Rumah Danau

Widhi Hayu Setiarso
http://pawonsastra.blogspot.com/

Aku jengkel dengan ayah. Ayah jahat. Ayah tak mau mengantar aku ke danau Banyu Bening. Padahal kan, aku pingin sekali ke sana. Apalagi kemarin Minggu, Reyna, Dita, dan Reno teman-temanku TK habis ke sana. Cuma aku yang belum pernah ke sana. Aku kan malu. Uh, waktu kami main bareng saat istirahat sekolah, aku hanya bisa melongo mendengar cerita mereka tentang air yang bening, perahu-perahu yang mengambang, gunung-gunung di kejauhan, burung-burung yang terbang merendah, juga rumah-rumah ikan yang ada di tengah. Ah, ayah tega sekali! Continue reading “Rumah Danau”

Pintu Air Jagir

Sungging Raga
http://www.lampungpost.com/

“Karena yang kita lakukan selama ini tidaklah sia-sia.”

SATU

Jadi, jika tubuhmu memang benar telah hanyut di sungai itu, bukan berarti tak ada lagi yang akan menunggumu di pengujung sore di sudut desa ini. Mungkin kau sadar, ketika keheningan yang kau cita-citakan itu mulai kau rasakan, ketika tubuhmu terbelit akar-akar dan daun rumput yang bergerak seragam, kau biarkan kehanyutan itu menjadi semacam doa yang melebihi waktu, kau tempuh kesunyian seperti tanpa beban, tanpa arah, dan hanya menitipkan pesan lewat celah remah dedaunan. Continue reading “Pintu Air Jagir”

Gapura Doa

S.W. Teofani
Lampung post 03/16/2008

AKU selalu coba melupa. Menutup sirip kenangan dengan taburan doa. Mengelupas tiap helai tanpa nada. Meski tak pernah benar-benar mencapai amnesia. Gapura itu tetap dan selalu ada. Di ceruk paling maya, mengada dalam taman jiwa. Gigir ngarai yang pernah kita sisir, memanggil dengan suara paling mesra. Ruah rasa yang dulu hadir, menerbangkanmu untuk menyambangi waktu. Semua kembali bersua. Seolah tak pernah ada jeda menganga. Kita kembali mengeja kidung-kidung gapura. Meracik harap mencapainya. Hingga kau membuka tirai nelangsa. Utas janji telah kau patri pada seruas hati. Lingkar tunang telah kau semat pada lentik jari. Aku berpaling dengan pasti. Bukan langkah kita yang menuju ke sana. Lagi, aku ingin menghapus setiap jejak kaki kita. Continue reading “Gapura Doa”

Bunga Besut

Sabrank Suparno

Marsudi benar-benar hilang. Entah kapan persisnya, aku tak punya tanda pengingat khusus, semisal jaman Semeru meletus yang tiap dedaunan dipenuhi debu hingga sempal, jaman hama wereng yang menggagalkan panen padi, jaman pederos yang mencekam karena tiba-tiba ditemukan mayat terbungkus karung, atau ketika muncul peristiwa manggar emas, manggar yang diterpa bias sinar mentari sore, sehingga warnanya persis seperti emas. Dan, hanya sore itu, tidak terjadi lagi pada sore berikutnya hingga kini. Tak pelak sore itu banyak orang berkerumun,menyaksikan manggar yang berupa emas. Continue reading “Bunga Besut”

Bahasa ยป