Apakah ini pertanda hilangnya kendali Biru Langit akibat kejemuan yang menyiksa? Karena menurunnya tingkat kesabaran menjalani waktu yang dirasanya memanjang?
?Sekarang ini tidak bisa tidak,? lanjut profesor itu ,? untuk bisa ke tujuan akhir, harus banyak yang mendukung gagasan saya tentang cara berpikir, cara kerja dan cara control keilmuan ini agar negara ini cepat beres. Kalau banyak didukung, menang dan pucuk-pucuk kepemimpinan bangsa ini?saya atau orang-orang seperti saya, tinggal mendekte jalannya negara saja. Masalahnya sekarang ini yang mendengarkan gagasan saya ini tidak ada, nggak ada yang mengerti soal-soal begituan. Bicara saya kepada orang-orang pintar seperti anda untuk menggalakkan pengertian. Semisal untuk menjalankan character national building, dengan wajib militer pun tak bias dilakukan segera. Bahkan tak mungkin bila masih begitu banyak orang yang brengsek. Saya membayangkan wajib militer itu berdampak pada rasa kebangsaan yang kuat bila dikerjakan dengan betul dan ide ini harus dibicarakan supaya tak ada GAM, Fretilin, Papua merdeka, RMS dan disintegrasi bangsa. Orang harus membayangkan Negara ini dipertahankan. Caranya, setiap warga Negara yang mengajak dewasa harus pernah wajib militer. Betul-betul jadi militer yang membela bangsa ini. Militer itu wawasannya nasional, Negara mewawan orang-orang yang maker atau ancaman orang asing dan di barak-barak militer itu ada Cina, Jawa, Ambon, Bugis. Saya punya obsesi, kepentingan negara harus diutamakan: Tapi sekarang tak bias wajib militer karena militer ituhanya satu grup, bukan untuk yang lain. Ini harus diberantas. Tentara ya tentara yang ngurus Negara. Bukan yang kemudian jadi gubernur, mendapat hak-hak istimewa. Jadi semua warga Negara yang berumur 18 tahun ke atas, laki-laki, perempuan, sehat bisa diatur lebih detil, perlu waktu 6 bulan atau 1 tahun. Dari pada budgetnya dibikin korupsi orang-orang dan tentara yang kaya-kaya juga banyak. Untuk apa itu? Dan yang mengelola wajib militeri harus tentara, departemen pertahanan yang membawahi orang-orang pinter perang. Jadi soal karena di sana-sini banyak terjadi kebrengsekan, kuat karena pegang senjata dan sistemnya dibuat dengan mempertahankan kekuasaan tentara, ini pola piker yang tidak benar. Karena Soeharto berkuasa, tidak ada yang berani menyinggung kekuatan tentara, bisnisnya. Sistemnya yang harus diperbaiki, otaknya, kerjanya, alat kontraolnya kalau sudah baik, bikin undang-undang bahwa kepentingan Negara, bangsa, rakyat dan tidak ada undang-undang kepentingan pribadi, golonga. Kalau ada KKN harus digantung atau diapakan. Bila naik haji dengan biaya Negara, jelas melanggar undang-undang dan harus dihuku. Berani ngomong begitu karena ada aturan mainnya, uang Negara itu juga punya orang hindu dari pajak, konghuju, Kristen, tidak boleh dipakai haji orang Islam. Jadi pola tujuan sebagai pola piker harus berada dalam sebuah dokumen resmi. Ini terjadi karena kepentingan golongan masih main dalam kepentingan negara, bahkan kepentingan pribadi juga ada main. Sekarang kita harus katakana yang namanya golongan itu apa? Supaya kalau menyinggung itu, stop!. Ini persoalan sangat mendesak. Persoalannya tanpa ilmu, cara kerja, cara berpikir dan alat kontrolnya akan makin banyak kebrengsekan. Sesuatu yang unibersal itu bukan agama karena iti juga bikin alat control bernama moral , karena itu agama. Salah!. Agama itu hanya golongan karena satu sama lain beda, menteri agama juga tak perlu ada, apalagi dialog antar agama seberapa pun besar persoalan kenegaraan atau seberapapun kecilnya, tentang hal seperti ini Einstein pernah bilang?tidak ada kebodohan yang lebih bodoh mengulangi pekerjaan-pekerjaan yang sama tetapi mengharapkan hasil yang berbeda. Sesuatu yang sia-sia alias mustahil. Terus terang, saya curiga kalau ada orang bilang, rakyat ini sudah pinter-pinter. Itu tidak jujur dan tidak fair, dan ini kendala bagi usah menyebarkan gagasan saya. Sebetulnya rakya Indonesia itu berapa banyak sich yang pinter? Mereka itu nggak ngerti apakah sebetulnya yang dipilih jadi presiden sekarang ini yang mampu atau yang tidak. Paling yang dipilih ini orang yang disenengi. Tukang becak tidak bisa menangkap omongan orang yang tinggi. Kalau omongan orang yang tinggi itu gak semua orang bisa nangkap. Kalau Einstein ngomong di Surabaya, paling yang datang cuma seratus orang. Dari jumlah itu yang limapuluh ngantuk, itupun yang duapuluh lima antara ngerti dan nggak, yang lain salah mengerti. Jadi begitu tingginya dia sampai guyonannya pun tak bisa ditangkap. Misalnya god does?nt plays dies. Tuhan tidak bermain dadu, itu bisa salah tangkap. Ada yang menyatakan begitu karena Einstein itu religius. Salah besar. Dia atheis seratus persen.?
Di hadapan profesor bedah plastik belum pernah Biru Langit sesulit ini dia memposisikan dirinya. Ia tidak yakin benar apakah gagasan-gagasan sang profesor itu betul masuk otaknya ataukah tidak, yang ia tahu kedengarannya kuliah itu lebih bagus ketimbang diajarkan dosen kewiraan di kampus, atau lebih maju dari pengantar ilmu politik. Dan yang pasti suasananya yang bersahabat, didukung ruangannya meski sempti tapi ber-AC, dengan korden-korden jendela menghadap kebun dan lapangan parkir yang sejuk. Pasalnya, kepalanya sudah telanjur dipenuhi fantasi tentang gerak kromosom dan struktur gen yang menari-nari dalam bola besar, menyerupai gerakan planet-planet di semesta dan ia ganti sendiri namanya sesuka hatinya. Ada planet rindu, sayang, cinta, seks, janin, perkawinan, pesta, sedeeret lagi cincin, mas kawin.
Ya, tampaknya ini suatu indikasi, mulai tumbuhnya kecenderungan dirinya yang juga bermonolog, berbicara sendiri tentang diri dan untuk dirinya?sesuatu yang tai ia kehendaki. Sebab itu ia memeras otak untuk segera mengakhiri situasi yang sungguh tidak menyenangkan ini, semacam basa-basi tak berguna atau omong kosong seperti tong sampah, berguna tapi amat rendahnya. Ya, ia mulai mikirkan sebuah jalan akhir kekerasan ataukah jalan damai.
Ya, begitulah Biru Langit harus menempuh percepatan waktu agar soal cinta dan perkawinannya dengan Sulistyorini tak lapuk di makan zaman. Maksudnya segera mendapat kepastian atau sambutan dan untuk itu ia memilih damai, cara halus yang sedikit elegan.
?Maafkan saya, Prof. Bukan saya kurang tertarik dengan gagasan politik anda, dan karena kekurangmengertian saya secara utuh, kiranya masih perlu penjelasan mendalam di lain waktu.? Biru Langit memulai menata kesabaran kembali.
?Oh, sejak kapan kau suka basa-basi sepanjang itu? Tapi ndak apa-apa. Teruskan.?
?Sebetulnya, saya dating tidak untuk urusan politik.?
?Katakan..?
?Saya ingin menyampaikan keinginan saya untuk menikahi putri anda, Sulistyorini secepat mungkin.? Biru Langit sudah mengoreksi kalimatnya sependek mungkin, tanpa mengurangi kejelasan maksudnya.
Sang professor bedah plastik itu mengangkat mukanya, menajamkan matanya dan selanjutnya menjatuhkan pada tubuh Biru Langit, entah persis bagian yang mana. Ya, seperti dapat diduga sebelumnya, ia terkejut. Kendati sudah tak ada artinya bagi Biru Langit, sang professor membuang arah pandangnya ke jendela, memperlihatkan ia berpikir. Justru yang sangat mengejutkan Biru Langit adalah ekspresinya yang dingin dan benar-benar tak berperasaan seperti pengakuannya.
Berikutnya, ucapannya yang entah ditangkap Biru Langit tak menyimpan kejelasan sebuah guyonan ataukah awal dari kejngkelannya yang serius, seperti juga kata-katanya tentang orang tinggi yang tidak semua orang bisa mengerti.
?Heh.. hebat juga kamu ya. Mungkin kamu belajar politik pada si ganteng Andi Malarangeng itu. Kamu pacari putriku, kuliahmu dibiayai olehnya, lalu kamu tinggal gratis di rumahku dan sekarang kamu mau menikahi putriku. Ya, kamu cerdik juga. Berikutnya, kamu cerdik juga menyampaikan pada saya, di ruang kerja dan saya masih mengenakan seragam dokter seperti ini. Sekarang apa maumu, anak muda??
?Saya ingin prof melepaskan Sulistyorini menjadi istri saya. Saya minta restu yang ikhlas,? Biru Langit memompa keberaniannya dan tidak terlalu sulit bagi aktivis seperti dia.
?Ikhlas? Ha..ha.. Kamu menyudutkan saya pada masalah pribadi seperti ini, sesuatu yang tidak bisa saya kerjakan sebagai seorang ilmuwan, seorang professional. Kamu tidak bisa minta restu kepada saya, yang kamu lakukan tak lebih dari mengajukan pertanyaan dan saya bisa memberikan jawabannya dengan analisa, berapa penghasilanmu, apa pekerjaanmu, dan apa tujuan hidupmu. Tapi soal cinta dan tetek mbengek emosi, perasaan, saya angkat tangan karena hanya pribadi kamu sendiri yang tahu. Itu masalah pribadi dan bukan masalah ilmu pengetahuan. Maaf, saya tidak ada waktu dan harus memberikan kuliah mahasiswa saya.?
?Bagaimana soal tanggungjawab? Anda bisa dikata tak bertanggungjawab pada masa depan putrid anda.?
?Hah, tanggungjawab saya pada keilmuan bukan pada pribadi, apakah kamu kurang mengerti, anak muda? Apakah bila kelak kamu ceraikan istrimu, lalu kamu paksa anakmu ikut denganmu atau memilih sendiri antara ayah dan ibunya. Ini soal kemanusiaan dan bukan pribadi. Apakah kamu mengerti maksud saya, Biru Langit??
?Ya, saya mengerti. Karena anda sudah bukan lagi orangtua Sulistyorini. Dan lagi karena sebagai seorang profesor, anda sudah tak lagi memiliki perasaan, kecewa atau gembira, apalagi yang bisa anda bagi kepada orang lain, termasuk putrid anda.?
?Masih ada yang ingin disampaikan sebelum kupersilakan anda pergi??
?Tidak ada profesor. Pesan saya, jaga diri anda baik-baik.?
Biru Langit meninggalkan ruangan dengan sama sekali tak ada rasa tersinggung. Ia tidak pernah punya perasaan sebaik ini, tanpa sakit hati. Sebaliknya, sang professor masih mencoba berpikir tentang sebuah kerumitan keberadaan keluarga. Ya, situasi yang ternyata menurutnya tidak terjangkau oleh tanggungjawab keilmuan dan pribadi. Ironisnya, seorang putrinya yang mungkin selam ini ia cintai telah menjadi pemantiknya. Ah, benarkah itu suatu cinta?
Entahlah, dalam hati Biru Langit tumbuh keyakinannya, bahwa sang professor itu tak bakal berhasil menemukan jawabannya. Apalagi soal kejujuran, juga ia percayai takkan hadir gratis begitu saja.

