Ziarah Imajinasi: Kata dan Kota

Bandung Mawardi*
http://www.lampungpost.com/

Kata mengantarkan manusia untuk menciptakan, menemukan, menghancurkan, atau membunuh kota. Drijarkara (1956) mengingatkan, kota itu kata dan ruang yang mengandung kengerian dan risiko.

Kota sebagai kata memang memberi utopia dan janji indah tapi melenakan dan melengahkan. Kota sebagai ruang hidup adalah ruang kompetisi, konfrontasi, dan konflik. Kota dalam kisah dan deskripsi itu lahir dengan narasi kata dan kekuatan imajinasi. Kota itu hidup dan mati karena imajinasi dalam suatu konstruksi teks. Drijarkara menulis arti kota dengan referensi fakta kota-kota di Indonesia. Continue reading “Ziarah Imajinasi: Kata dan Kota”

Pesta Puisi, Silaturahmi Antargenerasi

Dari Gelar ”Percakapan Lilin” RDP

Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

PENYAIR Riki Dhamparan Putra (RDP) telah meluncurkan buku kumpulan puisi pertamanya yang bertajuk “Percakapan Lilin” (LP) di Danes Art Veranda, Jl. Hayam Wuruk, Tanjung Bungkak Denpasar, pada Minggu (15/8) lalu. Berbagai kalangan hadir dalam peluncuran buku puisi penyair muda yang memang memiliki pergaulan luas itu. Tak hanya kalangan sastrawan, juga perupa, mahasiswa, sampai para aktivis LSM. Continue reading “Pesta Puisi, Silaturahmi Antargenerasi”

Ketika Sandal Dimerdekakan

Membaca Sajak-Sajak Okky Sanjaya

Budi P. Hatees
http://www.lampungpost.com/

Sandal bisa menjadi apa saja yang pembaca inginkan. Okky Sanjaya memanfaatkan kekuasaan akan kemerdekaan personal untuk membebaskan sandal dari kungkungan makna.

SANDAL di tangan kapitalis bermetamorfosis; metamorfosis yang mirip idiom sandal dalam sejumlah sajak dalam manuskrip Belajar Memasak Sajak. Manuskrip ini berisi sajak-sajak Okky Sanjaya yang muncul di sejumlah media cetak di Lampung maupun luar provinsi; lahir dari proses panjang kepenyairannya sejak masih di SMA. Continue reading “Ketika Sandal Dimerdekakan”

Kalau Evi Bahagia Dipoligami, “Lha mbok Biarin Aja..”

Abdul Wachid B.S.
http://www.kr.co.id

MEMBACA buku cerpen Mahar karya Evi Idawati, ada hal yang menjadi perhatian saya. Dari gaya penceritaan, ekspresi bahasa secara umum, cerpen Evi tidak menunjukkan kebaruan. Tidak serevolusioner cerpen Joni Ariadinata yang mendobrak struktur kalimat menjadi frase-frase demi merebut ekspresi dan aksentuasi pikiran dan peristiwa agar selaras dengan emosi peristiwa yang dibangun. Memang, kelebihan cerpen Joni membangun miniatur ‘dunia’ dengan cara memilih peristiwa paling penting saja. Continue reading “Kalau Evi Bahagia Dipoligami, “Lha mbok Biarin Aja..””

Kepekatan Malam Tak Berujung

Kavellania Nona Pamela

Salah satu coffe shop di bilangan Kemang begitu ramai. Maklum saja ini malam Minggu sehingga lumayan banyak pengunjung yang datang. Pada salah satu sudut ruangan Amara hanya duduk sendirian, sibuk berinternet dengan laptop. Biasanya jika malam Minggu seperti ini Reihan selalu datang dari Purwekerto ke Jakarta untuk menemaninya menghabiskan malam minggu. Tiga bulan yang lalu Reihan disuruh memegang bisnis keluarganya, maka dari itu Reihan yang tadinya tinggal di Jakarta dan satu kantor dengan Amara, pindah ke Purwekerto. Continue reading “Kepekatan Malam Tak Berujung”

Bahasa ยป