Tan Malaka, Potret Ironi Seorang Pejuang

‘Atiqurrahman*
http://www.jawapos.com/

BILA sejarah adalah rentetan tragedi, epilog riwayat Tan Malaka adalah ironi. Demikian kiranya gambaran kehidupan seorang Tan.

Pada 1919 Tan kembali ke Indonesia setelah belajar di Belanda. Mulanya dia menjadi guru, lalu terjun ke arena politik. Pada kongres PKI di Semarang (1921), dia terpilih sebagai pimpinan partai. Dan, sejak itu pergerakannya dipantau pemerintah kolonial hingga berujung penangkapan. Continue reading “Tan Malaka, Potret Ironi Seorang Pejuang”

Menggagas Sastra Bertipikal Madura

Atiqurrahman
http://www.surabayapost.co.id/

Eskapisme kultural tengah melanda susastra Madura. Hal tersebut tampak dari keseragaman eksplorasi karya-karya yang diciptakan. Lacur yang terjadi, sastrawan-sastrawan Madura tak menyadarinya. Timbul tanda tanya: bagaimana nasib susastra Madura selanjutnya?

Marilah simak bersama. Dasawarsa terakhir susastra Madura dijumbuhi karya-karya yang bertipikal pesantren. Kreatornya kebanyakan alumni-alumni pesantren. Continue reading “Menggagas Sastra Bertipikal Madura”