Sepuluh

GAGAL mendapat restu sang profesor, disusul suasana mendung di istana Dharmahusada yang kekeringan akibat kemarau. Tak tahan berat dan tebalnya awan, maka hujan tangis pun ditumpahkan perempuan Sulistyorini di depan Mama Puri Wangi. Sebelum akhirnya giliran ibu itu yang menangis untuk putrinya. Ya, tangis yang sejak mula sulit dimengerti, dimaknai, apalagi diungkapkan di tengah keluarga yang sangat membungkus rapat perasaan. Ya, istana Dharmahusada telah memenjarakan hati dan emosi di balik tembok logika dan keilmuan serta profesionalisme seorang professor doctor dokter bedah plastik. Akan tetapi, siapa sangka tempbok itu juga menandai tugu upacara korban dengan dua wanita sebagai yang terpilih.
Bertahun-tahun Puri Wangi tanpa suara, tapi hari ini, bersama putrinya ia telah berontak dan tangis keduanya mencari arti sendiri bagi dirinya sendiri maupun keluarga. Ya, hari ini apa yang sering melekat kepadanya sebagai makhluk yang lemah, ia dengan caranya sendiri menumpahkan hidupnya pada airmata sebagai perjuangannya mengungkap kembali ingatan, penyesalan, putusasa, bahkan sesuatu yang tidak berarti apa-apa. Mungkin juga kebahagiaan kalau ada, atau setidaknya harapan turut pula dalam tangisnya.
?Malang sekali nasibku, anakku. Tapi perjalanan hidupmu lebih pahit dan nestapa dari mamamu. Apakah kamu yakin Biru Langit tidak akan mengecewakanmu, Sulistyorini?? kedengarannya ini kalimat paling tulus dari seorang ibu.
Dia menggeleng.
?Mama mengerti perasaanmu, Nak. Mama sudah cukup makan asam garam di rumah ini, bagaimana emosi yang kacau balau. Hari ini bahagia, sehari kemudian sedih dan menangis. Begitu berulang-ulang selama bertahun-tahun,. Mama memilih diam semata-mata karena tak ingin ada konflik di keluarga ini dan papamu ternyata justru menyukai kediaman mama. Mama tidak tahu apa arti ini semua pertanda cinta pada papamu. Diam mama telanjur sebuah pilihan bahwa tidak ada yang penting bagi hidup mama, mungkin juga cinta. Tapi mama harap dalam dirimu tidak ada lagi penyesalan, sekali pun percintaanmu dengan Biru Langit tak bisa diterima papamu, Sulistyorini.? Dengan usaha keras Puri Wangi mencoba menghibur putrinya.
Sulistyorini menggeleng lagi.
?Kau yang harus tentukan jalan sendiri Sulistyorini bersama Biru Langit. Mama percaya kalian bisa. Dia orang baik, sabar.?
Di luar dugaan tangis Sulistyorini kian menghebat. Setelah itu tidak ada kata-kata, hilang terbawa arus deras airmata sampai isak paling akhir, menuju samudera dengan gelora ombak yang tak bisa dihentikan. Di tengah deburan ombak itulah nalurinya menyatakan tidak lagi takut rintangan suatu apa. Apalagi seonggok mimpi yang belakangan menghantuinya, tentang kekasihnya yang hilang ditelan samudera bergelombang besar. Ya, tidak ada lagi ketakutan itu karena gelombang besar samudera itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Sebelas

