Peranan Balai Pustaka dalam Perkembangan Bahasa Indonesia *

Nur St. Iskandar

“Bahasa menunjukkan bangsa,” kata pepatah kita. Meskipun arti kiasannya yang sebenarnya: “Budi-bahasa yang halus alamat orang baik dan tutur-kata yang tak senonoh menunjukkan asal bukan orang bangsawan, bukan orang yang berbangsa baik,” akan tetapi dalam uraian pembuka kata ini, saya ambil maknanya yang umum, yaitu makna sepatah-patah kata itu. Jadi kita sekalian berbahasa Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa kita bangsa Indonesia, orang Indonesia sejati, walaupun asal-usul kita menurut daerah kelahiran kita masing-masing boleh dikatakan berlain-lain, berbeda-beda jua. Dan bahasa daerah itu pun berlain-lain dan berbeda-beda pula. Continue reading “Peranan Balai Pustaka dalam Perkembangan Bahasa Indonesia *”

Membuat  Sajak Melihat Lukisan

Chairil Anwar

Sajak terbentuk dari kata-kata, seperti juga sebuah lukisan dari cat dan sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung dan sebagainya. Tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika melihat suatu lukisan atau sebuah patung, tidak akan menganggap kualitas cat dan kain atau batu pualam sebagai soal yang penting, soal yang pokok. Bukanlah bahan-bahan yang dipakai yang penting, yang penting adalah hasil yang dicapai. Continue reading “Membuat  Sajak Melihat Lukisan”

APAKAH SEBUAH PUISI YANG INDAH SELALU MUDAH “DIPAHAMI”?

Ahmad Yulden Erwin

Apa yang dimaksud puisi kompleks, puisi sederhana, dan puisi gelap? Di Indonesia, puisi sering dimaknai kompleks atau sederhana terkait soal ekspresi bahasanya. Puisi sederhana cenderung menggunakan kalimat sederhana, parole, diksi sehari-hari atau diksi yang umum digunakan, serta metafora atau simbol sederhana. Sedangkan puisi kompleks cenderung menggunakan kalimat luas atau permainan sintaksis, abstraksi atau pemadatan makna, diksi-diksi khusus, serta metafora dan atau simbol yang kompleks. Sebenarnya, kedua ekspresi bahasa itu bukanlah ukuran dari estetik atau tidak estetiknya satu puisi yang bernilai sastra, tetapi tergantung pada kemampuan penyair untuk membangun komposisi puitik (ketepatan linguistik, kedalaman tematik, gita-puitik, lukisan-puitik, serta inovasi puitik) secara tepat, sehingga puisi itu menjadi indah secara estetika dan bermakna. Continue reading “APAKAH SEBUAH PUISI YANG INDAH SELALU MUDAH “DIPAHAMI”?”