Terbang

Untuk Bona dan Weni
Ayu Utami
Kompas, 20 April 2008

Aku yang ngotot agar kami terbang terpisah. Kubatalkan satu tiket yang telah dipesan suamiku. Tiket murah pula, sehingga aku harus membayar besar untuk perubahan jadwal. Tapi, biar saja. Aku merasa lebih aman begini. Terbang terpisah darinya. Continue reading “Terbang”

Spiritualitas yang Hilang

Ayu Utami *
Majalah Tempo, 6 Okt 2014

Saya pernah berdebat dengan editor saya tentang suatu cara pengungkapan. Kami sedang menyiapkan novel Bilangan Fu. Satu kalimat dalam naskah saya berstruktur ini: padaku ada sesuatu. Mungkin agar pembaca mudah paham, editor ingin menyederhanakan kalimat itu dan menggantinya jadi: aku punya sesuatu. Kenapa harus pakai struktur yang rumit jika ada yang lebih jelas? Kenapa gunakan tata bahasa kuno jika ada yang modern? Continue reading “Spiritualitas yang Hilang”

Ayu dan Fenomena Bilangan Fu

Asarpin

Syahdan, di sebuah kota tua bernama Merv, hidup seorang lelaki yang berdagang kain celup. Sebuah kerajinan yang terkenal di sekitarnya sebagai pemalsu. Suatu hari ia menghilang. Terdengar kabar ia muncul di Khurasan dan kelak memangku jabatan sebagai hakim di lingkungan orang-orang muslim. Entah kebetulan atau suratan nasib, namanya sendiri adalah Hakim. Orang menyebutnya Nabi Tabir. Pada masa kekhlaifahan Mohammad al-Mahdi (khalifah yang dikenal cukup longgar terhadap orang-orang yang menikmati hubungan mesra dengan Tuhan), ia memiliki para pengikut begitu banyak, yang terkadang ngawur dan gawat hingga sang khaifah tak lagi kuasa menyembunyikan kemarahan. Continue reading “Ayu dan Fenomena Bilangan Fu”

Kodok Ngorek: Kumon Sastra

Ayu Utami
Seputar Indonesia, 28 Okto 2007

DI antara banyak perkara pada Oktober, ada dua hal yang saya catat.Satu,sebuah iklan metode kumon berbunyi,?Matematika, Bahasa Inggris = Sukses!?Dua,Kongres Cerpen di Banjarmasin akhir pekan ini.

Keduanya berhubungan secara tolaktolakan. Kongres Cerpen diadakan dalam semangat merayakan bahasa Indonesia. Maklum, Oktober selalu merupakan bulan bahasa.Ini sebagai peringatan Sumpah Pemuda yang menjadikan bahasa Indonesia bahasa persatuan. Continue reading “Kodok Ngorek: Kumon Sastra”