Posted by PuJa on June 2, 2011
Nurel Javissyarqi V Ada beberapa mantra Jawa mengadopsi nilai ajaran Islam, salah satunya lewar, malah mengotori ruhaniah kedalamannya, semisal ajian kulhu sungsang, diambil dari surat Al-Ikhlas, tapi diputarbalikkan hingga jempalitan tak tentu arah. Mantra-mantra berdaya ruhani rendah yang paras auranya merah, mudah dipelajari karena menghamba jin atau manunggaling kawulo jin;
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on
Nurel Javissyarqi IV Cukilan tulisan Dr. Abu Hanifah, Menyambut Ceramah Mochtar Lubis, Renungan Tentang “Manusia Indonesia Masa Kini” bagian Lahirnya Sumpah Pemuda: “Buku ini ditulis (keterangan sebelumnya; ada membicarakan sifat-sifat manusia Indonesia, dalam cara seperti dikemukakan oleh Saudara Mochtar Lubis. Dicetak tahun 1920, Haarlem, pengarangnya Prof. J.C. van Eerde, guru besar Universitas Amsterdam dan Direktur [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on
Nurel Javissyarqi III Tidak asing lagi, nama Sutardji Calzoum Bachri di belantika kesusastraan Indonesia atas Kredo Puisi-nya. Di bawah ini aku petik sebagian darinya: “Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on
Nurel Javissyarqi II Sebelum merantak, izinkan diriku keluarkan isi hati di sementara waktu. Sebenarnya aku belum cukup umur dan ilmu untuk mengupas hal ini. Tapi untuk menjawab esai Tardji dan kupasan para penyair yang pernah kubaca mengenai Asy Syu’ara, serasa ada angin menggegaskanku untuk menuliskan. Tentu tidak menutup ketetapan ulang di masa datang, demi penajaman [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on
Nurel Javissyarqi I Tulisan ini tanggapan untuk esai Sutardji Calzoum Bachri bertitel Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair ; orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007. Dalam tulisan itu Tardji menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut:
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on April 27, 2011
Nurel Javissyarqi Seperti biasa, aku mencari data-data dari media massa di Google untuk kuunggah pada web http://sastra-indonesia.com/ yang telah berjalan sejak Juli 2008. Aku nekat membikin situs tersebut dari biaya transport acara sastra di Jakarta. Sepulang dari Ibu Kota, perasaanku seolah sudah menjadi penyair, apalagi membaca puisi sepanggung dengan para jawara sastra, pada malam pengukuhan [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on April 14, 2011
Asarpin apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan –Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on March 19, 2011
Dwicipta “…Suatu hari nanti aku akan menulis buku dan aku akan memakai namamu untuk tokoh utamanya.” “Sebuah buku seperti Pertev dan Peter?” aku bertanya, jantungku berdegup. “Bukan, bukan buku bergambar, melainkan sebuah buku yang di dalamnya aku menuturkan ceritamu.” [Kehidupan Baru, hal 422] Osman mengenang percakapannya dengan paman Rifki itu di ujung usahanya dalam mengetahui [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on March 16, 2011
Puji Santosa 1. Pengantar Dimensi hubungan manusia dengan Tuhan sering digambarkan secara vertikal atau transendental, yakni manusia sebagai makhluk dan Tuhan sebagai khalik atau Maha Pencipta. Banyak orang membicarakan hubungan manusia dengan Tuhan sehingga menjadikan hubungan manusia dengan Tuhan sangat mendasar bagi kehidupan manusia di dunia. Sila pertama dari dasar negara Republik Indonesia adalah Ketuhanan [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai