Kota-kota Kecil Penyanggah Kota Kecil

Raudal Tanjung Banua *
jawapos.com

KARYA seni adalah persimpangan jalan, tulis Milan Kundera1, saat ia kubaca dalam perjalanan. Bahuku terguncang karena batu dan lubang jalanan, tapi kuteruskan membaca, menyusuri sebuah pikiran. Jumlah jalan yang bertemu, lanjut Kundera, akan menentukan mutu seninya. Aku berpikir, jika kota dapat dikatakan sebagai karya seni, jalanan seperti apakah gerangan yang akan menentukan mutu sebuah kota? Continue reading “Kota-kota Kecil Penyanggah Kota Kecil”

Melankolia, Seusai Neruda

Pringadi AS
http://reinvandiritto.blogspot.com/

I.
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap

Saya masih saja menatap ke dinding, ke jam dinding. Menatap jarumnya yang terus bergerak menghitung detiknya sendiri ? detik yang entah kapan akan berhenti di kematiannya. Tapi, saya sama sekali tidak sedang memikirkan kematian. Saya malah sedang berpikir bagaimana caranya hidup, caranya bertahan hidup. Continue reading “Melankolia, Seusai Neruda”

Tarot

Sunlie Thomas Alexander
Koran Tempo, 13 Juni 2009 dan Suara Merdeka

Five of Cups

KAU tahu, setiap orang pasti menginginkan nasibnya selalu bagus…

Tetapi bukankah tidak setiap kartu yang kaubuka bakal menunjukkan hal yang baik? Karena itu, agak tersendat kau menjelaskan makna kartu-kartu itu kepadanya, juga hubungan antara kartu yang satu dengan kartu lain. Kau berusaha menekan suaramu agar terdengar lebih lembut dan bersimpati, tentunya sembari memilih kalimat yang sebijak mungkin. Tak mudah memang mencari kata-kata yang tepat. Kau melihat wajahnya sedikit tegang memperhatikan gambar-gambar pada deretan kartu yang terpampang di hadapannya, kedua matanya agak melotot. Continue reading “Tarot”

Tatapan Mata Anjing Itu

Imam Muhtarom *
suaramerdeka.com

AKU sangat berharap lelaki itu datang tepat ketika aku sudah duduk di kursiku. Lelaki itu sangat kubenci. Perawakannya yang menyebalkan seperti merasuk dalam benakku. Kami ingin memukulnya saja bila ada kesempatan. Tetapi sulit sekali kesempatan itu datang. Justru lelaki itu yang sesungguhnya memiliki kesempatan untuk membuat diriku terpelanting dari dudukku selama ini. Lelaki itu bisa saja mengambil alasan bahwa aku tidak becus bekerja dengan bukti-bukti yang selama ini kulakukan. Aku selalu waswas dengan pikiranku selama ini. Continue reading “Tatapan Mata Anjing Itu”

Bahasa »