Menelusuri Konflik Kesusastraan Indonesia: “Lekra vs Manikebu”

Ali Irwanto
http://tumbuhkeatas.wordpress.com

Jarang yang tahu bahwa di sekitar masa huru-hara politik pertengahan dekade 60-an, juga berimbas pada dunia sastra Indonesia. Taufik Ismail menyebutnya Prahara Budaya. Pramoedya Ananta Toer menyebut Taufik dkk (para sastrawan Manikebu) sebagai pemecah kesatuan bangsa dan merongrong kekuasaan Soekarno. Berkembang selentingan bahwa Lekra membakar banyak buku yang tidak sejalan dengan ideologinya. Sastrawan yang enggan terlibat politik praktis berusaha menggalang kesatuan dengan suatu gerakan bernama Manifes Kebudayaan pada pertengahan tahun 1963. Namun, akhirnya Soekarno melarang Manikebu karena dianggap berusaha menandingi Manipol negara. Continue reading “Menelusuri Konflik Kesusastraan Indonesia: “Lekra vs Manikebu””

Manifes Kebudayaan

Manifes Kebudayaan
www.jakarta.go.id

Pernyataan sikap seniman dan budayawan Indonesia di Jakarta pada 17 Agustus 1963 tentang pendirian dan cita-cita politik nasional. Para penandatangan Manifes Kebudayaan menyuarakan bahwa kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia, tanpa mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaan lain; dan bahwa Pancasila merupakan falsafah budaya mereka. Presiden Soekarno kemudian menyatakan bahwa Manifes Kebudayaan (MK) menyeleweng dan ingin menyaingi Manifesto Politik (Mei, 1964). Adapun secara lengkap Manifes Kebudayaan adalah: Continue reading “Manifes Kebudayaan”

Inilah Sosok 9 Presiden Paling Sederhana Di Dunia

Raymond Samuel
berdikarionline.com, 10 Mei 2013

Bagi sebagian orang di dunia, termasuk di Indonesia, kehidupan seorang Presiden identik dengan kemewahan. Banyak Presiden di dunia tinggal di rumah mewah, kemana-mana naik mobil limusin, punya banyak pengawal, fasilitas serba mewah, gaji banyak, dan bisnis keluarga yang dijalankan oleh anak dan istri. Continue reading “Inilah Sosok 9 Presiden Paling Sederhana Di Dunia”

Saut Situmorang: Buku 33 Tokoh itu “Sampah”

Wawancara Ranang Aji SP dengan Saut Situmorang
koranopini.com

KoPi, Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia melahirkan kontroversi dan dianggap berpotensi menodai sejarah sastra Indonesia. Setelah wawancara KoPi bersama Jamal D Rahman beberapa waktu lalu, pelbagai tanggapan kelompok kontra semakin mengeras. Berikut adalah wawancara KoPi dengan salah satu tokoh pembuat petisi penolakan buku tersebut; Saut Situmorang. Dalam kesempatan yang sama, Penyair dengan tradisi kiri ini menganggap tuduhan kontra demokrasi Denny JA terhadap dirinya sebagai pemutarbalikan fakta. Continue reading “Saut Situmorang: Buku 33 Tokoh itu “Sampah””

Bahasa ยป