1 OKTOBER 1994, pukul 19.00 wib
Malam, kawasan Balai Pemuda luar bisa padat berisi. Bergelombang manusia makin malam, tambah berjubel karena malam itu digelar Seratus Hari terbunuhnya tiga media besar di negeri ini. Lokasinya yang dekat jalan besar, berikut pameran meubeler dan barang kelontong, menyebankan cukup menarik perhatian. Bahkan oleh orang yang kurang mengerti dengan kesenian. Tapi berkumpulnya orang jadi pesona tersendiri buat peringatan peristiwa besar kedholiman rezim penguasa. Serentak, ada puisi, pernyataan sikap, pidato kebudayaan, teater, musik digelar di tempat-tempat tersebar seikiar lapangan parkir. Karena kelompok aksi Budaya Bermain dan Club Wartawan Surabaya, maka itu mengundang hadir seniman-seniman dan kelompok kesenian dari pelbagi penjuru kota untuk terlibat aksi Seratus Hari. Ada dari Solo Kelompok Tanggap dan Sanggar Sukabanjir yang dipelopori penyair Wiji Thukul, Mahasiswa dari Universitas Darul Ulum Jombang, dari Lumajang dan Barisan Seniman Muda Blitar, dan Universitas Airlangga, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Lalu sederet happening art dan seni rupa instalasi. Musisi Leo Kristi dengan konser rakyatnya menyedot massa luar biasa antusias sambil memajang sejumlah lukisannya di ruang pameeran dan mencoretkan kata-kata protes di kanvas kosong. Sejumlah mantan wartawan korban rezim penguasa juga bermain musik sebisanya untuk mengusir kegelisahan. Biru Langit pun ambil bagian membacakan cerita pendeknya ?pembiusan? dan juga ?mulut kotor? yang berkisah tentang usaha seorang tokoh membersihkan diri dari bau mulutnya yang ternyata bersumber dari dalam tubuhnya yang kotor, bahkan akibat pembusukan bertahun-tahun di dalamnya, sementara selama ini yang dilakukannya tak lebih hanya menggosok giginya.
Malam itu, dalam ceritanya si laki-laki telah menemukan kesadarannya dan melakukan usaha kerasnya demi sebuah mulutnya agar kembali bersih tanpa bau, meski nyawa taruhannya.
Kendati bertabur pesta keprihatinan, malam berjalan makin mencemaskan akibat begitu banyaknya orang-orang siluman yang mengawasi gerak-gerik penggagas Seratus Hari yang memedihkan itu. Ya, bukan mustahil diantara mereka kaki tangan-kaki tangan atau orang suruhan politikus Bintang Sakti yang malam itu tidak nampak batang hidungnya. Hampir bisa diduga sebelumnya, karena si politikus Bintang Sakti yang tak pernah mengurus anak-anak nakal ini yang di luar kendalinya. Meski demikian, bukan berarti ia tidak tahu cara menunggangi anak-anak ini. Ada seribu cara mengatasi secuil kerikil ini. Yakni pakai kaki tangannya, setidaknya beri satu pelajaran sebagai shock therapy: kecerdikan yang telah jadi kebiasaannya karena disitulah makanannya.
Di tengah aksi yang mencemaskan itu terlihat ?mantan? dokter pribadi Sulistyorini, dokter tentara Letnan Kolonel Marinir Isnaeni. Ia menangkap wajah seksi tubuh Sulistyorini yang terlepas dari genggaman Biru Langit. Tak pelak, dokter tentara itu mengejarnya, setelah menerjang rintangan tubuh-tubuh yang menghadang, perempuan itu tertangkap. Tapi banyak yang berubah dan dokter tentara itu tak seberani sebelumnya, lebih sopan dan cukup bersahabat. Tidak ada basa-basi yang memualkan lagi, kecuali soal kabar dirinya dan tentu saja Biru Langit. Dokter tentara itu mengaku menyaksikan pembacaan dua cerpen Biru Langit. Ujungnya ia menegaskan kembali tawarannya untuk bekerja sebagai copywriter dan konseptor di sebuah perusahaan penerbitan dan entertainmen miliknya di belakang lapangan Dharmawangsa. Sulistyorini menjawab belum mengerti, dan oleh sebab itu alangkah baiknya bila membicarakan langsung dengan Biru Langit di lain hari. Dirinya hanya menambahkan, berharap Biru Langit menerima tawaran itu agar bisa untuk menopang hidup dan belajar hidup mandiri. Demikian pula dokter tentara itu optimis, perusahaannya akan berkembang pesat bila ditangani orang-orang seperti Biru Langit. Tanpa basa-basi keduanya mengakhiri pertemuan dengan saling senyum, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya diantara mereka berdua.
Yang mengejutkan, mendadak malam itu Pam ternyata hadir pula. Wajahnya tertangkap Biru Langit berkelebat cepat di tengah kerumunan banyak orang. Biru Langit muncul keheranannya, bagaimana wartawan satu ini setelah korannya dibunuh tiba-tiba muncul kembali di sini? Apakah ia bermaksud pulang ke ibunya karena menganggur? Ataukah sengaja turut hadir di Seratus Hari pembredelan, karena sebuah penghormatan dirinya yang juga korban kehilangan mata pencarian? Mungkinkah kemunculannya seban ia tahu nama Biru Langit dan Sulistyorini dia ketahui ada di belakang layar aksi ini? Tanpa berpikir pangjang Biru Langit mengejar wajah itu hingga sembarang tempat. Sayangnya, hingga suntuk matanya, yang dicari belum juga dapat. Biru Langit juga belum tahu apa hendak dikata kepada Pam bila nantinya berjumpa. Ya, karena telah sekian tahun diantara keduanya saling mengubur masa silam, meski bersiteguh sama-sama menggenggam pandangan hidup. Ya, beberapa tahun lamanya mereka berkawan dan kehilangannya, dalam keterpisahannya.
Bila pun kini bertemu, barangkali persahabatannya itu telah pula berganti makna, cara, maupun artinya. Begitu hidupnya, persahabatan itu sampai-sampai di antara Biru Langit dan Pam tak lagi mementingkan keberadaannya, ada dan tidaknya. Mereka terus hidup sekaligupun dibunuh, seperti pada saat memutuskan undur diri dari kelompok diskusi kiri. Seperti kenyataan, meski hanya ada dalam impian. Sebaliknya, persahabatan itu seperti impian tapi sesungguhnya nyata-nyata ada dan sanggup membuat perubahan, membersihkan diri dan segala kabut yang menutup sisi dalam kemanusiaannya, seberapapun itu bisa menuai hasil menuju kegemilangan.
Malam semakin larut dan satu persatu orang mulai meninggalkan tempat. Sampai dengan tinggal beberapa gelintir saja dalam waktu yang sangat cepat, beberapa orang mendorong Biru Langit masuk ke sebuah mobil tanpa plat nomor. Bahkan secara paksa, beberapa rekan yang menyaksikan peristiwa ini hanya bisa teriak-teriak dan tarikan-tarikan tak berguna persis adegan-adegan film buatan Amerika dan kemudian banyak ditiru intel-intel negara ini.
Ternyata, di dalam mobil sudah menunggu Pam dan Sulistyorini. Sesudah itu tidak jelas mimpi ataukah kenyataan karena yang hadir berikutnya adalah kenangan-kenangan masa silam mereka, luka hati, percintaan, segenggam mawar merah tak bermakna. Mereka telah tahu kemana tujuannya, ruang tahanan?tempat barunya yang tidak begitu dirisaukan. Ya, mereka bertiga telah biasa dengan dinding-dinding dingin yang beku atau kabut tebal di atas udara samudera. Kenyataan bahwa mereka tidak pernah takut bakal kehilangan dirinya, meski dipisahkan atau dihilangkan keberadaannya.
Yang mereka resahkan hanyalah bila tak ada kesempatan yang diberikan untuk ke kamar mandi, menggosok gigi dan membersihkan bau mulut dan kebusukan dalam tubuhnya.[]

