Lewat Puisi dan Prosa

Mengenang 100 Tahun Kelahiran Sutan Takdir Alisjahbana
Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Ibarat pepatah, manusia mati meninggalkan nama, almarhum Sutan Takdir Alisjahbana yang akrab disebut STA atau Takdir masih tetap dikenang. Almarhum meninggalkan warisan sejumlah karya dan pemikiran, khususnya di bidang bahasa, sastra (esai. Novel/roman dan puisi), kebudayaan, filsafat, pendidikan dan pengetahuan pada umumnya. Continue reading “Lewat Puisi dan Prosa”

Berawal dari Sebuah Senja

Seno Joko Suyono, Rini Sri Hartini
http://majalah.tempointeraktif.com/

Suatu sore di tahun 1998. Jemaah gereja GPIB Taman Cibeunying, Bandung, tampak tekun mendengarkan khotbah pendeta. Tapi seorang jemaah merasa gelisah. Seurai sinar matahari senja yang masuk melalui jendela mengubah ruangan itu menjadi kuning dan seketika perasaannya tergetar. Aneh. Ia tak kuasa menahan gejolak hatinya. Dari beranda gereja, pohon-pohon itu menutupi pandangan lepasnya ke cakrawala. Continue reading “Berawal dari Sebuah Senja”

“Bibir” Samantha

Benny Benke
suaramerdeka.com

Terinspirasi dari karya sastra dalam bentuk cerpen karya sastrawan Hamsad Rangkuti, sebuah singgel hit berhasil diunduh lebih dari dua juta. Demikianlah yang terjadi dengan singgel berjudul “Bibir” milik grup band perempuan Samantha.

Singgel “Bibir”, sebagaimana dikatakan Azizi, pencipta lagu yang juga vokalis dan motor grup rock Blackout, dibuatnya setelah membaca cerpen berjudul Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu karya Hamsad Rangkuti. Cerpen itu terangkum dalam buku antalogi cerpen berjudul Bibir dalam Pispot terbitan tahun 2003. Continue reading ““Bibir” Samantha”

Reformasi Tanpa Evolusi Mental

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

DI Bukitcermin, Tanjungpinang, Kepri, ketika acara Temu Sastrawan Indonesia III (28-30/11) saya bertemu Nurhidayat Poso (NP)>. Saat itu menjelang di tengah malam, usai malam kesenian di Anjung Cahaya, tepi pantai yang hanya sepelemparan peluru meriam dari P Penyengat yang termasyhur itu. Menyawang lekukan bukit kota Tanjungpinang yang hanya cahaya lampu, merasakan udara basah pantai serta dingin seusai gerimis. Tidak ada bulan, dan kami, S Yoga, NP, Badruddin Emce, dua teman LSM dan saya, menikmati kegelapan langit dengan kerdip lampu ekor pesawat yang melintas dalam nyaris sunyi oleh deru angin laut. Continue reading “Reformasi Tanpa Evolusi Mental”

Bahasa ยป