Sastra Pesantren: Menanggung Beban Berat

Kodirun *
pondokpesantren.net

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat” (QS. al-Syu’ara: 224)

Sebuah Ingatan

ImageSekitar tahun 1997 seorang teman dekat saya di masjid milik pesantren tempat kami bersama-sama menuntut ilmu (thalab al-ilmi), membaca fenomena menarik. Seringkali sebelum ia merebahkan badan sambil membersihkan kertas-kertas yang berceceran, iseng-iseng ia baca sampah kertas itu yang berisi coretan-coretan kata mirip puisi, yang diksi, komposisi, dan muatan temanya dirasakannya tidak kalah dengan puisi-puisi “mapan”. Continue reading “Sastra Pesantren: Menanggung Beban Berat”

SEMANGAT MULTIKULTURAL DAN EMPATI PADA KAUM MARJINAL

Maman S. Mahayana *

Semangat multikulturalisme dan pemihakan terhadap kaum marjinal, itulah kesan yang menonjol yang dapat kita tangkap ketika mencermati cerpen-cerpen Pudji Isdriani kali ini. Meski semangat pembelaan atas kaum marjinal dan usaha untuk mengangkat peran kaum perempuan sudah tampak dalam antologi cerpennya yang terdahulu (Hati Seorang Ibu, 2001; Reinkrnasi Titis, 2003; Cokelat dan Sepotong Dosa, 200; dan sebuah novelnya, Memory in Sorong, 2005), kali ini gaya bertuturnya seperti sengaja hendak memancarkan empatinya yang mendalam. Continue reading “SEMANGAT MULTIKULTURAL DAN EMPATI PADA KAUM MARJINAL”

FLP dan Pendidikan Sastra

Kurniasih *
newspaper.pikiran-rakyat.com

“FLP, Sastra Islam, dan Seni Tinggi” yang ditulis oleh Topik Mulyana (15/12/07) ditujukan untuk merespons “Wajah Sastra Islam” yang saya tulis. Sekadar informasi, tulisan tersebut adalah makalah pada diskusi Lembaga Pengkajian Islam, Ramadhan lalu, di Masjid Salman ITB. Informasi ini penting karena pada acara itu, audiensnya adalah mahasiswa sekaligus aktivis masjid. Beragam pendapat mengalir setelah saya membawakan makalah tersebut. Poin paling penting yang muncul saat itu adalah betapa mereka resah dengan buku fiksi Islam yang membanjir sedemikian rupa, juga saya. Continue reading “FLP dan Pendidikan Sastra”

Sastra Sunda Minus Kritik

Ahda Imran
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

SASTRA Sunda hari ini berada dalam perkembangan tradisi kritik yang menye-dihkan. Karya-karya terus lahir tapi kritik seolah jauh tertinggal di belakang. Hadiah sastra Rancage, Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS), dan sejumlah hadiah sastra dari berbagai lembaga seperti Paguyuban Pasundan atau juga majalah Mangle juga sayembara-sayembara, agaknya bisa dibaca sebagai bagian dari infrastruktur kritik. Akan tetapi berbagai hadiah dan sayembara itu sampai hari ini tidak (atau mungkin belum) melahirkan wacana pemikiran atas sastra Sunda. Continue reading “Sastra Sunda Minus Kritik”

Bahasa ยป