Ucu Agustin
jawapos.com
Tak ada kau di kursi itu, Eter. Gelombang nyanyian dari salon di sudut bar mengubahmu dari ingatan keras kepala menjadi genangan yang mencair di hatiku, kau tahu. Malam jadi beku meski di sini bar boy yang sama, dengan ceria menanyaiku seperti saat dia menawari kita minuman dengan setengah memaksa, waktu itu. San Miguel? Atau mau sari buah? Cranberrie-nya enak lho… Tequila? Sampanye juga kami punya… Namun karena Bloody Mary dan Martini kesukaanmu tak tertulis di daftar menu, maka cognac harum yang tak terlalu berat itu kita biarkan mengalir membanjiri lambung kita yang mungil. Dan, tentu saja, white wine! Continue reading “ETER”
