Lagu Puisi, Musik dari Sanubari

Putu Fajar Arcana, Frans Sartono
http://cabiklunik.blogspot.com/

MENGAPA jika puisi kita dinyanyikan cenderung berkesan sendu dan bahkan seperti mencerminkan dunia yang suram? Pertanyaan itu sebetulnya tidak diperuntukkan pada musik sebagai bahasa pembentuk nyanyian, tetapi mempersoalkan kecenderungan puisi-puisi modern kita yang dipenuhi kemurungan di sana-sini. Setelah era Rendra dan kemudian Sutardji Calzoum Bachri tahun 1970-an sampai 1980-an, dimulai dari Sapardi Djoko Damono puisi-puisi yang lahir dari para penyair, seperti tak henti mendedahkan kemurungan. Continue reading “Lagu Puisi, Musik dari Sanubari”

“Bung Karno! Kau dan Aku Satu Zat…”

Lusiana Indriasari, Luki Aulia, Putu Fajar Arcana, Frans Sartono
Kompas, 27 Maret 2011

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin djandji
Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu
dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl 17 Agustus 1945
Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu
Aku sekarang api, aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat, satu urat
Di zatmu, di zatku, kapal2 kita berlajar
Di uratmu, di uratku, kapal2 kita bertolak & berlabuh Continue reading ““Bung Karno! Kau dan Aku Satu Zat…””

Gesang, Keroncong Pencatat Zaman

Frans Sartono, Sri Rejeki
http://oase.kompas.com/

Pada musim kemarau tahun 1940 saya melihat Bengawan Solo kering airnya, padahal pada musim hujan airnya berlimpah. Dua keadaan yang sangat berlainan ini memberikan kesan yang dalam sekali bila dihubungkan dengan kehidupan manusia dan alam. Dimulai dengan senandung, saya goreskan pensil pada secarik kertas bekas pembungkus rokok dan terciptalah ?Bengawan Solo?.? Continue reading “Gesang, Keroncong Pencatat Zaman”