Marquez, Kartini, Buku, Chairil

Marhalim Zaini *

APRIL, agaknya bolehlah kita sebut sebagai bulan literasi. Setidaknya, empat momentum ini menandainya: Gabriel García Márquez wafat (17 April), Hari Kartini (21 April), Hari Buku Sedunia (23 April), dan Hari Chairil Anwar (28 April). Sederet peristiwa itu, adalah penanda, ihwal detak jantung dunia literasi kita. Dunia keberaksaraan kita. Keberaksaraan, yang tak semata bicara soal dunia cetak (print literacy) yang ditengarai sebagai penanda dunia modern, akan tetapi juga soal aksara sebagai—apa yang disebut Sweeney —stylized form. Dan, “bentuk yang istimewa” itu, adalah puisi, adalah sastra. Maka, bicara dunia keberaksaraan (literacy), tak bisa lepas dari dunia sastra. Continue reading “Marquez, Kartini, Buku, Chairil”

Sepasang Mata Anjing Biru

Gabriel Garcia Marquez
diterjemahkan Ramadhani
Suara Merdeka, 10 April 2011

DAN dia menatapku. Kukira dialah yang kali pertama menatapku, tapi kemudian ketika dia berbalik di belakang lampu masih kurasakan wajahnya yang licin dan berminyak di belakangku, di dekat bahuku. Lalu aku mengerti akulah yang pertama menatapnya. Kunyalakan rokok. Kuisap dalam-dalam sebelum aku berputar di kursi yang bertumpu hanya di satu kaki. Setelah itu aku melihatnya di sana, seolah dia berdiri di samping lampu, menatapku setiap malam. Continue reading “Sepasang Mata Anjing Biru”

Cinta pada Musim Kolera

Gabriel Garcia Marquez
Penerjemah: Anton Kurnia
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

IA tak pernah bepergian jauh sebelumnya. Ia membawa kopor seng berisi pakaian, novel-novel grafis yang dibelinya setiap bulan, dan buku-buku berisi puisi cinta yang ia kutip dari ingatan dan nyaris rusak karena terlalu sering dibaca. Ia tak membawa serta biola miliknya karena benda itu dekat dengan nasib sial, tetapi ibunya memintanya membawa petate, sebuah tempat tidur gantung lipat dengan bantal, selimut, dan kelambu yang terkemas rapi. Florentino Ariza tak ingin membawanya sebab menurutnya benda-benda itu tak akan berguna di sebuah kamar yang menyediakan perlengkapan tidur. Namun, sejak malam pertama ia punya alasan untuk sekali lagi bersyukur atas firasat tajam ibunya. Continue reading “Cinta pada Musim Kolera”