Cangkir si Penyair

Eti Puji
http://oase.kompas.com/

Malam belum lagi larut ketika dia pulang dengan wajah kusut. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai terlihat masai. Setelah menutup pintu, perlahan dia berjalan ke arahku yang diam terpaku di sebalik tumpukan buku. Sampai di meja yang merapat ke jendela dia berhenti. Sempat kulihat dia menarik nafas dan mengembuskannya kuat-kuat, seakan berharap beban di pundaknya ikut terangkat. Dan kurasakan bau alkohol yang begitu menyengat. Hmm? sepertinya dia menenggak arak lagi malam ini. Lalu diletakkan tas butut kesayangannya di atas meja dan berlalu begitu saja. Berlalu begitu saja. Tak memperhatikanku. Mengabaikan keberadaanku. Continue reading “Cangkir si Penyair”