Tag Archives: Goenawan Mohamad

Setelah Menara Babel

Goenawan Mohamad *
Majalah Tempo, 10 Mar 2014

Saya pernah mendengar seorang penyair bahasa daerah membaca puisinya dengan menarik dan kocak, dan kemudian mengatakan, “Bahasa Indonesia adalah bahasa imperialis.”

Saya tak tahu adakah ironi dalam ucapannya. Tapi, kalau tidak, ia lupa bahwa tiap bahasa-juga bahasa daerahnya-punya kemungkinan mendesak bahasa lain. Yang disebut bahasa “Sunda”, misalnya, atau “Jawa”, dapat dilihat sebagai bahasa yang dikonsolidasikan, dan sebagai akibatnya meminggirkan bahasa yang tak diakui sebagai “Sunda” atau “Jawa” yang “baik dan benar”.

SERIBU SLOGAN DAN SEBUAH PUISI

Goenawan Mohamad
shareforgoodpeople.blogspot.com

Maka sebuah slogan pun menjadi sajak perkasa
Karena kenyataan yang hidup dicerminkannya.

Feng Chih, dari Shih-nein Shih Ch’ao,
Peking, 1959.

Slogan telah bersaing engan puisi. Persaingan ini barangkali merupakan salah satu ciri kesusastraan abad keduapuluh, sebuah “abad politik”.

Goenawan Mohamad: “MANIKEBU TIDAK RELEVAN LAGI”

A. Kurnia
http://komunitassastra.wordpress.com

Di bawah ini adalah petikan wawancara tertulis yang saya lakukan dengan Goenawan Mohamad, yang jawabannya saya terima pada tanggal 25 Agustus 2007 lalu. Rencananya akan saya gunakan sebagai bahan tesis saya, akan tetapi petikan wawancara ini saya kira bemanfaat untuk dibaca, mengingat debat ramai di beberapa mailing list di internet akhir-akhir ini.

11/9

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

SAYA melihat New York 11 September 2001. Sampai lewat tengah malam, yang mengepung adalah suasana murung dan cemas, berkabung dan waswas. Orang di pelbagai penjuru terperanjat. Dunia tersentuh: me-reka ingin menemani kota itu, bersama ribuan kandil yang dinyalakan di sudut-sudut jalan, seakan-akan mau ikut mencari mereka yang tak pulang dari puing.

Havel

Goenawan Mohamad
http://www.tempo.co/

Sastrawan Cekoslovakia (lahir 1936, wafat 2011), Presiden Republik Cekoslovakia (1989-1992), Presiden Republik Cek (1993-2003)

Havel adalah saksi yang langka. Padanya puisi dan kekuasaan bisa bertaut sebentar di abad politik yang gemuruh, abad ke-20. Ya, sebentar—jauh lebih ringkas ketimbang umurnya yang berakhir pekan lalu, pada tahun ke-75.