Denny JA dengan Puisi Esai yang Menghina Islam

Budi Hutasuhut *
facebook.com/budiphatees

SEJAK polemik soal proyek buku puisi esai Denny JA berlangsung di jejaring media sosial, dimana saya pernah menulis status yang intinya mempertanyakan isi kepala sastrawan Sumatra Utara yang memposisikan diri sebagai “anjing penjaga atas gagasan Denny JA”, saya menerima ajakan pertemanan dari sebanyak 500 orang di Facebook. Mereka berasal dari seluruh Indonesia, dan saya mengenali sebagian dari mereka sebagai intelektual sastra (saya pakai istilah ini untuk menyebut orang yang punya minat khusus terhadap sastra), sebagian lannya adalah orang-orang yang tertarik tentang sastra. Continue reading “Denny JA dengan Puisi Esai yang Menghina Islam”

Giwang untuk Istri

Budi Hutasuhut
http://www.facebook.com/groups/cerpenkucerpenmu/

Suami istri itu saling pandang. Tak ada kalimat. Tapi mata keduanya sudah lebih dari cukup untuk saling memahami kondisi masing-masing.

Si suami baru saja tiba di rumah sepulang kerja. Setiap hari ia keluar rumah untuk menawarkan jasa memperbaiki cincin, gelang, kalung emas, dan perhiasan lain yang rusak. Ia masuk ke kompleks-komplek perumahan, ke kampung-kampung yang jauh. Berkilo-kilo meter ia tempuh setiap hari. Ia tak letih, meskipun betisnya semakin mengeras karena dipakai menggoes pedal sepeda tuanya. Continue reading “Giwang untuk Istri”

Hal Ihwal Identitas Lampung

Budi Hutasuhut*
Lampung Post, 5 Des 2006

Hal ihwal identitas dalam produk-produk kebudayaan kita, termasuk dalam karya sastra, melahirkan polemik yang tak berkesudahan sejak zaman Sutan Takdir Alisjahbana. Kesimpulan dari setiap polemik selalu saja “tak ada yang bisa disimpulkan” karena semua identitas yang bertebaran di lingkungan masyarakat memiliki argumentasi yang cocok dan pas untuk menjadi representasi nasional. Continue reading “Hal Ihwal Identitas Lampung”

Puisi sebagai Cara Berkomunikasi

Catatan Krakatau Award 2006*

Budi Hutasuhut**
http://www.lampungpost.com/

Bahasa sebagai alat yang dipergunakan penyair untuk menghamparkan fakta-fakta pemikiran dan perasaan atas realitas kehidupan yang ada di lingkungan sosial maupun kulturalnya, mestinya tampil dalam wujud paling tradisional yakni sebagai sebuah cara berkomunikasi, sehingga puisi yang muncul di lingkungan masyarakat tidak lagi dipenuhi ikon-ikon asing (aliens code) dan ganjil. Continue reading “Puisi sebagai Cara Berkomunikasi”