Politik Teori Sastra di Indonesia

Muhammad Al-Fayyadl

Pendahuluan

SECARA empiris-historis, kritik sastra dipisahkan dari aktivitas politiknya sejak lenyapnya estetika realisme sosialis seiring dilenyapkannya para sastrawan Lekra dari panggung kritik sastra sejak akhir dekade 1960-an. Koinsidensi antara peristiwa politik (politisida 1965) dan peristiwa kritik sastra (separasi antara kritik sastra dan politik) menegaskan kembali, secara paradoksal, ketakterpisahan politik dari dunia sastra dan dunia sastra dari konteks politiknya. Continue reading “Politik Teori Sastra di Indonesia”

Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam

Dami N. Toda

Membicarakan kritik sastra, tidak terlepas dari pengertian peran dan tujuannya terhadap karya sastra. Gayley dan Scott, misalnya menerangkan peran dan tujuan kritik sastra untuk “mencari kesalahan, memuji, menghakimi, membanding-bandingkan dan menikmati”, H.B. Jassin menerangkan tugas kritik sastra “menjembatani dan memberikan penilaian”, I.A. Richards, yang sering disebut sebagai pemula prinsip kritik sastra modern, menerangkan peran dan tujuan kritik sastra untuk “membeda-bedakan pengalaman serta memberikan penilaian sekadarnya terhadap karya sastra”. Continue reading “Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam”

In Memoriam: Magma Sastra di Tangan Prof. A. Teeuw

Rama Prabu *
Kompas, 28 Mei 2012

PROF. A. Teeuw, tak banyak laman maya berbahasa Indonesia bercerita tentang hidup dan kehidupannya. Wikipedia pun hanya menulis Profesor Andries A. Teeuw lahir di Gorinchem, Belanda, 12 Agustus 1921 adalah pakar sastra dan budaya Indonesia asal Belanda. Selebihnya hanya menjelaskan Profesor Teeuw Award dimana Profesor Teeuw Foundation diluncurkan pada tahun 1991 sebagai warisan Program Studi Profesor Teeuw di Indonesia. Continue reading “In Memoriam: Magma Sastra di Tangan Prof. A. Teeuw”

Tujuh Kritik A. Teeuw

MEMBACA DAN MENILAI SASTRA
Oleh: A. Teeuw
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta, 1983,
141 halaman.
Peresensi : Sapardi Djoko Damono
majalah.tempointeraktif.com

BUKU ini merupakan rampai tujuh karangan yang ditulis Prof. Dr. A. Teeuw, antara tahun 1964 dan 1980. Sehingga, “Teeuw yang dalam tahun 1964 menulis mengenai Hang Tuah pasti cukup berbeda orangnya dengan Teeuw yang dalam tahun 1980 menulis tentang Chairil Anwar dan Amir Hamzah,” tulis Teeuw dalam kata pengantar kumpulan karangannya itu. Continue reading “Tujuh Kritik A. Teeuw”