EPILOG:
FANTASI EROS DARI BALIK JERUJI

KEKASIHKU,
Bila kelak kita kembali, aku berjanji pulang menggendong serangkai kata, rayuan keinginan bahkan kusumat dan mungkin petaka. Segalanya melebur dengan kata maupun suara juga mantra-mantra tertentu rimbanya. Tanpa sedikitpun menyisakan keraguan, kupanggul segenap rindu itu padamu, pada anak-anak buah dari mimpi-mimpi kita. Segalanya memadat tak terkikis oleh perjalanan jauh dan hempasan angin panas, udara pengap, atau gerah cuaca sebelum dimuntahkan hujan. Rindu ini menggerang di nanar mataku dan menggumpal di benak dadaku. Aku tersirap oleh penglihatanku akan hutan-hutan jati, tempat kita pernah sama-sama sembunyi, yang di musim semi seperti payung-payung yang menyejukkan hasratku kepadamu. Hutan-hutan yang mengingatkan aku pada rerimbunan daun yang mengitari ceruk, justru mengganas menyiramiku dengan pupuk dendam. Segenggam pun tak melenakan diriku. Aku seperti seorang yang buta. Aku juga seperti seorang yang tuli. Dan sudah barangtentu aku persis seorang yang bisa. Waktu seperti berhenti di dadaku. Waktu seperti terbunuh di kepalaku. Sementara yang hidup hanyalah kamu dan anak-ana hasil mimpi-mimpi kita, meski itu semua di sepanjang hutan itu hanyalah bayang-bayangnya saja. Meski itu semua cuma gaung kata-katamu dan lengking jerit anak-anak. Bahkan hingga igauanmu pun menyala di jiwaku. Inilah kiranya puncak dari getaran sukma orang-orang yang kucintai yang bisa kurasakan lalu membias pada sisi terdahulu hidupmu?di saat besar harapanku segera mengakhiri perpisahan. Betapa perjumpaan adalah siraman alkohol pada goresan luka. Pertemuan adalah guyuran air hujan pada cuaca pengap di ujung kemarau.

Kekasih,
Aku membayangkan hujan turun saat kita bertemu. Peluk cium buah anak-anak. Sentuhan kulitmu mengakhiri gejolak yang selama ini berkelindan. Atau lebih tepatnya rangkum tubuh kita, anak-anak dengan ayah dan ibu hasil pernikahan langit ini menyingkap segala mendung, mencerahkan langit-langit di hati kami. Sebab itu tak mengapa ada airmata bening yang menajamkan pandang menusuk kalbu. Lunas sudah semenjak detik akhir perjumpaan itu dari segala bayang-bayang, apalagi keragu-raguan atau ketakutan.
Anak-anakku, menarilah. Menyanyilah. Aku ingin membunuh segala nyala kangen yang telah sekarat ini setuntas-tuntasnya agar tak ada lagi benih untuk esok hari.
Bungaku, mekarlah. Semerbakkan baumu, warnamu, biar kubawa sampai mimpi-mimpiku.

Kasih,
Bukankah hari ini adalah mimpiku yang lalu, seperti hendak dirampok kesunyian hutan, pukau angin? Tetapi entah mengapa setiap kali bersamamu, di dekatmu, apalagi di dekapanmu aku tak punya nyali untuk mengendarai mimpi-mimpi? Atau barangkali lantaran memang aku tak mampu membawa diriku terbang kesana oleh karena terlalu berat beban di dada, terlalu sarat pikulan di pundak, terlampau keras batu di kepala? Aku tak tahu persis jawabannya. Aku terhuyung limbung. Aku terbelit akar kebingunganku sendiri sebelum akhirnya jatuh terjerembab. Inilah pangkal muasal penyakit yang berkali-kali mengendap padaku. Inilah adab musabab yang sering menyeretku dalam jurang hubunganku denganmu. Jurang yang bertahun-tahun mengangga namun kita selalu saja menyisir di rahangnya. Seolah tak punya rasa nger jatuh di dalamnya dan mati. Sebaliknya yang luar biasa terjadi kita pergi ke sana seolah berpakansi saja, berlibur mencari udara segar.
Semenjak perjumpaan kita, berkali-kali aku terantuk batu-batu. Tetapi engkau dengan sabar membesarkan hatiku, lalu membangkitkanku. Diantaranya dengan mengutip kembali omonganku yang terbenam dan telah kulupa sungguh apakah itu telah keluar dari dasar hatiku yang terdalam. ?Untuk apa kita bertengkar? Di usia seperti ini tidak ada guna kita melakukan itu.? Padahal hanyalah sebuah pertanyaan yang coba kucari jawabnya sendiri. Anehnya, aku justru meragukan niat baikku yang tentu saja keraguan itu memicu keretakkan hubunganku denganmu lagi. Padahal lebih tepat bila kukatakan keraguan itu cermin ketidakberdayaanku.
Sayang itu semua tak pernah benar terjadi. Ini semua terjadi hanya dari balik jeruji.

Yang Terkasih Sulistyorini,
Coretan ini kugoreskan ketika perasaanku terus datang sebagai sosok pribadi yang makin bukan milikku saja. Kesibukan kembara pikiranku bergelombang. Waktu istirahat jiwaku berkurang. Bahkan tidur tubuhku pun kian jarang. Saat itulah aku merasa sebagai pribadi yang sedang mengembarakan emosi, pikiran, pandangan dunia ideku tidak kepada diriku tetapi kepada orang lain.
Tidak aneh juga bila itu kepada engkau, kekasihku, wanita istri dalam percumbuanku yang lama tak kujumpa terpisahkan dinding penjara yang beku ini. Rasanya baru kemarin kita bertemu, sayangku. Sesaat. Pertemuan sesaat hanyalah terminal dari sekian banyaknya persimpangan yang semrawut antara dendam, naluri, pikiran, perasaan, emosi, imajinasi, birahi, harapan, keragu-raguan, dan takut yang silang sengkarut. Karena itulah kupandang perlu menggurat surat agar kita mengerti tak selamanya pertemuan itu hingar-bingar, akut dan bahkan tak hilang watak carut-marutnya.

Duhai Perempuanku,
Terus terang, belum pernah kualami emosi yang demikian bergolak, dalam pertemuan-pertemuan yang selama ini kita jalani. Ini sebuah pengalaman baru bagiku, bersitatap, berdialog dengan engkau yang menjadikanku tahu kamu. Bicaramu spontan, tajam, bahkan terkadang menyakitkan. Satu diantara yang mengejutkanku adalah soal seks (kenyataannya, soal ini tak pernah pergi dan justru menjadi zombie yang menyiksaku di balik dinding bisu ini). Bukankah engkau pernah terlintas menghakimiku bahwa mencintaimu karena seks dan nafsu? Kuceritakan ini padamu dengan harapan sanggup membebaskanku dari cengkeraman keadaan yang menyerupai kutukan ini?manusia yang dilepaskan haknya atas birahi. Jiwaku terganggu, batinku sedih. Tubuhku sakit, meski aku tak sanggup mengurai diri bahwa sebagai lelaki aku sedang tergila-gila dengan tubuh perempuanku, istri yang dikirim langit melalui mimpi-mimpiku. Inilah yang membebaniku setumpuk masalah tubuh dan kejiwaan.

Engkaulah, Istri dalam Percumbuanku,
Maafkan. Aku tak hendak melakukan pembelaan benar dan salahnya. Bagiku seks, birahi, bisa jadi suatu alibi, logika atau keindahan bahasa yang terungkap dari gelora tubuh dan jiwaku tidak saja di hadapan tubuh indahmu bahkan bayang-bayang akan keindahan itu sendiri. Boleh jadi seperti katamu nafsu bisa terangkum di dalamnya. Kau perlu tahu, aku menggelorakan pandangan dunia, keinginan, untuk menjadi lelaki normal. Itu di satu sisi. Di lain sisi, bila tak memenuhi syarat normal apalagi yang mengarah pada tuduhan seks nyleneh, berarti tidak ada ruang baginya dalam wilayah seks yang bermoral. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu bila tuduhanmu seperti itu melayang padaku saat aku masih meringkuk di balik jeruji penjara ini. Aku tidak tahu apakah tuduhan yang kau maksudkan itu seks nyleneh atau karena dorongan lelaki yang berlibido tinggi dan berani? Hanya engkau sendiri tentu saja yang mengerti persis artinya. Sedangkan kukira, dua yang tersebut paling akhir itupun pengertiannya juga amat sumir. Perlukah aku mencurigai jangan-jangan kita punya pemahaman yang beda masalah seks yang kita bicarakan ini?

