Tag Archives: Dwi Arjanto

LINUS DAN PARIYEM

R. Fadjri, L.N. Idayanie, Dwi Arjanto, Agus S. Riyanto
__Majalah Tempo (Jakarta), 9 Agus 1999

LINUS adalah Pariyem. Pariyem adalah Linus. Kedua nama itu bak dua sisi mata uang. Jika dibolak-balik tetap mencitrakan pribadi yang sama. Nama lengkap yang pertama adalah Linus Suryadi Agustinus, seorang penyair yang wafat pada Jumat 30 Juli lalu, dalam usia 48 tahun. Sedang nama lengkap yang kedua adalah Maria Magdalena Pariyem alias Iyem, tokoh rekaan sang penyair dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem.

Wawancara Asrul Sani: “Angkatan 45 Membebaskan Bahasa Indonesia”

Dwi Arjanto, Hermien Y. Kleden
Majalah Tempo, 8 Nov 1999

TIDAK mudah menampilkan sosok Asrul Sani, penyair, sutradara, dan penulis skenario yang oleh orang film kini dianggap legenda. Asrul juga dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor dan pernah menjadi anggota DPR selama tiga masa jabatan. Pengetahuannya sebagai dokter hewan hampir tidak dipraktekkan. Namun, selaku sastrawan dan seniman film, Asrul Sani tak pernah berhenti berkarya.

Wawancara Sitor Situmorang: “Penandatanganan Manikebu Adalah Tindakan Politik”

Sitor Situmorang (30 Agustus 1999)
Pewawancara: Dwi Arjanto, Hermien Y. Kleden
http://majalah.tempointeraktif.com/

BUKAN hanya puisi yang bisa dibicarakan dari seorang Sitor Situmorang. Hidupnya yang banyak dilewatkan dalam pengembaraan di luar negeri dan komitmen politiknya yang menyebabkan ia berada dalam posisi berseberangan dengan banyak seniman Indonesia pada awal 1960-an, semua itu merupakan dimensi yang tak dapat diabaikan dari ketokohannya yang penuh warna.

Menyusuri Buku Sastra Anak

LSC, R. Fadjri, Rubi Kurniawan, Dwi Wiyana, Dwi Arjanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Di bawah bayangan pohon yang rindang, Alice duduk terkantuk-kantuk dikepung rasa bosan. “Apa gunanya membaca buku yang tak ada gambarnya?” gerutunya, mengintip buku yang dibaca kakaknya. Sembari membayangkan bunga-bunga daisy yang akan diuntai menjadi kalung dan mencoba melawan rasa kantuk, tiba-tiba saja seekor kelinci putih dengan mata berwarna merah jambu, berdasi, dan mengenakan jas tergopoh-gopoh melintas di mukanya. “Aduh, aduh, aku akan terlambat…,” keluh sang kelinci sembari merogoh sebuah jam berantai dari sakunya. (Alice in Wonderland, Lewis Carrol)

Seikat Puisi dari Rusia

Andari Karina Anom, Dwi Arjanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Inilah deretan sastrawan Rusia yang menggubah puisi tentang dunia Timur. Tema utamanya soal kehidupan, alam, dan cinta.

NUN di Rusia sana, Nikolai Gumilev menjalin kata tentang negeri yang jauh di matanya. Puisi sang penyair tentang dunia Timur nan eksotis bertebaran dalam buku Images of Nusantara in Russian Literature. Ada The Hippopotamus (After Theophile Gautier), The Childish Ditty, Laos, Kha, Allah’s Child (From a fairy-tale play).