Mono

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Pada suatu hari di abad ke-7, dua orang Madinah bertengkar. Yang satu Muslim dan yang satu lagi Yahudi. Yang pertama mengunggulkan Muhammad SAW ?atas sekalian alam?. Yang kedua meng?unggulkan Musa. Tak sabar, orang Muslim itu menjotos muka Si Yahudi. Continue reading “Mono”

Api, Laut

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Bung Karno jadi presiden dalam usia 44. Soeharto memimpin gerilya ke Kota Yogya dalam umur 26. Ali Sadikin jadi gubernur ketika ia 39 tahun.

Apa yang menyebabkan keadaan seperti itu kini tak terjadi lagi? Kenapa kini, pada awal abad ke-21 ini, sejumlah orang harus berteriak, seakan-akan mendesakkan yang tak lumrah, memberitakan yang tak lazim, bahwa mereka yang masih muda bisa jadi pemimpin? Continue reading “Api, Laut”

Cebolang

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

TEATER itu bernama Slamet Gundono. Dengan tubuh 300 kilogram lebih ia tetap bisa bergerak ritmis seperti penari. Suaranya mengalun, bisa gagah bisa sayu, terkadang dramatik terkadang kocak, sebagaimana laiknya seorang dalang. Tapi ia lebih dari itu. Di pentas itu ia juga seorang aktor penuh. Dialog diucapkannya dengan diksi yang menggugah dan pause yang pas. Ia bisa membawakan lagu, ia bisa menggubah lagu dengan cepat, seraya memelesetkan melodi, tapi pada saatnya, ekspresinya bisa tangis. Continue reading “Cebolang”

Darwin

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Darwin, lelaki pemalu itu, tak ingin membunuh Tuhan. Ini agaknya yang sering dilupakan orang sampai hari ini, ketika dunia memperingati 200 tahun hari lahirnya, 12 Februari.

Menjelang akhir hidupnya, ia hanya mengatakan bahwa ia ?harus puas untuk tetap jadi seorang agnostik.? Teori evolusinya yang mengguncangkan dunia pada akhirnya bukanlah penerang segala hal. Ketika ditanya mengapa manusia percaya kepada Tuhan, Darwin hanya mengata?kan, ?Misteri tentang awal dari semua hal tak dapat kita pecahkan.? Continue reading “Darwin”

Jassin

Goenawan Mohamad
tempointeraktif.com

KADANG-KADANG sebuah peruntungan ditentukan oleh sebuah kitab kecil. Setidaknya ada sebuah risalah yang pernah ikut berpengaruh dalam satu tahapan hidup saya.

Ketika saya berumur sekitar t8 tahun, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Fakultas Psikologi, sebuah cabang baru dari Universitas Indonesia. Bukan saya bercita-cita menjadi seorang psikolog waktu itu saya bahkan tak tahu jelas apa gerangan “psikolog” itu. Saya memilih pendidikan tinggi itu karena di sana, saya dengar, diajarkan tiga hal: psikologi, filsafat, dan sosiologi. Di fakultas lain tidak. Continue reading “Jassin”

Bahasa ยป