Yang Terkasih, Sulistyorini,
Aku mencintaimu seutuhnya. Itu tentu saja termasuk di dalamnya aku mencintaimu karena aku perlu seks dan engkau butuh seks. Perjalanan hidupku menyimpulkan itu. Bahwa engkau pun mendambakan seks yang sehat bahkan menghormatinya. Aku terdorong untuk menjaga seksualitas ini selalu dalam situasi sehat jiwa dan badan. Sebaliknya, kecintaanku pun telah mempertimbangkan diri pentingnya aku menjaga vitalitas seks dalam diriku, tubuh dan jiwaku. Jadi bagi lelaki sepertiku dan wanita sepertimu lakinya makhluk Tuhan yang normal, kukira engkau pun tahu kita dianugerahi dorongan seks yang sangat kita junjung tinggi keindahan dan kenikmatannya ini. Masalah berikutnya yang kusadari tumbuh adalah bahwa pasangan lelaki perempuan yang umurnya kian maju dan berkat keindahan seks pula telah lahir anak-anak, ternyata banyak mempertimbangkan faktor lain yang turut mencampuri keindahan seks itu. Kamu pun tahu hal itu. Lantas pertanyaannya bukankah kita sama-sama tahu? Sebagai sebuah pertanyaan, apalagi jawabannya juga dalam wujud kata tanya, tentu sulit untuk dipecahkan.

Sayangku, Kekasihku, Hidupku,
Begitulah aku jadi lebih paham, seks itu justru dari masalah luarnya. Begitu pula aku bisa mengerti kecurigaan itu apabila mengurai soalnya justru di luar masalah seks. Sayangnya, aku tidak bergairah bicara di luar seks, jadilah seperti ini adanya dan maaf tidak berusaha memahami kecurigaanmu. Karena sebenarnya itu lebih mengarah pada perilaku seksualitasku. Begini: Bila yang engkau maksud ?nafsu? saja tanpa pertimbangan soal lain termasuk di luar seks dalam perilaku seksualitasku, mungkin itu keliru dan tidak ada padaku. Dalam berhubungan seks, aku mempertimbangkan banyak hal yang kesemuanya terangkum dalam apa yang kusebut cinta itu tadi, moral dan sejumlah persoalan lain yang melingkupinya. Sebab itu bukan kebetulan bila aku dan engkau kelak kemudian hari memilih untuk menjadi sepasang suami istri di dunia nyata. Ketahuilah, dalam berhubungan seks, aku menyerahkan sepenuhnya tubuh dan jiwaku kepadamu sebagai pasanganku. Hanya kepada engkau yang bisa mengemban amanat cintaku dalam seks. Tidak kepada yang lain dn tidak akan pernah kuserahkan cinta ini kepada wanita lain. Karena pada saat berhubungan seks, segenap perasaanku, naluriku, emosiku, cintaku, tubuh dan jiwaku hanya bisa terlepas melalui setiap inci lubung kulitku lalu mengalir, menguap kepada tubuh dan jiwa pasanganku yang cuma seorang yakni engkau. Tidak akan pernah bisa mengalir kepada tubuh, pori-pori perempuan lain. Puncaknya, memang sebatang kelamin tubuhku yang memasuki ronggamu lalu mencari yang seolah luput dari pengertian seks itu sendiri. Cuma beberapa gumpalan mengental atau kelembaban yang agak menjengkelkan. Tapi ketahuilah ternyata itu bukan satu-satunya puncak seksualitas. Raut mukamu, merah pipimu, sorot tajam matamu, nganga kering bibirmu merangkum segala keindahan seksualitas sejak ngarai sampai perbukitan. Tentu saja ini tak bisa diwakilkan oleh wajah siapapun, karena keindahan itu telah terpatri di sana bagiku. Inilah yang dimaksudkan dengan wajahmu yang ayu atau kecantikanmu yang luar biasa, tentu saja terlepas dari pengertian kecantikan ?dunia dalam? jiwamu karena yang terakhir kusebut ini punya wilayahnya sendiri. Wajar bila kupercaya itu, dan faktanya tak sungguh-sungguh aku sanggup melepaskannya, memisahkannya dari keduanya. Melihat raut mukamu ketika sanggama, seperti melihat keluasan dunia, menikmati keindahan puisi, tak habis-habisnya menuju keutuhannya, utuh mengkeluh. Padahal sebelumnya, ketika kumulai menyentuh sudut-sudut tubuhmu, melintasi gunung-gunung ranum berumput, menguasai perbukitan sejuk segar, lantas memasuki liang goa meronggamu aku telah tahu kesimpulannya?inilah paling sempurna guratan bentuk paling simetris ukurannya. Berhenti. Tapi imajinasi itu tak pernah mau berhenti sampai di raut muka dan sorot matamu. Sementara dua buah payudaramu tak henti-hentinya menggelorakan semangat untuk merangkummu dalam satu kesatuan tubuh dan jiwa antara menjadi engkau atau menjadi diriku. Mencintaimu atau mencintaiku. Mencintaiku atau mencintaimu. Hidupmu atau hidupku. Hidup kita. Di luar itu, segalanya hanya berputar-putar mencari ruang. Pesanku, bila kelak kita sanggama, jangan pernah memejamkan mata atau memalingkan muka. Kecuali bila kita benar-benar menghendaki seperti itu, sebagai bukti bahwa ada kekuasaan yang di luar kuasa kita, membawa kita ke suatu puncak kenikmatan makin dahsyat: Kekuasaan maha sempurna.

Cintaku, Segalanya Bagiku,
Sesungguhnya, aku ingin melihat isi tubuhmu. Maksudku tanpa terhalang benang pakaianmu. Aku ingin selancar bersamamu, berlayar di samudera tubuhmu. Mungkin engkau perlu tahu bahwa saat ini kuingin melepas beban gairah jiwa padamu, seorang wanita yang bukan kebetulan menjadi segalanya bagiku lebih dari sekadar mimpi-mimpi sepasang suami-istri. Begini: Bagiku, sekalipun setiap hari sepasang suami istri sanggup sanggama berpuluh kali, tentu hal itu bukanlah masalah. Sebaliknya, akan menjadi masalah apabila sepasang suami istri hasil perkawinan langit ini tidak melakukan sama sekali selama lebih sebulan dan mungkin untuk waktu yang masih berlanjut. Boleh jadi seringkali justru datang masalah itu dari luar problem seks. Lantas, bila kenyataannya seperti ini: Seorang lelaki seperti aku sonder persetubuhan lebih selama sebulan, dan mungkin masih akan bertambah waktu demi menjaga cintanya, gairahnya kepada raut muka, bibir, pipi, sorot tajam matamu, lekuk kulitmu, buah payudaramu, ngangga rongga goa garbamu hanya karena terpisahkan dinding pernjara. Lalu aku hanya bisa menjumpai dendam gejolak, mimpi-mimpi, birahi, imajinasi, emosi bahkan mungkin juga nafsu selama ini, sampai detik ini dengan penuh cinta. Kemudian, masihkah hasrat kerinduan menyentuh bagian luar tubuhmu, engkau hadiahi kecurigaan yang belakangan terasa kian sakitnya? Aku tentu tahu persis jawabannya, mengapa semua itu tidak kuakhiri saja dengan melabuhkan jurumudi tubuhku pada seonggok daging perempuan yang dalam bahasa perdagangan seks dinyatakan amat rendahnya? Tentu jawabannya bukan saja karena kini aku tengah sendiri di sel penjara ini. Melainkan lantaran sebagian jawabnya telah engkau simpan di raut mukamu dan tajam matamu. Cinta. Ya, rasanya aku hanya tak ingi membenarkan kecurigaanmu.

