Hasnan Bachtiar * Continue reading “Pengantar dalam Menjelajahi Kitab Para Malaikat”
MENULIS NOVEL, MENCIPTAKAN DUNIA
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Bagaimanakah caranya menjadi seorang pengarang atau lebih khusus lagi, menjadi cerpenis, novelis? Dapatkah seseorang menjadi cerpenis, novelis atau sastrawan besar? Syarat apa saja yang harus dipenuhi agar dapat mencapai cita-cita tersebut? Siapa pun sesungguhnya dapat menjadi penulis atau pengarang ?termasuk di dalamnya cerpenis atau novelis. Cara mencapai tujuan itu, juga bergantung kita sendiri. Tidak perlu modal atau biaya yang besar. Tak perlu juga berpikir tentang bakat. Seseorang yang menjadi pengarang sama sekali tak ditentukan oleh bakat. Continue reading “MENULIS NOVEL, MENCIPTAKAN DUNIA”
RELASI UMUR DUNIA TERHADAP PSIKOLOGI SOSIAL
Janual Aidi
“Apa yang terjadi jika masa kini adalah dunia tadi malam?”
(John Donne, Devotion upon Emergent Occasion)
“Atas nama kewajiban, hasrat dan semangat, aku terbangun dari frustasi dan kelemahan, aku berjalan dan berangkat hingga aku yakin akan sampai pada kebenaran dan kebebasan” Continue reading “RELASI UMUR DUNIA TERHADAP PSIKOLOGI SOSIAL”
Persoalan Cerpen Persoalan Bahasa
Indra Tjahyadi
Persoalan cerpen, sebagaimana ragam jenis prosa lainnya seperti novel ataupun novelet, adalah persoalan bahasa. Dalam artian, bagaiamanakah sebuah kejadian atau peristiwa mampu diwujudkan dalam satu kontruksi bahasa naratif.
Ia jelas berbeda dengan puisi yang lebih menekankan diri pada kata. Menyoal hal ini, Wiratmo Soekito, pemikiran sastra Indonesia, pernah mengilustrasikannya dengan cerdas bahwa persoalan seorang prosawan adalah persoalan bahasa sebab ia berada dalam bahasa. Continue reading “Persoalan Cerpen Persoalan Bahasa”
MENCARI PERKEMBANGAN PROSA YANG MEMADAI*
Imam Muhtarom
Jurnal Nasional, 13 Jan 2008
Perkembangan prosa saat ini rupanya hendak berjalan sendiri dengan upaya melepaskan dari perkembangan sosial-politik yang ada. Hingar bingarnya para penulis prosa awal 1990-an yang kental tautannya dengan kekuasaan orde baru sebagai suatu respon yang nyaris tak bisa dihindari, kini seolah tidak mendapat jejaknya. Kalau pun ada, prosa demikian jarang, dan sekalipun ada nyaris tidak terdengar gaungnya. Continue reading “MENCARI PERKEMBANGAN PROSA YANG MEMADAI*”

