JURNALIS JAWA DALAM PARIKSIT GOENAWAN MUHAMAD

Sofiatun
http://esaisastrakita.blogspot.co.id

Sebuah sajak ditulis dengan berbagai alasan, terutama karena dengan sajak seseorang bisa mengungkapkan sesuatu yang ada dalam hati dan kepalanya sekaligus juga menyembunyikan sesuatu di dalamnya. Sajak adalah sesuatu yang ambigu, yang penuh simbol, yang dalam dirinya terdapat kehendak menyampaikan sesuatu sekaligus menyembunyikan sesuatu. Menulis sajak merupakan sebuah perjuangan yang berat sekaligus menyenangkan bagi penulisnya sebab di situ terjadi pergolakan, pertentangan, kerja keras intelektual, dan tentu saja bukan merupakan hal main-main. Continue reading “JURNALIS JAWA DALAM PARIKSIT GOENAWAN MUHAMAD”

Setelah Menara Babel

Goenawan Mohamad *
Majalah Tempo, 10 Mar 2014

Saya pernah mendengar seorang penyair bahasa daerah membaca puisinya dengan menarik dan kocak, dan kemudian mengatakan, “Bahasa Indonesia adalah bahasa imperialis.”

Saya tak tahu adakah ironi dalam ucapannya. Tapi, kalau tidak, ia lupa bahwa tiap bahasa-juga bahasa daerahnya-punya kemungkinan mendesak bahasa lain. Yang disebut bahasa “Sunda”, misalnya, atau “Jawa”, dapat dilihat sebagai bahasa yang dikonsolidasikan, dan sebagai akibatnya meminggirkan bahasa yang tak diakui sebagai “Sunda” atau “Jawa” yang “baik dan benar”. Continue reading “Setelah Menara Babel”

Goenawan Mohamad: “MANIKEBU TIDAK RELEVAN LAGI”

A. Kurnia
http://komunitassastra.wordpress.com

Di bawah ini adalah petikan wawancara tertulis yang saya lakukan dengan Goenawan Mohamad, yang jawabannya saya terima pada tanggal 25 Agustus 2007 lalu. Rencananya akan saya gunakan sebagai bahan tesis saya, akan tetapi petikan wawancara ini saya kira bemanfaat untuk dibaca, mengingat debat ramai di beberapa mailing list di internet akhir-akhir ini. Continue reading “Goenawan Mohamad: “MANIKEBU TIDAK RELEVAN LAGI””

11/9

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

SAYA melihat New York 11 September 2001. Sampai lewat tengah malam, yang mengepung adalah suasana murung dan cemas, berkabung dan waswas. Orang di pelbagai penjuru terperanjat. Dunia tersentuh: me-reka ingin menemani kota itu, bersama ribuan kandil yang dinyalakan di sudut-sudut jalan, seakan-akan mau ikut mencari mereka yang tak pulang dari puing. Continue reading “11/9”