Puisi dan Imam Syafi’i

(Pertama kali Munculnya Antologi Puisi Imam al-Syafi’i)

Halimi Zuhdy *

“Andai puisi tidak membuat aib seorang ulama’ (yuzri), niscaya aku kini lebih hebat (dari seorang penyair) Labid” : Kata Imam Syafi’i.

Bait puisi yang dirangkai Imam Syafi’i di atas bukanlah pamer kehebatan, atau bentuk penghinaan pada penyair, tetapi ia sebagai pernyataan untuk tidak terlalu berasyik-masyuk dalam jalur kepenyairannya. Continue reading “Puisi dan Imam Syafi’i”

SASTRA KAMPUNG YANG MULAI MELENYAP

Halimi Zuhdy

Sebenarnya tulisan ini berangkat dari kegelisahan penulis atas ketidak –pede-an para sastrawan kampung untuk unjuk gigi ke pentas dunia, mereka lebih senang bersembunyi di balik gubuk-gubuk ilalang dari pada bertengger di bangunan kokoh berderet permata, lebih suka berdamai dengan sawah-sawah yang indah dari pada troktoar-troktoar ketidakjelasan, lebih suka bermain pettak umpet dengan kodok dari pada mempublikasikan karyanya… Continue reading “SASTRA KAMPUNG YANG MULAI MELENYAP”

Menjadi Cerdas dengan Menulis

Halimi Zuhdy

“Menulis akan merangsang pemikiran, jadi saat anda tidak bisa memikirkan sesuatu untuk ditulis, tetaplah mencoba untuk menulis” (Barbara)

Tulisan ini berangkat dari sebuah buku yang menurut saya sangat luar biasa pengolahannya, sistematika penulisannya, ide-ide yang diluapkannya, dan mempunyai karakteristik tersendiri yang membuat pembaca ingin memperaktekkan teori-teori yang ada di dalamnya, Continue reading “Menjadi Cerdas dengan Menulis”

Menimbang Kehadiran Sastrawan di Dunia

Halimi Zuhdy

Sekilas kita melihat sastrawan adalah orang-orang yang hanya berkutat dengan teks, mengasingkan diri menemukan imajinasi, melahirkan buku yang indah, berkhayal ria, suka memprotes tanpa aksi, memanjat panggung untuk menghibur, lahir untuk berhayal, mencipta puisi-puisi tanpa henti, menoreh cerpen, novel, roman dan drama- hanya untuk menghibur. Benarkah asumsi tersebut? Continue reading “Menimbang Kehadiran Sastrawan di Dunia”