Pedagogi: Humanisme Edukasi Sastra

M.D. Atmaja

Keberadaan karya sastra dibentuk oleh masyarakat yang melalui tangan seorang sastrawan (penulis) karya sastra itu dihadirkan yang sebenarnya untuk masyarakat itu sendiri. Sastrawan sebatas pada sarana dalam pemanifestasian gejala sehingga keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari unsur utama pembentuk karya yang dihasilkan. Pun, latar belakang serta kedudukan sosial mempengaruhi karya dalam proses penciptaan yang secara tidak langsung menyusupkan tendensi. Continue reading “Pedagogi: Humanisme Edukasi Sastra”

Islam yang Puitis

Asarpin

Ketimbang mendiskusi Islam Protestan, Islam Katolik, Islam Post-Tradisionalisme, agaknya yang lebih relevan sekarang adalah bagaimana merumuskan pandangan fikih tentang puisi dan kemungkinan untuk menggagas Islam puisi, yaitu Islam yang tidak marah.

Dengan Islam Puisi, saya membayangkan kitab suci, dogma dan syariat bisa dipahami secara puitis. Bukankah bahasa Kitab Suci sesungguhnya adalah puitis? Continue reading “Islam yang Puitis”

Kenapa Harus Menulis?

M.D. Atmaja

Hidup sebagai sosok manusia Jawa di tengah derasnya arus perkembangan zaman yang terus saja mencampur-aduk pemikiran, kebudayaan (jalan hidup), interpretasi tentang keagamaan, dan ideologi yang semakin menuju pada pluralisme. Terkadang di tengah perbauran aspek-aspek kehidupan tersebut, saya seringkali menemukan diri yang tanpa identitas. Saya merasa sedang berdiri di dalam gelombang yang terus saja zig-zag tanpa pernah perduli, di sana seolah-olah tidak menemukan suatu pijakan. Continue reading “Kenapa Harus Menulis?”

Teater Feminis

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

Teater yang memperjuangkan nasib kaum perempuan, sebutlah teater feminis, sejatinya sudah lahir paling tidak pada abad ke-5 M di Yunani kuno manakala Aristophanes menulis lakon Lysistrata.

Lakon itu bercerita tentang gerakan kaum perempuan yang memanfaatkan seks sebagai senjata untuk menuntut persamaan hak antara lelaki dan perempuan dalam kehidupan sosial-politik. Continue reading “Teater Feminis”

Bahasa »