Puisi yang Menggugat Kemerdekaan

Abdul Aziz Rasjid
Malang Post, 25 Juli 2009

Ternyata kemerdekaan itu milik anak-anak. ternyata merdeka
itu adalah anak-anak dari segala sudut dunia

— Wahyu Prasetya, Bendera Anak-anak (1990/1991)

Penyair punya kebebasan dalam mencipta puisi sebagai hasil kreasi. Penyair boleh menumpahkan emosi di antara situasi yang sedang ia alami, membayangkan dunia ideal yang diidamkannya setelah ia memikirkan pengalaman yang pernah terjadi di lingkungan sekitarnya. Continue reading “Puisi yang Menggugat Kemerdekaan”

Kisah Nasionalisasi Bahasa Melayu

Misbahus Surur
Lampung Post, 12 Mar 2011

Perjalanan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional, bukanlah perjalanan yang gampang. Kendati ihwal transformasi bahasa, dari bahasa daerah menuju bahasa kebangsaan, jamaknya menjadi hal yang lumrah. Untuk kasus bahasa Melayu, pilihan kepadanya bukan berdasarkan suatu yang singkat, melainkan melewati proses dan pertimbangan yang cukup panjang dan melelahkan. Beberapa pertimbangan itu seperti; tersebarnya ”ragam” bahasa Melayu ke seantero Nusantara, jauh sebelum bahasa ini dikonversi menjadi bahasa nasional (1928). Aspek lainnya adalah perilaku kebahasaan para nasionalis (elite politik) yang kala itu juga diam-diam mengarah ke sana. Continue reading “Kisah Nasionalisasi Bahasa Melayu”

“Cerpen Raudal Tanjung Banua” Kisah Fakta di Peta Fiksi

Adrian Ramdani
http://www.kompasiana.com/adrianramdani

“Cerita pendek dan realitas nyata” pernah menjadi pembicaraan hangat decade 1990-an. Waktu itu media massa, termasuk majalah dan yang berlabel sastra, disinyalir lebih memilih cerpen-cerpen dengan latar peristiwa nyata dan faktual. Apapun kecenderungan itu, membawa pengaruh bagi cerpenisyang berkembang pada waktu itu. Barangkali benar kata Agus Noor, strategi agar sebuah cerpen bisa lolos seleksi redaktur adalah dengan menulis cerpen berdasarkan peristiwa yang menjadi “headline” media massa, atau peristiwa-peristiwa nyata itu sendiri memang memaksa seorang cerpenis untuk menulis. Continue reading ““Cerpen Raudal Tanjung Banua” Kisah Fakta di Peta Fiksi”

ESTETIKA KESUFIAN “TUHAN, KITA BEGITU DEKAT” ABDUL HADI W.M.

Puji Santosa

1. Pendahuluan

Abdul Hadi W.M. adalah salah seorang penyair yang telah menghasilkan beberapa kumpulan sajak, antara lain, Terlambat di Jalan (1968), Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1975), Tergantung Pada Angin (1977), dan Anak Laut Anak Angin (1984). Salah satu sajak Abdul Hadi W.M. yang menarik dan kuat sehingga mengangkat dirinya sebagai penyair sufistik adalah sajak “Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Continue reading “ESTETIKA KESUFIAN “TUHAN, KITA BEGITU DEKAT” ABDUL HADI W.M.”

Jauh-Jauh ke Paris, Kari pun Kembali Pulang…

Udo Z. Karzi
lampungpost.com

Ini kisah orang Lampung nun di negeri Napoleon. Kari, tokoh utama, tak dibiarkan berlama-lama terlunta-lunta. Rosita Sihombing, si penulis, “memberi” Kari jalan keluar kembali ke Lampung.

Nama lengkapku Karimah. Teman-teman sekampungku memanggilku Kari. Aku salah satu dari seratus lebih mantan TKW yang akhirnya menjadi warga ilegal dan terpaksa mengadu nasib di negeri Napoleon, negeri sejuta mimpi… (hlm. 23) Continue reading “Jauh-Jauh ke Paris, Kari pun Kembali Pulang…”

Bahasa »