Duhai Mahkotaku, Hidup Matiku,
Corat-coret ini musti kututup dengan sebuah catatan kaki bahwa seks yang kumaksudkan sejak awal tulisan ini jauh dari watak negatifnya, sehingga idiom yang paling tepat sesungguhnya adalah erotika. Karena telah menjadi pandangan duniaku, maka sebut saja eros. Bagiku tulisan seperti ini akan sangat banyak bermakna dan kuharap demikian juga halnya bagi engkau. Kecuali apabila kelak selepas dari sangkar ini, engkau memilih untuk menolak sanggama denganku. Segalanya akan menjadi tak bermakna. Sia-sia.
Sayangnya, itu belum akan terjadi benar.
Kini, hal itu hanya terjadi di sini, dalam kesunyian ruang bui.
Entah, engkau berada di mana.[]

Musim Kering, Idul Adha 1426 H

Catatan :

1)Sangat makmur dan sangat subur.

2)Pasar rakyat dan pesta sebelum pabrik memulai produktivitasnya. Biasanya, berbagai pertunjukan seperti wayang kulit dan orkes juga digelar di tempat ini.

3)Obat datang penyakit hilang, orang Jawa seringkali bila meminum obat atau jamu mengucapkan doa ini.

4) Wayang kulit.

5) Meriahnya gamelan bertalu-talu.

6) Tetangga kiri-kanan.

7) Rumit.

8) Panggilan untuk anak laki-laki.

9) Cucuku.

10) Terimakasih.

11) Rombongan karawitan.

12) Rokok buatan sendiri dengan bahan dari kulit jagung.

13) Mengganggu langkah kaki.

14) Merintis.

15) Kolam.

16) Menuai.

17) Jatuh.

18) Musim pancaroba.

19) Sekarat.

20) Syukuran.

21) Dari kata random yang berarti acak. Istilah ini digunakan untuk menghitung kualitas tebu dari campurannya yang afkiran dan juga sampah.

22) Gerobak yang berjalan ditarik lokomotif di atas rel.

23) Sebahu tanah ada 500 ru, kurang lebih 1 ru ada 14 m2. Di bagian masyarakat tertentu, terutama di pelosok pedesaan, ukuran ini masih lazim \dipakai.

24) Pada larik kedua sajak Alexander Pope, The Second Epistle of Essay on Man, tertulis ?the proper study of mankind is man.? Ajaran yang tepat tentang kemanusiaan adalah manusia itu sendiri.

25) Dari sebuah film karya Teguh Karya, Perkawinan dibintangi Slamet Rahardjo dan Christine Hakim.

26) Tokoh dalam cerita ini tidak mengenal secara langsung hak waris sebagaimana tersebut dalam Al-Quran Surat An-Nisa: 11

27) Semacam olok-olok yang sering digunakan di masa pemerintahan Hindia Belanda. Artinya, kebangetan.

28) Dari adegan film Forrest Gump saat Forrest dengan lari siang dan malam bersama pengikut-pengikutnya sampai tumbuh jenggot dan rambutnya yang panjang.

29) Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta, berarti Orang yang dilawan oleh pemain-pemain yang lain, orang yang membiayai pekerjaan-pekerjaan yang kurang baik.

30) Tubuh. Di sini berarti jenazah.

31) Penyabung.

32) Berkokok.

33) Maksudnya mayat-mayat.

34) Permainan dadu.

35) Permainan kartu.

36) Pulas.

37) Kain panjang pasangan kebaya.

38) Bentuk khas rumah adat Jawa.

39) Bubur dengan menggunakan gula merah. Makanan khas setiap syukuran adat Jawa.

40) Pecahan kaca.

41) Musang.

42) dari catatan sorang siswa di Timor yang melakukan perjalanan ke Timor selama masa liburannya Juli 1981, dalam Perang Tersembunyi Sejarah Timor yang Dilupakan, Fortilos 1998.

43) Barisan Tani Indonsia, organisasi onderbouw PKI

44) Di penghujung tahun 1965 gerombolan PKI, Pemuda Rakyat, BTI dan lain-lain menyerbu peserta Mental Training yang diselenggarakan Pelajar Islam Indonesia di Kanigoro Kras, Kediri. Dengan bersenjatakan klewang, parang, palu bahkan pistol mereka melakukan teror terhadap aktivis PII. Mereka memporak-porandakan apa yang ada di masjid, termasuk menginjak-injak Al Quran dan juga memperlakukan wanita di luar batas kesusilaan. Dengan diiringi yel-yel ?ganyang santri, ganyang, teklek, mereka menggiring puluhan ulama dan para peserta Mental Training ke kantor polisi.

45) Dalam Al-Quran surat Tha-Ha ayat 126 Allah berfirman, ?Begitulah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi engkau lupakan-Dia; Begitulah di hari ini, engkau dilupakan.? Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang berpaling kepada peringatan-Nya dan yang pada akhirnya dikumpulkan oleh Allah di akherat dalam keadaan buta.

46) Kesenian rakyat asal Kediri, tepatnya di kecamatan Ngadiluwih. Kesenian ini dikembangkan dari ritual upacara meminta hujan dengan menggelar pertunjukan saling mencambuk. Sekarang hampir punah.

47) Panggung.

48) Ada kekuatan ghaib yang menjaga.

49))Penjaga.

50) Rumah besar. Dahulu kantor Kompeni Belanda.

51) Rakyat biasa.

52) Menikahkan anak.

53) Anak semata wayang. Anak tunggal

54) Zaman bahuela, kuno.

55) Lima M; main judi, memakai obat-obatan terlarang, mencuri, main perempuan dan minum-minuman keras.

56Tunangan.

57) Penganut Roland Barthes. Barthes terkenal dengan teori element of semiology, Puisi dapat ditempatkan sebagai sebuah teks yang senantiasa melewati tindakan komunikatif, proses signifikansi dimana produksi maupun reproduksi makna menjadi besar kemungkinan terjadi.

58) Maksudnya tokoh anti kapitalisme, Fredric Jameson

59) Naskah Drama karya sastrawan Perancis, Albert Camus.

60) Dari sebuah sajak Arif B Prasetyo.

61) Jakker, Jaringan Kesenian Rakyat. SMID Sidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demkrasi. PPBI, Pusat Perjuangan Buruh Indonesia

62) Minta hidup! Minta hidup!

