Hidup Matinya Sastra Indonesia di Tangan Redaktur

Abdul Wachid BS
http://www.kr.co.id/

MATINYA kritik sastra, yang pasti disebabkan oleh tidak adanya karya sastra yang layak untuk dijadikan pembicaraan kritik sastra.

Memang, banyak faktor lain sebagai penyebabnya, antara lain (1) minat baca sastra dari masyarakat yang rendah, (3) persepsi yang salah bahwa karya sastra hanyalah produk khayalan, klangenan, dan karenanya tidak layak sebagai bagian dari sumber untuk keilmuan interdisipliner. Tidak seperti halnya di negara-negara yang sudah pesat perkembangan keilmuannya, yang memposisikan karya sastra sebagai bagian dari inspirasi keilmuan interdisipliner. Baca selengkapnya “Hidup Matinya Sastra Indonesia di Tangan Redaktur”

Cerita Kecil tentang Pohon dan Belukar Masa Kecilku

Raudal Tanjung Banua
http://www.korantempo.com/

CERITA ini bermula ketika aku berangkat ke suatu tempat, dan dari kaca bus yang terbuka kulihat sebatang pohon menyendiri di tengah keluasan padang. Pemandangan sekilas itu, entah mengapa, seketika membawa bus yang kutumpangi seakan berjalan ke belakang, melewati pohon-pohon dan belukar masa kecilku. Masa ketika mataku masih setengah terpejam, belum banyak melihat apa yang ada di balik tempurung kampung. Ketika kini sengaja kubuka mata, aku justru terhantar ke sebatang pohon kayu putih di keluasan padang gembala, di mana diriku dan kawan-kawan penggembala terasa kekal di sana. Baca selengkapnya “Cerita Kecil tentang Pohon dan Belukar Masa Kecilku”

Sastra Kutu

Cunong N. Suraja
http://oase.kompas.com/

Ungkapan mati kutu, kutu kupret, kutu buku, dan kutu-kutu yang lain menarik perhatian untuk dianalisa mulai dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kutu yang dikatakan sebagai ?Kutu mengacu pada berbagai artropoda berukuran kecil hingga sangat kecil. Nama ini dipakai untuk sejumlah krustasea air kecil (seperti kutu air), serangga (seperti kutu kepala dan kutu daun), serta ? secara salah kaprah ? berbagai anggota Acarina (tungau dan caplak, yang berkerabat lebih dekat dengan laba-laba daripada serangga). Semua disebut “kutu” karena ukurannya yang kecil. Dengan demikian, pengertian awam istilah ini tidak memiliki arti taksonomi. Baca selengkapnya “Sastra Kutu”

Sastra Kini dan Esok

Gendhotwukir*
http://oase.kompas.com/

Sastra hari ini sepertinya sedang merayakan kemerdekaannya. Teks sastra entah dalam bentuk puisi, cerpen ataupun esai kini menemukan sebuah ruang publikasi baru yang cepat dan tidak perlu menunggu waktu berhari-hari karena sikap ketat redaktur sastra media cetak mengingat terbatasnya halaman untuk rubrik tersebut. Sastra cyber kian ramai seiring menjamurnya jejaring sosial di internet seperti milis, friendster, twitter, blogger, multiply dan akhir-akhir ini yang sedang booming yaitu facebook. Baca selengkapnya “Sastra Kini dan Esok”

Menyoal “Keberadaan” Kritik(us) Sastra

Nelson Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

Dalam buku The Sacred Word (Metheun & Co Ltd., New York, 1960) TS Eliot menulis, we might remind ourselves that criticism is an inevitable as breathing. Ya kita selalu menghormati, membutuhkan dan tidak dapat melepaskan diri dari kritik (sastra). Syukurlah, kritik sastra masih terus ditulis, meski memang telah kehilangan legitimasinya.

Legitimasi atau kehidupan kritik(us) sastra, ya, itulah yang kerap membuncahkan jagat sastra Indonesia. Banyak kajian berupa esai atau artikel yang intinya menyiratkan keresahan, kekecewaan dan keprihatinan kita menghadapi degradasi keberadaan kritik(us) sastra. Baca selengkapnya “Menyoal “Keberadaan” Kritik(us) Sastra”