Daya Kata, Darah Kebangkitan

Yudi Latif*
http://cetak.kompas.com/

Perjuangan kebangkitan itu bermula dari tanda. Tanda baru yang menarik garis batas antara masa lalu dan masa depan, tanda baru yang memberi tenaga pada hidup, tanda baru yang memberi orientasi ke arah mana sumber daya harus dikerahkan.

Kata dan bahasa adalah rumah tanda. Karena tidak ada kemungkinan mengada di luar bahasa, kata/bahasa pun menjadi rumah kehidupan. Meminjam Martin Heidegger, ?Language is the house of being.? Continue reading “Daya Kata, Darah Kebangkitan”

Sastra Perut

Cunong N. Suraja
http://oase.kompas.com/

Sastra perut tidak menjurus pada persoalan perut sebagai anatomi fisik. Walaupun Asep Samboja yang telah dibedah perutnya karena ada gangguan jaringan dalam ususnya menujukkan bahwa perut telah menjadi sastra ketika bicara tentang mulut dalam keluarga. Ketika perut dibedah dicari penyebab penghalang daya etos kerja maka terdapat yang namanya sastra tumor karena tidak ganas. Kalau ganas dia akan menjadi kan(g)ker yang berserabut jalur menuju segala ruas dan buku saraf yang akan mematikan “pohon” yang dihinggapinya karena dia murka saat diangkat kepala kankernya. Continue reading “Sastra Perut”

”Menonton” Naskah Lakon Mencari Ruang

Raudal Tanjung Banua
http://www.balipost.co.id/

Sangatlah menggembirakan mendengar kabar terbitnya buku kumpulan drama Mas Ruscita Dewi berjudul ”Rumah Bunga”. Di tengah sepinya minat terhadap naskah drama atau naskah lakon, tentu saja penerbitan buku kumpulan drama ini pantas diacungi jempol. Sebab, dalam hitungan kapital, buku sastra yang diminati saat ini berkisar pada prosa — cerpen dan novel, sedikit puisi, dan minus drama. Continue reading “”Menonton” Naskah Lakon Mencari Ruang”

Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa

Katrin Bandel*
http://beritaseni.wordpress.com/

Akhir tahun 2007 novel Saman karya Ayu Utami diterbitkan dalam terjemahan bahasa Jerman oleh penerbit Horlemann. Tentu saja penerbitan Saman tersebut bukanlah sebuah peristiwa besar, sebab Horlemann hanya penerbit kecil dan nama Ayu Utami hanya dikenal segelintir orang di Jerman. Namun meskipun begitu, peristiwa penerbitan novel itu, seperti hampir setiap penerbitan buku baru, direspon dalam bentuk resensi di beberapa media, dan buku itu diiklankan oleh penerbitnya. Continue reading “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa”