http://www.pikiran-rakyat.com/
Lelaki Berambut Kusut
— daeng liwang
aku menemuimu lagi di sini
di antara lipatanlipatan hari
dan kalender yang tanggal
kita pernah saling tahu
rasanya sulit; Continue reading “Sajak-Sajak Mutia Sukma”
http://www.pikiran-rakyat.com/
Lelaki Berambut Kusut
— daeng liwang
aku menemuimu lagi di sini
di antara lipatanlipatan hari
dan kalender yang tanggal
kita pernah saling tahu
rasanya sulit; Continue reading “Sajak-Sajak Mutia Sukma”
http://www.pikiran-rakyat.com/
Tentang Inlander
:Juftazani
juf, inlander itu masih bermimpi
bahwa esok pagi selepas kematian matahari
akan tiba rombongan ababil
mengepung lumbung-lumbung keputusasaan
melempar batu-batu api kecemasan
dan jiwa-jiwa terbakar
habis sudah roh yang berjalan kelam Continue reading “Sajak-Sajak Jafar Fakhrurozi”
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=328
Puisi bertitel Kepada Tanah Jawa, bukti Rabindranath Tagore (7 Mei 1861 – 7 Agus 1941) pada tahun 1927, di usianya ke 66, selepas jauh mendapatkan Nobel Sastra 1913, dirinya berada di bencah tanah Jawa.
Halaman 357, tepatnya sub judul, Hubungan Kita dengan Rabindranath Tagore. Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya, bagian II A: Kebudayaan (terbitan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1967), berkata, bahwa pada tahun 1927, Sang Pujangga Rabindranath Tagore berkunjung ke perguruan Mataram Jogjakarya. Continue reading “1927, Tagore dan Pablo Neruda bertemu di Jawa”
Agus R Sarjono *
newspaper.pikiran-rakyat.com
SUASANA hening dan mencekam–hingga jika saat itu ada jarum jatuh, dentingnya akan nyaring terdengar– saat Rendra membacakan sajaknya “Khotbah”, di Festival Puisi Internasional, Rotterdam. Usai pembacaan, ruang meledak oleh gemuruh tepuk tangan. “Bravo!” ucap seseorang dari barisan penonton, sambil menghampiri Rendra dan memeluknya erat di hadapan para hadirin. Orang itu bernama Pablo Neruda. Continue reading “Pilar Kesadaran Rendra”
Damhuri Muhammad*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/
BAGAIMANA semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah “ditakdirkan” untuk mencari kepuasan di ranah kesenian, dan oleh karena itu, para penyair seyogianya menjauh dari zona kesadaran politik. Agar lelaku kepenyairan tetap terjaga, tidak terkontaminasi efek kuasa politik yang sejak dari perkembangan yang paling purba telah dianggap ancaman laten. Continue reading “Kesadaran Puitis & Politik”