Lebanon, Kadisha, dan Kahlil Gibran (1-2)

C Windoro AT
http://internasional.kompas.com/

DI jalan menuju perbukitan dan lembah Kadisha, Lebanon Utara, tepatnya di tikungan kota kecil Hadchit, suatu siang, kami seperti tiba di dunia lain. Puncak Gunung Mar Elias dan Gunung el Mekmel di bentangan Pegunungan Lebanon, berkilauan tertutup salju. Meski demikian, kaki-kakinya masih diselimuti warna hijau pepohonan, dan coklat dinding-dinding batu alam. Continue reading “Lebanon, Kadisha, dan Kahlil Gibran (1-2)”

RASA MARDIKA: REPRESENTASI PSIKOLOGI TOKOH PROPAGANDIS ATAS PERLAWANAN KAUM KROMO

Agus Sulton *

PENDAHULUAN

Rasa Merdika adalah novel karya Soemantri. Ditulis memakai ejaan Melayu lama yang terdiri dari 134 halaman, harga f 0,25. Diterbitkan oleh PKI Semarang, Juli 1924 dan ditulis dalam penjara di Semarang, tertangkap lantaran terdakwa melanggar artikel 161 bis dari stafwetboek yang akhirnya dihukum selama lima bulan. Selama di prefentief atau penjara Soemantri dapat menulis dua buah karya yaitu, Rasa Merdika dan Rahasia Terboeka, suatu cerita kesusahan atau penindasan yang terjadi di Kota Semarang pada masa Kolonial Hindia Belanda?saat bersamaan PKI mulai melebarkan sayapnya. Continue reading “RASA MARDIKA: REPRESENTASI PSIKOLOGI TOKOH PROPAGANDIS ATAS PERLAWANAN KAUM KROMO”

Idul Fitri dalam Empat Teori

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

A. Konsep Astronomi

Bagi umat muslim, sebelum memasuki Idul Fitri dihantarkan dulu detik-detik sepuluh hari terahir ramadhan yang mengandung nuansa Lailatul Qodar di dalamnya. Yakni menginjak malem ke 21 (malem 1), malem ke 23 (malem 3), malem ke 25 (malem 5), malem ke 27 (malem 7), dan terahir malem ke 29 (malem 9). Perhitungan ini didasarkan pada bulan Komariyah/bulan jawa. Continue reading “Idul Fitri dalam Empat Teori”

LETUPAN KERINDUAN IDENTITAS

(Tanggapan Tulisan Terbuka Untuk Bupati Suyanto)
Dian Sukarno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Menyoal apa yang dipapar oleh kawan Fahrudin Nasrulloh penggiat sastra dari komunitas Lembah Pring berjudul Memperbincangkan Seni-Budaya Jombang pada Serambi Budaya Radar Mojokerto, Minggu,28 Maret 2009, sebuah pemikiran yang menggigit dan lontaran komentar nan nyengit. Tetapi itulah fakta dan kenyataan yang tidak layak untuk diingkari apalagi ditutupi. Ibarat borok sudah ngemburuk, andai luka telah bernanah-nanah. Continue reading “LETUPAN KERINDUAN IDENTITAS”

Tentara Dilarang Menulis

Abdul Walid*
http://www.jawapos.com/

Bila Anda bercita-cita menjadi tentara, jangan berharap bisa menulis opini dengan kritis! Bila ingin menulis, menulislah sesuai dengan kemauan atasan! Tapi, jangan anggap itu adalah tindakan pecundang!

Ungkapan tersebut bukanlah sebuah jargon di kalangan militer kita. Kalimat itu juga bukan ancaman bagi tentara yang ingin menjadi penulis. Ia juga tidak termuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer (KUHPM). Continue reading “Tentara Dilarang Menulis”