Mengkaji Elitisasi Mendoan di Kafe

Abdul Aziz Rasjid
Suara Merdeka, 26 Juni 2010.

KAFE sering diidentikkan sebagai tempat hiburan yang berkaitan dengan pola rekreasi yang mewakili gaya hidup masyarakat urban. Kini, di sebagian jalan-jalan pusat kota dan juga dekat area kampus di Purwokerto menjamur kafe.

Tawaran berbagai fasilitas —dari pertunjukkan bola, balap mobil atau motor, hotspot, musik akustik dan sebagainya— juga beragam menu makanan dan minuman berkedudukan penting dalam usaha mendekati, memanjakan dan menimbulkan rasa betah pengunjungnya. Continue reading “Mengkaji Elitisasi Mendoan di Kafe”

Negara Tanpa Sastra

Anwari WMK
Kompas, 24 Maret 2011

NEGARA yang telah kehilangan sensibilitasnya terhadap sastra adalah negara yang tengah menegasikan potensinya sendiri dalam hal menumbuhkembangkan kreativitas dan otentisitas.

Sudah menjadi aksioma, persaingan ekonomi dan industri pada abad ke-21 berbasis inovasi. Sementara inovasi itu sendiri berpijak pada kreativitas dan otentisitas. Tanpa inovasi, mustahil daya saing ekonomi dan industri dapat diwujudkan. Continue reading “Negara Tanpa Sastra”

PENDIDIKAN DASAR GRATIS; AMANAT YANG TERLUPAKAN

Janual Aidi

Pendidikan dasar gratis adalah amanat UUD 1945 hasil Amandemen yang tercantum pada Pasal 31 Ayat (2) yang berbunyi: Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Untuk menegaskan amanat tersebut maka dalam UU Sidiknas Pasal 31 UU No 20/2003 Ayat (2) dinyatakan lagi bahwa :”Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.” Jadi apalagi yang hendak diperdebatkan? Continue reading “PENDIDIKAN DASAR GRATIS; AMANAT YANG TERLUPAKAN”

Membaca Kebudayaan Antara dari Garasi

Th Pudjo Widijanto
Kompas, 13 Maret 2011

PEMENTASAN lakon ”Tubuh Ketiga” oleh Teater Garasi di Taman Budaya Yogyakarta, Jumat-Sabtu (11-12/3) seperti mengokohkan grup teater ini, yang memilih lanskap eksperimental (cutting edge). Menggunakan ”setting” kehidupan musik tarling khas Indramayu, teater ini mencoba mengeksplorasi sesungguhnya bagaimana bangun kebudayaan umat manusia. Continue reading “Membaca Kebudayaan Antara dari Garasi”

Muhammad Salim: Rujukan Aksara “Lontarak”

Maria Serenada Sinurat
Kompas, 15 Maret 2011

MUHAMMAD Salim adalah bukti hidup bahwa penghargaan datang bukan karena gelar dan jabatan, tetapi karena karya berkelanjutan. Hampir sepanjang hidup ia menekuni ”lontarak”, naskah kuno beraksara Bugis-Makassar. Dia menghidupkan dan memaknainya kendati ini kerja sunyi tanpa banyak imbalan.

Kami bertemu di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, tempat Salim ”bekerja” yang tak memberinya honor empat tahun terakhir. Dengan semua itu, ia bersetia mengawal pendokumentasian lontarak dari seluruh penjuru Sulsel. Continue reading “Muhammad Salim: Rujukan Aksara “Lontarak””

Bahasa »