Regionalisme Sastra Indonesia

Sudarmoko *
cetak.kompas.com

Pembicaraan mengenai regionalisme sastra dapat ditemui secara implisit dalam sejumlah kritik sastra Indonesia. Nilai positif dari pembicaraan ini memberikan kemungkinan baru dalam melakukan kajian terhadap sastra Indonesia. Untuk beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, baik secara tematik maupun geografis, sebenarnya tema seperti ini menjadi lokus-lokus yang dapat dirangkai menjadi kajian yang komprehensif atau setidaknya sebagian besar peluang penelitian atau penulisan kritik sastra Indonesia dapat diidentifikasi. Continue reading “Regionalisme Sastra Indonesia”

Menyoal Isu Lokal Dalam Karya Sastra

Herdiyan
http://pr.qiandra.net.id/

SASTRAWAN besar nusantara, Ahmad Tohari menilai bahwa dalam menghasilkan suatu karya, para penulis (sastrawan) muda Indonesia saat ini tampaknya tidak terlalu meminati tema-tema yang berwarna lokal, yang mencirikhaskan budaya daerah tertentu. Kepekaan mereka terhadap isu-isu lokal mungkin sangat rendah, karena nilai-nilai lokal yang ada dalam frame berpikir mereka sudah demikian terkikis oleh pengaruh globalisasi dan modernisasi produksi luar negeri. Continue reading “Menyoal Isu Lokal Dalam Karya Sastra”

Sastra Malin Kundang, Sastra Kontekstual, Sastra…

Damanhuri
lampungpost.com

MEREPETISI atau bahkan replika gagasan tampaknya masih menjadi salah satu ciri tabiat buruk yang terus dipelihara sebagian anak bangsa ini. Pengulangan gagasan itu menjadi kian menyedihkan jika pelakunya justru mereka yang selama ini dikenal sebagai orang-orang yang menyibukkan diri dan memungut takdir hidupnya, dalam dunia kreatif-penciptaan. Padahal siapa pun tahu, repetisi adalah cacat dalam proses kreatif. Continue reading “Sastra Malin Kundang, Sastra Kontekstual, Sastra…”

Tempat Domisili Seorang Sastrawan

Beni Setia
suarakarya-online.com

Salah satu gema polemik yang tertinggal dari gairah berkesusastraan pada dekade 80-an kemarin adalah gagasan sastra kontekstual. Secara konsepsi gagasan sastra kontekstual ini menekankan pentingnya kesadaran seorang sastrawan, yang ber-domisili di satu tempat yang kongkrit, dan karenanya menyadari situasi sosial-politik dari tempatnya berdomisili, dan lalu meresponnya. Responnya itu bisa bermakna menandai ketidakadilan sosial, struktural atau nonstruktural, menandai pelaku-pelakunya, dan melakukan penandaan deskriptif dan/atau pemihakan dengan meluncurkan teks kritik atau teks emansipatorik. Continue reading “Tempat Domisili Seorang Sastrawan”

Bahasa ยป