SERATUS TAHUN KESUNYIAN: TRAGEDI DAN IRONI YANG DIULANG-ULANG

Novel Seratus Tahun Kesunyian, Gabriel García Márquez

A.S. Laksana *

“Dengan cara membesar-besarkan setiap kejadian, hingga mencapai tingkat takhyul,
kita bisa menikmati tragedi dengan rileks dan menertawainya sekaligus.”

“Bertahun-tahun nanti, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendía akan teringat senja yang samar ketika ayahnya membawanya menemukan es.” Continue reading “SERATUS TAHUN KESUNYIAN: TRAGEDI DAN IRONI YANG DIULANG-ULANG”

Ke-berhalangan hadir-nya Binhad Nurrohmat

Nurel Javissyarqi *

“Kejam,” satu kata komentar dari guru saya untuk buku MMKI. Ia bukan tukang syair pun tidak ahli bahasa, tetapi seniman lukis tulen (Tarmuzie).

Jauh sebelum Binhad berkomentar dengan kata-kata; “Aku berhalangan hadir” pada postingan pamflet acara diskusi buku “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia” yang diunggah Cak Kepik (Andhi Setyo Wibowo 26/1/2018), jadwalnya diadakan dalam kegiatan rutin SelaSastra bertepatan ke #24, Continue reading “Ke-berhalangan hadir-nya Binhad Nurrohmat”

Sakral dan Profan

Komaruddin Hidayat *
Sindo, 18 Agu 2017

KEDUA istilah di atas, sakral dan profan, lazim dijumpai dalam berbagai kajian ilmu sosial, filsafat, dan agama. Secara populer sakral artinya suci, disucikan, atau dianggap suci, sedangkan profan bermakna sebaliknya. Contoh paling sederhana, ada dua buku tebal, yang satu kitab suci, satunya lagi buku akademis.

Buku pertama dianggap sakral, yang lain profan. Tentu saja sakralitas sebuah entitas berkaitan dengan kepercayaan dan iman seseorang. Kitab Injil dan Alquran bagi pemeluk Nasrani dan Islam diyakini sakral sehingga disebut kitab suci, tetapi bagi orang ateis dianggap profan. Continue reading “Sakral dan Profan”

Bahasa »