63) Sebutan laIn untuk RSUD Dr Soetomo

64) Apa yang disebut Fat is Beautiful, bukan tanpa bukti. Sebuah artikel The Feminin Figure in Art, History and Surgery tulisan Bnito Viar-Sanch, Presiden International Society fr Aesthetic Plastic Surgery 84-85 menyebut bertahun-tahun lalu dalam kebudayaan Mesir kuno yang disbut Rhytmic Cuture relief-relief atau patung mitos keagamaan menampilkan sosok wanita yang berlemak, Pun di masa Renaissance, lukisan-lukisan tubuh wanita yang diciptakan pelukis pada zamannya, nampak kekagumannya pada tubuh yang tertimbun lemak. Paling menonjol adalah di masa kebudayaan Paleitic. Ada lebih dari 300 figur patung Dewi Venus yang dibuat sebagai simbol tempat laki-laki merindukan sosok keperempuanan, watak keibuan dan tubuh sensual. Bahkan di Rusia orang juga menghormati Venus, yang mirip sebuah Torso. Masih menurut artikel tersebut, beberapa ribu km jaraknya dari Eropa, tepatnya di Siberia persis dekat danau Baikal, telah ditemukan patung-patung perempuan dengan sosoknya yang tinggi dan berkepala panjang. Sama sekali berbeda dengan model Rusia dan Eropa. Hal serupa juga di sepanjang kepulauan Malta, pegunungan Mediterania Barat. Ini cukup sebagai indikasi kurang dari 5000 km, tidak ada perbedaan yang mengejutkan perihal patung-patung itu. Nah, sejarah manusia seperti itu dimaksudkan, untuk waktu sekarang figur nenek moyang manusia ribuan tahun yang lalu bukan tidak mungkin dirindukannya kembali. Mengenai teknik liposuction sebenarnya ada dua cara mekanik, di bagian tumpukan lemak terssbut disedot dengan kekuatan sedotan atau mekanik saja, lemak-lemak itu, tentunya setelah dibasahi, lalu dihisap. Jadi yang keluar itu sel-sel lemaknya. Satuan terkecil dari bagian lemak, itu adalah sel. Kalau sel-sel lemak itu keluar, sel itu masih juga bisa dipakai untuk di tempat-tempat lain asal mempunyai syarat-syarat sterilitas, tidak bercampur kuman dan setelah melalui perawatan bisa dimasukkan ke tempat-tempat lain yang kurang. Metode kedua dengan memakai alat ultrasound, lemak itu ditembak. Lemak-lemak tersebut hancur. Jadi tidak lagi dalam bentuk sel lalu baru dihisap juga oleh alat yang sama dengan menggunakan kanul. Alat penyedot. Jadi perbedaannya, kalau lemak dihisap secara mekanik, pembuluh-pembuluh darahnya ikut tersedot, tetapi kalau dengan ultrasound itu hanya pada sel-sel lemaknya saja dan pembuluh-pembuluh darahnya tidak ikut tersedot, sehingga pendarahannya sedikit, sedangkan metode mekanik itu sendiri bisa juga memakai mesin penyedot atau bisa juga dengan pakai tangan. Kemudian yang penting juga diperhatikan adalah masalah anestesia, pembiusan. Anestesia itu bisa lokal bisa pula umum. Yang lokal itu pakai suntikan supaya tidak sakit, yang lokal ini bahayanya kadang-kadang terjadi apabia over dosis obat penghilang rasa sakitnya. Obat itu ada dosis maksimumnya, banyak pasien mati akibat overdosis. Terkadang dokter-dokter tidak menyadari yang terjadi seperti itu. Timbunan lemak itu biasanya luas, misanya timbunan di perut, satu perut itu perlu berapa gram obat anestesi untuk disuntikkan di situ, dan bisa pula melampaui batas dua, tiga kali bahkan empat atau lima kali lipat dosis maksimum. Banyak laporan-laporan kejadian kematian seperti itu. Jadi bukan karena disedot lemaknya tetapi karena anestesinya itu tadi. Di Indonesia ada yang mati, tidak diketahui apa itu karena terjadi seperti ini. Supaya masyarakat juga hati-hati, oleh karena itu jangan asal sedot. Seorang dokter yang berwenang mempertanggungjawabkan semua itu. Misalkan sedot di perut, lemak, otot dan usus. Kalau tidak mengerti dan tidak terlalu memperhatikan anatomi perut, bisa saja alat penyedotnya masuk ke usus, ususnya lubang malah bisa-bisa pasiennya mati.

65) Juding, semacam alat Bantu penunjuk di papan tulis terbuat dari bambu biasa digunakan oleh guru di depan kelas untuk menjelaskan pelajaran kepada murid-muridnya sampai keras-keras bunyinya.

66) Dikenal malapetaka limabelas Januari. Kerusuhan besar di Jakarta sebagai bentuk operasi khusus pada 15 Januari 1974. Kerusuhan dipicu oleh aksi mahasiswa pimpinan Hariman Siregar saat kunjungan Perdana Menteri Jepang Tanaka. Arsitek opsus itu disebut-sebut Ali Murtopo untuk menjatuhkan Pangkopkamtib Sumitro. (Lihat Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jenderal Sumitro dan Peristiwa 15 Januari 1974, Sinar Harapan: 1998).

67) Nama kecil penyanyi Gombloh.

68) Maumere terletak di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Bencana tsunami menyerang kawasan itu pada 12 Desember 1992. Menurut catatan, akibat musibah itu memakan korban kurang lebih 2.000 jiwa dan merusak sekitar 18.000 rumah. Tsunami terjadi akibat gempa bumi berkekuatan 6,6 pada skala Ricter juga menyerbu P. Babi dan Pamana. Bahkan di wilayah tertentu garis pantai bergeser 20 sampai 50 meter ke daratan.

69) Dalam bahasa Indonesia kurang lebih terjemahannya, Keributan Memburu Macan.

70) Diangkat dari novelet Mayon Sutrisno dengan judul yang sama. Novelet ini pernah dimuat di sebuah majalah wanita yang saya lupa namanya. Sepengetahuan saya Mayon Sutrisno sempat bergaul dengan komunitas Bengkel Teater Rendra dan memprosakan sebuah drama garapan si burung merak itu. Uniknya, ada semangat yang serupa terkandung dalam novelet Nyai Adipati, drama Perampok rendra dan Bumi Manusianya Pramudya Ananta Toer. Memang meski tak sekuat Pramudya, Mayon Sutrisno cukup dikenal sebagai penulis yang konsisten mengankat tema-tema nasionalisme. Diantara tulisannya yang lain adalah beberapa buku tentang biografi Bung Karno.

71) Kependekan dari Europese Lagere School. Sebutan untuk sekolah dasar Eropa.

72) Kurang lebih artinya sebuah pesan agar manusia senantiasa berlapang dada menerima takdir dari yang kuasa, seperti keluasan laut.

73) Manusia diciptakan mulia dan paling sempurna oleh Sang Pencipta.

74) Nama popular RSUD Dr Soetomo Surabaya, karena letaknya yang berada di tengah kampung Karangmenjangan. Uniknya, di salah satu emplasemen rumah sakit ini, beberapa ekor menjangan memang sengaja dipelihara di sana.

75) Zat pengawet yang biasa untuk mengawetkan mayat di kamar mayat rumah sakit. Zat ini pula yang sering dicampur pada makanan tertentu agar cukup tahan lama.

76) Pusat Perhimpunan Persahabatan Indonesia Amerika.

77) Dari Max Havelar karya Multatuli hal 297. Penerbit Djambatan, cetakan ketujuh, 1991.

78) Ketika cerita ini ditulis, sedang marak pelbagai kasus kengerian berita Koran, diantaranya kasus penggusuran di Kedungombo, rencana pembangunan Waduk di Nipah dan terbunuhnya buruh wanita Marsinah.

79) Sajak Impian dalam Trem, karya Arief B Prasetyo. Selanjutnya dikumpulkan dalam Kami di Depan Republik oleh Kelompok Seni Rupa Bermain.

80) Serakah.

81) Dari Aku Tulis Pamflet Ini dalam Rendra, Potret Pembangunan dalam Puisi. Lembaga Studi Pembangunan. 1980.

82) Sajak Satu karya Sutardji Calzoum Bachri, dalam O, Amuk, Kapak, Sinar Harapan 1981.

