Lima Jurnalis Luncurkan “Kumpulan Cerpen Wartawan Olahraga”

Yon Parjiyono
http://www.suarakarya-online.com/

Kali pertama dalam sejarah dunia kewartawanan di Indonesia, dan bahkan di dunia, lima wartawan senior meluncurkan buku “Kumpulan Cerpen Wartawan Olahraga”, di lobi VIP Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (28/1).

Uniknya, karya sastra ini ditulis oleh para wartawan yang di masa aktifnya meliput dan menulis berbagai kegiatan olahraga. Namun, sebagai manusia mereka mempunyai sisi lain yang tak bisa seluruhnya tersalurkan di media massa, tempat mereka bekerja. Sehingga dilampiaskan dengan menulis cerita pendek. Continue reading “Lima Jurnalis Luncurkan “Kumpulan Cerpen Wartawan Olahraga””

“Festival Rendra” Penghargaan bagi Si Burung Merak

Wuryanti Puspitasari
http://oase.kompas.com/

Sudah lebih dari tiga bulan WS Rendra wafat, namun sosok penyair, dramawan, sastrawan, pemikir, dan pejuang kebudayaan itu tetap hidup di hati sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya para sahabat, kerabat, pencinta seni, serta pencinta karya-karyanya.

WS Rendra yang lahir di Solo pada 7 November 1935 dan wafat di Depok, Jabar, pada 6 Agustus 2009 tersebut dicintai oleh banyak orang, karena dia dianggap memiliki totalitas berkesenian, karya yang bagus, kontekstual, dan memiliki “kegagahan dalam kemiskinan” kata-katanya. Continue reading ““Festival Rendra” Penghargaan bagi Si Burung Merak”

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Sepi Pengunjung

http://oase.kompas.com/

Gedung Pusat Dokumen Sastra HB Jassin (PDSHBJ), yang berada di kawasan Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki Jakarta, setiap hari terlihat sepi pengunjung.

“Dari dulu hingga sekarang orang yang datang ke sini biasa-biasa saja dalam sehari antara 15-20 orang,” kata Petugas Pengelola Dokumen PDSHBJ, Agung Trianggono, di Jakarta, Jumat (8/5). Continue reading “Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Sepi Pengunjung”

Ada yang Salah dengan Sistem Pembelajaran Sastra Indonesia

Rukardi
http://www.suaramerdeka.com/

Dalam pandangan Putu Wijaya, era 1945 merupakan masa ideal bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Saat itu, lahir sekaligus eksponen penyair dan kritikus sastra yang kuat. Sinergi keduanya menciptakan iklim sastra yang dinamis dan progresif.

Dalam hal ini, Chairil Anwar dan HB Jassin menjadi ikon paling tipikal. Chairil mendobrak kecenderungan sastra Pujangga Baru yang penuh dengan bunga-bunga kata. Sajak-sajaknya plastis dan mengusung aforisma. Dia hadirkan realita dalam kata demi kata. Tak hanya itu, karya-karya Chairil juga memberi saham bagi kemajuan bahasa Indonesia. Continue reading “Ada yang Salah dengan Sistem Pembelajaran Sastra Indonesia”