suarakarya-online.com
SEBUAH CATATAN
setelah yang ada tiada
aku baru mulai merasakan
betapa hidup
adalah sebuah pergerakan.
seperti angin di kamarmu,
datang mendinginkan dirimu
pergi memanaskan hatimu Continue reading “Puisi-Puisi Gita Nuari”
suarakarya-online.com
SEBUAH CATATAN
setelah yang ada tiada
aku baru mulai merasakan
betapa hidup
adalah sebuah pergerakan.
seperti angin di kamarmu,
datang mendinginkan dirimu
pergi memanaskan hatimu Continue reading “Puisi-Puisi Gita Nuari”
suarakarya-online.com
NOL
baiklah, kau telah menulis sunyi di batu itu
yang kemudian kau biarkan digauni lumut dan semut
aku tak menduga ada kabar bahwa menara
yang kau bangun dengan airmata, terbakar tadi malam
orang-orang memadamkannya dengan bersorak
kejam, katamu. keji, kataku Continue reading “Puisi-Puisi Gita Nuari”
Gita Nuari
http://www.suarakarya-online.com/
Pukul 04.45 pagi, aku sudah di stasiun Citayam. Penumpang kereta KRL sudah berjubel di peron stasiun. Anak sekolah, guru, pedagang, sopir, pegawai, karyawan sampai copet pun sudah berada di dalam stasiun. Yang beli karcis, yang pakai abonemen, yang tidak beli karcis sama saja jadi penumpang kereta di stasiun Citayam, sebelah selatan Depok pagi itu. Continue reading “KRL (Kereta Rel Listrik atawa Komunitas Rakyat Lemah)”
Gita Nuari
http://www.suarakarya-online.com/
Setiap masuk bulan Ramadhan, entah kenapa aku selalu teringat Jeck, teman lama yang sudah kuanggap saudara sendiri. Setiap menjelang bulan Ramadhan atau setelah satu minggu ibadah puasa berjalan, Jeck suka datang ke rumahku membawa dua buah botol sirup, “Untuk buka puasa,” katanya. Tapi, baru beberapa ucap, ia pergi begitu saja tanpa kutahu kemana perginya. Sampai satu ketika Laras, istrinya, memintaku untuk mencarikan Jeck, atau mencari tahu dimana keberadaan Jeck saat itu. Continue reading “Mencari Jeck”
Gita Nuari
http://www.suarakarya-online.com/
Orang pertama yang mendukung Parjo jadi caleg adalah bapaknya sendiri.
“Kamu serius, Jo?” tanya sang bapak. “Saya serius, Pak!” sahutnya spontan.
“Bagus, bagus. Bapak mendukung. Dua ekor sapi milik Bapak, boleh kamu jual untuk memuluskan cita-citamu itu. Pokoknya, Bapak ada dibelakangmu!”
“Terima kasih, Pak. Terima kasih,..”kata Parjo sambil mencium tangan bapaknya tertubi-tubi. Continue reading “C A L E G”