Bluke Kecil

Budi Darma *
jawapos.com

ORANG tua Bluke Kecil tinggal di ruang bawah tanah sebuah gedung besar. Sewa ruang bawah tanah memang sangat murah, dan orang tua Bluke tidak mungkin tinggal di ruang lain yang lebih mahal. Tentu saja, ruang bawah tanah tidak sehat. Kalau musim panas sinar matahari jarang menjenguk ruang bawah tanah, dan kalau musim dingin, ruang bawah tanah bukan main dingin. Dan, barang siapa ting?gal di ruang bawah tanah pasti tidak mungkin menengok ke luar dengan bebas, sebab jendelanya sangat sempit, dan untuk menjenguk ke luar, mau tidak mau orang itu harus naik ke kursi atau meja. Detik demi detik, dengan sendirinya, ruang bawah tanah pasti mengundang berbagai macam penyakit. Continue reading “Bluke Kecil”

Pacar, Sore, dan Renyai

Yetti A.KA *
jawapos.com

Pacar

Dari pertama kali lelaki itu sudah katakan bahwa ia cuma menginginkan seorang pacar. Perempuan yang akan menemaninya jalan-jalan di sore Sabtu dan Minggu atau mendampinginya menghadiri acara kawinan teman kantor. Pacar yang tidak cerewet, tentu saja. Ia sangat bosan berurusan dengan perempuan banyak mau, seperti ibunya. Ah, betapa terganggu hatinya bila mengenang ayah tergopoh-gopoh memenuhi rengekan ibu yang minta dipijit atau dikerok atau dibelikan semangkuk bakso di pangkalan dekat rumah padahal saat itu seharusnya ayah istirahat sepulang kerja. Kini, ayah sudah meninggal. Begitu juga ibu. Continue reading “Pacar, Sore, dan Renyai”

Maling

Putu Wijaya*
http://www.jawapos.com/

Di jalanan yang sudah bertahun-ta?hun saya lalui, ada rumah orang ka?ya. Depan rumahnya ada sebatang pohon kelapa gading. Buahnya terus berlimpahan seperti mau tumpah. Kalau lewat di situ, saya selalu kagum. Tapi juga tak habis pikir. Mengapa kelapa itu tak pernah dijamah. Mungkin pemiliknya terlalu kaya sehingga sudah tidak doyan lagi minum air kelapa. Padahal kalau saya yang punya, tiap hari tidak akan pernah saya biarkan lewat tanpa rujak kelapa muda. Continue reading “Maling”

Ibu Tak Berangkat

Sanie B. Kuncoro
jawapos.com

KAU sedang berada di pekarangan rumah ibu. Sebuah tempat yang paling kau suka setiap kali kembali ke rumah itu. Entah sekadar singgah dari sebuah perjalanan tugas atau saat kau bawa istri dan anak-anakmu mudik mengunjungi ibu di kampung halaman.

Sebuah pekarangan yang senantiasa menghadirkan jejak masa kanak-kanakmu. Membelah kenangan menjadi penggalan-penggalan, yang setiap irisannya membawamu kembali menelusuri perjalanan masa silam, yang seakan terperangkap di pekarangan itu. Seakan tak ada yang benar-benar berubah di sana. Continue reading “Ibu Tak Berangkat”

Bahasa ยป