Menggeramkan “Cantik Itu Luka”

Bambang Kariyawan Ys
http://www.riaupos.co

Tulisan ini diawali ketika membaca berita bahwa novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan mendapat penghargaan internasional. Terbayang kembali pada tahun 2002 penulis pernah membaca novel ini ketika pertama kali terbit oleh Penerbit Jendela dan Akademi Kebudayaan Yogyakarta. Saat selesai membaca novel tersebut dan berdiskusi sesama pembaca terjadi pro kontra. Ada pembaca yang pencinta sastra mengatakan bahwa novel ini dahsyat. Namun ada pembaca lain yang mengatakan jangan membaca novel tersebut. Rusak pikiran kita, apalagi kalau anak-anak remaja yang membaca, bahaya! Mengapa dilarang dan berbahaya membacanya?! Pasti ada sesuatu. Baca selengkapnya “Menggeramkan “Cantik Itu Luka””

Nobel Sastra dan Kutukan Tiga Persen

Eka Kurniawan *
pekanbaca.blogspot.com

Nobel Kesusastraan 2014 dianugerahkan kepada penulis Prancis Patrick Modiano. Kabar itu ditanggapi banyak pembaca, tak hanya di Indonesia, tapi juga di mana-mana (tentu saja kecuali di Prancis dan negara-negara berbahasa itu), dengan gumaman, “Siapa dia?”

Kasus yang sama terjadi pada 2009 ketika Herta Muller, penulis Rumania berbahasa Jerman, memperoleh penghargaan tersebut. Juga tahun 2008 untuk J.M.G. Le Clezio (Prancis) dan 2004 untuk Elfriede Jelinek (Austria). Baca selengkapnya “Nobel Sastra dan Kutukan Tiga Persen”