HALIM HD, “NETWORKER” KEBUDAYAAN

Nasru Alam Aziz, Elokdyah Meswati
Kompas, 15 Sep 1999

MAKASSAR Arts Forum (MAF) ’99 yang digelar di Ujungpandang,5-12 September 1999 telah usai. Event kesenian besar dan terbilang sukses meski masih banyak kekurangan di sana-sini, tentulah tak lepas dari peranan pekerja seni, Halim HD.

Dengan totalitas luarbiasa, Halim mengerjakan apa saja. Dari kurator sampai pembantu umum. Menempel poster, membagi-bagi undangan diskusi usai acara di panggung terbuka Benteng Fort Rotterdam, mencuci piring, sampai membersihkan kamar mandi di sekretariat panitia. Continue reading “HALIM HD, “NETWORKER” KEBUDAYAAN”

Tanggap Sasmita, Cilacap Peduli Sastra

Abdul Aziz Rasjid
Kedaulatan Rakyat, 8 Agustus 2010

Tanggal 28 Juli 2010 lalu, telah diterbitkan sebuah antologi puisi bertajuk Rasa Rumangsa Tanggap Sasmita oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cilacap. Antologi puisi ini memuat 29 puisi dari 6 penyair muda Cilacap, yaitu Abdulloh Amir (Sampang), Eko Triono (Adipala), Hizi Firmansyah (Majenang), IH. Antassalam (Wanareja), Rudiana Ade Ginanjar (Cipari) dan Wachyu Pras (Kroya), dan diluncurkan sebagai bagian dari agenda Pesta Pro Sastra dalam rangka “Gelar Seni Budaya Kabupaten Cilacap Tahun 2010? di ruang Masigit Sela Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cilacap. Continue reading “Tanggap Sasmita, Cilacap Peduli Sastra”

Memasuki Era Maiyah Sejati

Memoar I Padhang mBulan 26 Juli 2010

Sabrank Suparno

Pengajian Padhang mBulan tanggal 26 Juli 2010 kemarin Cak Nun datang terlambat hingga jam 23:00. Kegelisahan Jama’ah mulai tampak pada setiap wajah. Sebagian sudah tidak serantan dan langsung nyelonong pulang. Sebagian lagi bertahan dengan kegelisahan. Mungkin dalam Jama’ah menyimpulkan hasil ‘rugi’ dalam gambling/ perjudian niatnya, jika Cak Nun tidak datang. Continue reading “Memasuki Era Maiyah Sejati”

Membengkaknya Sastra Facebook

Yesi Devisa Putri*
surya.co.id

Media cetak memberi porsi untuk sastra dalam tempat terbatas. Itu yang membuat pegiat sastra menjadi gerah karena kurangnya lahan untuk memublikasikan karyanya. Hingga pada akhirnya mereka beralih media. Facebook menjadi salah satu alternatif media untuk menjadi “ruang pamer” sekaligus tempat mendokumentasian hasil cipta, rasa, dan karsa mereka. Continue reading “Membengkaknya Sastra Facebook”

Besutan Sebagai Bingkai Inspirasi Sosial

Sabrank Suparno

Di Jombang, seni Besutan tergolong pementasan teater tradisional. Istilah ‘Besut’ diambil dari kiroto boso (kiro-kiro boso seng ceto) yang artinya “mbeberno maksud’// memaparkan uneg-uneg dan tujuan.

Seni besutan di Jombang pertama kali diperankan oleh Pak Santik (1894-1897) saat Pak Santik menjadi abdi dalem di kantor Kabupaten Jombang. Selain sebagai abdi dalem Kabupaten, Pak Santik juga sebagai petani tulen. Sembari menunggu hasil panen itulah Pak Santik mengisi hari-hari luangnya dengan mengamen keliling. Continue reading “Besutan Sebagai Bingkai Inspirasi Sosial”

Bahasa »