Tag Archives: Fathurrahman Karyadi

Cerita Unik dari ”Negeri Terong”

Judul : The Terong Gosong; Ketawa Secara Serius
Penulis : Yahya C. Staquf
Penerbit : Mata Air Publishing
Cetakan : I, Juli 2011
Tebal : xx + 156 hal
Harga : Rp. 30.000,00
ISBN : 978-979-18405-4-5
Peresensi : Fathurrahman Karyadi *
__Majalah Terbuireng edisi XIV Jan-Feb 2012

Pesantren “Gudang Sastra” dan Kiai “Makelar Budaya”

Fathurrahman Karyadi *
radarmojokerto.co.id

Kamis malam Jumat (9/6/11), penulis menghadiri undangan sebagai pemateri sastra di FKJS (Forum Kajian Sastra) di Pesantren Langitan Tuban. Meski jumlah peserta hanya 40-an santri dari 1500-an santri, namun mereka sangat antusias sekali. Bayangkan saja, acara dimulai ba?da isya hingga pukul 23.00 WIB. Bagi mereka sastra bukanlah hal yang serius dan sulit, namun sebuah kebiasaan/budaya sehari-hari yang mengasyikkan.

Syair Arab di Pesantren: Bukan Sekedar untuk Dihafal! *

Fathurrahman Karyadi
http://sastra-pesantren.blogspot.com/

Di pesantren kitab-kitab literatur ilmu ‘arudl?sebuah cabang ilmu yang mempelajari syair Arab?masih banyak pelajari. Seperti di antaranya Mukhtashar al-Sy?f? karya Muhammad al-Damanhuri, Jaw?hir al-Addab karya Ahmad al-Hasyimi dan sebagainya. Biasanya para santri yang mempejari fan ini adalah mereka yang sudah lulus dari kelas Nahwu tingkat al-Imr?thy. Bagi yang belum mencapai tingkatan tersebut maka tidak diperkenankan mengkaji ‘arudl sebab pembahasan yang disuguhkan agak rumit.

Belajar Bahasa dari Nur Muhammad SAW

Hasil Diskusi bersama Emha Ainun Nadjib
Fathurrahman Karyadi *

Setiap pengajian Padhang Mbulan—pimpinan Emha Ainun Nadjib—digelar, pasti selalu membawa kesejukan bagi para pendengarnya. Edisi bulan Maulud kali ini diselenggarakan pada hari Sabtu malam Minggu, 19 Februari 2011 lalu di kediaman beliau, Menturo, Sumobito Jombang. Seperti biasa format pengajian diawali dengan pemaparan tafsir tekstual oleh Cak Fuad lalu disusul dengan tafsir kontekstual oleh Emha Ainun Nadjib, atau yang lebih akrab disapa Cak Nun.

Jakarta

Fathurrahman Karyadi

Angin sepoi-sepoi menyibak rambutku tanpa izin. Menyapu muka hingga kelopak mata. Menyegarkan, kawan. Telingaku bising. Bunyian kereta terdengar amat nyaring. Apalagi kini aku tengah di atasnya. Di luar jendela sana pemandangan asri terus berganti. Sayang aku tidak bisa menikmati dengan jelas karena kereta terus berjalan.