83) Singkatan deoxyribonucleic acid yakni asam deoksiribonukleat, dasar molekul kromosom yang berdiri sebagai salah satu prestasi terbesar ilmu abad 20. Sebagaimana diuraikan James Watson dan Francis Crick untuk memahami mekanisme molekul keturunan secara tepat.[]

TENTANG PENGARANG
S. JAI. Selepas lulus dari jurusan Sastra Indonesia, saat masih bernaung di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga, ia memilih menjadi seorang ?pengembara.? Ia lahir di Kediri, 4 Pebruari 1972. Menurut Penanggalan Islam-Jawa, mustinya ia tercatat lahir pada Ahad Kliwon (4 Pebruari 1973) melalui tangan trampil seorang dukun bayi di dekat lereng gunung Kelud. ?Aku tak mau umurku dicuri biarpun hanya sedetik, apalagi setahun,? demikian ungkap putra pasangan Ali Bin Tamsir, tukang kebun sebuah perusahaan peninggalan Hindia Belanda dan Markonah bekas bunga desa yang buta huruf. Ketika beranjak dewasa, berbekal rasa percaya diri yang tinggi dan bermaksud memecahkan problem ekonomi orangtuanya, ia menempuh pendidikan SMEA. Tiga tahun kemudian berhasil mengantongi nilai ujian ?nyaris sempurna.? Walhasil, saat itu pula pandangannya tentang ekonomi berubah?sekaligus pemecahan?bahwa ekonomi bukanlah sebuah masalah. Karena itu, tahun 1991 mengembara ke Surabaya untuk memperdalam sastra dan budaya hingga menyelesaikan studinya tujuh tahun lamanya. Tujuh tahun pula bergaul dengan sejumlah komunitas seniman Bengkel Muda Surabaya (BMS), Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB), Teater Puska, Teater Gapus, Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP). Sempat bertandang ke banyak komunitas diantaranya Teater Garasi Judi Ahmad Tajudin, Teater Populer Teguh Karya, Bengkel Teater Rendra. Bermula dari bermain drama, terlibat penggarapan sejumlah lakon baik sebagai actor, penulis maupun stradara. Diantaranya, Nyai Adipati, Jalan Tembakau, Samadi, Alibi, Caligula. Pernah mengikuti Pertemuan Teater Indonesia tahun 1993 di Surakarta. Di awal gerakan reformasi, tahun 1994 terlibat kegiatan Malam Seni Luar Biasa di Dewan Kesenian Surabaya memperingati 100 hari pembredelan Tempo, Editor, Detik bersama seniman dari Surabaya, Gresik, Blitar, Solo dan Yogyakarta. Tahun 1995 bersama KSRB menerbitkan antologi puisi dan cerpen Kami di Depan Republik dibacakan di STSI Denpasar sebagai katalog Seni Rupa Layanan. Dengan disertai pertunjukkan drama Kopi Pahit Pak Su, yang ditulis dan disutradarainya sendiri. Selaku kontributor gagasan Seni Rupa Peristiwa, tahun 1998 esainya termaktub dalam catalog Istighotsah Tanah Garam, penyerta ritual tanah di lokasi rencana pembangunan waduk Nipah di Sampang Madura. Berlanjut dialog dengan anggota DPRD Jatim bekerjasama dengan LBH Surabaya. Kemudian tahun 1999 sebagai kontributor gagasan gerakan budaya Wayang Kentrung Tiji Tibeh kerjasama dengan The Japan Foundation. Selain esainya termaktub pada katalog, juga selaku sutradara bersama Saiful Hadjar, Harman Sumarta, Amir Kiah, dan dramawan Akhudiat. Di lapangan sastra, cerita pendek pertamanya priyayi dimuat di koran Surya yang kemudian memberinya kesempatan untuk bekerja sebagai jurnalis selama beberapa tahun. Sastra digelutinya setelah meninggalkan kegiatan jurnalistiknya. Berturut-turut ia melahirkan sejumlah novel. Novel pertamanya Tanah Api diterbitkan LkiS Yogyakarta 2005. Sebuah novel yang diilhami dan menggali spirit mitos Cerita Panji berjudul Tanha kini tengah dalam persiapan penerbitan. Selain beberapa karyanya yang bisa dibaca di pelbagai situs internet. Sementara novelnya yang lain Gurah , semula sebagian fragmennya dimuat bersambung di harian sore Surabaya Post dari Pebruari hingga Mei 2005 di bawah judul Tak Sempat Dikubur. Pada Agustus 2004 mendirikan Komunitas Teater Keluarga. Komunitas ini bermula dari kegelisahan di pinggiran Jalan Airlangga yang berlanjut kehendak mempertemukan setiap lalu lintas ide dalam satu simpul?untuk mengejawantahkannya. Di sekitar Jalan Airlangga, tepatnya depan kampus Universitas Airlangga Surabaya berhumbalang gagasan-gagasan dari sekelompok intelektual muda yang mampir di kedai-kedai kopi. Sejak dari penyair, wartawan, pengarang, penganggur hingga yang masih menyandang status mahasiswa. ?Jabang bayi? Komunitas Teater Keluarga lahir di kedai kopi yang terbuka di trotoar jalan itu. Agustus 2004, tercetuslah nama Kelompok Intelektual Asal Lingkungan Jalan Airlangga disingkat Keluarga. Puncak-puncak pencapaian kepenyairan kala itu, kian membuat timpang untuk jagad teater dan prosa. Inilah awal Komunitas Teater Keluarga menggagas teater monolog Alibi yang ditulis dan disutradarainya sendiri. Alibi digagas dalam bentuk ?Gerakan Seni Budaya Mengelola Spirit Neo-Primitif: Sebuah Konsep Gagasan Teater Tutur? tepat pada 6 November 2004 di Fakultas Sastra Universitas Airlangga. Sederet penggagas utama S. Jai, F Aziz Manna, Widi Asyaari. Kemudian sejumlah nama turut memberi kontribusi Mashuri, Indra Tjahjadi, Putera Manuaba, Zeus NUman Anggara, Listiyono Santoso, Adi Setidjowati. Dalam proses berikutnya, tentu saja makin membludak intelektual-intelektual yang berasa berasal dari lingkungan jalan Airlangga. Boleh mahasiswa, sarjana (muda, karena fresh graduate) atau pengajar. Bahkan tak sedikit komunitas yang tumbuh berkembang untuk bertemu di simpul yang sama. Naskah Pantai yang ditulis Zeus NUman Anggara juga digagas untuk pentas di tempat ini. Berikutnya, pada 25 Oktober 2008 teater masih dipercaya sebagai kendara menuju ujung terjauh temali kekeluargaan: Racun Tembakau adaptasi dari On the Harmful Effects of Tobacco, Anton Chekov yang menggunakan konsep ?Estetika Realisme – Primitif, Testimoni, dan Pengutuhan Kualitas Hidup.? Adaptasi dan penyutradaraan masih dikerjakannya sendiri. Sementara katalog dikerjakan bersama mantan aktivis Sardiyoko, Siti Nurjanah, Indra Tjahyadi, Diana Ahmad. Dipentaskan di sejumlah kampus di Malang, Surabaya dan Bangkalan. Menulis naskah dan menyutradarai pembuatan film dokumenter Pita Buta, tentang alur dana bagi hasil cukai tembakau di Kediri. Selain itu juga menulis esai di pelbagai media massa dan gagasan kesenian dan kebudayaan mulai dari prosa, puisi, drama, film yang hendak dikumpulkan di bawah Kumpulan Konsep Kebudayaan . Sedikit dari cerita-cerita pendeknya yang terkumpul ini sebelumnya tersimpan dalam bentuk manuskrip biasa di bawah judul Sepotong Cinta dan Senyum Rupiah. Serta tengah mengupayakan catatan pekerjaannya untuk diterbitkan di bawah judul Berbagi Nikotin (Inspirasi di Balik Hisap Menghisap Tembakau) Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehari-harinya ayah dari Raushan Damir, Khasyful Kanzan Makhfi dan Zahra Ulayya Mahjati ini kini bekerja selaku Head of Arts and Cultural Outreach, The Center for Religious and Community Studies (CeRCS) Surabaya. Sebuah lembaga pemberdayaan yang bergerak di bidang pendampingan, pendidikan alternatif dan penelitian masalah-masalah agama dan kemasyarakatan. Email: jaitanha@yahoo.co.id No HP 081-335-682-158. []

Istilah pencarian yang masuk: