ORANG TENGGELAM PALING TAMPAN DI DUNIA

Gabriel Garcia Marquez
Penerjemah: Rambuana *

Anak-anak pertama yang melihat sebuah benda gelap menyembul, terapung-apung mendekat dari laut, mengembangkan pikiran mereka bahwa itu adalah kapal musuh. Kemudian mereka melihatnya tak memiliki bendera-bendera atau tiang-tiang dan mereka mengira bahwa itu adalah seekor paus. Tetapi saat benda itu terdampar di pantai, mereka menyingkirkan gumpalan-gumpalan rumput laut, sungut ubur-ubur, dan ikan-ikan dan serakan-serakan yang tersisa, barulah mereka bisa melihat jelas bahwa itu adalah seorang lelaki yang mati tenggelam. Continue reading “ORANG TENGGELAM PALING TAMPAN DI DUNIA”

Marquez, Kartini, Buku, Chairil

Marhalim Zaini *

APRIL, agaknya bolehlah kita sebut sebagai bulan literasi. Setidaknya, empat momentum ini menandainya: Gabriel García Márquez wafat (17 April), Hari Kartini (21 April), Hari Buku Sedunia (23 April), dan Hari Chairil Anwar (28 April). Sederet peristiwa itu, adalah penanda, ihwal detak jantung dunia literasi kita. Dunia keberaksaraan kita. Keberaksaraan, yang tak semata bicara soal dunia cetak (print literacy) yang ditengarai sebagai penanda dunia modern, akan tetapi juga soal aksara sebagai—apa yang disebut Sweeney —stylized form. Dan, “bentuk yang istimewa” itu, adalah puisi, adalah sastra. Maka, bicara dunia keberaksaraan (literacy), tak bisa lepas dari dunia sastra. Continue reading “Marquez, Kartini, Buku, Chairil”

Sepasang Mata Anjing Biru

Gabriel Garcia Marquez
diterjemahkan Ramadhani
Suara Merdeka, 10 April 2011

DAN dia menatapku. Kukira dialah yang kali pertama menatapku, tapi kemudian ketika dia berbalik di belakang lampu masih kurasakan wajahnya yang licin dan berminyak di belakangku, di dekat bahuku. Lalu aku mengerti akulah yang pertama menatapnya. Kunyalakan rokok. Kuisap dalam-dalam sebelum aku berputar di kursi yang bertumpu hanya di satu kaki. Setelah itu aku melihatnya di sana, seolah dia berdiri di samping lampu, menatapku setiap malam. Continue reading “Sepasang Mata Anjing Biru”