Menikmati Puisi Dunia Maya

Hamberan Syahbana
http://lina-kelana.blogspot.com/

Membaca sebuah puisi berarti kita menyelami sebuah karya hasil imajinansi pengarang yang dituangkannya dalam: tatanan bunyi, baris, bait, suasana perasaan dan imaji/gambaran pengalaman, baik imaji visual [penglihatan], auditif [pendengaran], maupun imaji taktil [rasa/cecap]. Yang di dalamnya terkandung pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada khalayak. Continue reading “Menikmati Puisi Dunia Maya”

Dari Pentas Blakotang Bengkel Muda Surabaya

: Mentertawakan Kemiskinan

S. Jai *
Radar Surabaya, 6 Juni 2010

TERTAWA sebetulnya adalah peristiwa teater. Sekalipun tertawa itu klise. Sementara peristiwa teater senantiasa menolak hal-hal yang bersifat klise. Karena tertawa berdasarkan temuan ilmu kesehatan dan psikologi mutakhir membuat manusia itu sehat. Sebagaimana pula tugas kesenian, teater adalah menemukan manusia sebagaimana keutuhannya, juga kesehatannya. Continue reading “Dari Pentas Blakotang Bengkel Muda Surabaya”

Bacaan Liar, Sebagai Sastra Perlawanan

Agus Sulton

Sastra merupakan cerminan fiktif kehidupan sosial yang banyak mengangkat permasalahan yang ada dalam masyarakat. Unsur-unsur yang terdapat dalam masyarakat itu diantaranya adalah politik, ekonomi, norma-norma sosial, agama, adat istiadat dan unsur-unsur lainnya. Unsur politik bukanlah hal baru dalam kehidupan masyarakat—politik selalu hidup dalam masyarakat serta tetap berkembang seiring dengan perkembangan zaman kehidupan masyarakat. Continue reading “Bacaan Liar, Sebagai Sastra Perlawanan”

Perdebatan Hukum dan Sastra

Wahyu Heriyadi *
lampungpost.com

Fiat justitia ruat caelum atau yang lebih dikenal dengan tegakkan hukum walaupun langit runtuh, merupakan kalimat yang sering disebut oleh orang-orang yang berprofesi di bidang hukum.

Laman Wikipedia mencatat kalimat berbahasa Latin tersebut menurut Charler Sumner, politisi Inggris di abad 19, diambil dari epos Lucius Calpurnius Piso Caesoninus (43 SM), epos ini diprasastikan oleh Arian, bukunya Operasi Militer Alexandria mencatatkan drama ini. Continue reading “Perdebatan Hukum dan Sastra”

Bahasa »