Mudik Primordial

Asarpin

Jutaan orang kini mempertaruhkan hidupnya di kota. Dan jutaan pula yang kembali ke kampung asal ketika menjelang Lebaran. Sebagian besar pulang karena kemauan sendiri, rindu sanak keluarga dan rumah tempat dia dilahirkan. Sebagian karena ada yang diminta oleh keluarganya untuk pulang atau kembali, berkumpul bersama-sama sambil merayakan hari raya Idul Fitri dengan suka cita. Continue reading “Mudik Primordial”

Ruang

Asarpin

Sensibilitas—cara merasa, mengindra dan memaknai sesuatu—berada dalam relasi saling bentuk dengan ruang. Ruang-ruang kota Jakarta misalnya, kerapkali digambarkan dalam konteks ketegangan antara apa yang disebut ”enclave dan access”: yakni antara logika yang memaksimalkan penutupan dan memperlancar akses. Ruang dalam rumah pun demikian. Ketegangan antara ruang yang tertutup dan ruang yang bisa diakses semakin lama semakin rumit, tumpangsusun dalam berbagai paras dan bentuknya, dan akhirnya semakin tak terasa dan tak disadari oleh para penentu kebijakan. Continue reading “Ruang”

Mudik, Balik

Asarpin

Tiada pengembara yang tak merindukan sebuah rumah,
bahkan jika rumahnya hanya ada di balik iklan
yang ia baca di perjalanan.
Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu
yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada
di bingkai foto yang mulai kusam…
–Joko Pinurbo, sajak Tiada (2003) Continue reading “Mudik, Balik”

Tempat, Non-Tempat: Pergulatan Al-Hallaj dan Nietzsche

Asarpin *

Nietzsche adalah al-Hallaj yang diasingkan orang dalam negerinya. Ia lolos dari tangan para mullah, tapi terjerambab ke tangan para dokter!
–Mohammad Iqbal, Javid Namah (Kitab Keabadian), terj.Mohamad Sadikin, Panjimas, 1987, h. 80

Ia seorang sufi, yang dalam riwayat dicatat sebagai yang paling berani, dan karena itu ia dihukum mati. Para periwayat menyebutkan, ia seorang keturunan Persia dari garis kakeknya, tapi tentu saja ia bukan orang Persia tulen, atau orang Arab asli. Ia mungkin seorang hibrid. Tempatnya ada di mana-mana sekaligus tak di mana-mana. Tanah airnya seluas benua. Continue reading “Tempat, Non-Tempat: Pergulatan Al-Hallaj dan Nietzsche”

Bahasa »